Anda di halaman 1dari 8

DIAN FRIDAYANI 0920221072 FK UPN VETERAN JAKARTA

HUBUNGAN FAKTOR SISTEMIK DENGAN PENYAKIT PERIODONTAL


1. Usia Penelitian epidemiologi membuktikan bahwa insidensi penyakit periodontal meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Walaupun hilangnya perlekatan periodontal dan resorpsi tulang alveolar mungkin meningkat pada orang-orang lanjut usia, tetapi kerusakan yang berat hanya ditemukan pada sedikit tempat dan hanya mengenai sebagian kecil subjek penelitian. Belum jelas apakah perubahan pada jaringan periodontal ini disebabkan kumulatif dari penyakit periodontal selama bertahun-tahun atau karena menurunnya pertahanan hospes akibat proses penuaan. Bertambahnya insidensi penyakit sistemik dan obat-obatan yang digunakan untuk mengobati penyakit sistemik ini, juga dapat menimbulkan efek merugikan terhadap pertahanan hospes pada orang lanjut usia. Beberapa ahli menganggap pertambahan usia sebagai faktor risiko terjadinya penyakit periodontal karena penuaan diakaitkan dengan perubahan jaringan periodontal yang secara teoritis dapat mengubah respons hospes. Meskipun demikian, ada banyak bukti bahwa kesehatan jaringan periodontal dapat dipelihara seumur hidup bila tidak ada faktor etiologi lokal yang menyertai. 2. Stres Emosional Dan Psikososial Hubungan antara stres emosional atau psikososial dengan penyakit oral telah diutarakan selama bertahun-tahun. Beberapa penelitian menunjukkan ada keterkaitan antara keparahan penyakit periodontal dengan stres karena pekerjaan, stres karena kejadian tertentu dan reaksi psikologis terhadap perubahan dalam hidup (khususnya depresi). Kebiasaan memelihara kesehatan di kalangan orang-orang yang mengalami stres menurun, tercermin dari meningkatnya kebiasaan merokok, penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang, kesukaran tidur, gangguan makan, dan higiene mulut yang buruk. Faktor-faktor ini memegang peranan penting dalam insidensi dan keparahan penyakit periodontal. Meskipun demikian data-data menunjukkan bahwa kemampuan untuk menanggulangi kesulitan secara positif menghilangkan efek stres yang merugikan jaringan periodontal. Untuk itu, diperlukan penelitian lebih lanjut

guna mencari apakah stres semata dapat menjadi faktor risiko terjadinya periodontitis atau tidak. 3. Kelainan Genetik Akhir-akhir ini semakin banyak fakta yang menunjukkan pentingnya hereditas dalam kerentanan pasien terhadap kondisi periodontal inflamatif yang dikaitkan dengan plak. Lebih baru lagi, monosit atau makrofag yang berasal dari reaksi interleukin-1 (IL-1) telah ditemukan dalam kadar tinggi pada individu yang rentan terhadap periodontitis awitan dini atau periodontitis destruktif yang hebat. Orang-orang ini memiliki polimorfo gen IL-1 yang menyebabkan terjadinya inflamasi dan destruksi periodontal yang lebih parah. Pasien-pasien yang mempunyai kelainan genotipe ini memerlukan pencegahan dan perawatan periodontal yang lebih cermat dibandingkan mereka yang tidak memiliki faktor risiko ini. Beberapa kelainan genetik yang parah dapat menimbulkan efek buruk terhadap jaringan mulut dan periodontal. Efek ini biasanya terjadi karena defisiensi atau disfungsi sel-sel hematologik yang berkaitan dengan pertahanan hospes. Akatalasia adalah kondisi herediter yang langka ditandai dengan defisiensi enzim katalase yang menimbulkan akumulasi zat-zat toksik seperti hidrogen peroksida dijaringan, dan menginduksi terjadinya kehancuran dan nekrosis jaringan. Kondisi ini dihubungkan dengan periodontitis destruktif yang terjadi lebih awal pada bayi dan anakanak.
4.

