Anda di halaman 1dari 12

Padang Lamun

Upaya Rehabilitasi sebagai solusi dari Kita untuk mewariskannya

Akbar Marzuki Tahya

.2010-amtahya@gmail.com Universitas Hasanuddin-Makassar.

Penulis
Akbar Program Hasanuddin Program Marzuki Tahya, Mahasiswa Universitas memilih Teknologi dan Pascasarjana angkatan Ilmu Studi

2009,

Perikanan oleh karena keinginannya yang kuat untuk mencintai lingkungan laut dan sumberdaya perikanan. Selain mengisi kegiatan hariannya dengan kesibukan akademik, penulis juga banyak melibatkan diri pada penelitian inovatif untuk menambah pengetahuan dan keterampilan sesuai bidang yang ditekuninya. Kegiatan pengabdian dan konservasi juga menjadi aktivitas favorit yang digemari dengan pelibatan pada beberapa organisasi serta kegiatan diskusi forum ilmiah.

Pendahuluan tumbuhan berbunga


Padang ekosistem lamun (seagrass di

bed) merupakan salah satu


kawasan pesisir yang mampu

yang

berada

beradaptasi hidup terendam di bawah permukaan air laut. Tumbuhan lamun yang hidup di perairan dangkal dan estuaria ini tersebar hampir di seluruh perairan Indonesia dan benua lainnya kecuali Antartika. Tumbuhan berbunga ini membentuk suatu ekosistem yang mirip dengan padang rumput nan hijau yang berada pada daratan, sehingga ketika kita menyelam dengan menggunakan peralatan selam dasar atau kegiatan snorkelling di atas permukaan ekosistem ini, mata kita akan dimanjakan oleh pemandangan rumput hijau. Tidak heran pula kalau kita melihat banyak organisme besar dan kecil datang berkunjung ataupun menetap di dalamnya. Organisme perairan yang ditemukan pada ekosistem padang lamun ini sangat beragam; dari golongan mamalia, ikan-ikan, moluska dan krustase. Ketertarikan untuk datang ataupun menetap dalam ekosistem ini disebabkan oleh banyak faktor; di antaranya mencari makan, daerah memijah, asuhan dan perlindungan. Perairan tropis seperti Indonesia, padang lamun ditemukan dengan koloni campuran beragam spesies dalam suatu kawasan tertentu. Berbeda dengan kawasan temperate atau daerah dingin yang dominasinya oleh satu jenis spesies lamun. Distribusi lamun bervariasi tergantung pada topografi pantai dan pola pasang

surut. Di Indonesia bisa dijumpai 12 jenis lamun dari sekitar 63 jenis yang ada di dunia. Beberape jenis yang dominan ditemukan di perairan Indonesia diantaranya Enhalus acoroides, Cymodocea spp, Halodule spp., Halophila ovalis, Syringodium isoetifolium,

Thallasia hemprichii and Thalassodendron ciliatum. Masyarakat


belum sepenuhnya tahu tentang peranan ekosistem yang satu ini. Hal ini diakibatkan minimnya penelitian dan publikasi yang diorientasikan untuk melakukan pengkajian mengenai ekosistem ini. Habitat padang lamun memberikan keuntungan bagi

masyarakat di daerah pesisir dan lebih khusus lagi para nelayan. Ekosistem ini menyediakan yang beragam jenis mikro hayati dan dan

makroorganisme

membentuk

ekosistem

berkorelasi pada rantai makanan. Beberapa spesies komersil yang dapat dijumpai pada ekosistem lamun, misalnya: ikan baronang (Siganus spp.), udang putih (Penaeus spp.) dan beberapa moluska. Selain manfaat ekonomi, ekosistem padang lamun yang

membentuk hamparan luas akan meredam terjangan ombak yang menuju pantai sehingga tidak mengakibatkan erosi. Melalui bentuk perakaran pula, padang lamun dapat menahan partikel-partikel kecil sehingga membentuk substrat yang padat dan kuat.

