Anda di halaman 1dari 24

http://creasoft.wordpress.com/2008/04/18/kesehatan-reproduksi-wanita/ Konsep Pemikiran Tentang Kesehatan Reproduksi Wanita Pembangunan kesehatan bertujuan untuk mempertinggi derajat kesehatan masyarakat.

Demi tercapainya derajat kesehatan yang tinggi, maka wanita sebagai penerima kesehatan, anggota keluarga dan pemberi pelayanan kesehatan harus berperan dalam keluarga, supaya anak tumbuh sehat sampai dewasa sebagai generasi muda. Oleh sebab itu wanita, seyogyanya diberi perhatian sebab : 1. Wanita menghadapi masalah kesehatan khusus yang tidak dihadapi pria berkaitan dengan fungsi reproduksinya 2. Kesehatan wanita secara langsung mempengaruhi kesehatan anak yang dikandung dan dilahirkan. 3. Kesehatan wanita sering dilupakan dan ia hanya sebagai objek dengan mengatas namakan pembangunan seperti program KB, dan pengendalian jumlah penduduk. 4. Masalah kesehatan reproduksi wanita sudah menjadi agenda Intemasional diantaranya Indonesia menyepakati hasil-hasil Konferensi mengenai kesehatan reproduksi dan kependudukan (Beijing dan Kairo). 5. Berdasarkan pemikiran di atas kesehatan wanita merupakan aspek paling penting disebabkan pengaruhnya pada kesehatan anak-anak. Oleh sebab itu pada wanita diberi kebebasan dalam menentukan hal yang paling baik menurut dirinya sesuai dengan kebutuhannya di mana ia sendiri yang memutuskan atas tubuhnya sendiri. Definisi Kesehatan Reproduksi Wanita.

Berdasarkan Konferensi Wanita sedunia ke IV di Beijing pada tahun 1995 dan Koperensi Kependudukan dan Pembangunan di Cairo tahun 1994 sudah disepakati perihal hak-hak reproduksi tersebut. Dalam hal ini (Cholil,1996) menyimpulkan bahwa terkandung empat hal pokok dalam reproduksi wanita yaitu : Kesehatan reproduksi dan seksual (reproductive and sexual health) Penentuan dalam keputusan reproduksi (reproductive decision making) Kesetaraan pria dan wanita (equality and equity for men and women) Keamanan reproduksi dan seksual (sexual and reproductive security) Adapun definisi tentang arti kesehatan reproduksi yang telah diterima secara internasional yaitu : sebagai keadaan kesejahteraan fisik, mental, sosial yang utuh dalam segala hal yang berkaitan dengan sistim, fungsi-fungsi dan proses reproduksi. Selain itu juga disinggung hak produksi yang didasarkan pada pengakuan hak asasi manusia bagi setiap pasangan atau individu untuk menentukan secara bebas dan bertanggung jawab mengenai jumlah anak, penjarakan anak, dan menentukan kelahiran anak mereka. Indikator Permasalahan Kesehatan Reproduksi Wanita. Dalam pengertian kesehatan reproduksi secara lebih mendalam, bukan sematamata sebagai pengertian klinis (kedokteran) saja tetapi juga mencakup pengertian sosial (masyarakat). Intinya goal kesehatan secara menyeluruh bahwa kualitas hidupnya sangat baik. Namun, kondisi sosial dan ekonomi terutama di negaranegara berkembang yang kualitas hidup dan kemiskinan memburuk, secara tidak langsung memperburuk pula kesehatan reproduksi wanita. Indikator-indikator permasalahan kesehatan reproduksi wanita di Indonesia antara lain:

Jender, adalah peran masing-masing pria dan wanita berdasarkan jenis kelamin menurut budaya yang berbeda-beda. Jender sebagai suatu kontruksi sosial mempengaruhi tingkat kesehatan, dan karena peran jender berbeda dalam konteks cross cultural berarti tingkat kesehatan wanita juga berbeda-beda. Kemiskinan, antara lain mengakibatkan: Makanan yang tidak cukup atau makanan yang kurang gizi Persediaan air yang kurang, sanitasi yang jelek dan perumahan yang tidak layak. Tidak mendapatkan pelayanan yang baik. Pendidikan yang rendah. Kemiskinan mempengaruhi kesempatan untuk mendapatkan pendidikan. Kesempatan untuk sekolah tidak sama untuk semua tetapi tergantung dari kemampuan membiayai. Dalam situasi kesulitan biaya biasanya anak laki-laki lebih diutamakan karena laki-laki dianggap sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga. Dalam hal ini bukan indikator kemiskinan saja yang berpengaruh tetapi juga jender berpengaruh pula terhadap pendidikan. Tingkat pendidikan ini mempengaruhi tingkat kesehatan. Orang yang berpendidikan biasanya mempunyai pengertian yang lebih besar terhadap masalah-masalah kesehatan dan pencegahannya. Minimal dengan mempunyai pendidikan yang memadai seseorang dapat mencari liang, merawat diri sendiri, dan ikut serta dalam mengambil keputusan dalam keluarga dan masyarakat. Kawin muda Di negara berkembang termasuk Indonesia kawin muda pada wanita masih banyak terjadi (biasanya di bawah usia 18 tahun). Hal ini banyak kebudayaan yang menganggap kalau belum menikah di usia tertentu dianggap tidak laku. Ada juga