Ketidakseimbangan Endokrin Beberapa kelianan endokrin dapat berpengaruh secara langsung pada jaringan

periodontal atau berasal dari disfungsi neutrofil atau terhambatnya proses penyembuhan luka. Sebagai contoh hiperparatiroidisme dikaitkan dengan sekresi hormon paratiroid yang berlebihan, mengakibatkan mobilisasi kalsium tulang yang tidak seimbang. Hal ini dapat menyebabkan osteoporosis dan kehilangan tulang yang hebat pada peridontitis karena plak. Respons yang sama telah di temukan pada individu yang tidak mampu memanfaatkan vitamin D dan wanita yang mengalami kekurangan hormon estrogen. Osteopenia atau osteoporosis yang di akibatkannya dapat berperan sebagai faktor resiko terjadinya kerusakan periodontal yang lebih parah dan tanggalnya gigi jika ada plak. Sebaliknya pemberian estrogen tambahan atau biofonat (pengganti estrogen) dapat mencegah terjadinya penyakit periodontal yang parah. Faktor- faktor ini penting untuk di perhatikan, mengingat semakin banyaknya wanita yang telah mengalami menopause yang memerlukan perawatan kesehatan gigi. 5. Diabetes Melitus
2

Diabetes melitus adalah kelainan metabolisme glukosa yang ditandai dengan berkurangnya metabolisme atau produksi insulin. Sesuai dengan klasifikasi terbaru dari American Diabetes Association, dibetes melitus tipe 1 menggambarkan kekurangan insulin disebabkan oleh rusaknya sel-sel Beta di pankreas. Individu yang terkena diabetes jenis ini membutuhkan pemberian insulin tambahan untuk mecapai kontrol metabolik. Biasanya terjadi lebih awal dan lebih jarang dibandingkan dibetes melitus tipe 2, dimana terjadi resistensi insulin dengan atau tanpa di sertai kekurangan insulin. Dibetes melitus tipe 2 dapat di kontrol dengan agen-agen hipoglikemik oral dan atau insulin. Tanda- tanda klasik dan gejala diabetes melitus tidak terkontrol meliputi rasa haus, rasa lapar dan ingin berkemih yang belebihan selain kelelahan, pruritas (gatal) dan glikosuria (pengeluaran gula pada urine). Komplikasi jangka panjang berupa kardiovaskular aterosklerotik, penyakit serebrovaskular atau periferovaskular, retinopati yang sering menyebabkan kebutaan, nefropati, neuropati perifer dan penyakit peridontal. Kadar gula darah yang tinggi (hiperglikemia) dapat menyebabkan respon imun hospes dan menyebabkan penyembuhan luka yang tidak baik serta infeksi kekambuhan. Manifestasi dalam rongga mulut dapat berupa abses peridontal multipel atau kekambuhan dan selulitis. Pasien penderita diabetes melitus yang tidak terkontrol atau tidak terdiagnosa, lebih rentan terhadap ginggivitis, hiperplasia ginggiva dan peridontitis. Di satu pihak destruksi peridontal disebabkan faktor-faktor yang telah disebutkan di atas, tetapi dilain pihak keadaan diabetik juga dikaitkan dengan menurunnya sintesa kolagen dan bertambahanya aktivitas kolagenase. Selain itu, fungsi neutrofil yang berubah telah ditemukan pada beberapa pasien diabetik, tetapi tidak seluruhnya. Hiperparatiroidisme sekunder yang telah dibangkitkan oleh diabetes menyebabkan individu lebih mudah mengalami kehilangan tulang alveolar yang hebat pada infeksi periodontal. Efek diabetes melitus yang terkontrol dalam perkembangan penyakit peridontal masih diperdebatkan. Meskipun demikian, banyak bukti menunjukkan bahwa insidensi dan keparahan ginggivitis meningkat pada anak-anak yang menderita diabetes, tetapi remaja dan orang dewasa yang menderita diabetes mengalami peningkatan kerentanan baik terhadap ginggivitis maupun peridontitis. Bukti terbaru menunjukkan bahawa kontrol penyakit diabetes yang cermat menunjang kesehatan peridontal. Sebaliknya, terdapat bukti-bukti lain yang memperlihatkan bahwa pengendalian infeksi, termasuk penyakit peridontal lanjut, berperan penting dalam memelihara kontrol metabolik diabetes. Maka dari itu praktisi dokter gigi bila menemukan panyakit peridontal yang berat sebaiknya mengingatkan agar dokter yang menangani pasien tersebut waspada.

