Anda di halaman 1dari 9

AKSI SEKSUAL

1. Imajinasi, sentuhan pada skrotum, anus dan perineum, rangsang dari dalam bagian organ seks, rangsang taktil dan gland penis akan diterima oleh syaraf sensoris. 2. Rangsang dihantarkan ke syaraf pudendus lalu ke pleksus skaralis medulla spinalis, ke pusat sensasi seksual. 3. Mengaktifkan parasimpatis nervus pelvikus yang dihantarkan ke penis, menimbulkan efek: 4. Melebarkan arteri-arteri dan jaringan erektil memebentuk sinus cavernosa yang disi darah sehingga penis menjadi membesar dan panjang (EREKSI). 5. Kelenjar uretra dan bulbouretralis mensekresikan lender untuk lubrikasi selama koitus. 6. Ereksi menyebabkan impuls makin kuat dan merangsang pusat reflex di medulla spinalis sehingga mengaktifkan simpatis yang menyebabkan kontraksi vasdeferens, kelenjar prostat, vesika seminalis, dan secret bergabung dengan secret kelenjar uretra dan bulbouretra menjadi semen (EMISI). 7. Emisi menyebabkan sensasi kepenuhan yang menyebabkan kontraksi ritmis organ kelamin internal sehingga semen terdorong keluar (EJAKULASI).

Sumber: Pengarang:Ani Haryani, S.Kep., Ners Irma Halimatussadiah, S.Kep., Ners Santy sanusi, S.Kep., Ners Judul: Anatomi Fisiologi Manusia Tahun: 2009 Penerbit: CV. Cakra Kota: Bandung Halaman saduran:221

PERILAKU SEKSUAL
Respon Fisiologis Respon seksual adalah suatu pengalaman psikofisiologis yang sesungguhnya. Rangsangan dicetuskan oleh stimully psikologis dan fisik, tingkat ketegangan yang dialami baik secara fisiologis dan emosional, dan, pada orgasme, normalnya terdapat persepsi subjektif puncak reaksi dan pelepasan fisik. Perkembangan psikoseksual, sikap psikologis terhadap seksualitas, dan sikap terhadap pasangan seksual seseorang adalah terlibat secara langsung dengan dan mempengaruhi fisologi respon seksual manusia. Laki-laki dan wanita normal mengalami urutan respon fisiologis terhadap stimulasi seksual. Dalam penjelasan terinci pertama tentang respon tersebut, William Master dan Virginia Johnson mengamati bahwa proses fisiologis terlibat dalam meningkatkan tingkat fasokongesti dan miotonia (tumescene) dan selanjutnya pelepasan aktivitas vascular dan tonus otot sebagai akibat orgasme (detumescence). Tabel 20.1-2 dan tabel 20.1-3 menjelaskan siklus respon seksual laki-laki dan wanita. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder edisi keempat (DSMIV) menggambarkan empat fase siklus respon: fase 1, hasrat/birahi (desire); fase 2, perangsangan (excitement); fase 3:orgasme; fase 4:resolusi. FASE 1: HASRAT. Fase Hasrat (atau nafsu) adalah berbeda dari tiap fase lainnyayang dikenali semata-mata melalui fisiologi, dan mencerminkan permasalahan dasar psikiatrik tentang motivasi, dorongan, dan kepribadian. Fase ini ditandai oleh khayalan seksual dan hasrat untuk melakukan aktivitas seksual. FASE 2: PERANGSANGAN. Fase perangsangan adalah disebabkan oleh stimulasi psikologi (khayalan atau adanya objek cinta) atau stimulasi fisiologis (membelai dan mencium) atau kombinasi keduanya. Fase ini mengandung perasaan kenikmatan subjektif. Fase perangsangan ditandai oleh kekakuan penis yang emnyebabkan ereksi pada laki-laki dan lubrikasi vagina pada wanita. Puting payudara pada kedua jenis kelamin menjadi ereksi, walaupun ereksi putting apayudara adalah lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan lakilaki. Klitoris wanita menjadi keras dan membesar, dan labia mayora wanita menjadi lebih tebal sebagai akibat dari pembesaran vena. Perangsangan awal dapat berlangsung beberapa menit sampai beberapa jam. Dengan stimulasi yang berkelanjutan, testis laki-laki bertambah besar ukurannya sekitar 50% dan terangkat. Saluran vagina menunjukkan konstriksi yang karakteristik di sepertiga bagian luarnya, yang dikenal sebagai pelataran orgasme (orgasm platform). Klitoris

