Anda di halaman 1dari 2

KOMPETISI ANION ORGANIK DAN ANORGANIK DALAM MEMBENTUK KOMPLEKS DENGAN ALLOFAN DALAM UPAYA PERBAIKAN KETERSEDIAAN FOSFAT

PADA ANDISOL

Andisol dan Jerapan Anion oleh Allofan Pizarra, et al. (2008) menyatakan bahwa, andisol berwarna gelap, mempunyai kadar besi rendah, kandungan bahan organik (C-organik) dalam fraksi lempung antara 4,8-11,5 % masa, mempunyai daya protonasi tinggi dari Fe (hidro) oksida non kristalin, mempunyai kejenuhan magnetik ( < 1 J T-1 Kg-1) yang rendah, mengandung allofan > 50 % masa, dan allofanik-organik 1-5 % masa. Allofan (Si3Al4O12 .nH2O) mempunyai luas permukaan spesifik 100-800 m2 g-1, KPK 5-350 cmol kg-1 (Pizarra, et al., 2008), dengan rasio atom Si/Al antara 0,5 sampai 1,0 (Hanudin et al., 2002). Allofan dengan rasio Si/Al 0,5 sangat reaktif terhadap fosfat, sedangkan dengan rasio Si/Al. Si dan Al allofan setelah menjerap senyawa organik akan dibebaskan ke dalam larutan munuju keseimbangan. Jumlah Si dan Al yang akan dibebaskan ke larutan dipengaruhi oleh konsentrasi dan jenis asam organik, pH, dan sifat fisikokimia allofan (Hanudin et al., 2002). Asam Organik Berbobot Molekul Rendah dan Pelepasan Anion Asam organik berbobot molekul rendah (LMWOAs) banyak terdapat dalam tanah; mereka disekresikan oleh akar tanaman, mikrobia, dan hasil dekomposisi sisa tanaman. Akar tanaman menghasilkan asam organik (dominan asam sitrat). Hal tersebut ditandai dengan menurunnya pH di sekitar perakaran menjadi 3,7 pada tanaman Lupinus albus setelah enam hari, dan menjadi 4,15 pada Lupinus abgustifolius setelah 12 hari dari pH andisol awal 5,2 (Strahm dan Harrison, 2006). Lal (2002) menyatakan bahwa, bakteri pelarut fosfat (bakterifosfo/BPF) menghasilkan asam organik meliputi: monokarboksilat (asam asetat dan format), hidroksi monokarboksilat (asam laktat, glukonat, dan glikolat), dikarboksilat (asam oksalat dan suksinat), hidroksi dikarboksilat (asam malat dan maleat), dan hidroksi trikarboksilat (asam sitrat). Contoh isolat bakteri dan jamur pelarut fosfat disajikan pada Gambar 1 (koleksi Lab. Tanah, Faperta, Unsoed). Asam organik mampu mengkomplek logam dalam larutan. Derajat kompleksasi tergantung: 1) sifat asam organik (jumlah gugus karboksil dan hidroksil), 2) konsentrasi asam organik, 3) tipe loka permukaan, dan 4) pH dan kekuatan ionik larutan tanah. Asam oksalat, sitrat, dan malat merupakan agen kelat yang kuat yang berafinitas kuat terhadap logam trivalen, misalnya Al3+, dan Fe3+,, dan mempengaruhi mobilitas ion tersebut dalam lingkungan tanah. Ligan organik tersebut dapat dijerap oleh mineral bermuatan variabel sebagi komplek inner-sphere menggantikan grup air dan hidroksil. Asam humat, fulvat, LMWOAs, dan ligan inorganik (mencakup sulfat) bisa berkompetisi dengan fosfat untuk menduduki loka jerapan. Beberapa ligan organik seperti asam oksalat, sitrat, dan galat, berkompetisi dengan sulfat untuk jerapan kaolinit dan oksida besi. Kemampuan berkompetisi berhubungan dengan jenis gugus fungsional; ligan organik dengan gugus fungsional yang mengandung banyak atom oksigen lebih kompetitif dibanding yang mengandung atom karbon lebih banyak. Penambahan tartarat dan oksalat secara bersama-sama dengan jumlah mol sama pada komplek Al(OH)xmontmorilonit lebih efektif menghambat jerapan fosfat dibanding penambahan tartarat dan oksalat sendiri-sendiri. Tartarat lebih mampu berkompetisi dengan fosfat dibanding oksalat. Isoterm Jerapan

