Anda di halaman 1dari 14

Pengantar Ada dua sumber primer pengetahuan yang secara alamiah telah diperoleh manusia, yaitu akal dan

pengalaman. Seluruh pengetahuan, tak terkecuali falsafah, senantiasa berkutat dalam dua sumber ini. Ada yang sangat mementingkan pengalaman, dan ada yang sebaliknya mementingkan akal. Bila kalangan yang mementingkan pengalaman dinilai sebagai empirisme, maka kalangan yang mementingkan akal itulah yang disebut rasionalisme. Meskipun tak jarang filosof berupaya mengompromikan dua sumber dan implikasinya itu, misalnya Immanuel Kant, namun pertentangan rasionalisme dan empirisme kiranya belum juga kunjung henti. Rasionalisme, laiknyaf irqah-f irqah lain dalam falsafah, ia dibangun tidak hanya oleh seorang filosof, dan tidak hanya dalam sebuah tempat atau kawasan. Rasionalisme dibangun oleh banyak filosof, di mana dari upaya-upaya berfalsafah mereka dapat disimpulkan sebuah kecenderungan (type) dasar berfalsafah yang disebut rasionalisme; rasionalisme dibangun di banyak kawasan dunia, di mana dari macam-macam pengaruh atau pertimbanganpertimbangan kawasan itu, tetap dapat ditarik sebuah kecenderungan umum bernama rasionalisme. Meskipun rasionalisme baru menemukan bentuk sistematisnya pada masa modern, namun sebenarnya varian-varian rasionalisme telah ada sejak masa klasik falsafah itu sendiri. Berkaitan dengan hal ini Prof. Dr. Ahmad Tafsir misalnya, menengarahi bahwa rasionalisme telah ada sejak zaman Thales, Socrates, Plato, Aristoteles, bahkan kalangan Sofis. Dia mengemukakan bahwa mereka, para filosof klasik, telah menerapkan rasionalisme dalam falsafah mereka. Adalah Rene Descartes (1596-1650), selain disebut sebagai bapak filsafat modern, ia adalah bapak rasionalisme kontinental. Ide terkenalnya bahwa cogito ergo sum (Prancis: Je Pense, Donc Je Suis), telah menjadi tonggak awal bagi babak baru falsafah, yaitu era modern. Lewat ide itu pula ia ingin menegaskan bahwa hanya akal atau rasio yang dapat menjadi dasar falsafah, satunya-satunya dasar yang dapat dipercaya, dan bukan iman atau wahyu sebagaimana dipegangi oleh abad pertengahan. Di samping Descartes, ada Baruch Spinoza atau Benedictus de Spinoza (1632-1677), dan Gotiefried Wilhelm von Leibniz (1646-1716). Nama-nama ini sebenarnya hanyalah nama-nama besar yang secara konsisten berusaha berfalsafah dengan kecenderungan

rasionalisme. Artinya, tidak menutup kemungkinan akan ada banyak nama lain selain mereka yang juga berfalsafah dengan kecenderungan rasionalisme.

Pembahasan Rasionalisme atau gerakan rasionalis adalah doktrin filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan fakta, daripada melalui iman, dogma, atau ajaran agama. Rasionalisme mempunyai kemiripan dari segi ideologi dan tujuan dengan humanisme dan atheisme, dalam hal bahwa mereka bertujuan untuk menyediakan sebuah wahana bagi diskursus sosial dan filsafat di luar kepercayaan keagamaan atau takhayul. Meskipun begitu, ada perbedaan dengan kedua bentuk tersebut:

Humanisme dipusatkan pada masyarakat manusia dan keberhasilannya. Rasionalisme tidak mengklaim bahwa manusia lebih penting daripada hewan atau elemen alamiah lainnya. Ada rasionalis-rasionalis yang dengan tegas menentang filosofi humanisme yang antroposentrik.