karena faktor kemiskinan, orang tua cepat-cepat mengawinkan anaknya agar lepas tanggung jawabnya dan diserahkan anak wanita tersebut kepada suaminya. Ini berarti wanita muda hamil mempunyai resiko tinggi pada saat persalinan. Di samping itu resiko tingkat kematian dua kali lebih besar dari wanita yang menikah di usia 20 tahunan. Dampak lain, mereka putus sekolah, pada akhirnya akan bergantung kepada suami baik dalam ekonomi dan pengambilan keputusan. Kekurangan gizi dan Kesehatan yang buruk. Menurut WHO di negara berkembang terrnasuk Indonesia diperkirakan 450 juta wanita tumbuh tidak sempurna karena kurang gizi pada masa kanak-kanak, akibat kemiskinan. Jika pun berkecukupan, budaya menentukan bahwa suami dan anak laki-laki mendapat porsi yang banyak dan terbaik dan terakhir sang ibu memakan sisa yang ada. Wanita sejak ia mengalami menstruasi akan membutuhkan gizi yang lebih banyak dari pria untuk mengganti darah yang keluar. Zat yang sangat dibutuhkan adalah zat besi yaitu 3 kali lebih besar dari kebutuhan pria. Di samping itu wanita juga membutuhkan zat yodium lebih banyak dari pria, kekurangan zat ini akan menyebabkan gondok yang membahayakan perkembangan janin baik fisik maupun mental. Wanita juga sangat rawan terhadap beberapa penyakit, termasuk penyakit menular seksual, karena pekerjaan mereka atau tubuh mereka yang berbeda dengan pria. Salah satu situasi yang rawan adalah, pekerjaan wanita yang selalu berhubungan dengan air, misalnya mencuci, memasak, dan sebagainya. Seperti diketahui air adalah media yang cukup berbahaya dalam penularan bakteri penyakit. Beban Kerja yang berat. Wanita bekerja jauh lebih lama dari pada pria, berbagai penelitian yang telah dilakukan di seluruh dunia rata-rata wanita bekerja 3 jam lebih lama. Akibatnya

wanita mempunyai sedikit waktu istirahat, lebih lanjut terjadinya kelelahan kronis, stress, dan sebagainya. Kesehatan wanita tidak hanya dipengaruhi oleh waktu http://kesehatan-sex.blogspot.com/ 12 posisi sek Hubungan harmonis pria wanita dengan seks adalah kodrat. Dan seks tidak semata hubungan rutintitas belaka. Seks merupakan bagian dari seni yang membutuhkan penghayatan dan pemahaman. Kenikmatan seks akan diperoleh bila pasangan merasakan kepuasan. Untuk menghindari kejenuhan, setiap pasangan pria dan wanita harus bisa pandai menciptakan suasana baru. Lakukan teknik dan cara permainan yang berganti-ganti. Jangan pasrah dengan posisi bermain konvensional. Negeri Tirai Bambu adalah suatu negeri yang memiliki akar budaya yang kuat dan prinsip keharmonisan yang tinggi, sehingga dalam seni berhubungan seks pun mereka tidak hanya melihat secara fisik, namun, lebih dari itu melihat dari sisi kehidupan, seni, alam, cinta dan etika. Sehingga tak pelak lagi apabila keharusan ini kemudian menuntut suatu kemapanan dan aturan yang penuh pernik dalam melakukan hubungan seks di istana. Terutama ; Dalam cara penyambutan selir pada sang pria Kaisar. Sikap sayang dan mempesona. Kesopanan membuka pakaian. Tata cara mempersilakan ke ranjang. Merangsang tanpa keraguan, namun tetap lembut. Memasuki coitus dengan vitalitas. Dan pemberian penutup badan serta membersihkan sisa sanggama. Negeri Tiongkok memiliki banyak kitap rahasia ilmu seks yang disusun pada jaman kerajaan masa lampau. Kitab-kitab tersebut berisi dari berbagai macam detail mengenai seks yang banyak diikuti pada jaman modren sekarang, detail-detail ini

terperinci menjadi bagian yang saling menyatu. Juga diperkenalkan berbagai teknik dan posisi dalam berhubungan seks. Berikut 12 posisi seks yang paling disukai pria dan teknik hubungan seks ala istana yang dapat menghindari pasangan dari kejenuhan dalam berhubungan seksual. POSISI TELENTANG Posisi telentang umum, juga disebut posisi "Lebah memetik sari kembang". Posisi ini wanita telentang sementara pria harus menopang pada kedua sikut dan lututnya.Si wanita lalu menarik kedua kaki sampai lutut dan mendekati kupingnya. Posisi ini akan mengembangkan vulna serta memberikan tancapan yang dalam, sehingga akan memcapai puncak kenikmatan. POSISI TIDUR MIRING Praktek posisi ini, wanita harus menahan kedua kakinya, sehingga pahanya berada di sudut, tegak lurus dengan badannya. Sementara posisi pria tudur menyamping tepat di belakang wanita. Variasi pada posisi ini akan memberikan kesan rileks dengan gerakan ringan. Bila pria berada disebelah kiri wanita, maka kaki kiri wanita diletakkan di atas kedua kaki pria. Posisi ini dilakukan kebanyakan untuk hubungan sesudah orgasme. POSISI BERAYUN KAKI Wanita duduk ditepi ranjang sambil mengayun-ayunkan kaki, sedangkan pria berdiri di depannya. Posisi ini bisa diatur sesuai selera. Kelebihan posisi ini, ketika wanita bersandar pada kedua tangan dan mendorong-dorong bagian vitalnya akan merasakan perangsangan yang nikmat. Sayangnya pada posisi ini tidak menguntungkan pria, pasalnya untuk mengalami orgasme pada posisi berdiri umumnya tidak disukai oleh pria.

