Anda di halaman 1dari 3

Dipole Mode

Kondisi Normal dan Saat Dipole Mode Interaksi atmosfer-samudera Hindia menyebabkan Dipole Mode (DM) positif jika temperatur permukaan laut (TPL) pantai Timur Afrika lebih panas TPL Pantai Barat Sumatera. dan Dipole mOde negatif jika TPL pantai Timur Afrika lebih dingin dibandingkan TPL Pantai Barat Sumatera. Sebab Terjadinya 1. Sirkulasi Walker : perbedaan tekanan antara wilayah bagian timur Samudera Hindia dekat Pulau Sumatera bagian barat dengan bagian barat Samudera Hindia dekat Afrika yang mengakibatkan terjadinya aliran udara secara horizontal dari tekanan udara yang tinggi menuju wilayah dengan tekanan udara rendah. 2. Angin zonal (timur-barat) : pergerakan massa udara dari barat ke timur Samudera Hindia atau sebaliknya. Sementara itu angin meridional juga berpengaruh terhadap fenomena Dipole Mode yang terjadi karena adanya aliran udara antara wilayah India bagian selatan dengan setelah barat Australia.

Dipole Mode positif dan Dipole Mode negatif

Tanda-tanda atau gejala akan menaiknya atau memanasnya suhu permukaan laut (SPL) dari kondisi normal di sepanjang Ekuator Samudera Hindia, khususnya di sebelah selatan India yang diiringi dengan menurunnya suhu permukaan laut tidak normal di perairan Indonesia di wilayah pantai barat Sumatera (Yamagata, 2001) Dampak Dipole Mode

DM (+) mengakibatkan hujan lebat di pantai timur Afrika dan kekeringan di kepulauan Indonesia khususnya Indonesia bagian barat Dm(-) mengakibatkan kekeringan di pantai timur Afrika dan hujan lebat di kepulauan Indonesia khususnya Indonesia bagian barat

Fase Dipole Mode Positif (DM +) Pada saat tekanan udara permukaan di atas wilayah barat Sumatera relatif bertekanan lebih tinggi dibandingkan wilayah timur Afrika yang bertekanan relatif rendah, sehingga udara mengalir dari bagian barat Sumatera ke bagian timur Afrika yang mengakibatkan pembentukkan awan-awan konvektif di wilayah Afrika dan menghasilkan curah hujan di atas normal, sedangkan di wilayah Sumatera terjadi kekeringan. Dipole Mode Negatif (DM -). Dalam kaitannya dengan pola curah hujan di BMI (Benua Maritim Indonesia), maka DMI positif berhubungan dengan berkurangnya intensitas curah hujan di bagian barat BMI. Sedang sebaliknya, DMI negatif berhubungan dengan bertambahnya intensitas curah hujan di bagian barat BMI. Tahap Muncul anomali SPL negatif di sekitar selat Lombok hingga selatan Jawa pada bulan Mei Juni, bersamaan terjadi anomali angin tenggara yang lemah di sekitar Jawa dan Sumatera. Anomali terus menguat (Juli Agustus) dan meluas sampai ke ekuator di sepanjang pantai selatan Jawa hingga pantai barat Sumatera, yang dibarengi dengan munculnya anomali positif SPL di Samudera Hindia bagian barat. Adanya dua kutub di Samudera Hindia ekuator ini, semakin memperkuat anomali angin tenggara di sepanjang ekuator dan pantai barat Sumatera. Puncak siklus pada bulan Oktober, dan selanjutnya menghilang dengan cepat pada bulan November Desember.

Tabel Data Kejadian Dipole Mode, ENSO dan Kondisi Iklim Diposkan oleh EGSA FGE UGM di 19:48