Anda di halaman 1dari 8

Filsafat analitik ludwig wittgenstein

Sebagai pendakatan kerangka penafsiran al quran


Oleh: M. Shofiyyuddin

A. Pendahuluan
Setiap masyarakat didunia mempunyai bahasa tersendiri yang itu bisa menggambarkan
bagaimana mereka melakoni kehidupan mereka sehari-harinya, karena kehidupan sehari-hari
membentuk struktur logis yang bisa membentuk kultur atau tradisi kehidupan mereka
sehingga masuk dalam alam bawah sadar mereka. Untuk mengekspresikan itu kultur dan
tradisi yang mereka ungkapkan, manusia membuat bahasa yang mereka sepakati untuk
berkomunikasi dengan sesamanya sehingga ide-ide yang masih berada difikirannya bisa
dipahami dan kemudian terjadi dialektika antar mereka, yang disetiap kepala ini ada ide
masing-maasing, yang membuat kehidupan itu menjadi dinamis.
Sebagai buktinya adalah didalam bahasa didaerah tertentu terdapat bahasa yang
memang tidak bisa ditemukan maknanya dalam bahasa yang lain didaerah tertentu, baik
berupa kosakata maupun berupa ungkapan-ungkapan yang kadang merujuk pada satu maksud
maupun maksud atau makna yang benar-benar tidak difahami karena tidak pernah
memikirkannya apalagi mendengarnya. Seperti orang jawa tidak tahu apa itu acceleration
dalam bahasa inggris, pada akhirnya memang mereka akhirnya memahami itu, tapi mereka
agak sulit untuk mengungkapkannya kedalam bahasa jawa. Begitu juga dari bahasa jawa
kunduran, kejebur, dll. Agak susah diterjemahkan kedalam bahasa indonesia sekalipun.
Untuk menerjemahkannya harus membawa pengertian yang agak panjang.
Kemudian kita pindah pada masa pra-islam diderah arab sekitar kabah dan beberapa
daerah arab tertentu lainnya. Tentunya orang arab disekitar arab pada waktu itu berbicara
dengan menggunakan simbol yang disepakati orang arab yang kemudian sebagiannya disebut
sebagai bahasa arab, disana juga sudah ada beberapa kepercayaan keagamaan yang
mensyariatkan untuk berhaji dan bersembahyang disekitar kabah.
Masyarakat arab juga dikenal dengan masyarakat berjiwa pedagang yang biasa
mengeksport dan mengimport barang dari negara yang baru saja didatangi untuk
memperjualbelikan dagangannya, sehingga dari sana disepakati dengan adanya bulan-damai
untuk gencatan senjata. Sehingga pada bulan damai tersebut dilarang ada darah mengalir
akibat perang, walaupun perang merupakan sesuatu hal yang sudah biasa dilakukan. Hal ini
menunjukkan bahwa perdagangan merupakan kegiatan rutin yang dilakukan orang arab pada
waktu itu dan sangat penting, bahwa ada bulan yang sangat suci untuk memberikan
perdagangan berjalan dengan aman tanpa gangguan perang, sehingga sampai ada perlu
kesepakatan seperti itu
1
.
Kemudian arab khususnya dalam hal ini kabah adalah daerah gurun. Bangsa Arab
adalah penduduk asli jazirah Arab. Dalam struktur masyarakat Arab terdapat kabilah sebagai
intinya, ia adalah organisasi keluarga besar yang biasanya hubungan antar anggotanya terikat
oleh pertalian darah (nasab), ikatan perkawinan atau karena sumpah setia, sehingga institusi
kabilah adalah sangat penting dalam kehidupan digurun untuk bertahan hidup karena dengan
itu mereka bisa hidup dan hak-haknya terlindungi. Akibatnya fanatisme terhadap keluarga
dan pengagungan terhadap nasab keluarga, budaya yang sangat kental dengan budaya
patrialistik.
satu hal lagi ciri yang sangat spesifik antara masyarakat arab selatan, yang
mempunyai sejarah peradaban yang tinggi, dan masyarakat arab utara adalah bahwa
masyarakat arab utara, dalam hal ini makkah adalah secara geografis berada pada masyarakat
utara, dikenal dengan masyarakat nomad yang suka bergembala, hanya beberapa persen saja
masyarakat arab utara ini yang sudah menetap
2
.
Saya tidak ingin membahas ini seperti membahas sejarah dengan data yang banyak
dan disertai analisis-analisis, saya hanya ingin mengungkap ini secara singkat yang nantinya
akan dipergunakan sebagai salah satu pijakan untuk proses menafsir.

