Anda di halaman 1dari 8

PENDAHULUAN

Mastitis adalah peradangan pada jaringan kelenjar ambing yang umumnya terjadi pada saat laktasi. Penyakit ini sering terjadi pada sapi perah dan menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat besar bagi peternakan sapi perah di seluruh dunia (Bannerman dan Wall, 2005). Infeksi mastitis ini menyebabkan rasa sakit, pembengkakan, kemerahan, dan peningkatan suhu pada kelenjar ambing. Mastitis banyak menimbulkan kerugian secara ekonomi karena menyebabkan penurunan produksi susu. Penurunan produksi susu yang ditimbulkan dapat mencapai 70% dari seluruh kerugian yang ditimbulkan oleh mastitis. Kerugian lainnya yang dapat ditimbulkan oleh mastitis adalah bertambahnya biaya pengobatan dan tenaga kerja yang diperlukan, adanya residu antibiotika pada susu, pengafkiran, meningkatnya biaya penggantian sapi perah, kematian pada sapi, serta adanya penurunan kualitas susu (Hurley dan Morin, 2000). Tingkat keparahan dan intensitas terjadinya mastitis dipengaruhi oleh faktor mikroorganisme penyebab mastitis itu sendiri. Berdasarkan respon radang yang terjadi, mastitis dapat dibedakan menjadi mastitis perakut, akut, sub akut, subklinis dan kronis (Hurley dan Morin 2000; Nelson dan Nickerson 1991). Mastitis subklinis merupakan jenis mastitis yang paling sering terjadi, yaitu sekitar 15-40 kali lebih banyak dibandingkan dengan mastitis klinis (Hurley dan Morin, 2000). Di Indonesia, jenis mastitis yang sering terjadi adalah mastitis subklinis. Penyakit mastitis sendiri dapat disebabkan oleh berbagai jenis mikroorganisme, salah satunya adalah bakteri. Menurut Akoso (1996), bakteri yang dapat menyebabkan, antara lain adalah Streptococcus agalactiae, Streptococcus disgalactiae, Streptococcus uberis, Streptococcus zooepidemicus, Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Enterobacter aerogenees dan Pseudomonas aeroginosa. Salah satu penyebab utama mastitis yang umum pada sapi perah adalah Staphylococcus aureus (S. aureus) (Jones et al., 1984). Mastitis yang disebabkan oleh S. aureus dapat terjadi secara klinis namun seringkali terjadi secara subklinis dan menahun (Bannerman dan Wall, 2005). Identifikasi untuk membedakan S. aureus dengan bakteri gram positif lainnya merupakan faktor utama sebagai salah satu langkah dalam penanganan kasus mastitis. Sebagian besar cara yang dilakukan masih bergantung atas dasar kriteria fenotip yang tampak, yaitu morfologi pertumbuhan koloni, uji katalase, uji koagulase, serta adanya fermentasi manitol pada media agar MSA. Faktor patogenitas S. aureus berhubungan dengan adanya produksi enzim koagulase. Enzim inilah yang membedakan S. aureus dengan bakteri Staphylococcus lainnya (Levinson dan Jawetz, 2003). Bakteri S. aureus juga dapat diisolasi dengan media selektif MSA maupun dengan media umum.Penggunaan

MSA tidak dapat digunakan secara mutlak untuk membedakan S. aureus dengan bakteri Staphylococcus lainnya, namun dapat digunakan untuk membedakan S. aureus dengan bakteri Streptococcus.

ALAT DAN BAHAN

Alat Alat-alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah ose, gelas objek, tabung kimia, cawan petri, bunsen, alat-alat untuk pewarnaan gram, serta mikroskop. Bahan Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sampel susu yang diduga tercemar bakteri Staphylococcus sp. atau Streptococcus sp., media Agar Darah, media agar miring, media agar MSA, larutan gula, dan lain-lain.

TUJUAN

1. Melatih mahasiswa untuk melakukan isolasi dan identifikasi agen penyebab penyakit. 2. Melatih mahasiswa untuk melakukan Pewarnaan Gram.

