Anda di halaman 1dari 21

INDRA PENGLIHATAN I.

MATA SEBAGAI SUSUNAN OPTIK, VISUS, REFRAKSI DAN KOREKSINYA Pembahasan Hipermetropia Hipermetropia merupakan keadaan gangguan kekuatan pembiasan mata dimana sinar sejajar jauh tidak cukup dibiaskan sehingga titik fokusnya terletak di belakang retina. Pada hipermetropia sinar sejajar difokuskan dibelakang makula lutea. Hipermetropia dapat disebabkan : a. Hipermetropia aksial : merupakan kelainan refraksi akibat bola mata pendek, atau sumbu anteroposterior yang pendek. b. Hipermetropia kurvatur : dimana kelengkungan kornea atau lensa kurang sehingga bayangan difokuskan di belakang retina. c. Hipermetropia refraktif : dimana terdapat indeks bias yang kurang pada sistem optik mata. Penderita hipermetropia dapat melihat dengan jelas objek yang terletak jauh namun akan mengeluh kabur jika melihat objek pada jarak dekat. Dalam batas tertentu,penderita dapat mengkompensasi kelainan ini dengan berakomodasi saat melihat jauh, namun akomodasi yang terjadi terus menerus menyebabkan kelemahan otot akomodasi sehingga sering menimbulkan gejala sakit kepala. Kelainan ini dapat dikoreksi dengan memberikan lensa konveks dengan kekuatan yang terbesar supaya mata dalam keadaan tidak berakomodasi. PEMBAHASAN MIOPIA2 Pada myopia atau penglihatandekat, sewaktuototsiliarisrelaksasi total,

cahayadariobjekjauhdifokuskan di depan retina.

Keadaaninibiasanyaakibat bola mata yang terlalupanjang(waktuivanmanjangin bola matanyamasihingat???)ataukadang-kadangkarenadaya bias sistemlensaterlalukuat.

Tidakadamekanismebagimiopiauntukmengurangikekuatanlensanyakarenamemangototsiliaris dalamkeadaanrelaksasisempurna.Pasienmiopiatidakmempunyaimekanismeuntukmemfokuska nbayangandariobjekjauhdengantegan di retina.Namun, bilaobjekdidekatkankemata, retina. Kemudian,

bayanganakhirnyaakanmenjadicukupdekatsehinggadapatdifokuskanke

bilaobjekterusdidekatkankemata, pasienmiopiadapatmenggunakanmekanismeakomodasi agar bayangan yang terbentuktetapterfokussecarajelas.Seorangpasienmiopiamempuanyai titikjauh yang terbatasuntukpenglihatanjelas. KoreksiMiopia Perludiingatlagibahwacahaya Bilapermukaanrefraksimatamempunyaidaya yang bias melaluilensakonkafakandisebarkan. terlalubesar, sepertipadamiopia,

kelebihandaya bias inidapatdinetralkandenganmeletakkanlensasferiskonkaf/ sferis negative di depanmata, yang akanmenyebarkanberkascahaya.

P-PI.1. a. Apa fungsi air dalam bejana? b. Apa analogi air dalam bejana tersebut dengan cairan dalam mata? P-PI.1. a. b. media optik humor aqueous dan humor vitreus

P-PI.2. P-PI.2.

Mengapa disediakan tempat yang berbeda-beda untuk retina? Untukmendapatkanpanjangsumbumata yang berbeda-beda,

sehinggadapatmenirumatamiop, emetropdanhipermetrop.

P-PI.3.

Bagaimana cara membedakan

a. lensa sferis negatif dengan lensa sferis positif? b. lensa sferis dengan lensa silindris? a. Denganmenggerakkanlensa di atasderetanhuruf, yang

P-PI.3.

makaakanterlihatbahwapadalensapositifhurufakanbergerakkearah berlawanandengangerakanlensa, padalensanegatifterjadiperistiwasebaliknya. b. Denganmemutarlensapadabidangsejajar di

atasderetanhuruf,

makaakanterlihatbahwapadalensasilindrisbentukhurufakanmengalamideformasi, sedangkanpadalensasferistidakberubah.

P-PI.4.

Cara apakah yang lebih baik untuk menentukan jenis dan kekuatan lensa?

P-PI.4.

Cara yang lebihsempurnaialahdenganmenggunakanlensometer.

II. DIPLOPIA A. Hasil Orang percobaan: OD: Ganda (+),OS: Ganda (+) terjadi diplopia B. Pembahasan Bagian tengah lapangan pandang kedua mata menyatu; dengan demikian, segala sesuatu yang terletak di bagian lapangan pandang ini dilihat dengan penglihatan binokular. Impuls yang terbentuk di kedua retina oleh berkas cahaya dari benda disatukan di tingkat korteks menjadi bayangan tunggal (fusi). Titik-titik di retina tempat bayangan benda harus jatuh, bila dilihat secara binokular sebagai satu benda disebut titik-titik persesuaian. Apabila satu mata secara lembut didorong keluar garis saat sedang menatap terfiksasi ke benda yang ada di bagian tengah lapangan pandang, akan timbul penglihatan ganda (diplopia); bayangan di retina dari mata yang terdorong tersebut tidak lagi jatuh di titik persesuaian (Ganong, 2008). Penglihatan binokular memegang peran yang penting dalam persepsi kedalaman. Namun, persepsi kedalaman juga memiliki banyak komponen monokular seperti ukuran relatif benda, derajat kita melihat ke bawah benda tersebut, bayangannya, dan, untuk benda bergerak, gerakan relatif terhadap satu sama lain (paralaks gerakan) (Ganong, 2008). Jadi, pada orang percobaan, diplopia timbul karena bayangan benda yang dilihat tidak lagi jatuh pada titik-titik persesuaian bayangan benda tersebut di dalam mata. Apabila bayangan visual secara terus-menerus tidak jatuh di titik-titik persesuaian di kedua retina pada anak yang berusia kurang dari enam tahun, salah satu bayangan penglihatan akhirnya akan mengalami supresi (skotoma supresi) dan diplopia menjadi menghilang. Penekanan ini adalah fenomena korteks, dan biasanya tidak terjadi pada orang dewasa. Jika penekanan tersebut menetap, hilangnya ketajaman penglihatan di mata yang tertekan akan bersifat menetap (Ganong, 2008). C. Kesimpulan

