Anda di halaman 1dari 4

Diagnosis CKD a.

Anamnesis dan pemeriksaan fisik Anamnesis harus terarah dengan mengumpulkan semua keluhan yang berhubungan dengan retensi atau akumulasi toksin azotemia, etiologi GGK, perjalanan penyakit termasuk semua faktor yang dapat memperburuk faal ginjal (LFG). Gambaran klinik (keluhan subjektif dan objektif termasuk kelainan laboratorium) mempunyai spektrum klinik luas dan melibatkan banyak organ dan tergantung dari derajat penurunan faal ginjal. Gambaran klinis

Sesuai penyakit yang mendasari seperti DM, infeksi traktus urinarius, hipertensi, hiperurikemi, Lupus Eritematosus Sistemik (LES). Sindrom uremia ( lemah, letargi, anoreksia, mual muntah, nokturia, kelebihan volume cairan, neuropati perifer, pruritus, uremic frost, perikarditis, kejang sampai koma). Gejala komplikasi seperti hipertensi, anemia, osteodistorfi renal, payah jantung, asidosis metabolik, gangguan keseimbangan elektrolit (sodium, kalium, khlorida) .

Kegawatan CKD 1. Asidosis Metabolik o Koreksi intravenous jika PH<7,1 o HCO3 < 12 o JIka HCO3 13 -18 maka dilakukan koreksi dengan tablet biknat 3x500mg o Koreksi biknat : blind bolus 50 mEq (encerkan dulu 1:1) o Drip 200 cc D5 (tetes 20x/menit) o Rumus Na-Bik = 0,3 x BB (kg) x [def HCO3 (mEq/L x 0,0084] o Bila tidak berhasil dilakukan dialysis 2. Overhidrasi Tanda : o Sesak
o

Napas kusmaul Asidosis metabolic

o RBH (+) o Suara dasar vesikuler

o JIka parah : Batuk darah (Pink Frothy) akan berlanjut menjadi hemptoe (warna mera cerah) 3. Kejang Th/ : Diazepam 5-10 mg, Sekobarbita 30-50 mg (i.v) 4. Syndrom Uremia Mual, Muntah, kejang 5. Hiperkalemi Klasifikasi: Ringan (Mild) : 5,5 6,5 mEq/L Sedang (Moderate) : 6,5 7,5 mEq/L Berat (severe) : > 7,5 mEq/L

Penanganan :

o Rendah: koreksi dengan kalitake 3x1 sachet o Sedang : koreksi dengan kalitake (Ion Exchange resin) 3x2 sachet, menggunakan syring pump kalitake berfungsi untuk menghambat penyerapan kalium dalam usus sehingga penurunannya cepat
o

Berat : - Insulin 10 unit + 2 fl. D40 Kenapa insulin? Insulin dapat memasukan kalium intravaskuler ke dalam intra sel sehingga kalium intra sel dapat meningkat. Pemberian insulin ini abis dlm waktu 6-8jam Pemberian insulin dapat mengakibatkan hipoglikemi sehingga harus ditambah dengan D40 Ca Gluc. 10%, 0,5 ml/ kgBB (10-20 ml) i.v bolus dalam 3-5 menit sebagai kompetitor Na-bik 45-90 mEq/L i.v blus beberapa menit (ssi analisis BGA)

6. Perdarahan 7. Krisis Hipertensi Diagnosis : Anamnesis PF Laboratorium DD/

: Lemas, mual, muntah, sesak, pucat, BAK kurang : Anemis, kulit kering, edema tungkai-palpebra, tanda-tanda bendungan : Gangguan fungsi ginjal : GGA

Trias CKD : Azotemia Anemia HT

Anemia pada CKD 1. Defisiensi eritropoetin : Produksi kurang 2. Def. Fe 3. Blood loss, perdarahan GIT, pengambilan sample 4. umur eritrosit pendek karena uremia 5. inhibitor eritropoesis 6. intake kurang Krisis Hipertensi : keadaan HT yang membutuhkan penurunan TD segera karena akan mempengaruhi keadaan pasien selanjutnya a. HT emergency : dibutuhkan penurunan TD segera-parenteral Kerusakan organ target
b. HT urgency

: Penurunan TD beberapa jam (24 jam) oral Tidak disertai kerusakan organ

b. Pemeriksaan laboratorium Tujuan pemeriksaan laboratorium yaitu memastikan dan menentukan derajat penurunan faal ginjal (LFG), identifikasi etiologi dan menentukan perjalanan penyakit termasuk semua faktor pemburuk faal ginjal. a.Pemeriksaan faal ginjal (LFG) Pemeriksaan ureum, kreatinin serum dan asam urat serum sudah cukup memadai sebagai uji saring untuk faal ginjal (LFG). b.Etiologi gagal ginjal kronik (GGK) Analisis urin rutin, mikrobiologi urin, kimia darah, elektrolit dan imunodiagnosis. c.Pemeriksaan laboratorium untuk perjalanan penyakit Progresivitas penurunan faal ginjal, hemopoiesis, elektrolit, endokrin, dan pemeriksaan lain berdasarkan indikasi terutama faktor pemburuk faal ginjal (LFG).

c. Pemeriksaan penunjang diagnosis Pemeriksaan penunjang diagnosis harus selektif sesuai dengan tujuannya, yaitu: 1) Diagnosis etiologi GGK Beberapa pemeriksaan penunjang diagnosis, yaitu foto polos perut, ultrasonografi (USG), nefrotomogram, pielografi retrograde, pielografi antegrade dan Micturating Cysto Urography (MCU). 2) Diagnosis pemburuk faal ginjal Pemeriksaan radiologi dan radionuklida (renogram) dan pemeriksaan ultrasonografi (USG) 3) Diagnosis Radiologis FPA, bisa tampak radio opak Pielografi intravena ( jarang ) karena kontras sering tidak bisa melewati filter glomerulus, khawatir pengaruh toksik oleh kontras terhadap ginjal yang sudah mengalami kerusakan Pielografi antegrad dan retrograd sesuai indikasi USG ginjal, memperlihatkan ukuran ginjal yang mengecil, korteks menipis, adanya hidronefrosis atau batu ginjal, kista, massa, kalsifikasi Pemeriksaan pemindaian ginjal atau renografi bila ada indikasi

4) Biopsi dan Pemeriksaan Histopatologi Ginjal Dilakukan pada pasien dengan ukuran ginjal yg masih mendekati normal, dimana diagnosis secara noninvasif tidak bisa ditegakkan. Tujuannya mengetahui etiologi, terapi, prognosis, dan mengevaluasi terapi yg diberikan.