Anda di halaman 1dari 5

IMBIBISI Alat dan Bahan Bahan : Biji kacang hijau dan kedalai Air Alat : Gelas beker Timbangan

ngan Kertas saring Plastik / aluminium foil

Cara Kerja 1. Menyiapkan biji kacang hijau dan kacang kedelai, serta gelas beaker yang telah diisi dengan air. Mencatat keadaan awal biji (warna,ukuran,bentuk berat dan strukturnya). 2. Menimbang biji-biji yang akan digunakan dalam percobaan ini dan mencatat berat biji dan berat air yang ada di dalam gelas bekker. 3. Memasukkan biji-biji yang telah tercatat beratnya ke dalam air. Kemudian menimbang seluruh berat biji dan air itu (berat biji+berat air) . 4. Membiarkan rendaman biji-biji tersebut selama 24 jam, menutup rapat gelas beaker dengan aluminium foil agar tidak terjadi penguapan. Menyimpan rendaman pada tempat yang sejuk dan tidak banyak sinar yang terpancar. 5. Setelah 24 jam kemudian menimbang kembali gelas beaker yang berisi air dan biji. Mengambil biji-biji yang telah direndam dan diletakkan di atas ketas saring dan menimbangnya kemudian Menimbang air yang terdapat di dalam gelas beker dan Mengamati perubahan-perubahan yang terjadi pada biji.

Hasil Pengamatan Botol I (Biji Kedelai) Berat total (botol, kedelai, dan air) 210,5 gram

Kedelai Berat semula Air Air dan Kedelai Kedelai Berat sesudah Air Air dan Kedelai Berat air yang diserap biji kedelai Presentase air yang diserap biji kedelai

10 gram 50 gram 60 gram 22,5 gram 35,5 gram 58 gram 12,5 gram 25%

Botol II (Biji Kacang HIjau) Berat total (botol, kacang hijau, dan air) Kacang Hijau Berat semula Air Air dan Kacang Hijau Kacang Hijau Berat sesudah Air Air dan Kacang Hijau Berat air yang diserap biji kacang hijau Presentase air yang diserap biji kacang hijau 211,2 gram 10 gram 50 gram 60 gram 24,4 gram 34,1 gram 58,5 gram 14,4 gram 28,8 %

Diskusi a. Bagaimana air dapat melakukan imbibisi ke dalam biji ditinjau dari stuktur biji dan proses difusi/osmosis? Jawab : Air melakukan imbibisi dengan bergeraknya molekul air ke dalam biji melewati pori-pori biji. Air itu kemudian menetap dalam biji. Proses imbibisi ini selain menunjukkan adanya proses absorbsi air/penyerapan air dari luar ke dalam biji juga proses difusi molekul air konsentrasi rendah di luar biji ke konsentasi tinggi di dalam biji. b. Perubahan-perubahan apa saja yang terjadi pada biji yang telah mengalami imbibisi dan bagaimana kaitannya dengan proses fisiologi biji itu sendiri? Jawab :

Terjadi proses gerakan, transport, dan pertukaran bahan-bahan seperti air, mineral, ion, CO2, O2. Perubahan yang terjadi pada biji yang mengalami imbibisi adalah ukurannya bertambah besar, warnanya bertambah pucat dari warna awal, dan beratmya bertambah. c. Jelaskan hubungan imbibisi air pada biji dengan proses perkecambahan biji? Jawab : Proses imbibisi air melibatkan penyerapan air dan mineral berbentuk ion yang berlebih, menyebabkan jaringan biji berkembang sehingga mengakibatkan perkecambahan. d. Bagaimana pengaruh lingkungan terhadap proses imbibisi air pada biji? Jelaskan dengan memberi contoh adanya imbibisi pada kondisi di alam (hutan)! Jawab : Lingkungan sangat berpengaruh terhadap proses imbibisi, karena faktor-faktor biotik maupun abiotik akan berpengaruh pada gerakan molekul air ke dalam imbiban. Di antaranya temperatur (karena kenaikan temperatur menambah giatnya difusi, osmosis, imbibisi). Pada lingkungan alam, hutan yang lebih basah akan menyebabkan air terserap lebih banyak dan lebih cepat ke dalam biji. Akibatnya hutan hujan tropis memiliki kepadatan dan keragaman tumbuhan yang tinggi, sementara hutan yang kurang basah seperti hutan musim jenis dan kerapatan tumbuhannya tidak setinggi yang terdapat pada hutan hutan tropis.

