Anda di halaman 1dari 7

1 .

Latar belakang Permasalahan

2 .

Permasalahaan

Menurut laporan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada tahun 2005, Angka Kematian Ibu (AKI) berkisar 307 per 100.000 kelahiran hidup. Terdapat tiga penyebab utama kematian ibu yaitu perdarahan (45%), infeksi (15%), dan hipertensi dalam kehamilan (13%) (Roeshadi Haryono R, 2006). Hipertensi kehamilan atau preeklamsia masih merupakan masalah yang penting karena meningkatkan mortalitas serta morbiditas ibu dan neonatus. Rata-rata angka kejadian preeklamsia dan eklamsia diantara seluruh wanita hamil adalah 6%-8%. Angka kejadian ini berbeda di setiap negara dan lebih banyak terjadi di negara berkembang dibanding pada negara maju. Hal ini disebabkan karena perawatan prenatal negara maju lebih baik. Di samping itu seringnya penanganan yang terlambat akan mempertinggi AKI khususnya akibat eklamsi. Terdapat trias tiga terlambat yaitu: 1) terlambat memutuskan untuk mencari pertolongan bagi kasus kegawatdaruratan obstetric; 2) terlambat mencari tempat rujukan yang tepat; 3) terlambat memperoleh penanganan yang adekuat di tempat rujukan karena kurangnya sumber daya dan fasilitas kesehatan di perujukan. Preeklamsi dan eklamsi sendiri merupakan suatu kegawatdaruratan obstetrik sehingga penanganan dan penatalaksanaanya harus cepat dan tepat. Adanya penanganan yang tepat dan cepat pada kasus preeklamsi diharapkan dapat menekan AKI serta meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak. Ny. S, 27 tahun, merupakan pasien kebidanan dengan status obstetri G1P0A0. Riwayat hari pertama menstruasi terakhir adalah tanggal 22/8/2010. Pasien melakukan pemeriksaan pertama kehamilan di bidan setempat pada tanggal 4/10/2010 (umur kehamilan 6 minggu). Pasien rutin melakukan pemeriksaan kehamilan pada bidan setiap 1 bulan sekali. Selama pemeriksaan ante natal care di bidan selalu didapatkan tekanan darah pasien dalam rentang normal berkisar antara 90/70 mmHg hingga 120/80 mmHg. Pasien juga rutin mengkonsumsi vitamin serta suplemen besi yang diberikan. Tidak ada masalah kesehatan khusus yang dirasakan pasien pada awal-awal kehamilannya, tidak pula dirasakan mual dan muntah yang berlebihan selama awal kehamilan. Pada tanggal 5/4/2011 (umur kehamilan 30 minggu) pasien melakukan pemeriksaan ke bidan puskesmas. Menurut pasien pada hari itu kedua kakinya telah membengkak, namun pada pemeriksaan tekanan darah pasien masih dalam rentang normal yaitu 120/80 mmHg. Oleh bidan pasien disarankan untuk kembali kontrol setelah 2 minggu untuk melakukan pemeriksaan laboratorium (urin protein). Pada tanggal 10/4/2011 oleh keluarga, pasien dikatakan mengalami jatuh dan hampir hilang kesadaran. Segera keluarga menghubungi bidan setempat. Pada pemeriksaan didapat tekanan darah pasien adalah 180/100 mmHg. Oleh bidan pasien segera di rujuk ke RSIA A. Sebelum dirujuk

3 .

Perencanaan dan Pemilihan Intervensi

4 .

