Anda di halaman 1dari 26

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Setiap aktivitas yang dilakukan pekerja seringkali menimbulkan fatigue

pada saat pekerja melakukan gerakan-gerakan yang salah saat mengangkat beban. Keadaan fatigue yang dilakukan saat bekerja dapat menurunkan tingkat produktivitas kerja, dan dapat mempengaruhi kondisi kesehatan pekerja. Untuk menganalisis dan mengatasi permasalahan ini, maka dapat digunakan konsep Biomekanika, yaitu suatu kombinasi ilmu fisika (khususnya mekanik), teknik dan didasari oleh ilmu biologi dan juga pengetahuan mengenai lingkungan kerja. Pada dasarnya, biomekanika akan menganalisis batas kekuatan, ketahanan, kecepatan, dan ketelitian yang dimiliki manusia saat melakukan kerja. Seperti saat seorang pekerja diharuskan mengangkat sebuah beban yang berada pada ketinggian tertentu. Hal-hal yang harus dianalisis antara lain, berat beban yang diangkat, cara pekerja mengangkat beban, serta jarak tubuh pekerja dengan beban yang akan diangkat. Biomekanika dapat mendeteksi tingkat resiko yang akan terjadi pada suatu jenis pekerjaan. Selain mendeteksi, biomekanika juga dapat memberikan solusi batas tingkat keamanan postur dan kekuatan. Jika pekerja dapat melaksanakan pekerjaan dengan cara yang benar, maka fatigue dan kecelakaan saat bekerja dapat dikurangi. Jika pekerja dapat melakukan pekerjaan dengan nyaman, tanpa harus mengalami fatigue, maka pekerjaan pun akan semakin meningkat

produktivitasnya. Hal ini dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan, baik dalam segi produktivitas, profit, maupun kesehatan bagi pekerja. Dengan kata lain, biomekanika merupakan ilmu yang sangat dibutuhkan, untuk meningkatkan produktivitas dari setiap pekerja, dalam menyelesaikan pekerjaan.

1.2

Tujuan 1. Mampu melakukan pengukuran kerja dan memanfaatkannya dalam perancangan sistem kerja berdasarkan prinsip-prinsip biomekanika 2. Mampu melakukan analisa terhadap beban kerja yang terjadi dalam suatu sistem kerja dengan metode biomekanika 3. Mampu memahami dan melakukan perbaikan terhadap beban kerja yang dikenakan pada anggota tubuh pekerja 4. Mampu mengaplikasikan metode-metode yang terdapat dalam prinsip mekanika khusunya maximum permissible limit

BAB II LANDASAN TEORI

2.1

Pemindahan Beban Secara Manual (Manual Material Handling) Pengertian pemindahan beban secara manual, menurut American Material

Handling Society bahwa material handling dinyatakan sebagai seni dan ilmu yang meliputi penanganan (handling), pemindahan (moving), pengepakan (packaging), penyimpanan (storing) dan pengawasan (controlling) dari material dengan segala bentuknya. Pemindahan secara manual apabila tidak dilakukan secara ergonomi akan menimbulkan kesalahan dalam industri. Kecelakaan industri (industrial accident) disebut over exertion-lifting and carrying yaitu kerusakan jaringan tubuh akibat kelebihan beban angkatan. Dari data kecelakaan kerja 93% diantaranya diakibatkan oleh strain (rasa nyeri yang berlebihan) sedangkan 5% lainnya pada hernia.

2.2

Biomekanika Biomekanika, adalah suatu bidang kajian ilmu ergonomi yang

berhubungan dengan mekanisme tubuh dalam melakukan suatu pekerjaan / tindakan. Penelitian mengenai sudut, atau otot yang terlibat ketika melakukan suatu pekerjaan merupakan salah satu bidang kajian ini. Nilai dari analisa biomekanika adalah rentang postur atau posisi aktivitas kerja, ukuran beban, dan ukuran manusia yang dievaluasi. Sedangkan kriteria keselamatan adalah berdasar pada beban tekan (compression load) pada invertebratal disc atau lumbar nomor lima dan sacrum nomor satu (L5/S1). Biomekanika merupakan salah satu dari empat bidang penelitian informasi hasil ergonomi. Yaitu penelitian tentang kekuatan fisik manusia yang mencakup kekuatan atau daya fisik manusia ketika bekerja dan mempelajari bagaimana cara kerja serta peralatan harus dirancang agar sesuai dengan kemampuan fisik manusia ketika melakukan aktivitas kerja tersebut. Dalam biomekanik ini banyak disiplin ilmu yang mendasari dan berkaitan untuk dapat
3

menopang perkembangan biomekanik. Disiplin ilmu ini tidak terlepas dari kompleksnya masalah yang ditangani oleh biomekanik ini.