Interaksi adalah kebutuhan


Dalam ekosistem padang lamun terjadi interaksi yang sangat kompleks dan sangat dibutuhkan oleh organisme perairan. Organisme yang menggantungkan hidupnya pada ekosistem ini juga berinteraksi satu sama lain dan menjadi habitat penting adalah ekosistem padang lamun.

Beberapa organisme perairan yang membutuhkan ekosistem ini (gambar: Gulf of Mexico Program) Tumbuhan berbunga ini memberikan peluang besar bagi organisme penempel untuk hidup. Pemanfaatan lamun sebagai tempat perlindungan ini dibutuhkan oleh beberapa hewan dan tumbuhan semacam alga. Oleh karena lebatnya ekosistem lamun, ikan-ikan banyak memanfaatkan tempat ini sebagai tempat asuhan. Dengan adanya kumpulan organisme yang kompleks, menjadikan daya tarik tersendiri bagi ikan-ikan lain untuk mencari makan pada daerah yang subur dan produktif ini. Selain itu, ekosistem lamun yang tumbuh lebat akan memperlambat aliran air yang memberikan nilai tambah sebagai perangkap

sedimen.

Zat

hara

yang

terperangkap

kemudian

akan

dimanfaatkan kembali oleh alga epifit. Menurut Japp & Hallock (1990) Fungsi utama padang lamun ini adalah mendukung ketersediaan makanan, nutrien, daur ulang dan perlindungan, baik untuk spesies akuatik maupun di daratan, apalagi dengan melihat spesies utama yang tinggal,

menggambarkan hubungan antara sistem yang terelaborasi.

Tumbuhan lamun yang cantik sedang menjalankan aktivitas yang sangat berarti bagi kehidupan, yakni fotosintesis (gambar: seagrass watch).

Masalah yang menjadi stimulan


Terkadang kita menyoalkan berbagai permasalahan yang datang menghadang, tanpa mampu memikirkan solusi untuk memecahkan permasalahan. Permasalahan lingkungan sebenarnya telah terjadi berlangsung lama, sejalan dengan pemanfaatan sumberdaya yang ada.

Pembangunan adalah stimulan bagi kita untuk memikirkan jalan keluar yang kreatif (gambar: Gulf of Mexico Program) Bagaimana dengan padang lamun, yang menjadi bagian dari ekosistem?. Menurut Dahuri, et al (2004) permasalahan utama yang mempengaruhi padang lamun di seluruh dunia adalah kerusakan akibat kegiatan pengerukan dan penimbunan yang terus meluas dan pencemaran air termasuk pembuangan limbah garam

dari kegiatan desalinasi dan fasilitas-fasilitas produksi minyak, pemasukan pencemaran di sekitar fasilitas industri, dan limbah air panas dari pembangkit tenaga listrik. Kehilangan padang lamun juga diindikasikan oleh hilangnya biota laut, terutama diakibatkan oleh kerusakan habitat. Walaupun secara alamiah, ekosistem padang lamun akan mengadaptasikan dirinya terhadap pembangunan, tetapi pada kondisi tertentu tidak lagi dapat ditolerir. Pengelolaan

pembangunan yang bijaksana, menjadi solusi untuk menekan angka kerusakan lingkungan. Suatu contoh yang dikemukakan Dahuri, et al (2004) pengelolaan haruslah mengikuti pedoman-pedoman, seperti kegiatan penimbunan ataupun pengerukan yang

memperhatikan kondisi lingkungan sekitarnya dan pembutan tanggul untuk mencegah polusi perairan yang berdampak pada kerusakan ekosistem laut, termasuk di dalamnya padang lamun. Selain itu, pembuangan limbah cair dan semacamnya, aktivitas penangkapan ikan, dan rekonstruksi juga seharusnya mengikuti prosedur-prosedur pedoman pengelolaan wilayah pesisir.