Diplopia terjadi jika sumbu bola mata bergeser sehingga bayangan tidak tepat jatuh di titik identik retina. D. Jawaban Pertanyaan P-PI.39. Bagaimana mekanisme terjadinya penglihatan rangkap pada percobaan diplopia? Ketika salah satu bola mata ditekan, maka bayangan benda pada kedua retina tidak jatuh pada titik identik.Titik identik ialah titik yang sesuai di kedua retina yang memberi kesan satu benda.

III. REFLEKS PUPIL Pupil adalah celah lingkaran yang dibentuk oleh iris, dibelakang iris terdapat lensa. Pupil dapat mengecil pada akomodasi dan konversi. Akomodasi adalah kemampuan lensa mata untuk mencembung akibat kontraksi otot siliaris. Otot siliaris atau otot polos dapat merenggang dan mengendorkan selaput yang menggantungkan lensa. Akomodasi dapat menyebabkan daya pembiasan lensa bertambah kuat. Selain akomodasi, terjadi konversi sumbu penglihatan dan kontriksi pupil bila seseorang melihat benda yang dekat. Mengecilnya pupil karena cahaya ialah lebarnya pupil diatur oleh iris sesuai dengan intensitas cahaya yang diterima oleh mata. Ditempat yang gelap dimana intensitas cahayanya kecil maka pupil akan menbesar, agar cahaya dapat lebih banyak masuk kemata. Ditempat yang sangat terang dimana intensitas cahayanya cukup tinggi atau besar maka pupil akan mengecil, agar cahaya lebih sedikit masuk kemata untuk menghindari mata agar tidak selalu, bila mata diarahkan kesalah satu mata pupil akan berkontraksi, kejadian tersebut dinamakan refleks pupil atau refleks cahaya pupil. Refleks pupil dapat dilihat dari mengecil dan membesarnya pupil. Akomodasi adalah perubahan dalam lekukan lensa mata dalam menanggapi satu perubahan dalam melihat jarak dan kemampuan berakomodasi disebut tempo akomodasi. Daya akomodasi mata diatur melalui syaraf parasimpatis, perangsangan syaraf parasimpatis menimbulkan kontraksi otot siliaris yang selanjutnya kan mengendurkan gligamen lensa dan meningkatkan daya bias. Dengan meningkatkan daya bias, mata mampu melihat objek lebih dekat dibanding waktu daya biasnya rendah. Akibatnya dengan mendekatnya objek kearah mata frekuensi impuls parasimpatis kedotsiliaris progresif ditingkatkan agar objek tetap dilihat dengan jelas

IV. REAKSI MELIHAT DEKAT

A. Cara Kerja: 1. Instruksikan OP untuk melihat jari pemeriksa yang ditempatkan pada jarak m di depannya. 2. Sambil memperhatikan pupil OP, dekatkan jari itu sehingga kedua mata OP terlihat berkonvergensi. B. Hasil: Pada orang percobaan, ditemukan adanya konvergensi dari kedua matanya dan respon pupil yang mengecil. C. Jawaban pertanyaan: P-PI.43. Perubahan apa yang Saudara lihat pada pupil? Miosis/konstriksi pupil. P-PI.44. Peristiwa apa saja yang terjadi pada peristiwa melihat dekat? Terangkan mekanismenya. Akomodasi, konvergensi, dan konstriksi pupil. Mekanismenya diterangkan pada pembahasan. D. Pembahasan: Normalnya, respon yang terjadi pada saat pemfokusan mata pada suatu benda yang terletak dekat akan menyebabkan akomodasi dari lensa, konvergensi sumbu-sumbu penglihatan, dan konstriksi pupil. Akomodasi lensa dilakukan untuk memfokuskan bayangan yang dilihat agar tepat jatuh diatas retina. Lensa akan lebih mencembung jika jarak benda yang akan dilihat terletak dekat. Sedangkan Pada benda yang terletak jauh, lensa mata akan cenderung datar menyesuaikan dengan titik jatuh bayangan yang diharapkan. Konvergensi yang terjadi pada op disebabkan karena pemfokusan kedua belah mata pada satu titik yang diperhatikan. Pupil akan mengecil pada respon melihat dekat. Hal ini disebabkan karena akomodasi lensa yang menyebabkan pembiasan di mata mengakibatkan timbulnya refleks pupil untuk mengurangi cahaya yang masuk sehingga bayangan akan lebih terfokus. Pada pembukaan pupil yang minimal, perubahan jarak yang terjadi tidak akan terlalu berpengaruh terhadap titik fokus bayangan pada retina sehingga pada OP, perubahan jarak yang terjadi tidak terlalu berpengaruh terhadap kualitas bayangan yang ditangkap retina.

