Anda di halaman 1dari 15

IMUNISASI CAMPAK

I. PENDAHULUAN Penyakit campak merupakan salah satu penyakit menular yang masihmenjadi masalah kesehatan di Indonesia, karena sering dilaporkan di beberapa daerah. Menurut data SKRT (1996) insiden campak pada balita sebesar 528/10.000. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan tahun 1982 sebelum program imunisasi campak dimulai, yaitu sebesar 8000/10.000 pada anak umur 1-15 tahun. Imunisasi merupakan salah satu upaya terbaik untuk menurunkan insiden campak cenderung turun pada semua golongan umur. Pada bayi kurang dari 1 tahun dan anak umur 1-4 tahun terjadi penurunan cukup tajam, sedangkan pada golongan umur 5-14 tahun relative lambat. Saat ini program pemberantasan penyakit campak dalam tahap reduksi yaitu penurunan jumlah kasus dan kematian akibat campak, menyusul tahap eliminasi dan akhirnya tahap eradikasi. Diharapkan 10-15 tahun setelah tahap eliminasi, penyakit campak dapat dieradikasi, karena satu-satunya pejamunya dalah manusia. Respon imun memegang peranan penting dalam upaya mengatasi infeksi virus campak. Baik respon yang timbul oleh infeksi campak alam maupun respon setelah imunisasi.Program Pencegahan dan pemberantasan Campak di Indonesia pada saat ini berada pada tahap reduksi dengan pengendalian dan pencegahan KLB. Hasil pemeriksaan sample darah dan urine penderita campak pada saat KLB menunjukkan IgM positif sekitar 70% 100%. Insidens rate semua kelompok umur dari laporan rutin Puskesmas dan Rumah Sakit selama tahun 1992 1998 cenderung menurun, terutama terjadi penurunan yang tajam pada kelompok umur = 90%) dan merata disetiap desa masih merupakan strategi ampuh saat ini untuk mencapai reduksi campak di Indonesia pada tahun 2000. CFR campak dari Rumah Sakit maupun dari hasil penyelidikan KLB selama tahun 1997 1999 cenderung meningkat, kemungkinan hal ini terjadi berkaitan dengan

dampak kiris pangan dan gizi, namun masih perlu dikaji secara mendalam dan komprehensive. Sidang WHO tahun 1988, menetapkan kesepakatan global untuk membasmi polio atau Eradikasi Polio (Rapo), Eliminasi Tetanus Neonatorum (ETN) dan Reduksi Campak (RECAM) pada tahun 2000. Beberapa negara seperti Amerika, Australia dan beberapa negara lainnya telah memasuki tahap eliminasi campak. Pada sidang CDC/PAHO/WHO tahun 1996 menyimpulkan bahwa campak dimungkinkan untuk dieradikasi, karena satu-satunya pejamu (host) atau reservoir campak hanya pada manusia dan adanya vaksin dengan potensi yang cukup tinggi dengan effikasi vaksin 85%. Diperkirakan eradikasi akan dapat dicapai 10 15 tahun setelah eliminasi. Program imunisasi campak di Indonesiadimulai pada tahun 1982 dan masuk dalam pengembangan program imunisasi.Pada tahun 1991, Indonesia dinyatakan telah mencapai UCI secara nasional. Dengan keberhasilan Indonesia mencapai UCI tersebut memberikan dampak positif terhadap kecenderungan penurunan insidens campak, khususnya pada balita dari 20.08/10.000 3,4/10.000 selama tahun 1992 1997 (adjustment data rutin SST). Walaupun imunisasi campak telah mencapai UCI namun dibeberapadaerah masih terjadi KLB campak, terutama di daerah dengan cakupan imunisasirendah atau daerah kantong. II. CAMPAK a. Definisi Campak merupakan penyakit menular akut yang disebabkan oleh virus dan secara khas terdiri dari tiga stadium, yaitu stadium prodromal, erupsi, dan konvalesens.2 Penyakit ini umumnya menyerang anak dan sangat mudah menular. Seseorang yang menderita campak dapat menularkan pada 90% orang yang belum mendapat imunisasi apabila kontak dengannya3. Manusia merupakan satu-

