Anda di halaman 1dari 8

Analisa Terhadap Akta Perjanjian Perkawinan Dilihat dari KUHPerdata, UU No.

1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS AKHIR MATA KULIAH HUKUM PERORANGAN DAN KELUARGA PERDATA

Disusun Oleh:
Eva Silvia Khoiriyah Helanita Wilda Heryanti 0706277535 0706163994 0706279093

Fakultas Hukum Universitas Indonesia Depok, 2009

I.

Analisa Perjanjian Perkawinan dari Sudut KUHPerdata Sebelum menganalisa lebih lanjut tentang Akta Perjanjian Kawin ini, perlu dibahas terlebih dahulu bagaimana KUHPerdata mengatur tentang Perjanjian Perkawinan. I.1 Pengertian Perjanjian Perkawinan Perjanjian Perkawinan adalah perjanjian yang dibuat oleh dua orang yaitu calon suami dan isteri sebelum dilangsungkan perkawinan, yaitu untuk mengatur akibat perkawinan terhadap harta kekayaan1. Dengan demikian Perjanjian Perkawinan sebatas mengatur tentang harta kekayaan dalam perkawinan dan merupakan pemyimpangan terhadap asas pencampuran bulat atas harta bersama dalam suatu perkawinan. I.2 Pengaturan dalam KUHPerdata Perjanjian Perkawinan dalam KUHPerdata diatur dalam Bab Ketujuh dari Pasal 139 sampai dengan Pasal 179 KUHPerdata. I.3 Ketentuan Perjanjian Perkawinan Dalam Pasal 147 KUHPerdata ditentukan bahwa Perjanjian Perkawinan harus: a. Dibuat dengan akta notaris, hal ini dimaksudkan agar: bukti yang otentik; Mencegah perbuatan yang tergesa-gesa, karena perjanjian perkwinan yang sudah dibuat dengan akta notaris akan mengikat seumur hidup; Tercapai kepastian hukum; Dan untuk mencegah terjadinya penyimpangan Perjanjian Perkawinan tersebut sah dan memiliki alat

terhadap ketentuan dalam Pasal 147 ini, maka dipertegas dalam Pasal 149 KUHPerdata bahwa setelah perkawinan berlangsung, perjanjian perkawinan tidak dapat diubah dengan cara apapun. b. Dibuat sebelum perkawinan dilangsungkan:
1

Dr. Wienarsih Imam Subekti, S.H., M.H. dan Sri Soesilowati Mahdi, S.H., Hukum Perorangan dan Kekeluargaan Perdata, (Jakarta: Gitama Jaya, 2005), hlm. 99

Pasal 147 KUHPerdata menyatakan bahwa perjanjian perkawinan harus dibuat dengan akta notaris sebelum perkawinan dilangsungkan dengan ancama kebatalan. Dengan demikian, perjanjian perkawinan yang dilangsungkan setelah perkawinan menjadi Batal Demi Hukum. I.4 Pembatasan Isi Perjanjian Perkawinan Pada dasarnya KUHPerdata memang memberikan kebebasan bagi para pihak untuk menentukan isi perjanjian perkawinan, namun KUHPerdata juga tetap memberi pembatasan terhadap kebebasan tersebut, yaitu: a. Perjanjian Perkawinan tersebut tidak boleh bertentangan dengan UndangUndang, kesusilaan dan ketertiban umum (Pasal 139 KUHPerdata); b. Perjanjian tersebut tidak boleh mengurangi kekuasaan suami, orang tua dan hak-hak yang diberikan Undang-Undang terhadap pasangan yang hidup terlama (Pasal 140 KUHPerdata); c. Perjanjian Perkawinan tidak boleh melepaskan hak-hak yang diberikan Undang-Undang kepada mereka atas harta peninggalan dari Pewaris mereka (Pasal 141 KUHPerdata); d. Perjanjian Perkawinan tersebut tidak boleh memuat ketentuan bahwa salah satu pihak memikul hutang yang lebih besar dari pihak yang lain (Pasal 142 KUHPerdata); e. Perjanjian tersebut juga tidak boleh memuat pernyataan bahwa ikatan perkawinan mereka akan diatur oleh Undang-Undang Luar Negeri, adat kebiasaan maupun peraturan lain yang sudah tidak berlaku lagi (Pasal 143 KUHPerdata). Berikut ini adalah analisa terhadap Akta Perjanjian Perkawinan yang kami dapatkan berdasarkan ketentuan mengenai Perjanjian Perkawinan dalam KUHPerdata sebagaimana yang telah dijelaskan di atas: A. Para Pihak: 1. Nona JOHANNA, yang pada saat perjanjian dibuat belum berumur 21 tahun sehingga dikategorikan belum dewasa dan oleh sebab itu dalam membuat perjanjian perkawinan ini dibantu oleh orang tuanya yang turut

