Anda di halaman 1dari 71

PENGARUH TEPUNG TEMPE TERHADAP JARINGAN KANKER MAMMA DAN GAMBARAN MIKROANATOMI GINJAL MENCIT (Mus musculus) GALUR

C3H YANG DITRANSPLANTASI SEL Adenocarcinoma mammae

SKRIPSI

Diajukan Dalam Rangka Menyelesaikan Studi Strata 1 Untuk Mendapatkan Gelar Sarjana Sains

Oleh Nama NIM Jurusan Program Studi Fakultas : Rini Suhenti : 4450402021 : Biologi : Biologi SI : MIPA

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2007

HALAMAN PENGESAHAN

Telah dipertahankan dalam ujian pada Panitia Ujian Skripsi Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang pada: Hari : Rabu Tanggal : 11 April 2007

Ketua

Sekretaris

Drs. Kasmadi Imam S, MS NIP. 130 781 011 Tim Penguji: Pembimbing I

Ir. Tuti Widianti, M.Biomed NIP. 132 094 389

Penguji I

Dra. Siti Harnina Bintari, MS NIP. 131 754 160 Pembimbing II

dr. Nugrahaningsih WH, M.Kes NIP. 132 207 402 Penguji II

Ari Yuniastuti, S.Pt, M.Kes NIP. 132 207 401

Dra. Siti Harnina Bintari, MS NIP. 131 754 160 Penguji III

Ari Yuniastuti, S.Pt, M.Kes NIP. 132 207 401

ii

ABSTRAK

Penyakit kanker merupakan salah satu penyebab kematian yang cukup tinggi. Pada tahun 1995 di Semarang, kanker payudara menempati urutan pertama dari 5 besar kanker yang terjadi pada wanita yaitu kanker payudara, leher rahim, hati, ovarium, dan rektum, dengan penderita 10,25 per 100.000 penduduk. Sejumlah penelitian menunjukkan konsumsi buah-buahan dan sayuran bisa menurunkan resiko kanker payudara. Kebanyakan bangsa Asia yang mengkonsumsi tempe, angka penderita kanker payudara lebih rendah daripada negara lain. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian tepung tempe terhadap jaringan kanker mamma dan gambaran mikroanatomi ginjal mencit (Mus musculus) galur C3H yang ditransplantasi sel Adenocarcinoma mammae. Populasi penelitian adalah mencit (Mus musculus) galur C3H berumur 23 bulan dengan berat 20-30 gram. Sampel adalah mencit (Mus musculus) betina galur C3H berjumlah 15 ekor. Variabel bebas adalah perlakuan tepung tempe dengan berat 0,02 gram (P1); 0,2 gram (P2) dan tanpa perlakuan (K). Variabel tergantung berupa volume jaringan kanker mamma, dan struktur mikroanatomi ginjal mencit dengan parameter kerusakan bagian glomerulus dan tubulus. Variabel kendali meliputi galur, jenis kelamin, umur, berat badan mencit, dan pakan. Data penelitian dianalisis dengan ANAVA, dilanjutkan dengan uji BNT 95%. Struktur mikroanatomi ginjal mencit dianalisis secara deskriptif. Hasil ANAVA menunjukkan bahwa pemberian tepung tempe secara signifikan (p<0,05) berpengaruh terhadap volume jaringan kanker mamma. Hasil uji BNT menunjukkan perbedaan signifikan (p<0,05), kelompok P2 berbeda nyata dengan kelompok kontrol (K) dan PI. Berdasarkan hasil analisis secara deskriptif tepung tempe tidak berpengaruh pada struktur mikroanatomi ginjal mencit. Simpulan bahwa pemberian tepung tempe 0,2 gram berpengaruh pada jaringan kanker mamma, tetapi tidak mempengaruhi gambaran mikroanatomi ginjal mencit (Mus musculus) galur C3H.

Kata Kunci : tepung tempe, kanker mamma, ginjal

iii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO: 1. Sesunguhnya kesulitan yang kita hadapi, tidak akan melebihii kemampuan yang kita miliki. 2. Waktu hidup kita lebih sedikit dari apa yang harus kita kerjakan.(Hasan Al Banna) 3. Kekurangan sama buruknya dengan kelebihan.(Chae-Kyoung Family) PERSEMBAHAN Kupersembahkan Karya ini untuk: 1. Bapak dan Ibu serta familku yang senantiasa mendampingiku dengan kasih sayang, dorongan dan doanya My sister Yuli & Almh. Ida yang selalu aku sayang Sahabatku Ipunx, Ani, Retno, Diah, dan Ifana yang menyemangatiku dan selalu menemani perjuanganku Teman seperjuanganku Shila yang selalu berjuang bersamaku Teman-teman Kos As-Sholehah (Era, Lusyong, Ningnong, Noer, Tinci, Vi2, Cun2, Emi, Moeza, Wi2t, Lyna, Desy, Meg2), Dewiq & Rinci yang senantiasa memotivasi dan menemani perjuanganku My Friends Bio 2002

2. 3.

4. 5.

6.

iv

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah dengan mengucapkan segala puji syukur kehadirat ALLAH SWT, yang telah melimpahkan rahmat serta hidayahnya sehingga penulis akhirnya dapat menyelesaikan penelitian dan menyusun skripsi dengan judul Pengaruh Tepung Tempe Terhadap Jaringan Kanker Mamma dan Gambaran Mikroanatomi Ginjal Mencit (Mus musculus) Galur C3H Yang

Ditransplantasi Sel Adenocarcinoma mammae sebagai salah satu syarat menyelesaikan studi serta memperoleh gelar Sarjana Strata S1 di Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Negeri Semarang. Penyusunan skripsi ini tidak lepas dari hambatan dan kesulitan, namun atas dorongan, bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini, maka perkenankanlah penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada: 1. Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kesempatan penulis untuk menyelesaikan studi di Biologi FMIPA UNNES. 2. Dekan FMIPA Universitas Negeri Semarang beserta staf yang telah memberi kemudahan dalam menyelesaikan skripsi ini. 3. Ketua Jurusan Biologi UNNES yang telah memberikan petunjuk dan kemudahan sehingga skripsi ini dapat tersusun. 4. Kepala Laboratorium Biologi UNNES beserta staf yang telah membantu selama penelitian dan penyusunan skripsi ini.

5. Dra. Siti Harnina Bintari, M. S. Dosen pembimbing I yang telah banyak memberikan bimbingan, arahan, motivasi dan petunjuk dalam menyelesaikan skripsi ini. 6. Ari Yuniastuti, M. Kes, S. Pt. Dosen pembimbing II yang telah banyak memberikan bimbingan, arahan, motivasi dan petunjuk dalam menyelesaikan skripsi ini. 7. dr. Nugrahaningsih WH, M.Kes. Dosen penguji yang telah memberikan bimbingan dan petunjuk dalam menyelesaikan skripsi ini. 8. Drs. Bambang Priyono, M, Si selaku dosen wali yang memberikan motivasi sehingga skripsi ini dapat tersusun. 9. Bapak , ibu dan keluargaku yang telah memberikan doa, dukungan dan dorongan. 10. Teman-teman Kos As-Sholehah yang senantiasa memotivasi dan menemani perjuanganku dalam penyusunan skripsi ini. 11. Teman-teman angkatan 2002 dan semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini. Akhirnya, penulis menyadari banyak kekurangan yang ada dalam penyusunan skripsi ini. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Semarang , April 2007

Penulis

vi

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN JUDUL ................................................................................. HALAMAN PENGESAHAN ................................................................... ABSTRAK ................................................................................................ MOTTO DAN PERSEMBAHAN ............................................................. KATA PENGANTAR............................................................................... DAFTAR ISI............................................................................................. DAFTAR TABEL ..................................................................................... DAFTAR GAMBAR................................................................................. DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah........................................................ B. Rumusan Masalah ................................................................. C. Penegasan Istilah................................................................... D. Tujuan Penelitian .................................................................. E. Manfaat Penelitian ................................................................ BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS A. Landasan Teori ..................................................................... B. Kerangka Berpikir dan Hipotesis .......................................... BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian................................................. B. Populasi dan Sampel Penelitian ............................................ vii 24 24 6 23 1 4 4 5 5 i ii iii iv v vii ix x xi

C. Variabel Penelitian................................................................ D. Rancangan Penelitian ............................................................ E. Alat dan Bahan Penelitian ..................................................... F. Prosedur Penelitian ............................................................... G. Analisa Data.......................................................................... BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ..................................................................... B. Pembahasan .......................................................................... BAB V PENUTUP A. Simpulan ............................................................................... B. Saran ..................................................................................... DAFTAR PUSTAKA................................................................................ LAMPIRAN..............................................................................................

24 25 26 27 29

31 37

44 44 45 48

viii

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

2.1. Kandungan Zat Gizi Tempe ..................................................................... 18 3.1. Cara Pengelompokan, Perlakuan, dan Pengulangan ................................ 25 4.1. Ukuran Volume Jaringan Kanker Mamma Pada Mencit Galur C3H... 31 4.2. Ringkasan Analisis Varian Satu Jalan Terhadap Ukuran Volume Jaringan Kanker Mamma Pada Mencit Galur C3H ................... 32 4.3. Hasil Uji BNT Terhadap Volume Jaringan Kanker Mamma Pada Mencit Galur C3H ........................................................................... 33 4.4. Data Struktur Mikroanatomi Ginjal Mencit Galur C3H ........................... 34

ix

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

2.1. Gambaran ginjal : Korpuskulum Renal dan Aparatus Jukstaglomerular .................................................................... 11 2.2. Gambaran Kortek Ginjal : Aparatus Jukstaglomerular ......................... 11 2.3. Diagram Metabolisme Isoflavon .......................................................... 21 4.1. Diagram Rata-rata Volume Jaringan Kanker Mamma Pada Mencit Galur C3H ........................................................................ 32 4.2. Struktur Mikroanatomi Ginjal Mencit Pada Kelompok Kontrol (Perbesaran 200x) ................................................... 35 4.3. Struktur Mikroanatomi Ginjal Mencit Pada Kelompok Perlakuan Tepung Tempe 0,02 gram (P1) (Perbesaran 400x)................ 36 4.4. Struktur Mikroanatomi Ginjal Mencit Pada Kelompok Perlakuan Tepung Tempe 0,2 gram (P2) (Perbesaran 400x) ................. 36