POSISI KAKI DIBAHU Posisi ini posisi sang pria harus tegak pada kedua tangannya. Ia harus tahu saat menekan. Dengan gerakan berulang akan menghasilkan gerakan pro. Tetapi variasi ini akan memberikan desakan pada bagian perut pria dan otot-otot panggul. Untuk mencapai puncak kenikmatan yang plus, posisi kaki wanita dapat direndahkan dengan menyilangkan kedua kakinya melalui pinggang sang pria, hingga sang wanita dapat mengunci, mempererat dekapannya menggunakan otototot kakinya. Dalam posisi ini juga dapat memperpanjang hubungan seks. POSISI DUDUK DIKURSI Permainan ini sebaiknya dilakukan didepan cermin, pasalnya bayangan akan terpantul yang menghasilkan dimensi baru pada rangsangan seks. Caranya posisi seks pria duduk dikursi yang tak berlengan, sementara wanita duduk dipangkuan berhadapan. Untuk mengatur gerakannya wanita halus memeluk erat tubuh pria sekaligus mengatur gerakannya. Sedangkan tugas pria hanya membelai dan mencium mesra pasangannya. Salah satu kelebihan dalam posisi ini adalah keduanya dapat melihat reaksi masing-masing di cermin. POSISI BERJONGKOK Posisi ini lebih mudah dilakukan, karena pasangan yang akan bersanggama tinggal jongkok untuk saling berhadapan. Posisi jongkoknya harus sedemikian rupa agar kelamin mereka saling bertemu. Dengan gerakan yang teratur dan terarah pria kemudian menyusupkan "rudal raksasanya" ke dalam liang sanggama pasangannya. POSISI DUDUK DILANTAI Pria duduk di lantai menghadap wanita dengan menjulurkan kaki di bawah kursi tempat duduk wanita, Kemudian sang pria menjulurkan tangan menarik wanita

dari tempat duduknya secara perlahan, sehingga jatuh sedemikian rupa. Sang wanita dapat bersandar pada kursi dan menopangkan dirinya di atas kedua tangan dan sikunya. wanita juga dapat mempertinggi dan merendahkan posisinya pada orgasme yang saling berbalasan. POSISI DUDUK Pasangan pria-wanita duduk saling berhadapan dan saling berpelukan dibantu dengan kaki. Gerakan dilakukan dengan sangat perlahan dan berirama, berayun ke depan dan kebelakang, sehingga menghasilkan kenikmatan. Posisi ini terbilang jenaka dan pasangan harus betul-betul serius untuk menahan lawa sebelum posisi ini berlangsung lima menit. Bila saat orgasme dalam posisi ini, sebaiknya sang pria menarik sang wanita lebih dekat, sehingga tubuhnya saling menempel. POSISI BANTAL BAWAH PINGGUL Letakkan bantal tepat dibawah pinggul wanita, dalam posisi sedang telentang sehingga membentuk abjad V kebawah dan keluar. Kontak seks akan menjadi maksimal. Bila ingin menambah kenikmatan maka bantalnya bisa ditarik lebih kebawah pantat, sehingga sudut V akan berubah melengkung keatas dan kedalam. Ini akan menjadikan posisi kelamin wanita tepat berhadapan organ seks pria. Posisi ini sangat ideal untuk wanita yang agak gendut atau pria yang berukuran vital pendek. POSISI PRIA TELENTANG Pria melipatkan kedua kakinya pada lutut, tapi kedua ujung kakinya tetap menginjak tempat tidur, sementara wanita meletakkan tubuhnya diatas kedua paha pria dan harus menopang tubuhnya pada kedua tangan dan lutut. Setelah itu wanita berbaring menelungkup diatas tubuh pria. Pada posisi ini lebih romantis, karena wanita dapat membelai dan mencium pasangannya.

POSISI BERSILANG Pada posisi ini pasangan yang bersanggama duduk bersama diranjang. Wanita duduk di atas kaki pria. Kaki mereka direntangkan sehingga kaki sang pria berada di bawah kaki sang wanita. Kemudian kaki wanita ditekankan ke perut pria agar "kunci pusaka menemukan lubang gerbang". Dengan gerakan maju mundur kunci pusakanya tersebut dapat keluar masuk gerbang istana kenikmatan. POSISI BERLAWANAN ARAH Posisi seks ini paling rileks, pasalnya kepala pria berada diatas kaki wanita. Pasangan bisa saling melihat organ intim pasangannya. Gerakan posisi berlawanan arah ini dilakukan pria dengan mengencangkan dan mengendurkan punggungnya, sehingga memberi gerakan yang naik turun yang fleksibel pada wanita yang mendorong tercapainya kenikmatan yang luar biasa. Untuk mencapai kenikmatan yang lebih, wanita harus merendahkan tubuhnya ke belakang dengan perlahan-lahan sehingga ia terlentang diantara kedua kaki pria.

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&tl=id&u=http%3A%2F %2Fwww.un.org%2Fpopin%2Funfpa%2Ftaskforce%2Fguide%2Fiatfreph.gdl.html PEDOMAN KESEHATAN REPRODUKSI UNTUK SISTEM PENDUDUK KOORDINATOR PBB I. FAKTA UTAMA TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI 1. Definisi kesehatan reproduksi