V. PEMERIKSAAN BINTIK BUTA A. Tujuan Umum: Memahami letak bintik buta terhadap fovea sentralis di retina B. Tujuan Khusus: a. Menjelaskan cara membuat proyeksi eksternal bintik buta

b. Mendemonstrasikan proyeksi eksternal bintik buta terhadap fovea sentralis C. Hasil Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, didapatkan gambaran proyeksi eksternal bintik buta disebelah kanan dari gambar palang kecil yang berjarak 8cm. Gambaran lingkaran ini berupa lingkaran yang ireguler. D. Pembahasan Retina merupakan daerah terbentuknya bayangan karena di daerah ini terdapat fotoreseptor yang berfungsi mengubah energi cahaya menjadi sinyal listrik untuk disalurkan ke sistem saraf pusat. Pada retina terdapat daerah yang merupakan tempat keluarnya saraf optikus dan tempat lewatnya pembuluh darah adalah diskus optikus yang terletak 3mm sebelah medial dan sedikit diatas kutub posterior bola mata. Daerah ini sering disebut sebagai bintik buta, tidak ada bayangan yang dapat dideteksi didaerah ini karena daerah ini tidak mengandung sel batang dan kerucut. Dalam keadaan normal kita tidak menyadari adanya titik buta ini karena pengolahan di sentral ini sedikit banyak mengisi bagian yang hilang ini. (Sherwood) Selain itu terdapat juga daerah yang dinamakan makula lutea yang terdapat di bagian pusat di posterior retina. Fovea sentralis adalah cekungan kecil pada bagian tengah makula lutea, dan hanya mengandung sel kerucut. Pada bagian ini sel kerucut tidak di lapisis oleh lapisan sel bipolar dan sel ganglion sehingga merupakan daerah dengan resolusi dan ketajaman paling tinggi. (Ganong) Pada individu yang normal, jalur visual yang sehat, blind spot terletak disebelah temporal dari tiap lapang pandang. (At the Glance) Dari praktikum yang telah dilakukan didapatkan gambaran proyeksi eksternal bintik buta yang terletak disebelah temporal bola mata, hal ini disebabkan karena letak diskus optikus yang merupakan bintik buta terdapat di sebelah medial bola mata. Dan seperti yang telah diketahui bahwa cahaya yang datang dari objek sebelah temporal akan jatuh pada bagian nasal retina yaitu pada bintik buta sehingga saat ujung pensil di gerakan ke arah temporal pada jarak tertentu maka ujung pensil tidak dapat terlihat. E. Kesimpulan Bintik buta merupakan tempat masuknya nervus optikus dan pembuluh darah, yang jika terdapat cahaya yang jatuh pada daerah ini maka tidak akan terbentuk bayangan. Bintik buta terletak di sebelah temporal dari setiap lapang pandang. F. Pertanyaan

Di mana letak proyeksi bintik buta terhadap gambar palang kecil dan mengapa Sebelah temporal, di bawah garis horizontal karena letak bintik buta didalam bola mata terdapat 3mm di sebelah medial dan agak sedikit diatas pada posterior bola mata.

1.

Ilyas S, Yulianti SR. Ilmu penyakit mata. Ed ke-4. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2011

2.

Tortora GJ, Derrickson BH. Principles of Anatomy and Physiology. Ed ke-12. Asia: John Willey & Sons. 2009

3.

Sherwood L. Human Physiology from Cells to Systems. Ed ke-7. United States: Yolanda Cossio. 2010 Barret KE, Barman SM, Boitano S, Brooks HL. Ganongs Review of Medical Physiology. Ed ke-23. United States: McGraw-Hill Companies. 2010

4.

5.

Olver J, Cassidy L. Ophthalmology at a Glance. Australia: Blackwell Science Ltd. 2005

VI. BUTA WARNA ORGANIK DAN FUNGSIONAL TES BUTA WARNA ORGANIK DAN FUNGSIONAL A. HASIL Nomor Lempe ng Orang Normal Orang dengan buta warna Buta merah-hijau Warn a Total 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 8 5 29 74 7 45 2 X 16 Traceable 12 3 2 70 21 X X X 2 X X Protan Deutan 12 X X X X X X X X X X 12 8 5 29 74 7 45 2 X 16 Traceable Probandus

Bera Ringa t 12 13 14 35 96 Dapatmengidentifi kasi 2 trace 5 4 Ung u n (3) 5 (9) 6 Ungu (mera h)

Berat Ringa n 3 9 Mera h 3 (5) 9 (6) Ungu (mera h) X 35 96 Dapatmengidentifi kasi 2 trace

Keterangan: X = tidak dapat dibaca/diidentifikasi oleh probandus. Nomor = nomor/angka yang dibaca oleh probandus. B. PEMBAHASAN Penglihatanwarna yang normal membutuhkan fungi makuladannervusoptikus yang normal.Kelainan spesifik.1 Bilamatatakmempunyaisekelompokselkerucutpenerimawarna, tidakakandapatmembedakanbeberapawarnadariwarnalainnya. tidakmempunyaiselkerucuthijaudisebut deuteranopia.2 Butawarnabiru-kuningyaitu tritanopia.3 Penurunanpenglihatanwarnadapat pula menjadi indicator pada yang yang neuritis abnormal Orang orang yang yang paling umumadalahbutawarnahijau-merah yang terkait-X, yang

terjadipadakira-kira 8% pendudukpria.Iniakibatdefisiensisalahsatujenisfotoreseptor retina

tidakmempunyaiselkerucutmerahdisebutprotanopia.Sedangkanpenyandangbutawarna

sensitifuntukpenyakitnervusoptikusataumakulajenistertentu.Misalnya, optikaataukompresinervusoptikus, 20/20.1 penglihatanwarna

seringmerupakanidentifikasipenyakitlebihdinidaripadaketajaman visual, yang mungkinmasih

Teknikuji yang paling umummemakaisejumlahlempengpolikromatik, sepertidari Ishihara atau Hardy-Rand-Rittler.Lempeng-lempengituberupabintik-bintikwarna primer yang dicetak di ataslatarbelakang mosaic bintik-bintikserupadengananekawarnasekunder yang

membingungkan.Bintik-bintik primer disusunmenurutpolasederhan (angkaataugeometrik) yang tidakdapatdikenaliolehpasien yang kurangpersepsi warna.1 Padapraktikumini kami menggunakantes Ishihara,

dimanaprobandusdimintauntukmengenaliangka-angkadangeometrikpadalempengantersebut.