Paerawatan gigi untuk pasien diabetes seabiknya dilakukan dengan hati-hati. Dokter gigi harus mencari konsultasi medis jika ada bukti mengenai kontrol metabolik yang buruk. Pasien harus diingatkan untuk meminum obatnya dan mengonsumsi diet yang diajurkan saat datang untuk merawat giginya, dan harus memelihara higiene mulut yang baik untuk menjaga kesehatan peridontal. Pasien sebaiknya dirawat dalam susasana santai dan tidak tegang dengan waktu perawatan yang diperpendek. Pemakaian antibiotik untuk prosedus perawatan harus didasarkan pada status kesehatan secara menyeluruh dan luas perawatan gigi yang dilakukan. Harus diwaspadai terjadinya syok insulin atau koma diabetikum. Beberapa penelitian multisenter pada pasien diabetes menunjukkan bahwa kontrol metabolik kadar glukosa yang ketat pada diabetes 1 dan 2 dapat menghasilkan komplikasi medis yang lebih sedikit. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa mempertahankan kadar glukosa plasma mendekati nilai normal dapat meningkatkan insidensi hipoglikemia. Beberapa pasien diabetes mengalami hipoglikemia yang berat tanpa memperlihatkan atau merasakan tanda-tanda dan gejala yang biasa terjadi. Gejala ini dapat berupa perubahan mood atau suasana hati, kebingungan (konfusi mental), lesu, kegelisahan, koma bahkan kematian. Gejala ini juga dapat ditemukan pada individu yang mengalami hiperglikemi, tetapi awitan serangan lebih bertahap. Bila dokter gigi menemukan kasus seperti ini di tempat praktik, sangat bijaksana bila reaksi yang tidak jelas ini dianggap sebagai serangan hipoglikemi. Penanggulangannya dengan memberikan oral karbohidrat seperti menuman ringan, permen, jus jeruk, atau glucola. Pasien yang tidak sadar dapat ditangani dengan pemberian dekstrose intravena. 6. Ketidakseimbangan Hormon Seks Ketidakseimbangan hormon seks dapat menimbulkan efek merugikan pada ginggiva. Sebagai contoh, telah di laporkan adanya hiperplasia ginggiva inflamatif pada masa pubertas, kehamilan dan sebagai akibat pemakaian kontrasepsi oral. Perubahan fisiologis terkait hormon seks ini menyebabkan perubahan permeabilitas kapiler dan meningkatkan retensi cairan di jaringan. Kondidi ini menyebabkan ginggivitis yang edematus, hemorargik dan hiperplastik sebagai respon terhadap plak. Perubahan ginggiva ini dapat juga ditemukan pada pria yang mendapat terapi hormon seks androgen. Bertambahnya kerentanan terhadap inflamasi ginggiva selam kehamilan di mulai pada bulan kedua kehamilan, memuncak pada bulan kedelapan dan secara bertahap berkurang pada bulan kesembilan hingga setelah persalinan. Perubahan ini berkaitan erat dengan kadar progesteron selama periode tersebut. Beberapa bukti bahwa peningkatan kadar estrogen dan
4