satunya reservoir untuk campak. Oleh karena itu penyakit ini sebenarnya dapat dieradikasi, sebagaimana smallpox.4 Campak (measles, Ing.) disebut juga rubeola ( nama ilmiah ). Nama lainnya yaitu : hard measles, red measles, seven-day measles, eight-day measles, nineday measles, 10-day measles, dan morbili. Penyakit ini sering salah diartikan dengan rubella, yang merupakan nama ilmiah dari campak German, yang disebabkan oleh virus yang berbeda.5

b. Etiologi Campak, rubeola, atau measles Adalah penyakit infeksi yang sangat mudah menular atau infeksius sejak awal masa prodromal, yaitu kurang lebih 4 hari pertama sejak munculnya ruam. Campak disebabkan oleh paramiksovirus (viruscampak). Virus ini terdapat dalam darah dan sekret (cairan) nasofaring (jaringan antara tenggorokan dan hidung) pada masa gejala awal (prodromal) hingga 24 jam

setelah timbulnya bercak merah di kulit dan selaput lendir. Virus dalam jumlah sedikit saja dapat menyebabkan infeksi pada individu yang rentan. Penyakit campak sangat infeksius selama masa prodromal yang ditandai dengan demam,malaise, mata merah, pilek dan trakeobronktis dengan manifestasi batuk. Infeksi campak pertama kali terjadi pada epitalium saluran pernafasan dari nasofaring,kongjungtiva, dengan penyebaran ke daerah limfa. Viremia primer tejadi 2-3 hari setelah individu terpapar virus campak, diikuti viremia sekunder 3-4 hari kemudian.Viremia sekunder menyebabkan infeksi dan replikasi virus lebih lanjut pada kulit, kongjungtiva, saluran pernafasan dan organ lainnya. Replikasi virus memerlukan watu 24 jam. Jumlah virus dalam darah mencapai puncaknya pada hari 11-14 setelah terpapar dan kemudian menurun cepat 2-3 hari kemudian. Virus campak atau morbili adalah virus RNA anggota family paramyxoviridae. Secara morfologi tidak dapat dibedakan
3

dengan

virus

anggotafamily

paramyxoviridae. Virus campak trdiri atas nukleokapsid berbentuk heliksyang dikelilingi oleh selubung virus. Sifat infeksius virus campak ditunjukkandengan tingginya sensitivitas dan aktivitas hemolitiknya.

c. Manifestasi Klinis 1. Fase Prodromal Fase ini berlangsung 2-4 hari, virus terdapat dalam air mata, sekresi hidung dan tenggorokan, urin, serta darah. Pada stadium prodromal dapat ditemukan enantema di mukosa pipi yang merupakan tanda patognomonis campak yaitu bercak koplik, conjungtivitis, coryza, dan cough (tanda 3C), disertai demam ringan sampai sedang. Bercak koplik adalah bintik-bintik berwarna putih kelabu, berukuran sebesar butir pasir dikelilingi areola berwarna kemerahan, kadang-kadang bercak tersebut bersifat hemoragis. Selain itu cenderung timbul berhadapan dengan gigi molar bawah, tetapi dapat menyebar tidak teratur mengenai seluruh permukaan mukosa pipi. Meski jarang, bercak dapat pula ditemukan pada bagian tengah bibir bawah, langit-langit dan karunkula lakrimalis. Bercak koplik terdiri atas eksudat serosa dan proliferasi sel-sel endotel, serupa dengan yang terdapat pada lesi-lesi kulit. Bercak tersebut muncul dan menghilang dengan cepat dalam waktu 12-18 jam. Ketika menghilang pada mukosa penderita masih ditemukan bercak diskolorisasi mukosa kemerahan7. Kelenjar limfe pada sudut rahang dan daerah servikal posterior sering mengalami pembesaran disertai splenomegali ringan. Limfadenopati mesenterik menyebabkan timbulnya rasa nyeri abdomen. Perubahan patologis campak yang khas pada lapisan mukosa usus buntu mengakibatkan penyumbatan lumen disusul munculnya gejala apendisitis. Perubahan ini cenderung mereda dengan menghilangnya bercak koplik7.

