Anda di halaman 1dari 7

PERJANJIAN KERJASAMA

PEKERJAAN PENAMBANGAN TERMASUK OPERASI PENGGALIAN, PENGANGKUTAN DAN PENJUALAN NICKEL ORE
Pada hari ini ..tanggal .bulan Maret tahun Dua ribu dua belas, di Pomalaa Kab. Kolaka Sulawesi Tenggara, diadakan Perjanjian Kerjasama untuk pekerjaan Penambangan termasuk OPERASI PENGGALIAN, PENGANGKUTAN DAN PENJUALAN NICKEL ORE, oleh dan antara : Nama Pekerjaan No. KTP Alamat : SURYA SAKUDA : Direktur Utama PT. PANJI SURYA LAKSANA : :

Dalam hal ini bertindak dan bertanggung jawab sesuai dengan jabatannya untuk dan atas nama PT. PANJI berdasarkan Akta Pendirian No. .tanggal ., yang keseluruhannya terlampir dalam Surat Perjanjian ini, untuk selanjutnya disebut PIHAK PERTAMA. Nama Pekerjaan No. KTP Alamat Kolaka Sulawesi : ABBAS MASSE : Direktur CV. RIZKY UTAMA : 737111 250371 0004 : Jl. Pulau Maniang Dawidawi Kec. Pomalaa

Tenggara Dalam hal ini bertindak dan bertanggung jawab sesuai dengan jabatannya untuk dan atas nama CV. RIZKY UTAMA, dan berdasarkan Akta Pendirian No. 3, Tanggal 14 Juni 2007, yang keseluruhannya terlampir dalam Surat Perjanjian ini, untuk selanjutnya disebut PIHAK KEDUA. Sebelumnya PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA disebut PARA PIHAK menerangkan hal-hal sebagai berikut : 1. Bahwa sehubungan dengan adanya Perjanjian Kerjasama Operasi Penggalian, Pengangkutan dan Penjualan Nickel Ore No 018/KSO/IX/2011 tanggal 29 September 2011 oleh dan antara PT. PANJI SURYA LAKSANA selaku pemegang JO penambangan nickel ore dari PT. DHARMA ROSADI INTERNASIONAL berdasarkan Ijin Usaha Pertambangan No. 160 Tahun 2010 (terlampir) seluas 50 hektar 2. Bahwa PIHAK KEDUA memiliki badan usaha yang mempunyai kompetensi dalam bidang operasional pertambangan nickel ore, dengan kapasitas produksi sebesar 3.000 s/d 5.000 Metric Ton Per hari dalam areal tambang yang ditunjuk oleh PIHAK PERTAMA. 3. Bahwa PIHAK PERTAMA merupakan pihak yang memberi KUASA kepada PIHAK KEDUA sebagai pelaksana operasional tambang yang dimaksud pada areal 50 hektar sesuai peta dan titik koordinat terlampir. 4. PARA PIHAK menyatakan sepakat dan setuju untuk membuat dan melaksanakan serta berjanji untuk tunduk dan patuh terhadap ketentuanketentuan sebagai berikut :

Hal. 1/6

Pasal 1 Maksud dan Tujuan


1. PIHAK PERTAMA setuju untuk memberi pekerjaan kepada PIHAK

KEDUA sebagai mitra kerja dalam rangka mendukung pelaksanaan operasional pertambangan, dan PIHAK KEDUA menyatakan setuju dan kesediaannya untuk itu. 2. Perjanjian ini didasarkan atas itikad baik dan professionalisme yang bertujuan saling menguntungkan dan memaksimalkan perolehan hasil tambang nickel ore pada lokasi yang telah ditentukan.

Pasal 2 Objek Perjanjian


1. PARA PIHAK sepakat dalam perjanjian ini menitikberatkan pada hubungan

mitra kerja, dalam arti PIHAK KEDUA selaku pihak pelaksana operasional pertambangan nickel ore dan PIHAK PERTAMA selaku pihak yang berhak menerima royaltil tambang nickel ore dari PIHAK KEDUA. 2. PARA PIHAK sepakat bahwa hasil tambang nickel ore yang diperoleh oleh PIHAK KEDUA harus memenuhi standar spesifikasi dan kadar nickel ore yaitu 1,8% reject 1,75% atau kadar sesuai permintaan dari BUYER, dengan kuantitas/jumlah produksi sebesar 3.000 s/d 5.000 Metric Ton per hari. 3. PARA PIHAK sepakat bahwa standar spesifikasi dan kadar nickel ore tersebut dapat mengikuti sesuai permintaan dan kebutuhan dari pihak pembeli luar negeri (buyer).

