Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN MINGGUAN PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK GRAVIMETRI

Oleh : Nama NRP Meja Kelompok Asisten Tgl. Percobaan : Meiza Maajid P. : 083020033 : 02 (dua) : III (tiga) : Yoan Nita Estera : 31 Oktober 2009

LABORATORIUM KIMIA ANALITIK JURUSAN TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS PASUNDAN BANDUNG 2009

I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang, (2) Tujuan Percobaan, (3) Prinsip Percobaan, dan (4) Reaksi Percobaan. 1.1. Latar Belakang Analisis gravimetri adalah proses isolasi dan pengukuran berat suatu unsur atau senyawa tertentu. Bagian terbesar dari penentuan secara analisis gravimetri meliputi transformasi unsur atau radikal ke senyawa murni stabil yang dapat segera diubah menjadi bentuk yang dapat ditimbang dengan teliti. Berat unsur dihitung berdasarkan rumus senyawa dan berat atom unsur-unsur yang menyusunnya. Pemisahan unsur-unsur atau senyawa yang dikandung dilakukan dengan beberapa cara seperti : metode pengendapan, metode penguapan, metode elektrolisis atau berbagai macam metode lainnya. Metoda gravimetri memakan waktu cukup lama, adanya pengotor pada konstituen dapat diuji dan bila perlu faktor-faktor koreksi dapat digunakan (Khopkar, 1990, hal : 25). Metode analisis gravimetri adalah suatu metode analisis yang didasarkan pada pengukuran berat, yang melibatkan: pembentukan, isolasi dan pengukuran berat dari suatu endapan Kinerja Metode Gravimetri Relatif lambat Memerlukan sedikit peralatan Neraca dan oven Tidak memerlukan kalibrasi Hasil didasarkan pada berat molekul

Akurasi 1-2 bagian per seribu Sensitivitas: analit > 1% Selektivitas: tidak terlalu spesifik (Anonimus, 2009). Pengendapan merupakan teknik yang paling meluas penggunaannya untuk memisahkan analit dari pengganggupengganggunya; elektrolisis, ekstraksi solven, kromatografi dan penguapan merupakan metoda penting untuk pemisahan (Underwood, 1980, hal : 73). 1.2. Tujuan Percobaan Tujuan dari percobaan gravimetri ini adalah untuk memisahkan analit dari pengganggu-pengganggunya sehingga diperoleh bentuk yang tidak larut atau kelarutannya kecil sekali serta untuk mrnghitung kadar SO4 dalam cuplikan. 1.3. Prinsip percobaan Prinsip dari percobaan gravimetri ini adalah berdasarkan dari hasil pengendapan yang terjadi pada hasil reaksi (konsep Ksp). Pengukuran berat hasil (penimbangan) dari suatu zat yang hendak ditentukan analitnya yang dipisahkan dari semua komponen lain dari sampel atau pelarutnya. 1.4. Reaksi Percobaan Percobaan gravimetri ini didapatkan hasil reaksi, sebagai berikut : Na2SO4 + 2 HCl H2SO4 + 2 NaCl BaSO4 + 2 HCl + 2 NaCl H2SO4 + 2 NaCl + BaCl2

II TINJAUAN PUSTAKA Bab ini menguraikan mengenai : (1) Analisis Gravimetri, (2) Metoda Pengendapan, (3) Kemurnian Endapan, (4) Keadaan Optimum Untuk Pengendapan, (5) Peranan Pereaksi Organik, dan (6) Identifikasi Sampel. 2.1. Analisis Gravimetri Analisis gravimetri adalah proses isolasi dan pengukuran berat suatu unsur atau senyawa tertentu. Bagian terbesar dari penentuan secara analisis gravimetri meliputi transformasi unsur atau radikal ke senyawa murni stabil yang dapat segera diubah menjadi bentuk yang dapat ditimbang dengan teliti. Berat unsur dihitung berdasarkan rumus senyawa dan berat atom unsur-unsur yang menyusunnya (Khopkar, 1990, hal : 25). Pemisahan unsur-unsur atau senyawa yang dikandung dilakukan dengan beberapa cara, seperti : metode pengendapan, metode penguapan, metode elektrolisis atau berbagai macam metode lainnya (Khopkar, 1990, hal : 25). Suatu cara analisa gravimetri biasanya berdasarkan reaksi kimia seperti : aA + rR AaRr dengan ketentuan a adalah molekul analit A, bereaksi dengan r molekul pereaksi R. Hasil AaRr biasanya merupakan zat dengan kelarutan yang kecil yang dapat dibakar menjadi senyawa lain dengan susunan yang diketahui dan kemudian ditimbang. Misalnya kalsium dapat ditentukan secara gravimetri dengan pengendapan dari kalsium oksalat dan pembakaran oksalat