2. Fase Erupsi Ruam makulopapular muncul 14 hari setelah awal infeksi dan pada saat itu antibodi humoral dapat dideteksi. Ruamruam kulit biasanya mulai sebagai makula tidak tegas, terdapat pada bagian samping atas leher penderita, di belakang telinga, sepanjang batas rambut dan pada bagian belakang pipi. Setiap lesi berubah menjadi makulopapular bersamaan dengan penyebaran cepat ruam kulit di seluruh muka, leher, lengan atas dan bagian atas dada dalam waktu kurang lebih 24 jam pertama, disertai panas tinggi. Dalam 24 jam berikutnya, lesi-lesi menyebar menutupi punggung, abdomen, seluruh lengan dan paha. Proses menghilangnya ruam kulit berlangsung dari atas ke bawah dengan urutan sesuai proses pemunculannya. Lesi pada wajah mulai menghilang pada hari ke 2-3, yaitu pada saat lesi mencapai kaki. Derajat penyakit berhubungan langsung dengan luas dan penyatuan ruam-ruam tersebut7. 3. Fase Konvalesens Pada fase akhir, ruam menjadi hiperpigmentasi dan kadang-kadang deskuamasi, gejala-gejala lainnya menghilang. d. Diagnosis Diagnosis penyakit ini dapat ditegakkan melalui gejala klinis dan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, Gejala mulai timbul dalam waktu 7-14 hari setelah terinfeksi, yaitu berupa demam, nyeri tenggorokan, hidung meler

(coryza), batuk (cough), bercak koplik, nyeri otot - mata merah (conjuctivitis), 2-4 hari kemudian muncul bintik putih kecil di mulut bagian dalam (bintik Koplik). Ruam (kemerahan di kulit) yang terasa agak gatal muncul 3-5 hari setelah timbulnya gejala diatas.

Ruam ini bisa berbentuk makula (ruam kemerahan yang mendatar) maupun papula (ruam kemerahan yang menonjol). Pada awalnya ruam tampak di wajah, yaitu di depan dan di bawah telinga serta dileher sebelah samping. Dalam waktu 1-2 hari, ruam menyebar ke batang tubuh, lengan dan tungkai, sedangkan ruam di wajah mulai memudar.

Gambar 1. Ruam kulit dan koplok spot pada penderita campak

Pada puncak penyakit, penderita merasa sangat sakit, ruamnya meluas serta suhu tubuhnya mencapai 40 Celsius. 3-5 hari kemudian suhu tubuhnyaturun, penderita mulai merasa baik dan ruam yang tersisa segera menghilang.Demam, kecapaian, pilek, batuk dan mata yang radang dan merah selama beberapa hari diikuti dengan ruam jerawat merah yang mulai pada muka dan merebak ke tubuh dan ada selama 4 hari hingga 7 hari. Tanda khas penyakit campak adalah adanya koplik spots (kemerahan dengan putih di tengah) di selaput lendir pipi yang tampak 1-2 hari sebelum timbulnya rash. Rash adalah kemerahan kulit yang biasanya muncul pada hari ke-14 setelah terpapar, kemudian menyebar dari kepala ke anggota badan selama 3-4 hari. Setelah 3-4 hari rash akan menghilang meninggalkan noda kehitaman. Rash merupakan manifestasi reaksi hipersensitivitas yang tidak akan terlihat pada orang

yang mengalami penekanan sistem imunitas seluler. Sel yang terinfeksi virus campak mampu berfusi membentuk sel raksasamultinuklear (multinuclear giant cells), yang merupakan tanda patologis infeksi virus campak. Pada pemeriksaan penunjang jumlah leukosit cenderung menurun disertai limfositosis relatif, isolasi dan identifikasi virus : Swab nasofaring dan sampel darah yang diambil dari pasien 2-3 hari sebelum onset gejala sampai 1 hari setelah timbulnya ruam kulit (terutama selama masa demam campak) merupakan sumber yang memadai untuk isolasi virus. Selama stadium prodromal, dapat terlihat sel raksasa berinti banyak pada hapusan mukosa hidung, serologis: konfirmasi serologi campak berdasarkan pada kenaikan empat kali titer antibodi antara sera fase akut dan fase penyembuhan atau pada penampakkan antibodi IgM spesifik campak antara 1-2 minggu setelah onset ruam kulit. Bagian utama dari respon imun ditujukan langsung pada protein NP. Hanya pada kasus campak yang tidak khas, yang pasti bereaksi terhadap protein M yang ada.7,9

