Anda di halaman 1dari 9

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG Crowding merupakan suatu istilah yang umum dalam bidang kedokteran gigi untuk menggambarkan keadaan gigi yang berjejal/bertumpuk. Gigi yang berjejal bisa terjdi di beberapa tempat, pada gigi-gigi depan, gigi belakang atau pada tempat tertentu saja seperti gigi taring yang tidak kebagian tempat. Gigi berjejal termasuk salah satu anomali yang sering dijumpai pada maloklusi Klas 1. Gigi berjejal menyulitkan oklusi dengan sempurna karena lengkung gigi atas dan bawah tidak selamanya bertemu. Bisa jadi salah satu atau beberapa gigi tidak mempunyai kontak dengan gigi lawannya sehingga pengunyahan pun tidak dapat berlangsung optimal. Tak jarang ketidakteraturan gigi menyebabkan otot dan sendi rahang sakit/ mengalami kelainan karena harus bekerja keras menciptakan keseimbangan sistem pengunyahan yang ditentukan juga oleh faktor lidah, otot dan sendi rahang selain dari gigi-gigi. Salah satu cara penanganan crowding ini ialah dengan menggunakan perawatan ortodonti. Pada makalah ini akan dibahas tentang pengaruh perawatan ortodonti terhadap jaringan periodontal, efek plak dan kalkulus pada jaringan periodontal, dan ronsen foto apa yang cocok dengan kasus di bawah ini. DESKRIPSI TOPIK Seorang pasien perempuan berusia 18 tahun datang ke klinik FKG USU dengan keluhan utama gigi bagian depan atas dan bawah tidak teratur letaknya. Dari pemeriksaan klinis diperoleh gigi anterior atas dan bawah berjejal. Pemeriksaan ronsen foto memperlihatkan keadaan tulang alveolar pada rahang atas dan bawah normal sedangkan gigi molar 3 belum tumbuh. Dokter gigi menyarankan pasien memasang pesawat cekat dan untuk mendapat ruang untuk merapikan giginya, maka gigi 14, 24, 34, dan 44 harus dicabut.

PEMBAHASAN
1. Jelaskan akibat pencabutan gigi pada jaringan pendukung gigi! Ketika gigi dicabut maka akan timbul soket. Soket merupakan lubang yang tertinggal di tulang rahang. Soket ini lama-lama diisi oleh darah yang kemudian terkoagulasi dan membantu pembentukan matriks untuk penyembuhan. Setelah hal ini terjadi, sel-sel osteoklas dan osteoblas menginfiltrasi gumpalan dan terjadi proses remodeling soket. Pada saat yang sama, sel epithelial menginfiltrasi gumpalan darah dan membentuk jaringan lunak.1 Mekanisme penyembuhan luka ada tiga fase yaitu: a. Fase inflammasi

Fase inflammasi ditandai dengan perubahan vaskularisasi berupa hiperemi, eksudasi, dan migrasi leukosit daerah sekitar pencabutan gigi. Pembuluh darah yang terkena injuri mengalami dilatasi dan terjadi mobilisasi leukosit ke bekuan darah sehingga permukaan darah beku ditutupi oleh anyaman fibrin yang diisi oleh sel-sel darah merah dan darah putih. Pada fase ini tampak ciri radang berupa bengkak, sakit, merah, panas, dan gangguan fungsi.2 b. Fase proliferasi

Fibroblast dari sel-sel jaringan ikat pada sisa ligament periodontal tumbuh ke bekuan darah di sekitar pinggiran soket gigi. Epitel tepi permukaan luka mengalami proliferasi dalam bentuk mitotic ringan. Crest tulang alveolar menunjukkan aktivitas osteoklastik. Sel endotel berproliferasi menunjukkan pertumbuhan kapiler baru pada ligament periodontal dimulai. Bekuan darah digantikan oleh pertumbuhan fibroblast dan kapiler membentuk jaringan granulasi.2 Pertumbuhan fibroblast pada anyaman fibrin bekuan darah. Pada stadium ini, kapiler baru berpenetrasi ke tengah bekuan darah. Sisa ligament periodontal perlahan degenerasi dan hilang. Proliferasi epitel di atas permukaan luka bertambah luas. Terjadi resorpsi osteoklas sehingga fragmen tulang yang nekrosis akiabt fraktur mengalami resorpsi.2 c. Fase maturasi

