Anda di halaman 1dari 18

LEMBAR PENGESAHAN Laporan lengkap praktikum kimia fisik II dengan judul Isoterm Adsorpsi yang disusun oleh : Nama

ma Nim Kelas Kelompok : Niken Muliati Ningsih : 081 314 032 :C : II

Dinyatakan diterima apabila telah diperiksa oleh asisten atau koordinator asisten . Makassar, November 2010 Koordinator Asisten Asisten

Usman Syah, S.Si Mengetahui Dosen Penanggungjawab

Kurnia Ramadhani,S.Si

Dr. Moh.Wijaya S.Si,M.Si

A. JUDUL PERCOBAAN ISOTERM ADSORPSI B. TUJUAN PERCOBAAN Menentukan isoterm adsorpsi menurut Freudlich bagi proses adsorpsi asam asetat pada arang.

C. LANDASAN TEORI Adsorpsi adalah pemgumpuan molekul-molekul suatu zat pada permukaan zat lain. Sebagai akibat dari pada ketidakjenuhan gaya-gaya pada permukaan tersebut.Untuk proses adsorpsi dalam larutan, jumlah zat teradsorpsi bergantung pada beberapa factor: 1. Jenis Adsorben 2. Jenis adsorbant atau zat yang teradsorpsi 3. Luas permukaan adsorben 4. Konsentrasi zat terlarut 5. Temperatur Bagi suatu system adsorpsi tertentu, hubungan antar banyaknya zat yang teradsorpsi persatuan berat adsorben, dengan konsentrasi zat terlarut pada temperaturtertentu disebut isotherm adsorpsi (Tim Dosen,2011 :13) Percobaan adsorpsi yang paling umum adalah menentukan hubungan jumlah gas teradsorpsi (pada adsorben) dan tekanan gas. Pengukuran ini dilakukan pada suhu tetap dan hasil pengukuran digambarkandalam grafik dan dan disebut isoterm adsorpsi. Pada tahun 1918, Langmuir menurunkan teori isoterm adsorpsi dengan menggunakan model sederhana berupa padatan yang mengadsorpsi gas pada permukaannnya. Pendekatan Langmuir meliputi lima asumsi mutlak, yaitu: 1. Gas yang teradsorpsi berkelakuan deal dalam fasa uap 2. Gas yang teradsorpsi dibatasi sampai lapisan monolayer

3. Permukaan adsorbat homogen, artinya afinitas setiap kedudukan ikatan untuk molekul gas sama. 4. Tidak ada antariksa lateral antara molekul adsorbat (Anonim,2009). Adsorpsi adalah proses penyerapan molekul (gas atau cair), oleh permukaan (padatan).defenisi tersebut digunakan untuk memperjelas terjadinya akumulasi molekul-molekul gas pada permukaan padatan. Adsorpsi dapat terjadi karena

interaksi gaya elektrostatik atau van der waak antar molekul (physisrphon) maupun oleh adanya interaksi kimiawi antar molekul (kimisophon kimisorpsi). Kimisorpsi bisa dinyatakan oleh besarnya energi adsorpsi. Adsorpsi adalah peristiwa

kesetimbangan kimia. Oleh karenanya, berkurangnya kadar zat yang teradsorpsi (adsorbat) oleh material (Annonim, 2010). Pada kesetimbangan, laju adsorpsi desorpsi gas adalah sama. Bila menyatakan fraksi yang ditempatioleh adsorpbar dan p menyatakan tekanan gas yang teradsorpsi maka k1 = k2 P (1-) Dengan k1 dan k2 masing-masing merupan tetapan laju adsorpsi dan desorpsi. Jika didefenisikan a = k1/k2. Maka : =(
)

pengadsorpsi (adsorpben) terjadi secara kesetimbangan.

