Anda di halaman 1dari 5

UJI AKTIVITAS AFRODISIAKA EKSTRAK ETANOL 70% DAUN TAPAK LIMAN (Elephantopus scaber Linn) PADA MENCIT PUTIH

JANTAN GALUR BALB /C

SKRIPSI

Oleh : DIAN SARTIKA I 211 08 019 PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK 2012 PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama NIM Jurusan/Prodi : Dian Sartika : I21108019 : Farmasi

Judul Proposal : Uji Aktivitas Afrodisiaka Ekstrak Etanol 70% Daun Tapak Liman ( Elephantopus scaber Linn) pada Mencit Putih jantan Galur BALB/C. Menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa proposal skripsi yang saya tulis ini be nar-benar merupakan hasil tulisan saya sendiri, tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepa njang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditul is atau diterbitkan orang lain kecuali yang secara tertulis diacu naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan skripsi ini hasil jiplak an, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut. Pontianak, Maret 2012 Yang Membuat Pernyataan

Dian Sartika BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai mega biodiversity country, yaitu bangsa yang memiliki keanekaragaman hayati. Di hutan tropis Indonesia terdapat sekitar 30.000 tumbuha

n jauh melebihi daerah tropis lainnya di dunia, seperti Amerika Selatan dan Afri ka Barat (Kardinan, 2003). Melihat jumlah tanaman di Indonesia yang berlimpah da n baru 180 tanaman yang digunakan sebagai bahan obat tradisional oleh industri m aka peluang bagi profesi kefarmasian untuk meningkatkan peran sediaan herbal dal am pembangunan kesehatan masih terbuka lebar (Kardinan, 2003). Seksualitas merupakan fenomena biologi, psikologi ataupun tingkah laku pada manu sia maupun pada hewan. Salah satu penyakit yang sering terjadi terkait dengan se ksualitas adalah penyakit disfungsi seksual. Disfungsi ereksi adalah ketidakmamp uan mencapai atau mempertahankan ereksi yang cukup saat melakukan aktivitas seks ual (Yakubu et al., 2007). Disfungsi seksual lebih sering muncul pada laki-laki daripada wanita. Sekitar 10% terjadi di segala umur, meningkat lebih dari 50% pa da laki-laki diantara mereka yang berumur 50 dan 70 tahun. Hal ini terjadi karen a jumlah sel Leydig menurun sekitar 40%, dan kekuatan hormon pulsatil lutenizing melepaskan kekuatannya. Sejalan dengan peristiwa ini, tingkat testosteron bebas menurun sekitar 1,2% per tahun (Yakubu et al., 2007). Afrodisiak merupakan substansi yang dapat meningkatkan gairah seksual. Penggunaa n zat afrodisiak sintetik dapat menimbulkan banyak efek samping merugikan (Kotha ri, 2001 cit Wani et al., 2011). Pengobatan disfungsi seksual dan peningkat gai rah seksual oleh masyarakat biasanya menggunakan obat-obat sintesis, salah satun ya adalah sildenafil. Namun ada beberapa efek samping yang tidak diharapkan. Pen ggunaan afrodisiak sintetik mengakibatkan dilatasi pembuluh darah dan disisi lai n dapat mengakibatkan sakit kepala, penglihatan kabur dan sensitif terhadap caha ya yang biasanya diberikan dalam dosis yang lebih tinggi (Kulkarni, 1998 cit Wan i et al., 2011). Oleh sebab itu penting untuk diketahui zat alami yang berkhasia t sebagai afrodisiak guna mencegah terjadinya efek samping yang merugikan. Salah satu tanaman yang paling dikenal dalam meningkatkan gairah seksual adalah purwoceng (Pimpinella alpina). Menurut Suzery et al., (2004), tanaman purwoceng mengandung stigmasterol yaitu senyawa golongan saponin steroida. Saponin steroid larut di dalam air akibat ikatan glikosida yang terbentuk. Senyawa ini diduga s ebagai salah satu pemicu timbulnya perilaku seksual setelah menggunakan ekstrak purwoceng. Tanaman tapak liman (Elephantopus scaber Linn) merupakan salah satu tanaman yang secara empiris digunakan untuk meningkatkan gairah seksual (Kusuma, 2003). Hasi l skrining fitokimia pada daun tapak liman oleh Mohan (2010), menunjukkan bahwa daun tapak liman mengandung flavonoid, fenol, tanin, steroid, dan terpen, dima na senyawa-senyawa tersebut merupakan senyawa yang terdapat di dalam tumbuhan ya ng memiliki khasiat sebagai afrodisiaka seperti pasak bumi dan purwoceng. Menuru t Dalimartha (2003), di dalam daun tanaman tapak liman terkandung stigmasterol. Adanya kesamaan kandungan stigmasterol di dalam daun tapak liman dengan tanaman purwoceng juga menjadi dugaan bahwa daun tapak liman memiliki aktivitas afrodisi aka seperti tanaman purwoceng. Penelitian yang dilakukan oleh Chaidichoey dan Sr ikhao menunjukkan bahwa ekstrak etanol tapak liman menunjukkan peningkatan libid o dilihat dari mounting frequency, dan meningkatkan jumlah sperma pada tikus jan tan. Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dilakukan uji aktivitas afrodisiaka ekstr ak etanol 70% daun tapak liman terhadap mencit putih jantan galur BALB/C. Penya rian dengan menggunakan pelarut etanol 70% karena senyawa stigmasterol bersifa t polar, sehingga stigmasterol yang terkandung di dalam daun tapak liman yang di duga berperan sebagai afrodisiaka dapat tersari. I.2 Perumusan Masalah Perumusan masalah pada penelitian ini adalah: 1. Apakah ekstrak etanol 70% daun tapak liman mempunyai aktivitas afrodisia ka pada mencit putih jantan galur BALB/C ? 2. Berapa besar dosis ekstrak etanol 70% daun tapak liman yang digunakan ag ar dapat memberikan efek afrodisiaka terbesar pada mencit putih jantan galur BAL B/C ? 3. Berapa persentase kissing vagina, mounting, dan intromission dari dosis ekstrak etanol 70% daun tapak liman yang memberikan efek afrodisiaka terbesar te rhadap kontrol negatif dan kontrol positif ? I.3 Tujuan Penelitian

