Anda di halaman 1dari 4

F. Diagnosis(1) 1. Anamnesis Gangguan gaya berjalan dapat terjadi karena berbagai penyebab.

Gaya berjalan mungkin berubah oleh karena nyeri setempat di kaki, nyeri di suatu sendi, klaudikasi pada pinggul atau tungkai, penyakit tulang, gangguan vestibular, atau gangguan ekstrapiramidal. Terganggunya traktus kortikospinalis di dalam serebrum setelah stroke menimbulkan kelemahan spastkc pada tungkai kontralateral. Kaki diseret-seret, dan seluruh tungkai terlihat kaku dan diekstensikan. Lesi medula spinalis dapat menimbulkan paralisis spastik yang menyerang kedua tungkai. Gaya berjalan yang lambat dan kaku dengan langkah-langakah kecil. Setiap pasien dengan gangguan gaya berjalan dapat ditanya pertanyaan-pertanyaan berikut ini : Apakah Anda menderita nyeri di tungkai atau pinggul kalau berjalan? Apakah Anda mempunyai riwayat diabetes? 2. Pemeriksaan Fisik Fungsi motorik ekstremitas bawah a. Pemeriksaan Aduksi Pinggul Mintalah kepada pasien untuk membuka tungkainya. Letakkan kedua tangan pada permukaan medial lutut pasien. Surulah pasien untuk mendekatkan tungkainya melawan tahanan. Tindakan ini menguji aduksi pinggul oleh nervus obturator dari radiks L2-L4. b. Pemeriksaan Abduksi Pinggul Letakkan kedua tangan pada bagian lateral lutut pasien. Mintalah pasien untuk membuka tungkainya dengan melawan tahanan. Prosedur ini menguji abduksi pinggul oleh nervus gluteus superior dari radiks L4-S1. c. Pemeriksaan Fleksi Lutut Mintalah pasien untuk mengangkat lututnya dengan kaki terletak di tempat tidur. Surulah pasien untuk menekan kakinya ketika Anda berusaha untuk mengekstensikan tungkainya. Tindakan ini menguji fleksi lutut oleh nervus ischiadikus dari radiks L4-S1. d. Pemeriksaan Ekstensi Lutut Mintalah pasien untuk mengangkat lututnya dengan telapak kaki terletak di atas tempat tidur. Letakkan tangan kiri di bawah lutut. Mintalah kepada pasien untuk meluruskan tungkai melawan resistensi tangan kanan Anda, yang diletakkan

pada tulang kering pasien. Prosedur ini menguji ekstensi lutut oleh nervus femoralis dari radiks L2-L4. e. Pemeriksaan Dorsofleksi Pergelangan Kaki Letakkan tangan Anda pada dorsum pedis dan mintalah kepada pasien untuk melakukan dorsofleksi kaki pada pergelangan kaki dengan melawan tahanan Anda. Prosedur ini menguji dorsofleksi pergelangan kaki oleh nervus proneus profundus dari radiks L4-L5. f. Pemeriksaan Fleksi Plantar Pergelangan Kaki Letakkan tangan Anda pada telapak kaki dan mintalah kepada pasien untuk melakukan fleksi plantar kaki dengan melawan tahanan Anda. Prosedur ini menguji fleksi plantar pergelangan kaki oleh nervus tibialis dari radiks L5-S2.

g. Pemeriksaan Dorsofleksi Ibu Jari Kaki Letakkan tangan Anda pada permukaan dorsal ibu jari kaki. Mintalah kepada pasien untuk melakukan dorsofleksi ibu jari kaki dengan melawan tahanan Anda. Prosedur ini menguji dorsofleksi ibu jari kaki oleh nervus proneus profundus oleh radiks L4-S1. h. Pemeriksaan Fleksi Plantar Ibu Jari Kaki Letakkan tangan Anda pada permukaan plantar ibu jari kaki. Pasien diminta untuk melakukan fleksi plantar ibu jari kakinya dengan melawan tahanan Anda. Prosedur ini menguji fleksi plantar ibu jari kaki oleh nervus tibialis posterior dari radiks L5-S2. Pemeriksaan Refleks Superfisial Refleks superfisial yang paling sering diperiksa adalah refleks abdomen dan kremaster. Refleks superfisial abdomen dibangkitkan dengan menyuruh pasien berbaring telentang. Suatu batang aplikator atau spatula lidah dengan cepat digoreskan secara horizontal dari lateral ke medial ke arah umbilikus. Hasilnya adalah kontraksi otot perut dengan umbilikus berdeviasi ke arah rangsangan. Refleks abdomen sering tidak terlihat pada orang-orang yang terlalu gemuk. Refleks superfisial kremaster pada pria dibangkitkan dengan goresan ringan pada permukaan dalam paha dengan batang aplikator atau spatula lidah. Hasilnya adalah naiknya testis dengan cepat pada sisi yang sama. Pemeriksaan Fungsi Sensoris a. Sentuhan ringan