METODOLOGI KERJA

Pewarnaan Gram pada Preparat Ulas

Bakteri Gram Positif (ungu)

Bakteri Gram Negatif (merah)

Batang

Kokus

Uji Katalase Positif

Uji Katalase Negatif

Famili Micrococcaceae

Famili Streptococcaceae

Uji Koagulasi Positif

Uji Koagulasi Negatif

Uji Hemolisis

Staphylococcus patogen

Staphylococcus non patogen

-hemolisis (Streptococcus agalactiae)

-hemolisis (Streptococcus faecalis)

-hemolisis (Streptococcus equii)

Uji Fermentasi Maltosa

Inokulasi pada MSA

Fermentasi Positif (S. aureus)

Fermentasi Negatif (S. hyicus)

Koloni kuning (S. aureus)

Koloni merah (S. epidermis)

Langkah kerja: 1. Dari sampel yang dicurigai tercemar bakteri penyebab mastitis, dibuat preparat ulas dan dilakukan pewarnaan gram. 2. Dilakukan identifikasi bakteri gram negatif atau positif. 3. Setelah dilakukan pewarnaan gram, sampel susu diambil sedikit dan diinokulasikan pada media agar darah untuk didapatkan biakan murni dan hasil uji hemolisa. Tunggu dua hari. 4. Hasil biakan bakteri pada agar darah diambil koloni terpisahnya, kemudian diinokulasikan pada media agar miring. Diamkan lima hari. 5. Hasil inokulasi bakteri dari agar miring diambil sedikit untuk dibuat preparat ulas. 6. Preparat ulas diwarnai dengan pewarnaan gram dan diamati dengan mikroskop. 7. Ke atas kaca obyek, diteteskan H2O2 kemudian dicampurkan setetes cairan yang mengandung hasil biakan bakteri. Reaksi katalase diamati. 8. Dilakukan uji fermentasi maltosa. Tunggu beberapa jam hingga beberapa hari. Amati. 9. Biakan bakteri diinokulasikan ke dalam media agar TSA yang terdiri dari serum plasma darah kelinci. Media diinkubasikan pada suhu 37C. 10. Biakan bakteri diinokulasikan ke dalam media agar MSA. Diamkan dua hari. Amati.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Berdasarkan pengamatan yang dilakukan selama dua minggu, didapatkan hasil sebagai berikut:

Sifat Gram : Morfologi :

Positif Kokus dengan susunan bergerombol

Ukuran Koloni : Bentuk Koloni : Permukaan Koloni : Aspek Koloni : Tepi Koloni : Elevasi : Sifat Tembus Cahaya : Pigmentasi : Hemolisa:

Sedang Bulat Halus Mengkilat Halus Timbul Translusen Tidak berpigmen (krem) -hemolisis (sempurna)

Hasil Uji Katalase Hasil Uji Koagulase Hasil Uji Fermentasi Maltosa

Positif (+) Positif (+) Positif (+)