Bagan Biomekanik dan Pendukungnya Secara umum, biomekanika dibagi menjadi dua bagian, yaitu General Biomechanic dan Occupational Biomechanic. 1. General Biomechanic General Biomechanic adalah bagian dari Biomekanika yang berbicara mengenai hukum hukum dan konsep konsep dasar yang mempengaruhi tubuh organic manusia baik dalam posisi diam maupun bergerak. Dibagi menjadi 2, yaitu: a. Biostatics adalah bagian dari biomekanika umum yang hanya menganalisis tubuh pada posisi diam atau bergerak pada garis lurus dengan kecepatan seragam (uniform). b) Biodinamic adalah bagian dari biomekanik umum yang berkaitan dengan gambaran gerakan gerakan tubuh tanpa mempertim-bangkan gaya yang terjadi

(kinematik) dan gerakan yang disebabkan gaya yang bekerja dalam tubuh (kinetik) (Tayyari, 1997). 2. Occupational Biomechanic. Didefinisikan sebagai bagian dari biomekanik terapan yang mempelajari interaksi fisik antara pekerja dengan mesin, material dan peralatan dengan tujuan untuk meminimumkan keluhan pada sistem kerangka otot agar produktifitas kerja dapat meningkat. Setelah melihat klasifikasi diatas maka dalam praktikum kita ini dapat kita kategorikan dalam Biomekanik Occupational Biomechanic. Dalam biomekanik ini banyak melibatkan bagian bagian tubuh yang berkolaborasi untuk menghasilkan gerak yang akan dilakukan oleh organ tubuh yakni kolaborasi antara Tulang, Jaringan penghubung (Connective Tissue) dan otot.

2.3

Anggota Gerak Bagian Atas Anggota gerak bagian atas (Upper limb) adalah susunan gerak tubuh yang

meliputi bahu, siku, dan pergelangan tangan, yang merupakan bagian tubuh atas yang dominan digunakan manusia untuk bergerak.

2.4

Anggota Gerak Bawah (Lower Limb) Anggota gerak tubuh bagian bawah merupakan bagian tubuh yang paling

dominan digunakan manusia untuk melakukan gerak. Selain sebagai anggota gerak, bagian tubuh ini cenderung lebih ke menahan / menopang berat beban dari tubuh manusia. Adapun yang termasuk ke dalam anggota gerak bagian bawah yakni, pinggul, lutut, dan pergelangan kaki.

2.5

Ligamen Ligamen berfungsi sebagai penghubung antara tulang dengan tulang untuk

stabilitas sambungan (joint stability) atau untuk membentuk bagian sambungan dan menempel pada tulang. Ligamen tersusun atas serabut yang letaknya tidak paralel. Oleh karenanya tendon dan ligamen bersifat inelastic dan berfungsi pula untuk menahan deformasi. Adanya tegangan yang konstan akan dapat memperpanjang ligamen dan menjadikannya kurang efektif dalam menstabilkan sambungan (joints).

2.6

Catilagenous Sambungan cartilagenous khusus, antara vertebrata ( ruas-ruas tulang

belakang) yaitu dikenal sebagai interveterbratal disc, yang terdiri dari pembungkus, dan dikelilingi oleh inti (puply core). Verterbrae juga terdapat pada ligamen dan otot. Adanya gerakan yang relatif kecil pada setiap jointnya, dapat mengakibatkan adanya flaksibelitas badan manusia untuk membungkuk, menengadah, dan memutar.