e. Cara Penularan Penularan terjadi melalui percikan ludah dari hidung, mulut maupun tenggorokan penderita campak (air borne disease). Masa inkubasi adalah 10-14 hari sebelum gejala muncul. Cara penularan melalui droplet dan kontak,yakni karena menghirup percikan ludah (droplet) dari hidung, mulut maupun tenggorokan penderita morbili/campak. Penderita bisa menularkan infeksi ini dalam waktu 2-4 hari sebelum timbulnya ruam kulit dan selama ruam kulit ada. Masa inkubasi adalah 10-14 hari sebelum gejala muncul. Jika seseorang pernah menderita campak, maka seumur hidupnya dia akan kebal terhadap penyakit ini. Kekebalan terhadap campak diperoleh setelah vaksinasi, infeksi aktif dan kekebalan pasif pada seorang bayi yang lahir ibu yang telah kebal (berlangsung selama 1 tahun).

Orang-orang yang rentan terhadap campak adalah bayi berumur lebih dari 1 tahun, bayi yang tidak mendapatkan imunisasi, remaja dan dewasa muda yang belum mendapatkan imunisasi kedua.

f. Komplikasi Pada anak yang sehat dan gizinya cukup, campak jarang berakibat serius.Beberapa komplikasi yang bisa menyertai campak adalah infeksi bakteri seperti Pneumonia dan Infeksi telinga tengah, kadang terjadi trombositopenia (penurunan jumlah trombosit) sehingga pendeita mudah memar dan mudah mengalami perdarahan, dan ensefalitis (inteksi otak) terjadi pada 1 dari 1,0002.000 kasus.

II. IMUNISASI CAMPAK a. Definisi Imunisasi adalah pemberian vaksin untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu. Vaksin adalah suatu obat yang diberikan untuk membantu mencegah suatu penyakit. Vaksin membantu tubuh untuk menghasilkan antibodi. .Antibodi ini berfungsi melindungi terhadap penyakit. Vaksin tidak hanya menjaga agar anak tetap sehat, tetapi juga membantu membasmi penyakityang serius yang timbul pada masa kanak-kanak. Vaksin secara umum cukup aman. Keuntungan perlindungan yang diberikan vaksin jauh lebih besar daripada efek samping yang mungkin timbul. Dengan adanya vaksin maka banyak penyakit masa kanak-kanak yang serius, yang sekarang ini sudah jarang ditemukan. Imunisasi campak efektif untuk memberi kekebalan terhadap penyakit campak sampai seumur hidup. Penyakit campak yang disebabkan oleh virus yang ganas ini dapat dicegah jika seseorang mendapatkan imunisasi campak,minimal dua kali yakni semasa usia 6 bulan - 59 bulan dan masa SD (6 - 12tahun).

Upaya imunisasi campak tambahan yang dilakukan bersama dengan imunisasi rutin terbukti dapat menurunkan kematian karena penyakit campak sampai 48%. Tanpa imunisasi, penyakit ini dapat menyerang setiap anak, dan mampu menyebabkan cacat dan kematian karena komplikasinya seperti radang paru (pneumonia); diare, radang telinga (otitis media) dan radang otak (ensefalitis) terutama pada anak dengan gizi buruk. Hingga kini penyakitcampak masih menjadi penyebab utama kematian anak di bawah umur 1 tahun dan Balita umur 1 - 4 tahun di Indonesia. Diperkirakan lebih dari 30.000anak/tahun meninggal karena komplikasi campak. Selain itu, campak berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) atau wabah. Imunisasi adalah jalan utama untuk mencegah dan menurunkan angka kematian anak-anak akibat campak. Imunisasi ada dua macam, yaitu imunisasi aktif dan pasif. Imunisasi aktif adalah pemberian kuman atau racun kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan dengan tujuan untuk merangsang tubuh memproduksi antibody sendiri. Contohnya adalah imunisasi polio atau campak. Sedangkan imunisasi pasif adalah penyuntikan sejumlah antibodi, sehingga kadar antibodi dalamtubuh meningkat. Contohnya adalah penyuntikan ATS (Anti Tetanus Serum) pada orang yang mengalami luka kecelakaan. Contoh lain adalah yang terdapat pada bayi yang baru lahir dimana bayi tersebut menerima berbagai jenis antibodi dari ibunya melalui darah placenta selama masa kandungan,misalnya antibodi terhadap campak.