Pembahasan Mastitis dapat disebabkan oleh berbagai macam bakteri, salah satunya adalah bakteri Staphylococcus aureus. Untuk mengetahui jenis bakteri yang mencemari sampel susu, maka dilakukanlah berbagai uji identifikasi bakteri. Pertama-tama, dari sampel susu yang telah disediakan dibuat preparat ulasnya dan dilakukan pewarnaan gram. Berdasarkan hasil pewarnaan gram, diketahui bahwa bakteri yang terdapat dalam sampel susu merupakan bakteri gram positif. Setelah itu, dari sampel susu yang sama dilakukan inokulasi bakteri ke dalam media agar darah (Blood Plate Agar/BPA). Biakan kemudian disimpan selama kurang lebih dua hari. Setelah dua hari, diamati bahwa pada media agar darah tersebut tumbuh koloni bakteri berwarna krem, berukuran sedang, dengan sifat hemolisis sempurna (-hemolisis). Dari koloni yang terpisah, dilakukan isolasi bakteri ke dalam media agar miring. Setelah beberapa hari didiamkan maka pada media agar miring pun tumbuh koloni bakteri. Kemudian dilakukan uji katalase dengan cara meneteskan larutan H2O2 pada sebuah kaca obyek dan ke dalam larutan H2O2 tersebut diulaskan hasil inokulasi bakteri dari agar miring dengan menggunakan ose. Hasil yang didapatkan dari uji katalase ini adalah positif. Hal ini terlihat dari munculnya gelembung pada campuran. Prinsip dari uji ini adalah mengamati ada tidaknya enzim katalase yang dihasilkan oleh bakteri. Uji ini dilakukan dengan menggunakan larutan H2O2 3% agar terbentuk reaksi kimiawi sebagai berikut: H2O2 H2O + O2. Apabila bakteri tersebut menghasilkan enzim katalase, maka enzim tersebut akan memecah senyawa H2O2 menjadi H2O dan O2 yang ditandai dengan terbentuknya gelembung udara di sekitar koloni. Setelah itu dilakukan uji koagulase dengan cara menginokulasikan bakteri pada media cair di dalam tabung mikro. Media kemudian diisolasi selama dua hari sebelum diamati. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa bakteri tersebut memiliki kemampuan untuk menggumpalkan media. Media yang digunakan adalah plasma darah kelinci yang telah diencerkan 1:5 dengan akuades. Media yang telah dicampur dengan isolat pun diinkubasi pada suhu 37C selama 4-24 jam atau lebih. Uji ini dilakukan untuk membedakan bakteri Staphylococcus patogen dan non patogen. Biakan bakteri juga diinokulasikan ke dalam media agar MSA kemudian disimpan selama kurang lebih dua hari untuk melihat pertumbuhannya. Dari hasil pengamatan, diketahui bahwa bakteri tersebut mampu tumbuh pada media MSA. Media MSA merupakan media selektif diferensial karena mengandung kadar garam yang tinggi (7,5%) sehingga hanya bakteri yang tahan akan salinitas tinggi yang mampu tumbuh pada media ini. Selain itu media ini juga mengandung manitol dan indikator merah fenol yang dapat digunakan sebagai pembeda antar bakteri. Apabila suatu mikroorganisme dapat mengfermentasikan manitol, maka akan terbentuk suatu produk sampingan yang menyebabkan indikator merah fenol berubah warna menjadi kuning. Bakteri

Staphylococcus aureus akan membentuk koloni berwarna kuning dengan zona kuning apabila diinokulasikan ke dalam media ini, sementara bakteri Staphylococcus dengan koagulase negatif akan menghasilkan koloni berwarna merah dan tidak ada perubahan warna media. Untuk lebih meyakinkan hasil identifikasi bakteri penyebab mastitis yang berada di dalam sampel susu tersebut, maka dilakukan uji fermentasi manitol. Media yang digunakan untuk uji tersebut bersifat cair dan mengandung pepton, manitol, serta indikator merah fenol. Apabila isolat bakteri tersebut mampu melakukan fermentasi karbohidrat, maka hasil proses fermentasi yang berupa asam akan menurunkan pH media dan mengubah warna indikator merah fenol menjadi kuning. Gas yang terbentuk pada waktu fermentasi juga akan ditangkap oleh tabung Durham dan terlihat sebagai gelembung udara yang terperangkap dalam tabung. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa media fermentasi manitol berubah warna menjadi kuning. Hal ini menunjukkan bahwa biakan bakteri tersebut bersifat fermentasi manitol positif. Setelah dilakukan berbagai macam uji untuk memperkuat diagnosis, maka kita dapat mengidentifikasi bakteri penyebab mastitis yang terkandung dalam sampel susu tersebut.

Kesimpulan Berdasarkan hasil uji-uji yang dilakukan pada praktikum kali ini, maka disimpulkan bahwa bakteri yang terkandung di dalam sampel susu yang berasal dari sapi yang dicurigai terkena penyakit mastitis merupakan bakteri Staphylococcus aureus.

DAFTAR PUSTAKA Akoso, T. B. 1996. Kesehatan Sapi. Yogyakarta: Kanisius. Bannerman, D. D. and R. J. Wall. 2005. A Novel Strategy for the Prevention of Staphylococcus aureus-Induced Mastitis in Dairy Cows. Information Systems for Biotechnology News Report. Virginia Tech University. USA. 1 - 4. Hurley W.L., D.E. Morin., 2000 - Lactation biology, Ed. ANSCI, 84 110; Jones, G. M., R. E. Pearson, G. A. Clabaugh, and C. W. Heald. 1984. Relationships between somatic cell counts and milk production. J. Dairy Sci. 67:1823-1831.

Levinson W, Jawetz E. Medical Microbiology and Immunology. 6ta ed. McGraw-Hill, 2003. Nelson Philpot, W., S.C. Nickerson, 1991. Mastitis: counter attack, a strategy to combat mastitis. Babson Bros Co. Naperville, Illinois USA.