2.7

Analisis Mekanik Merupakan batas besarnya gaya tekan pada segmen L5/S1 dari kegiatan

pengangkatan dalam satuan Newton yang distandarkan oleh NIOSH (National

Instiute of Occupational Safety and Health) tahun 1981. Besar gaya tekannya adalah di bawah 6500 N pada L5/S1. Sedangkan batasan gaya angkatan normal (the Action Limit) sebesar 3500 pada L5/S1. Sehingga, apabila Fc < AL (aman), AL < Fc < MPL (perlu hati-hati) dan apabila Fc > MPL (berbahaya). Batasan gaya angkat maksimum yang diijinkan , yang direkomendasikan NIOSH (1991) adalah berdasarkan gaya tekan sebesar 6500 N pd L5/S1 , namun hanya 1% wanita dan 25% pria yang diperkirakan mampu melewati batasan angkat ini. Perlu diperhatikan bahwa nilai dari analisa biomekanika adalah rentang postur atau posisi aktifitas kerja, ukuran beban, dan ukuran manusia yang dievaluasi. Sedangkan kriteria keselamatan adalah berdasar pada beban tekan (compression load) pada intebral disk antara Lumbar nomor lima dan sacrum nomor satu (L5/S1). Untuk mengetahui lebih jelas lagi L5/S1 dapat dilihat pada gambar 1.5 dibawah ini

2.8

Perhitungan Biomekanik Telapak Tangan

Lengan atas

Lengan Bawah

Punggung

Gaya otot pada spinal erector dirumuskan sebagai berikut:

FM E M(L5/S1) FA D

= Gaya otot pada Spinal Erector (Newton) = Panjang Lengan momen otot spinal erector dari L5/S1 (estimasi 0,05 m sumber: Nurmianto; 1996) = MT = Momen resultan pada L5/S1 = Gaya Perut (Newton) = Jarak dari gaya perut ke L5/S1 ( 0,11 m)

Untuk mencari Gaya Perut (FA), maka perlu dicari Tekanan Perut (PA) dengan persamaan:

2.8

Rekomendasi Batas Beban

Recommended Weight Limit merupakan rekomendasi batas beban yang dapat diangkat oleh manusia tanpa menimbulkan cidera meskipun pekerjaan tersebut dilakukan secara repetitive dan dalam jangka waktu yang cukup lama. RWL ini ditetapkan oleh NIOSH pada tahun 1991 di Amerika Serikat. Persamaan NIOSH berlaku pada keadaan :

a. Beban yang diberikan adalah beban statis, tidak ada penambahan ataupun pengurangan beban di tengah tengah pekerjaan. b. Beban diangkat dengan kedua tangan. c. Pengangkatan atau penurunan benda dilakukan dalam waktu maksimal 8 jam. d. Pengangkatan atau penurunan benda tidak boleh dilakukan saat duduk atau berlutut. e. Tempat kerja tidak sempit. Berdasarkan sikap dan kondisi sistem kerja pengangkatan beban dalam proses pemuatan barang yang dilakukan oleh pekerja dalam eksperimen, penulis melakukan pengukuran terhadap faktor faktor yang mempengaruhi dalam pengangkatan beban dengan acuan ketetapan NIOSH (1991).

10

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1

Batasan Penelitian a. b. c. Penelitian dilakukan di Laboratorium Ergonomika. Penelitian dilakukan pada pukul 07.00-09.00 WIB. Objek penelitian adalah praktikan yang diukur dimensi tubuhnya pada saat mengangkat beban 35 kg yang diletakkan diketinggian tertentu. d. Waktu pengambilan data pada tanggal 20 Oktober 2011

3.2 Alat Dan Bahan a. b. c. d. e. f. g. h. Beban kerja 35 kg Timbangan berat badan Penggaris dan meteran Alat pengukur sudut Kamera Laptop Modul praktikum ergonomika Alat tulis

3.3

Prosedur Praktikum a. Mendengarkan asisten yang menjelaskan materi biomekanika dan langkah-langkah praktikum. b. c. Menentukan dua orang yang akan menjadi operator. Membagi menjadi dua tim kemudian melakukan analisis biomekanika terhadap operator.

11

d.

Operator mengangkat beban 35 kg dengan ketinggian 0 meter, 50 meter, 70 meter, dan 90 meter.

e.

Mengambil gambar posisi tubuh operator dengan menggunakan kamera pada setiap ketinggian yang telah ditentukan untuk memudahkan pengumpulan data.

f.

Setiap kelompok melakukan pengumpulan dan pengambilan data yang dibutuhkan untuk perhitungan Maximum Permissible Limit (MPL) kemudian mencatatnya pada table yang telah disediakan.

g.

Melakukan perhitungan Maximum Permissible Limit (MPL) dan menganalisis postur tubuh mana yang paling baik untuk pengangkatan beban kerja tersebut.

h. i.