progesteron selama masa kehamilan mempermudah terjadinya flora mikrobal sulkus dab lebih an-aerob. Granuloma piogenik (pregnancy tumor) kadang-kadang terjadi selama kehamilan sebagai hasil respon jaringan yang berlebihan terhadap iritan lokal, yang dibangkitkan oleh perubahan kadar hormon seks. Perawatan peridontal selama periode meningkatnya kadar hormon seks ditujukan untuk menghilangkan iritan lokal dan mempertahankan kebersihan mulut yang baik. koreksi bedah untuk hiperplasia ginggiva karena kehamilan sebaiknya di tunda, juka memungkinkan, sampai pasien melahirkan. Perawatan gigi paling aman di lakukan selama trimester kedua, tetapi prosedur elektif sebaiknya di tangguhkan jika memungkinkan. 7. Kelainan Darah Inflamasi gingiva dan periodontitis kronis secara histopatologi ditandai dengan infiltrasi sel-sel radang seperti leukosit polimorfonuklear, limfosit, makrofag dan sel plasma. Sel darah lainnya (sel darah merah, platelet/keping darah) terlibat dalam nutrisi jaringan periodontal, hemostasis, dan penyembuhan luka. Oleh karena itu, kelainan darah sistemik dapat memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap jaringan periodontal. Diskrasia darah, seperti polisitemia, trombositopenia atau kekurangna faktor pembekuan darah, dapat menyebabkan waktu perdarahan yang panjang setelah prosedur perawatan periodontal. Kelainan sel darah merah seperti anemia aplastik atau anemia sel sabit dapat memperburuk hasil perawatan periodontal dan menyebabkan komplikasi pascaoperasi berat. Mieloma multiple adalah malignansi sel plasma yang sering dikaitkan dengan perdarahan giniva dan kerusakan tulang alveolar. Meskipun demikian, sebagian besar gangguan hematologik yang dihubungkan dengan penyakit periodontal adalah gangguan fungsi atau jumlah sel darah putih. Leukemia adalah penyakit keganasan yang ditandai dengan proliferasi jaringan pembentuk sel darah putih dan peningkatan leukosit yang abnormal dalam sirkulasi darah. Pada penderita leukemia, dapat ditemukan lesi periondontal seperti pembesaran gingiva. Perubahan gingiva ini mungkin akibat infiltrasi sel-sel leukemik ke jaringan, peradagan ke jaringan, dan inflamasi yang diinduksi oleh plak. Higiene mulut yang baik sangat diperlukan untuk mengurangi komplikasi perawatan periodontal, tetapi koordinasi yang erat antara dokter dan dokter gigi sangat diperlukan sebelum melakukan perawatan periodontal.

8.

Defisiensi Nutrisi Dan Gangguan Metabolik


5

Hubungan antara defisiensi nutrisi dan perkembangan penyakit periodontal telah diperdebatkan selama beberapa tahun. Defisiensi nutrisi terkait jaringan bukan hanya akibat dari kurangnya asupan zat-zat nutrisi, tetapi juga karena gangguan pencernaan, absorpsi, transportasi atau pemanfaatan zat nutrisi. Gangguan nutrisi berpengaruh sangat besar terhadap semua jaringan tubuh, termasuk jaringan periodontal. Hubungan antara perkembangan penyakit periodontal dengan defisiensi nutrisi masih belum jelas, belum ada bukti yang menunjukkan bahwa pemberian tambahan nutrisi semata akan meningkatkan kesehatan jaringan periodontal, kecuali pada keadaan dimana defisiensi memang jelas terjadi. Defisiensi vitamin C yang berat (scurvy) diketahui dapat menginduksi kerusakan jaringan periodontal yang nyata pada manusia. Defisiensi protein yang berat seperti kwashiokor, dikaitkan dengan lesi nekrotik gingiva dan jaringan mulut lainnya, serta dengan bertambahnya inflamasi giniva dan hilangnya tulang jaringan periodontal. Efek ini dapat terjadi akibat respons imun yang berubah pada periodontitis karena plak. Perlu diingat bahwa defisiensi nutrisi ringan tidak menyebabkan inflamasi dan kerusakan periodontal. Meskipun demikian,perubahan periodontal yang nyata akan terjadi jika terdapat infeksi yang disebabkan oleh plak. Bagaimanapun juga, satus nutrisi yang cukup akan membantu responss pasien yang baik terhadap terapi periodontal. 9. Obat-Obatan Dan Jaringan Periodontal Telah lama diakui bahwa obat-obatan merupakan faktor etiologi sekunder yang berpotensi menimbulkan penyakit periodontal. Sebagai contoh obat-obatan yang menginduksi xerostomia (kekeringan mulut) dapat meningkatkan akumulasi plak dan kalkulus. Aspirin yang diaplikasikan secara topikal, senyawa fenol, minyak menguap, anestetikum, preparat yang mengandung flouride dan astringen, adalah beberapa zat yang dapat menimbulkan reaksi kimiawi pada jaringan lunak mulut. Agranulositosis akibat pemakaian obat-obatan dapat menyebabkan nekrosis gingiva parah yang menyerupai gingivitis ulseratif nekrosis akut (ANUG) menyeluruh. Reaksi hipersensitivitas terhadap berbagai obat, bahan kedokteran gigi, zat penambah rasa, dan produk-produk makanan dapat menyebabkan lesi kontak inflamatif pada gingiva dan jaringan mulut lainnya. Eritema multiformis, erupsi karena obat-obatan tertentu, dan reaksi obat lichenoid sebagai respons terhadap pemakaian obat, juga dapat mempengaruhi gingiva dan mukosa alveolar.