Interpretasidaritestersebutadalahsebagaiberikut: Nomor 1: orang normaldanbutawarnadapatmembacadenganbenaryaituangka 12.

Tahapinimerupakantahappersiapanuntuktesnomorberikutnya. Nomor 2: penglihatan normal membaca 8, butawarnamerah-hijaumenbaca 3. Nomor 3: penglihatan normal membaca 5, butawarnamerah-hijaumembaca 2. Nomor 4: penglihatan normal membaca 29, butawarnamerahhijaumembaca 70. Nomor 5: penglihatan normal membaca 74, butawarnamerahhijaumembaca 21. Nomor 6-7: penglihatan normal dapatmenguraikandenganbenar,

butawarnamerahhijautidakdapatataususahmenguraikannya. Nomor 8: penglihatan normal melihatdenganjelasangka 2, butawarnamerah-

hijaumelihattidakjelasangkatersebut. Nomor 9: penglihatan normal tidakdapatmengidentifikasilempengtersebut,

butawarnamerah-hijaumembaca 2. Nomor 10: penglihatan normal membaca 16, butawarnamerah-

hijautidakdapatmembacanya. Nomor 11: penglihatan normal dapatmengikuti 2 garistersebut butawarnamerah-

(garishijaukebiruan)denganbenar, hijautidakdapatmengikutiataumengikutidengansalahgaristersebut. Nomor 12: penglihatan normal

danbutawarnamerah-hijauringanmembaca

35, 5

protanopiadanprotanomaliaberathanyamembaca sedangkandeuteranopiadandeuteranomaliaberathanyamembaca 3. Nomor 13: penglihatannormal danbutawarnamerah-hijauringanmembaca

96, 6

protanopiadanprotanomaliaberathanyamembaca sedangkandeuteranopiadandeuteranomaliaberathanyamembaca 9. Nomor 14: penglihatan

normaldapatmengikutigarisungudanmerahdenganbenar.

Protanopiadanprotanomaliaberathanyamengikutigarisungudanpadaprotanomaliaringandapatm engikuti 2 garisitu,

namungarisungulebihmudahdiikuti.Deuteranopiadandeuteranomaliaberathanyamengikutigari smerahdanpadadeuteronomaliaringandapatmengikuti namungarismerahlebihmudahdiikuti. Analisisnya:4 Lempeng 2-11 untuktesbutawarna. Lempeng 12-14 untuktesbutawarnamerahhijau. 10/11 lempengdibacadenganbenar = normal. 2 garisitu,

7/11 lempengataukurangdibacadenganbenar = abnormal. Untuklempeng ke-9, jikadibaca 2 ke-8

olehprobandusataudengansanganmudamembacanyadibandingdenganlempeng makahasilnya abnormal. Jika

8-

9/11makahasilnyameragukandanmemerlukantespenglihatanwarnalainnyatermasukanomalosc ope. Probandusdapatmengidentifikasisemuaangkadangeometriktersebutdenganbenar (hasilnyalihat di tabel)kecualilempengnomor 9 (tidakmengidentifikasi),

jadiuntuktesbutawarnauntukprobandusadalah normal (tidakbutawarna) C. KESIMPULAN Tesbutawarna yang digunakanadalah Ishihara denganhasil normal,

probandustidakmengalamibutawarna. P-PI.47. Bagaimanamekanismeterjadinyabutawarnafungsional?Jelaskan! Butawarnamerahhijauadalahkelainangenetik yang timbulhampirhanyapadalaki-laki.Gen-gen padakromosom X perempuanmenyandiuntukmasing-

masingselkerucut.Namunbutawarnahampirtidakpernahpterjadipadaperempuankarenasetidakn yasatudariduakromosom X akanhampirselalumemiliki gen normal untuksetiapjenisselkerucut. Karenalaki-lakihanyamemilikisatukromosom hilangdapatmenyebabkanbutawarnafungsional. DAFTAR PUSTAKA 1. 2. 3. Vaughan, Dale, dkk. 2000. OftalmologiUmumEdisi 14. Jakarta: WidyaMedika. Guyton, Arthur C. 2007. BukuAjarFisiologiKedokteranEdisi 11. Jakarta: EGC. Color Vision and Tests of color vision, Retina and Vitreous, American Academy of Ophthalmology Basicand Clinical Science Course, section 12, 20072008, p.43 and 195. 4. Ishiharas Tests for Colour Deficiency, Concise edition. Kanehara Trading INC., Tokyo, Japan. 2006. X, gen yang