Pelaksanaaan

pasien belum memperoleh magnesium sulfat (MgSO4) untuk pencegahan kejang. Di RSIA pasien mengalami kejang 1 kali, kerena tidak terdapat fasilitas ICU di RSIA maka pasien di rujuk Ke RSUD Wonosobo. Pada waktu itu keluarga pasien mengatakan pada pemeriksaan detak jantung janin (DJJ) masih positif. Di RSUD pasien di rawat di ICU. Pada tanggal 13/4/2011 pasien di pacu untuk induksi persalinan. Pada tanggal 14/4/2011 pasien melahirkan bayi perempuan dengan berat 1400 gram. Bayi tersebut tidak hidup dan dokter RSU mengatakan bayi tersebut telah mati di dalam kandungan serta tidak bisa bertahan karena paru-parunya belum matang. Pada kasus, permasalahan yang didapat adalah bagaimana penangan ibu hamil dengan preeklamsia atau eklamsia. Seperti telah diketahui bahwa preeklamsia adalah kondisi yang dapat meningkatkan mortalitas dan morbiditas ibu hamil. Pada preeklamsi juga akan mempengaruhi pertumbuhan bayi dalam rahim dan sering kali bayi harus dilahirkan premature. Kondisi ini akan meningkatkan mortalitas dan morbiditas bayi/neonates. Dalam kasus ini pasien tidak mendapatkan pencegahan kejang di tingkat perifer serta perujukan pasien yang tidak langsung pada tingkat perujukan dengan fasilitas ICU (intensive care unit). Hal ini sangat disayangkan karena penanganan preeklamsi yang kurang tepat berisiko meningkatkan angka kematian ibu dan angka kematian bayi. Hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan pelayanan penanganan kasus preeklamsi yaitu: 1. Penerapan penanganan kasus hipertensi kehamilan (preeklamsi) yang tepat pada tingkat perifer. 2. Edukasi mengenai hipertensi kehamilan pada ibu hamil serta edukasi dan motivasi pada ibu dengan riwayat preeklamsi. Intervensi yang dapat dilakukan adalah: 1. Adanya standar penanganan dan perujukan kasus preeklamsi berat (PEB)pada tingkat primer yang tepat. 2. Edukasi ibu (khususnya ibu hamil dan ibu dengan riwayat preeklamsi) dapat dilakukan pada acara terbuka atau kunjungan perorangan. Pelaksanaan standar pelayaan hendaknya dilakukan dan dipraktikan setiap terjadi kasus. Standar Pelayanan Penanganan Preklamsia pada Pelayanan Primer 1. Selalu waspada terhadap gejala dan tanda preeklamsia ringan (tekanan disastolik 90-110 mmHg dalam 2 pengukuran berjarak 1 jam). 2. Pantau tekanan darah, urine (untuk mengetahui proteinuria), ibu hamil dan kondisi janin setiap minggu. 3. Selalu waspada terhadap tanda dan gejala preeklamsia berat (tekanan diastolik >110 mmHg,

protein dalam air seni, penurunan jumlah air seni dengan warna yang menjadi gelap, edema berat, nyeri kepala hebat, gangguan penglihatan, mengantuk, dan nyeri epigastrik). Penanganan preeklamsia berat dan eklamsia: 1. Cari pertolongan segera untuk mengatur rujukan ibu ke rumah sakit. Sebaiknya perujukan pada fasilitas kesehatan yang mempunyai fasilitas perawatan intensif. 2. Jelaskan kepada ibu, suami dan keluarga tentang apa yang terjadi. 3. Baringkan ibu pada posisi miring ke kiri, berikan oksigen (4-6lt/menit) jika ada. 4. Sebelum merujuk berikan: IV Ringer Laktat 500cc dengan abocath ukuran 16 G atau 18G MgSO4 4 g i.v sebagai larutan 40% selama 5 menit. Berikan dosis pemeliharaan yaitu MgSO4 (40%) 5 g i.m dengan 1ml Lignokain di bokong kiri dan kanan. Jika terjadi kejang, baringkan ibu pada posisi miring ke kiri. Jangan memaksakan membuka mulut ibu ketika kejang terjadi. Setelah kejang berhenti hisap lendir pada mulut dan tenggorokan ibu bila perlu. Pantau dengan cermat tanda dan gejala keracunanMgSO4 sebagai berikut : a. Frekuensi pernafasan < 16 kali/menit b. Reflex patella (-) c. Pengeluaran air seni <30 cc /jam selama 4jam terakhir Jangan berikan dosisMgSO4 selanjutnya bila ditemukan tanda-tanda dan gejala keracunan. Jika terjadi henti nafas (apnue) setelah pemberian MgSO4, berikan Kalsium Glukonas 1gr (20 cc dalam larutan 10%) IV perlahan-lahan sampai pernafasan mulai lagi. Lakukan ventilasi ibu dengan menggunakan ambubag dan masker. 5. Bila ibu mengalami koma, pastikan posisi ibu dibaringkan miring ke kiri, dengan kepala sedikit ditengahkan agar jalan nafas tetap terbuka. 6. Catat semua obat yang diberikan, keadaan ibu, termasuk tekanan darah setiap 15 menit. 7. Bawa segera ibu ke rumah sakit setelah serangan kejang berhenti. Dampingi ibu dalam perjalan dan berikan obat-obatan lagi jika perlu. (Jika terjadi kejang lagi, berikan 2 gr MgSO4 IV secara perlahan dalam 5 menit, tet api perhatikan jika ada tanda-tanda keracunanMgSO4). Pelaksanann edukasi pada ibu dengan riwayat eklamsi Telah dilaksanankan pada Selasa tanggal 19 April 2011. Edukasi dilakukan berupa kunjungan ke rumah pasien. Bertempat di rumah ny. S di desa Selokromo, Leksono,