B. Filsafat analitik ludwig wittgenstein
Menarik mengkuti pemikiran ludwig wittgenstein karena dalam perjalanan
pemikirannya yang banyak melewati lika-liku kehidupan yang bisa dibilang indah dalam
keindahan yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain, karena keindahan itu terletak dihati
masing-masing personal individu dalam hal ini adalah wittgenstein sendiri. Kata-katanya
yang terakhir yang terakhir Wittgenstein sebelum kematiannya adalah Good! Tell them Ive
had a wonderful life!
3
Walaupun dalam kehidupannya dilingkupi kehidupan yang cukup
menarik untuk dituliskan dalam sebuah novel jika disertai dengan perjalanan pemikiran yang
menjadi pokok-pokoknya.
Wittgenstein cukup jujur dengan dengan besar hati merubah dan mau menuliskannya
walaupun buku yang kedua diterbitkan oleh muridnya setelah beliau meninggal. Dalam
tractatus logico philosophicus, buku yang diterbitkan dan dianggap mewakili pemikiran
model yang pertama, wittgenstein berpikir bahwa bahasa sebagai kumpulan besar yang tak

11
Ada empat bulan yang dijadikan bulan suci pada masyarakat pra-islam yaitu: zulkadah, zulhijjah,
dan muharram di khususkan untuk ritual agama, dan bulan yang terakhir adalah bulan rajab, dan pada bulan
ini adalah bulan yang dikhsuskan untuk kegiatan perdagangan. Karena posisi sentralnya, keterbukaan dan
lokasi mekah berada dijalur utama kafilah dari utara keselatan, hijaz menawarkan sebuah kesempatan baik
untuk aktivitas keagamaan dan perdagangan. Oleh karena itu muncul festival di Ukaz dan Kabah. Lihat Philip
K. Hitti, History of the Arabs, (terj; Cecep Lukman Hakim Dkk). Jakarta; serambi, 2002. H 128
2
Philip K. Hitti, History of the Arabs, hal 100
3
http://my.opera.com. Dipublikasikan pada hari minggu 3 maret 2008
terbatas dari proposisi-proposisi yang sederhana atau yang atomis. Preposisi atomis
hakikatnya menggambarkan fakta realitas atomis yaitu keberadaan suatu peristiwa yang
paling sederhana yang yang memiliki satu saja analisis yang lengkap. Dengan demikian
sebuah proposisi adalah sebuah proposisi yang elementer dengan sebuah kebenaran. Makna
dari sebuah proposisi itu adalah kenyataan dari sebuah fakta atau keberadaan dari sebuah
peristiwa
4
.
Dalam bukunya Philosophical Investigation wittgenstein menolak pandangan
pertamanya bahwa bahasa yang bermakna adalah bahasa yang dibangun dari proposisi-
proposisi atomis yang masing-masing proposisi elementernya itu dapat membangun bahasa,
sehingga proposisi-proposisi tersebut harus dapat diverifikasi sehingga ketika proposisi-
proposisi itu menjadi sebuah bahasa maka bahasa tersebut adalah logis karena dibangun dari
sesuatu yang empiris atau paling tidak ada kemungkinan untuk diobsevasi. Jadi ini tidak
memperdulikan benar atau tidak nya arti tapi, bermakna atau tidaknya. Sehingga bahasa yang
tidak bisa diverifikasi adalah tidak bermakna. Tapi pada akhirnya pendapat itu dibantah oleh
dirinya sendiri, karena dalam realitasnya bahasa tidak hanya dipakai seperti yang dijelaskan
dengan komposisi formal atomis yang ketat. Ada banyak banyak cara untuk mengekspresikan
kebenaran
5
. Dalam sebuah kutipan langsung wittgenstein berkata:
Adalah sangat menarik untuk membandingkan kemajemukan dari alat-alat
dalam bahasa yang dipergunakannya, kita melihat bahwa apa yang kita sebut
kalimat dan bahasa tidak mempunyai kesatuan formal yang saya bayangkan,
akan tetapi meupakan kelompok struktur yang kurang lebih saling berhubungan
satu dengan yang lainnya.
6