INDRA PENGECAP I. PEMERIKSAAN INDRA PENGECAPAN

A. Hasil Area Lidah yang Diuji NO Orang Percobaan Larutan yang Digunakan Air gula Air garam 1. Ika Krastanaya Air cuka Larutan Aspirin Pembahasan Pengecapan merupakan fungsi dari taste bud yang terdapat didalam mulut, tetapi pengalaman juga menyatakan bahwa indera penghidu sangat berperan pada persepsi pengecapan. Selain itu, tekstur makanan, seperti yang dideteksi oleh indera pengecapan taktil di rongga mulut, dan adanya zat di dalam makanan seperti merica, yang merangsang ujungujung saraf nyeri, akan sangat mengubah pengalaman dalam pengecapan. Pada praktikum ini, OP diminta untuk mengecap rasa manis, asam, pahit dan asin pada tiap larutan yang telah disediakan. Larutan yang tersedia yaitu larutan gula untuk rasa manis, larutan garam untuk rasa asin, larutan cuka untuk rasa asam dan larutan Aspirin untuk rasa pahit. Sebelumnya OP dan si penguji membuat kesepakatan mengenai bahasa isyarat bila OP mengecap rasa dari ujung cotton bud di bagian-bagian lidah OP. Misalnya untuk rasa manis jempol OP diacungkan, rasa pahit jempol OP diturunkan, rasa asin dengan mengacungkan jari kelingking OP, dan rasa asam OP mengepalkan tangannya. Berdasarkan hasil praktikum, OP dapat merasakan rasa dari larutan-larutan yang tersedia dengan baik, untuk rasa paling kuat dirasakan pada daerah fungsionalnya. Pada manusia telah di tentukan 4 pengecapan (rasa) dasar: manis, asam, pahit dan asin. Zat pahit terutama dikecap di belakang lidah, yang asam di sepanjang tepi lidah, yang manis di ujung lidah dan yang asin di dorsum anterior lidah. Zat yang asam dan pahit juga terasa di palatum yang juga agak peka untuk manis dan asin. Sel reseptor pengecapan adalah kemoreseptor yang berespons terhadap zat-zat yang larut dalam cairan mulut yang membasahi reseptor-reseptor tersebut. Zat-zat ini bekerja pada manis asin asam pahit manis asin asam pahit manis asin asam pahit manis asin asam pahit

mikrovili di pori-pori pengecap untuk mencetuskan potensial generator di sel reseptor, yang menimbulkan potensial aksi di neuron sensorik. Setiap sel reseptor berespon dalam tingkat yang berbeda-beda, terhadap keempat rasa dari larutan yang diuji tersebut, tetapi umumnya lebih peka terhadap salah satu dari keempat rasa tersebut.

II. PEMERIKSAAN AMBANG PENGECAPAN A. Hasil Nama OP Larutan rasa IK Keterangan (+) = OP dapat mengecap rasa (-) = OP tidak dapat mengecap rasa B. Pembahasan Pada praktikum ini dilakukan percobaan untuk mengetahui ambang rasa pengecapan untuk rasa manis. Ambang rasa pengecapan berarti konsentrasi minimum bagi senyawa kimia tertentu untuk dapat melakukan transduksi pada sel pengecap sehingga akan menimbulkan sensasi rasa. Rasa manis dimediasi oleh suatu dimer protein yang disebut dengan T1R3 dan T1R2. Kedua protein ini memiliki daerah terminal amino yang besar dan ekstraseluler yang membentuk daerah pengikatan gula. Pada pelaksanaan dengan OP mengetahui larutan apa yang akan di uji ke lidah OP tersebut. Larutan diteteskan sesuai area pengecapan yang paling sensitif untuk mengecap rasa manis, yaitu di bagian depan lidah. Penyesuaian tempat ini dilakukan agar nilai ambang rasa sensasi larutan manis tersebut dapat di ketahui di area tersebut. Larutan diberikan dengan konsentrasi yang berbeda-beda mulai dari konsentrasi terbesar 100 % hingga konsentrasi terkecil 12,5 %. Berdasarkan hasil percobaan, saat dioleskan larutan manis dengan konsentrasi 100% OP dapat mengecap, konsentrasi 50 % OP masih dapat mengecap, tetapi padca konsentrasi 25 % OP tidak dapat merasakan larutan lagi. Hal ini dikarenakan karena ambang batas pengecapan rasa manis itu sangat tinggi konsentrasinya sekitar 0,01 M sehingga diperlukan substansi kecap yang sangat besar untuk dapat menginterpretasikan rasa manis pada lidah. Hal lain yang juga berpengaruh terhadap interpretasi rasa adalah kemampuan otak khususnya korteks gustatory untuk membedakan kelima jenis rasa tersebut yang mana manis Konsentrasi 100 % + Konsentrasi 50 % + Konsentrasi 25 % Konsentrasi 12,5 % -

tentunya setiap orang akan berbeda dalam persepsi rasa yang mana hal tersebut ditentukan oleh memori pada otak mengenai rasa tersebut. C. Pertanyaan Apakah ambang pengecapan untuk setiap rasa sama? Jelaskan Ambang pengecapan berarti konsentrasi minimum bagi senyawa kimia tertentu untuk dapat melakukan transduksi pada sel pengecap sehingga akan menimbulkan sensasi rasa . ambang pengecapan untuk setiap rasa berbeda. Ambang batas untuk merangsang rasa asam oleh asam hidroklorida rata-rata 0,009 N ; untuk meransang rasa asin oleh natrium klorida, 0,01 M ; untuk rasa manis oleh sukrosa, 0,01 M; dan untuk rasa pahit oleh kuinin 0.000008 M. Ambang batas pengecapan rasa asin dan manis itu sangat tinggi konsentrasinya sekitar 0,01 M sehingga diperlukan substansi kecap yang sangat besar untuk dapat

menginterpretasikan rasa asin dan manis pada lidah, Ambang batas pengecapan untuk rasa asam tidak terlalu tinggi ambang batas pengecapannya yaitu sekitar 0,009 M sehingga cukup mudah untuk menginterpretasikan rasa asam tersebut. Sedangkan untuk rasa pahit ambang batas pengecapan nya paling rendah yaitu sebesar 0,000008 M sehingga hanya diperlukan konsentrasi substansi kecap yang rendah agar bisa terinterpretasikan rasa pahit pada lidah. Kepekaaan terhadap rasa pahit lebih kuat dibandingkan yang lain, karena sensasi ini memberikan fungsi perlindungan untuk melawan berbagai toksin berbahaya yang terdapat dalam makanan.

