Anda di halaman 1dari 10

UJIAN TENGAH SEMESTER 1 GEOLOGI INDONESIA (GL-4102)

Nama : M. Nuhnaradita Saleh NIM : 12108003

Institut Teknologi Bandung 2011

1. Dari titik pandang struktur geologi pulau Sumatera, kita mengenal 3 pola struktur yang dominan. Coba anda jelaskan ketiga pola tersebut dari yang tua ke muda. Coba anda jelaskan juga (beri alasan dan contonya), adakah dari ketiga pola tersebut di atas yang memegang peranan penting pada cebakan minyak bumi dicekungan Sumatera Utara, Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan. Jawab :

1.

Kondisi Geologi Sumbar

Struktur yang berkembang di Provinsi Sumatera Barat adalah struktur perlipatan (antiklinorium) dan struktur sesar dengan arah umum baratlaut tenggara, yang mengikuti struktur regional P. Sumatera. Kondisi stratigrafi dari struktur geologi sumatera barat adalah sebagai berikut.

Kelompok Pra Tersier : kelompok ini mencakup masa Paleozoikum Mesozoikum, dipisahkan menjadi kelompok batuan ultrabasa; kelompok batuan melange, kelompok batuan malihan; kelompok batuan gunungapi dan kelompok batuan terobosan. Kelompok batuan ultrabasa Pra Tersier disusun oleh batuan harzburgit, dunit, serpentinit, gabro dan basalt. Kelompok Melange Pra Tersier merupakan kelompok batuan campur aduk yang disusun oleh batuhijau, graywake, tufa dan batugamping termetakan, rijang aneka warna. Kelompok batuan malihan Pra Tersier disusun oleh batuan sekis, filit, kwarsit, batusabak, batugamping termetakan. Kelompok batuan sedimen Pra Tersier yang didominasi oleh batugamping hablur sedangkan kelompok batuan terobosan Pra Tersier disusun oleh granit, diorit, granodiorit, porfiri kuarsa, diabas dan basalt. Kelompok transisi Pra Tersier Tersier Bawah yang merupakan kelompok batuan terobosan yang terdiri dari batuan granodiorit dan granit.

Kelompok Tersier dipisahkan menjadi kelompok batuan ultrabasa; kelompok batuan melange; kelompok batuan sedimen; kelompok batuan gunungapi dan kelompok batuan terobosan. Kelompok batuan ultrabasa Tersier disusun oleh batuan serpentinit, piroksenit dan dunit.

Kelompok batuan melang Tersier yang merupakan batuan campur aduk disusun oleh graywake, serpih, konglomerat, batupasir kwarsa, arkose, serpentinit, gabro, lava basalt dan batusabak. Kelompok batuan sedimen Tersier disusun oleh konglomerat, aglomerat, batulanau, batupasir, batugamping, breksi dan napal. Kelompok batuan gunungapi Tersier disusun oleh batuan gunungapi bersifat andesitikbasaltik, lava basalt sedangkan kelompok batuan terobosan Tersier terdiri dari granit, granodiorit, diorit, andesit porfiritik dan diabas.

Kelompok transisi Tersier Kwarter (Plio-Plistosen) dapat dipisahkan menjadi kelompok batuan sedimen; kelompok batuan gunungapi dan kelompok batuan terobosan. Kelompok batuan sedimen Plio-Plistosen disusun oleh konglomerat polimik, batupasir, batulanau dan perselingan antara napal dan batupasir. Kelompok batuan gunungapi Plio-Plistosen disusun oleh batuan gunungapi andesitik-basaltik, tufa, breksi dan endapan lahar sedangkan kelompok batuan terobosan Plio-Plistosen terdiri dari riolit afanitik, retas basalt dan andesit porfir. Kelompok Kwarter dipisahkan menjadi kelompok batuan sedimen; batuan gunungapi dan aluvium.

2. Kondisi Geologi Sumteng (Cekungan Sumatera Tengah) Tektonik Regional, Cekungan Sumatra tengah merupakan cekungan sedimentasi tersier penghasil hidrokarbon terbesar di Indonesia. Ditinjau dari posisi tektoniknya, Cekungan Sumatra tengah merupakan cekungan belakang busur.

