Anda di halaman 1dari 30

Akbar Marzuki Tahya, S.Pi., M.Si.

Pola pertumbuhan pada fitoplankton

1 ke 2: fase induksi atau awal 2 ke 3: fase pertumbuhan 3 ke 4: pertumbuhan melambat 4 ke 5: fase pertumbuhan statis/tetap 5 ke 6: fase kematian

Pola pertumbuhan pada fitoplankton


Fase Induksi atau Awal Ukuran sel meningkat namun kepadatan belum bertambah; kultur mulai menyerap nutrien yang terdapat pada medium kultur

Fase Pertumbuhan Eksponensial sel bereproduksi dengan cepat, dengan pertumbuhan populasi skala eksponensial
Fase Penurunan Pertumbuhan laju pertumbuhan populasi kultur menurun

Fase Statis Jumlah/ kepadatan populasi kultur stabil; Reproduksi seimbang dengan kematian Fase Kematian Kepadatan sel menurun; Laju kematian sel melebihi laju pertumbuhan sel

Hal-hal yang harus diperhatikan sebelum mengkultur mikro-alga


mengetahui laju pertumbuhan species mikroalga yang akan dukultur di laboratorium Kebutuhan mikroalga pada setiap fase siklus hidup Menjaga inokulan/bibit murni dan mengetahui jumlah alga yang dibutuhkan Mempersiapkan produksi ekstra untuk mengantisipasi jika ada kultur yang gagal Stok kultur harus steril (bacteria free) Tidak ada kontaminasi dari spesies mikroalga lain, jamur, protozoa Menjaga kultur tetap pada fase eksponensial

Kondisi Umum Kultur Mikroalga


Kebutuhan nutrisi Diperkaya dengan bahan organik untuk melengkapi BO yang telah ada pada medium kultur Aerasi Pengadukan agar tidak terjadi sedimentasi yang dapat mematikan alga, bahan organik dan suhu merata, dan sumber CO2
kisaran
pH Suhu 7,0-9,0 16-27

Optimum
8,2 8,7 20-24

Salinitas (g.L-1)
Cahaya Lama pencahayaan

12-40
1,000-10,000 (tk) 16:8 (minimum)

20-24
2,500-5,000 24:0 (maximum)

tk: tergantung kepadatan

Perbedaan tingkatan kultur

Skala lab.
kultur fitoplanklton dalam laboratorium

Semi massal
kultur fitoplankton pada kondisi semi outdoor pengembangan stok fitoplankton dari laboratorium

massal
kultur fitoplankton kondisi outdoor

penyediaan bibit
kultur volume beberapa ml hingga 3 liter kultur murni/isolasi

kultur dengan volume mulai 1 hingga 20 m3 bahkan lebih

Tahapan Kultur
Sterilisasi alat dilakukan setiap minggu dan media Proses mensucihamakan peralatan yang akan dipakai agar tidak terkontaminasi spesies lain Persiapan bibit bibit murni dilakukan di lab., sebaiknya langsung dikultur atau dimasukkan ke kuljas agar tidak terkontaminasi Penumbuhan dan pemberian pupuk sesuai kebutuhan

Isolat mikroalga

Stok kultur

Up-scalled

5 10 L

Isolasi Mikroalga
Bertujuan untuk mendapatkan inokulan (bibit murni). Beberapa metode isolasi adalah : Pengenceranbertingkat Gesek agar (streak plate)

Pengenceran Bertingkat
Sterilisasi pengenceran secara aseptik Penambahan 9 ml medium kultur dan 1 ml sampel untuk konsentrasi 10-1 Dari tabung reaksi pengencaran 10-1 yang telah homongen diambil 1ml sampel dan ditransfer ke medium baru dan seterusnya Diinkubasi secara terkontrol (suhu, cahaya dsb)

Metode Agar Gesesk


Sterilisasi alat dan bahan Medium agar dengan kedalaman 2/3 dari cawan Batang (loop) untuk membuat gesekan pada medium agar dan peletakan sampel Cawan di tutup dan disegel dengan parafin Diinkubasi pada suhu dan cahaya yang konstan Hasil diperiksa menggunakan mikroskop Untuk mengurangi resiko kontaminasi, mengulang prosedur sedingga mendapatkan kultur alga murni

Kultur Murni/Lab.
Bibit murni dari lab. (hasil isolasi) Dilakukan secara bertingkat yaitu tabung reaksi dan erlenmeyer dilakukan dalam wadah Erlenmeyer 100 ml, beakerglass 1000 ml, aquarium 5 L dan aquarium 60 L.

Lanjutan ..
Pemasukan bibit ke dalam media (air) dengan perbandingan 1:10

Pemberian pupuk walne dengan konsentrasi 1 ml / L,


Pemasangan aerasi. Pemanenan dapat dilakukan setelah 7-8

hari setelah penanaman


Dapat dilanjutkan ke semi massal atau massal

Tabel. Komposisi nutrien/medium Conwy, F dan Liao dan Huang


Bahan Kimia No. Conwy
Na2EDTA NaH2PO4.2H2O 45 g 20 g

Nama medium F
10 g 10 g

Liao dan Huang


100 g

1. 2.