Pasal 3 Jangka Waktu


1. Perjanjian ini dimulai pada saat ditandatangani dan berakhir dengan

sendirinya setelah seluruh hak dan kewajiban PARA PIHAK terselesaikan secara tuntas. 2. PARA PIHAK sepakat bahwa perjanjian ini berakhir dengan sendirinya bilamana areal lokasi tambang yang ditentukan tersebut telah habis sumber daya tambangnya (nickel ore), setelah dilakukan upaya eksploitasi secara optimal dan maksimal oleh PIHAK KEDUA, dengan ketentuan hal tersebut diketahui dan disetujui oleh PIHAK PERTAMA. 3. PARA PIHAK sepakat bahwa perjanjian ini berakhir dengan sendirinya bilamana terjadi gejolak harga pasar lokal maupun internasional yang menyebabkan anjloknya harga tambang nickel ore pada titik terendah, sehingga hal tersebut tidak lagi mampu menutupi biaya (cost) produksi dan operasional pertambangan nickel ore, ketentuan tersebut mengakibatkan tidak adanya tuntutan dalam bentuk apapun dari PARA PIHAK. 4. PARA PIHAK sepakat bahwa perjanjian ini berakhir dengan sendirinya bilamana salah satu diantara PARA PIHAK melakukan pelanggaran dan atau wanprestasi terhadap salah satu ketentuan dalam perjanjian ini, dan
Hal. 2/6

pihak yang melakukan pelanggaran dan atau wanprestasi tersebut dapat dituntut pemenuhan kewajibannya oleh pihak lainnya secara materiil maupun hukum yang berlaku.

Pasal 4 Biaya Biaya


1. Untuk

biaya penambangan mulai penggalian, pengangkutan dan penjualan nickel ore adalah menjadi tanggung jawab PIHAK KEDUA. 2. Biaya sebagaimana dimaksud ayat 1 di atas mencakup keseluruhan biaya operasional pertambangan mulai dari produksi pertambangan sampai pengiriman hasil tambang nickel ore ke mother vessel (siap ekspor), yang meliputi tapi tidak terbatas pada : a. Biaya operasional pertambangan b. Biaya holing truck dan atau pengiriman hasil tambang dari areal tambang ke Stockpile. c. Biaya holing truck dan atau pengiriman hasil tambang dari Stockpile ke Pelabuhan untuk pemuatan/pengapalan melalui kapal tongkang. d. Biaya pengiriman hasil tambang dari kapal tongkang ke mother vessel/kapal ekspor. e. Segala biaya-biaya yang berkaitan dengan royalty, pajak-pajak, dan pungutan-pungutan lainnya. f. Termasuk segala biaya yang menjadi beban dan tanggung jawab PIHAK PERTAMA berdasarkan Perjanjian Kerjasama Operasi Penggalian, Pengangkutan dan Penjualan Nickel Ore No.018/KSO/IX/2011 tanggal 29 September 2011. 3. PARA PIHAK sepakat terhadap royalty pertambangan nickel ore ditentukan sebesar US$ 14 (empat belas US Dollar) per Metric Ton 4. Alokasi tersebut termasuk dan tidak terbatas pada Royalti perusahaan dan royalti masyarakat, seluruh pajak-pajak yang ada hubunganya dengan penambangan ini, area stockfile serta biaya pemeliharaan jalan dan jetty sehingga kapal dapat meninggalkan pelabuhan dengan baik dan lancer.

Pasal 5 Cara Pembayaran


1. Pembayaran royalty dilakukan sebelum mother vessel/kapal eksport meninggalkan pelabuhan jetty Pomalaa. 2. Bahwa pembayaran akan dilakukan oleh PIHAK KEDUA melalui transfer kepada PIHAK PERTAMA atas nama 3. Bahwa setiap kali pembayaran yang dilakukan PIHAK KEDUA yang diterima oleh PIHAK PERTAMA maka PIHAK PERTAMA akan menerbitkan bukti penerimaan pendanaan dan pembayaran (kwitansi) darinya maupun meminta hal tersebut secara lengkap kepada PT. PANJI

Hal. 3/6

SURYA LAKSANA dan PT. DHARMA ROSADI INTERNASIONAL dan pihakpihak tersebut akan memberikannya kepada PIHAK KEDUA.