hadir dalam pembuatan perjanjian perkawinan tersebut yaitu Tn. MUWARDI dan Nyonya NORMA. Hal ini sudah sesuai dengan Pasal 151 KUHPerdata yang menyatakan: Anak belum dewasa, yang memenuhi syarat-syarat untuk kawin, cakap juga menyetujui segala perjanjian yang boleh mengandung perjanjian perkawinan, asal anak itu, tatkala menyetujuinya dibantu oleh segala mereka, yang izinnya untuk kawin diperlukan. 2. Tuan EMAN, yang pada saat itu sudah cukup dewasa menurut KUHPerdata sehingga B. dalam membuat perjanjian perkawinan tersebut tidak membutuhkan bantuan orang tuanya. Keabsahan Perjanjian Perkawinan Dilihat dari syarat sahnya Perjanjian Perkawinan berdasarkan Pasal 147 KUHPerdata yang terdiri dari: 1. Dibuat dengan akta Notaris; 2. Dibuat sebelum perkawinan dilakukan Maka, Akta Perjanjian Perkawinan ini sah karena dibuat dengan akta Notaris (otentik) dan dilakukan sebelum hari perkawinan dilaksanakan. C. Kesesuaian Isi dari Akta Perjanjian Perkawinan dengan aturan dalam KUHPerdata Isi dari Akta Perjanjian Perkawinan ini adalah mengenai persatuan untung dan rugi. Perjanjian persatuan untung rugi ini diatur dalam Bagian Kedua dari Bab ke 7, yaitu tentang persatuan untung dan rugi dan persatuan hasil dan pendapatan (Pasal 155-167 KUHPerdata). Berikut ini analisa pasal demi pasal dari Akta Perjanjian Perkawinan tersebut: Pasal 1 : Antara suami isteri akan terdapat persatuan untung rugi Pasal ini hanya menjelaskan bahwa perjanjian perkawinan ini adalah mengenai persatuan untung rugi dan tidak menyimpangi ketentuan dalam KUHPerdata karena perjanjian ini diatur dalam Bagian Kedua dari Bab ke 7, yaitu tentang persatuan untung dan

rugi dan persatuan hasil dan pendapatan (Pasal 155-167 KUHPerdata). Pasal 2 : Dalam Pasal ini para pihak menegaskan bahwa pihak suami lah yang bertanggungjawab secara penuh atas semua pengeluaran yang berkenaan dengan perkawinan serta biaya pendidikan anakanak hasil perkawinan mereka. Sedangkan untuk pengeluaran rumah tangga biasa dan sehari-hari yang dilakukan isteri dianggap dengan persetujuan pihak suami. Pasal ini menyimpangi ketentuan dalam pasal 145 KUHPerdata yang menyatakan bahwa dalam hal tak adanya atau telah dibatasinya kesatuan harta kekayaan, boleh juga ditentukan jumlah uang yang oleh si isteri tiap-tiap tahun harus diambil dari harta kekayaannya untuk disumbangkan guna membiayai rumah tangga dan pendidikan anak-anak. Dengan adanya Perjanjian Perkawinan ini, si isteri justru tidak ingin dibebankan dengan segala urusan pengeluaran rumah tangga termasuk biaya pendidikan anak-anak mereka kelak. Pasal 3 : Pasal ini menjelaskan bahwa selain tunduk dengan pengertian keuntungan sebagaimana yang telah diatur dalam pasal 157 dan selanjutnya KUHPerdata, yang dimaksud dengan keuntungan adalah juga semua yang diperoleh suami dan/ isteri karena nasib baik atau kebetulan. Pengaturan pasal ini tidak bertentangan dengan ketentuan mengenai Perjanjian Perkawinan dalam KUHPerdata, karena hanya memperluas pengertian dari keuntungan yang telah diatur dalam pasal 157 KUHPerdata. Pasal 4 : Pasal ini mengatur tentang pengertian kerugian yang dimaksud oleh para pihak. Paasal ini juga tidak bertentangan dengan ketentutan mengenai Perjanjian Perkawinan maupun persatuan untung rugi, karena