menjadi kalsium oksida. Suatu pereaksi R berlebih biasanya ditambahkan untuk menekan kelarutan endapan pada zat yang di uji (Underwood, 1980, hal : 73). Persyaratan berikut harus dipenuhi agar suatu cara gravimetri dapat berhasil : 1. Proses pemisahan harus cukup sempurna hingga kuantitas analit yang tidak mengendap secara analitik tidak ditemukan (biasanya 0,1 mg atau kurang pada penentuan komponenkomponen utama dari suatu contoh makro). 2. Zat yang ditimbang harus mempunyai susunan tertentu dan harus murni atau hampir demikian. Jika tidak demikian hasil yang salah dapat diperoleh. Syarat ke dua adalah lebih sukar bagi seorang analis untuk memenuhinya. Kesalahan yang disebabkan oleh faktor-faktor seperti kelarutan endapan biasanya dapat dikurangi dan jarang menyebabkan kesalahan yang bermakna. Permasalahan untuk memperoleh endapan murni dan dapat disaring yang merupakan kepentingan pokok (Underwood, 1980, hal : 74). Metode gravimetri merupakan metode analisis kuantitatif yang digunakan untuk menentukan massa suatu unsur dengan pemurnian dari zat pengotor. Prinsip utama dalam metode ini adalah zat yang dianalisis merupakan senyawa murni yang ditentukan kadar (massa) dalam campuran. Dalam menentukan massa senyawa murni, penimbangan dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung (Anonimus, 2009). Dilihat dari metoda pengerjaannya gravimetri dapat dibedakan menjadi empat jenis, daiantaranya yaitu :

1.

Gravimetri

Pengendapan.

Dalam

larutan

ditambahkan

senyawa lain sehingga terbentuk senyawa yang sukar larut atau terjadi endapan. Senyawa yang ditambahkan harus senyawa yang akan bereaksi dengan senyawa yang akan ditentukan kadarnya dalam campuran.

2. 3. 4.

Elektrogravimetri. Pengendapan analit dengan bantuan arus listrik. Gravimetri Penguapan. Prinsipnya dengan memanfaatkan penguapan analit maupun senyawa lain. Gravimetri Partikulat. Pada gravimetri partikulat dikenal istilah TSS (Total Suspension Solid) , yaitu kadar partikulat tersuspensi dan TDS (Total Dissolved Solid), yaitu kadar partikulat terlarut. Partikel tersuspensi memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan partikel terlarut. Contoh suspensi yaitu air sungai, sedangkan lar utan yaitu air gambut. Dalam praktiknya, TSS dan TDS ditentukan oleh ukuran pori kertas saring yang digunakan. Larutan dilewatkan ke kertas saring, sehingga partikel yang tidak dapat lolos akan terhalang dan menempel di kertas saring. Kertas+hasil saringan kemudian dikeringkan, dapat juga dipijarkan. Bila dikeringakan, selisih massa setelah dikeringkan dengan massa kertas saring merupakan massa analit (Anonimus, 2009).

