Anda di halaman 1dari 5

Bab IV Akuntansi Cabang

BAB IV AKUTANSI CABANG

TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari bab ini, Anda diharapkan dapat: 1) 2) 3) 4) Membuat jurnal umum transaksi kantor pusat dan cabang. Menyusun neraca dan laporan laba rugi gabungan untuk kantor pusat dan cabang. Menyusun rekonsiliasi rekening kantor pusat dan cabang. Membuat jurnal umum transaksi khusus kantor pusat dan cabang.

PENDAHULUAN
Rasulullah SAW bersabda: Apabila ternak digadaikan, maka punggungnya boleh dinaiki oleh orang yang menerima gadai, karena ia telah mengeluarkan biaya menjaganya. Apabila ternak digadaikan, maka air susunya yang deras boleh diminum oleh orang yang menerima gadai, karena ia telah mengeluarkan biaya menjaganya. Kepada yang naik dan minum, maka ia harus mengeluaran biaya perawatannya. (Riwayat Abu Hurairah). Bab ini tidak akan membicarakan hadits tentang gadai di atas, tetapi secara runtut akan membahas tentang bagaimana menjaga atau memelihara suatu cabang perusahaan melalui aspek akuntansinya. Ilustrasi diberikan dalam bentuk ayat-ayat jurnal umum untuk mencatat transaksi kantor pusat dan cabang. Kertas kerja penyusunan laporan keuangan gabungan kantor pusat dan cabang serta daftar rekonsiliasi rekening kantor pusat dan cabang. Yang terakhir membahas tentang teknik akuntansi transaksi khusus kantor pusat dan cabang.

PENYAJIAN MATERI

Akuntansi Keuangan Lanjutan (Akl200504.doc)

96

Bab IV Akuntansi Cabang

4.1 Pengantar
Cabang pada hakekatnya tidak berbeda dengan suatu departemen dalam perusahaan. Ia merupakan segmentasi kegiatan perusahaan. Perbedaannya terletak pada kondisi yang menunjang perlunya segmentasi tadi. Segmentasi cabang pada umumnya disebabkan oleh faktor lokasi. Fungsi cabang mewakili kantor pusat di daerah tertentu. Walaupun demikian ada pula cabang yang hanya mengerjakan salah satu atau beberapa kegiatan, misalnya pembelian saja atau penjualan saja. Departemen hanya mengerjakan salah satu atau beberapa kegiatan pusat. Tiap-tiap cabang dipimpin oleh seorang kepala cabang dan bertanggung jawab atas kegiatan cabang yang bersangkutan. Masing-masing perusahaan memiliki kebijakan tersendiri mengenai wewenang yang harus dikelola oleh cabang. Pada umumnya cabang menjual barang dagangan yang dikirimkan oleh kantor pusat. Tetapi dapa pula perusahaan yang membolehkan cabang membeli barang dagangan dari pihak luar. Secara garis besar sistem akuntansi yang diterapkan di cabang dibagi dua, yaitu: 1) Sistem sentralisasi Dalam sistem sentralisasi, pencatatan akuntansi dilakukan di kantor pusat. Cabang hanya membuat dokumen-dokumen transaksi, misalnya: faktur penjualan, bukti pengeluaran kas, dll. Bukti-bukti tadi kemudian dikirimkan ke kantor pusat untuk proses selanjutnya. Jadi di cabang tidak ditemui jurnal dan buku besar, sebab semua pencatatan akuntansi diselenggarakan di kantor pusat. Adapun keuntungan sistem sentralisasi ini, yaitu: menghemat biaya kantor sehubungan dengan pencatatan dan pemrosesan data akuntansi; serta mengurangi kesalahan-kesalahan yang terjadi sebagai akibat ketidakseragaman praktik akuntansi. Sebaliknya, sistem ini juga mengandung kerugian, yaitu: kemungkinan terlambat atau kekurangcermatan data akuntansi. 2) Sistem desentralisasi Dalam sistem desentralisasi, tiap-tiap cabang menyelenggarakan pencatatan akuntansi sendiri. Ia membuat jurnal dan buku besar tersendiri untuk mencatat transaksi yang terjadi. Pada waktu tertentu cabang membuat neraca dan laporan laba rugi, kemudian dikirimkan ke kantor pusat. Di kantor pusat laporan keuangan cabang digabung untuk mendapatkan hasil secara keseluruhan.

Akuntansi Keuangan Lanjutan (Akl200504.doc)

97

Bab IV Akuntansi Cabang

Apabila sistem ini diterapkan maka klasifikasi rekening aktiva, kewajiban, pendapatan dan biaya di cabang harus sesuai dengan yang ada di kantor pusat, sehingga memudahkan penggabungan laporan keuangan. Dalam bab ini akan diperagakan sistem akuntansi desentralisasi cabang atau penyelenggaraan catatan cabang di cabang sendiri.