terangkat dan beretraksi di belakang simfisis pubis. Sebagai akibatnya, klitoris sukar dicapai. Tetapi, saat daerah tersebut terstimulasi, traksi labia minora dan preposium terjadi, dan terdapat gerakan batang klitoris intraprepusial. Ukuran payudara pada wanita membesar 25%. Gerakan berkelanjutan penis dan vagina menghasilkan perubahan warna yang spesifik, khususnya pada labia minora, yang menjadi berwarna merah terang dan gelap. Kontraksi volunter kelompok otototot besar tejadi, dan kecepatan denyut jantung dan pernapasan meningkat, dan tekanan darah naik. Rangsangan yang meninggi berlangsung 30 detik sampai beberapa menit. FASE 3: ORGASME. Fase orgasme mengandung dari puncak kenikmatan seksual, dengan pelepasan ketegangan seksual dan kontraksi ritmik pada otot-otot perineal dan organ reproduktif pelvis. Perasaan subjektif ejakulasi mencetuskan orgasme laki-laki. Diikuti oleh semprotan semen yang kuat. Orgasme laki-laki juga disertai oleh empat sampai lima kali spasme ritmik pada prostat, vesikula seminalis, vas, dan uretra. Pada wanita, orgasme ditandai oleh 3 sampai 15 kali kontraksi nvolunter pada sepertiga bagian bawah dan oleh kontraksi uterus yang kuat dan lama, berjalan dari fundus turun ke serviks. Baik laki-laki maupun wanita mengalami kontraksi involunter pada sfingter internal dan eksternal. Kontraksi tersebut dan kontraksi lainnya selama orgasme terjadi dengan interval 0,8 detik. Manifestasi lain adalah gerakan volunteer dan involunter pada kelompok otot-otot besar, termasuk seringai wajah dan spasme karpopedal. Tekanan darah meningkat 20 sampai 40 mm (baik sistolik dan diastolik), dan kecepatan denyut jantung naik sampai 160 denyutan per menit. Orgasme berlangsung dari 3 sampai 25 detik dan disertai dengan sedikit pengaburan kesadaran. FASE 4: RESOLUSI. Resolusi terdiri dari pengaliran darah dari genitalia (detumescence), dan detumescence membawa tubuh ke keadaan istirahatnya. Jika orgasme terjadi, resolusi mungkin memerlukan waktu dua sampai enam jam dan mungkin disertai dengan kegelisahan dan mudah marah. Resolusi melalui orgasme ditandai oleh perasaan kesenangan subjektif, relaksasi umum, dan relaksasi otot. Setelah orgasme, laki-laki memiliki suatu periode refrakter yang mungkin berlangsung selama beberapa menit sampai berjam-jam; dalam periode tersebut mereka tidak dapat dirangsang untuk orgasme lebih lanjut. Periode refrakter tersebut tidak terjadi pada wanita, yang mampu mengalami orgasme yang multiple dan berurutan. Perbedaan dalam Rangsangan Erotik

Fantasi seksual yang jelas adalah sering ditemukan pada laki-laki dan wanita. Stimuli eksternal terhadap fantasi seringkali berbeda pada kedua jenis kelamin. Laki-laki berespon terhadap stimuli visual wanita telanjang atau berpakaian sedikit, yang digambarkan sebagai pembangkit nafsu (lust-driven) dan dinikmati hanya dalam pemuasan fisik. Wanita berespon terhadap kisah romantic dengan pahlawan yang lembut yang mencintainya dan berjanji seumur hidup dengannya. Masturbasi Masturbasi biasanya merupakan suatu prekursor normal untuk perilaku seksual berhubungan dengan objek. Telah dikatakan bahwa tidak ada bentuk aktivitas seksual lain yang lebih sering dibicarakan, lebih disalahkan, dan lebih dilakukan secara universal selain masturbasi. Penelitian oleh Alfred Kinsey tentang prevalensi masturbasi menyatakan bahwa hampir semua laki-laki dan tigaperempat wanita melakukan masturbasi pada suatu waktu kehidupannya. Penelitian longitudinal tentang perkembangan menunjukan bahwa stimulasi seksual oleh diri sendiri adalah sering ditemukan pada masa bayi dan kanak-kanak. Saat bayi belajar untuk mengeksplorasi fungsi jari dan mulutnya, mereka melakukan hal yang sama dengan genitalianya. Pada kira-kira usia 15 sampai 19 bulan, kedua jenis kelamin memulai stimulasi sendiri. Sensasi menyenangkan dihasilkan dari sentuhan lembut pada daerah genital. Sensasi tersebut, disertai oleh dorongan biasanya untuk mengeksplorasi tubuh seseorang, menghasilkan minat normal dalam kesenangan masturbasi saat itu. Anak-anak juga mengembangkan suatu peningkatan minat pada genitalia orang lain orangtua, anak-anak, atau bahkan binatang. Saat anak mendapatkan teman bermain, keingintahuan tentang genitalia dirinya sendiri dan orang lain memotivasi episode ekshibisionisme atau eksplorasi genital. Pengalaman tersebut, kecuali dihambat oleh ketakutan bersalah, berperan dalam kesenangan yang terus-menerus dari stimulasi seksual. Saat mendekati pubertas, lonjakan hormon seks, dan perkembangan karakteristik seks sekunder, keingintahuan seksual diperkuat, dan masturbasi bertambah sering. Remaja adalah mampu secara fisik untuk melakukan koitus dan orgasme tetapi biasanya terhambat oleh kekangan social. Mereka berada dalam tekanan ganda dan seringkali bertentangan dalam menegakkan identitas jenis kelamin dan mengendalikan impuls seksual mereka. Hasilnya adalah ketegangan psikologis yang berat yang memerlukan pelepasan, dan masturbasi adalah cara yang