Bekuan darah hampir tersusun sempuran oleh jaringan granulasi yang matang. Di sekeliling perifer luka dijumpai pembentukan trabekula tulang muda. Pembentukan tulang terjadi akibat aktivitas osteoblas yang berasal dari sel-sel pluripotensial pada ligament periodontal berfungsi osteogenik. Periosteum dan endosteum tulang alveolar mengadakan pertumbuhan tulang baru yang akan mengisi soket. Permukaan luka mengalami epitelisasi

sempurna. Dilanjutkan dengan remodeling tulang berupa resorpsi dan aposisi tulang yang mengisi soket. Hal ini berlanjut hingga terjadi kalsifikasi sampai penyembuhan sempurna.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka, antara lain:

Faktor Lokal antara lain : obat anestesi yang terlalu keras, trauma yang terlalu besar, luka terinfeksi, luka pada gigi anterior dimana pasien sering memainkan lidah ke tempat tersebut dan pasien sering berkumur sesudah pencabutan.

Faktor sistemik antara lain : Nutrisi, umur, hormonal, Diabetes Mellitus dan penyakit darah.

2. Jika dilakukan perawatan ortodonti, apa yang diharapkan terjadi pada jaringan pendukung gigi? Perawatan ortodonti didasarkan pada prinsip apabila gigi diberikan tekanan yang terusmenerus maka akan terjadi pergerakan gigi. Tekanan tersebut menyebabkan perubahan (remodels) pada jaringan tulang disekitar gigi. Perubahan tersebut meliputi:3,4,5

Perubahan pada gingiva gingiva di sekitar gigi dirangsang untuk bereaksi menjadi hipertropi, biasanya diikuti keadaan inflamasi. Perubahan pada ligamen periodontal terjadi peningkatan proliferasi sel, apoptosis, komponen fibrous utama matriks extraseluler seperti kolagen, dan tropoelastin. Perubahan pada sementum lapisan sementoid mengalami resorpsi.

Perubahan pada tulang alveolar terjadi resorpsi dan aposisi pada dinding tulang alveolar gigi yang digerakkan.

Frontal resorption atau resorpsi langsung yang akan terjadi apabila tekanan yang diberikan lebih rendah daripada tekanan di kapiler darah. Pada frontal resorption, sel-sel osteoklas akan merusak lamina dura dan meresorpsi daerah tersebut sehingga pergerakan gigi mulai terjadi.3,4,5,6 Tekanan yang ringan menyebabkan penekanan ringan pada ligament periodontal yang terletak antara gigi dan tulang alveolar sehingga terbentuk dua area yaitu area tertekan dan area tertarik. Pada area tertekan, ligament periodontal memendek sedangkan pada daerah tertarik, ligament periodontal akan meregang.3,4,5,6

Penekanan yang diberikan pada gigi tidak menyebabkan kontak langsung antara gigi dengan lamina dura. Pembuluh darah pada ligament periodontal terkompres sehingga daerah di sekitar pembuluh darah tersebut menjadi iskemia. Resorpsi tulang alveolar terjadi pada daerah yang tertekan dan aposisi tulang alveolar terjadi pada daerah yang tertarik. Resorpsi dan aposisi dilakukan oleh osteosit, yaitu osteoklas yang direkrut dari monosit pada pembuluh darah berperan dalam resorpsi tulang alveolar dan osteoblas berperan dalam aposisi tulang alveolar.3,4,5,6

3. Jelaskan keadaan patologis apa yang terjadi akibat penekanan yang berlebihan pada jaringan periodontal!
Terbentuk daerah terhialinisasi dan terjadi resorpsi undermining. Mekanismenya: Apabila tekanan besar diberikan pada gigi, pembuluh darah pada ligament periodontal akan tertutup sehingga menyebabkan tidak adanya vaskularisasi pada daerah disekitarnya. Hal tersebut akan menyebabkan terbentuknya jaringan nekrosis yang disebut juga dengan daerah hyalinized. Resorpsi mulai terjadi dari belakang daerah nekrosis tersebut dikarenakan osteoklas yang aktif melakukan resorpsi berada pada sum-sum tulang, yaitu di belakang lamina dura sehingga disebut undermining resorption atau resorpsi tidak langsung. Oleh karena itu, pergerakan gigi pada undermining resorption lebih lama dibandingkan dengan frontal resorption karena pada undermining resorption terbentuk daerah hyalinized. Tekanan yang besar selain menyebabkan timbulnya rasa sakit juga dapat menimbulkan kerusakan pada jaringan periodontal dan gigi itu sendiri berupa resorpsi akar, oleh karena itu tekanan yang besar sebaiknya dihindari.4,5,6,7