Rehabilitasi atau jadi kenangan


Kerusakan ekosistem yang terjadi di sekitar kita menjadi pertanyaan sukar untuk dijawab, apakah kerusakan tersebut disengaja untuk memenuhi kebutuhan manusia atau terjadi demi memuaskan ego manusia. Memang sangat ironis, di satu sisi kita diperhadapkan pada masalah kerusakan lingkungan, sementara di sisi lain kita terbelit oleh permasalahan kemiskinan. Kerusakan lingkungan tidak lepas dari permasalahan ekonomi, manusia mengharap banyak untuk memenuhi kebutuhan hidup dari

lingkungan tempat tinggalnya. Di Indonesia, kelimpahan sumberdaya alam kelautan yang dianugerahkan menjadi salah satu sumberdaya yang sangat diharapkan untuk pemenuhan kebutuhan. Keterlenaan akan

sumberdaya yang ada menjadikan manusia lalai untuk mengelola dengan bijak, sehingga dampak berkepanjangan tidak dapat dihindari. Belakangan orang mulai berpikir untuk melakukan pengelolaan yang berkelanjutan, tentunya untuk mejamin

ketersediaan sumberdaya di masa yang akan datang. Beberapa kegiatan berbasis masyarakat telah diadopsi untuk mengelola padang lamun dengan baik. Kegiatan penanaman kembali menjadi salah satu kegiatan yang terlaksana di daerah Utara Gulf-Mexico, untuk mencegah hilangnya ekosistem yang sebelumnya ada. Kegiatan penanaman kembali ini memiliki arti penting dalam meningkatkan luas penutupan lamun di daerah ini.

Usaha rehabilitasi lamun di Mexico (gambar: Gulf of Mexico Program) Transplantasi juga menjadi suatu solusi dalam rehabilitasi padang lamun meskipun tingkat keberhasilan dinilai masih rendah, yakni 30% (Fonseca et al. 1998, Green and Short 2003). Panduan dalam melakukan rehabilitasi menurut Fonseca et al. 1998, Short and Burdick (1996), 1). Mengidentifikasi sasaran proyek yang berkenaan dengan penutupan padang lamun,

komposisi, dan fungsi ekologis dari kegiatan rehabilitasi, 2).

Mengkoordinasikan proses perijinan untuk menghindari masalah dan keterlambatan pelaksanaan, 3). Pemeliharaan keanekaragaman genetik, dan 4). Melakukan kegiatan survei dan pemilihan lokasi.

Padang lamun nan cantik (gambar: Gulf of Mexico Program) Dalam memandu kegiatan rehabilitasi, pelibatan berbagai komponen masyarakat menjadi suatu keharusan. Agar kegiatan rehabilitasi berjalan lancar, komunikasi untuk merangkul setiap anggota masyarakat perlu diintensifkan. Kajian dari akademisi, tindakan pengawasan dan pelaksanaan dari masyarakat itu sendiri. Sehingga dengan adanya program rehabilitasi padang lamun bisa menjadi solusi perbaikan lingkungan, yang diorientasikan untuk keberlanjutan sumberdaya kelautan dan perikanan.

Referensi
Dahuri, R., J. Rais, S. P. Ginting, dan M. J. Sitepu. 2004. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Pradnya Paramita. Jakarta. Green, E.P. and Short, F.T. (eds.). 2003. World Atlas of Seagrasses. University of California Press, Los Angeles, 298 pp. Gulf of Mexico Program. SEAGRASS HABITAT IN THE GULF OF MEXICO: Degradation, Conservation and Restoration of a Valuable Resource. http://www.epa.gov/gmpo/. Short, F.T., Burdick, D.M. 1996. Quantifying eelgrass loss in relation to housing development and nitrogen loading in Waquoit Bay, Massachusetts. Estuaries 19: 730-739. Jaap, W. C. and P. Hallock. 1990. Chapter 17 - Coral Reefs. In Ecosystems of Florida. Edited by Ronald L. Myers and John J. Ewel. 765 pp. Seagrass Watch. 2009. Carbon: seagrass, sequestration and stewardship. Issue 36-March 2009. Australia.

2010-amtahya@gmail.com