Wittgenstein dalam bukunya Philosophical Investigation melihat bahasa dengan
pragmatis, artinya beliau lebih meletakkan bahasa pada fungsinya sebagai alat komunikasi
manusia. Bahasa tidak hanya memiliki satu struktur logis saja tapi juga penggunaannya
dalam berbagai segi kehidupan manusia yang kompleks. Dengan demikian filsafat fungsinya
adalah untuk menguraikan atau menjelaskan bahasa bukan malah mengintervensi
didalamnya
7
. Sehingga bahasa mempunyai arti jika digunakan manusia apapun bentuknya
tanpa melihat apakah itu proposisinya dapat diverifikasi atau tidak. Yang terpenting ketika
sebuah bahasa digunakan kemudian mempunyai arti sehingga kedua komunikator
menyepakati arti dari bahasa tersebut. Sebuah bahasa aku bisa bermakna sangat banyak
tergantung bagaimana subyek memperlakukan, digunakan dengan nada tinggi dan dengan
nada rendah akan mengakibatkan makna yang sangat beragam. Diucapkan dengan muka
merah atau dengan muka kecut. Ini menunjukkan bahwa satu kata saja bisa menimbulkan
berbagai makna, tidak seperti yang dibicarakan Wittgenstein pada fase pertama tractatus
logico philosophicus bahwa sampai pada proposisi yang paling elementer hanya mempunyai
satu makna yang logis.

4
Kaelan, M.S. Filsafat Bahasa Masalah dan Perkembangannya, Yogyakarta, Paradigma, 2002, hal 144
5
Kaelan, M.S. Filsafat Bahasa, hal 144-145
6
Kaelan, M.S. Filsafat Bahasa, hal 145
7
Kaelan, M.S. Filsafat Bahasa, hal 146
Wittgenstein menggambarkan bahwa bahasa itu seperti sebuah keluarga, antara kakak
dan adik ada beberapa hal yang berbeda dari bentuk matanya dan ada pula yang sama
dibagian-bagian tubuh yang lain, artinya bahasa itu mempunyai karakter seperti itu. Dalam
satu bentuk bahasa yang sama mempunyai karakter umum yang sama dalam satu sisi
maknanya tapi diantara mereka ada aksentuasi yang ditekankan secara berbeda, demikian
ujarnya:
Saya kira tidak ada ungkapan yang lebih sesuai untuk menggambarkan sifat kata atau
kalimat, yang dipergunakan dalam banyak cara; aneka kemiripan keluarga aneka
kemiripan dalam keluarga terlihat dalam bentuk, sifat, warna mata, sikap,
temprament, dan lain-lain. Meskipun tampakny saling tumpang tindih dan simpang
siur, namun terletak dalam jalur yang sama, dan saya katakan ini bagian bentuk dari
permainan keluarga
8
.
Kesadaran Wittgenstein tentang keanekaan bahasa walaupun masih dalam satu
keluarga, dilihat dari sudut pandang yang lain. Ada kecenderungan untuk mencari
pengertian umum yang diperkirakan mencerminkan sifat keumumannya. Hal ini disebutnya
dengan istilah carving for generality yaitu adanya kecenderungan mencari istilah umum pada
sesuatu banyak entitas kongkrit. Mencari keragaman dalam keseragaman, ketunggalan dalam
kemajemukan
9
. Sehingga akibat yang paling ketahuan adalah menghilangkan sesuatu hal
spesifik yang seharusnya malah menjadi identitas kata kunci dari pengertian sebuah bahasa.
Artinya basis penelitian Wittgenstein berpindah dari bahasa harus sesuai logika formal
menjadi bahasa mempunyai makna yang berbeda dalam penggunaan makna sehari-hari yang
mempunyai aturannya sendiri-sendiri.
Sebuah kata akan mempunyai makna ketika berada dalam deretan kalimat, dan
kalimat mempunyai makna ketika dipergunakan dalam bahasa
10
, artinya makna sebuah kata
ketika berada pada sebuah kalimat, dan makna sebuah kalimat ketika berada pada sebuah
bahasa dan segala ruang lingkupnya. Kemudian muncullah istilah language game yang
diartikan permainan bahasa hal ini konon muncul kata ini ketika Wittgenstein menonton
permainan sepakbola, tiba-tiba melintas dalam benaknya, bahwa sesunggunya dalam bahasa
kita juga terdapat suatu bentuk permainan kata
11
. Makna bahasa ditemukan ketika berada
dalam ruang lingkup penggunaanya, seperti dalam sepakbola juga yang mempunyai arti jika
mempunyai aturan-aturan yang sudah ditentukan, bola dalam sebuah permainan hanya ada
satu dalam lapangan, 2 gawang, 22 pemain, pelanggaran, kartu kuning dan seterusnya. Tanpa
itu semua tidak dikatakan sepakbola. Bahasa juga.
Menurut Wittgenstein macam permainan bahasa itu adalah diantaranya member
perintah, mematuhi perintah, bergurau, mengarang cerita, mengarang dan menjawab teka-
teki, bertanya, memaki, berterima kasih dan masih banyak lagi
12
setiap bahasa yang