Atheisme adalah suatu keadaan tanpa kepercayaan akan adanya Tuhan atau dewadewa; rasionalisme tidak menyatakan pernyataan apapun mengenai adanya dewadewi meski ia menolak kepercayaan apapun yang hanya berdasarkan iman. Meski ada pengaruh atheisme yang kuat dalam rasionalisme modern, tidak seluruh rasionalis adalah atheis. Di luar diskusi keagamaan, rasionalisme dapat diterapkan secara lebih umum,

misalnya kepada masalah-masalah politik atau sosial. Dalam kasus-kasus seperti ini, yang menjadi ciri-ciri penting dari perpektif para rasionalis adalah penolakan terhadap perasaan (emosi), adat-istiadat atau kepercayaan yang sedang populer. Zaman Rasionalisme berlangsung dari pertengahan abad ke XVII sampai akhir abad ke XVIII. Pada zaman ini hal yang khas bagi ilmu pengetahuan adalah penggunaan yang eksklusif daya akal budi (ratio) untuk menemukan kebenaran. Ternyata, penggunaan akal budi yang demikian tidak sia-sia, melihat tambahan ilmu pengetahuan yang besar sekali akibat perkembangan yang pesat dari ilmu-ilmu alam. Maka tidak mengherankan bahwa pada abad-abad berikut orang-orang yang terpelajar Makin percaya pada akal budi mereka sebagai sumber kebenaran tentang hidup dan dunia. Hal ini menjadi menampak lagi pada bagian

kedua abad ke XVII dan lebih lagi selama abad XVIII antara lain karena pandangan baru terhadap dunia yang diberikan oleh Isaac Newton (1643 -1727). Berkat sarjana geniaal Fisika Inggris ini yaitu menurutnya Fisika itu terdiri dari bagian-bagian kevil (atom) yang berhubungan satu sama lain menurut hukum sebab akibat. Semua gejala alam harus diterangkan menurut jalan mekanis ini. Harus diakui bahwa Newton sendiri memiliki suatu keinsyafan yang mendalam tentang batas akal budi dalam mengejar kebenaran melalui ilmu pengetahuan. Berdasarkan kepercayaan yang makin kuat akan kekuasaan akal budi lama kelamaan orang-orang abad itu berpandangan dalam kegelapan. Baru dalam abad mereka menaikkan obor terang yang menciptakan manusia dan masyarakat modern yang telah dirindukan, karena kepercayaan itu pada abad XVIII disebut juga zaman Aufklarung (pencerahan).

Pada pertengahan abad ke-20, ada tradisi kuat rasionalisme yang terencana, yang dipengaruhi secara besar oleh para pemikir bebas dan kaum intelektual. Rasionalisme modern hanya mempunyai sedikit kesamaan dengan rasionalisme kontinental yang diterangkan Ren Descartes. Perbedaan paling jelas terlihat pada ketergantungan rasionalisme modern terhadap sains yang mengandalkan percobaan dan pengamatan, suatu hal yang ditentang rasionalisme kontinental sama sekali. Tokoh Rasionalisme

1. Rene Descartes (1596 -1650) 2. Nicholas Malerbranche (1638 -1775) 3. B. De Spinoza (1632 -1677 M) 4. G.W.Leibniz (1946-1716) 5. Christian Wolff (1679 -1754) 6. Blaise Pascal (1623 -1662 M)

1. Rene Descartes

Ren Descartes (IPA: ne dekat; lahir di La Haye, Perancis, 31 Maret 1596 meninggal di Stockholm, Swedia, 11 Februari 1650 pada umur 53 tahun), juga dikenal sebagai Renatus Cartesius dalam literatur berbahasa Latin, merupakan seorang filsuf dan matematikawan Perancis. Karyanya yang terpenting ialah Discours de la mthode (1637) dan Meditationes de prima Philosophia (1641). Descartes, kadang dipanggil "Penemu Filsafat Modern" dan "Bapak Matematika Modern", adalah salah satu pemikir paling penting dan berpengaruh dalam sejarah barat modern. Dia menginspirasi generasi filsuf kontemporer dan setelahnya, membawa mereka untuk membentuk apa yang sekarang kita kenal sebagai rasionalisme kontinental, sebuah posisi filosofikal pada Eropa abad ke-17 dan 18. Pemikirannya membuat sebuah revolusi falsafi di Eropa karena pendapatnya yang revolusioner bahwa semuanya tidak ada yang pasti, kecuali kenyataan bahwa seseorang bisa berpikir. Dalam bahasa Latin kalimat ini adalah: cogito ergo sum sedangkan dalam bahasa Perancis adalah: Je pense donc je suis. Keduanya artinya adalah: "Aku berpikir maka aku ada". (Ing: I think, therefore I am) Meski paling dikenal karena karya-karya filosofinya, dia juga telah terkenal sebagai pencipta sistem koordinat Kartesius, yang memengaruhi perkembangan kalkulus modern. Ia juga pernah menulis buku berjudul Rules for the Direction of the Mind.