b. Jenis vaksin campak Vaksin campak merupakan vaksin virus hidup yang dilemahkan. Setiap dosis (0,5 ml) mengandung tidak kurang dari 1000 infective unit virus strain CAM 70, dan tidak lebih dari 100 mcg residu kanamycin dan 30 mcg residu erythromycin. Vaksin ini berbentuk vaksin beku kering yang harus dilarutkan hanya dengan pelarut steril yang tersediasecara terpisah untuk tujuan tersebut. Vaksin ini telah memenuhi persyaratan WHO untuk vaksin campak.
9

Gambar 2. Vaksin MMR

Vaksin Campak beku-kering harus disimpan pada suhu dibawah 8C (kalau memungkinkan di bawah 0 C) sampai ketika vaksin akandigunakan. Tingkat stabilitas akan lebih baik jika vaksin (bukan pelarut)disimpan pada suhu -20 C. Pelarut tidak boleh dibekukan tetapidisimpan pada kondisi sejuk sampai dengan ketika akan digunakan.Vaksin harus terlindung dari sinar matahari. Jumlah pemberian imunisasi campak diberikan sebanyak 2 kali; 1kali di usia 9 bulan, 1 kali di usia 6 tahun. Dianjurkan, pemberian campak ke-1 sesuai jadwal. Selain karena antibodi dari ibu sudahmenurun di usia 9 bulan, penyakit campak umumnya menyerang anak usia balita. Jika sampai 12 bulan belum mendapatkan imunisasi campak,maka pada usia 12 bulan harus diimunisasi MMR (Measles Mump Rubella). Vakin ini diberikan secara intramuscular. Lokasi penyuntikannya sebaiknya pada daerah paha anak. Vaksin campak yang telah dilarutkan hanya dapat bertahan selama 3 jam, setelah itu tidak dapat digunakan lagi. Efek samping dari vaksinasi ini , yaitu demam ringan dan kemerahan selama 3 hari yang dapat terjadi 8 - 12 hari setelah vaksinasi. Terjadinya Encephalitis setelah vaksinasi pernah dilaporkan yaitudengan perbandingan 1 kasus per 1 juta dosis yang diberikan. Terdapat beberapa kontraindikasi yang berkaitan dengan pemberian vaksin campak. Walaupun berlawanan penting untuk mengimunisas ianak yang mengalami malnutrisi. Demam ringan, infeksi ringan pada saluran nafas atau diare, dan beberapa penyakit ringan lainnya jangan dikategorikan sebagai
10

kontraindikasi. Kontraindikasi terjadi bagi individu yang diketahui alergi berat terhadap kanamycin dan erithromycin. Karena efek vaksin virus campak hidup terhadap janin belum diketahui, maka wanita hamil termasuk kontraindikasi. Vaksin Campak kontraindikasi terhadap individu-individu yang mengidap penyakit immune deficiency atau individu yang diduga menderita gangguan respon imun karena leukimia, lymphoma atau generalized malignancy. Bagaimanapun penderita HIV, baik yang disertai gejala ataupun tanpa gejala harus diimunisasi vaksin campak sesuai jadwal yang ditentukan.

III. KEJADIAN IKUTAN PASCA IMUNISASI (KIPI) Menurut Komite Nasional Pengkajian dan Penaggulangan KIPI (KNPP KIPI), KIPI adalah semua kejadian sakit dan kematian yang terjadi dalam masa 1 bulan setelah imunisasi. Pada keadaan tertentu lama pengamatan KIPI dapat mencapai masa 42 hari (arthritis kronik pasca vaksinasi rubella), atau bahkan 42 hari (infeksi virus campak vaccine- strain pada pasien imunodefisiensi pasca vaksinasi campak, dan polio paralitik serta infeksi virus polio vaccine-strain pada resipien

nonimunodefisiensi atau resipien imunodefisiensi pasca vaksinasi polio). Pada umumnya reaksi terhadap obat dan vaksin dapat merupakan reaksi simpang (adverse events), atau kejadian lain yang bukan terjadi akibat efek langsung vaksin. Reaksi simpang vaksin antara lain dapat berupa efek farmakologi, efek samping (side-effects), interaksi obat,intoleransi, reaksi idoisinkrasi, dan reaksi alergi yang umumnya secaraklinis sulit dibedakan.efek farmakologi, efek samping, serta reaksi idiosinkrasi umumnya terjadi karena potensi vaksin sendiri, sedangkan reaksi alergi merupakan kepekaan seseorang terhadap unsure vaksindengan latar belakang genetic. Reaksi alergi dapat terjadi terhadap protein telur (vaksin campak, gondong, influenza, dan demam kuning), antibiotik, bahan preservatif (neomisin, merkuri), atau unsur lain yang terkandung dalam vaksin.

