Anda di halaman 1dari 3

BAHAN BAKAR YANG DIGUNAKAN PADA PLTGU A.

High Speed Diesel (HSD)

High Speed Diesel (HSD) merupakan BBM jenis solar yang memiliki angka performa cetane number 45, jenis BBM ini umumnya digunakan untuk mesin trasportasi mesin diesel yang umum dipakai dengan sistem injeksi pompa mekanik (injection pump) dan electronic injection, jenis BBM ini diperuntukkan untuk jenis kendaraan bermotor trasportasi dan mesin industri.Minyak solar adalah bahan bakar jenis distilat berwarna kuning kecoklatan yang jernih. Penggunaan minyak solar pada umumnya adalah untuk bahan bakar pada semua jenis mesin diesel dengan putaran tinggi (diatas 1.000 RPM), yang juga dapat dipergunakan sebagai bahan bakar pada pembakaran langsung dalam dapur-dapur kecil, yang terutama diinginkan pembakaran yang bersih. Minyak solar ini biasa disebut juga Gas Oil, Automotive Diesel Oil, High Speed Diesel. Specification Batasan MIN 45 48 815 MAX 870 Metode Uji ASTM/lain ASTM D-613 D4737 D-1298 4737 5.0 D-445 0.35 D-1552 370 D-86 D-93 18 D-97 Kelas I D-4530 500 D-1744 IP

NO Karakteristik 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Angka Setana Indeks Stana Berat Jenis pada 15 0 C

UNIT

Kg/m3

D-

Viskositas pada 40 0 C Mm2/sec 2.0 Kandungan Sulfur % m/m Distilasi : T95 C Titik Nyala C 60 Titik Tuang oC Karbon Residu merit Kandungan Air Mg/kg Biological Grouth Nihil Kandungan FAME % v/v 10 Kandungan Metanol & % v/v Tak Terdeteksi Etanol Korosi bilah tembaga Merit Kelas I Kandungan Abu % m/m 0.01 Kandungan Sedimen % m/m 0.01 Bilangan Asam Kuat mgKOH/gr 0 Bilangan Asam Total mgKOH/gr 0.6 Partikulat Mg/l Penampilan Visual Jernih dan terang Warna No.ASTM 3.0

D-4815 D-130 D-482 D-473 D-664 D-664 D-2276 D-1500

B. Marine Fuel Oil (MFO) Minyak Bakar bukan merupakan produk hasil destilasi tetapi hasil dari jenis residu yang berwarna hitam. Minyak jenis ini memiliki tingkat kekentalan yang tinggi dibandingkan minyak diesel. Pemakaian BBM jenis ini umumnya untuk pembakaran langsung pada industri besar dan digunakan sebagai bahan bakar untuk steam power station dan beberapa penggunaan yang dari segi ekonomi lebih murah dengan penggunaan minyak bakar. Minyak Bakar tidak jauh berbeda dengan Marine Fuel Oil (MFO). Spesifikasi NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 PROPERTIES Specific Gravity 60 / 60 F Viscosity Redwood 1/100 F Pour Point Calorific Value Gross Sulphur Content Water Content Sediment Netralization Value : - Strong Acid Number Flast Point P.M.c.c Conradson Carbon Residu SATUAN Secs F BTU/lb % wt % vol % wt LIMITS MIN 400 18.000 TEST METHODS ASTM IP D-1298 D-445 *) IP 70 D-97 D-240 D-1551/1552 D-95 D-473

MAX 0.990 1250 80 3.5 0.75 0.15 Nil 14

mgKOH/gr F 150 % wt -

D-93 D-189

C. HSFO (High Sulphur Fuel Oil) Minyak Bakar bukan merupakan produk hasil destilasi tetapi hasil dari jenis residu yang berwarna hitam. Minyak jenis ini memiliki tingkat kekentalan yang tinggi dibandingkan minyak diesel. Pemakaian BBM jenis ini umumnya untuk pembakaran langsung pada industri besar dan digunakan sebagai bahan bakar untuk steam power station dan beberapa penggunaan yang dari segi ekonomi lebih murah dengan penggunaan minyak bakar. Minyak Bakar tidak jauh berbeda dengan Marine Fuel Oil (MFO).Menurut kadar sulfur MFO dapat dibagi mnjadi : 1. Minyak bumi kadar sulfur tinggi (high sulfur oil), Mengandung sulfur > 2 % berat. 2. Minyak bumi kadar sulfur sedang (medium sulfur oil), Mengandung sulfur 0,1 2 % berat. 3. Minyak bumi kadar sulfur rendah (low sulfur oil), Mengandung sulfur < 0,1 % berat

D. LPG LPG adalah kependekan dari Liquefied Petroleum Gas, merupakan gas hasil produksi dari kilang minyak atau kilang gas, yang komponen utamanya adalah gas propane (C3H8) dan butane (C4H10) yang dicairkan. Pertamina memasarkan LPG sejak tahun 1969 dengan merk dagang ELPIJI.Berdasarkan komposisi propane dan butane, LPG dapat dibedakan menjadi tiga macam:

LPG propane, yang sebagian besar terdiri dari C3 LPG butane, yang sebagian besar terdiri dari C4 Mix LPG, yang merupakan campuran dari propane dan butane.

E. CNG (Compressed Natural Gas) / BBG (Bahan Bakar Gas) Gas alam terkompresi (Compressed natural gas, CNG) adalah alternatif bahan bakar selain bensin atau solar. Di Indonesia, kita mengenal CNG sebagai bahan bakar gas (BBG). Bahan bakar ini dianggap lebih 'bersih' bila dibandingkan dengan dua bahan bakar minyak karena emisi gas buangnya yang ramah lingkungan. CNG dibuat dengan melakukan kompresi metana (CH4) yang diekstrak dari gas alam. CNG disimpan dan didistribusikan dalam bejana tekan, biasanya berbentuk silinder. Pengisian CNG dapat dilakukan dari sistem bertekanan rendah maupun bertekanan tinggi. Perbedaannya terletak dari biaya pembangunan stasiun vs lamanya pengisian bahan bakar. Idealnya, tekanan pada jaringan pipa gas adalah 11 bar, dan agar pengisian CNG bisa berlangsung dengan cepat, diperlukan tekanan sebesar 200 bar, atau 197 atm, 197 kali tekanan udara biasa. Dengan tekanan sebesar 200 bar, pengisian CNG setara 130 liter premium dapat dilakukan dalam waktu 3-4 menit. CNG kadang-kadang dianggap sama dengan LNG. Walaupun keduanya sama-sama gas alam, perbedaan utamanya adalah CNG adalah gas terkompresi sedangkan LNG adalah gas dalam bentuk cair. CNG secara ekonomis lebih murah dalam produksi dan penyimpanan dibandingkan LNG yang membutuhkan pendinginan dan tangki kriogenik yang mahal. Akan tetapi CNG membutuhkan tempat penyimpanan yang lebih besar untuk sejumlah massa gas alam yang sama serta perlu tekanan yang sangat tinggi. Oleh karena itu pemasaran CNG lebih ekonomis untuk lokasi-lokasi yang dekat dengan sumber gas alam.CNG juga perlu dibedakan dari LPG, yang merupakan campuran terkompresi dari propana (C3H8) dan butana (C4H10)