Membuat laporan sementara kemudian memintakan cap ke asisten Membuat laporan praktikum ergonomika sesuai dengan format yang telah ditentukan

12

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Tabel Hasil Pengamatan

Tabel 1. Hasil Pengamatan Pada Praktikan dengan Tinggi Maksimum Nama Operator Berat Badan Berat Beban Segmen Telapak Tangan Lengan Bawah Lengan Bawah Punggung Inklimasi Perut Inklimasi Paha : Satya : 78 kg : 35 kg 0m Sudut Panjang () (m) 60 75 90 80 68 69 0.16 0.38 0.37 0.49

0.5 m 0.7 m 0.9 m Sudut Panjang Sudut Panjang Sudut Panjang () (m) () (m) () (m) 80 80 78 65 65 83 0.16 0.38 0.37 0.56 62 61 73 90 90 90 0.165 0.38 0.36 0.56 22 30 90 90 90 90 0.17 0.39 0.36 0.54

Tabel 2. Hasil Pengamatan Pada Praktikan dengan Tinggi Minimum Nama Operator Berat Badan Berat Beban Segmen Telapak Tangan Lengan Bawah Lengan Bawah Punggung : Farah : 49 kg : 35 kg 0m Sudut Panjang () (m) 61 77 89 28 0.13 0.28 0.3 0.36

0.5 m 0.7 m 0.9 m Sudut Panjang Sudut Panjang Sudut Panjang () (m) () (m) () (m) 60 64 84 54 0.13 0.29 0.28 0.32 57 62 71 87 0.135 0.28 0.281 0.34 54 13 80 85 0.13 0.325 0.25 0.355

13

Inklimasi Perut Inklimasi Paha

32 64

46 78

74 75

70 84

4.2

Gambar Hasil Pengamatan Nama Operator Berat Badan Berat Beban : Satya : 78 kg : 35 kg

Gambar 1. ketinggian 0m

Gambar 2. ketinggian 0.5m

Gambar 3. ketinggian 0.7m

Gambar 4. ketinggian 0.9m

14

Nama Operator Berat Badan Berat Beban

: Farah : 49 kg : 35 kg

Gambar 5. ketinggian 0m

Gambar 6. ketinggian 0.5m

Gambar 7. ketinggian 0.7m

Gambar 8. ketinggian 0.9m

4.3

Hasil Perhitungan dan Pembahasan 1. Nama Operator Berat Badan Berat Beban : Satya : 78 kg : 35 kg

15

Tabel 3. Hasil Perhitungan Beban Pada Telapak Tangan Segmen : Telapak Tangan Rumus : = 0 = 0 = 0 Wh = 0.6% x W badan Fyw = Wo/2 + WH Mw = ( Wo/2 + WH) x SL1 x cos1 0m WH (N) Fyw (N) Mw (Nm) 4.68 179.68 14.374 0.5 m 4.68 179.68 4.9908 0.7 m 4.68 179.68 13.918 0.9 m 4.68 179.68 28.32

Tabel 4. Hasil Perhitungan Beban Pada Lengan Bawah Segmen : Lengan Bawah Rumus : = 0 = 0 = 0 2 = 43% WLA = 1.7% x WBadan Fye = W0/2 + WH Mw = (W0/2 + WH) x SL1 x cos 1 0m WLA (N) Fye (N) 13.26 192.94 0.5 m 13.26 192.24 0.7 m 13.26 192.24 0.9 m 13.26 192.24

16

Me (Nm)

32.607

17.22

48.07

90.939

Tabel 5. Hasil Perhitungan Beban Pada Lengan Atas Segmen : Lengan Atas Rumus : FX = 0 FY = 0 M = 0 3 = 43.6% WUA = 2.8% x WBadan Fys = Fye + WUA Ms = Me + (WUA x 3 x SL3 x cos 3) + ( Fye x SL3 x cos 3) 0m WUA (N) Fys (N) Ms (Nm) 21,84 214,78 32,607 0.5 m 21,84 214,78 32,74 0.7 m 21,84 214,78 69,379 0.9 m 21,84 214,78 90,439

Tabel 6. Hasil Perhitungan Beban Pada Punggung Segmen : Punggung Rumus : FX = 0 FY = 0 M = 0 4 = 67% WT = 50% x WBadan Fyt = 2Fys + WT Mt = 2Ms + (WT x 4 x SL4 x cos 4) + ( Fys x SL4 x cos 4) 0m WT (N) 390 0.5 m 390 0.7 m 390 0.9 m 390

17

Fyt (N) Mt (Nm)

