Anda di halaman 1dari 2

Blow Out Fracture Tanda dan gejala Pasien dengan blow out fracture biasanya datang dengan riwayat

trauma tumpul pada mata. Blow out fracture biasanya disebabkan oleh objek dengan kecepatan tinggi maupun rendah, seperti terkena pukulan atau bola. Cedera akibat olahraga yang paling sering terjadi. Jika trauma terjadi, pasien biasanya datang dengan gejala nyeri, bengkak dan pelihatan doule. Keluhan seperti terasa adanya tekanan atau bengkak pada mata biasanya dirasakan akibat adanya pukulan pada hidung. Tanda-tanda kritikal yang biasanya terdapat pada blow out fracture : Edeme dan ekimosis dari jaringan kelopak mata Terbatasnya pergerakan bola mata, terutama gerakan vertical Orbital crepitus (subcutaneous emphysema) Hypoesthesia dari ipsilateral pipi, akibat terjepitnya saraf infraorbita Kadang terdapat perdarahan pada hidung akibat adanya hubungan antara orbita dan sinus maxilla Edema orbita awalnya terjadi

Pada beberapa kasus, beberapa pasien blow out fracture mengabaikan pengobatan , biasanya mereka datang jika telah terjadi inflamasi akibat trauma tersebut. Patofisiologi Blow out fracture biasanya terjadi jika ada trauma pada wajah akibat terhantam objek yang berdiameter >5 cm. karena cavum orbita sangat kuat, maka kekuatan trauma tumpul yang datang akan di pantulkan kembalik, melakukan penekanan pada bola mata dan menciptakan tekanan yang luar biasa di dalam bola mata. Karena tulang-tulang besar yang mematasi mata memiliki sinus-sinus, maka dinding orbita memiliki resiko besar untuk terjadi fracture. Trauma harus memiliki kekuatan cukup besar untuk dapat meledakkan dinding-dinding tersebut. Dinding medial (tulang ethmoid) kadang-kadang terpengaruh/ terkena dampaknya. Tapi paling sering adalah basis orbita (bagian superior dari tulang maxilla) yang terkena kerusakan. Dalam kasus fracture basis orbita, mata akan sebagian terjatuh kebawah ke dalam sinus maxilaris, menyebabkan enophtalmus, dan terjepitnya m. rectus inferior atau m. oblique inferior. Jebakan ini menyebabkan efek penarikan, sehingga kemampuan untuk melihat kebawah terbatas dan lebih khusu ketidakmampuan untuk melihat ke atas yang terkena. Sementara situasi ini dapat diperbaiki dengan operasi sejak awal. Jika penagangannya lambat di lakukan maka akan terjadi fibrosis otot dan penurunan motilitas yang permanen.

Jika tulang medial yang terkena maka dapat menyebabkan kerusakan pada m. rectus medial dan atau apparatus lacrimalis, tapi ini jarang terjadi. Dalam kebanyakan kasus, patah tulang ini mengakibatkan emfisema orbital, menciptakan hubungan langsung antara sinus ethmoid dan orbit. Hal ini menghasilkan perasaan tekanan di dalam orbita ketika pasien mencoba untuk meniup hidungnya. Risiko terbesar untuk fraktur dinding medial adalah orbital selulitis, infeksi sekunder sinus, organisme pathogen dalam sinus menyerang kelopak mata pasca-tarsal. Penatalaksanaan Semua kasus trauma tumpul pada mata dengan gajala krepitasi atau terbatasnya gerak bola mata harus dilakukan pemeriksaan radiologi. CT scan adalah pilihan utama. CT scan akan memberikan hasil yang lebih baik di bandingkan foto skull. Hal ini untuk mendapatkan potongan sagitalmaupun coronal Jika ditemukan fraktur basis orbita dengan herniasi terkait isi dari rongga mata, pertimbangkan untuk intervensi bedah. Umummnya operasi ini hanya untuk pasien dengan trauma yang baru terjadi dengan gejala diplopia yang siginifikan atau keterbatasan dalam melihat kebawah atau pada kasus enopthalmus untuk kepentingan kosmetik. Kebanyakn specials mata akan menunggu 10-14 hari untuk mengatasi edema dan perdarahan. Penatalaksaan berupa reseksi bedah periosteum dan perbaikan fracture, memasang graft tulang atau bahan sintetis seperti silicon.