10.

Penyakit Periodontal Pada Penderita AIDS


6

Lesi periodontal pada penderita AIDS diantaranya eritema gingiva linear (LGE), yaitu gingivitis yang terlokalisasi, persisten, dan eritematus yang mengawali terjadinya gingivitis ulseratif nekrosis (NUG) atau periodontitis ulseratif nekrosis (NUP). Insidensi gingivitis ulseratif nekrosis diperkirakan meningkat pada pasien HIV, tetapi hubungannya masih belum jelas. Jika lesi ini ditemukan pada pasien HIV positif, kondisi ini harus dirawat. Beberapa bukti menunjukan peningkatan insidensi periodontitis ulseratif nekrosis pada individu yang mengalami penekanan sistem imun yang berat. Perawatan yang dilakukan berupa debridemen dengan hati-hati, skeling, dan root planing. Higiene mulut yang baik harus dipertahankan, termasuk pemakaian obat kumur antimikroba seperti klorheksidin glukonat di tempat praktik dan dirumah. Metronidazol adalah obat pilihan jika diperlukan terapi antibiotik sistemik. Di Pusat Perawatan AIDS, secara klinis timbul kesan bahwa insidensi penyakit periodontal terkait AIDS menurun sejak ditemukannya obat antivirus terbaru dan diperkenalkannya terapi kombinasi obat. INFEKSI PERIODONTAL DAN PENYAKIT SISTEMIK Walaupun selama ini diakui adanya potensi kondisi sistemik dalam perkembangan periodontitis karena plak, semakin banyak bukti baru yang menunjukkan bahwa periodontitis yang parah dan menyeluruh juga dapat berperan dalam perkembangan penyakit sistemik tertentu atau berpengaruh buruk terhadap pengendalian penyakit sistemik tersebut. Telah ditemukan adanya hubungan antara infeksi, termaduk periodontitis lanjut, dengan kelahiran prematur atau bayi berat lahir rendah. Keadaan ini diyakini dapat terjadi karena akumulasi mikroorganisme gram negatif seperti yang ditemukan pada periodontitis, yang menyebabkan meningkatnya pelepasan prostaglandin dan sitokin. Pelepasan substansi ini dapat terjadi di tempat lain yang jauh dari rongga mulut, misalnya di plasenta. Hubungan yang sama ditunjukkan anatara infeksi sistemik akut dengan penyakit kardiovaskular, meliputi infark miokardial dan stroke. Ini membuktikan bahwa akumulasi bakteri gram negatif dalam jumlah besar ikut berperan dalam terjadiya aterosklerosis. Mekanisme aksi yang jelas belum sepenuhnya diketahui, tetapi penelitian pada manusia dan binatang percobaan menunjukkan bahwa bakterimia gram negatif dapat menyebabkan agregasi keping darah (platelet), menimbulkan hiperkoagulasi dan meningkatkan viskositas darah. Semua ini merupakan gambaran penting dari pembentukan ateroma. Periodontitis parah juga dikatkan dengan infeksi saluran napas atas dan bawah seperti hospital-acquired pneumonia (pneumonia yang didapat sewaktu di rawat di rumah sakit). Dan

seperti telah dibahas sebelumnya, periodontitis dapat mempersulit kontrol metabolik penyakit diabetes melitus. Dewasa ini, hubungan antara peridontitis dan terjadinya penyakit sistemik merupakan aspek yang sangat menarik perhatian. Beberapa penelitian sedang dilaksanakan untuk mengevaluasi hubungan ini. Sampai saat ini, banyak bukti yang mendorong dokter gigi untuk memberikan saran dan meyakinkan kolega medisnya bahwa kesehatan periodontal merupakan komponen yang penting dalam penatalaksanaan beberapa penyakit sistemik.