Pada adsorpsi monolayer jumlah gas teradsorpsi pada tekanan p (y) dan jumlah gas yang diperlukan untuk membentuk lapisan monolayer dihubungkan dengan melalui persamaan :
=

Y=(

teori isoterm adsorpsi langmuir berlaku untuk adsorpsi kimia dimana reaksi yang terjadi adalah spesifik dan umumnya membentuk lapisan monolayer

(Sugianto,2004:166). Isoterm paling sederhana, didasarkan pada asumsi bahwa setiap tempat adsorpsi adlah equivalen dan kemampuan partikel untuk terikat di tempat itu, tidak tergantung pada di tempati atau tidaknya tempat yang berdekatan. Keseimbangan dinamika adalah :

A(g) + M (permukaan)

AM

Dengan konstanta laju ka untuk adsorpsi dan kd untuk adsorpsi laju perubahan penutupan permukaan karena adsorpsi sebanding dengan tekanan A sebesar P dan jumlah tempat kosong A (1-) dengan N merupakan jumlah tempat total : = kaPN (1-) Laju perubahan karena desorpsi, sebanding dengan jumlah spesies yang teradsorpsi, N =Kd N (Atkins, 1995:439) Dalam hal ini adsorpsi isoter Langmuir dipengaruhi oleh factor-faktor : 1.Gas diserap lemas Contoh: uraian HI diatas emas 2. Gas diserap kuat Contoh: uraian NH3 diatas Wolfarm 3. Diserap sebagian Contoh; uraian stibin diatas (250) 4.Penghalang reaksi (Sukardjo,1989:354-358)

D. ALAT DAN BAHAN 1. Alat yang digunakan : a. Erlenmeyer 250 ml 7 buah b. Erlenmeyer bertutup 250 ml 6 buah c. Pipet volume 10 ml dan 25 ml dan 5 ml d. Pipet ukur 25 ml e. Buret 50 ml + klem 2 buah f. Botol semprot g. Batang pengaduk h. Spatula i. Pipet tetes j. Termometer 100o C k. Shaker l. Kurs 2. Bahan yang digunakan : a. Larutan asam asetat 0.500M, 0,250M, 0,125M, 0,0625M, 0,313M dan 0,0156M b. Larutan standar NaOH 0,1N c. Karbon/ arang d. Indikator pp

E. PROSEDUR KERJA 1. Mengaktifkan arang dengan cara memanaskan dalam kurs diatas api 2. Memasukkan arang kedalam erlenmeyer bertutup masing-masing 1 gram 3. Memasukkan 50 ml larutan asam asetat dengan konsentrasi 0,500M, 0,250M, 0,125M, 0,0625M, 0,313M dan 0,0156M kedalam erlenmeyer yang berisi arang 4. Menutup labu erlenmeyer tersebut dan membiarakan selama 50 menit. Dalam rentang waktu ini larutan ini dikocok selama satu menit secara teratur 5. Menyaring larutan dengan kertas saring yang kering 6. Larutan filtrat dititrasi

7. Dua laruta dengan konsentrasi paling tinggi diambil 5ml dan dititrasi dengan larutan NaOH 8. Larutan dengan konsentrasi 0,125M diambil sebanyak 10ml dan dititrasi dengan larutan NaOH, begitupun 3 larutan dengan konsentrasi terendah sebanyak 5 ml, kemudian dititrasi. 9. Masing-masing larutan sebelum dititrasi ditambah indikator pp

F. HASIL PENGAMATAN 1. Standarisasi NaOH V NaOH = 1 = 35 mL 2 = 38 mL V H2C2O4 0,1 M = 5 mL V rata-rata NaOH = 35 mL + 38 mL/2 = 36,5 mL [ CH3COOH] 0,5 M 0,25 M 0,125 M 0,0625 M 0,0313 M 0,0156 M Volume CH3COOH (mL) 10 10 25 25 25 25 Volume NaOH(mL) 123,5 64 53 19,5 7,0 3,7

Berat (gram) 0,507 0,512 0,505 0,510 0,505 0,503

G. ANALISIS DATA Standarisasi NaOH M H2C2O4 = x

= 0,0714 M V H2C2O4 0,0714 M = 5 ml V NaOH I II V rata2 NaOH [NaOH] = 35 ml = 38 ml = = = 0,0098 M


( )

= 36,5 ml

Isoterm Adsorpsi 1. Untuk CH3COOH 0,5000 M mmol CH3COOH awal =MxV = 0,5000 M x 50 ml = 25,0000 mmol

mmol NaOH

=MxV = 0,0098 M x 123,5000 ml = 1,2103 mmol

mmol CH3COOH akhir

x mmol NaOH

= 5 x 1,2103 mmol = 6,0515 mmol CH3COOH yang teradsorpsi = (25,0000 6,0515) mmol = 18,9485 mmol