normal untuk menurunkan ketegangan seksual. Suatu perbedaan emosional penting antara anak pubertas dan anak yang lebih kecil adalah adanya fantasi koitus selama masturbasi pada remaja. Fantasi tersebut adalah pelengkap penting bagi perkembangan identitas jenis kelamin; dalam perbandingan keamanan khayalan, remaja belajar untuk membentuk peran seks dewasa. Aktivitas otoerotik biasanya dipertahankan sampai dewasa muda, saat normalnya digantikan oleh koitus. Pasangan dalam hubungan seksual tidak mengabaikan masturbasi sepenuhnya. Jika koitus adalah tidak memuaskan atau tidak dapat dilakukan karena penyakit atau tidak adanya pasangan, stimulasi sendiri seringkali memberikan tujuan adaptif, mengkombinasikan kesenangan sensual dan pelepasan ketegangan. Kinsey menemukan bahwa, jika wanita bermasturbasi, sebagian besar lebih menyukai stimulasi klitoris dibandingkan yang lainnya. Masters dan Johnson melaporkan bahwa wanita lebih menyukai batang klitoris daripada kelenjar karena kelenjar lebih hipersensitif terhadap stimulasi yang intensif. Tabu moral terhadap masturbasi telah menyebabkan mitos bahwa masturbasi menyebabkan penyakit mental atau menurunkan kemampuan seksual. Tidak ada bukti ilmiah yang mendukung pernyataan tersebut. Masturbasi adalah suatu gejala psikopatologis hanya jika masturbasi menjadi kompulsif di luar pengendalian seseorang. Masturbasi selanjutnya merupakan gejala gangguan emosional bukan karena masturbasi adalah seksual tetapi karena adalah kompulsif. Masturbasi merupakan aspek yang universal dan tidak dapat dihindari dari perkembangan psikososial, dan pada sebagian besar kasus masturbasi adalah adaptif.

Tabel 20.1-2 Siklus Respon Seksual Laki-laki Organ Fase Rangsangan Berlangsung selama beberapa menit sampai beberapa jam; rangsangan yang kuat sebelum orgasme, 30 detik sampai 3 menit Tepat sebelum orgasme: tampak kemerahan kulit yang tidak konsisten; ruam Fase Orgasmik 3-15 detik Fase Resolusi 10 sampai 15 menit; jika tidak orgasme, sampai 1 hari

Kulit

Kemerahan yang jelas

Kemerahan menghilang dalam urutan kebalikan timbulnya; tampak

Penis

makulapopular berasal dari abdomen dan menyebar ke dinding dada arterior, wajah, dan leher dan dapat mencapai bahu dan lengan bawah Ereksi dalam 10 sampai 30 detik disebabkan oleh fasokongesti badan erektil korpus kavernosa batang penis; hilangnya ereksi dapat terjadi jika terdapat stimulus aseksual, suara bising; pada rangsangan yang kuat, ukuran glans dan diameter batang penis bertambah lagi

lapisan keringat di telapak tangan dan kaki tetapi tidak selalu

Skrotum Pengencangan dan dan pengangkatan kantung Testis skrotum dan peninggian testis; pada rangsangan yang kuat, ukuran testis meningkat 50% dibanding keadaan tanpa stimulasi dan mendatar pada perineum, menandakan akan terjadinya ejakulasi Kelenjar 2 sampai 3 tetes cairan Tidak berubah Cowper mukoid yang mengandung sperma hidup disekresikan selama rangsangan yang kuat

Ejakulasi; fase emisi ditandai oleh tiga sampai empat kontraksi 0.8 detik pada vas, vesikula seminalis, prostat; ejakulasi yang sebenarnya ditandai oleh kontraksi uretra 0.8 detik uretra dan semburan ejakulasi 10 sampai 20 inci pada usia 18, menurun dengan bertambahnya usia sampai menetes pada usia 70 tahun Tidak berubah

