Anda di halaman 1dari 6

MAKALAH MATA KULIAH

SEMINAR PEMASARAN
JUDUL

PENGGUNAAN OBAT GENERIK

DISUSUN OLEH : KELOMPOK I NO NAMA 1. DIAN EKASARI 2. RUDI SUSANTO 3. M. ZAENAL ARIFIN 4. JOKO KONAAT 5. SUNOKO NPM 093112110723 093112110724 093112110725 093112110726 093112110727

UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SEMARANG

I.

LATAR BELAKANG MASALAH Untuk memudahkan perbedaan penamaan obat, terkait generik dan paten, definisi singkatnya adalah sebagai berikut:

OBAT GENERIK: Adalah nama obat yang sama dengan zat aktif berkhasiat yang dikandungnya, sesuai nama resmi International Non Propietary Names yang telah di tetapkan dalam Farmakope Indonesia. Contohnya: Parasetamol, Antalgin, Asam Mefenamat, Amoksisilin, Cefadroxyl, Loratadine, Ketoconazole, Acyclovir, dan lain-lain. Obat-obat tersebut sama persis antara nama yang tertera di kemasan dengan kandungan zat aktifnya. OBAT PATEN: Adalah hak paten yang diberikan kepada industri farmasi pada obat baru yang ditemukannya berdasarkan riset. Industri farmasi tersebut diberi hak paten untuk memproduksi dan memasarkannya, setelah melalui berbagaii tahapan uji klinis sesuai aturan yang telah ditetapkan secara internasional. Obat yang telah diberi hak paten tersebut tidak boleh diproduksi dan dipasarkan dengan nama generik oleh industri farmasi lain tanpa izin pemilik hak paten selama masih dalam masa hak paten. Berdasarkan UU No 14 tahun 2001, tentang Paten, masa hak paten berlaku 20 tahun (pasal 8 ayat 1) dan bisa juga 10 tahun (pasal 9). Contoh yang cukup populer adalah Norvask. Kandungan Norvask ( aslinya Norvasc) adalah amlodipine besylate, untuk obat antihipertensi. Pemilik hak paten adalah Pfizer. Ketika masih dalam masa hak paten (sebelum 2007), hanya Pfizer yang boleh memproduksi dan memasarkan amlodipine. Bisa dibayangkan, produsen tanpa saingan. Harganya luar biasa mahal. Biaya riset, biaya produksi, biaya promosi dan biayabiaya lain (termasuk berbagai bentuk upeti kepada pihak-pihak terkait), semuanya dibebankan kepada pasien. Setelah masa hak paten berakhir, barulah industri farmasi lain boleh memproduksi dan memasarkan amlodipine dengan berbagai merek. Amlodipine adalah nama generik dan merek-

merek yang beredar dengan berbagai nama adalah obat generik bermerek. Bukan lagi obat paten, lha wong masa hak paten sudah berakhir. Anehnya, amlodipine dengan macam-macam merek dan kemasan harganya masih mahal, padahal yang generik haraganya sekitar 3 ribu per tablet. Inipun menurut saya masih mahal. Adalah obat generik tertentu yang diberi nama atau merek dagang sesuai kehendak produsen obat. Biasanya salah satu suku katanya mencerminkan nama produsennya. Contoh: natrium diklofenak (nama generik). Di pasaran memiliki berbagai nama merek dagang, misalnya: Voltaren, Voltadex, Klotaren, Voren, Divoltar, dan lain-lain. Nah, jelaslah bahwa obat generik bermerek yang selama ini dianggap obat paten sebenarnya adalah obat generik yang diberi merek dagang oleh masing-masing produsen obat. Dan jelas pula bahwa pengertian paten adalah hak paten, bukan ampuh hanya karena mahal dan kemasannya menarik. II. IDENTIFIKASI/RUMUSAN MASALAH Permasalahan yang akan dipecahkan dalam makalah ini adalah mencari dan menganalisa perilaku konsumen dalam keputusan dalam membeli dalam membeli obat dan mengkonsumsinya. Didalam pemasaran produk obat generik yang tidak bermerek. Dimana konsumen dalam mengkonsumsi obat selalu memilih obat yang bermerek atau obat paten. Permasalahan yang dihadapi dan akan dipecahkan dinyatakan dalam pertanyanpertanyaan berikut ini:
1. Bagaimanakah pemilihan promosi yang tepat untuk mengubah image konsumen tentang

obat generik yang berpaten dan tidak berpaten?