Tahap-tahap analisis gravimetri

1. Mengendapkan analit.

2. Menyaring analit, dengan kertas saring biasa (dekantasi) atau


dengan saring khusus terbuat dari keramik yang dapat menyerap air (krusibel) (Anonimus, 2009). 2.2. Metode Pengendapan Pengendapan dilakukan sedemikian rupa sehingga memudahkan proses pemisahan suatu zat dalam ananlisis kuantitatif. Aspek yang penting dan perlu diperhatikan pada metode pengendapan adalah endapannya mempunyai kelarutan yang kecil sekali dan dapat dipisahkan secara filtrasi. Sifat fisik endapan sedemikian rupa, sehingga mudah dipisahkan dari larutannya dengan cara filtrasi dan mudah dicuci untuk menghilangkan pengotor. Ukuran partikelnya cukup besar serta endapannya dapat diubah menjadi zat murni dengan komposisi kimia tertentu (Khopkar, 1990, hal : 25). Pada temperatur tertentu, kelarutan zat dalam suatu pelarut didefinisikan sebagai jumlahnya bila dilarutkan pada pelarut yang diketahui beratnya dan zat tersebut mencapai kesetimbangan dengan pelarut itu. Larutan lewat jenuh adalah larutan dengan konsentrasi zat terlarut lebih besar dibandingkan dalam keadaan kesetimbangan pada suhu tertentu. Larutan lewat jenuh merupakan keadaan yang tidak stabil dan dapat diubah menjadi keadaan kesetimbangan dengan menambahkan kristal zat terlarut yang disebut sebagai seeding (Khopkar, 1990, hal : 25). Umumnya pengendapan dilakukan pada larutan yang panas, sebab kelarutan akan bertambah dengan bertambahnya temperatur. Pengendapan dilakukan dalam larutan encer yang

ditambahkan pereaksi secara perlahan dengan pengadukan yang teratur, partikel yang terbentuk lebih dahulu berperan sebagai pusat pengendapan. Untuk memperoleh pusat pengendapan yang besar suatu reagen harus ditambahkan agar kelarutan endapan bertambah besar (Khopkar, 1990, hal : 25). 2.3. Kemurnian Endapan Cara paling sulit yang dihadapi analis dalam mempergunakan endapan sebagai cara pemisahan dan penetapan gravimetri adalah mendapatkan endapan dengan derajat kemurnian yang tinggi, sebab pemisahan endapan dari larutan tidak selalu menghasilkan zat murni. Kontaminasi endapan oleh zat lain yang larut dalam pelarut disebut kopresipitasi. Hal ini berhubungan dengan adsorpsi pada permukaan partikel dan terperangkapnya (oklusi) zat asing selama proses pertumbuhan kristal dari partikel primernya. Adsorpsi banyak terjadi pada endapan gelatin dan sedikit pada endapan mikro kristal. Pengotoran dapat juga disebabkan oleh post presipitasi, yaitu pengendapan yang terjadi pada permukaan endapan pertama. Hal ini terjadi pada zat yang sedikit larut, yang kemudian membentuk larutan lewat jenuh (Underwood, 1980, hal : 83). Endapan adalah zat yang memisahkan diri sebagai suatu fase padat keluar dari larutan. Endapan mungkin berupa kristal (kristalin) atau koloid, dan dapat dikeluarkan dari larutan dengan penyaringan atau pemusingan (centrifuge). Endapan terbentuk jika larutan menjadi terlalu jenuh dengan zat yang bersangkutan. Kelarutan (S) suatu endapan, menurut definisi adalah sama dengan konsentrasi molar dari larutan jenuhnya. Kelarutan