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

Halaman

1. Proses Pembuatan Tepung Tempe ....................................................... 48 2. Proses Pembuatan Pakan Mencit Yang Diberikan Selama Penelitian ................................................................................ 49 3. Perhitungan Penentuan Dosis Tepung Tempe ..................................... 50 4. Pembuatan Preparat Irisan Ginjal Mencit ............................................ 51 5. Perhitungan Analisis Varians Satu Jalan Terhadap Volume Kanker Mamma Mencit Galur C3H ...................................... 53 6. Uji Beda Nyata Terkecil (BNT)........................................................... 56 7. Dokumentasi Penelitian....................................................................... 58 8. Surat Penetapan Dosen Pembimbing ................................................... 61 9. Tabel Distribusi t ................................................................................. 62 10. Tabel Distribusi F............................................................................... 63

xi

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Penyakit kanker merupakan salah satu penyebab kematian yang cukup tinggi. Di Indonesia diperkirakan setiap tahun terdapat 100 penderita baru dari setiap 100.000 penduduk dan penyakit kanker menduduki urutan ke-3 penyebab kematian sesudah jantung dan paru-paru (Nugroho dkk, 2000). Data dari American Cancer Society menunjukkan bahwa kematian akibat kanker pada wanita didominasi oleh kanker payudara (Khomsan, 2004). Insidens kanker payudara di Kodya Semarang menempati urutan pertama yaitu 10,25 per 100.000 penduduk pada tahun 1995. Begitu juga di Kodya Ujung Pandang dan Yogyakarta, insidens kanker payudara menempati urutan yang pertama dengan rata-rata 12,54 dan 14,62 per 100.000 penduduk tahun 1995 (Soetiarto, 1996). Menurut data WHO tahun 2004, ada sekitar 1,2 juta wanita yang didiagnosis menderita kanker payudara. Sementara itu, pada pria, kanker payudara juga mungkin saja hinggap, walaupun jumlah kasusnya sangat kecil, yaitu sekitar 1450 pada tahun 2004 (Kartika, 2005). Pengobatan kanker pada umumnya sama, yaitu salah satu atau kombinasi dari operasi, penyinaran (radioterapi), obat pembuluh sel kanker (sitostatika), meningkatkan daya tahan tubuh dan pengobatan dengan hormon (Nugroho dkk, 2000). Semua cara tersebut belum menghasilkan penyembuhan yang memuaskan. Oleh karena itu, upaya pengobatan secara tunggal belum

dapat diharapkan untuk mengatasi masalah kesehatan masyarakat ini. Upaya pencegahan perlu diberikan dalam mengatasi masalah kanker (Bustan, 1997). Pencegahan adalah cara terbaik dalam penanganan suatu penyakit. Menurut Soetjipto (dalam San ,2003) pola hidup sehat dan menghindari stress adalah salah satu sarana untuk menghambat penyebaran sel kanker dan memperpanjang usia harapan hidup. Sejumlah penelitian menunjukkan konsumsi buah-buahan dan sayuran bisa menurunkan resiko kanker payudara. Pasalnya, bahan pangan dari tumbuhan kaya akan antioksidan yang mencegah kerusakan sel-sel yang bisa menyebabkan kanker (San, 2003). Tumbuhtumbuhan juga mengandung fitokimia. Banyak jenis fitokimia yang bermanfaat bagi kesehatan, contohnya kedelai. Fitokimia yang terkandung dalam kedelai, yaitu isoflavon, disebut-sebut sebagai zat yang mempunyai struktur kimia dan aktivitas biologis menyerupai hormon estrogen dalam tubuh. Fitokimia ini antara lain terdapat pada protein kedelai seperti tempe (Senior, 2004). Tempe sebagai makanan tradisional berpeluang dan berpotensi untuk melawan radikal bebas, sehingga dapat menghambat proses penuaan dan mencegah terjadinya penyakit degeneratif (kanker, osteoporosis, jantung koroner, diabetes mellitus, dan lain-lain) (Astawan, 2003). Senyawa dalam tempe yang diduga memiliki aktivitas anti penyakit degeneratif, antara lain vitamin E, karotenoid, superoksida desmutase, dan isoflavon (Anonim, 2004). Hal ini didukung fakta pada kebanyakan bangsa Asia yang banyak mengkonsumsi tempe, angka penderita kanker payudara lebih rendah daripada negara lain seperti di Amerika dan Eropa yang jarang mengkonsumsi kedelai.

Studi epidemiologis menunjukkan bahwa wanita Jepang dengan diet kaya protein kedelai prevalensi kanker payudara paling rendah di dunia (Mayo dalam Miladiyah, 2004). Studi ini menimbulkan dugaan bahwa diet kaya protein kedelai bersifat protektif terhadap kanker payudara (Miladiyah, 2004). Isoflavon merupakan faktor kunci dalam kedelai yang memiliki potensi memerangi penyakit tertentu (Koswara, 2006). Isoflavon pada tempe berpotensi sebagai anti tumor atau anti kanker. Dari sejumlah senyawa isoflavon yang banyak disebut-sebut sebagai anti tumor atau anti kanker adalah genistein (Pawiroharsono, 2001). Penelitian mengenai tempe sudah banyak dilakukan, namun laporan mengenai penghambatan tempe (prevensi) terhadap munculnya kanker mamma dan pengaruhnya pada organ tubuh yaitu ginjal belum diketahui, mengingat pada umumnya semua zat kimia yang masuk ke tubuh dapat merusak organ tubuh. Ginjal merupakan organ yang membantu mempertahankan homeostatis dengan menghasilkan urin yang merupakan hasil sisa metabolisme. Untuk itu perlu dilakukan penelitian mengenai pengaruh pemberian tepung tempe terhadap jaringan kanker mamma dan pengaruhnya pada organ ginjal mencit C3H yang ditransplantasi kanker mamma. Penelitian dilakukan dengan pemberian tepung tempe pada mencit galur C3H yang kemudian diberi perlakuan transplantasi sel kanker mamma dari mencit (Mus musculus) galur C3H donor.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian diatas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :Apakah pemberian tepung tempe berpengaruh terhadap jaringan kanker mamma dan gambaran mikroanatomi ginjal pada mencit galur C3H yang ditransplantasi sel Adenocarcinoma mammae ?

C. Penegasan Istilah Untuk menghindari adanya perbedaan pengertian dalam penelitian ini maka perlu diberikan penjelasan tentang beberapa istilah sebagai berikut : 1. Gambaran mikroanatomi ginjal mencit yaitu gambaran struktur

mikroanatomi ginjal setelah mencit ditransplantasi sel Adenocarcinoma mammae dan pemberian tepung tempe. Dalam penelitian ini yang diamati adalah kerusakan sel ginjal seperti nekrosis tubulus (piknosis, karioreksis, dan kariolisis) dan radang. 2. Tepung tempe adalah tempe segar yang diiris tipis kemudian dikeringanginkan lalu dibuat tepung. 3. Pada jaringan kanker mamma yang diamati adalah ukuran makroskopis jaringan kanker berupa volume jaringan kanker mamma. 4. Sel Adenocarcinoma mammae yaitu sel kanker yang terdapat pada mamma mencit C3H donor yang ditransplantasikan dengan cara menyuntikkan sel kanker ke bagian ketiak (aksila) mencit sehat (resipien).

D. Tujuan Penelitian Sesuai dengan permasalahan yang dirumuskan, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian tepung tempe terhadap jaringan kanker mamma dan gambaran mikroanatomi ginjal pada mencit (Mus musculus) galur C3H yang ditransplantasi sel Adenocarcinoma mammae.

E. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada

masyarakat dan para ilmuwan, yaitu informasi tentang gambaran mengenai seberapa besar pengaruh pemberian tepung tempe terhadap jaringan kanker mamma dan gambaran mikroanatomi ginjal pada mencit (Mus musculus) galur C3H yang ditransplantasi sel Adenocarcinoma mammae. Dengan demikian dapat dipakai sebagai landasan bagi penelitian yang sejenis.

BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

A. Landasan Teori 1. Kanker Mamma (Adenocarcinoma mammae) Kanker mamma atau yang sering disebut kanker payudara merupakan jenis kanker nomor dua terbanyak setelah kanker mulut rahim diantara kanker yang menyerang perempuan Indonesia. Kanker ini berasal dari kelenjar, saluran kelenjar dan jaringan penunjang payudara. Kulit payudaranya sendiri tidak termasuk dalam bagian dari kanker payudara. Pada laki-laki, kanker payudara bisa juga ditemukan walaupun sangat jarang (Dalimartha, 2003). Kanker mempunyai dasar genetik, melibatkan tiga golongan gen pengatur pertumbuhan normal : 1) yang menjadi sasaran utama perubahan genetik ialah gen pencetus pertumbuhan yaitu proto-onkogen; 2) gen penghambat pertumbuhan yaitu cancer suppressor gen disebut pula antionkogen; 3) gen yang mengatur kematian sel terprogram atau apoptosis.. Mutasi alel proto-onkogen diperkirakan dominan oleh karena mutasi satu alel proto-onkogen mengakibatkan transformasi sel meskipun alel pasangannya masih normal. Sebaliknya kedua alel normal anti-onkogen harus mengalami mutasi agar terjadi transformasi sel sehingga famili gen ini kadang-kadang disebut sebagai resesif. Gen yang mengatur apoptosis dapat bersifat dominan seperti proto-onkogen atau bersifat resesif seperti anti-onkogen. Disamping ketiga gen di atas terdapat golongan gen yang keempat yang berfungsi

memperbaiki kerusakan DNA, yang juga berperan pada karsinogenesis, ialah gen perbaikan DNA. Gen perbaikan DNA mempengaruhi pembelahan sel atau secara tidak langsung kehidupan sel dengan mempengaruhi kemampuan organisme untuk memperbaiki kerusakan nonletal pada beberapa gen termasuk proto-onkogen, anti-onkogen dan gen pengatur apoptosis. Ketidakmampuan gen perbaikan DNA dalam menjalankan fungsi normalnya dapat berakibat perluasan mutasi pada gen lain dan meningkatkan transformasi neoplastik (Pringgoutomo dkk, 2002). Beberapa tipe kanker dapat diturunkan karena adanya mutasi dari gen spesifik yang akan diturunkan dari orang tua pada anaknya. Kejadian tersebut bisa terlihat pada beberapa penyakit kanker seperti kanker payudara, kanker kolon, dan melanoma. Adanya mutasi dari dua gen yang spesifik pada kanker payudara, yaitu BRCA-1 dan BRCA-2, dapat dicari pada DNA darah manusia. Dari uji ini dapat diketahui adanya kemungkinan seorang perempuan bisa terkena kanker payudara pada usia yang lebih dini, yaitu sebelum berumur 40 tahun (Strachan & Read, 1996). Karsinoma mamma biasanya menyebar secara limfogen. Sebagian besar karsinoma mengadakan metastasis pada kelenjar getah bening aksila melibatkan satu atau lebih kelenjar. Metastasis karsinoma ke organ jauh dapat terjadi secara hematogen. Organ yang sering terlibat adalah tulang, paru, hati, dan tidak jarang ke susunan saraf pusat, kelenjar tiroid, dan ginjal (Azamris dkk, 2003).