4. Jelaskan keadaan apa yang sering terjadi pada kasus gigi berjejal dan jelaskan efeknya pada jaringan pendukung gigi! Gigi yang berjejal menyebabkan sulitnya membersihkan sisa-sisa makanan yang melekat pada gigi. Keadaan ini menjadi presdiposisi pembentukan plak. Plak yang terakumulasi lama kelamaan mengalami kalsifikasi mebentuk kalkulus. Plak dan kalkulus menjadi salah satu etiologi terjadinya gingivitis. Gingivitis kronis yang tidak dirawat dapat menyebabkan periodontitis.8

Penumpukan plak dan kalkulus 8

Plak dental adalah deposit lunak berupa biofilm yang menumpuk ke permukaan gigi atau permukaan keras lainnya di rongga mulut. Kalkulus adalah massa terkalsifikasi yang melekat ke permukaan gigi, terdiri dari plak bakteri yang mengalami mineralisasi atau pengendapan garam-garam mineral.

Gingivitis 8

Merupakan keadaan inflamasi pada gingival sebagai akibat dari plak dan kalkulus. Plak dan kalkulus mengandung sejumlah mikroorganisme yang pathogen terhadao gingiva. Bakteri tersebut mampu merusak gingival dengan menghasilkan sejumlah zat berupa kolagenase, hialuronidase, protease, kondrotin sulfatase, atau endotoksin yang menyebabkan kerusakan pada epithelial dan jaringan ikat, juga kandungan interselular seperti kolagen, substansi dasar, dan glikokaliks (cell coat) gingivitis.

Periodontitis 8

Merupakan kelanjutan inflamasi dari gingivitis kronis yang tidak dirawat atau tidak tuntas perawatannya, juga merupakan penjalaran inflamasi dari pulpa gigi melalui foramen apikalis ke ruang ligamen periodontal di bagian apikal. 5. Jelaskan jenis ronsen foto apa yang harus dilakukan pada kasus di atas dan jelaskan alasannya! Ronsen foto yang harus dilakukan pada kasus di atas adalah ronsen foto panoramic dan cephalometric. a. Panoramic Foto panoramik merupakan foto rontgen ekstra oral yang menghasilkan gambaran yang memperlihatkan struktur facial termasuk mandibula dan maksila beserta struktur pendukungnya. Foto rontgen ini dapat digunakan untuk mengevaluasi gigi impaksi, pola erupsi, pertumbuhan dan perkembangan gigi geligi, mendeteksi penyakit dan mengevaluasi trauma.9 Keuntungan foto panoramic:9 Gambar meliputi tulang wajah & gigi Dosis radiasi lebih kecil Nyaman untuk pasien khususnya yang susah membuka mulut Waktu yang digunakan pendek biasanya 3-4 menit Membantu dalam penegakan diagnostic yang meliputi tulang rahang secara umum dan evaluasi terhadap trauma, perkembangan gigi geligi pada fase gigi bercampur Evaluasi terhadap lesi, keadaan rahang dan gigi terpendam Kerugian foto panoramic:9 Detail gambar tidak sebaik periapikal intraoral radiograph Tidak dapat digunakan untuk mendeteksi karies kecil Pergerakan pasien selama penyinaran akan menyulitkan interpretasi b. Cephalometric Foto Rontgen ini digunakan untuk melihat tengkorak tulang wajah akibat trauma penyakit dan kelainan pertumbuhan perkembangan. Foto ini juga dapat digunakan untuk melihat jaringan lunak nasofaringeal, sinus paranasal dan palatum keras.9 Pada perawatan ortodonti, foto rontgen cephalometric dibutuhkan untuk melihat apakah ada kelainan dentofacial yang menyebabkan maloklusi dan juga sebagai dasar dalam perawatan ortodonti berupa kebutuhan mencabut gigi sebelum dilakukan perawatan ortodonti.9

6. Jelaskan tiga azas yang diperlukan untuk keselamatan dalam penggunaan radiasi dan azas apa yang dipilih untuk kasus di atas? Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 63 tahun 2000, tentang Keselamatan dan Kesehatan terhadap pemanfaatan radiasi pengion yang mengacu pada ketentuan yang diterbitkan oleh Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency) dan rekomendasi yang dikeluarkan oleh Komisi Internasional tentang Proteksi Radiasi (International Commission on Radiological Protection), sistem pembatasan dosis untuk setiap kegiatan yang dapat mengakibatkan penerimaan dosis oleh seseorang direkomendasikan berdasarkan pada 3 (tiga) asas yaitu: justifikasi (justification of practices), limitasi (dose limitation) dan optimasi (optimization of protection and safety).10
a.