Kesehatan reproduksi adalah keadaan fisik, menta dan kesejahteraan sosial, dan bukan hanya tidak adanya reproduksi penyakit atau kelemahan. Kesehatan reproduksi berkaitan dengan reproduksi proses, fungsi dan sistem pada semua tahap kehidupan. Konferensi Internasional tentang Kependudukan dan Pembangunan Program Aksi menyatakan bahwa "kesehatan reproduksi ... berarti bahwa orang dapat memiliki kehidupan seks yang memuaskan dan aman dan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk bereproduksi dan kebebasan untuk memutuskan apakah, kapan dan seberapa sering untuk melakukannya. Implisit dalam terakhir kondisi adalah hak pria dan wanita untuk mendapatkan informasi dan memiliki akses ke metode yang aman, efektif, terjangkau dan dapat diterima keluarga berencana pilihan mereka, serta metode lain dari mereka pilihan untuk pengaturan fertilitas yang tidak melawan hukum,dan hak akses ke pelayanan perawatan kesehatan yang tepat yang akan memungkinkan perempuan untuk pergi dengan aman melalui kehamilan dan persalinan dan memberikan pasangan dengan kesempatan terbaik untuk memiliki bayi yang sehat. ... Kesehatan reproduksi mencakup kesehatan seksual, tujuan dari yang merupakan peningkatan kehidupan dan hubungan pribadi, dan tidak hanya konseling dan perawatan yang bertalian dengan reproduksi dan seksual penyakit menular. " 2. Pentingnya kesehatan reproduksi Kesehatan reproduksi adalah bagian penting dari kesehatan umum dan pusat fitur dari pembangunan manusia. Ini adalah cerminan dari kesehatan waktu kecil, dan penting selama masa remaja dan dewasa, set panggung untuk kesehatan di luar tahun-tahun reproduksi untuk kedua wanita dan pria, dan mempengaruhi kesehatan generasi berikutnya. Itu kesehatan bayi baru lahir sebagian besar fungsi dari kesehatan ibu dan status gizi dan akses ke perawatan kesehatan.

Kesehatan reproduksi merupakan masalah universal, tetapi khusus pentingnya bagi perempuan terutama selama tahun-tahun reproduksi. Meskipun sebagian besar masalah kesehatan reproduksi timbul selama tahun-tahun reproduksi, kesehatan usia tua umum terus mencerminkan sebelumnya reproduksi hidup peristiwa. Pria juga memiliki kesehatan reproduksi kepedulian dan kebutuhan kesehatan umum meskipun mereka dipengaruhi oleh kesehatan reproduksi pada tingkat lebih rendah daripada kasus bagi perempuan. Namun, pria memiliki peran khusus dan tanggung jawab dalam hal reproduksi perempuan kesehatan karena pengambilan keputusan mereka kekuatan dalam hal kesehatan reproduksi. Pada setiap tahap kehidupan kebutuhan individu berbeda. Namun, ada adalah efek kumulatif di jalan kehidupan s peristiwa pada setiap fase memiliki implikasi penting untuk masa depan kesejahteraan. Kegagalan untuk menangani masalah kesehatan reproduksi pada setiap tahap dalam set kehidupan adegan untuk kesehatan kemudian dan masalah perkembangan. Karena kesehatan

reproduksi adalah sebuah komponen penting dari kesehatan umum itu merupakan prasyarat untuk sosial, ekonomi dan manusia pembangunan. Tingkat tertinggi kesehatan tidak hanya hak dasar manusia untuk semua, juga merupakan sosial dan ekonomi penting karena energi manusia dan kreativitas adalah mengemudi kekuatan pembangunan. Energi tersebut dan kreativitas tidak dapat dihasilkan oleh sakit, orang lelah, dan akibatnya yang sehat dan penduduk aktif menjadi prasyarat sosial dan ekonomi pembangunan. 3. Apa yang baru tentang konsep kesehatan reproduksi Kesehatan reproduksi tidak memulai dari daftar penyakit atau masalah penyakit menular seksual, kematian ibu - atau dari daftar program - kesehatan ibu dan anak, aman ibu, keluarga berencana. Kesehatan reproduksi bukan harus dipahami dalam konteks hubungan: pemenuhan dan risiko; kesempatan untuk

memiliki anak yang diinginkan s atau alternatif, untuk menghindari kehamilan yang tidak diinginkan atau tidak aman. Kesehatan reproduksi kontribusi besar terhadap kenyamanan fisik dan psikososial dan kedekatan, dan untuk pematangan pribadi dan sosial kesehatan reproduksi yang buruk adalah sering dikaitkan dengan penyakit, eksploitasi penyalahgunaan, yang tidak diinginkan kehamilan, dan kematian.Pencapaian yang paling signifikan dari Konferensi Kairo adalah untuk menempatkan orang kuat di tengah upaya pengembangan, protagonis dalam kesehatan reproduksi mereka sendiri dan hidup daripada sebagai objek intervensi eksternal. Tujuan intervensi adalah untuk meningkatkan kesehatan reproduksi dan mempromosikan hak-hak reproduksi bukan kebijakan kependudukan dan kontrol kesuburan. Ini berarti pemberdayaan perempuan (termasuk melalui akses yang lebih baik untuk pendidikan); keterlibatan perempuan dan orang muda di pengembangan dan pelaksanaan program dan jasa; mencapai keluar kepada orang miskin, kaum marjinal dan dikecualikan, dan dengan asumsi lebih besar tanggung jawab untuk kesehatan reproduksi di pihak pria. 4. Bagaimana konsep kesehatan reproduksi berbeda dari yang ada keluarga berencana dan program kesehatan ibu dan anak Program berurusan dengan berbagai komponen reproduksi kesehatan ada dalam beberapa bentuk hampir di mana-mana. Tapi mereka memiliki biasanya telah disampaikan dengan cara yang terpisah, tidak berhubungan dengan program berurusan dengan topik yang erat saling tergantung. Sebagai contoh, tujuan, desain dan evaluasi program keluarga berencana sebagian besar didorong oleh keharusan demografi, tanpa ada pertimbangan terhadap terkait masalah kesehatan seperti kesehatan ibu atau pencegahan PMS dan manajemen. Evaluasi ini terutama dalam hal kuantitas dan bukan dari kualitas jumlah akseptor kontrasepsi yang bertentangan dengan kemampuan dan