819,56 372.144

819,56 228,976

819,56 138,758

819,56 180,878

Tabel 7. Hasil Perhitungan Beban Total Perhitungan Beban Rumus : 104 4.3 0.36 + [5 ]1.8 = FA = PA x AA Wtot = W0 + 2WH + 2WLA + 2WUA + WT FM = [M(L5/S1) - FAD] / E FC = Wtot x cos 4 - FA + FM 0m PA FA FM Wtot FC (N) Batas Normal 3500 N Batas Maksimum 6500 N > < < < > > < > -0,278 -129.527 7727.82 819,56 8567.10 0.5 m -0,242 -112.53 4899.719 819,56 5358.59 0.7 m -0,208 -97 2988,56 819,56 2891,56 0.9 m -0,3359 -156,19 3961 819,56 4117,19
1

75

2.

Nama Operator Berat Badan Berat Beban

: Farah : 49 kg : 35 kg

18

Tabel 8. Hasil Perhitungan Beban Telapak Tangan Segmen : Telapak Tangan Rumus : FX = 0 FY = 0 M = 0 WH = 0.6% x WBadan Fyw = W0/2 + WH Mw = (W0/2 + WH) x SL1 x cos 1 0m WH (N) Fyw (N) Mw (Nm) 2.94 177.94 11.215 0.5 m 2.94 177.94 11.566 0.7 m 2.94 177.94 13.083 0.9 m 2.94 177.94 13.597

Tabel 9. Hasil Perhitungan Beban Pada Lengan Bawah Segmen : Lengan Bawah Rumus : FX = 0 FY = 0 M = 0 2 = 43% WLA = 1.7% x WBadan Fye = Fyw + WLA Me = Mw x (WLA x 2 x SL2 x cos 2) + (WLA x 2 x SL2 x cos 2) 0m WLA (N) Fye (N) Me (Nm) 8.33 186.27 22.468 0.5 m 8.33 186.27 34.64 0.7 m 8.33 186.27 36.94 0.9 m 8.33 186.27 71.08

19

Tabel 10. Hasil Perhitungan Beban Pada Lengan Atas Segmen : Lengan Atas Rumus : FX = 0 FY = 0 M = 0 3 = 43.6% WUA = 2.8% x WBadan Fys = Fye + WUA Ms = Me + (WUA x 3 x SL3 x cos 3) + ( Fye x SL3 x cos 3) 0m WUA (N) Fys (N) Ms (Nm) 13.72 199.99 23.73 0.5 m 13.72 199.99 40.67 0.7 m 13.72 199.99 55.78 0.9 m 13.72 199.99 80.02

Tabel11. Hasil Perhitungan Beban Pada Punggung Segmen : Punggung Rumus : FX = 0 FY = 0 M = 0 4 = 67% WT = 50% x WBadan Fyt = 2Fys + WT Mt = 2Ms + (WT x 4 x SL4 x cos 4) + ( Fys x SL4 x cos 4) 0m WT (N) Fyt (N) Mt (Nm) 245 644.98 226.78 0.5 m 245 644.98 187.45 0.7 m 245 644.98 121.59 0.9 m 245 644.98 177.49

20

Tabel 12. Hasil Perhitungan Beban Total Perhitungan Beban Rumus : 104 4.3 0.36 + [5 ]1.8 = FA = PA x AA Wtot = W0 + 2WH + 2WLA + 2WUA + WT FM = [M(L5/S1) - FAD] / E FC = Wtot x cos 4 - FA + FM 0m PA FA FM Wtot FC (N) Batas Normal 3500 N Batas Maksimum 6500 N < < < < > > < > 0.196 91.14 5135 644.98 5613.34 0.5 m -0.027 -12.555 3776.6 644.98 4168.265 0.7 m -0.0803 -37.34 2513.948 644.98 2585.044 0.9 m -0.1586 -73.749 3712.04 644.98 3842.0027
1

75

4.4

Pembahasan dan Perbaikan

Pembahasan : Berdasarkan data di atas, tidak didapatkan posisi tubuh pekerja yang bisa dikategorikan sebagai posisi kerja yang berbahaya. Semua perhitungan menunjukkan bahwa tidak ada beban yang melebihi batas