1.1. Insidensi Satu diantara 10 wanita di Amerika terancam kanker payudara. Kanker ini menempati urutan pertama banyaknya penderita kanker di AS. Di Indonesia kanker payudara menempati urutan kedua setelah kanker mulut rahim (Bustan, 1997). Di Indonesia, setiap tahun ada 100 wanita dari 100.000 penduduk yang terkena kanker payudara. Menurut data WHO, ada sekitar 1,2 juta wanita yang didiagnosis menderita kanker payudara di tahun 2004. Sementara itu, pada pria, kanker payudara juga mungkin saja hinggap, walaupun jumlah kasusnya sangat kecil, yaitu sekitar 1450 pada tahun 2004 (Kartika, 2005). 1.2. Etiologi Etiologi dari kanker payudara sampai saat ini belum diketahui. Faktor endogen yang diduga memegang peranan dalam proses kejadian kanker ini adalah faktor hormon estrogen. Namun bagaimana mekanisme kejadian belum jelas diketahui. Selain faktor endogen, kemungkinan ada juga pengaruh faktor eksogen. Kanker payudara lebih banyak pada wanita berpostur gemuk, sedangkan postur demikian lebih banyak disebabkan faktor makanan atau pola makan serta pola hidup yang tidak sehat (Khomsan, 2004). Faktor hormon merupakan yang banyak berpengaruh dalam timbulnya kanker payudara. Hal ini terbukti dari kelompok orang yang berisiko tinggi antara lain mendapat haid pertama (menarche) pada umur kurang dari 10 tahun; mati haid (menopause) setelah umur 50 tahun; melahirkan anak pertama setelah umur 35 tahun; tidak pernah melahirkan anak; tidak pernah menyusui

anak; pernah operasi payudara akibat tumor jinak (kelainan fibrokistik dan fibroadenoma) atau tumor ganas payudara; genetis; mengalami benturan berulang kali pada payudara; pernah mendapat radiasi sebelumnya pada payudara, misalnya untuk pengobatan keloid; dan pernah mendapat terapi hormonal yang lama, misalnya pada infertility (mandul) (Dalimartha, 2003). 1.3. Gejala Kanker Payudara Kanker payudara pada tahap dini biasanya tidak manimbulkan keluhan. Penderita merasa sehat, tidak merasa nyeri, dan tidak terganggu aktivitas sehari-harinya. Satu-satunya gejala yang mungkin dirasakan pada stadium dini adalah adanya benjolan kecil pada payudara. Keluhan baru timbul setelah penyakit sudah memasuki stadium lanjut. Keluhan yang dirasa seperti ada benjolan pada payudara bila diraba dengan tangan; bentuk dan ukuran payudara berubah, berbeda dari sebelumnya; luka pada payudara yang sudah lama, tidak sembuh dengan pengobatan; eksim pada puting susu dan sekitarnya yang sudah lama, tidak sembuh dengan pengobatan; keluar darah, nanah, atau cairan encer dari puting / keluar air susu pada perempuan yang tidak sedang hamil atau tidak sedang menyusui; puting susu tertarik ke dalam; dan kulit payudara mengerut seperti kulit jeruk (peau dorange) (Dalimartha, 2003). 1.4. Diagnosis Kanker Payudara Adanya benjolan di payudara dapat diketahui oleh penderita sendiri dengan cara memeriksa payudara sendiri (SADARI) sebulan sekali. Dengan melakukan SADARI secara teratur diharapkan kaum perempuan dapat mengenal baik keadaan payudaranya sendiri dan dapat menemukan sedini

10

mungkin bila ada kelainan pada payudaranya (Dalimartha, 2003). Diagnosis dilakukan juga dengan bantuan USG, mammografi, termografi, CTscan, MRI, dan biopsi. Diagnosis pasti dengan pemeriksaan histopatologis, yaitu memeriksa jaringan yang dicurigai kanker yang diambil dengan cara biopsi (Dalimartha, 2003).

2. Ginjal 2.1. Struktur Ginjal Ginjal terletak pada dinding posterior abdomen terutama di daerah lumbal, disebelah kanan dan kiri tulang belakang dibungkus lapisan lemak, dibelakang peritorium (Price & Wilson, 1995). Ginjal diliputi oleh kapsula ginjal yang terdiri atas jaringan penyambung padat. Bagian luar ginjal disebut kortek dan bagian dalam medula. Pada bagian medula banyak terdapat nefron (unit fungsional ginjal) yang terdiri dari korpus renal, tubulus kontortus proksimal, ansa henle dan tubulus kontortus distalis. Setiap korpus renal bergaris tengah kira-kira 200 m dan terdiri atas seberkas kapiler glomerulus yang dikelilingi oleh kapsula bowman (Junqueira & Carneiro, 1997). Struktur mikroanatomi ginjal terdapat pada gambar 2.1 dan 2.2.

11

Gambar 2.1. Ginjal : Korpuskulum Renal dan Aparatus Jukstaglomerular (Eroschenko, 2003)

Gambar 2.2. Kortek Ginjal : Aparatus Jukstaglomerular (Eroschenko, 2003) Glomerulus adalah suatu organ epitelio-vaskuler yang dirancang untuk filtrasi ultra dari plasma. Kecuali pada infundibulum yang mengandung arteriol aferen dan eferen, glomerulus secara keseluruhan tertutup oleh kapsula bowman yang berbentuk mangkok dan dilapisi sel epitel parietal. Kapiler glomerulus dilapisi oleh lapisan endotelium, berlubang pori-pori dengan diameter kurang lebih 100 nm dan terletak pada membrana basalis. Di bagian

12

luar membrana basalis adalah sel epitel viseral (podosit) (Robbins & Kumar, 1995). Pada kutub urinarius dari korpuskulus renal, epitel gepeng dari lapisan parietal kapsula Bowman berhubungan langsung dengan epitel silindris dari tubulus kontortus proksimal. Tubulus ini lebih panjang dari tubulus kontortus distal dan karenanya tampak lebih banyak dekat korpuskulus renal dalam labirin korteks. Tubulus kontortus proksimalis dilapisi oleh epitel selapis kuboid atau silindris. Sel-sel epitel ini memiliki sitoplasma asidofilik yang disebabkan oleh adanya mitokondria panjang dalam jumlah besar. Apek sel memiliki banyak mikrovili dengan panjang kira-kira 1 m, yang membentuk suatu brushborder yang menambah luas permukaan penyerapan (Junqueira & Carneiro, 1997). Karena selnya besar, setiap potongan melintang tubulus proksimalis mengandung hanya 3 sampai 5 inti bulat, biasanya terletak pada pusat sel (Junqueira & Carneiro, 1997). Tubulus kontortus proksimalis berlanjut sebagai ansa henle. Ansa henle adalah struktur berbentuk U terdiri atas ruas tebal desenden, dengan struktur yang sangat mirip tubulus kontortus proksimalis; ruas tipis desenden; ruas tipis asenden; dan ruas tebal asenden, yang strukturnya sangat mirip tubulus kontortus distal. Di medula bagian luar, ruas tebal desenden dengan garis tengah luar sekitar 60 m, secara mendadak menipis sampai sekitar 12 m dan berlanjut sebagai ruas tipis desenden. Lumen ruas nefron ini lebar karena dindingnya terdiri atas sel epitel gepeng yang intinya hanya sedikit menonjol ke dalam (Junqueira & Carneiro , 1997).

13

Tubulus kontortus distalis merupakan bagian akhir dari nefron. Tubulus ini dilapisi oleh epitel selapis kuboid. Lumen tubulus distal lebih besar, dan karena sel-sel tubulus distal lebih gepeng dan lebih kecil dari yang ada di tubulus proksimalis, maka tampak lebih banyak sel dan inti pada dinding tubulus distal (Junqueira & Carneiro , 1997). Struktur histologi ginjal dalam keadaan normal mempunyai ciri sebagai berikut: sel berbentuk polihedral, inti bundar berwarna jernih dan terletak di dalam sel, sitoplasma tampak jernih, lumen dalam keadaan terbuka serta sel epitel yang terdapat dalam tubulus menempel pada membrana basalis (Leeson et al, 1993). Sedangkan menurut Robbins dan Kumar (1992), glomerulus dalam keadaan normal secara keseluruhan tertutup oleh kapsula bowman yang berbentuk mangkok dan dilapisi oleh endotelium berlubang berpori-pori yang terletak pada membrana basalis dan dibagian luar membrana basalis adalah sel epitel viseral (podosit). 2.2. Fisiologi Ginjal Ginjal mengatur komposisi kimia dari lingkungan dalam melalui suatu proses majemuk yang melibatkan filtrasi, absorpsi aktif, absorpsi pasif dan sekresi. Filtrasi terjadi dalam glomerulus, tempat ultrafiltrat dari plasma darah terbentuk. Tubulus nefron terutama tubulus kontortus proksimalis

mengabsorbsi zat-zat dalam substrat yang berguna bagi metabolisme tubuh, sehingga memelihara homeostatis lingkungan dalam (Junqueira & Carneiro, 1997). Filtrasi juga memindahkan produk sisa tertentu dari darah ke dalam lumen tubulus, yang dikeluarkan bersama urin. Dalam keadaan tertentu,

14

dinding duktus koligens dapat ditembus air, sehingga membantu memekatkan urin, yang umumnya hipertonik terhadap plasma darah. Dengan cara ini, organisme mengatur air, cairan interselular, dan keseimbangan osmotiknya. (Junqueira & Carneiro, 1997). Ginjal mempunyai beberapa fungsi lain, seperti pengaturan tekanan darah dan volume darah. Pengaturan ini diperantarai oleh sistem reninangiotensin-aldosteron. Renin, suatu enzim proteolitik dibentuk dalam sel dari aparat juxtaglomerulat dan mengkatalisis perubahan angiotensin plasma menjadi angiotensin I. Yang terakhir, suatu dekapeptida diubah dalam paruparu menjadi angiotensin II oleh suatu enzim yamg menghilangkan dipeptida dari akhir terminal C (Lu, 1995). 2.3. Kerusakan Ginjal Seperti halnya hati, ginjal juga rawan terhadap zat-zat kimia. Oleh karena itu, zat kimia yang terlalu banyak berada di dalam ginjal diduga akan mengakibatkan kerusakan sel, seperti piknosis dan kongesti. Piknosis atau pengerutan inti merupakan homogenisasi sitoplasma dan peningkatan eosinofil. Piknosis ini merupakan tahap awal kematian sel (nekrosis). Tahap berikutnya yaitu inti pecah (karioreksis) dan inti menghilang (kariolisis). Piknosis dapat terjadi karena adanya kerusakan di dalam sel antara lain kerusakan membran yang diikuti oleh kerusakan mitokondria dan aparatus golgi sehingga sel tidak mampu mengeliminasi air dan trigliserida sehingga tertimbun dalam sitoplasma sel. Pada ginjal, piknosis paling banyak terjadi pada tubulus proksimalis karena di tubulus inilah terjadi proses reabsorbsi sehingga peluang terjadinya