kesempatan untuk membuat keputusan tentang masalah kesehatan reproduksi. Secara umum, program tersebut secara eksklusif ditargetkan perempuan, dengan mempertimbangkan sedikit dari sosial, budaya dan intim realitas kehidupan reproduksi mereka dan pengambilan keputusan kekuasaan. Mereka cenderung hanya untuk melayani masyarakat menikah, tidak termasuk, khususnya, kaum muda. Layanan jarang dirancang untuk melayani laki-laki meskipun mereka memiliki kesehatan reproduksi keprihatinan mereka sendiri, khususnya dalam hal seksual penyakit menular. Selain itu, keterlibatan laki-laki dalam kesehatan reproduksi ini penting karena mereka memiliki penting berperan sebagai pengambil keputusan keluarga berkaitan dengan ukuran keluarga, keluarga berencana dan penggunaan layanan kesehatan.Sebuah pendekatan kesehatan reproduksi akan berbeda dari yang sempit keluarga berencana pendekatan dengan beberapa cara. Akan bertujuan untuk membangun pada apa yang ada dan pada saat yang sama untuk memodifikasi saat ini sempit, vertikal program yang di mana setiap kesempatan diambil untuk menawarkan wanita dan pria berbagai macam pelayanan kesehatan reproduksi dicara terhubung. Asumsi yang mendasarinya adalah bahwa orang dengan kebutuhan di satu wilayah tertentu misalnya pengobatan menular seksual penyakit - juga memiliki kebutuhan di daerah lain - keluarga berencana atau antenatal / postpartum perawatan. Program tersebut akan mengakui bahwa menangani satu aspek dari kesehatan reproduksi dapat memiliki sinergis efek dalam berurusan dengan orang lain. Misalnya, pengelolaan infertilitas adalah sulit dan mahal tapi bisa sebagian besar dicegah melalui perawatan yang tepat selama dan setelah melahirkan dan pencegahan dan manajemen penyakit menular seksual. Promosi menyusui memiliki dampak pada kesehatan reproduksi dalam banyak hal - hal ini membantu mencegah masalah tertentu postpartum, penundaan kembali ke kesuburan, mungkin membantu mencegah kanker ovarium dan payudara, dan meningkatkan neonatal

kesehatan. Perbedaan penting lainnya antara program yang ada dan yang dikembangkan untuk menanggapi konsep baru tentang reproduksi kesehatan adalah cara di mana orang - khususnya perempuan dan muda orang yang paling terpengaruh oleh masalah kesehatan reproduksi - terlibat dalam pengembangan program, pelaksanaan dan evaluasi. Ketika perempuan menjadi lebih terlibat dalam program itu menjadi lebih jelas bahwa mereka memiliki masalah kesehatan di luar ibu dan juga bahwa berurusan dengan kesehatan reproduksi melibatkan mendalam pemikiran ulang dari jenis kelamin, perilaku sosial, dan budaya dimensi pengambilan keputusan yang mempengaruhi reproduksi perempuan nyawa. 5. Apa pelayanan kesehatan reproduksi termasuk Konfigurasi yang tepat dari kebutuhan kesehatan reproduksi dan keprihatinan, dan program-program dan kebijakan untuk mengatasinya, akan bervariasi dari negara ke negara dan akan tergantung pada penilaian masing-masing negara situasi dan ketersediaan sesuai intervensi. Secara global, bagaimanapun, baik epidemiologi data dan keinginan mengungkapkan konstituen yang beragam menunjukkan bahwa intervensi kesehatan reproduksi yang paling mungkin untuk memasukkan perhatian pada masalah keluarga berencana, pencegahan PMS dan manajemen dan pencegahan kematian ibu dan perinatal dan morbiditas. Kesehatan reproduksi juga harus mengatasi masalah seperti berbahaya praktek, kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi tidak aman, Infeksi saluran reproduksi termasuk menular seksual penyakit dan kekerasan HIV / AIDS, gender, infertilitas, kekurangan gizi dan anemia, dan kanker saluran reproduksi. Layanan yang tepat harus dapat diakses dan termasuk informasi, pendidikan, konseling, pencegahan, deteksi dan pengelolaan masalah kesehatan, perawatan dan rehabilitasi. Strategi kesehatan

reproduksi harus didirikan pertama dan terutama pada kesehatan individu dan keluarga. Dalam operasionalisasi strategi semua kesehatan reproduksi jasa harus

memikul tanggung jawab mereka untuk menawarkan diakses dan perawatan berkualitas, sambil memastikan penghormatan terhadap individu, kebebasan pilihan, persetujuan kerahasiaan, informasi dan privasi di semua masalah reproduksi. Mereka harus fokus perhatian khusus pada memenuhi kebutuhan kesehatan reproduksi remaja. 6. Faktor yang mempengaruhi kesehatan reproduksi Kesehatan reproduksi mempengaruhi, dan dipengaruhi oleh, semakin luas konteks kehidupan masyarakat, termasuk keadaan ekonomi mereka, pendidikan, pekerjaan kondisi hidup, dan lingkungan keluarga, hubungan sosial dan gender, dan tradisional dan hukum struktur di mana mereka tinggal. Seksual dan reproduksi perilaku diatur oleh biologis yang kompleks, budaya dan faktor psikososial. Oleh karena itu, pencapaian reproduksi kesehatan tidak terbatas pada intervensi oleh sektor kesehatan saja. Meskipun demikian, masalah kesehatan reproduksi paling tidak dapat signifikan ditangani dengan tidak adanya pelayanan kesehatan dan medis pengetahuan dan keterampilan. Status anak perempuan