SIKAP DAN KESEIMBANGAN I. PERCOBAAN SEDERHANA UNTUK KANALIS SEMISIRKULARIS

A. Hasil Perlakuan Berputar searah jarum jam Berputar berlawanan arah jarum jam Hasil Deviasi ke arah kanan Deviasi ke arah kiri

B. Pembahasan Kanalis semisirkularis mendeteksi akselerasi atau deselerasi anguler atau rotasional kepala, misalnya ketika memulai atau berhenti berputar, berjungkir balik, atau memutar kepala. Tiap tiap telinga memiliki tiga kanalis semisirkularis yang secara tiga dimensi tersusun dalam bidang-bidang yang tegak lurus satu sama lain . sel-sel rambut reseptif di setiap kanalis semisirkularis terletak di atas suatu bubungan yang terleta di ampula, suatu pembesaran di pangkal kanalis (Sherwood, 2001). Pada percobaan sederhana untuk kanalis semisirkularis ini, mula-mula OP diinstruksikan untuk berputar sambil berpegangan pada tongkat atau statif dengan mata tertutup dan kepala ditundukkan 300, menurut arah jarum jam sebanyak 10 kali dalam 30 detik, kemudian OP diinstruksikan untuk berhenti, membuka mata dan berjalan lurus ke depan. Hasil yang didapatkan adalah OP terlihat limbung dan cenderung untuk terjatuh ke arah sebelah kanan saat berjalan. Kepala OP diinstruksikan untuk ditundukan 30 ke depan adalah agar kanal semisirkularis lateral terletak dalam bidang horizontal. Dua kanal semisirkularis lainnya berada dalam bidang vertikal seperti yang ditunjukkan oleh gambar di bawah ini (Pocock, 2006).

Percepatan searah jarum jam (ke kanan) dengan kepala ditundukan 30 ke depan merangsang Krista ampularis kanal lateral. Ketika kepala mulai bergerak, saluran tulang dan bubungan sel rambut yang terbenam dalam kupula bergerak mengikuti gerakan kepala. Namun, cairan di dalam kanalis (endolimfe), yang tidak melekat ke tengkorak, mula-mula tidak ikut bergerak sesuai arah rotasi, tetapi tertinggal di belakang karena adanya kelembaman/ inersia (karena inersia, benda yang diam akan tetap diam dan benda yang bergerak akan tetap bergerak, kecuali jika ada suatu gaya luar yang bekerja padanya dan menyebabkan perubahan). Ketika endolimfe tertinggal saat kepala mulai berputar, endolimfe yang terletak sebidang dengan gerakan kepala pada dasarnya bergeser dengan arah yang berlawanan dengan arah gerakan kepala. Gerakan cairan ini menyebabkan kupula condong ke arah yang berlawanan dengan arah gerakan kepala, membengkokkan rambut-rambut sensorik yang terbenam di dalamnya. Apabila gerakan kepala berlanjut dalam arah dan kecepatan yang sama, endolimfe akan menyusul dan bergerak bersama dengan kepala, sehingga rambutrambut kembali ke posisi tegak mereka (Sherwood, 2001). Saat putaran dihentikan, sementara kanalis semisirkularisnya sudah berhenti berputar, cairan endolimfe akan terus berputar searah dengan gerakan kanalis semisirkularis sebelumnya (ke kanan). Kupula akan membengkok ke arah yang berlawanan, sehingga sel-sel rambut tidak mengeluarkan impuls sama sekali (hiperpolarisasi) akibatnya otak tidak mendapatkan informasi (sinyal/impuls) bahwa tubuh sudah berhenti berputar, sehingga timbul sensasi bahwa tubuh masih berputar. Pada saat endolimfe terus berputar kemudian dilakukan penegakkan kepala, hal ini mengakibatkan kanalis semisirkularis kembali ke posisi semula dan akan menimbulkan sensasi tubuh yang akan terjatuh ke sebelah kiri. Kemudian tubuh akan melakukan kompensasi terhadap persepsi akan jatuh ke arah kiri dengan bergerak ke arah sebaliknya (kanan) (Pocock, 2006). Hal ini berlaku pula sebaliknya saat OP diinstruksikan untuk berputar berlawanan arah jarum jam sebanyak 10 putaran dalam waktu 30 detik dengan mata tertutup dan kepala menunduk 300.

Pocock, Guillian. 2006. Physiology, Basis of Medicine 3rd Edition. Oxford University Press. Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta: EGC.

II. PENGARUH

KEDUDUKAN

KEPALA

DAN

MATA

YANG

NORMAL

TERHADAP KESEIMBANGAN BADAN


1.

Instruksikan OP untuk berjalan mengikuti suatu garis lurus di lantai dengan mata terbuka dan kepala serta badan dalam sikap yang biasa. Perhatikan jalannya dan tanyakan apakah ia mengalami kesulitan dalam mengikuti garis lurus tersebut.

2. 3.

Ulangi percobaan nomor 1 dengan mata tertutup. Ulangi percobaan nomor 1 dan 2 dengan:

a. Kepala dimiringkan dengan kuat ke kiri. b. Kepala dimiringkan dengan kuat ke kanan.

P-PIII.3. Bagaimana pengaruh sikap kepala dan mata terhadap keseimbangan badan?

Pada percobaan ini didapatkan hasil bahwa tubuh probandus seimbang ketika berjalan dengan kepala tegak dan mata dibuka maupun ditutup, keseimbangan probandus terganggu ketika berjalan dengan kepala dimiringkan dan mata terbuka, dan probandus akan jatuh ke arah berlawanan arah dari arah kepala dimiringkan ketika mata ditutup.

Keseimbangan dan posisi tubuh kita dipengaruhi oleh 3 hal yaitu Aparatus vestibular di telinga, mata dan organ proprioseptif. Ketiga organ ini saling mendukung untuk menjaga keseimbangan postur tubuh kita.