8
Rizal Mustansyir, filsafat analitik sejarah, perkembangan dan peranan para tokohnya, yogyakarta;
pustaka pelajar, 2001. Hal 106
9
Rizal Mustansyir, filsafat analitik, hal 108
10
Rizal Mustansyir, filsafat analitik, hal 104-105
11
Rizal Mustansyir, filsafat analitik, hal 102
12
Rizal Mustansyir, filsafat analitik, hal 103
digunakan mempunyai maknanya sendiri dan juga aturannya sendiri, sehingga tidak bisa
dicampur antara aturan pernyataan dan aturan bahasa pertanyaan, antara bergurau dan
memberi perintah, sehingga ketika terjadi tumpang tindih atau aturan yang bahasa tertentu
digunakan untuk aturan bahasa yang lain akan kacau. Sehingga diperlukan perhatian pada
alat-alat bahasa yang dipergunakan dan jenis keanekaragamannya. Sehingga pemilihan dari
sebuah kata harus diperhatikan, dikoordinasikan dengan aturan bahasa apa yang sedang
dipergunakan.
Setiap kelas atau kelompok dalam kehidupan social ini mempunyai bahasanya sendiri,
menurut hemat penulis ini juga masih bisa menggunakan teori language game milik
Wittgenstein. Kelompok ulama mempunyai bahasa nya sendiri dan segala aturannya,
kelompok priayi juga masih mempunyai aturan-aturan bahasa yang dipahaminya yang
berbeda dengan bahasanya orang terminalan, demikian juga bahasa ekonomi orang pedagang
dalam kegiatan perkonomian mereka, aturan-aturan bahasa mereka tidak bisa
dicampuradukkan dengan bahasa yang digunakan sehari-hari oleh politisi. Sehingga
akibatnya akan lucu apabila bahasa peradilan diselesaikan dengan bahasa perdagangan.
Semuanya akan kacau dan tatanan dunia ini juga akan dikacaukan dengan acuhnya tatanan
bahasa yang digunakan.

C. Analisis bahasa dalam penafsiran.
Al quran turun ditanah arab pada abad 7 masehi, jelas al quran turun ditanah arab
yang secara spesifik berada disekitar makkah dan madinah (kemudian ada istilah dalam al
quran makkiyah dan madaniyah), yang kesemuanya turun di tanah Arab dan turun
menggunakan bahasa arab seperti keterangan ayat:
.^^) +OE4^4O^ ^47O~
1)4O4N 7^UE- ]OUu> ^g
13

Bahwa al quran diturunkan membawa misi yang luhur untuk membangun peradaban
kemanusiaan. dari kenyataan sejarah bahwa al quran turun di tanah Arab ini akan penulis
ambil beberapa kenyataan juga yang berupa karakteristik turunnya al quran di tanah Arab
yang nantinya akan kami bedah dengan pendekatan teori language game yang ditawarkan
oleh Ludwig Wittgenstein.
Kita tahu, dan penulis terutama, meyakini bahwa tuhan berbicara kepada
makhluknya diantaranya adalah al quran itu sendiri, padahal al quran adalah kitab yang
disana terdiri dari huruf yang tersusun ada awalnya dan akhirnya. Sedangakan sifat tuhan
adalah tidak terbatas, dan kalamnya tuhan juga tidak terbatas
14
. Penulis tidak ingin
memperdebatkan bahasa al quran yang bahasa arab itu merupakan bahasa tuhan atau tidak,
tapi yang menjadi kenyataan bahwa al quran diturunkan dengan wahyu melalui jibril dengan