Massa CH3COOH

= [CH3COOH] x Mr CH3COOH = 18,9485 mmol x 60 mg/mmol = 1,1369 gr

C CH3COOH

= 0,1210 M

2. Untuk CH3COOH 0,2500 M mmol CH3COOH awal =MxV = 0,2500 M x 50 ml = 12,5000 mmol

mmol NaOH

=MxV = 0,0098 M x 64,0000 ml = 0,6272 mmol

mmol CH3COOH akhir

x mmol NaOH

= 5 x 0,6272 mmol = 3,1360 mmol CH3COOH yang teradsorpsi = (12,5000 3,1360) mmol = 9,3640 mmol Massa CH3COOH = [CH3COOH] x Mr CH3COOH = 9,3640 mmol x 60 mg/mmol = 0,5618 gr

C CH3COOH

= 0,0627 M

3. Untuk CH3COOH 0,1250 M mmol CH3COOH awal =MxV = 0,1250 M x 50 ml = 6,2500 mmol

mmol NaOH

=MxV = 0,0098 M x 53,0000 ml = 0,5194 mmol

mmol CH3COOH akhir

x mmol NaOH

= 2 x 0,5194 mmol = 1,0338 mmol CH3COOH yang teradsorpsi = (6,2500 1,0338) mmol = 5,2112 mmol Massa CH3COOH = [CH3COOH] x Mr CH3COOH = 5,2112 mmol x 60 mg/mmol = 0,3127 gr

C CH3COOH

= 0,0208 M

4. Untuk CH3COOH 0,0625 M mmol CH3COOH awal =MxV = 0,0625 M x 50 ml = 3,1250 mmol

mmol NaOH

=MxV = 0,0098 M x 19,5000 ml = 0,1911 mmol

mmol CH3COOH akhir

x mmol NaOH

= 2 x 0,1911 mmol = 0,3822 mmol CH3COOH yang teradsorpsi = (3,1250 0,3822) mmol = 2,7428 mmol Massa CH3COOH = [CH3COOH] x Mr CH3COOH = 2,7428 mmol x 60 mg/mmol = 0,1646 gr

C CH3COOH

= 0,0076 M

5. Untuk CH3COOH 0,0313 M mmol CH3COOH awal =MxV = 0,0313 M x 50 ml = 1,5650 mmol

mmol NaOH

=MxV = 0,0098 M x 76,0000 ml = 0,0686 mmol

mmol CH3COOH akhir

x mmol NaOH

= 2 x 0,0686 mmol = 0,1372 mmol CH3COOH yang teradsorpsi = (1,5650 0,1372) mmol = 1,4278 mmol Massa CH3COOH = [CH3COOH] x Mr CH3COOH = 1,4278 mmol x 60 mg/mmol = 0,0857 gr C CH3COOH = = 0,0027 M

6. Untuk CH3COOH 0,0156 M mmol CH3COOH awal =MxV = 0,0156 M x 50 ml = 0,7800 mmol

mmol NaOH

=MxV = 0,0098 M x 2,7000 ml = 0,0265 mmol

mmol CH3COOH akhir

x mmol NaOH

= 2 x 0,0265 mmol = 0,0529 mmol CH3COOH yang teradsorpsi = (0,7800 0,0529) mmol = 0,7271 mmol Massa CH3COOH = [CH3COOH] x Mr CH3COOH

= 0,7271 mmol x 60 mg/mmol = 0,0436 gr

C CH3COOH

= 0,0011 M

m (gram) 0,5070 0,5120 0,5050 0,5100 0,5060 0,5030

Konsentrasi Awal Akhir 0,5000 0,1210 0,2500 0,0627 0,1250 0,0208 0,0625 0,0076 0,0313 0,0027 0,0165 0,0011