hanya merupakan perluasan dari pengertian kerugian sebagaimana yang diatur dalam pasal 157 KUHPerdata. Pasal 5 : Pasal ini mengatur bahwa apabila untuk pengeluaran yang tidak termasuk pencampuran harta tetapi telah dibayar dengan harta bersama, maka pihak yang untuk siapa pengeluaran tadi dibayarkan, wajib mengembalikan jumlah yang telah digunakan kepada pencampuran harta, termasuk pembayaran asuransi jiwa. Ketentuan pasal ini tidak termasuk pembatasan terhadap Perjanjian Perkawinan oleh KUHPerdata sebagaimana yang telah dijelaskan dalam bagian sebelumnya. Pasal ini hanya mempertegas terjadinya pemisahan atas segala pengeluaran pribadi sehingga tidak menggunakan harta bersama. Ketentuan mengenai premi asuransi ini juga tidak bertentangan dengan ketentuan dalam KUHPerdata, karena dalam pasal 167 KUHPerdata menyatakan bahwa terhadap pembayaran tahunan, bulanan, mingguan atau sejenis itu adalah termasuk dalam pembahasan mengenai persatuan untung rugi dan persatuan hasil dan pendapatan. Pasal 6 : Pasal ini menyatakan bahwa apabila terhadap harta bawaan masing-masing ternyata tidak ada lagi pada saat perkawinan berakhir, maka pihak yang merasa kehilangan tersebut dapat mengambil penggantinya dari harta bersama. Ketentuan pasal ini memang tidak ada pengaturannya di KUHPerdata, namun karena pada dasarnya KUHPerdata memberikan kebebasan kepada para pihak untuk menentukan isi perjanjian asalkan tidak bertentangan dengan Undang-undang, kesusilaan dan ketertiban umum serta batasan-batasan yang diatur dalam pasal 140 sampai dengan pasal 143 KUHPerdata, maka ketentuan pasal ini dalam akta perjanjian perkawinan diperbolehkan.

Pasal 7 :

Pasal ini mengatur bahwa suami yang memiliki hak untuk mengurus harta isteri sebagaimana yang diatur oleh KUHPerdata, namun untuk itu suami harus memberikan laporan dan pertanggung jawaban. Apabila pada saat persatuan berakhir, barang pribadi isteri tidak ada lagi, maka isteri berhak untuk mendapatkan pengembalian dengan barang lain yang menjadi tanggung jawab suami kecuali apabila suami dapat membuktikan alasan-alasan pemaaf yang dijelaskan lebih lanjut dalam pasal ini. Ketentuan pasal ini juga tidak menyimpangi ketentuan Undangundang, karena isteri tetap mengakui kekuasaan suami dan hak suami untuk mengurus harta isteri sebagaimana yang ditentukan oleh pasal 140 KUHPerdata, hanya saja dengan adanya ketentuan pasal ini, si isteri meminta laporan pengurusan harta isteri yang telah dilakukan oleh suaminya sebagai bentuk pertanggung jawaban atas pengurusannya tersebut. Dengan demikian apabila terjadi perceraian dan ada barang milik si isteri yang hilang selama dalam pengurusan suami dan suami tidak dapat memberikan alasan yang diatur dalam pasal ini, maka si isteri dapat meminta penggantian atas barangnya yang hilang itu kepada suami.

Pasal 8 :

Pasal ini mengatur bahwa terhadap pakaian dan perhiasan dari masing-masing suami isteri akan dianggap milik dari yang memakainya.

Pasal 9 :

Pasal ini menyatakan bahwa terhadap barang bergerak yang selama perkawinan diperoleh oleh suami isteri karena warisan, atau hibah harus menyertakan surat keterangan, jika tidak ada surat, maka suami tidak berhak mengambil harta tersebut menjadi miliknya. Pihak isteri memiliki hak untuk membuktikan bahwa barang-barang tersebut adalah miliknya. Namun bila ternyata tidak ada bukti mengenai asal barang tersebut, maka nilai barang tersebut dapat dibagi rata.

Ketentuan dalam pasal ini telah mengikuti apa yang telah ditentukan dalam pasal 165 sampai dengan pasal 166 KUHPerdata, pengaturan tambahan hanya pada alinea terakhir dari pasal ini yang menyatakan bahwa bilamana tidak terdapat bukti atau penjelasan lain tentang asal-usul suatu barang, maka nilai barang itu dibagi rata antara pihak suami dan isteri. Pasal 10 : Pasal ini menerangkan mengenai harta bawaan masing-masing pihak. Pasal ini merupakan pertelaan dari harta yang dibawa oleh masing-masing suami isteri dalam perkawinan sebagaimana yang ditentukan dalam pasal 165 KUHPerdata. Tanpa adanya pertelaan ini, maka harta yang dibawa masing-masing pihak itu akan dihitung sebagai keuntungan.