Pada saat berjalan lurus dengan mata terbuka, SSP menerima informasi keseimbangan dari seluruh reseptor keseimbangan (mata, apparatus vestibular, dan proprioseptif) sehingga tubuh dapat menjaga keseimbangan dan tidak mengalami kesulitan dalam berjalan mengikuti garis lurus. Sedangkan dengan mata tertutup, informasi keseimbangan yang diperoleh dari organ mata tidak ada, sehingga informasi untuk mempertahankan keseimbangan yang disampaikan ke SSP berkurang. Pada percobaan ini dilakukan manipulasi untuk menghilangkan fungsi mata sebagai salah satu organ yang memberi kesan keseimbangan posisi tubuh kita dengan cara memejamkan mata. Selain itu dilakukan juga manipulasi dengan memiringkan kepala sehingga vestibulum memberi kesan bahwa tubuh kita tidak seimbang walaupun sebenarnya tubuh kita dalam keadaan seimbang, sehingga tubuh berusaha

menyeimbangkan postur tubuh ke arah berlawanan arah dimiringkannya kepala. Akibatnya tubuh kita akan jatuh ke arah dari kepala dimiringkan. Namun apabila probandus berjalan dengan kepala miring tetapi masih dalam keadaan mata terbuka, walaupun organ keseimbangan pada telinga memberikan kesan tidak seimbangan, tetapi mata akan memberi kesan seimbang, sehingga badan probandus tidak jatuh ke salah satu arah, namun keseimbangan tubuhnya hanya terganggu sedikit saja. Pada saat probandus berjalan dengan memiringkan kepalanya, impuls dari proprioseptor leher menjaga agar sinyal yang berasal dari apparatus vestibular untuk tidak memberikan sensasi ketidakseimbangan pada seseorang. Hal ini dilakukan dengan menyalurkan sinyal yang berlawanan dengan sinyal yang disalurkan dari aparatus vestibular. Dengan mata yang terbuka, maka SSP mendapatkan informasi tambahan untuk mempertahankan keseimbangan melalui organ penglihatan. Guyton, Arthur C. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. Jakarta : EGC Sherwood, Lauralle. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta : EGC

III. PERCOBAAN DENGAN KURSI BARANY NISTAGMUS A. Hasil: Dari hasil praktikum nistagmus kursi barrany didapatkan setelah 10 kali putaran kekanan selama 20 detik didapatkan nistagmus mata ke arah kiri. B. Pembahasan: Nistagmus adalah gerak bolak-balik involunter yang bersifat ritmik dari bola mata, dapat memiliki arah horizontal, vertikal, rotatoar, atau campuran. Normalnya, impuls saraf berjalan secara refleks dari kanalis semisirkularis menuju nervus vestibularis, nuclei vestibulares dan fasciculus longitudinalis medialiske nucleus nervus cranialis III, IV dan VI, yang mengontrol otot-otot ekstraokular, cerebellum membantu mengkoordinasikan gerakan-gerakan otot. (Snell, 2007) Pada praktikum ini probandus didudukkan dan diputar pada kursi barany untuk menimbulkan nistagmus pada bola mata. Probandus juga diminta memejamkan mata dan menundukkan kepala 30o kedepan. Bila kepala tunduk kira-kira 30o kedepan, kanalis

semisirkularis lateral kira-kira ada dibidang horizontal sesuai dengan permukaan bumi, kanalis anterior ada pada bidang vertical yang arah proyeksinya kedepan dan 45 derajat ke a rah luar, dan kanalis posterior ada pada bidang vertical yang berproyeksi ke belakang dan 45 derajat keluar. (Guyton, 2008) Kursi kemudian diputar ke kanan 10 kali dalam 20 detik tanpa sentakan. Putaran kursi dihentikan secara tiba-tiba. Lalu probandus diminta membuka mata. Pada probandus timbul nistagmus horizontal dengan arah komponen cepat ke kiri. Saat kepala tiba-tiba diputar ke suatu arah (disebut percepatan angular), endolimfe dalam kanalis semisirkularis, akibat efek inersianya, cenderung menetap, sedangkan kanalis semisikularisnya akan berbelok/ berputar searah dengan putaran kepala. Keadaan ini menyebabkan cairan relatif mengalir dalam kanalis dengan arah yang berlawanan dengan perputaran kepala. Sewaktu diputar beberapa detik pertama, tahanan ke belakang dari aliran cairan pada kanalis semisirkularis dan kupula yang berbelok menyebabkan endolimfe mulai berputar dengan kecepatan yang sama cepatnya dengan kecepatan kanalis semisirkularis itu sendiri, selanjutnya dalam waktu 5 sampai 20 detik, kupula secara perlahan kembali ke posisi istirahat, yakni di bagian tengah ampula, akibat sifat lenting elastiknya. Bila putaran tiba-tiba dihentikan, akan timbul akibat sebagai berikut; cairan endolimfe tetap terus berputar sedangkan kanalis semisirkularisnya berhenti. (Guyton, 2008) Jadi, setiap kali kepala berputar tiba-tiba, sinyal yang berasal dari kanalis semisirkularis menyebabkan mata berputar dengan arah yang berlawanan dengan arah putaran kepala (searah dengan arah putaran cairan endolimfe). Keadaan ini timbul akibat adanya refleks yang dijalarkan melalui nuklei vestibular dan fasikulis longitudinalis menuju nuklei okulomotor. Saat kepala berhenti berputar, kanalis semisirkularisnya berhenti berputar, namun cairan endolimfe terus berputar sehingga rangsangan ke jaras keseimbangan masih tetap ada, menimbulkan nistagmus pada saat mata dibuka. (Guyton, 2008) Hasil praktikum didapatkan, pada kepala dengan posisi menunduk didapatkan nistagmus ke arah kiri, yang berarti sesuai dengan teori.

Guyton, Arthur C dan John E Hall. 2006. Buku Ajar FisiologiKedokteran, ed 11. Jakarta: EGC. Snell, Richard S. 2007. NeuroanatomiKlinikuntukMahasiswaKedokteran, ed 5. Jakarta: EGC.