bergantung

pada

berbagai

kondisi

seperti

suhu,

tekanan,

konsentrasi bahan-bahan lain dalam larutan itu, dan pada komposisi pelarutnya (Svehla, 1985, hal : 72). 2.3.1. Endapan Kristalin Suatu endapan kristalin, seperti BaSO4 kadang-kadang mengadsorpsi ketidakmurnian ketika partikel-partikelnya masih berukuran kecil. Ketika partikel itu tumbuh, pengototan akan terkepung dalam kristal. Pengotoran jenis ini disebut occulation. Setelah itu endapan kristalin terbentuk, analisis itu dapat meningkatkan kemurnian. Jika zat itu dapat dengan mudah dilarutkan kembali atau ulang, dan kemudian diendapkan ulang. Ion pengotor akan hadir pada konsentrasi yang lebih rendah selama pengendapan kedua dan karenanya kopresipitasi akan lebih sedikit (Underwood, 1980, hal : 83). 2.3.2. Endapan Berupa Gelatin Partikel-partikel primer dari suatu endapan gelatin jauh lebih banyak jumlahnya dan jauh lebih sedikit dimensinya daripada partikel endapan kristalin. Luas permukaan yang tersingkap pada larutan oleh endapan semacam itu luar biasa besarnya terabsorpsi oleh sejumlah air, sehingga menyebabkan endapat tersebut mirip gelatin. Pada endapan semacam ini adsorpsi ion-ion asing dapt sangat eksentif, karena pertikel primer yang menggumpal tidak mudah tumbuh menjadi yang lebih besar (Underwood, 1980, hal : 84). 2.3.3. Endapan Gumpalan Zat-zat pengotor diserap oleh partikel-partikel primer suatu zat, seperti perak klorida dengan cara yang sama tidak tumbuh sampai

ukuran kolodial, dan zat mengendap sebagai koloid yang berkoagulasi. Gumpalan yang dihasilkan masih terdiri dari partikelpartikel halus yang tidak tumbuh bersama untuk membentuk struktur kisi yang luas. Jadi endapan yang bergumpal tidak mencakup atau mengadakan oklusi ion-ion asing seperti yang dilakukan oleh endapan kristalin. Zat pengotor pada permukaan partikel kecil biasanya dapat dicuci lepas, karena partikel-partikel tidak erat terikat satu dengan yang lain, dan cairan pencuci dapat menembus ke semua bagian dari gumpalan. Seperti dikatakan sebelumnya, peptisasi partikel harus dicegah, dan cairan pencuci harus mengandung suatu elektrolit mudah menguap (Underwood, 1980, hal : 84). 2.4. Keadaan Optimum Untuk Pengendapan Aturan-aturan umum yang diikuti adalah sebagai berikut : (1) Pengendapan harus dilakukan pada larutan encer, yang bertujuan untuk memperkecil kesalahan akibat kopresipitasi. (2) Pereaksi dicampurkan perlahan-lahan dan teratur dengan pengadukan yang tetap. Ini berguna untuk pertumbuhan kristal yang teratur. Untuk kesempurnaan reaksi, pereaksi yang ditambahkan harus berlebih. Urutan-urutan pencamputan harus teratur dan sama. (3) Pengendapan dilakukan pada larutan panas bila endapan yang terbentuk stabil pada temperatur tinggi. Aturan ini tidak selalu benar untuk bermacam-macam endapan organik. (4) Endapan kristal biasanya dibentuk dalam waktu yang lama dengan menggunakan pemanas uap untuk menghindari adanya kopresipitasi.

(5) Endapan harus dicuci dengan larutan encer. (6) Untuk menghindari postpresipitasi / kopresipitasi sebaiknya dilakukan pengendapan ulang (Khopkar, 1990, hal : 27-28). 2.5. Peranan Pereaksi Organik Pereaksi yang digunakan pada analisis gravimetri dikenal sebagai endapan organik. Pemisahan satu atau lebih ion-ion anorganik dari campurannya dilakukan dengan menambahkan pereaksi organik. Karena senyawa-senyawa organik tersebut mempunyai berat molekul yang besar, maka dapat ditentukan sejumlah kecil ion dengan pembentukan endapan dalam jumlah yang besar. Endapan organik yang baik harus mempunyai sifat spesifik. Endapan yang terbentuk optimum oleh reaksi pereaksi tercapai organik, dengan dikeringkan atau dibakar dan ditimbang sebagai oksidanya. Selektivitas (pemilihan) mengawasi variabel-variabel seperti : konsentrasi pereaksi, pH larutan dan penggunaan reagen pelindung untuk mengurangi adanya gangguan ion-ion asing dari pengaruh lingkungan (Khopkar, 1990, hal : 29-30)

2.6.Identifikasi Sampel.
Sampel yang digunakan dalam percobaan kali ini adalah kopi. Kopi merupakan bahan minuman yang sudah terkenal di seluruh dunia, hal ini disebabkan karena kopi yang berbentuk bubuk maupun seduhan memiliki aroma dan rasa yang khas yang tidak dimiliki oleh bahan minuman lainnya. Dari hasil pengolahan yang dilakukan pada pengeringan seharusnya sebuah biji kopi memiliki kadar air sekitar 6-8 %.