1. Mengetahui dan membuktikan adanya pengaruh ekstrak etanol 70% daun tapak liman terhadap perilaku seksual mencit putih jantan galur BALB/C. 2. Mengetahui berapa dosis yang dapat memberikan efek afrodisiaka terbesar pada mencit putih jantan terhadap mencit putih betina galur BALB/C. 3. Mengetahui persentase kissing vagina, mounting, dan intromission dari do sis yang memberikan efek afrodisiaka terbesar terhadap kontrol negatif dan kontr ol positif. I.4 Manfaat penelitian 1. Memberikan informasi mengenai aktivitas ekstrak etanol 70% daun tapak li man sebagai afrodisiaka. 2. Menjadi dasar dalam penelitian lebih lanjut terhadap daun tapak liman da lam hal efek afrodisiaka, sehingga di masa depan daun tapak liman dapat dikemban gkan menjadi fitofarmaka yang bermanfaat bagi kesejahteraan dan perbaikan keseh atan masyarakat. BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 Tanaman Tapak Liman a. Klasifikasi tanaman Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Magnoliophyta Kelas : Dicotyledonae Ordo : Asterales Famili : Asteraceae Genus : Elephantopus Spesies : Elephantopus scaber Linn (Sunanto, 2009). b. Deskripsi Tanaman Tapak liman tumbuh liar, biasanya banyak ditemukan di lapangan rumput, tepi jala n atau halaman rumah, merupakan tumbuhan terna yang mempunyai batang pendek dan kaku, tinggi 30-60 cm, serta berambut kasar. Daun tunggal berkumpul pada permuka an tanah membentuk roset akar. Bentuk daunnya jorong, tepi melekuk dan bergerigi tumpul, ujung tumpul, permukaan berambut kasar, pertulangan menyirip, warna hij au tua, panjang 10-18 cm, lebar 3-5 cm, tangkai bunga keluar dari tengah-tengah roset dengan tinggi 60-75 cm. Tangkai bunga kaku dan liat, berambut panjang dan rapat, bercabang dan beralur. Daun pada tangkai bunga kecil, letaknya jarang, pa njang 3-9 cm, lebar 1-3 cm. Bunganya majemuk berbentuk bongkol, letaknya di ujun g batang, berwarna ungu, mekar pada siang hari dan menutup kembali pada sore har i. Buah berupa buah longkah yang keras, berambut, berwarna hitam. Akarnya akar t unggang yang besar, warnanya putih (Dalimartha, 2003).