15

kerusakan akibat dari toksikan paling tinggi. Kongesti adalah terjadinya bendungan darah pada glomerulus. Hal ini disebabkan karena adanya kerusakan pada badan malpighi sehingga sel-sel darah merah dapat menembus glomerulus. Nekrosis merupakan kematian sel jaringan akibat jejas saat individu masih hidup. Secara mikroskopik terjadi perubahan intinya yaitu hilangnya gambaran khromatin, inti menjadi keriput, tidak vasikuler lagi, inti tampak lebih padat, warnanya gelap hitam (piknosis), inti terbagi atas fragmenfragmen, robek (karioreksis), inti tidak lagi mengambil warna banyak karena itu pucat tidak nyata (kariolisis) (Himawan, 1992). Nekrosis dapat disebabkan oleh bermacam-macam agen etiologi dan dapat menyebabkan kematian dalam beberapa hari. Diantara agen penyebabnya yaitu : racun kuat (misal fosfor, jamur beracun arsen dan lainya), gangguan metabolik (biasanya pada metabolisme protein), infeksi virus yang menyebabkan bentuk fluminan atau maligna virus (Thomas, 1988). Nekrosis tubulus adalah lesi ginjal yang reversibel dan timbul pada suatu sebaran kejadian klinik. Kebanyakan kasus ini disebabkan oleh trauma berat, pankreatitis akut sampai septikemia, pada umumnya suatu periode tidak cukup aliran darah ke organ-organ perifer, biasanya disertai hipotensi dan syok (Robbins dan Kumar, 1992). Menurut Cotran (1990), kerusakan ginjal yang berupa nekrosis tubulus disebabkan oleh sejumlah racun organik. Hal ini terjadi karena pada sel epitel tubulus terjadi kontak langsung dengan bahan yang direabsorbsi, sehingga sel epitel tubulus ginjal dapat mengalami

16

kerusakan berupa degenerasi melemak ataupun nekrosis pada inti sel ginjal. Menurut Price & Wilson (1995), kematian sel yang disebabkan oleh nekrosis tubulus dapat ditandai dengan menyusutnya inti sel atau ketidakaktifan inti sel tubulus. Inti sel tubulus yang tidak aktif dengan pewarnaan Hematoksilin Eosin akan terlihat lebih padat dan gelap bila dibandingkan dengan inti sel tubulus yang normal. Selain itu, kerusakan yang dapat terjadi pada ginjal adalah vakuolisasi glomerulus. Vakuolisasi glomerulus adalah proses terbentuknya rongga-rongga pada sel-sel dinding kapiler glomerulus. Pada keadaan normal, glomerulus tidak dapat ditembus oleh partikel yang berukuran besar (makromolekul) atau yang telah berikatan dengan protein plasma. Namun pada keadaan patologis, kelulusan membran filtrasi glomerulus meningkat sehingga makromolekul dan zat toksik yang telah berikatan dengan protein plasma dapat lolos dari penyaringan glomerulus. Akibatnya terjadilah vakuola-vakuola pada

glomerulus yang dapat menghambat efektifitas proses penyaringan. Anderson (1995) mengatakan bahwa pada saat sel mati berubah secara kimiawi, jaringan hidup yang bersebelahan memberikan respon terhadap perubahan itu dan menimbulkan reaksi peradangan. Peradangan sel merupakan reaksi vaskuler yang hasilnya merupakan pengiriman cairan, zat-zat terlarut dan sel-sel dari sirkulasi darah ke jaringan interstesial pada daerah cedera atau nekrosis. Peradangan adalah gejala pertahanan yang hasilnya akan

menetralisasi dan pembuangan agen penyerang, penghancuran jaringan nekrosis, dan pembentukan keadaan yang dibutuhkan untuk perbaikan dan

17

pemulihan. Dalam pertahanan biasanya terdapat sel-sel darah putih yang akan melumpuhkan senyawa asing. Baratawidjaya (2002), mengatakan bahwa inflamasi atau reaksi peradangan merupakan mekanisme penting yang diperlukan tubuh untuk mempertahankan diri dari berbagai bahaya yang mengganggu keseimbangan juga memperbaiki struktur serta gangguan fungsi jaringan yang ditimbulkan bahaya tersebut. Inflamasi adalah reaksi terhadap benda asing yang masuk ke dalam tubuh, invasi mikroorganisme, trauma bahan kimia yang berbahaya, faktor fisik dan alergi. Inflamasi ditandai dengan perpindahan cairan protein plasma dan leukosit dari sirkulasi darah (pembuluh darah) menuju ke jaringan sebagai respon terhadap bahaya. Inflamasi dapat dicirikan dengan kemerahan (eritem), panas, bengkak (edema), dan sakit. Pada saat inflamasi terjadi vasodilatasi dengan peningkatan permeabilitas pembuluh darah dan pelebaran pembuluh darah.

3. Tempe dan Kandungannya Tempe adalah salah satu makanan tradisional yang dibuat dari kedelai melalui proses fermentasi jamur, terutama Rhizopus sp. Tempe dapat dibuat dari berbagai bahan, tetapi kebanyakan tempe dibuat dari kedelai. Tempe merupakan makanan bergizi tinggi sehingga makanan ini mempunyai arti strategis dan sangat penting untuk pemenuhan gizi ( Pawiroharsono, 2001). Komposisi gizi tempe baik kadar protein, lemak, dan karbohidratnya tidak banyak berubah dibandingkan dengan kedelai. Namun, karena adanya enzim pencernaan yang dihasilkan oleh kapang tempe, maka protein, lemak,

18

dan karbohidrat pada tempe menjadi lebih mudah dicerna dalam tubuh dibandingkan yang terdapat dalam kedelai. Dibanding kedelai, terdapat beberapa hal yang menguntungkan pada tempe. Secara kimiawi hal ini bisa dilihat dari meningkatnya kadar padatan terlarut, nitrogen terlarut, asam amino bebas, asam lemak bebas, nilai cerna, nilai efisiensi protein serta skor proteinnya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa zat gizi tempe lebih mudah dicerna, diserap dan dimanfaatkan tubuh dibandingkan dengan yang ada dalam kedelai (Astawan, 2003). Kandungan zat gizi tempe dapat dilihat pada Tabel 2.1. Tabel 2.1. Kandungan Zat Gizi Tempe Zat gizi satuan Komposisi zat gizi 100 gram / bdd 201 20,8 8,8 13,5 1,4 1,6 155 326 4 34 0 0,19 0 55,3

Energi Kal Protein gram Lemak gram Hidrat Arang gram Serat gram Abu gram Kalsium mg Fosfor mg Besi mg Karotin mkg Vitamin A SI Vitamin B1 mg Vitamin C mg Air gram Bdd (berat yang dapat % 100 dimakan) Sumber: Komposisi Zat Gizi Pangan Indonesia Depkes RI Dir. Bin. Gizi Masyarakat dan Puslitbang Gizi 1991 dalam Widianarka, 2000

Lebih dari itu tempe mempunyai keunggulan lain yaitu mempunyai kandungan senyawa aktif, teknologi pembuatannya sederhana, harganya

19

murah, mempunyai cita rasa enak dan mudah dimasak (Pawiroharsono, 2001). Tempe dapat dikonsumsi dalam berbagai variasi olahan. Selain sebagai lauk pauk, tempe dapat diolah menjadi berbagai bentuk makanan lain, seperti tepung tempe. Tempe yang ditepungkan mempunyai kemungkinan lebih luas untuk dikonsumsi, dapat disimpan lebih lama dan lebih awet dibanding tempe segar (Kasmidjo 1990). Menurut Sarwono (1998), tepung tempe dapat ditambahkan pada makanan lain tanpa merubah citarasa makanan yang ditambahkan. Berbagai macam senyawa yang terkandung dalam tempe, antara lain dapat berkhasiat menurunkan kadar kolesterol dalam darah dan mencegah peningkatan kadar lipid darah sehingga dapat menghindari terjadinya penyakit jantung koroner. Senyawa protein, asam lemak PUFA, serat, niasin, dan kalsium di dalam tempe dapat mengurangi jumlah kolesterol LDL. Tempe bisa melindungi wanita dari serangan dari berbagai jenis kanker, semisal kanker payudara, kanker alat reproduksi dan sejenisnya. Senyawa dalam tempe yang diduga memiliki aktivitas anti penyakit degeneratif antara lain, vitamin E, karotenoid, superoksida desmutase, dan isoflavon (Anonim, 2004). Vitamin E dan karotenoid adalah anti oksidan non enzimatik dan lipotik yang mampu memberikan satu ion hidrogen kepada radikal bebas, sehingga radikal bebas tersebut stabil dan tidak ganas lagi (Anonim, 2004). Tempe diketahui juga mengandung superoksida desmutase, enzim yang dapat mengendalikan radikal bebas hidroksin yang sangat ganas, sekaligus memicu tubuh untuk membentuk superoksida itu sendiri. Superoksida

20

desmutase ini merupakan salah satu senyawa kunci kehebatan tempe untuk mencegah kanker, yang kini tengah di teliti secara intensif di Jerman (Intisari, 2004). Tiga jenis isoflavon yang terdapat pada kedelai adalah daidzein, glisetein, dan genistein, semuanya berupa molekul yang terikat pada gula (glikosida) dan secara struktural mirip dengan estrogen alami dalam tubuh (Frerking, 2003 dalam Miladiyah, 2004). Ketiga isoflavon ini akan mengalami proses metabolisme dalam usus oleh beta-glukosidase yang akan diubah menjadi genistein, daidzein dan glisetein dalam bentuk tidak terikat dengan gula / aglikon (Arditi, 2003 dalam Miladiyah, 2004). Metabolisme isoflavon dapat dilihat pada Gambar 2.3. Isoflavon pada tempe berpotensi sebagai anti tumor atau anti kanker. Dari sejumlah senyawa isoflavon yang banyak disebut-sebut sebagai anti tumor / anti kanker adalah genistein yang merupakan isoflavon aglikon (bebas). Potensi tersebut antara lain menghambat perkembangan sel kanker payudara dan sel kanker hati (Pawiroharsono, 2001). Selain ketiga jenis isoflavon tersebut juga terdapat antioksidan faktor II (6,7,4 tri-hidroksi isoflavon) yang mempunyai sifat antioksidan paling kuat dibandingkan dengan isoflavon dalam kedelai. Antioksidan ini disintesis pada saat terjadinya proses fermentasi kedelai menjadi tempe oleh bakteri Micrococcus luteus dan Coreyne bacterium (Astawan, 2003). Faktor II (6,7,4 tri-hidroksi isoflavon) dipandang sebagai senyawa yang sangat prospektif sebagai anti oksidan (10 X aktivitas dari vitamin A atau karboksi kroman dan sekitar 3 X dari senyawa isoflavon aglikon lainnya pada tempe) serta anti hemolitik (Pawiroharsono, 2001).