2. Nicolas Malebranche

Nicolas Malebranche adalah seorang filsuf dari Mazhab Rasionalisme. Ia lahir pada tahun 1638 dan meninggal pada tahun 1715. Ia terkenal sebagai seorang filsuf dan teolog Kristen dari Perancis. Ia berupaya menggabungkan pemikiran rasionalis Descartes dengan tradisi pemikiran Kristen, khususnya Augustinus. Buku Malebranche yang paling penting adalah "Pencarian Kebenaran" (The Search After Truth). Di dalam buku tersebut Malebranche memberikan dua pemikirannya yang terkenal mengenai pandangan tentang Allah dan tentang "kesempatan" (occasionalism). Inti pemikiran Malebranche tersebut adalah bahwa ciptaan-ciptaan yang terbatas tidak dapat menjadi penyebab dan hanya Allah saja yang merupakan penyebab yang sebenarnya. Di sini, Malebranche mengembangkan konsep Allah dalam pemikiran Descartes. Ia juga dikategorikan sebagai penganut paham okasionalisme. kasionalisme adalah paham yang menyatakan bahwa jiwa dan tubuh tidak berinteraksi dalam hubungan kausalitas. Jiwa dan tubuh hanya berhubungan pada saat-saat tertentu, di mana peristiwa tersebut dimungkinkan oleh perantaraan Allah. Okasionalisme berasal dari bahasa Latin occasio yang berarti 'jatuh'. Nicolas Malebranche, seorang penganut paham okasionalisme Okasionalisme ini berawal dari pemikiran Descartes yang memisahkan secara ketat antara tubuh dan jiwa (dualisme), di mana keduanya tidak ada hubungan sama sekali. Menurut beberapa ahli, misalnya Malebranche dan Geulincx, setiap kali jiwa setuju dengan tindakan tertentu, Allah menggerakkan tubuh. Beberapa pemikir lain yang dapat

dikategorikan ke dalam paham ini adalah Johannes Clauberg dan Louis de la Forge. Dengan demikian, menurut para penganut paham ini, hanya Allah sajalah yang sungguh-sungguh melakukan aktivitas dan mengintervensi tindakan manusia secara langsung. 3. Baruch de Spinoza

Baruch de Spinoza (24 November 1632 21 Februari 1677) (Bahasa Ibrani: )adalah filsuf keturunan Yahudi-Portugis berbahasa Spanyol yang lahir dan besar di Belanda. Pikiran Spinoza berakar dalam tradisi Yudaisme. Pemikiran Spinoza yang terkenal adalah ajaran mengenai Substansi tunggal Allah atau alam. Hal ini ia katakan karena baginya Tuhan dan alam semesta adalah satu dan Tuhan juga mempunyai bentuk yaitu seluruh alam jasmaniah. Oleh karena pemikirannya ini, Spinoza pun disebut sebagai penganut panteismemonistik.

4. G.W. Leibniz (1946-1716)

Tokoh jerman ini menuliskan karya-karyanya dalam bahasa latin dan prancis, seorang ensiklopedian (orang yang mengetahui segala laipangan pengetahuan pada masanya). Menurut Leibniz, Subtansi itu jumlahnya tiada terhingga yang kemdian ia namakan semagai monade. Dalam suatu kalimat yang kemudian terkenal Leibniz mengatakan, Monademonade tidak mempunyai jendela, tempat sesuatu bisa masuk atau keluar. 5. Kristian Wolf (1679-1754)

Karena Leibniz tidak menciptakan sistem filosofis, maka Wolff menyadur filsafat Leibniz serta menyusunnya menjadi satu system. Disamping itu, dalam penyusunanya

tersebut ia banyak menggunakan unsure skolastik. Karena wolff inilah rasionalisme di Jerman pada masanya merajalela disemua Universitas. 6. Blaise Pascal (1623-1662)

Tokoh ini dalam sejarah pemikiran Francis memiliki tempat sersendiri. Sekalipun ia sepakat dengan Descartes dalam mementingkan ilmu pasti, namun ia tidak setuju denga Descartes dalam meneriam ilmu pasti tersebut sebagai model atau contoh yang istemewa untuk metode filsafat. Filsafat Descartes menjadi rasionalisme, justru karena ia berpendapat bahwa metode filsafat harus meniru metode ilmu asti. Berbeda dengan Descartes, Pascal memandang bahwa manusia selalu dianggap sebagai misteri yang tidak dapat diselami sampai dasarnya. Ada yang lebih penting dari rasio (rasion), yaitu hati (Coeur), demikian menurut pascal. Rasio hanya menghasilkan pengetahuan yang dingin, sedangkan hati memberikn peranan dimana cinta juga mempunyai peranan. Dengan rasio dapat mempelajari ilmu pasti dan ilmu alam., tetapi dengan hati dapat mencapai kebenaran-kebenaran yang lebih tingggi terutama tuhan. Dengan semboyannya yang membawa kemasyhurannya dapat dengan mudah mengingat dasar pemikiran filsafatnya, le Coeur Anaxemenes ses raisons que la rasison ne connait point, yang diartikan dalam bahasa Inggris The heart has its reasons which the reasons does not understand (hati-hati memiliki rasionya sendiri yang tidak dapat dipahami oleh rasio itu sendiri).