dan perempuan dalam masyarakat, dan bagaimana mereka diobati atau dianiaya, merupakan penentu penting dari mereka kesehatan reproduksi. Kesempatan pendidikan untuk anak perempuan dan wanita kuat mempengaruhi status dan kontrol yang mereka miliki atas mereka sendiri kehidupan dan kesehatan dan kesuburan. Pemberdayaan perempuan Oleh karena itu merupakan elemen penting bagi kesehatan. 7. Siapa yang paling terpengaruh oleh masalah kesehatan reproduksi Perempuan menanggung sejauh beban terbesar dari kesehatan reproduksi masalah. Perempuan beresiko komplikasi dari kehamilan dan melahirkan, mereka juga menghadapi risiko dalam mencegah kehamilan yang tidak diinginkan menderita komplikasi dari aborsi yang tidak aman, menanggung sebagian besar

beban kontrasepsi, dan lebih terkena kontrak, dan menderita komplikasi dari infeksi saluran reproduksi, terutama penyakit menular seksual (PMS). Di antara wanita usia reproduksi, 36% dari semua tahun hidup sehat yang hilang adalah karena kesehatan reproduksi masalah seperti kesuburan tidak diatur, kematian ibu dan angka kesakitan dan penyakit menular seksual termasuk HIV / AIDS. Sebaliknya, angka setara untuk pria adalah 12%. Faktor biologis saja tidak menjelaskan yang berbeda wanita beban. Kerugian sosial, ekonomi dan politik memiliki merugikan dampak pada kesehatan reproduksi mereka. Generasi muda dari kedua jenis kelamin, juga sangat rentan terhadap kesehatan reproduksi masalah karena kurangnya informasi dan akses ke layanan. 8. Bagaimana negara dapat mengidentifikasi kebutuhan kesehatan reproduksi dan menilai prioritas Sejumlah negara telah menyatakan keinginan untuk bergera ke depan dengan pendekatan baru dan komprehensif untuk reproduksi kesehatan. Dukungan terhadap otoritas nasional dalam melaksanakan peninjauan secara sistematis terhadap kesehatan reproduksi perlu di tingkat negara harus fokus pada pentingnya menambahkan inovatif dan pendekatan partisipatif epidemiologi lebih akrab metodologi di mana proses cenderung diarahkan oleh para ahli dan dibingkai dengan pendekatan biomedis dan indikator. Itu identifikasi kebutuhan kesehatan reproduksi, penentuan prioritas dan pengembangan tanggapan programatik dengan yang kebutuhan harus dilakukan melalui proses inklusif, meminta perspektif berbagai kelompok peduli dengan reproduksi kesehatan termasuk, misalnya, kesehatan perempuan, pemuda kelompok, penyedia layanan kesehatan di pinggiran serta di tingkat pusat, perencana kesehatan, peneliti, dan non-pemerintah organisasi.

Beberapa instrumen yang telah dikembangkan untuk situasi analisis dan penilaian kebutuhan dalam berbagai komponen dari kesehatan reproduksi, misalnya, keluarga berencana dan aman ibu. Namun, dalam konteks pendekatan baru untuk kesehatan reproduksi perlu untuk memastikan bahwa penilaian dan prioritas mencerminkan keprihatinan masyarakat yang telah disepakati di tingkat nasional dan tingkat lokal dan bukan prioritas lembaga atau donor. Hal ini penting untuk menghindari duplikasi dan untuk mengembangkan alat yang sesuai untuk negara sendiri. Sejumlah instrumen tersebut sudah ada dan banyak digunakan. Namun, penting untuk memastikan kompatibilitas dan konsistensi di antara berbagai instrumen saat ini tersedia. Pertimbangan serupa berlaku untuk

pemilihan prioritas untuk tindakan dalam kesehatan reproduksi. Kriteria untuk identifikasi masalah prioritas harus mencakup tidak hanya penting - prevalensi, keparahan perhatian, publik, komitmen pemerintah, berdampak pada keluarga, masyarakat dan pembangunan - tetapi juga kelayakan menangani mereka intervensi yang diketahui, efektivitas biaya, ketersediaan pembiayaan, sumber daya manusia dan peralatan yang memadai dan pasokan. 9. Sumber daya manusia untuk kesehatan reproduksi Operasionalisasi konsep baru dari reproduksi kesehatan akan berarti perubahan dalam keterampilan, pengetahuan, sikap dan manajemen. Orang akan harus bekerja sama dengan cara baru. Kesehatan penyedia layanan harus berkolaborasi dengan orang lain, termasuk LSM, kesehatan perempuan, dan orang muda. Manajerial dan perubahan administrasi juga diperlukan karena terintegrasi layanan bisa memaksakan, setidaknya pada awalnya, beban lebih besar pada sudah lebih yang lentur staf dan memerlukan perhatian untuk perencanaan dan logistik untuk menjamin ketersediaan dan kelangsungan jasa.