Pasal 7 Hak dan Kewajiban


1. Hak dan Kewajiban PIHAK PERTAMA, sebagai berikut : a. Berkewajiban memperlihatkan dokumen asli dan

memberikan salinannya kepada PIHAK KEDUA setelah ditandatanganinya Surat Perjanjian ini, yaitu sehubungan dengan adanya Perjanjian Kerjasama Operasi Penggalian, Pengangkutan dan Penjualan Nickel Ore No 018/KSO/IX/2011 tanggal 29 September 2011 oleh dan antara PT. PANJI SURYA LAKSANA selaku pemegang JO penambangan nickel ore dari PT. DHARMA ROSADI INTERNASIONAL berdasarkan Ijin Usaha Pertambangan No. 160 Tahun 2010 (terlampir) seluas 50 hektar.

b. Berkewajiban menyiapkan dokumen-dokumen ekspor yang diperlukan berkaitan dengan kegiatan eskpor hasil tambang nickel ore tersebut. c. Berkewajiban memberikan data-data tertulis kepada PIHAK KEDUA setelah ditandatanganinya perjanjian ini, segala hal yang berkaitan dengan area tambang yang dikelola oleh PIHAK KEDUA, yang meliputi, tapi tidak terbatas pada : lokasi stockfile, jetty, luas area, peta, titik koordinat dan batas-batas area tambang nickel ore yang ditentukan serta informasi-informasi lainnya. d. Berhak mengetahui hasil tambang nickel ore dari PIHAK KEDUA sesuai dengan ketentuan Pasal 2 ayat (2) tersebut di atas. e. Berhak mengontrol dan memonitor operasional produksi tambang yang dilakukan oleh PIHAK KEDUA maupun segala kegiatan pengiriman hasil tambang nickel ore yang menjadi kewajiban PIHAK KEDUA. f. Berhak untuk menegur dan atau memperingatkan PIHAK KEDUA secara lisan maupun tertulis, bilamana terjadi pelanggaran terhadap ketentuan yang ditetapkan dalam perjanjian ini, dan berhak mengontrol pelaksanaan perbaikannya. g. Berkewajiban menanggung segala resiko yang timbul akibat adanya sengketa lahan, adanya pihak-pihak yang keberatan serta tiba-tiba muncul pelarangan/pemberhentian aktifitas penambanngan dari Pemerintah atau instansi terkait lainnya dan membebaskan PIHAK KEDUA dari segala bentuk tanggung jawab apapun terkait dengan hal tersebut, baik di dalam maupun di luar pengadilan. h. Berkewajiban memberikan bantuan yang diperlukan kepada PIHAK KEDUA apabila terjadi sesuatu yang timbul atas pelaksanaan perjanjian ini. 2. Hak dan Kewajiban PIHAK KEDUA, sebagai berikut : a. Berkewajiban memberikan dana kesungguhan sebesar Rp. 300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah) setelah alat dan peralatan PIHAK PERTAMA memasuki arel tambang yang disepakati. b. Berkewajiban melaksanakan kegiatan operasional produksi pertambangan nickel ore secara optimal, maksimal dan professional.
Hal. 4/6

melaksanakan produksi dan operasional pertambangan nickel ore serta melakukan pengiriman tahap awal dan seterusnya minimal 3.000 MT per hari, jumlah tersebut dapat bertambah menjadi 5.000 MT per hari dengan kualitas kadar yang memenuhi standar spesifikasi dan kadar sebagaimana ketentuan Pasal 2 ayat (2) tersebut di atas. d. Berkewajiban dan bertanggung jawab atas pelaksanaan pengiriman hasil tambang nickel ore, baik dari areal tambang ke Stockpile, dari Stockpile ke Pelabuhan untuk pemuatan/pengapalan melalui kapal tongkang serta dari kapal tongkang ke mother vessel/kapal ekspor. e. Berkewajiban melakukan pengiriman hasil tambang nickel ore dari stockpile ke Pelabuhan untuk pemuatan/pengapalan melalui kapal tongkang serta dari kapal tongkang ke mother vessel/kapal ekspor, setiap 50.000 MT yang ada di Stockpile, dengan target waktu 12 hari semua sudah selesai termuat ke atas mother vessel/kapal eksport. f. Berkewajiban menanggung segala resiko yang timbul akibat dari proses operasional produksi pertambangan maupun kegiatan pengiriman hasil pertambangan tersebut serta membebaskan PIHAK PERTAMA dari segala bentuk tanggung jawab apapun terkait dengan hal tersebut. g. Berkewajiban melakukan pembayaran royalty dan kewajibankewajiban lain kepada PIHAK PERTAMA sebelum kapal meninggalkan pelabuhan Pomalaa. h. Berkewajiban melaksanakan pembayaran denda/penalty yang ditetapkan sehubungan dengan terjadinya keterlambatan waktu pengiriman maupun ketidaksesuaian kualitas spesifikasi dan kadar sebagaimana ketentuan Pasal 2 ayat (2) tersebut di atas, pembayaran tersebut dilakukan secara sekaligus dan seketika itu kepada PIHAK BUYER serta terpisah (tersendiri) dalam perjanjian ini. i. Berhak menuntut ganti kerugian sebesar biaya penambangan yang dimaksud pada pasal 4 ayat (3) di atas kepada PIHAK PERTAMA, bahkan mengakhiri PERJANJIAN ini secara sepihak, bilamana terbukti lokasi yang dimaksud ini ternyata dalam keadaan sengketa atau termasuk lahan dilarang untuk melakukan aktifitas penambangan, ketentuan dimaksud tidak menutup kemungkinan untuk diselesaikan secara musyawarah maupun melalui jalur hukum yang berlaku.