X (gram) 1,1369 0,5618 0,3127 0,1646 0,0857 0,0436

x/m 2,2424 1,0973 0,6192 0,0322 0,1693 0,0867

log x/m 0,3507 0,0403 -0,2082 -0,4912 -0,7713 -1,0618

log C -0,9171 -1,2026 -1,6824 -2,1167 -2,5616 -2,9754

Log x/m = log k + n log C Dari grafik diperoleh bahwa : Log k = 0,899 k = 7,925

n = 0,658

2
2.5000 y = 17.05x + 0.1426 R = 0.9886

2.0000

1.5000 x/m 2 1.0000 Linear (2)

0.5000

0.0000 0.0000 0.0200 0.0400 0.0600 0.0800 0.1000 0.1200 0.1400 C

3
0.6000 y = 0.658x + 0.8993 R = 0.9943 0.4000 0.2000 0.0000 -0.5000 0.0000 -0.2000 3 -0.4000 -0.6000 -0.8000 -1.0000 C -1.2000 Linear (3)

-3.5000 x/m

-3.0000

-2.5000

-2.0000

-1.5000

-1.0000

G. PEMBAHASAN Percobaan ini bertujuan untuk menentukan isoterm adsorpsi menurut Freundlich pada proses adsorpsi asam asetat oleh arang. Pada percobaan ini adsorban yang digunakan adalah arang,dimana sebelum digunakan harus diaktifkan dulu dengan cara dipanaskan. Hal ini agar pori-pori arang semakin besar sehingga dapat memepermudah penyerapan. Karena semakin luas permukaan adsorben maka daya penyerapannya pun semakin tinggi. Arang yang telah diaktifkan tersebut,dimasukkan ke dalam 6 erlenmeyer yang berbeda masing-masing sebesar 0,5 gr kemudian ditambahkan masing-masing 50 ml larutan asam asetat dengan konsentrasi 0,5 M,0,25 M, 0,0625 M,0,0313 M dan 0,0156 M. Asam Aasetat ini mrupakan adsorbat atau zat yang akan diadsorpsi oleh arang paling besar. Setelah itu erlenmeyer ditutup agar larutan tidak menguap dan membiarkan selama 30 menit. Selama rentang waktu ini melakukan pengocokan pada larutan selama 1 menit tiap 10 menit. tujuannya adalah agar proses adsorpsi dapat berjalan dengan baik dan merata. Pada saat proses adsorpsi ini suhu dijaga aar konstan, yaitu pada suhu kamar. Suhu mempengaruhi besar adsorpsi, oleh karena itu suhu harus dalam keadaan konstan/sama untuk tiap-tiap erlenmeyer (isoterm). Setelah 30 menit, masingmasing larutan disaring sehingga diperoleh filtratnya. Filtrat ini kemudian dititrasi dengan larutan standar NAOH 0,1 N untuk dapat mengetahui jumlah (kadar) asam asetat yang teradsorpsi. Sebelumnya larutan NaOH ini distandarisasi menggunakan larutan standar primer H2C2O4 0,1 N yang baru dibuat. Larutan NaOH merupakan larutan stadar sekunder sehingga setiap akan digunakan harus di standarisasi menggunakan larutan standar primer karean konsentrasinya dapat berubah. Pada penyandarisasian ini diperoleh konsentrasi NaOH =0,0137 M. Hal ini berarti NaOH nerkurang pada saat penyimpanan, ini dikarenakan NAOH bersifat hidroskofik sehingga dapa menyerap, uap air yang berada disekitarnya sehingga kosentrasinya menjadi menurun.