11

Gejala klinis KIPI dapat timbul secara cepat maupun lambat dan dapat dibagimenjadi gejala lokal, sistemik, reaksi susunan saraf pusat, serta reaksi lainnya.Pada umumnya makin cepat KIPI terjadi makin cepat gejalanya. Gejala lokal antara lain Abses pada tempat suntikan, Limfadenitis, reaksi lokal lain yang berat, misalnya selulitis. Gejala sistemik seperti kelumpuhan akut, enfalopati, ensefalitis, kejang, dan meningitis, urtikaria, dermatitis, edema, reaksi anafilaksis, Syok anafilaksis, artralgia, demam tinggi >38,5C, episode hipotensif-hiporesponsif, osteomielitis, sindrom syok septis.

JADWAL IMUNISASI 2010 REKOMENDASI IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA (IDAI)

12

13

IV. PROFIL IMUNISASI CAMPAK PUSKESMAS KALUKU BODOA Puskesmas Kaluku Bodoa merupakan salah satu unit pelayanan kesehatan yang terletak di wilayah Kecamatan Tallo. Mengingat letak kecamatan ini yang berada di daerah padat penduduk, maka puskesmas ini menjadi sarana yang dapat dijangkau oleh masyarakat sekitar untuk mendapat pelayanan kesehatan. Salah satu kegiatan yang dilaksanakan di puskesmas ini adalah program imunisasi. Mengingat campak merupakan salah satu penyakit yang mengancam Indonesia, maka puskesmas ini pun turut serta melaksanakan Gerakan Aksi Imunisasi Nasional (GAIN) yang akan mulai dilaksanakan pada tanggal 18 Oktober 2011. GAIN ini merupakan program pemerintah dengan agenda pemberian imunisasi campak dan polio. Pemberian imunisasi campak telah dilaksanakan oleh Puskesmas Kaluku Bodoa dengan daerah kerja meliputi 6 kelurahan dengan jumlah sasaran imunisasi campak pada tahun 2011 sebanyak 1.357 orang. Penyebaran imunisasi campak Puskesmas Kaluku Bodoa dapat terlihat pada tabel. Sejak bulan januari hingga September jumlah pelaksanaan imunisasi campak telah mencapai 849 orang atau 62,6%. V. KESIMPULAN Penyakit campak disebabkan oleh virus morbilli. Tanda khasnya berupa Koplik spot di selaput lendir pipi, dan rash kulit yang muncul pada hari ke 14setelah terpapar virus campak.Imunisasi campak efektif untuk memberi kekebalan terhadap penyakit campak sampai seumur hidup.Penyakit campak yang disebabkan oleh virus yang ganas ini dapat dicegah jika seseorang mendapatkan imunisasi campak.Jumlah pemberianimunisasi campak diberikan sebanyak 2 kali; 1 kali di usia 9 bulan, 1 kalidi usia 6 tahun. Dianjurkan, pemberian campak ke-1 sesuai jadwal. Selain karena antibodi dari ibu sudah menurun di usia 9 bulan, penyakit campak umumnya

14

menyerang anak usia balita. Jika sampai 12 bulan belum mendapatkan imunisasi campak, maka pada usia 12 bulan harus diimunisasi MMR (Measles Mump Rubella).

VI. SARAN y Pelaksanaan imunisasi campak hendaknya terus dipertahankan dan

ditingkatkan demi meningkatkan taraf kesehatan masyarakat. y Penjaringan terhadap bayi-bayi yang belum mendapatkan imunisasi agar tetap gencar dilaksanakan. y Penyuluhan kepada masyarakat terutama orang tua akan pentingnya imunisasi terus dilaksanakan.

15