2. Bagaimanakah cara pembelajaran kepada konsumen tentang obat?

3. Bagaimanakah pemilihan obat yang benar? 4. Bagaimanakah langkah yang tepat yang diambil oleh pemerintah? III. ANALISIS MASALAH Dari sekilas penjelasan di atas, nampaklah bahwa khasiat zat aktif antara obat generik dan obat generik bermerek adalah sama sejauh kualitas bahan dasarnya sama. Contoh:

misalnya saja penjenengan punya pabrik obat bernama cakmoki farma, yang memproduksi Natriun diklofenak dalam 2 produk. Yang satu obat generik, namanya otomatis Natrium diklofenak dengan nama produsen cakmoki farma. Adapun produk obat generik bermerek menggunakan nama yang dipertimbangkan agar mudah laku di pasaran, misalnya saja mokivoltar. Otomatis kualitas khasiat kedua obat Natrium diklofenak yang diproduksi cakmoki farma sama saja, soalnya membeli bahan dasar dari tempat yang sama dengan kualitas yang sama pula. Bedanya hanya pada nama, kemasan dan tentunya harga. Yang satu Natrium diklofenak generik dengan harga yang sudah ditetapkan sesuai peraturan dan satunya mokivoltar dengan harga lebih mahal, sesuai pangsa pasar dan segala lika-likunya. Mengapa harga obat generik jauh lebih murah ketimbang obat generik bermerek ? Sebagaimana contoh di atas, Natrium diklofenak 50 mg, para produsen obat yang memproduksinya menggunakan nama generik yang sama, yakni Natrium diklofenak dengan label generik. Tanpa promosi, tanpa upeti dan tanpa biaya-biaya non produksi lainnya. Harganya sudah ditetapkan, yakni HNA (Harga Netto Apotek) plus PPN = Rp 10.884,- berisi 50 tablet dan HET (Harga Eceran Tertinggi) = Rp 13.605,- sebagaimana diatur Kepmenkes No.HK.03.01/Menkes/146/I/2010. Artinya, harga per tablet Natrium diklofenak 50 mg gak akan lebih dari Rp 272,- per tablet, siapapun produsennya. Tidak bisa diotak-atik lagi. Itu sebabnya harga obat generik jauh lebih murah ketimbang obat generik bermerek. Masih banyak pertanyaan serta opini seputar obat generik dan obat bermerek, terutama terkait kualitas dan harganya. IV. KESIMPULAN Perbedaan yang nyata dalam penjelasan diatas bahwa obat generik yang berpaten dan tidak berpaten, bila obat generik yang berpaten harga obat sudah ditambah dengan biaya-biaya lain seperti biaya promosi, ppn dan lain-lain. Pengetahun konsumen tentang obat generik berpaten dan tidak berpaten sangat minim sehingga konsumen dapat dengan mudah terbuai dengan promosi-promosi dari produsen obat. Sedangkan obat generik yang tidak bermerek atau berpaten kurang dalam promosinya. Hal ini menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi pemerintah dalam memberi pembelajaran kepada masyarakat atau konsumen tentang kualitas

dan keamuhan obat generik. Iklan di media masa tentang obat generik dirasakan masih kurang atau bahkan minim sekali. Sangat dianjurkan kepada yang berkompeten agar membuat promosi melalui media masa yang tayangannya selalu diulang-ulang, dengan harapan image masyarakat atau konsumen tentang obat generik tak bermerek atau tak berpaten menadi lebih baik. Sebagimana yang telah dikatan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Ahli Farmakologi Indonesia (IKAFII Prof Iwan Dwi Prahasto bahwa sistem jaminan kesehatan nasional yang dikelola dengan model asuransi membuat peresepan obat terkendali. Menurut Prof Iwan, pemerintah juga perlu memberikan insentif bagi dokter untuk mendorong mereka meresepkan obat generik. Tapi tentunya pemerintah harus memastikan semua obat generik yang beredar di pasaran kualitasnya bagus, pembuatannya mengacu pada Cara Pembuatan Obat yang Baik atau CPOB." katanya. Saat ini sebagian produsen obat generik dalam negeri belum dapat menerapkan CPOB karena Implikasi biaya dari penerapan sistem itu cukup tinggi. "Jika dipaksakan bisa-bisa lebih dari 70 persen industri farmasi ambruk. Di Singapura saja tahun 2001 separuh industri farmasinya gulung tikar karena kewajiban menerapkan CPOB. Tapi bukan berarti kita tidak harus bergerak, kita juga harus bergerak, tapi mungkin secara bertahap," kata-nya. Menkes mengatakan pemerintah melakukan beberapa langkah strategis untuk menggalakkan penggunaan obat generik di sarana pelayanan kesehatan. Upayanya antara lain meliputi rencana penerbitan surat keputusan menteri kesehatan tentang kewajiban menuliskan resep obat generik untuk dokter yang bekerja di rumah sakit pemerintah. "Nanti swasta juga akan diwajibkan, tapi sementara kami akan benahi dulu di rumah sakit pemerintah. Pemerintah Juga mempromosikan penggunaan obat secara rasional, utamanya untuk obat generik, dengan pendekatan edukatif untuk mengimbangi promosi obat nongenerik." ujarnya. Bukan hanya itu saja, pemerintah juga berusaha menjamin kesinambungan suplai obat generik dengan meningkatkan daya saing industri farmasi nasional melalui pemberian insentif ekonomi yang wajar bagi industri farmasi yang memproduksi obat generik. "Dalam jangka panjang dukungan diberikan melalui skim Jaminan Sosial Nasional. Sistem Jaminan Kesehatan

Nasional yang melibatkan dokter, rumah sakit, dan pasien akan menjembatani penyediaan jenis pelayanan pengobatan sesuai kebutuhan dengan kendali biaya dan kendali mutu." kata Menkes.