Asas justifikasi hanya boleh dilakukan apabila menghasilkan keuntungan yang dengan kerugian radiasi yang mungkin diakibatkannya dengan

lebih besar kepada seseorang yang terkena penyinaran radiasi atau bagi masyarakat, dibandingkan
b.

memperhatikan faktor sosial, faktor ekonomi dan faktor lainnya yang sesuai.10 Asas limitasi membatasi penerimaan dosis seseorang untuk tidak boleh melebihi/melampaui Nilai Batas Dosis yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir.10
c.

Asas Optimasi perlu dan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga besarnya dosis

yang diterima seseorang dan jumlah orang yang tersinari sekecil mungkin dengan memperhatikan faktor sosial dan ekonomi.10

KESIMPULAN
Pada perawatan ortodonti, kadang-kadang dibutuhkan pencabutan gigi. Pencabutan gigi menyebabkan timbulnya soket pada tulang rahang. Soket ini kemudian mengalami proses inflammasi dalam penyembuhannya. Kemudian, soket mengalami proliferasi sehingga menimbulkan jaringan granulasi sebagai salah satu proses penyembuhan yang dilanjutkan dengan remodeling tulang mengisi soket. Perawatan ortodonti menggerakkan gigi dengan mekanisme resorpsi frontal, yaitu resorpsi langsung berupa resorpsi tulang pada daerah tertekan dan aposisi tulang pada daerah yang tertarik. Jika kekuatan terlalu berlebihan, maka resorpsi yang terjadi adalah resorpsi undermining yang terjadi secara tidak langsung. Resorpsi undermining terjadi karena adanya daerah terhialinisasi karena mengalami nekrosis dan degenerasi. Perawatan ortodonti ditujukan untuk merapikan gigi dan memperbaiki oklusi. Oklusi yang buruk menyebabkan peningkatan kerentanan terhadap insiden plak yang merupakan etiologi timbulnya gingivitis dan periodontitis. Dalam melakukan perawatan ortodonti, diperlukan radiografi ekstra oral berupa radiografi panoramic dan radiografi cephalometri yang bertujuan untuk melihat posisi gigi, melihat adanya gigi yang terpendam, melihat keadaan oklusi, dan juga mengukur arah tekanan gigi yang harus diberikan. Dalam melakukan radiografi, ada tiga asas yang harus diperhatikan yaitu asas optimasi, asas justifikasi, dan asas limitasi. Yang paling penting adalah asas justifikasi, memberikan radiografi dengan manfaat yang lebih besar dalam keberhasilan perawatan dibandingkan dengan kerugiannya. Kemudian asas optimasi dan limitasi dengan memberikan dosis yang tidak berlebihan dan tidak melewati batas dosis.

DAFTAR PUSTAKA
1. Spiller M.S. Extractions. <http://www.doctorspiller.com/extractions.htm> (7 Oktober 2010) 2. Primasari A., Ginting R. 3. Avery J.K. Oral development and histology. 3rd edition. New York: Thieme Medical Publishers, 1994: 364-8. 4. Ardhana W. Materi kuliah ortodonsia II: biomekanika II. (7 ortodontik. < < Oktober http://wayanardhana.staff.ugm.ac.id/materi_orto2_biomek.pdf> (7 Oktober 2010) 5. Anonymous. 2010) 6. Salzmann J.A. Orthodontics: practice and technics. USA: JB Lippincott company, 1983: 443-5. 7. Mjr I.A. Reaction patterns in human teeth. Florida: CRC Press, 1983: 188-9. 8. Tampubolon T.S.A. Pathogenesis gingivitis dan periodontitis. <http://patogenesisgingivitisdanperiodontitis.blogspot.com/2010/04/patogenesis-gingivitisdan.html> (7 Oktober 2010) 9. Hidayat W. Gambaran distribusi teknik foto rontgen yang digunakan di RSGM-FKG UNPAD. <http://resources.unpad.ac.id/unpad-content/uploads/publikasi_dosen/GAMBARAN %20DISTRIBUSI%20TEKNIK%20FOTO%20RONTGEN%20GIGI%20YANG %20DIGUNAKAN%20DI%20RSGM-FKG%20UNPAD.PDF> (7 Oktober 2010) 10. pesawat Wurdiyanto G., Budiantari C.T. Optimasi aspek keselamatan pada kalibrasi terapi
60

Chapter

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18240/4/Chapter%20II.pdf>

Co

atau

137

Cs.

<http://ansn-indonesia.org/download.php?

fid=401&filename=715-_724_PB_9_OPTIMASI_ASPEK_KESELAMATAN.pdf&down=1> (7 Oktober 2010)