MENGKAJI FENOMENA KESEHARIAN Dari sedut pandang pemikiran filsafat Rasinalisme tersebut, kelompok kami dapat mengambil contoh tentang logika di dalam agama. Dari salam satu tulisan yang kami temukan di internet,

Ada sebuah ungkapan, terkenal dari tokoh besar di dunia Islam, Ibnu Taimiyyah, yang arti harfiahnya Barang siapa menggunakan logika maka ia telah kafir. demikian ungkapan tersebut. Apakah sikap seperti ini dapat dibenarkan? Ataukah memang mutlak salah? Apa implikasi jika sikap seperti ini dibenarkan? Dan apa pula konsekuensinya jika ia mutlak salah? Ataukah sikap seperti ini relatif, bisa benar sekaligus bisa salah secara bersamaan? Dan apa-kah konsekuensinya jika kebenaran sikap seperti ini relatif? Seperti kita ketahui bahwa Logika adalah kaidah-kaidah berfikir. Subyeknya akal-akal rasional. Obyeknya adalah proposisi bahasa. Proposisi bahasa yang mencerminkan realitas, apakah itu realitas di alam nyata ataupun realitas di alam fikiran. Kaidah-kaidah berfikir dalam logika bersifat niscaya atau mesti. Penolakan terhadap kaidah berfikir ini adalah mustahil (tidak mungkin). Bahkan mustahil pula dalam semua khayalan atau angan-angan yang mungkin (all possible intelligebles). Contohnya, sesuatu apapun pasti sama dengan dirinya sendiri, dan tidak sama dengan yang bukan dirinya. Prinsip berfikir ini telah tertanam secara niscaya sejak manusia lahir. Tertanam secara kodrati dan spontan. Dan selalu hadir kapan saja fikiran digunakan. Dan ini harus selalu diterima kapan saja realitas apapun dipahami. Bahkan, lebih jauh, prinsip ini sesungguhnya adalah satu dari watak niscaya seluruh yang maujud (the very property of being). Tidak mengakui prinsip ini, yang biasa disebut dengan prinsip non-kontradiksi, akan menghancurkan seluruh kebenaran dalam alam bahasa maupun dalam semua alam lain. Tidak menerimanya berarti meruntuhkan seluruh arsitektur bangunan agama, filsafat, sains dan teknologi, dan seluruh pengetahuan manusia. Maka sebagai contoh ungkapan dari Ibn Taimiyyah di atas, jika misal pernyataan itu benar, maka menggunakan kaidah logika adalah salah. Karena menggunakan kaidah logika salah, maka prinsip non-kontradiksi salah. Kalau prinsip non-kontradiksi salah. Artinya seluruh kebenaran tiada bermakna, tidak bisa dibenarkan ataupun disalahkan, atau bisa dibenarkan dan disalahkan sekaligus. Kalau seluruh keberadaan tidak bermakna, maka pernyataan itu sendiri Barang siapa menggunakan logika maka ia telah kafir juga naif. Tak bermakna. Tak juga perlu dipikirkan.