21

Isoflavon (Glikosida/aglikon)

Lambung

Hati Jalur 1 Glukuronida Absorpsi Ekskresi Empedu Aglikon

Usus Halus
Glikosidase

Glikosida

Kolon

Ekskresi Feses (1-2%)

Aktivitas Farmakologik (1 %)

Ginjal Ekskresi Urin (1-25%)

Gambar 2.3. Diagram Metabolisme Isoflavon (Turner dkk, 2003) Penghambatan sel kanker oleh genistein dikemukakan oleh Peterson, dkk melalui mekanisme : penghambatan pembelahan sel (baik sel normal maupun sel yang terinduksi oleh faktor pertumbuhan sitokinin) akibat penghambatan dan pembentukan membran sel, khususnya penghambatan pembentukan protein yang mengandung tirosin, sifat antioksidan dan antiangiogenik, sifat mutagenik pada gen endogen, penghambatan aktivitas enzin DNA isomerase (Achyadi, 2004). Dalam beberapa penelitian dengan pemberian suplemen isoflavon, data

22

menunjukkan bahwa terapi isoflavon menurunkan densitas kanker payudara pada wanita-wanita monopause, tetapi hal ini tidak terjadi pada wanita premonopause. Peran isoflavon dalam mengurangi resiko kanker ini diduga melalui beberapa mekanisme (Frerking, 2003 dalam Miladiyah, 2004) yaitu: 1). Penghambatan terhadap enzim tirosin kinase, yaitu suatu enzim yang memacu pertumbuhan sel-sel kanker. Hal ini diyakini merupakan mekanisme utama pencegahan kanker oleh isoflavon; 2). Penghambatan angiogenesis oleh genestein, sehingga akan menghambat pertumbuhan sel-sel kanker.

Angiogenesis merupakan faktor penting yang menyebabkan sel kanker dapat berkembang; 3). Sebagai antioksidan. Antioksidan paling potensi dalam isoflavon kedelai adalah genistein, diikuti oleh daidzein bekerja dengan menghambat timbulnya radikal bebas yang yang dapat merusak DNA sehingga dalam jangka panjang dapat mengurangi resiko kanker; 4). Pengaktifan sistem imun. Dua penelitian terbaru dari tim peneliti Amerika dan Cina pada penelitian terhadap tikus percobaan, didapat bahwa daidzein mengurangi resiko kanker dengan cara meningkatkan aktivasi sel T dan makrofag.

23

B. Kerangka Berpikir dan Hipotesis 1. Kerangka Berpikir

Tepung tempe (Isoflavon)

Transplantasi sel kanker mamma

Sel Target (payudara)

Mencit C3H

Sel Non Target

Hati

Hambat Enzim tirosin kinase

Ginjal

Proses mitosis pada fase metafase terhambat

Hambatan progresifitas sel kanker >>

2. Hipotesis Berdasarkan tinjauan pustaka dan kerangka pikir maka hipotesis yang diajukan adalah :Tepung tempe mempengaruhi jaringan kanker mamma dan tidak ada pengaruh pada gambaran mikroanatomi ginjal mencit galur C3H yang ditransplantasi sel kanker mamma.

BAB III METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di laboratorium jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang selama 4 bulan. Sedangkan pembuatan preparat ginjal dilakukan di Badan Penyelidikan Penyakit Hewan (BPPH)/ Balai Besar Veteriner (BBVet), Wates, Yogyakarta.

B. Populasi dan Sampel Penelitian Populasi yang digunakan yaitu mencit galur C3H yang mempunyai umur 2-3 bulan dengan berat sekitar 20-30 gram. Sampel dalam penelitian ini adalah mencit betina galur C3H berjumlah 15 ekor yang disampling secara acak dari seluruh populasi penelitian.

C. Variabel Penelitian 1. Variabel bebas yaitu perlakuan pemberian tepung tempe dengan berat 0,2 gram dan 0,02 gram. 2. Variabel tergantung berupa volume jaringan kanker mamma, dan struktur mikroanatomi ginjal mencit dengan parameter kerusakan bagian glomerulus dan tubulus. 3. Variabel kendali : galur, jenis kelamin, umur, berat badan mencit, dan pakan.

24

25

D. Rancangan Penelitian Penelitian dilaksanakan secara eksperimental dengan rancangan post test randomized control design. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Materi yang digunakan relatif sama yaitu strain, jenis kelamin, berat badan, umur mencit dan volume cairan kanker yang diinjeksikan ke tubuh mencit. Dalam penelitian ini terdapat 3 kelompok yang terdiri dari 2 kelompok perlakuan dan 1 kelompok kontrol, masing-masing kelompok terdiri dari 5 ekor mencit atau 5 ulangan. Cara pengelompokan , perlakuan, dan pengulangan dapat dilihat pada tabel 3.1. Tabel 3.1. Cara Pengelompokan, Perlakuan, dan Pengulangan Ulangan K 1 2 3 4 5 Pakan standar Pakan standar Pakan standar Pakan standar Pakan standar Kelompok P1 Tepung tempe 0,02 g + pakan standar Tepung tempe 0,02 g + pakan standar Tepung tempe 0,02 g + pakan standar Tepung tempe 0,02 g + pakan standar Tepung tempe 0,02 g + pakan standar P2 tepung tempe 0,2 g + pakan standar tepung tempe 0,2 g + pakan standar tepung tempe 0,2 g + pakan standar tepung tempe 0,2 g + pakan standar tepung tempe 0,2 g + pakan standar

26

Skema : S0 TK S0 H1 O1

S1

TP1

S1

H2

O2

S2

TP2

S2

H3

O3

Keterangan : A-R : Masa adaptasi R : Randomisasi S0 : Tanpa suplementasi tepung tempe S1 : Suplementasi tepung tempe 0,02 g S2 : Suplementasi tepung tempe 0,2 g TK : Transplantasi sel kanker mamma pada kelompok kontrol TP1 : Transplantasi sel kanker mamma pada kelompok P1 TP2 : Transplantasi sel kanker mamma pada kelompok P2 H1 : Terminasi kelompok kontrol setelah 2-3 minggu H2 : Terminasi kelompok perlakuan 1 setelah 2-3 minggu H3 : Terminasi kelompok perlakuan 2 setelah 2-3 minggu O1 : Observasi pada kelompok kontrol O2 : Observasi pada kelompok perlakuan 1 O3 : Observasi pada kelompok perlakuan 2

E. Alat dan Bahan Penelitan 1. Alat Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kandang mencit dan lengkap tempat pakan dan minumnya; timbangan ohaus untuk menimbang berat badan mencit; peralatan bedah; botol-botol flakon untuk menempatkan organ ginjal; seperangkat alat untuk membuat preparat mikroanatomi ginjal mencit; mikroskop binokuler; jangka sorong; timbangan elektrik untuk menimbang pakan; alat suntik; gelas beker, cawan petri; blender; dan oven.

27

2. Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah mencit galur C3H betina umur 2-3 bulan dengan berat badan 20-30 gram; tempe; pakan standar; air minum; mencit galur C3H yang telah ditransplantasi kanker mamma sebagai donor; alkohol 70%, kapas dan tissue; asam pikrat untuk menandai mencit; khloroform untuk pembedahan; reagen-reagen untuk pembuatan preparat mikroanatomi hepar mencit; dan garam Fisiologis.

F. Prosedur Penelitian 1. Persiapan penelitian a. Menyiapkan kandang mencit lengkap dengan tempat pakan dan minum. b. Menyiapkan hewan uji berupa mencit galur C3H sebanyak 15 ekor dan mengadaptasikan dalam kandang perlakuan masing-masing. c. Menyiapkan pakan (campuran tepung tempe dan pelet) Tempe segar yang diiris tipis kemudian dikering-anginkan lalu dibuat tepung. Tepung tempe yang jadi dicampur dengan pelet yang sudah diblender kemudian di taruh di oven dengan suhu 30o C. d. Menyiapkan mencit donor Mencit donor diperoleh dari Fakultas Kedokteran Universitas

Diponegoro. e. Menimbang berat badan mencit untuk menyeragamkan dan menentukan dosis yang tepat.

28

2. Pelaksanaan penelitian a. Membagi mencit secara acak menjadi 3 kelompok dengan tiap kelompok terdiri 5 ekor, kemudian menempatkan mencit dalam kandang sesuai kelompok masing-masing. b. Memberi perlakuan terhadap mencit sesuai dosis yaitu 0,02 gram dan 0,2 gram. Dosis yang diberikan dikonversi dari dosis yang digunakan dalam penelitian Bintari (2004), yaitu 1000 mg/kg diet/hari. c. Menimbang berat badan mencit 2 kali tiap minggu. d. Setelah 1 bulan perlakuan, mencit ditransplantasi dengan sel kanker mamma yang berasal dari mencit donor, yaitu dengan cara kanker pada mencit donor dibedah kemudian ditaruh di cawan petri yang berisi garam fisiologis. Setelah itu, jaringan kanker dipotong-potong sekecil mungkin hingga menjadi bubur. Kemudian menyuntikkan 0,2 ml jaringan kanker tersebut pada mencit perlakuan dan kontrol. e. Memberi perlakuan terhadap mencit seperti pada poin b. f. Setelah ada mencit yang mati karena adanya kanker tersebut, maka semua mencit yang diperlakukan mulai dibedah untuk mengambil kanker dan organ ginjalnya. g. Menimbang berat jaringan kanker dari tiap-tiap kelompok. h. Mengukur volume jaringan kanker dengan cara menaruh jaringan tersebut pada beker gelas yang berisi air 50 ml. Volume dihitung dari pengurangan volume air dengan volume air + jaringan kanker. i. Membuat preparat mikroanatomi ginjal (Lampiran 4).

29

G. Analisis Data Berdasarkan rancangan penelitian yang telah disusun, maka hasil data volume jaringan kanker diolah dengan menggunakan uji statistik ANAVA satu jalan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Parameter yang digunakan adalah volume jaringan kanker. Sedangkan data gambaran mikroskopis organ ginjal dianalisis dengan mendiskripsikan dan

membandingkan struktur anatomi ginjal mencit galur C3H dari kelompok perlakuan dan kontrol serta kelompok normal, yaitu dengan mengidentifikasi kerusakan sel ginjal yang terjadi pada masing-masing kelompok. Rumus-rumus analisis anava satu jalan (Schelfer, 1987). a. Derajat Kebebasan (dB) dB total = (k x n ) - 1

dB perlakuan = (k- 1) dB galat = k (n 1)

Dimana k = perlakuan n = ulangan b. Jumlah Kuadrat (JK)

JK Total =

X2 -

X
nT

( X ) JK Perlakuan =
i

X
nT

JK Galat = JK Total JK Perlakuan

30

c. Rerata Kuadrat KRP =

JKPerlakuan dbPerlakaun

KRG =

JKGalat dbGalat

d. F Hitung F Hitung =

KRP KRG

e. Signifikan Uji F Untuk menentukan apakah hasil uji F nyata ( signifikan ) atau tidak maka nilai F hitung dibandingkan dengan nilai F Tabel. Jika F hitung > F tabel pada taraf kepercayaan 5 % maka nilai ujinya dinyatakan signifikan berarti pemberian tepung tempe berpengaruh signifikan (p < 0,05 ) terhadap volume jaringan kanker mamma. f. Uji Beda Nyata Terkecil (Uji BNT) Apabila uji F signifikan, maka untuk mengetahui apakah ada perbedaan pada masing-masing kelompok dan sub kelompok dilakukan uji BNT. Menurut (Schelfer, 1987), rumus yang digunakan dalam uji BNT adalah sebagai berikut : BNT=5% = t1/2=5% . db
2 KRGalat r

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian 1. Volume Jaringan Kanker Mamma Setelah pemberian tepung tempe (sebelum dan sesudah

transplantasi sel kanker mamma) terhadap mencit C3H, dilakukan pembedahan dan pengukuran volume jaringan kanker. Hasil pengukuran volume jaringan kanker kelompok perlakuan K, P1, P2 dapat dilihat pada Tabel 4.1 dibawah ini. Tabel 4.1. Ukuran Volume Jaringan Kanker Mamma Pada Mencit Galur C3H Ulangan 1 2 3 4 5 Rata-rata Volume (ml) K 14 15 16 13 14 14,4 P1 10 10 13 14 14 14 P2 0 12 12 11 12 9,4

Keterangan : K : Kontrol, kelompok yang ditransplantasi sel kanker mamma dan tidak diberi suplemen tepung tempe + pakan standar. P1 : Mencit yang ditransplantasi sel kanker mamma dan diberi suplemen tepung tempe 0,02 g sebelum dan sesudah transplantasi + pakan standar. P2 : Mencit yang ditransplantasi sel kanker mamma dan diberi suplemen tepung tempe 0,2 g sebelum dan sesudah transplantasi + pakan standar.