Selain konsntrasi NaOH,konsentrasi asam asetat yang digunakan pun harus distandarisasi (tentunya larutan asam asetat yang belum ditambahkan arang). Menggunakan larutan NaOH yang telah diketahui yang sebenarnya dari larutan asam adalah 0,5 M= 0.601 M, 0,25 M = 0,3136 M , 0,125 M= 0,104 M; 0,0625 M = 0,3822 M.; 0,0313 M = 0,0137 M dan 0,0156 M = 0,0052 M.Terlihat bahwa konsentrasi yang sebenarnya dari larutn asam asetat berkurang, tidak sesuai pada saat dibuat. Hal ini disebabkan larutan ini telah lama dibuat dan terkontaminasi dengan udara dan keadaan luar sehingga memengaruhi konsentrasinya. Untuk larutan asam asetat 0,5 M dan 0,25 M, masing-asing diambil 10 mL untuk titrasi dengan larutan NaOH menggunakan indikator pp. untuk konsentrasi 0,125 M diambil 25 mL., dan untuk konsentrasi 0,0625 M, 0,0313 M, dan 0,0156 M , masing-masing diambil 50 mL. Volume filtrat yang digunakan dibuat berbeda-beda karena konsentrasi zat terlarut sangat berpengaruh terhadap banyaknya zat yang akan teradsorpsi. Dimana semakin tinggi konsentrsi, maka semakin banyak pula yang akan teradsorpsi sehingga volume yang digunakan pada konsentrasi tinggi lebih sedikit dibanding dengan yang berkonsentrasi rendag. Sehingga didapatkan volum titrasi NaOH yaitu 123,5 mL,64 ml, dan 53 mL,19,5 mL,7 mL dan 2,7 mL. H. PENUTUP a. Kesimpulan Dari percobaan yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa : 1. Semakin tinggi konsentrasi maka semakin tinggi daya adsorpsinya dan semakin banyak pula zat yang teradsorpsi demikin juga sebaliknya. 2. Semakin luas permukaan adsorben, maka semakin tinggi daya adsorpsinya pada zat terlarut. 3. Volume titran yang digunakan untuk titrasi pada asam asetat yaitu 123,5 ml, 64 ml,53mL, 19,5 mL,7 mL dan 2,7 mL.

4. Konsentrasi asam yaitu ; 0,5 M= 0.601 M, 0,25 M = 0,3136 M , 0,125 M= 0,104 M; 0,0625 M = 0,3822 M.; 0,0313 M = 0,0137 M dan 0,0156 M = 0,0052 M. b. Saran Diaharapkan kepada praktikan selanjutnya agar lebih memahami prinsip kerja percobaan yang dilakukan agar dapat berjalan dengan baik.

JAWABAN PERTANYAAN

1. Perbedaan isotherm adsorpsi fisik dengan adsorpsi kimia yaitu : a. Adsorpsi fisik Atraksi mengikuti gaya van der walls reaktifitas energy rendah Selalu terjadi dengan cepat pada temperature rendah dan kebalikannya Selalu reversible sempurna Besarnya adsorbsi adalah mendekat adanya hubungan pencairan gas Membentuk lapisan multi molekuler

b. Adsorbsi kimia Reaksi mengikuti gaya ikat kimia sehingga energy aktivitasnya tinggi dapat terjadi pada termperatur yang sangat tinggi Seringkali irreversible Tidak berpengaruh adsorbsi dengan penncairan gas Membentuk lapisan monomolekuler Contohnya : Adsorpsi kimia seperti pada percobaan ini yaitu asam asetat dengan arang Adsorpsi zat utama yaitu adsorpsi lapis molekul tunggal. asam asetat pada permukaan arang sehingga hanya ada daya atau gaya tarik menarik secra fisika tanpa ada perubahan kimia . 3. Pengaktifan arang dengan menggunakan pemansandapat menyebabkan pori- pori pada arang melebar sehinngga arang dapat lebih aktif atau mudah dalam

2. Proses adsorpsi pada percobaan ini adalah adsorpsi fisik karena hanya terjadi pada

mengasorpsi asam asetat. 4. Isotherm freudlick secara empiric dan hanya berlaku untuk gas yang bertekanann rendah. Persamaannya adalah V = K . p 1/n 5. Isoterm adsorpsuntuk adfsorpsi : gas pada permukaan zat padat kurang memuaskan dibandingkan dengan isotherm adsorpsi langmunier.

DAFTAR PUSAKA Anonim. 2010. Adsorpsi. http : // isafatimah.staff. uii ac - id / 2010/04/26/. Diakses tanggal 3 Desember 2010. Anonim. 2010. Isotherm Adsorpsi. http: // adikimia.blog.friendster. com/. Diakses tanggal 3 Desember 2010. Atkins. 1995. Kimia Fisik jilid 2. Erlangga : Jakarta Sugiayarto.2004. kimia anorganik I.UNY press : Yogyakarta Sukardjo,1989.Kimia Fisik. Yogayakarta : Rineka Cipta Tim Dosen Kimia Fisik. 2010. Penuntun Praktikum kimia Fisik II. FMIPA UNM : Makassar