4.2 Penyelenggaraan Catatan Cabang di Cabang Sendiri

Untuk mengilustrasikan desentralisasi akuntansi bagi operasi cabang, diasumsikan bahwa pada 1 Januari 2004 PT Umar Juara membuka cabang di pinggir kota. Cabang harus menyelenggarakan buku tersendiri dan harus mengirimkan laporan keuangannya ke kantor pusat pada tiap akhir bulan. Barang dagangan difaktur dengan harga pokok. Inventaris cabang dimasukkan dalam buku kantor pusat. Cabang dibebani bunga 6% atas investasi kantor pusat di cabang ini pada tiap awal bulan. Untuk memudahkan pemahaman, di bawah ini akan diperagakan: 1) 2) 3) 4) Neraca awal PT Umar Juara serta transaksi satu bulan operasi kantor pusat dan cabang. Buku jurnal umum PT Umar Juara kantor pusat dan cabang. Penyusunan laporan keuangan gabungan PT Umar Juara kantor pusat dan cabang. Rekonsiliasi rekening kantor pusat dan cabang PT Umar Juara.

Akuntansi Keuangan Lanjutan (Akl200504.doc)

98

Bab IV Akuntansi Cabang

4.2.1 Neraca Awal PT Umar Juara dan Transaksi Satu Bulan Operasi
PT Umar Juara Neraca Per: 1 Januari 2003 (dalam Rp)
Aktiva Aktiva Lancar: Kas Piutang Dagang Persediaan Barang Persekot Asuransi Persekot Sewa Jumlah Aktiva Lancar Aktiva Tetap: Inventaris Dikurangi: Akumulasi Penyusutan Nilai Buku Aktiva Tetap Jumlah Aktiva 10.000 8.730 38.000 120 3.600 60.450 Kewajiban dan Ekuitas Kewajiban Lancar: Utang Dagang 30.530 Utang Pajak 235

Jumlah Kewajiban Lancar

30.765

15.000 (9.000) 6.000 66.450

Ekuitas: Saham Biasa Laba Ditahan

30.000 5.685

35.685 66.450

Jumlah Kewajiban dan Ekuitas

Transaksi terpilih Kantor Pusat dan Cabang selama bulan Januari 2003 diringkas sebagai berikut:
1) 2) 3) 4) 5) 6) PT Umar Juara mentransfer uang tunai ke Cabang Rp6.000,00. Pengiriman barang dagangan dari Kantor Pusat ke Cabang Rp12.000,00. Pembelian tunai inventaris oleh Cabang dan harus dicatat dalam buku Kantor Pusat seharga Rp3.000,00. Pembelian kredit separtai barang dagangan oleh Kantor Pusat Rp16.000,00. Penjualan kredit masing-masing: a. untuk Kantor Pusat sebesar Rp24.000,00. b. untuk Cabang sebesar Rp6.500,00. Koleksi piutang masing-masing: a. untuk Kantor Pusat sebesar Rp14.730,00. b. untuk Cabang sebesar Rp3.500,00.

Akuntansi Keuangan Lanjutan (Akl200504.doc)

99

Bab IV Akuntansi Cabang

7) 8) 9)

10)

11)

12)

Pembayaran utang oleh Kantor Pusat sebesar Rp10.230,00. Cabang mentransfer uang tunai Rp2.000,00 ke Kantor Pusat. Kantor Pusat membayar berbagai biaya operasi: a. Gaji pegawai Rp1.900,00. b. Biaya iklan Rp1.100,00. c. Biaya lain-lain Rp1.450,00. Sedangkan Cabang membayar biaya sebagai berikut: a. Gaji pegawai Rp525,00. b. Biaya sewa Rp75,00. c. Biaya lain-lain Rp150,00. Alokasi biaya yang dicatat oleh Kantor Pusat terdiri dari: a. Premi asuransi yang telah daluwarsa Rp10,00. b. Persekot sewa yang telah daluwarsa Rp100,00. c. Penyusutan inventaris Kantor Pusat Rp250,00. Kantor Pusat membebankan berbagai biaya di bawah ini kepada Cabang: a. Premi asuransi untuk aktiva Cabang Rp10,00. b. Biaya iklan Cabang Rp100,00. c. Penyusutan inventaris Cabang Rp50,00. c. Bunga 6% untuk bulan berjalan atas investasi awal di Cabang sebesar Rp6.000,00 atau sebesar Rp30,00. Diinformasikan bahwa hasil inventarisasi fisik persediaan akhir di Kantor Pusat Rp30.000,00 dan di Cabang tinggal Rp8.400,00.

4.2.2 Buku Jurnal Umum PT Umar Juara Kantor Pusat dan Cabang
Untuk praktisnya Buku Jurnal Umum PT Umar Juara disajikan dalam satu lembaran jurnal yang terbagi dua, yaitu: Buku Kantor Pusat dan Buku Cabang. Ayat-ayat jurnal merujuk kepada nomor transaksi di atas, meliputi: 1) 2) 3) Ayat jurnal transaksi terpilih satu bulan operasi Januari 2003. Ayat jurnal penyesuaian. Ayat jurnal penutup.

Akuntansi Keuangan Lanjutan (Akl200504.doc)

100