b. Sensasi nyeri c. Sensasi getaran d. Propriosepsi (sensasi posisi) e. Lokalisasi taktil 3. Pemeriksaan Penunjang G. Diagnosis Banding(2) Diagnosis banding dari cedera spinal adalah 1. Herniasi Discus Lumbalis Discus yang biasanya mengalami herniasi adalah diskus antara vertebra lumbalis IV dan V serta antara vertebra lumbalis V dan os sacrum. Di regio lumbal, radix-radix cauda equina berjalan di posterior melalui beberapa discus intervertebralis. Herniasi lateral dapat menekan satu atau dua radix dan sering mengenai radix saraf yang menuju foramen interervertebralis tepat dibawahnya. Nucleus polposus kadangkadang berherniasi langsung ke arah belakang. Jika herniasi besar, seluruh cauda equina dapat mengalami kompresi dan menimbulkan paraplegia. Pada herniasi discus lumbalis, nyeri menjalar ke bawah menuju tungkai dan kaki yang dipersarafi oleh saraf yang terkena. Nyeri biasanya dirasakan di tungkai bagian belakang dan lateral serta menjalar ke telapak kaki karena radix posterior sensoris yang paling sering terkena adalah lumbal lima dan sacral satu. Kondisi ini yang sering disebut ischialgia. Pada kasus berat dapat terjasi parastesia atau kehilangan sensorik yang sebenarnya. Kompresi pada radix anterior motorik menyebabkan kelemahan otot. Keterlibatan radix motorik lumbal lima menimbulkan kelemahan pada dorsofleksi pergelangan kaki, sedangkan kompresi pada radix motorik sacral satu menyebabkan kelemahan plantar fleksi. Refleks triceps surae dapat berkurang atau tidak ada. Protursi besar yang terletak sentral dapat menimbulkan nyeri bilateral dan kelemahan otot pada kedua tungkai serta dapat terjadi retensi urin akut. 2. Kompresi Medula Spinalis Penyebab kompresi medula spinalis dibagi dua, yaitu ekstradural dan intradural. Penyebab intradural dapat dibagi menjadi kompresi yang terjadi dari luar medula spinalis (ekstramedularis) dan yang timbul dari dalam medula spinalis (intramedularis). Penyebab ekstradural, antara lain hernia discus intervertebralis, infeksi tuberkulosis pada vertebra, serta tumor primer dan sekunder pada vertebra; deposit leukemik dan abses ekstradural juga dapat menyebabkan kompresi pada medula spinalis. Dua tumor

ekstradural yang sering ditemukan adalah meningioma dan fibroma saraf. Penyebab intermedularis, antara lain tumor primer medula spinalis, seperti glioma. Tanda dan gejala klinis disebabkan oleh gangguan struktur anatomi dan fungsi fisiologis medula spinalis yang normal. Salah satu tanda yang paling dini adalah nyeri. Dapat terjadi nyeri lokal pada vertebra yang terlibat atau nyeri yang menjalar sepanjang distribusi satu atau beberapa radix nervus spinalis. Nyeri bertambah hebat bila batuk dan bersin, dan biasanya bertambah bila malam hari, yaitu saat pasien berbaring. Gangguan fungsi motorik terjadi lebih dulu. Keterlibatan sel-sel motorik columna grisea medula spinalis di tingkat lesi menyebabkan paralisis parsial atau total pada otot-otot yang disertai kehilangan tonus dan massa otot. Keterlibatan dini tractus corticospinalis serta tractus descendens lainnya menimbulkan kelemahan otot (spastisitas), peningkatan refleks tendon di bawah tingkat lesi, dan respon ekstensor plantar. Derajat kehilangan sensorik bergantung pada tractus saraf yang terlibat. Lesi pada columna alba posterior medula spinalis akan mengilangkan sensasi sendi otot (prosprioseptif), sensasi getar, dan diskriminasi taktil dibawah tingkat lesi pada sisi yang sama. Terkenanya tractus spinothalamicus lateralis akan menimbulkan hilangnya sensasi nyeri serta panas dan dingin pada sisi kontralateral tubuh di bawah tingkat lesi.

Sumber : 1. Swartz MH. Buku ajar diagnostik fisik. Jakarta: EGC; 1995. h. 357-8, 374-8, 382-3. 2. Snell RS. Neuroanatomi klinik untuk mahasiswa kedokteran. Jakarta: EGC; 2007. h. 20, 190.