1. Formasi Menggala Tersusun oleh batupasir konglomeratan dengan ukuran butir kasar berkisar dari gravel hingga ukuran butir sedang. Secara lateral, batupasir ini bergradasi menjadi batupasir sedang hingga halus. Komposisi utama batuan berupa kuarsa yang dominan, dengan struktur sedimen trough cross-bedding dan erosional basal scour. 2. Formasi Bangko Formasi ini tersusun oleh serpih karbonan dengan perselingan batupasir halus-sedang. Diendapkan pada lingkungan paparan laut terbuka. Dari fosil foraminifera planktonik didapatkan umur N5 (Blow, 1963). Ketebalan maksimum formasi kurang lebih 100 m.

3. Formasi Bekasap Formasi ini tersusun oleh batupasir masif berukuran sedang-kasar dengan sedikit interkalasi serpih, batubara dan batugamping. Berdasarkan ciri litologi dan fosilnya, formasi ini diendapkan pada lingkungan air payau dan laut terbuka. Fosil pada serpih menunjukkan umur N6 N7. Ketebalan seluruh formasi ini mencapai 400 m. 4. Formasi Duri Di bagian atas pada beberapa tempat, formasi ini equivalen dengan formasi Bekasap. Tersusun oleh batupasir halus-sedang dan serpih. Ketebalan maksimum mencapai 300 m. Formasi ini berumur N6 N8. 3. Kondisi Geologi Sumsel ( Cekungan Sumatera Selatan) 1. Batuan Dasar, Batuan Pra-Tersier atau basement terdiri dari kompleks batuan Paleozoikum dan batuan Mesozoikum, batuan metamorf, batuan beku dan batuan karbonat. Batuan Paleozoikum akhir dan batuan Mesozoikum tersingkap dengan baik di Bukit Barisan, 2. Formasi Lahat, Formasi Lahat diendapkan secara tidak selaras di atas batuan dasar, merupakan lapisan dengan tebal 200 m - 3350 m yang terdiri dari konglemerat, tufa, breksi vulkanik andesitik, endapan lahar, aliran lava dan batupasir kuarsa. Secara lebih rinci berikut adalah data mengenaipetroleum system dari formasi lahat. 3. Formasi Gumai, Formasi Gumai diendapkan secara selaras di atas Formasi Baturaja dimana formasi ini menandai terjadinya transgresi maksimum di Cekungan Sumatera Selatan. Early mature T-max 400-4300C 4. Formasi Talang Akar, Formasi Talang Akar pada Sub Cekungan Jambi terdiri dari batulanau, batupasir dan sisipan batubara yang diendapkan pada lingkungan laut dangkal hingga transisi. Menurut Pulunggono, 1976, Formasi Talang Akar berumur Oligosen Akhir hingga Miosen Awal dan diendapkan secara selaras di atas Formasi Lahat

5. 6. 6.

Formasi Baturaja, Formasi ini diendapkan secara selaras di atas Fm. Talang Akar Formasi Gumai, Formasi Gumai diendapkan secara selaras di atas Formasi Baturaja Formasi Air Benakat, Formasi Air Benakat diendapkan secara selaras di atas Formasi

dengan ketebalan antara 200 sampai 250 m dimana formasi ini menandai terjadinya transgresi maksimum di Cekungan Sumatera Selatan. Gumai dan merupakan awal terjadinya fase regresi. 7. Formasi Muara Enim, Formasi Muara Enim mewakili tahap akhir dari fase regresi tersier. Formasi ini diendapkan secara selaras di atas 8. Formasi Kasai, Formasi Kasai diendapkan secara selaras di atas Formasi Muara Enim dengan ketebalan 850 1200 m. 9. Sedimen Kuarter, 2. Coba anda jelaskan tentang evolusi dari jalur-jalur magmatisma di Pulau Jawa sejak Awal Tersier hingga Kuarter. Dan jelaskan juga di mana letak perbedaannya dengan pola dari jalur-jalur magmatisme di Pulau Sumatera, (jawaban disertai sketsa / gambar). Jawab ; Untuk Jawa Barat digambarkan menjadi empat zona, yaitu zona pegunungan selatan, zona bandung, zona bogor, dan dataran pantai utara.