Pelatihan untuk petugas kesehatan reproduksi perlu fokus pada meningkatkan baik keterampilan teknis dan interpersonal. Tambahan pelatihan, khususnya dalam keterampilan konseling dan dalam cara-cara menjangkau kurang terlayani kelompok akan menjadi elemen penting dari pelatihan tersebut. Back-up dan dukungan dari rujukan berfungsi sistem akan menjadi elemen penting jika lengkap masalah kesehatan reproduksi adalah untuk disampaikan secara baik. 10. Monitoring dan evaluasi Monitoring dan evaluasi kesehatan reproduksi terjadi pada dua tingkat negara dan tingkat global. Secara global, masyarakat internasional telah ditetapkan beberapa indikator relevan dengan kesehatan reproduksi, termasuk: Kematian ibu % Ibu hamil yang memiliki setidaknya satu kunjungan antenatal % Wanita hamil yang memiliki petugas terlatih pada saat persalinan % Wanita hamil diimunisasi tetanus angka prevalensi kontrasepsi% Bayi dengan berat kurang dari 2500 g pada kelahiran (bayi baru lahir indikator yang mencerminkan kesehatan reproduksi ibu) WHO bekerja pada indikator tambahan untuk monitoring global dalam kesehatan reproduksi, termasuk indikator pada kejadian dan prevalensi penyakit menular seksual, kualitas keluarga perencanaan pelayanan, akses dan kualitas kesehatan ibu jasa, prevalensi mutilasi alat kelamin perempuan dan prevalensi dan sifat obstetri dan ginekologi morbiditas. Indikator kesehatan reproduksi harus mencakup tidak hanya kuantitatif indikator seperti yang tercantum di atas, tetapi juga beberapa kualitatif indikator, seperti kepuasan perempuan dengan layanan, persepsi kualitas, ketidaknyamanan ibu dan ketidakpuasan, dirasakan reproduksi morbiditas, peluang untuk pilihan, dan memungkinkan lingkungan. Perhatian khusus akan dibayarkan kepada indikator

yang mengidentifikasi kesenjangan dalam negara - antara populasi kelompok dan / atau daerah, misalnya. Pengumpulan data harus dilihat sebagai sarana menuju akhir bukan tujuan itu sendiri. Ini akan, karena itu, perlu fokus pada kinerja yang semakin berbasis langkah-langkah seperti ibu audit, pengawasan dan langkah-langkah proses lainnya. Program tersebut indikator harus berguna untuk pembuatan kebijakan dan dihasilkan melalui prosedur pengumpulan data yang berguna untuk program manajemen di tingkat di mana data dikumpulkan. Semua data usaha penagihan harus berkelanjutan oleh nasional otoritas dan mampu memperhitungkan perkembangan baru dalam hal pemikiran strategis dan implementasi. Selain itu, semua indikator valid, obyektif terukur dan dapat diandalkan. II. KUNCI TINDAKAN UNTUK SISTEM KOORDINATOR PENDUDUK UNTUK MENINGKATKAN KESEHATAN REPRODUKSI 1. Advokat untuk konsep kesehatan reproduksi dan seksual Sistem Resident Coordinator dapat mempromosikan pengakuan atas konsep kesehatan reproduksi sebagai pusat kesehatan umum dan manusia pembangunan. Ini berarti integrasi reproduksi kesehatan dan hak-hak reproduksi ke dalam semua perkembangan terkait prioritas dan program. Koordinator Residen harus menyadari bahwa kesehatan reproduksi adalah dinamis dan terus berkembang konsep. Oleh karena itu, berbagi informasi dan kolaborasi aka diperlukan untuk memastikan bahwa pendekatan yang dikembangkan dan dilaksanakan adalah berdasarkan informasi terbaru dan relevan tersedia dan pada pengalaman yang berkembang dari mereka yang bekerja di lapangan. Itu Negara Catatan Strategi harus digunakan sebagai kendaraan untuk menyebarluaskan ini visi yang lebih luas.

2. Promosikan multi-sektoral tindakan Kesehatan reproduksi merupakan masalah kesehatan tetapi mencakup lebih dari aspek biomedis dan melampaui sektor kesehatan. Itu penentu reproduksi sakitkesehatan kebohongan dalam kemiskinan, gender dan bentuk-bentuk ketidakadilan, ketidakadilan sosial, marginalisasi dan pengembangan kegagalan. Semua sektor mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kesehatan reproduksi. Sistem Resident Coordinator dapat menganjurkan bahwa semua lembaga dan semua sektor memiliki peran dan tanggung jawab dalam mempromosikan kesehatan reproduksi. Salah satu tindakan kunci yang dibutuhkan untuk meningkatkan kesehatan reproduksi adalah pemberdayaan perempuan khususnya melalui pendidikan. PBB Sistem Resident Coordinator dapat memobilisasi energi meningkat dan sumber daya untuk pendidikan perempuan baik di sekolah dan luar sekolah (Kelompok pemuda, tempat kerja, keaksaraan orang dewasa dan peningkatan pendapatan kelompok dll). 3. Merangsang kepatuhan terhadap prinsip-prinsip penting Sistem Resident Coordinator dapat menyebarluaskan mendasari prinsip-prinsip yang harus melayani sebagai panduan untuk tindakan dalam reproduksi kesehatan. Ini adalah prinsip hak asasi manusia, kesetaraan dan kesetaraan gender, dan orang menempatkan di pusat pengembangan upaya. Operasional prinsip untuk pelaksanaan kebijakan kesehatan reproduksi dan program termasuk partisipatif proses, keterlibatan berbagai perspektif dan multi-sektoral tindakan. Sistem Resident Coordinator yang baik ditempatkan untuk memastikan keterlibatan berbagai sektor dan partisipasi dari semua mereka yang peduli dengan kesehatan reproduksi. Dimana ada utama daerah, etnis,