31

32

Untuk memperjelas hasil rata-rata ukuran volume jaringan kanker mamma dapat dilihat pada Gambar 4.1.
16 14 Rata-rata Volume (ml) 12 10 8 6 4 2 0 0 1 2 Dosis (Gram) 3 0.02 0.2 9.4 14.4 14

Gambar 4.1. Diagram Rata-rata Volume Jaringan Kanker Mamma Pada Mencit Galur C3H Pada data tersebut dapat dilihat bahwa volume jaringan kanker mamma cenderung berkurang seiring dengan peningkatan dosis tepung tempe yang diberikan. Untuk mengetahui pengaruh pemberian tepung tempe terhadap volume jaringan kanker mamma, data dianalisis dengan anava satu jalan (Schelfer, 1987). Ringkasan hasil perhitungannya dapat dilihat pada Tabel 4.2. Tabel 4.2. Ringkasan Analisis Varian Satu Jalan Terhadap Ukuran Volume Jaringan Kanker Mamma Pada Mencit Galur C3H SK db JK KR Fh Ft 5 % Perlakuan Galat Total 2 12 14 77,2 118,4 195,6 38,6 9,87 3,91* 3,88

*Signifikan pada 0,05 Perhitungan selanjutnya dapat dilihat pada Lampiran 5.

33

Hasil perhitungan anava satu jalan menunjukkan bahwa F hitung (Fhit) lebih besar daripada F tabel (Ftab). Hal ini berarti pemberian tepung tempe berpengaruh (p<0,05) terhadap volume jaringan kanker mamma. Untuk mengetahui perbedaan antar kelompok mencit dilakukan uji BNT pada 5 % dan hasilnya terdapat pada Tabel 4.3. Tabel 4.3. Hasil Uji BNT Terhadap Volume Jaringan Kanker Mamma Pada Mencit Galur C3H. Kelompok K P1 P2 BNT 5% 14,4a 14a 9,4b

Signifikan pada 0,05. a dan b menunjukkan perbedaan signifikan. Perhitungan selanjutnya dapat dilihat pada Lampiran 6. Uji BNT untuk menunjukkan perbedaan antar kelompok. Dari hasil diketahui bahwa kelompok kontrol (K) dan kelompok P1 tidak berbeda nyata dan keduanya berbeda nyata dengan kelompok P2. Sedangkan kelompok P2 berbeda nyata dengan kelompok kontrol (K)

dan kelompok P1.

2. Gambaran Mikroanatomi Ginjal Mencit Galur C3H Hasil penelitian diperoleh dari pengamatan terhadap preparat irisan ginjal mencit galur C3H yang ditransplantasi sel kanker mamma menggunakan mikroskop cahaya dengan perbesaran 400 kali

34

menunjukkan adanya perubahan pada sel ginjal mencit C3H tersebut. Untuk hasil pengamatan struktur histologi ginjal mencit dapat dilihat pada Tabel 4.4. Tabel 4.4. Data Struktur Mikroanatomi Ginjal Mencit Galur C3H Kelompok K P1 P2 Perubahan Sel NT, R NT, R NT, R

Keterangan : K : Kontrol, kelompok yang ditransplantasi sel kanker mamma dan tidak diberi suplemen tepung tempe + pakan standar. P1 : Mencit yang ditransplantasi sel kanker mamma dan diberi suplemen tepung tempe 0,02 g sebelum dan sesudah transplantasi + pakan standar. P2 : Mencit yang ditransplantasi sel kanker mamma dan diberi suplemen tepung tempe 0,2 g sebelum dan sesudah transplantasi + pakan standar. NT : Nekrosis Tubulus R : Infiltrasi sel radang

Data dari pengamatan dapat diketahui bahwa masing-masing kelompok memperlihatkan perubahan sel dengan adanya nekrosis tubulus dan infiltrasi sel radang, dimana ketiga kelompok perlakuan menunjukkan tingkat perubahan yang hampir sama. Pada kelompok K (kontrol) yang tidak diberi tepung tempe, ditemukan adanya perubahan yaitu nekrosis tubulus dan infiltrasi sel radang dalam jumlah sedikit. Pada kelompok P1 yang diberi tepung tempe 0,02 gram, setelah dilakukan pembedahan ditemukan bahwa sel ginjal

35

mengalami perubahan dengan adanya nekrosis tubulus dan infiltrasi sel radang. Sedangkan pada kelompok P2 yang mendapat perlakuan tepung tempe 0,2 gram, tampak sel mengalami nekrosis tubulus dan infiltrasi sel radang dalam jumlah sedikit. Struktur mikroanatomi ginjal untuk kelompok K, P1 dan P2 dapat dilihat pada Gambar 4.2, 4.3, dan 4.4.

R NT Gambar 4.2. Struktur mikroanatomi ginjal mencit pada kelompok kontrol. Perbesaran 200x. Keterangan, NT: Nekrosis Tubulus ; R: Infiltrasi sel radang. Pewarnaan HE.

36

NT R

Gambar 4.3. Struktur mikroanatomi ginjal mencit pada kelompok perlakuan tepung tempe 0,02 gram (P1). Perbesaran 400x. Keterangan, G: glomerulus; NT: Nekrosis Tubulus; R: Infiltrasi sel radang. Pewarnaan HE.

G NT R

Gambar 4.4. Struktur mikroanatomi ginjal mencit pada kelompok perlakuan tepung tempe 0,2 gram (P2). Perbesaran 400x. Keterangan, G: glomerulus; NT: Nekrosis Tubulus; R: Infiltrasi sel radang. Pewarnaan HE.

37

B. Pembahasan Dalam penelitian ini, mencit ditransplantasi dengan sel

adenocarcinoma mammae dan pemberian tepung tempe sebelum dan sesudah


transplantasi. Bubur kanker yang ditransplantasikan pada mencit oleh tubuh mencit resipien (inang) akan bereaksi sebagai benda asing. Oleh karena itu, sistem imun inang akan bereaksi terhadap pertumbuhan kanker. Sistem imun setiap individu tidak sama, karena itu setiap mencit resipien akan memberikan respon yang berbeda. Kanker mulai berproliferasi setelah melewati masa laten, proliferasi sel kanker diukur berdasarkan persentasi pertambahan volume kanker. Hasil uji statistik dengan analisis satu jalan dan uji lanjut BNT, menunjukkan bahwa pada kelompok perlakuan kontrol dengan kelompok perlakuan P1 volume jaringan kanker mamma keduanya tidak berbeda nyata. Hasil ini memperlihatkan bahwa pemberian tepung tempe sebanyak 0,02 mg tidak berpengaruh secara signifikan terhadap penghambatan volume jaringan kanker mamma. Kelompok perlakuan P2 setelah dilakukan uji lanjut ternyata berbeda nyata dengan kelompok perlakuan K dan P1 sehingga dapat diketahui bahwa pada kelompok P2 terjadi penghambatan volume jaringan kanker mamma yang signifikan. Hasil analisis varian satu jalan dan uji BNT terhadap volume jaringan kanker mamma menunjukkan bahwa antara kelompok K, P1, dan P2 terdapat perbedaan tingkat penghambatan sel kanker seiring dengan peningkatan konsentrasi tepung tempe yang diberikan. Tingkat penghambatan sel kanker

38

yang terdapat pada kelompok K (kontrol) lebih kecil dibandingkan kelompok P1. Sedangkan tingkat penghambatan sel kanker kelompok P1 lebih kecil dari kelompok P2. Jadi P2 mempunyai tingkat penghambatan sel kanker yang lebih tinggi diantara lainnya. Semakin banyak tepung tempe yang ditambahkan semakin kecil ukuran volume jaringan kanker mammanya. Semakin besar persentasi tepung tempe berarti semakin banyak isoflavon yang terkandung didalamnya, sehingga aktivitas isoflavon juga semakin tinggi. Pemberian tepung tempe ternyata mampu menghambat proliferasi sel kanker mamma. Penghambatan volume jaringan kanker mamma pada setiap kelompok perlakuan tersebut dapat dikemukakan bahwa tepung tempe dapat menghambat pertumbuhan sel kanker mamma. Mekanisme tempe dalam menghambat volume jaringan kanker mamma secara pasti belum dapat diketahui, dan ini diduga karena adanya peran isoflavon yang terkandung dalam tempe tersebut. Peran isoflavon dalam mengurangi resiko kanker mamma diduga melalui beberapa mekanisme (Frerking, 2003 dalam Miladiyah, 2004) : 1). Penghambatan terhadap enzim tirosin kinase, yaitu suatu enzim yang memacu pertumbuhan sel-sel kanker. Hal ini diyakini merupakan mekanisme utama pencegahan kanker oleh isoflavon; 2). Penghambatan angiogenesis oleh genestein, sehingga akan menghambat pertumbuhan sel-sel kanker. Angiogenesis merupakan faktor penting yang menyebabkan sel kanker dapat berkembang; 3). Sebagai antioksidan. Antioksidan paling potensi dalam isoflavon kedelai adalah genistein, diikuti

39

oleh daidzein bekerja dengan menghambat timbulnya radikal bebas yang yang dapat merusak DNA sehingga dalam jangka panjang dapat mengurangi resiko kanker; 4). Pengaktifan sistem imun. Daidzein mengurangi resiko kanker dengan cara meningkatkan aktivasi sel T dan makrofag. Selain itu juga, penghambatan sel kanker oleh genistein dikemukakan oleh Peterson, dkk (1997, dalam Achyadi, 2004) melalui mekanisme : penghambatan pembelahan sel (baik sel normal maupun sel yang terinduksi oleh faktor pertumbuhan sitokinin) akibat penghambatan dan pembentukan membran sel, khususnya penghambatan pembentukan protein yang

mengandung tirosin, sifat antioksidan dan antiangiogenik, sifat mutagenik pada gen endogen, penghambatan aktivitas enzim DNA isomerase. Hasil pengamatan terhadap preparat irisan ginjal mencit galur C3H pada semua kelompok ditemukan adanya perubahan sel yang berupa nekrosis tubulus dan infiltrasi sel radang. Struktur histologi ginjal dalam keadaan normal mempunyai ciri sebagai berikut: sel berbentuk polihedral, inti bundar berwarna jernih dan terletak di dalam sel, sitoplasma tampak jernih, lumen dalam keadaan terbuka serta sel epitel yang terdapat dalam tubulus menempel pada membrana basalis (Leeson et al, 1993) Sedangkan menurut Robbins dan Kumar (1992), glomerulus dalam keadaan normal secara keseluruhan tertutup oleh kapsula bowman yang berbentuk mangkok dan dilapisi oleh endotelium berlubang berpori-pori yang terletak pada membrana basalis dan dibagian luar membrana basalis adalah sel epitel viseral (podosit).