Pada proses pengeringan biji kopi perlu diperhatikan tahap penurunan kandungan airnya. Pada tahap pertama digunakan suhu pengeringan 100 oC sampai kandungan air turun menjadi 30%, kemudian pada tahap kedua digunakan suhu pemanasan 50
o

C sampai 60 oC, sehingga dicapai kadar air kopi menjadi 6-8 %

(Effendi, 2009, hal : 35)

III BAHAN, ALAT, DAN METODE PERCOBAAN Bab ini menguraikan mengenai : (1) Alat-alat yang Digunakan, (2) Bahan-bahan yang Digunakan, dan (3) Metode Percobaan. 3.1. Bahan-bahan yang Digunakan Bahan yang digunakan pada percobaan gravimetri ini adalah sampel kopi torabika 3 in 1. 3.2. Alat-alat yang Digunakan Alat yang digunakan pada percobaan gravimetri adalah kaca arloji, tang cruss, oven, eksikator dan desikator. 3.3. Metode Percobaan Metode yang digunakan pada percobaan gravimetri adalah cawan kaca arloji ditimbang, kemudian dimasukkan kedalam oven selama 10 menit dengan suhu 1050C. Kemudian keluarkan dari oven setelah itu diamkan selama 5 menit, masukkan ke dalam eksikator selama 10 menit. Setelah itu timbang Kaca arloji kemudian tambahkan sampel dan masukkan kembali ke dalam oven selama 30 menit, kemudian keluarkan dari oven lalu diamkan selama 5 menit. Setelah itu masukkan kembali ke dalam eksikator selama 10 menit, lalu timbang dan ulangi kembali secara berulangulang hingga mencapai konstan.

Berikut prosedur percobaan yang lebih jelas Lihat gambar 1: 1050 C, 10 menit

5 menit Eksikator selama 10 menit Timbang

1050 C, 30 menit Lakukan berulangulang hingga mencapai berat konstan

5 menit Eksikator selama 10 menit

Timbang (Wo)

2 gram sampel (W1)

5 menit

Eksikator selama 10 menit

Timbang

1050 C, 20 menit

5 menit

Eksikator selama 10 menit

Lakukan berulangulang hingga mencapai berat konstan

Timbang (W2)

Gambar 9. Prosedur percobaan gravimetri

IV HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN Bab ini menguraikan mengenai : (1) Hasil Pengamatan dan (2) Pembahasan. 4.1. Hasil Pengamatan Hasil pengamatan yang diperoleh dari percobaan gravimetri adalah : Wo = Cawan kosong Ws = Sampel W1 = Cawan kosong konstan + sampel W2 = Cawan konstan + sampel konstan Tabel 17. % kadar air pada gravimetri Ws 1,0 gr W0 21 gr W1 22 gr W2 21,748 gr

(Sumber : Meiza Maajid P, meja 03, 2009) 4.2. Pembahasan Pembahasan kali ini akan dibahas mengenai percobaan gravimetri dalam kimia analitik. Dari Hasil percobaan yang telah dilakukan dengan menggunakan sampel kopi di dapatkan persentasi kadar air sebesar 25,2 %. Seharusnya untuk kadar air dari biji kopi itu sendiri setelah melewati proses pengeringan hanya memiliki kadar air 6-8 % saja. Perbedaan yang terjadi dari hasil percobaan dengan literatur yang dimiliki oleh praktikan bisa di akibatkan oleh beberapa faktor, yaitu : a. Penimbangan yang kurang baik, pada penimbangan bisa saja ada kecerobohan dari praktikan sehingga hasil penimbangan

kurang akurat, baik itu penimbangan berat sampel maupun penimbangan berat cawan.

