Anda di halaman 1dari 3

Keterampilan Berpikir Kritis

By Gede Putra Adnyana - Posted on 21 Juli 2011

KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS Oleh: Gede Putra Adnyana (Guru SMAN 2 Busungbiu, Buleleng, Bali)

Berpikir kritis adalah kemampuan memberi alasan secara terorganisasi dan mengevaluasi kualitas suatu alasan secara sistematis. Ennis dalam Costa (1985), menyebutkan ada lima aspek berpikir kritis, yaitu a) memberi penjelasan dasar (klarifikasi), b) membangun keterampilan dasar, c) menyimpulkan, d) memberi penjelasan lanjut, dan e) mengatur strategi dan taktik. Menurut R. Swartz dan D. N. Perkins, berpikir kritis berarti 1) bertujuan untuk mencapai penilaian yang kritis terhadap apa yang akan diterima dan dilakukan dengan alasan yang logis, 2) memakai standar penilian sebagai hasil dari berpikir kritis dalam membuat keputusan, 3) menerapkan berbagai strategi yang tersusun dan memberikan alasan untuk menentukan dan menerapkan standar tersebut, dan 4) mencari dan menghimpun informasi yang dapat dipercaya untuk dipakai sebagai bukti yang dapat mendukung suatu penilaian. Sedangkan menurut R.H Ennis, berpikir kritis adalah berpikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai atau dilakukan (Hassoubah, 2007: 87).

Berpikir kritis dipengarhui beberapa faktor, seperti latar belakang kepribadian, kebudayaan, dan juga emosi seseorang. Berpikir kritis berarti melihat secara skeptisal terhadap apa yang telah dilakukan dalam kehidupan. Berpikir kritis juga berarti usaha untuk menghindarkan diri dari ide dan tingkah laku yang telah menjadi kebiasaan. Menurut R.H. Ennis, terdapat beberapa bentuk kecendrungan berpikir kritis, antara lain 1) mencari pernyataan yang jelas dari setiap pertanyaan, 2) mencari alasan, 3) berusaha mencari informasi dengan baik, 4) memakai sumber yang memiliki kredibilitas dan menyebutkannya, 5) memperhatikan situasi dan kondisi secara keseluruhan, 6) berusaha tetap relevan dengan ide utama, 7) mengingat kepentingan yang asli dan mendasar, 8) mencari alternatif, 9) bersikap dan berpikir terbuka, 10) mengambil posisi ketika ada bukti yang cukup kuat untuk melakukan sesuatu, 11) mencari penjelasan sebanyak mungkin apabila memungkinkan, 12) bersikap secara sistematis

dan teratur dengan bagian-bagian dari keseluruhan masalah, dan 13) peka terhadap tingkat keilmuan dan keahlian orang lain (Hassoubah, 2007: 91).

Menurut Beyer dalam Hassoubah (2007), keterampilan berpikir kritis adalah keterampilan untuk 1) menentukan kredibilitas suatu sumber, 2) membedakan antara yang relevan dari yang tidak relevan, 3) membedakan fakta dari penilaian, 4) mengidentifikasi dan mengevaluasi asumsi yang tidak terucapkan, 5) mengidentifikasi bias yang ada, 6) mengidentifikasi sudut pandang, dan 7) mengevaluasi bukti yang ditawarkan untuk mendukung pengakuan. Ennis dan Millman (1985), menunjukkan bahwa seseorang telah berpikir kritis, jika telah menunjukkan keahlian dalam memberikan beberapa keahlian, yaitu 1) apakah suatu pernyataan mengikuti suatu premis, 2) apakah sesuatu itu sebagai asumsi, 3) apakah sebuah pernyataan hasil dari pengamatan itu dapat dipercaya, 4) apakah seorang pengusaha yang bersumpah itu dapat dipercaya, 5) apakah generalisasi yang sederhana dapat dipertanggungjawabkan, 6) apakah sebuah hipotesis dapat dijamin kebenarannya, 7) apakah sebuah argumentasi bergantung kepada sesuatu yang tidak jelas, 8) apakah sebuah pernyataan terlalu kabur atau terlalu jelas, dan 9) apakah sebuah alasan itu relevan. (Hassoubah, 2007: 92 - 94).

Selanjutnya Ennis dalam Costa (1985), menguraikan lebih detail aspek berpikir kritis serta beberapa indikatornya, sebagai berikut: a) memberi penjelasan dasar (klarifikasi) > memusatkan pada pertanyaan > menganalisis alasan > mengajukan dan menjawab pertanyaan klarifikasi (termasuk membedakan dan mengelompokkan) b) membangun keterampilan dasar > mempertimbangkan apakah sumber dapat dipercaya atau tidak > mengamati dan menggunakan laporan hasil observasi c) menyimpulkan

> dengan penalaran deduksi dan mempertiimbangkan hasil deduksi > dengan penalaran induksi dan mempertimbangkan hasil induksi > membuat atau menentukan pertimbangan nilai d) memberi penjelasan lanjut > mendefinisikan istilah dan mempertimbangkan definisi dalam tiga dimensi (bentuk, strategi, dan isi) > mengidentifikasi asumsi e) mengatur strategi dan taktik > memutuskan tindakan > berinteraksi dengan orang lain (Enis dalam Costa, 1988: 54 57) Ennis, R. H. 1985. Goals for a Critical Thinking Curriculum. Costa, A. L. (ed). 1988. Developing Minds: A Resource Book For Teaching Thinking. Virginia: ASCD

Hassoubah, Z. I. 2007. Mengasah Pikiran Kreatif dan Kritis: Disertai Ilustrasi dan Latihan. Terjemahan Bambang Suryadi. Developing Creative & Critical Thinking Skills: A Handbook for Students. 2002. Bandung: Nuansa