13
Surah yusuf ayat 2, dan masih banyak lagi ayat yang menerangkan kearaban bahasa al quran dari
keterangan al quran sendiri.
14
Badruddin al Zarkasyi, Al Burhan Fi Ulum Al Quran, Dar Ihya Kutub al Arabia, 1957, hal 9
bahasa yang demikian arab dan dengan yakin tidak berubah. Penekanan penulis hanya sampai
pada bahwa bahasa arab digunakan tuhan untuk berbicara kepada masyarakat Arab pada
masa itu.
Pertanyaan pertama yang paling mendasar adalah apakah bahasa al quran yang
digunakan pada masa itu hanyalah bahasa arab yang tersusun dari bunyi-bunyi huruf arab
yang dibelakangnya menunjukkan satu arti saja yang sangat ketat (kalau artinya tidak itu
maka tidak bermakna) atau bahasa arab yang dibelakangnya ada sebuah kultur arab yang
luas, struktur masyarakat arab, dan apapun hal yang telah dipahami orang arab sebelum al
quran turun, atau bagaimana? Artinya dibalik pertanyaan ini ada sebuah dialektika
komunikasi antara tuhan dan manusia, tuhan turun kepada manusia, berbicara dengan
bahasa manusia dengan aturan bahasa yang dipahami manusia, sehingga manusia bisa
memahami apa yang dimaksud dengan inti ajaran tuhan yang sebenarnya. Seperti disebut
ayat:
.4`4 4LUEcO }g` OcO )
p=O)U) gOg`O~ -))-4lN1g +O W
O_N1 +.- }4` +7.4=EC Og;_4C4 }4`
+7.4=EC _ 4O-4 +OCjOE^- OOE^-
^j ;4 4LUEcO _E<ON`
.E4g4C4*) ] @Ou= El4`O~ ;g`
geEUe- O) jOO4- -O]O4
++C) *.- _ ]) O) CgO e4CE
]7g O*l= OO7E- ^)
4. Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya[779], supaya ia dapat
memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan[780] siapa yang dia kehendaki,
dan memberi petunjuk kepada siapa yang dia kehendaki. dan Dia-lah Tuhan yang Maha Kuasa lagi Maha
Bijaksana.
5. Dan Sesungguhnya kami Telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat kami, (dan kami
perintahkan kepadanya): "Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan
ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah[781]". Sesunguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda
(kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.
Hal ini bisa dibuktikan dengan turunnya al quran (walaupun sudah dengan bahasa
manusia, arab) tapi tidak diturunkan secara langsung 30 juz, tapi sedikit demi sedikit selama
23 tahun. Hal ini tuhan sangat memperhatikan kemanusiaan manusia itu sendiri. Sehingga al
quran itu turun tidak langsung, tapi mengikuti atau berdialektika dengan kehidupan
masyarakat pada waktu itu
15
. Supaya ajaran itu bisa benar-benar dihayati.
Penurunan Al quran dengan cara seperti itu paling tidak, menggambarkan bahwa
tuhan berbicara dengan manusia dengan hokum-hukum bahasa yang dipahami baik secara
structural maupun cultural oleh manusia, artinya dalam teori Wittgenstein tuhan berbicara

15
http://pesantren.or.id. Akhmad Muzakki Dialektika Gaya Bahasa Al-Qur'an dan Budaya Arab Pra-
Islam,