b. Alat yang kurang baik kondisinya, penggunaan alat adalah


salah satu hal penting dalam suatu praktikum atau percobaan. Pada percobaan kali ini terjadinya kesalahan bisa terjadi karena alat yang digunakan kurang baik kondisinya, misalnya seperti timbangan digital yang eror atau cawan yang retak dan pemanasan oven yang tidak bagus. c. Penghitungan seorang yang tidak untuk tepat dan ketelitian proses, dan penghitungan dan ketelitian adalah modal penting bagi praktikan melaksanakan praktikum mendapatkan hasil yang sesuai. Tanpa adanya ketelitian maka percobaan yang dilakukan bisa saja dikerjakan dengan asal saja tanpa sesuai dengan prosedur yang sudah ada. Terdapat beberapa prosedur yang harus diljalani yaitu pertama-tama cawan kaca arloji ditimbang, kemudian dimasukkan kedalam oven selama 10 menit dalam oven dengan suhu 1050C. Kemudian keluarkan dari oven setelah itu diamkan selama 5 menit, masukkan ke dalam eksikator selama 10 menit. Setelah itu timbang Kaca arloji kemudian tambahkan sampel dan masukkan kembali ke dalam oven selama 30 menit, kemudian keluarkan dari oven lalu diamkan selama 5 menit. Setelah itu masukkan kembali ke dalam eksikator selama 10 menit, lalu timbang (Wo) dan ulangi kembali secara berulang-ulang hingga mencapai konstan. Begitu selanjutnya sehingga akan didapatkan Ws, W0, W1 dan W2. Kesalahan-kesalahan yang sering terjadi disebabkan kurang telitinya praktikan dalam menimbang, adanya bumping (loncatan

larutan), pengotoran larutan karena menggunakan tempat untuk pemanasan yang tidak ditutup, timbangan yang eror atau rusak, dan masih mengandung kandungan air yang belum teruapkan. Suatu analisis dengan metode gravimetri dapat dilakukan dengan baik apabila memenuhi syarat sebagai berikut : Kelarutan dari endapan harus kecil sehingga kehilangan zat karena kelarutan dapat diabaikan, endapan yang terjadi harus murni tidak mengandung pengotor oleh zat-zat asing, endapan yang terjadi harus mudah dan cepat disaring serta mudah dicuci, dan zat akhir dari endapan harus merupakan suatu senyawa yang rumusnya diketahui secara pasti. Langkah-langkah diantaranya: (1) Pelarutan, pada umumnya zat yang akan dianalisis berbentuk padat maka sebelum dilakukan analisis kuantitatif harus dilakukan pelarut (air). Untuk garam-garam anorganik saat ditambahkan air maka ada proses ionisasi membentuk ion positif dan ion negatif tetapi tidak selamanya endapan larut dalam air, ada yang perlu ditambahkan bantuan larutan elektrolit lain. Misal : Asam atau basa; (2) Pengendapan, Tujuannya yaitu agar terjadi reaksi kimia sehingga terbentuk suatu endapan yang sukar larut dengan rumus molekul tertentu dan mempunyai susunan tertentu sehingga mudah disaring; (3) Pemisahan, ada 2 cara yaitu sentrifugasi dan penyaringan. Sentrifugasi dilakukan untuk senyawa yang jumlahnya sedikit lambat tersedimentasi. Penyaringan diperlukan kertas saring dan pengerjaan percobaan gravimetri

corong tetapi ada juga yang dilakukan dengan filter gelas. Kecepatan penyaringan ini tergantung kepada sifat yang akan disaring yaitu ukuran dan struktur partikel; (4) Pencucian; (5) Pengeringan dan pemanasan. Adapun tujuan dari pengeringan dan pemanasan adalah untuk meghilangkan air dari endapan, menguapkan elektrolit pencuci yang terabsorpsi dan menghilangkan pengotor lain yang mudah menguap, dan mengubah endapan kedalam suatu bentuk penimbangan yang rumusnya diketahui dengan pasti. Suhu pemanasan tergantung kepada endapan yang dipanaskan. Percobaan Gravimetri menggunakan eksikator yang dimasukkan sampel dan didiamkan selama 10 menit. Fungsi eksikator adalah untuk menurunkan kadar air yang terdapat pada sampel tersebut agar tidak terpengaruh oleh udara luar dan kelembaban udara sehingga berat pada sampel pun meningkat. Di atas eksikator terdapat penutup yang dinamakan Vaseline cair. Sampel dimasukkan ke dalam oven kemudian didiamkan selama 5 menit agar sampel tersebut lebih stabil dengan pemanfaatan tekanan dari yang panas menjadi tekanan yang dingin sehingga disesuaikan dengan eksikator tersebut. Apabila setelah dikeluarkan dari oven tidak didiamkan terlebih dahulu akan mengakibatkan kaca arloji tersebut menjadi pecah. Di bawah eksikator terdapat silikat gel yang berfungsi sebagai penyerapan kelembaban yang ada di dalam eksikator. Pemanasan dilakukan selama 30 menit dengan suhu 1050 C dan harus dilakukan berulang-ulang hingga mencapai berat