Pembahasan Imbibisi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan peristiwa penyerapan air oleh imbiban ke dalam rongga jaringan melalui pori-pori secara pasif, terutama karena daya serap senyawa polisakarida seperti hemiselulosa, pati, dan selulosa. Imbibisi terutama terjadi pada biji kering karena potensial air yang rendah. Peristiwa ini merupakan proses awal perkecambahan. Benih yang telah menyerap air akan mengalami pertambahan ukuran, kulitnya pecah, dan mulai berkecambah dengan ditandai oleh keluarnya radikula dari dalam benih. Imbibisi terjadi apabila terdapat perbedaan tekanan antara benih dan larutan, sehingga terjadi tarik menarik yang spesifik antara air dengan benih. Benih memiliki partikel koloid yang merupakan matriks, bersifat hidrofil, berupa protein, pati, dan selulose. Benih kering memiliki tekanan sangat rendah sehingga air mudah masuk ke dalam jaringan. Peristiwa imbibisi itu sebenarnya juga proses osmosis sebab dinding sel-sel kulit maupun protoplas biji kacang itu semi permeabel untuk molekul-molekul air sehingga molekul-molekul air dapat melewati lubang-lubang dinding sel dan masuk ke dalam sel. Dari

contoh biji kacang kering tersebut dapat diketahui adanya pengembangan atau bertambahnya volume dari imbiban sebagai akibat dari imbibisi. Karena molekul-molekul air yang masuk dan kemudian menetap di dalam imbiban itu tersusun secara berjejal-jejal melalui miselmisel imbiban (akibat absorpsi), maka air yang ada di dalam imbiban itu lebih padat dari pada susunan air yang ada di luar imbiban yang disebut air bebas. Dengan demikian, volume air ditambah volume biji lebih besar dari pada volume biji yang sudah kemasukan air (Dwidjoseputro, 1986) Pada praktikum ini digunakan dua jenis benih, yakni benih kedelai dan benih kacang hijau. Masing-masing jenis benih diukur beratnya, kemudian direndam dalam air selama 24 jam, lalu ditimbang berat akhirnya. Dengan demikian dapat diketahui berapa banyak air yang diserap oleh benih. Masing-masing jenis benih ditentukan beratnya sebanyak 10 gram, lalu diendam dalam air yang beratnya ditentukan sebesar 50 gram, sehingga total berat air dan benih masing-masing 60 gram. Air dan benih tersebut kemudian dimasukkan dimasukkan ke dalam gelas, ditutup dengan alumunium foil untuk mencegah penguapan, sebelum diinapkan selama 24 jam. Setelah 24 jam benih dipisahkan dengan air dan ditimbang lagi beratnya. Biji kedelai setelah diinapkan dalam air memiliki berat 22,5 gram, atau telah mengalami pertambahan berat sebanyak 12,5 gram atau sebanyak 25% dari total berat air. Sementara berat air sisanya adalah 35,5 gram. Jika dilihat, terdapat selisih air sebanyak 2 gram. Air sejumlah 2 gram tersebut digunakan untuk proses metabolisme benih dan juga mengalami penguapan. Dilihat dari terbentuknya uap air yang mengembun di dinding gelas seelah 24 jam. Sementara biji kacang hijau setelah diinapkan selama 24 jam dalam air memiliki berat 24,4 gram. Artinya benih telah mengalami pertambahan berat dari air yang masuk ke dalam rongga jaringannya sebanyak 14,4 gram atau 28,8 % dari total berat air. Sisa berat air adalah sebanyak 34,1 gram. Terdapat selisih 1,5 gram. Jumlah tersebut adalah air yang digunakan untuk metabolisme benih dan mengalami penguapan sepanjang benih diinapkan. Perbedaan lain yang terlihat dari benih sesudah diinapkan antara lain adalah kulitnya pecah karena tak lagi mampu menahan ukuran benih yang semakin membesar. Dari benih juga tumbuh radikula, menandai terjadinya proses perkecambahan. Warna benih berubah menjadi lebih pucat,sementara teksturnya yang semula padat berubah jadi lebih liat.

Kesimpulan

Imbibisi adalah peristiwa masuknya air ke dalam imbiban, misalnya benih tumbuhan. Air masuk ke dalam rongga-rongga jaringan di dalam benih, menyebabkan terjadinya pertambahan volume biji. Terjadi perubahan massa, tekstur, dan warna pada biji di samping terjadinya perkecambahan.

Daftar Pustaka Dwidjoseputro, D. 1986. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. PT Gramedia. Jakarta. Salisbury, Frank B, dan Ross, Cleo W. 1991. Fisiologi Tumbuhan. ITB Bandung.