Gambar 2.1 Tanaman Tapak Liman (Dalimartha, 2003) c. Kandungan dan Manfaat Daun tapak liman mengandung elephantopin, deoxyelephantopin, isodeoxyelephantopi n, elephantin, epifriedelinol, stigmasterol, triacontan-1-ol, dotriacontan-1-ol, lupeol, lupeol acetate. Stigmasterol turunan steroid, yang dapat memacu gairah seksual. Bunga mengandung flavonoid luteolin-7-glucosida. Akar mengandung epipri elinol, lupeol dan stigmasterin (Dalimartha, 2003). Tanaman tapak liman berkhasiat sebagai pereda demam (antipiretik), antibiotik, d iuretik, peluruh dahak, peluruh haid, afrodisiak, menghilangkan bengkak, penawar

racun, mempercepat pengeluaran nanah, dan pelembut kulit (Dalimartha, 2003). II.2 Afrodisiaka a. Pengertian Afrodisiaka Istilah afrodisiaka berasal dari kata Aphrodite dalam Mitologi Yunani yang berarti cinta dan kecantikan yang berkhasiat meningkatkan gairah seksual, secara hormonal ga seksual dipengaruhi oleh hormon androgen (Yakubu et al., 2007). Afrodisiaka adalah berbagai bentuk stimulan atau perangsang yang bisa membangkit kan libido atau nafsu seks. Afrodisiaka dikelompokkan menjadi dua berdasarkan su mbernya. Pertama, yang mempengaruhi secara fisik dan psikis, misalnya melalui pe nglihatan, pengecapan, penciuman dan kesan seperti parfum. Kedua, yang mempengar uhi dari dalam tubuh misalnya makanan, minuman, obat atau rempah-rempah. Berabad -abad lamanya telah ada anggapan bahwa makanan tertentu mempunyai efek membangki tkan nafsu seks. Libido seksual merupakan kebutuhan biologis akibat adanya rangs angan seksual dan sering kali ditandai sebagai perilaku seksual (Yakubu et al., 2007). Tingkat gairah seksual (libido) setiap orang berbeda-beda. Hal ini ditent ukan oleh keadaan dan kadar testosteron yang terdapat dalam darah (Haviva, 2011) . b. Cara Kerja Afrodisiaka Berdasarkan mekanisme aksinya afrodisiaka dapat dibagi menjadi : 1. Afrodisiaka yang Berupa Sumber Nutrisi Afrodisiaka yang menyediakan nilai gizi mampu meningkatkan kesehatan atau kebug aran, akibatnya performa seksual dan libido mengalami peningkatan. Contoh dalam tradisi orang-orang Cina menggunakan tanduk badak sebagai afrodisiaka, sebab tan duk badak terdiri dari jaringan serabut yang mengandung kalsium dan fosfat. Defi siensi kalsium dan fosfat dapat menyebabkan lemah otot dan tubuh terasa lelah, s edangkan penggunaan dosis tinggi kalsium dan fosfat dapat meningkatkan stamina ( Yakubu et al., 2007). 2. Afrodisiaka yang Bekerja Mempengaruhi Efek Psikologi secara Spesifik. Afrodisiaka mempengaruhi aliran darah, gairah seksual dan meningkatkan durasi ak tivitas seksual. Contoh: bahan aktif pada Spanish fly, sebuah kristal lakton, ca tharidin, ketika diberikan secara topikal menimbulkan gairah seksual luar biasa, karena dilaporkan bahwa Spanish fly dapat meningkatkan aliran darah di dalam tu buh. Obat-obat lain yang mempunyai efek psikologis digunakan untuk memperpanjang ereksi, membantu membatasi pengaruh dari sistem saraf simpatetik. Contoh: yohim be dari Pausinystalia yohimbe (Yakubu et al., 2007). 3. Afrodisiaka yang Aktif secara Biologis. Afrodisiaka yang aktif secara biologis yaitu afrodisiaka yang secara psikologi a ktif di alam. Afrodisiaka dapat melewati sawar otak dan menstimulasi beberapa pe rangsang seksual. Contoh: hormon dan berbagai macam neurotransmitter (Yakubu et al., 2007). c. Metode Uji Afrodisiaka Adapun beberapa metode uji afrodisiaka antara lain: 1. Tes Mating Behaviour Hewan uji tikus jantan dan tikus betina dibagi menjadi 5 kelompok uji masing-mas ing kelompok terdiri dari 6 ekor tikus (1 ekor tikus jantan dan 5 ekor tikus bet ina). Kelompok 1 sebagai kontrol negatif, kelompok 2- 4 sebagai kelompok uji yan g menerima perlakuan sediaan uji dalam dosis yang berbeda satu kali dalam satu h ari selama 7 hari pada pukul 18.00, sedangkan kelompok 5 sebagai kontrol positif yang diberikan obat standar (pembanding) 1 jam sebelum percobaan. Penelitian di lakukan pada pukul 20.00, dimulai dengan memasukkan seekor tikus jantan dan seek or tikus betina dari tiap-tiap kelompok ke dalam kandang. Sebelumnya tikus betin a telah dibuat estrus dengan diberikan ethynil estradiol 48 jam sebelum percobaa n dan injeksi progesteron 6 jam sebelum percobaan. Parameter yang diamati adalah Mounting Frequency (MF) yaitu jumlah tunggangan sebelum ejakulasi; Intromission Frequency (IF) yaitu jumlah intromisi dari waktu perkenalan pada hewan betina s ampai ejakulasi; Mounting Latency (ML) yaitu interval waktu dari perkenalan pada hewan betina sampai tunggangan pertama oleh hewan jantan; Intromission Latency (IL) yaitu interval waktu dari perkenalan pada hewan betina sampai intromisi per