konstan kemudian menghasilkan W0 dan W2 dengan syarat hasil timbangan yang dilakukan berulang-ulang kali hingga selisih tidak jauh dan konstan.Keuntungan dengan gravimetri ini adalah menggunakan peralatan yang sederhana, pemakaian selain untuk analisis kuantitatif untuk garam-garam anorganik dapat dipakai untuk penetapan kadar air, dan penetapan abu dalam suatu bahan pangan. Analisis unsur senyawa organik pada umumnya dilakukan dengan teknik gravimetri. Misalnya karbon dan hidrogen dalam senyawa organik dapat ditetapkan dengan membakar sampel dalam aliran oksigen, CO2 serta H2O yang dihasilkan diserap oleh absorbon yang sesuai. Tabung-tabung serapan ditimbang sebelum dan setelah pembakaran untuk memperoleh bobot CO2 dan H2O yang dihasilkan (Underwood, 1980, hal : 78).

V KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini menguraikan mengenai : (1) Kesimpulan dan (2) Saran. 5.1. Kesimpulan Dapat disimpulkan bahwa pada percobaan gravimetri ini didapatkan hasil; Ws = 1,0 gram, W0 = 21 gram, W1 = 22 gram, W2 = 21,748 gram, % kadar air = 25.2%. Hasil kadar air dari kopi yang di dapatkan dari percobaan gravimetri tidak sesuai dengan standar kadar air pada biji kopi yang telah melewati proses pengeringan yaitu 6-8%. Hal ini bisa dijadikan bahan koreksi bagi praktikan. 5.2. Saran Percobaan gravimetri ini memiliki prosedur yang sederhana, namun harus dilakukan secara teliti oleh karena itu diharapkan praktikan : 1. Dapat melakukan percobaan dengan lebih serius dan melakukan persiapan yang jauh lebih matang dalam menghadapi percobaan kimia analitik metode gravimetri, agar tidak terjadi kesalahan dalam melakukan prosedur dan tahu di tahapan mana saja seorang praktikan dapat melakukan kesalahan. 2. Memperhatikan memperhatikan penimbangan. 3. Memperhatikan pengarahan yang diberikan oleh asisten dengan baik. penimbangan faktor-faktor dengan seksama dan dalam pengganggu

DAFTAR PUSTAKA Anonimus, (2008), http://id.Wikipedia.org/wiki/TEKNIK ANALISIS GRAVIMETRI BERBASIS KOMPETENSI, akses 1/11/2009. Anonimus, (2009), www.blogspor.com.Blacknuranium's Blog.htm, akses 1/11/2009. Anonimus, (2009), www.blogspor.com. nenk data.htm, akses 1/11/2009. Effendi Supli, Ir., M.S. (2009), Teknologi Pengolahan dan Pengawetan Pangan, ALFABETA : Bandung (Hal : 35). Khopkar, S.M., (1990) Konsep Dasar Kimia Analitik, Universitas Indonesia, Jakarta. (Hal : 25,27-30). Svehla, G. (1985). Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro Dan Semi Mikro. PT. Kalman Media Pustaka: Jakarta. (Hal : 72). Underwood, AL. (1980). Analisis Kimia Kuantitatif. Erlangga: Jakarta. (Hal : 73,74,78,83,84).