c. Berkewajiban

Pasal 8 Larangan
1. PARA PIHAK dilarang dan atau tidak diperkenankan untuk mengalihkan 2. PIHAK

perjanjian ini dengan pihak lain dengan alasan apapun. PERTAMA dilarang dan atau tidak diperkenankan untuk mengakhiri dan atau membatalkan perjanjian ini dengan alasan apapun, sepanjang PIHAK KEDUA telah memenuhi kewajibannya berdasarkan Surat Perjanjian ini.

Pasal 9 Ketentuan Tambahan (Addendum)


Hal. 5/6

Apabila dalam pelaksanaan terdapat hal-hal lain yang belum diatur dan atau terdapat perubahan dalam perjanjian ini, maka hal tersebut akan dibuatkan Addendumnya atas dasar kesepakatan bersama, dimana addendum tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjanjian ini.

Pasal 10 Penyelesaian Perselisihan


1. Dalam hal terjadinya perselisihan selama pelaksanaan perjanjian ini, para pihak bersepakat untuk menyelesaikannya secara musyawarah untuk mufakat, bila hal tersebut tidak berhasil, maka penyelesaiannya akan dilakukan melalui jalur hukum yang berlaku, dalam hal ini sepakat menunjuk Penitera Pengadilan Negeri Kolaka Sulawesi Tenggara. 2. Dalam hal terjadinya multi tafsir terhadap substansi-substansi dan istilahistilah dalam Surat Perjanjian ini, maka penafsiran dimaksud akan mengikuti ketentuan hukum yang berlaku.

Pasal 11 Force Majeure


1. Bilamana terjadi suatu kondisi dan atau keadaan memaksa (overmacht) di

luar kemampuan dan kekuasaan, yang disebabkan oleh, tapi tidak terbatas pada: bencana alam, revolusi, huru hara (kerusuhan masal) dan semacamnya, serta tidak ditemukannya deposit nickel ore, maka PARA PIHAK dibebaskan dari segala kewajiban dalam perjanjian ini. 2. Kondisi force majeure sebagaimana dimaksud ayat 1 di atas dianggap sah dan berlaku, dengan ketentuan hal tersebut harus dapat dibuktikan secara nyata dan jelas oleh salah satu pihak kepada pihak lain di antara para pihak dalam perjanjian ini

Pasal 12 Penutup
1. Sebelum menandatangani SURAT PERJANJIAN ini terlebih dahulu PARA

PIHAK secara bersama-sama membaca, memahami serta bersedia mematuhi dan melaksanakan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian ini. 2. SURAT PERJANJIAN ini dibuat dan ditandatangani oleh PARA PIHAK dalam keadaan sadar, sehat, normal dan tanpa adanya tekanan dari pihak manapun, serta dibuat rangkap 2 (dua) yang diberi meterai cukup, dimana masing-masing rangkap mempunyai kekuatan hukum yang sama dan dipegang oleh PARA PIHAK.

Hal. 6/6

Dibuat di Tanggal PIHAK PERTAMA

: Pomalaa : .Maret 2012. PIHAK KEDUA

SURYA SAKUDA Disaksikan oleh : PT. PANJI SURYA LAKSANA UTAMA 1. .. MUNIR ..................... 2. . ....................... ................. .................

ABBAS MASSE

CV. RIZKY

1. AHSAN

2. YUNITA

Hal. 7/6