TES PENYIMPANGAN PENUNJUKAN A. Hasil

Sebelum dilakukan pemutaran kursi Barany, OP dapat menyentuh tangan yang dijulurkan pemeriksa dengan tepat. Setelah pemutaran kursi Barany ke kanan (searah putaran jarum jam), OP mengalami penyimpangan penunjukan ke arah kanan. Setelah pemutaran kursi Barany ke kiri (berlawanan arah jarum jam), OP mengalami penyimpangan penunjukan kea rah kiri

B. Pembahasan Sebelum dilakukan pemutaran kursi Barany, orang percobaan dapat menyentuh tangan yang dijulurkan pemeriksa dengan tepat. Hal ini dikarenakan input dari mata, vestibular, dan statokinetik diintegrasikan di sistem saraf pusat dan dimodifiksai oleh input dari sistem ekstrapiramidal, formasio retikularis, serebelum, dan korteks serebral. Setelah pemutaran kursi Barany ke kanan (searah putaran jarum jam), terjadi penyimpangan penunjukan ke arah kanan. Jika seseorang diminta untuk menunjuk pada sebuah titik segera setelah ia dihentikan dari putaran dengan kecepatan konstan, ia akan secara konsisten menunjuk dengan tidak akurat, dengan deviasi selalu pada arah yang sama dengan rotasi sebelumnya. Oleh sebab itu, pada OP yang kursinya diputar searah jarum jam (ke arah kanan), ia akan menunjuk pada titik di sebelah kanan dari target yang seharusnya ditunjuk, begitu pula sebaliknya. Hal tersebut dikarenakan pada saat kursi Barany diputar dan kepala juga ikut berotasi, maka kanalis semisirkularis akan berputar sesuai arah putaran kepala sedangkan cairan endolimfe yang terdapat di dalam kanalis semisirkularis akan mempertahankan posisinya agar tetap seimbang. Hal ini menyebabkan cairan mengalir dari kanalis ke ampula, membelokkan kupula ke arah yang berlawanan dari arah pergerakan kepala. Pada saat yang sama, sel-sel rambut juga akan membengkok sesuai arah pembengkokkan kupula dan menimbulkan depolarisasi sel-sel rambut. Dari sel-sel rambut, sinyal dikirimkan melalui nervus vestibularis untuk memberitahu sistem saraf pusat mengenai perubahan kecepatan dan arah putaran kepala dalam tiga bidang ruangan. Namun bila putaran dengan tiba-tiba dihentikan, cairan endolimfe tetap terus berputar sedangkan kanalis semisirkularisnya berhenti. Pada saat ini kupula dan sel-sel rambut akan bergerak ke arah yang berlawanan dari arah rotasi awal mereka ketika mengalami akselerasi sehingga sel-sel rambut tidak

mengeluarkan impuls sama sekali. Karena impuls tidak dikeluarkan, maka kanalis

semisirkularis tidak melakukan fungsinya untuk mendeteksi perubahan kecepatan gerakan rotasi kepala sehingga fungsi kanalis semisirkularis akan hilang dan keseimbangan OP tersebut akan lemah sekali sewaktu ia mencoba melalukan gerakan tubuh yang cepat dan berbelit-belit, misalnya OP menjadi salah menunjuk tangan pemeriksa. C. Pertanyaan Bagaimana keterangan terjadinya penyimpangan penunjukan? Jawaban : Penyimpangan penunjukkan terjadi akibat hilangnya keseimbangan akibat kanalis semisirkularis tidak lagi dapat mendeteksi perubahan kecepatan gerakan rotasi kepala karena tidak ada impuls yang dihantarkan oleh sel-sel rambut setelah kursi berhenti diputar.

KESAN/ SENSASI A. Hasil 1. Sewaktu kecepatan putar masih bertambah, OP merasa berputar searah dengan arah putaran. 2. Sewaktu kecepatan putar menetap, OP putaran. 3. Sewaktu kecepatan putar dikurangi, OP merasa adanya putaran yang berlawanan arah. 4. Sewaktu kursi dihentikan, OP masih merasa adanya putaran yang berlawanan arah. B. Pembahasan Mata OP yang duduk di kursi Barany ditutup agar tidak dapat melihat arah putaran sehingga dapat dirasakan sensasi berputarnya. Sewaktu kecepatan putar bertambah terrjadi percepatan. Karena inersia dari cairan endolimfe berusaha untuk mempertahankan posisinya mulai bergerak tetapi berlawanan dengan rotasi sehingga kesan yang dirasakan OP berputar ke arah kiri. Sewaktu kecepatan putar menetap, cairan berputar dengan kecepatan yang sama dan posisi kupula kembali tegak. Kesan yang dirasakan OP masih sama yaitu berputar ke arah kiri. Sewaktu kecepatan dikurangi, terjadi perlambatan yang menyebabkan cairan endolimfe berputar searah merasa berputar searah dengan arah

dengan rotasi dan dirasakn arah putaran ke kanan. Begitu pula ketika rotasi dihentikan tiba-tiba, OP masih merasakan kesan berputar ke arah kanan untuk beberapa saat. Pada kecepatan yang konstan, cairan duktus bergerak dalam arah yang sama saat kepala istirahat, dan stereosilia dengan lambat kembali ke posisi istirahat. Karena alasan ini, sel-sel rambat hanya dirangsang selama perubahan rotasi (akselerasi atau deselerasi) kepala (Vander, 2001). C. Kesimpulan Kesan yang dirasakan saat berputar dengan mata tertutup berhubungan dengan gerakan cairan endolimfe yang dipengaruhi akselerasi, deselerasi, dan percepatan konstan. D. Jawaban Pertanyaan tidak ada pertanyaan