dengan manusia dengan language game yang dipahami atau yang sudah ada pada manusia,
nanti akan kami contohkan bukti kongkrit tentang hal ini.
Masih berkaitan dengan yang penulis singgung dipendahuluan, bahwa bangsa arab
adalah bangsa pedagang dan bangsa yang hidup digurun, maka akan sangat terbukti dengan
jelas bagaimana bahasa yang dipakai oleh al quran berbicara dengan masyarakat pedagang
dan bangsa yang hidup digurun dan nomaden. Kita sering menemukan dalam ungkapan-
ungkapan yang ada dalam al quran menggunakan istilah ekonomi untuk menggambarkan
tentang nilai-nilai. Seperti ungkapan pada surah al ikhlas
16
, al quran menggunakan bahasa
rugi untuk mengkategorikan orang yang ada diposisi kurang baik. Dalam bahasa gurun juga
ada ungkapan pada surah
17
. Ungkapan bahwa ada hewan unta untuk mengingat kebesaran
tuhan tidak akan terfikirkan dan tidak akan dalam pengertiannya jika seandainya al quran
turun ditanah jawa.
Melihat realitas yang ada dalam al quran, bagaimana cara al quran berdialog dengan
manusia, maka penulis mencoba mengkaitkan dengan teori Wittgenstein dalam penafsirannya
setelah al quran turun satu setengah abad yang lalu. Al quran yang turun itu pada waktu lalu
sangat bermakna bahkan bisa mengubah kehidupan masyarakat arab dengan waktu yang
relative singkat yaitu 23 tahun, Dalam kajian bahasa disebutkan, terpisahnya teks dari
pengarangnya dan dari situasi sosial yang melahirkannya, maka berimplikasi sebuah teks bisa
tidak komunikatif lagi dengan realitas sosial yang melingkupi pihak pembaca. Sebab, sebuah
karya tulis pada umumnya merupakan respon terhadap situasi yang dihadapi oleh penulis
dalam ruang dan waktu tertentu. Karena itu, dalam tradisi tafsir, terutama di kalangan Sunni,
permasalahan di atas dapat dikembalikan dan dibatasi pada analisa asbab al-nuzul atau
konteks sosio-historis di seputar turunnya al-Qur'an
18
.
dalam bahasa bahasa Wittgenstein, al quran jika dibaca begitu saja seperti apa
adanya dulu, maka akan kehilangan maknanya, bahwa arti suatu kata bergantung pada
penggunaannya dalam kalimat, sedangkan arti suatu kalimat bergantung pada penggunaannya
dalam bahasa. Karena language game al quran pada waktu itu tentunya berbeda dengan
language game manusia sekarang yang lebih spesifik di Indonesia yang mempunyai struktur
masyarakat yang bukan gurun dan tidak hanya pedagang.

16

Ep) =}=Oee"- O> O;O7= ^g ) 4g~-.-
W-ONL4`-47 W-OUg4N4 geE)UO-
W-O=-4O>4 --E^) W-O=-4O>4
)OO) ^@
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati
kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

17

E 4pNOO44C O) )e"- E-^O ;e)U7= ^_
17. Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan,

18
http://pesantren.or.id. Akhmad Muzakki Dialektika Gaya Bahasa Al-Qur'an

Maka menurut hemat penulis, idealnya dalam pendekatan penafsiran al quran yang
sesuai dengan cara al quran turun kepada manusia harus lah pula mempertimbangkan banyak
hal supaya seorang mufassir mampu membaca language game masyarakat yang dihadapinya.
Bisa-bisa al quran kehilangan maknanya kalau tidak mempertimbangkan hal yang sangat
penting ini. Sehingga perlu penelitian panjang untuk menafsirkan sebuah karya tafsir yang
berkualitas dan bermakna.

D. Kesimpulan
Penulis mempunyai keyakinan yang dalam pada ajaran-ajaran al quran yang turun
dengan bahasa arab itu, al quran turun dalam masyarakat arab dengan sebuah pengamatan
yang jeli pada language game masyarakat arab, maka begitu juga dalam menafsir al quran
sebaiknya para mufassir memperhatikan language game pada masyarakatnya, sehingga untuk
menyuntikkan ajaran itu tidak harus dengan bahasa arab lengkap dengan kultur arabnya,
tapi harus dengan strategi-strategi baru supaya ajaran itu bisa diterima dengan baik
Kita bisa belajar dari para wali sanga yang sangat tolerah dengan ajaran islamnya,
sehingga islam bisa diterima dengan baik dan meluas sampai seluruh masyarakat jawa.
Keberadaan makna al quran bukan pada arti literer dibalik huruf-huruf arab itu, tapi
keberadaan makna al quran berada pada diimplementasikannya nilai-nilai itu pada
kehidupan masyarakat dunia.