agama atau budaya variasi dalam negara, ini harus diperhitungkan dalam pengembangan strategi kesehatan reproduksi. Dimana kelompok tertentu memiliki kesulitan dalam membuat suara mereka terdengar, Resident Coordinator sistem dapat memainkan peran dalam menyediakan forum untuk pertukaran ide dan pengalaman. 4. Foster nasional kepemilikan Sebuah strategi kesehatan global reproduksi harus diterjemahkan ke dala pendekatan yang negara-driven. Pelaksanaan reproduksi program kesehatan adalah hak berdaulat masing-masing negara, dengan cara yang konsisten dengan hukum nasional dan prioritas pembangunan, dengan menghormati sepenuhnya nilai-nilai agama, budaya dan etika dan dalam selaras dengan hak asasi manusia diakui secara universal. Resident Sistem Koordinator dapat memastikan bahwa pengembangan strategi, kebijakan dan program adalah proses nasional yang dimiliki dan yang keputusan yang diambil mencerminkan prioritas nasional dan tidak didikte oleh eksternal lembaga. 5. Memastikan konsistensi dan saling melengkapi Penerjemahan konsep kesehatan reproduksi ke dalam tindakan berarti memastikan pemahaman bersama tentang konsep dan konsistensi dan saling melengkapi dalam penerapan pendekatan. Sangat penting untuk menghindari pesan yang bertentangan dari UN lembaga untuk rekan-rekan nasional. Sistem Residen Koordinator dapat membantu untuk memastikan konsistensi dan mempertemukan berbagai pihak untuk menghindari duplikasi dan membuat penggunaan terbaik sumber daya. Satu cara praktis melakukan hal ini akan penciptaan di negara-negara database informasi dari semua lembaga di dalam negeri pada proyek desain, implementasi, pemantauan, evaluasi, pelajaran dan program di masa mendatang berencana. Hal ini bisa ditarik atas oleh semua

instansi dan akan membantu menghindari duplikasi sambil memastikan lebih besar berbagi informasi dan jaringan antar lembaga. 6. Koordinat badan, regional, bilateral dan kegiatan LSM Setiap instansi memiliki mandat spesifik dan keunggulan komparatif yang perlu dimasukkan ke dalam konsep reproduksi kesehatan. Beberapa lembaga, termasuk WHO, UNAIDS, UNFPA, UNICEF, dan UNHCR cenderung memiliki keterlibatan yang lebih dalam daripada yang lain di masalah kesehatan reproduksi. Sementara berlangganan luas keseluruhan konsep kesehatan reproduksi, lembaga pilih prioritas dalam terfokus cara berdasarkan pada kapasitas dan sumber daya. Resident Koordinator harus menyadari mandat badan, kapasitas dan sumber daya dan dapat menilai mana terdapat kesenjangan dan duplikasi dan merekomendasikan strategi untuk mengatasinya. Koordinator Residen dapat

mempromosikan harmoni antar kegiatan dari badan internasional, donor bilateral dan LSM bekerja untuk mendukung strategi pemerintah dan daerah dalam kesehatan reproduksi. Sistem Resident Coordinator harus mengumpulkan dan menyebarkan informasi tentang sumber daya yang tersedia dinegara, regional dan global, dalam hal pendanaan, pengetahuan dan keahlian. 7. Membantu dalam identifikasi kebutuhan kesehatan reproduksi Sistem Resident Coordinator dapat membantu negara-negara di identifikasi kebutuhan kesehatan nasional reproduksi dan pemilihan prioritas, dalam evaluasi program saat ini tanggapan terhadap kebutuhan yang teridentifikasi dan menilai potensi perbaikan dan menghindari tumpang tindih. Residen Koordinator harus mempromosikan perlunya bimbingan dan pelatihan yang sesuai untuk semua lembaga, regional dan perwakilan nasional di pendekatan kesehatan reproduksi. 8. Mendukung perencanaan nasional

Sistem koordinator warga harus mendukung nasional perencanaan sampai membuat penggunaan paling efektif badan khusus rencana dan program, membuat penggunaan terbaik dari komparatif keuntungan masing-masing instansi, dan melalui berusaha untuk mencapai keseimbangan yang tepat dalam respon negara dan badan kegiatan dan mempromosikan perbaikan inkremental dalam program menyandang visi kesehatan reproduksi secara keseluruhan dalam pikiran. Dari penting dalam proses perencanaan nasional adalah pengembangan alat pengambilan keputusan dan peningkatan manajerial kapasitas. Tujuan keseluruhan adalah untuk meningkatkan nasional kapasitas untuk perencanaan dan pelaksanaan reproduksi kesehatan kebijakan dan program dalam batasan nasional, tujuan dan pendekatan. 9. Mempromosikan pendekatan terpadu Sistem Resident Coordinator dapat memastikan integrasi semua aspek kesehatan reproduksi, terutama yang disampaikan dalam masa lalu melalui program-program vertikal seperti keluarga berencana. Itu Resident Coordinator dapat mendorong penggabungan ke kesehatan reproduksi program kekhawatiran seperti pemberantasan praktek-praktek yang membahayakan kesehatan perempuan, serta berbagai bentuk kekerasan. Sistem Resident Coordinator dapat mengintegrasikan tindak lanjut ke berbagai konferensi internasional tentang isu-isu terkait seperti populasi kesehatan, reproduksi dan pengembangan, termasuk World Summit for Children, Konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan, KTT Sosial Dunia, Amerika Bangsa Konferensi Hak Asasi Manusia dan Dunia Keempat yang akan datang Konferensi Perempuan. 10. Dukungan pemantauan dan evaluasi

Sistem Resident Coordinator memiliki peran penting untuk bermain dalam pemantauan dan evaluasi. Monitoring global harus dibatasi dan tidak memberikan beban tambahan pada sistem pelaporan nasional. Resident Coordinator harus mendukung pengembangan kapasitas nasional untuk memantau kemajuan dalam program negara dengan cara yang membantu untuk manajemen program dan berguna pada titik pengiriman intervensi.