Kapasitas jerapan (kd) persamaan freundlich berurutan PO4 > oksalat > sitrat > SO4. Sebaliknya energi ikatan (1/n) berurutan PO4 < oksalat sitrat SO4, nilai yang semakin kecil menunjukan interaksi antara ion dengan permukaan jerapan semakin besar (Gambar 2a, dan Tabel 1). Pada pH 5,5 oksalat dijerap oleh allofan lebih besar dibanding sitrat. Akan tetapi pada pH 6,0 sampai 10,0 sitrat dijerap lebih besar dibanding oksalat dan asetat, karena pka3sitrat asam sitrat 6,39, pada pH > 6,0 sitrat bermuatan negatif tiga yang menyebabkan atraksi terhadap permukaan mineral bermuatan variabel meningkat. Jerapan sitrat oleh gutit pada pH 4,6-7,0 membentuk komplek inner-sphere (pka1sitrat = 3,14 dan pka2sitrat = 4,77), sedangkan pada pH > 7,0 membentuk komplek outer-sphere Jerapan isoterm pada contoh tanah alamiah pH 5,0 menunjukan bahwa kapasitas jerapan PO4 jauh lebih besar dibanding Oksalat dan SO4. Kecenderungan ini sama untuk jerapan pada allofan (AlSiFe). Muatan Permukaan dan Muatan Titik Nol Muatan titik nol (ZPC) allofan sintetik terjadi pada pH 4,82. Peningkatan konsentrasi sitrat, oksalat, dan PO4 menggeser ZPC lebih rendah. Sitrat lebih menurunkan ZPC dibanding oksalat (Gambar 3a dan 3b), PO4 atau SO4. Keberadaan 10-4 atau 10-3 mol L-1 oksalat menggeser ZPC dari 4,14 dan 4,05, sedangkan keberadaan 10-4 atau 10-3 mol L-1 sitrat menggeser ZPC lebih rendah menjadi 3,80 dan 3,57. Pergeseran ZPC dengan meningkatnya konsentrasi ion merupakan karakteristik jerapan komplek inner-sphere. SO4 (Gambar 3c) tidak nyata menggeser ZPC, SO4 terjerap allofan membentuk komplek outer-sphere. PO4 (Gambar 3d) menggesr ZPC pada pH lebih tinggi. Kelakuan ini terkait dengan nilai pH intermediat, dimana potensial elektrostatik kurang negatif untuk menarik kation dari elektrolit latar belakang, sehingga permukaan menjerap proton untuk menetralkan muatan paparan dalam. Jerapan Ligan Jerapan SO4 (< 30 % dari total permukaan pada pH 5,5) pada AlSiFe kuat dipengaruhi oleh pH dan menurun dari maksimum 80 mmol kg-1 pada pH 4,2 menjadi minimum 19 mmol kg-1 pada pH 6,9, sedangkan jerapan PO4, Oksalat, dan Sitrat tetap pada pH 4,0-8,0 (Tabel 2, Gambar 5-7). Jerapan Sitrat menurun 7 % dengan meningkatnya pH dari 4,0 menjadi 7,0. Ketika ligan pada konsentrasi 1 mmol L-1 (300 mmol kg-1), jerapan Oksalat, Sitrat, dan PO4 menurun menjadi 19,25 %, dan 16 % dengan meningkatnya pH dari 4,0 menjadi 7,0. Adanya anion dengan afinitas tinggi, seperti sitrat, oksalat, dan PO4 menurunkan jerapan moderat SO4 pada Fe (hidro) oksida. Pengaruh kompetisi antara sitrat dan oksalat terhadap jerapan SO4 dan SeO4 pada Al (hidro) oksida terlihat bahwa (Gambar 4), sitrat berpengaruh kompetisi paling kuat pada selang pH 6-8 (Wijnja dan Schulthess, 2000).