3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11.

FeCl3.6H2O H3BO3 MnCl2.4H2O NaNO3 Na2SiO3.9H2O Lar. Trace metal Vitamin Aquades sampai KNO3

1,5 g 33,6 g 0,36 g 100 g 1 ml 1 ml 1000 ml -

2,9 g 3,6 g 100 g 5 g/30 ml 1 ml 1 ml 1000 ml -

3g 1g 1000 ml 100 g

Kultur Semi Massal


Media berupa fiber glass transparan dengan kapasitas 80 l atau lebih di bersihkan meggunakan deterjen Perlengkapan dan peralatan yang akan dipakai disterilkan menggunakan kaporit atau klorin sebanyak 100 ppm Dibilas sampai bersih dan dikeringkan Memasukkan air laut yang telah disterilkan dengan kaporit 15-20 ppm dan pemberian aerasi pemberian pupuk sesuai alga yang akan dikultur Memasukkan bibit alga sebanyak 10-20% dari volume media Pemanenan dilakukan setelah 7-8 hari masa kultur

Tabel. Formula pupuk (nutrient) fitoplankton skala semi massal Bahan Kimia No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. NaNO3/KNO3 Na2EDTA FeCl3 MnCl2 H3BO3 Na2HPO4 Na2SiO3 Trace metal Vitamin Aquadest Urea ZA Conwy 100/116 g 5g 1,3 g 0,36 g 33,6 g 20 g 1 ml 1 ml 1L Nama Nutrien/Medium Guillard 84, 2 g 10 g 2,9 g 0,36 g 10 g 50 g 1 ml 1 ml 1L TMRL 100 g 3,0 g 10 g 1g 1L BBLsm 50 g 5g 1g 10 g 5-10 g 0,5 ml 1 ml 1L 40 g 30 g

Catatan : BBLsm = modifikasi Balai Budidaya Laut semi massa


Larutan Vitamin Stok :

Vitamin B1 Vitamin B12 Biotin Aquadest Penggunaan

0,2 g 10 ml 10 ml 1L 1 ml/L

Kultur Skala Massal

Prosedur kultur skala massal hampir sama dengan kultur skala massal. Yang membedakan adalah volume wadah yang digunakan dimana kultur massal lebih besar Lokasi kultur harus jauh dari tempat kultur zooplankton Pupuk yang digunakan adalah pupuk kimia teknis atau kombinasi dengan pupuk pertanian

Nutrien (pupuk) untuk kultur skala massal : Pupuk untuk kultur Nannchlooropsis oculata (Bojonegara, Serang) KNO3 50 ppm Na2HPO4 4 ppm Na2EDTA 10 ppm FeCl3 5 ppm Pupuk untuk kultur Tetraselmis sp. (BBPBAP, Jepara) Urea 80 ppm TSP 40 ppm ZA 20 ppm FeCl3 1 ppm EDTA 5 ppm

Pupuk untuk kultur Chlorella sp. (Bojonegara, Serang) Urea 30 ppm 10 ppm TSP 20 ppm 30 ppm ZA 40 ppm 100 ppm NPK 10 ppm Pupuk untuk kultur Chlorella vulgaris (air tawar)
Beneck 100 ppm 200 ppm 500 ppm sedikit Pupuk komersial Urea TSP KCl

MgSO4 KH2PO4 NaNO3 FeCl3

800 ppm 15 ppm 40 ppm

Teknik Kultur Mikroalga


Lokasi /penempatan Indoor Outdoor Jenis wadah Open Closed

Semi continuous Dapat diaplikasikan secara indoor maupun outdoor. Pemeliharaan dilakukan seperti pada umumnya. Pemanenan dilakukan secara periodik dan penambahan nutrien kembali pada wadah semula Continous suplai air laut yang mengandung nutrisi dilakukan secara berkelanjutan dan buangan kultur secara simultan pada media. jumlah alga di dalam media dipertahankan pada jumlah/level tertentu dengan mengencerkan pada medium baru yang telah diatur sehingga pertumbuhan mikroalga (bukan kepadatan) konstan. Dapat dipanen tiap hari dengan memperhatikan kondisi nutrien.

Gambaran kultur Alga di Luar Negeri

Indoors

Batch Culture

Greenhouse

Live food aquaculture training course www.aquatrain.org

Tank culture Advantages - large volumes


Disadvantages - weak culture, prone to contamination

Small tanks

large tanks

Live food aquaculture training course www.aquatrain.org

SeaSalter System
Continuous Algal Production, Systems, SeaCAPS

Adapted batch culture technique


Plastic Sacs connected together dosing pump water and nutrient supply overflow into common collector

Live food aquaculture training course www.aquatrain.org

SeaSalter SeaCAPS
water supply

Live food aquaculture training course www.aquatrain.org

SeaSalter SeaCAPS
algae collection

Live food aquaculture training course www.aquatrain.org

BioFence Greenhouse

Live food aquaculture training course www.aquatrain.org

BioFence indoors

Live food aquaculture training course www.aquatrain.org

AddaVita reactor

Live food aquaculture training course www.aquatrain.org

tq