40

Pada semua kelompok ditemukan adanya perubahan sel yang berupa nekrosis tubulus dan infiltrasi sel radang. Nekrosis merupakan kematian sel jaringan akibat jejas saat individu masih hidup. Secara mikroskopik terjadi perubahan inti yaitu hilangnya gambaran khromatin, inti menjadi keriput, tidak vasikuler lagi, inti tampak lebih padat, warnanya gelap hitam (piknosis), inti terbagi atas fragmen-fragmen, robek (karioreksis), inti tidak lagi mengambil warna banyak karena itu pucat tidak nyata (kariolisis) (Himawan, 1992). Menurut Price & Wilson (1995), kematian sel yang disebabkan oleh nekrosis tubulus dapat ditandai dengan menyusutnya inti sel atau ketidakaktifan inti sel tubulus. Inti sel tubulus yang tidak aktif dengan pewarnaan Hematoksilin Eosin akan terlihat lebih padat dan gelap bila dibandingkan dengan inti sel tubulus yang normal. Nekrosis dapat disebabkan oleh bermacam-macam agen etiologi dan dapat menyebabkan kematian dalam beberapa hari. Diantara agen

penyebabnya yaitu : racun kuat (misal fosfor, jamur beracun arsen dan lainya), gangguan metabolik (biasanya pada metabolisme protein), infeksi virus yang menyebabkan bentuk fulminan atau maligna virus (Thomas, 1988). Nekrosis tubulus yang terjadi pada semua kelompok bisa karena agen-agen etiologi tersebut. Selain itu, nekrosis bisa juga karena proses regenerasi sel. Menurut Robbins & Koemar (1992), sel akan mengalami proliferasi dan regenerasi untuk mengganti sel-sel yang lepas atau mati. Disamping itu sel tubulus ginjal termasuk dalam golongan sel yang bersifat stabil, artinya sel tersebut mampu beregenerasi secara aktif bila dalam keadaan rusak, tetapi dalam keadaan

41

normal sel tubulus ginjal tidak bertambah banyak secara aktif (Robbins dan Kumar, 1992). Kelainan yang terdapat pada perlakuan selain nekrosis adalah adanya infiltrasi sel radang. Anderson (1995) mengatakan bahwa pada saat sel mati (nekrosis) berubah secara kimiawi, jaringan hidup yang bersebelahan memberikan respon terhadap perubahan itu dan menimbulkan reaksi peradangan. Peradangan sel yang terjadi pada perlakuan merupakan suatu reaksi setempat dari sel terhadap suatu rangsang, dimana terjadi proses penghancuran rangsang yang biasanya disertai dengan kerusakan jaringan. Peradangan adalah gejala pertahanan yang hasilnya akan menetralisasi dan pembuangan agen penyerang, penghancuran jaringan nekrosis, dan

pembentukan keadaan yang dibutuhkan untuk perbaikan dan pemulihan. Dalam pertahanan biasanya terdapat sel-sel darah putih yang akan melumpuhkan senyawa asing. Baratawidjaya (2002), mengatakan bahwa inflamasi atau reaksi peradangan merupakan mekanisme penting yang diperlukan tubuh untuk mempertahankan diri dari berbagai bahaya yang mengganggu keseimbangan juga memperbaiki struktur serta gangguan fungsi jaringan yang ditimbulkan bahaya tersebut. Inflamasi adalah reaksi terhadap benda asing yang masuk ke dalam tubuh, invasi mikroorganisme, trauma bahan kimia yang berbahaya, faktor fisik dan alergi. Inflamasi ditandai dengan perpindahan cairan protein plasma dan leukosit dari sirkulasi darah (pembuluh darah) menuju ke jaringan sebagai respon terhadap bahaya. Inflamasi dapat dicirikan dengan kemerahan

42

(eritem), panas, bengkak (edema), dan sakit. Pada saat inflamasi terjadi vasodilatasi dengan peningkatan permeabilitas pembuluh darah dan pelebaran pembuluh darah. Perubahan sel ginjal yang terjadi pada hewan uji diduga bukan karena adanya isoflavon pada pemberian tepung tempe. Robinson (1995) menyatakan bahwa flavonoid (isoflavon) merupakan senyawa pereduksi yang baik yang menghambat reaksi oksidasi. Isoflavon dapat berfungsi sebagai estrogen selektif dalam pengobatan, menghasilkan efek menguntungkan (sebagai anti kanker dan menghambat atherosklerosis) tetapi tidak menimbulkan resiko (resiko kanker payudara dan endometrial) yang biasa dihubungkan dengan terapi pengganti hormon yang biasa dilakukan (Koswara, 2003). Isoflavon merupakan senyawa phytoestrogen yang menyerupai estrogen (estrogen-like) yang dapat berikatan dengan reseptor estrogen (Prawiroharsono, 2001).

Phytoestrogen sebenarnya adalah suatu bahan/substrat yang memiliki khasiat


mirip estrogen dan berasal dari tumbuh-tumbuhan. Khasiat estrogenik ini dapat terjadi karena phytoestrogen ini juga memiliki dua gugus -OH/hidroksil yang berjarak 11.0-11,5 Ang-strom pada intinya, sama persis dengan inti estrogen sendiri. Para peneliti telah sepakat, bahwa jarak 11 Angstrom dari gugus -OH inilah yang menjadi struktur pokok suatu substrat agar mempunyai efek estrogenik, yakni memiliki afinitas tertentu untuk dapat "menduduki" estrogen

receptors. Substrat-substrat tersebut baru akan berefek estrogenik apabila telah


berikatan dengan reseptor-reseptor estrogen tersebut (Achadiat, 2002). Walaupun ikatannya lemah, tetapi dengan reseptor estrogen beta ( -ER)

43

mempunyai ikatan sama dengan estrogen (Prawiroharsono, 2001). Jaringan yang memiliki reseptor estrogen (alfa dan beta) adalah kulit, otak, tulang, uterus, ovarium, kardiovaskular, dan payudara. Sedangkan beta terdapat pada traktus gastrointestinal (saluran pencernaan, usus) (Wed, 2004).

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan Dari hasil penelitian dan pembahasan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Tepung tempe berpengaruh pada penghambatan jaringan kanker mamma pada mencit galur C3H yang ditransplantasi sel Adenocarcinoma

mammae.
2. Tepung tempe tidak mempengaruhi struktur mikroanatomi ginjal pada mencit galur C3H yang ditransplantasi sel Adenocarcinoma mammae. B. Saran Berdasarkan kesimpulan di atas maka saran yang perlu diperhatikan adalah : 1. Perlu adanya penelitian lebih lanjut tentang pengaruh pemberian tepung tempe terhadap jaringan kanker mamma pada mencit galur C3H yang ditransplantasi sel Adenocarcinoma mammae 2. Perlu adanya penelitian lebih lanjut tentang pengaruh pemberian tepung tempe terhadap organ- organ tubuh lain pada mencit galur C3H yang ditransplantasi sel Adenocarcinoma mammae.

44

45

DAFTAR PUSTAKA Achadiat, CM. 2002. Prospek "Phytoestrogen" dalam Pengobatan Menopause. http://www.kompas.com/kompas-cetak/0208/28/iptek/pros33.htm.20 April 2007. Achyadi, N.S. 2004. Tempe Generasi Ketiga & Kesehatan. http://www.pikiranrakyat.com/cetak/0604/24/cakrawala/lainnya03.htm. 10 Maret 2006. Anderson, P.S. 1995. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Alih Bahasa Peter Anugerah. Jakarta : CV. EGC Penerbit Buku Kedokteran. Anonim. 2004. Kebal Diare. http://www.intisari- online.com/majalah.asp? tahun = 2004&edisi479&file=warna1004&page=04. 10 Maret 2006. Astawan, M. 2003. Tempe : Cegah Penuaan & Kanker Payudara! http://www.kompas.co.id/kesehatan/news/0307/03/092312.htm. 10 Maret 2006. Azamris; W. Arif; & E. Darwin. 2003. Ekspresi CD 44 Pada Jaringan Tumor Karsinoma Payudaara. Cermin Dunia Kedokteran. Jakarta : PT. Kalbe Farma. Baratawidjaya, K.G. 2002. Imunologi Dasar. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran UI. Bintari, SH. Potensi Tempe Sebagai Antikanker. Makalah. Semarang: Seminar PAAI Komisariat. 4 September 2004. Bustan, M.N. 1997. Epidemiologi Penyakit tidak Menular. Jakarta : Penerbit Rineka Cipta. Cotran, R. 1990. Mallory Professor Pathology. Vol 2. Boston: Pathology Department . Hal 183. Dalimartha, S. 2003. Ramuan Tradisional Untuk Pengobatan Kanker. Jakarta : Penebar Swadaya. Eroschenko, P.V. 2003. Atlas Histologi di Fiore Dengan Korelasi Fungsional. Terjemahan Jan Tambayong : Edisi 9. Jakarta : EGC. Himawan, S. 1992. Kumpulan Kuliah Patologi. Jakarta : UI Press. Junquera, L.C & J Carneiro. 1997. Histologi Dasar. Edisi 8. Alih Bahasa Jan

46

Tambayong. Jakarta: EGC. Kartika, L.B. 2005. Wanita Indonesia Paling Sering Terkena Kanker Payudara.http://72.14.203.104/search?q=cache:6Aw6Ji1QIQUJ:www.komp as.com/kesehatan/news/0563/29/084357.htm+kanker+payudara=h1=id&1r= &strip=1. Kasmidjo, R.B. 1990. Tempe : Mikrobiologi dan Kimia, Pengolahan dan Pemanfaatannya. Yogyakarta : Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. Khomsan, A. 2004. Peranan Pangan dan Gizi Untuk Kualitas Hidup. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia. Koswara, S. 2003. Isoflavon Senyawa Multi Manfaat Dalam Kedelai. http://www.ebookpangan.com. Leeson, C.R; T.S. Leeson & A.A Paparo. 1993. Atlas Berwarna Histologi. Jakarta : Binarupa Aksara. Hal 229. Lu, F.C. 1995. Toksikologi dasar Asas, Organ Sasaran dan Penilaian Risiko.Edisi 2. Jakarta: UI-Press. Miladiyah, I. 2004. Isoflavon Kedelai Sebagai Alternatif Terapi Sulih Hormon (TSH). Jurnal Kedokteran Yarsi 12 (3):94-99. Jakarta: Lembaga Penelitian & Pengobatan Kepada Masyarakat Universitas Yarsi. Nugroho, Y.A; B. Nuratmi; & Suhardi. 2000. Daya Hambat Benalu Teh (Scurulla atropurpurea BI. Danser) Terhadap Proliferasi Sel Tumor Kelenjar Susu Mencit (Mus musculus L) C3H. Cermin Dunia Kedokteran. Jakarta : PT. Kalbe Farma. Pawiroharsono, S. 2001. Prospek dan Manfaat Isoflavon untuk Kesehatan. http://www.tempo.co.id/medika/arsip/042001/pus-2.htm. 10 Maret 2006. Price, S.A & L.M Wilson. 1995. Patofisiologi Konsep Klinis. Edisi 4. Alih Bahasa Peter Anugerah. Jakarta : EGC. Pringgoutomo, S; S. Himawan; A. Tjarta. 2002. Buku Ajar : Patologi I (Umum). Edisi ke-1. Jakarta : Sagung Seto. Robbins & Kumar. 1992. Buku Ajar Patologi I. Edisi ke-4. Editor Oswari. Penerjemah : Staf Pengajar Patologi Anatomi FK UNAIR. Surabaya : EGC. Robbins & Kumar. 1995. Patologi II. Edisi 4. Alih Bahasa Staf Pengajar Laboratorium Patologi Anatomik FK Universitas Airlangga. Jakarta :