Menerima kebenaran pernyataan beliau tersebut sama saja dengan mengkafirkan beliau. Karena jika pernyataan tersebut benar, maka untuk membenarkannya telah digunakan kaidah logika. Dan karena beliau telah menggunakan kaidah logika, menurut pernyataan-nya sendiri beliau kafir. Jadi sebaiknya pernyataan pengkafiran orang yang menggunakan logika ini benar-benar ditolak. Pernyataan ini salah. Dan sangat Salah. Dan mustahil benar. Karena kalau benar, semua orang yang berfikir benar kafir. Dan ini mustahil. Dilihat dari segi pandangan umum, Islam jelas menentang adanya relativisme Kebenaran. Dalam Islam yang benar pasti benar dan tidak mungkin salah. Sedang yang salah pasti salah dan tak mungkin benar. Penerapan kaidah-kaidah berfikir yang benar telah menghantarkan para filosof (pecinta kebijaksanaan) besar pada keyakinan yang pasti akan keberadaan Tuhan. Jelas-jelas penerapan logika bagi mereka tidak menentang agama. Malah sebaliknya, me-realkan agama sampai ke seluruh pori-pori rohaninya yang mungkin. Atau dengan kata lain, mencapai hakikat. Dalam dialog terakhir Socrates, digambarkan betapa figur filsuf ini mati tersenyum setelah menyebut nama Tuhan sebelum akhir hayatnya Alih-alih logika menentang agama, malah logika adalah kendaraan super-executive untuk mencapai hakikat kebenaran spiritual. Dan sekali lagi alih-alih logika menentang agama, tanpa logika agama tak-kan dapat terpahami. Jadi apakah Logika dalam Agama = kebenaran spirituaL

Perbandingan rasionalisme dan empirisme : Rasionalisme Pengertian Rasionalisme adalah suatu paham dalam filsafat yang menjelaskan bahwa pengetahuan manusia berasal dari rasio atau akal budi. Tokoh Pendukung Plato dan Rene Descartes Empirisme Empirisme adalah suatu paham dalam filsafat yang menjelaskan bahwa pengetahuan manusia berasal ari pengalaman inderawi. John Locke dan David Hume Sarana / Alat untuk pengetahuan Metode / cara kerja untuk sampai pada pengetahuan Deduksi (umum khusus) Universal singular -Berdasarkan rasio dan akal budi Prinsip hukum data Contoh : -Semua warga Jakarta berjiwa social rendah. -Dini adalh warga Jakarta. -Maka Dini berjiwa social rendah. Induksi (Khususumum) Singular universal -berdasarkan pengalaman inderawi Data Prinsip hukum Contoh : Jeruk Bali itu manis rasanya setelah saya coba satu persatu. Rasio Panca Indera

Rasionalisme adalah sebuah paham dalam filsafat terkait dengan pandangan yang mengatakan bahwa sumber pengetahuan berasal dari rasio atau akal budi. Empirisme adalah paham dalam filsafat yang mengatakan bahwa sumber pengetahuan manusia berasal dari panca indera, bukan akal budi. Panca indera berperan lebih penting dalam konteks pengetahuan daripada akal budi

Analisis dan Kesimpulan Teori rasionalisme yang di awali oleh Dercartes adalah perlawanan secara terangterangan terhadap gereja. Tidak lah cukup mencari kebenaran dengan keyakinan. Sama seperti perlawanan pada fiusuf pada zaman yunani kuno. Dari beberapa tokoh rasionalisme diatas, menurut pemakalah, tokoh rasionalisme yang murni mengunakan filsafat rasionalis hanya tiga tokoh yakni Rene Descartes, B. De Spinoza dan G.W. Leibniz, hal ini karena tokoh-tokoh yang lain masih ada yang keluar dari rasional. Dari gambaran diatas Menurut pemakalah mengenai substasi alam semesta ini atau pencipta alam semesta, yakni bahwa pemaklah melihat kebanyakakan tokoh-tokoh memikirkan substansi alam semesta dengan menggunakan sudut pandang keadaan alam itu sendiri, seperti dengan sudut pandang ruang, waktu, begitu juga Descartes dengan sudut pandang rasio, sedang itu semua merupakan bagian dari alam semesta. Dan manusia tidak akan bisa berfilsafat tanpa latar belakang kemanusiaannya dengan akal dan jiwa. Dengan demikian manusia tidak akan pernah sampai pada tingkat kebenaran hakiki dalam mencari substanisi alam semsta ini dengan filsafat.

DAFTAR PUSTAKA

http://pingkanputripradita.blogspot.com/2009/09/skeptisisme-rasionalisme-danempirisme.html http://intl.feedfury.com/content/16333544-filsafat-rasionalisme.html http://kuwatpamuji.blogspot.com/2009/01/rasionalisme.html http://tobucil.blogspot.com/2011/10/filsafat-untuk-pemula-rasionalisme.html http://openlibrary.org/books/OL1069773M/Rasionalisme_dan_alam_pemikiran_filsafat_dala m_Islam http://zaimnet.blogspot.com/2011/10/rasionalisme.html http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3795/1/fisip-erika.pdf http://www.scribd.com/doc/21947533/RASIONALISME http://id.wikipedia.org/wiki/Rasionalisme