Tektonik Secara regional, unsur-unsur tektonik yang membentuk Pulau Jawa berupa jalur subduksi purba berumur Kapur-Paleosen yang dapat dilihatmulai dari Jawa barat selatan (ciletuh), pegunungan serayu (jawa tengah) danlaut Jawa bagian timur ke kalimantan tenggara. Jalur magmatik kapur jugamenempati lepas pantai utara jawa

Di jawa tengah, dibagi pula dalam empat zona fisiografi (dari selatan) yaitudataran pantai selatan, pegunungan serayu selatan, pegunungan serayu utara,dan dataran pantai utara. Pada daerah Jawa tengah ini terlihat adanya perbedaan yang cukup menonjol pada dataran pantai selatannya apabiladibandingkan dengan di sebelah barat dan timurnya, yang dikedua wilayahtersebut tidak memiliki suatu dataran yang luas dan lebar. Pegunungan serayuselatan dicirikan oleh pola antiklinorium yang berarah barat-timur dan berakhir di mineral Leucit. Gunung api Muria dan Lasem terletak dijalur umum gunung api kuarter Jawa, dan kedua gunung api tersebut dihubungkanoleh dataran aluvial dengan daratan utama

Secara regional daerah jawa Barat merupakan daerah yang terletak pada jalur volkanik-magmatik yang merupakan bagian dari Busur Sunda(Soeria-Atmaja, 1998 op.cit Martodjojo, 2003)

Secara fisiografis, jawa tengah dapat dibagi menjadi lima bagian,yaitu dari selatan ke utara masing-masing: dataran pantai selatan, pegununganserayu selatan, pegunungan serayu utara, dataran pantai utara, dan secaratersendiri kompleks pegunungan kulon progo.

3. Suatu gejala strukturisasi yang menonjol pada formasi batuan tersier di Sumatera Tengah, Jambi maupun di Sumatera Selatan adalah inversi. a. Jelaskan apa yang dimaksud struktur inversi. b. Jelaskan juga dengan gambar suatu penampang dengan formasi-formasi sedimen sehingga jelas terlihat telah terjadi suatu inversi pada interval waktu tertentu. c. Jelaskan melalui elemen-elemen struktur mana, inversi tersebut berlangsung, baik di Sumatera Tengah, Jambi maupun di Sumatera Selatan. Jawab:

4. Paparan Sunda atau Sundaland merupakan daerah yang dangkal di Kawasan Barat Indonesia (KBI). Coba anda jelaskan apa yang dimaksud dengan Paparan Sunda tersebut dan di mana saja batas-batasnya ditinjau dari tatanan tektonik dan stratigrafi. Jawab : Sundaland meliputi Paparan Sunda (Sunda Shelf) beserta dataran-dataran yang berada di sekitarnya, yaitu Semenanjung Malaya, pesisir timur Sumatera, pulau-pulau timah Indonesia, Kalimantan Barat serta Serawak Barat. Dalam hubungannya dalam terminologi tektonika, Sundaland dikenal sebagai Sunda Microplate, yaitu bagian tenggara lempeng besar Eurasia, yang meliputi pulau-pulau besar (Sumatera, Jawa, Kalimantan) dan cekungan-cekungan pengendapan yang berada di antaranya.

Stratigrafi Paparan Sunda :

\ SUSUNAN STRATIGRAFI YANG MENCERMINKAN TEKTONIK REGANGAN AWAL PEMBENTUKAN CEKUNGAN SEBAGAI PULL-APART BASIN YANG BERKAITAN DENGAN TUMBUKAN INDIA DAN SUBDUKSI LEMPENG INDIA AUSTRALIA KEBAWAH LEMPENG ASIA.