tama oleh hewan jantan; Ejaculatory Latency (EL) yaitu interval waktu dari intro misi pertama sampai ejakulasi pertama; Post Ejaculatory Interval (PEI) yaitu int erval waktu dari ejakulasi pertama sampai intromisi berikutnya oleh hewan jantan (Tajuddin et al., 2004). 2. Tes Libido Hewan uji dikondisikan seperti yang telah disebutkan pada mating behaviour test. Hewan uji diamati dengan parameter Mounting Frequency (MF) yaitu jumlah tunggan gan sebelum ejakulasi. Pengamatan dilakukan pada hari ke-7, jam 20.00. Penis dio lesi salep xylocaine 5% sebelum percobaan. Hewan uji juga diamati untuk intromis i dan ejakulasi (Tajuddin et al., 2004). 3. Tes Potensi Hewan jantan dibagi menjadi 5 kelompok dan tiap kelompok terdiri dari 6 ekor hew an. Hewan jantan dikandangkan secara terpisah selama percobaan. Larutan uji dibe rikan 1 jam sebelum percobaan selama 7 hari. Pada hari ke-8 tes reflek penile di lakukan dengan pembungkus preputial didorong ke belakang glan dengan menggunakan ibu jari dan telunjuk jari, selama periode 15 menit. Rangsangan tersebut secara normal membatasi reflek alat kelamin. Frekuensi reflek penile yang dapat dicata t yaitu Ereksi (E), Quick Flip (QF), Long Flip (LF). Total Penile Reflexes (TPR) yaitu E + QF + LF (Tajuddin et al., 2004). II.3 Fase Daur Estrus Mencit betina merupakan hewan poliestrus, yaitu hewan yang mengalami estrus lebi h dari dua kali dalam satu tahun. Seekor mencit betina akan mengalami estrus set iap 4-5 hari sekali (Kuzaimi, 2006). Daur Estrus terdiri atas 4 periode, periode proestrus, estrus, metestrus dan diestrus. Perubahan-perubahan yang terjadi pad a setiap periode dapat diamati dengan pemeriksaan ulas vagina (Fitrianti, 2002). a. Masa Proestrus Fase proestrus merupakan fase persiapan dari siklus birahi, setiap jenis hewan b etina yang berada dalam fase ini mulai menampakkan gejala birahi walaupun belum mau menerima pejantan untuk kopulasi. Perubahan fisiologis terjadi, seperti cair an terkumpul di dalam uterus dan uterus menjadi sangat kontraktil. Stadium proes trus berlangsung kira-kira 12 jam dan pada pemeriksaan ulas vagina, fase proestr us akan didominasi oleh sel-sel epitel berinti dan kadang-kadang sel-sel bertand uk (Mettus dan Rane, 2003). b. Masa Estrus Stadium ini merupakan periode terjadinya birahi dan kopulasi. Panjang siklus est rus berlangsung 12 jam. Pemeriksaan ulas ditandai dengan 75% sel bertanduk dan 2 5% sel menumpuk. Menjelang estrus berakhir akan didapatkan sel epitel menumpuk y ang dominan. Penerimaan terhadap pejantan selama estrus disebabkan oleh pengaruh estradiol pada sistem syaraf pusat yang menghasilkan pola-pola kelakuan yang kh as bagi hewan betina pada penerimaan pejantan (Mettus dan Rane, 2003). c. Masa Metestrus Stadium ini terjadi segera setelah ovulasi dan saat di antara estrus dan diestru s. Perkawinan biasanya tidak dimungkinkan karena ovarium mengandung korpus luteu m dan folikel-folikel kecil. Stadium metestrus terjadi 12 jam di mana gambaran p reparat ulas vagina akan didominasi oleh sel menumpuk sebagai hasil peluruhan ep itel vagina. Selain itu didapati pula sel leukosit (Mettus dan Rane, 2003). d. Masa Diestrus Pada stadium ini terjadi pematangan korpus luteum. Akibatnya uterus kecil dan ag ak kontraktil. Stadium diestrus merupakan stadium terakhir dan terlama yaitu men capai 57 jam yang ditandai dengan adanya sel-sel leukosit dan sel-sel epitel ber inti pada ulasan preparat vagina (Mettus dan Rane, 2003). Gambar 2.2 Fase Daur Estrus (Mettus dan Rane, 2003)