Ereksi; involusi parsial dalam 5 sampai 10 detik dengan periode refrakter yang bervariasi; lengkap dalam 5 sampai 30 menit

Kembali ke ukuran dasar karena hilangnya vasokongesti; testis dan skrotum turun dalam 5 sampai 30 menit setelah orgasme; involusi memerlukan beberapa jam jika tidak terjadi pelepasan orgasmic Tidak berubah

Lainlain

- Payudara: ereksi putting payudara yang tidak selalu terjadi pada rangsangan yang kuat sebelum orgasme. - Miotonia: kontraksi semisimpatik otot-otot wajah, abdomen, dan interkostalis. - Takikardia: sampai 175 kali permenit. - Tekanan darah: sisitolik naik 20 sampai 80 mm; diastolic naik 10 sampai 40 mm. - Respirasi: meningkat

- Hilangnya control otot volunter. - Rektum: kontraksi ritmik sfingter. - Kecepatan denyut jantung: sampai 180 denytu semenit. - Tekanan darah: sistolik naik hingga 40 sampai 100 mm; diastolic 20 sampai 50 mm. - Respirasi: sampai 40 kali semenit.

Kembali ke keadaan dasardalam 5 sampai 10 menit.

Tabel 20.1-3 Siklus Respon Seksual Wanita Organ Fase Rangsangan Berlangsung beberapa menit sampai beberapa jam; rangsangan yang kuat sebelum orgasme, 30 detik sampai 3 menit Kulit Tepat sebelum orgasme; kemerahan kulit tidak selalu tampak; ruam makulopapular berasal dari abdomen an menyebar ke dinding dada anterior, wajah, dan leher; dapat mencapai bahu dan lengan bawah Payudara Ereksi putting payudara pada duapertiga wanita; kongesti venadan pembesaran areolar ukuran meningkat sampai seperempat diatas normal Klitoris Membesar pada diameter Fase Orgasmik 3 sampai 15 detik Fase Resolusi 10 sampai 15 menit; jika tidak orgasme, sampai 1 hari

Kemerahan yang jelas

Kemerahan menghilang dalam urutan terbalik timbulnya; tampak lapisan keringat pada telapak tangan dan kaki tetapi tidak selalu

Payudara dapat menjadilebih bergetar

Kembali ke normal dalam kira-kira jam

Tidak berubah

Batang kembali ke posisi

glans dan batang; tepat sebelum orgasme, batang beretraksi ke dalam prepusium

Labia Mayora

- Nulipara: meninggi dan mendatar pada perineum. - Multipara: kongesti dan edema

Tidak berubah

Labia Minora

Ukuran meningkat dua sampai tiga kali di atas normal; berubah menjadi merah muda, merah, merah tua sebelum orgasme Vagina Warna berubah menjadi ungu gelap; transudat vagina ditemukan 10 sampai 30 detik setelah rangsangan; pemanjangan dan pelonggaran vagina; sepertiga bagian bawah vagina berkontraksi sebelum orgasme Rahim Naik sampai pelvis palsu; kontraksi seperti persalinan dimulai pada rangsangan yang kuat tepat sebelum orgasme Lain-lain - Miotonia - Beberapa tetes sekresi mukoid dari kelenjar Bartolini selama rangsangan yang kuat. - Serviks membengkak sedikit dan naik secara pasif bersama rahim Sumber: Penulis: Kaplan dan sadock Judul buku: Sinopsisi Psikiatri jilid II

Kontraksi bagian proksimal labia minora

normal dalam 5 sampai 10 detik; mengecil dalam 5 sampai 30 detik; ika tidak orgasme. Pengecilan memerlukan waktu beberapa jam - Nulipara: meningkat sampai ukuran normal dalam 1 sampai 2 menit. - Multipara: menurun ke ukuran normal dalam 10 sampai 15 menit. Kembali ke normal dalam 5 menit

3 sampai 15 kontraksi pada sepertiga bagian bawah vagina dengan interval 0.8 detik

Ejakulat membentuk pool seminal dalam duapertiga bagian atas vagina; kongesti menghilang dalam beberapa detik atau, jika tidak orgasme dalam 20 sampai 30 menit

Kontraksi sebelum orgasme

Kontraksi berhenti; dan uterus turun ke posisi normal

- Hilangnya control otot volunteer - Rectum: kontraksi ritmik sfingter - Hiperventilasi dan takikardia

- Kembali ke keadaan dasar dalam beberapa detik sampai menit - Warna dan ukuran serviks kembali ke normal, dan serviks menurun ke dalam pool seminal.

Penerbit: Binarupa aksara Tahun terbit: 1997 Kota: Jakarta Halaman saduran: 126-130