21

maksimum yang bisa diterima pekerja. Namun dari hasil perhitungan, diperoleh nilai beban yang diterima pekerja melebihi batas normal beban sebesar 3500 N. Jumlah data yang menyatakan beban pekerja yang berada pada batas normal adalah 5 dan 1 data melebihi batas maksimum. Dari praktikan pertama yang memiliki tinggi tubuh maksimum terdapat 2 data yang melebihi batas normal dan 1 data yang melebihi batas maksimum. Sedangkan pada praktikan kedua yang memiliki tinggi tubuh minimum didapatkan data yang melebihi batas normal sejumlah 3. Pekerja dapat mengangkat beban dengan posisi yang benar pada saat beban tersebut berada pada ketinggian 0,7m dari permukaan tanah. Sedangkan jika pekerja mengangkat beban pada ketinggian 0m dan 0,5m pekerja akan mengalami fatigue akibat postur tubuh yang membungkuk saat mengangkat beban. Selain itu jika pekerja mengangkat beban pada ketiggian 0,9m, pekerja juga akan mengalami fatigue yang disebabkan oleh posisi tangan yang tidak normal. Besar beban yang sebaiknya diterima pekerja adalah tidak melebihi batas normal, yaitu 3500N. Oleh karena itu pekerja yang mengangkat beban lebih dari 3500N, perlu melakukan perbaikan. Perbaikan yang bisa dilakukan diantaranya posisi tubuh saat mengangkat beban, ketinggian beban yang sesuai dengan tubuh pekerja, dan cara mengangkat beban. Saat mengangkat beban, beban seharusnya berada sedekat mungkin dengan tubuh pekerja. sebagai contoh, saat pekerja mengangkat beban pada ketinggian 0m, sebaiknya pekerja berada pada posisi jongkok sehingga beban tertumpu pada kaki bukan punggung. Perbaikan-perbaikan tersebut dapat mengurangi kemungkinan kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

Perbaikan : Berdasarkan hasil perhitungan data beban berlebih lebih banyak dipengaruhi oleh ketinggian benda dari permukaan tanah. Oleh karena itu, beban sebaiknya diletakkan pada ketinggian yang tepat. Dalam hal ini

22

ketinggian yang tepat untuk pekerja adalah 0,7m. ketinggian tersebut sesuai dengan pekerja yang memiliki tinggi tubuh maksimum maupun minimum. Umtuk memenuhi ketinggian tersebut dapat digunakan alat bantu berupa meja yang dapat diatur ketinggiannya.

23

BAB V KESIMPULAN

Setelah dilakukan pengukuran postur serta posisi pekerja berdasarkan konsep biomekanika dengan objek yang memiliki tinggi tubuh minimum terdapat 3 posisi yang dikategorikan tidak aman, yaitu pada jarak beban 0 cm, 50 cm, dan 90 cm. Dimana pada jarak tersebut dengan beban 35 kg, memiliki nilai Fc diatas batasan gaya angkat normal sebesar 3500 N. Sedangkan pada pengukuran pekerja yang memiliki tinggi badan maksimum, terdapat 1 postur yang dikategorikan berbahaya, karena memiliki nilai Fc yang lebih besar dari nilai MPL (Maximum Permissible Limit) yaitu diatas 6500 N, pada saat pekerja mengangkat beban sejauh 0 cm. Kemudian terdapat 2 posisi yang dikategorikan tidak aman yaitu pada saat pekerja mengangkat beban dengan jarak 50 cm dan 90c m, karena memiliki nilai Fc diatas 3500 N. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa pada saat pekerja mengangkat beban seberat 35kg, batas aman jarak yang harus dipenuhi adalah 70 cm, karena pada jarak tersebut menghasilkan nilai Fc dibawah batasan gaya angkat normal, baik pekerja dengan tinggi badan minimum maupun maksimum. Jika nilai Fc berada diatas nilai Al, maka perlu dilakukan peninjauan dan perbaikan lebih lanjut terhadap posisi ketinggian beban ataupun berat beban yang diangkat. Sedangkan apabila terdapat nilai Fc yang berada di atas nilai MPL, maka perlu dilakukan perubahan jarak serta berat beban yang diangkat dengan segera.

24

DAFTAR PUSTAKA

Jurnal Ilmiah Teknik Industri. 2010. Analisis Manual Handling Menggunakan NIOSH Equation. Surakarta : Jurnal Ilmiah Terbitan Berkala Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Laboratorium Ergonomika UII. 2010. Pengukuran Kerja Fisik Manusia Dengan Pendekatan Biomekanika. Yogyakarta : Universitas Islam Indonesia.

25

LAMPIRAN

26