47

EGC. Robinson, T. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Alih Bahasa Kosasih Padmawinata. Bandung : Penerbit ITB. San. 2003. Terapi Kanker Payudara:Hindari Stress dan Perbanyak Konsumsi Sayuran.http://www.sinarharapan.co.id/iptek/kesehatan/2003/042/kes2.ht ml 10 Maret 2006. Sarwono.1998. Membuat Tempe dan Oncom. Jakarta : Penebar Swadaya. Schefler, C.W. 1987. Statistika Untuk Biologi, Farmasi, Kedokteran, dan Ilmu Yang Bertautan. Terjemahan : Suroso. Terbitan Kedua. Bandung : Penerbit ITB. Senior. 2004. Serba Sehat dari Sayur dan Buah. http://cybermed.cbn.net.id /detil.asp?kategori=Food&newsno=359. 10 Maret 2006. Soetiarto, F. 1996. Registrasi Kanker Populasi di Kodya Ujung Pandang, Yogyakarta dan Semarang 1996. http://digilib.litbang.depkes.go.id/go.php?id=jkpkbppk-gdl-res-1996farida-598-cancer. 16 Maret 2007. Strachan, T; A.P Read. 1996. Human Molecular Genetics. Oxford : BIOS Scientific Publishers Limited. Thomas, C. 1988. Histopatologi : Buku Teks dan Atlas Untuk Pelajaran + Patologi Umum dan Khusus. Edisi 10. Alih Bahasa Tonang, dkk. Jakarta : EGC. Turner, N; B.M Thomson; & I.C Shaw. 2003. Bioactive Isoflavon in Functional Foods : The Importance of Gut Microflora on Bioavailability. Article. Nutrition Reviews. Vol.61. Wed. 2004. Osteoporosis Tak Dapat Dihindari. http://www.gizi.net/cgibin/berita/fullnews.cgi?newsid1087440610,58908. Widianarka, B. 2000. Tempe, Makanan Populer dan Bergizi Tinggi. http://www.bebas.vlsm.org/v12/artikel/pangan/tipspangan/TEK12.PDF. 15 Maret 2006.

48

Lampiran 1. Proses Pembuatan Tepung Tempe Tempe 2 kg

Diiris tipis-tipis

Dikeringkan

Diblender Dikeringkan

Tepung Tempe

49

Lampiran 2. Proses Pembuatan Pakan Mencit Yang Diberikan Selama Penelitian Per Hari Tepung Tempe (P1=0,02 gram / P2=0,2 gram) Pelet (10 gram)

Dicampur

Ditambah Air secukupnya

Dicampur Rata

Dicetak

Dikeringkan (di oven dengan suhu 30o)

Pakan Mencit

50

Lampiran 3. Perhitungan Penentuan Dosis Tepung Tempe Menurut hasil penelitian Bintari (2004), dosis optimal yang dipakai dalam penelitiannya adalah 1000 mg/ kg diet/hari. Dari 200 gram tepung tempe kering setelah ekstraksi dan partisi diperoleh ekstrak isoflavon sebanyak 5 gram. Hasil analisis sample tempe yang digunakan ternyata mengandung isoflavon 36 mg/100 gr tempe. Turunan dari konsentrasi 1000 mg isoflavon/kg diet/hari yaitu dengan menimbang 250 mg ekstrak isoflavon ditambah 25 ml air. Mencit C3H tiap hari perlu pakan 5000 mg. Sehingga pemberian tepung tempe pada mencit per ekor adalah

250mg x 200 gr 5 gr

5000 mg = 2 mg.

Dari hasil tersebut dibuat eksponensialnya yaitu 20 mg dan 200 mg. Sehingga dosis tepung tempe yang dipakai dalam penelitian ini adalah 20 mg dan 200 mg atau 0,02 gr dan 0,2 gr.

51

Lampiran 4. Pembuatan Preparat Irisan Ginjal Mencit 1. Trimming (Pemotongan) Trimming adalah tahapan yang dilakukan setalah proses fiksasi dengan melakukan pemotongan tipis jaringan setebal kurang lebih 4 mm dengan orientasi sesuai dengan organ yang akan dipotong. Alat yang digunakan untuk trimming adalah pisau skalpel No 22-24. 2. Dehidrasi Dehidrasi jaringan dimaksudkan untuk mengeluarkan air yang terkandung dalam jaringan, dengan menggunakan cairan dehidran seperti etanol atau isopropyl alkohol. Dehidrasi jaringan dilakukan dengan menggunakan tissue processor. Cairan dehidran ini kemudian dibersihkan dari dalam jaringan menggunakan reagen pembersih seperti xylen atau toluene. Reagen pembersih diganti dengan parafin dengan cara penetrasi kedalam jaringan yang disebut impregnasi. 3. Embedding (Penanaman) Setelah proses dehidrasi, maka jaringan yang berada dalam embedding cassette dipindahkan kedalam base mold, kemudian diisi dengan parafin cair dan dilekatkan pada balok kayu ukuran 3 x 3 cm atau pada embedding cassette. 4. Cutting (Pemotongan) Cutting adalah pemotongan jaringan yang sudah didehidrasi dengan menggunakan mikrotom. Pisau yang tajam akan menghasilkan preparat histologis yang baik, yang secara mikroskopis ditandai dengan tidak adanya

52

artefak berupa goresan vertikal maupun horizontal. 5. Staining/ pewarnaan Pembuatan preparat menggunakan teknik pewarnaan H&E

(Hematoxyline-Eosin) dengan urutan: a. Xylol (I) b. Xylol (II) c. Xylol (III) d. Alkohol absolut (I) f. Aquadest h. Aquadest i. Acid alkohol 6. Mounting (Penutupan) Mounting dilakukan dengan cara meneteskan bahan mounting (DPX, entelan, canada balsam) sesuai kebutuhan dan ditutup dengan coverglass, cegah jangan sampai terbentuk gelembung udara. 7. Pembacaan slide dengan mikroskop. Preparat irisan diperiksa di bawah mikroskop dan selanjutnya diintepretasikan. 5 menit 5 menit 5 menit 5 menit 1 menit 1 menit 2-3 celupan j. Aquadest k. Aquadest l. Eosin 1 menit 15 menit 2 menit

m. Alkohol 96% (I) 3 menit n. Alkohol 96% (II) 3 menit o. Alkohol absolut q. Xylol (IV) q. Xylol (V) 3 menit 5 menit 5 menit

e. Alkohol absolut (II) 5 menit g. Harris- Hematoxiline 20 menit

53

Lampiran 5
Perhitungan Analisis Varians Satu Arah Terhadap Volume Kanker Mamma Mencit (Mus musculus) Galur C3H

Tabel 5.1. Data Volume Jaringan Kanker Mamma Pada Mencir Galur C3H Selama 3 Minggu dengan Perlakuan Berbagai Dosis Tepung Tempe Volume (ml) Ulangan K P1 P2 1 2 3 4 5 14 15 16 13 14 72 14,4 189 10 10 13 14 14 70 14 0 12 12 11 12 47 9,4

X
X

Berdasarkan data yang ada di tabel diatas dapat dihitung besaran-besaran sebagai berikut : 1. Derajat Bebas (dB) dB total = (k x n ) 1 = (3 x 5) 1 = 14 dB perlakuan = (k- 1) = 3 1 =2

54

dB galat

= k (n 1) = 3 (5 - 1) = 12

2. Jumlah Kuadrat (JK) JK Total =

X
2

( X ) 2

nT
2 2

1892 = (14 +15 +16 +..............+12 ) 15 = 2577 2381,4 = 195,6

( X ) JK Perlakuan =
i

( X ) 2

nT

(722 + 702 + 47 2 ) 1892 5 15

= 2458,6 2381,4 = 77,2 JK Galat = JK Total JK Perlakuan = 195,6 77,2 = 118,4 3. Rerata Kuadrat KRP = =

JKPerlakuan dbPerlakaun

77,2 = 38,6 2

KRG =

JKGalat dbGalat

118,4 = 9,87 12

55

4. F Hitung F Hitung =
KRP KRG

= SK

38,6 = 3,91 9,87 db 2 12 14 JK 77,2 118,4 195,6 KR 38,6 9,87 3,91* 3,88 Fh Ft 5 %

Perlakuan Galat Total

*Signifikan pada 0,05 Dari hasil perhitungan terlihat bahwa F hitung > F tabel 5%, yang berarti bahwa ada pengaruh pemberian tepung tempe terhadap volume jaringan kanker mamma pada mencit (Mus musculus) galur C3H.

56

Lampiran 6
Uji Beda Nyata Terkecil (BNT)

Rumus yang digunakan adalah BNT5% = t5% db


2 KRGalat r

Uji BNT digunakan untuk mengetahui perbedaan antar kelompok mencit. BNT5% = t5% db
2 KRGalat r 2x9,87 5

= 1,78 = 3,54

Berikut ini data dari setiap perlakuan Kelompok Perlakuan K P1 P2 Rata-rata 14,4 14 9,4

Hasil selisih rata-rata Perlakuan K P1 P2 K 4,6 5 P1 4,6 P2 -

57

Perlakuan K P1 P2

K Tidak beda nyata Beda nyata

P1 Beda nyata

P2 -

Tabel 6.1. Ringkasan Hasil Uji BNT Terhadap Volume Kanker Mamma Pada Mencit Galur C3H. Kelompok K P1 P2 BNT 5% 14,4a 14a 9,4b

58

Lampiran 7
Dokumentasi Pelaksanaan Penelitian

Mencit (Mus musculus ) Galur C3H

Bubur Sel Kanker Mamma

59

Mencit C3H Yang Mau Dibedah

Pengambilan Jaringan Kanker Pada Mencit Yang Dibedah

60

Jaringan Kanker Mamma Kelompok Kontrol

Jaringan Kanker Mamma Kelompok P1

Jaringan Kanker Mamma Kelompok P2