Wonosobo. Edukasi berupa pemberitahuan mengenai preeklamsia, eklamsia, tanda dan gejala, komplikasi yang dapat terjadi serta edukasi adanya kemungkinan kejadian preeklamsia pada kehamilan berikutnya. Harapan dari edukasi yang dilakukan adalah agar pasien lebih berhati-hati dan waspada pada kehamilan berikutnya. Sehingga komplikasi yang terjadi, mortalitas dan morbiditas ibu dan neonatus dapat di tekan. 5 . Monitoring dan Evaluasi Monitoring Monitoring ibu hamil dengan risiko tinggi dapat dilakukan pada setiap ibu hamil ketika melakukan pemeriksaan kehamilan baik di puskesmas atau posyandu. Seyogyanya diberlakukan standar yang tetap pada ibu-ibu dengan risiko tinggi khususnya ibu hamil dengan PEB. Pada minggu keempat bulan April ini juga dilaporkan kejadian PEB pada desa yang sama. Telah dilakukan prosedur perujukan yang tepat, dimana kasus PEB segera dirujuk pada fasilitas perujukan yang tepat, waktu yang tepat, dan sebelum perujukan pasien telah diberi tindakan pertolongan pertama yang cukup sehingga pada kasus ini ibu dan anak dalam keadaan sehat. Evaluasi Evaluasi hendaknya dilakukan berkala. Evaluasi dapat dilihat dari angka kesakitan dan angka kematian ibu dan anak. Monitoring dan evaluasi dapat digunakan sebagai bahan dalam pengambilan keputusan lanjutan.

Komentar/Umpan Balaik:

Wonosobo, 30 April 2011 Peserta Pembimbing,

dr. Brian Adiwena I Retnaningtyas

dr. Dewanti NIP. 197006032002122001

4.2Mendeteksi dan memberikan pertolongan pertama pada preeklamsia ringan, preeklamsia berat dan eklamsia. 5. Tersedia perlengkapan penting untuk memantau tekanan darah dan memberikan cairan IV (termasuk tensimeter air raksa, stetoskop, set infus dengan jarum berukuran 16 dan 18 G IV, Ringer laktat atau NaCl 0,9%, alat suntik sekali pakai. Jika mungkin perlengkapan untuk memantau protein dalam air seni.) 6. Tersedia obat anti hipertensi yang dibutuhkan untuk kegawatdaruratan misalkan Magnesium Sulfat, kalsium glukonas. 7. Adanya sarana pencatatan: KMS ibu hamil/Kartu Ibu, Buku KIA dan Partograf. Proses: Bidan harus: 1. Selalu waspada terhadap gejala dan tanda preeklamsia ringan (tekanan darah dengan tekanan disastolik 90-110mmhg dalam 2 pengukuran berjarak 1jam). Pantau tekanan darah ibu hamil pada setiap pemeriksaan antenatal, selama proses persalinan, dan masa nifas. Pantau tekanan darah, urine (untuk mengetahui proteinuria), ibu hamil dan kondisi janin setiap minggu. 2. Selalu waspada terhadap tanda dan gejala preeklamsia berat (tekanan diastolik >110mmHG) yaitu: protein dalam air seni, nyeri kepala hebat, gangguan penglihatan, mengantuk, tidak enak, nyeri epigastrik.

3. Catat tekanan darah ibu, segera periksa adanya gejala dan tanda preeklamsia atau eklamsia. Gejala dan preeklamsia berat (yaitu peningkatan tekanan darah tiba-tiba, tekanan darah sangat tinggi , protein dalam air seni, penurunan jumlah air seni dengan warna yang menjadi gelap, edema berat atau edema mendadak pada wajah atau panggul belakang) memerlukan penanganan yang cepat karena besar kemungkinan terjadi eklamsia. Kecepatan bertindak sangat penting. 4. Penanganan preeklamsia berat dan eklamsia sama: 4.1 Cari pertolongan segera untuk mengatur rujukan ibu ker umah sakit. Jelaskan dengan tenang dan secepatnya kepada ibu, suami dan keluarga tentang apa yang terjadi. 4.2 Baringkan ibu pada posisi miring ke kiri, berikan oksigen (4-6lt/menit) jika ada. 4.3 Berikan IV Ringer Laktat 500cc dengan jarum berlubang besar (16 dan 18 G) . 4.4 Jika tersedia, berikanMgSO4 40% IM 10 gr (5g IM pada setiap bokong) sebelum merujuk. a. UlangiMgSO4 40% IM, 5gr setiap 4 jam, bergantian ditiap bokong. b.MgSO4 untuk pemberian IM bisa dikombinasi dengan 1cc lidokain 2%. c. Jika mungkin, mulai berikan dosis awal larutanMgSO4 20%, 4 g IV 20 menit sebelum pemberianMg SO4 IM. 5. Jika terjadi kejang, baringkan ibu pada posisi miring ke kiri, dibagian tempat tidur atau lantai yang aman, mencegah ibu terjatuh. Tapi jangan mengikat ibu. Jika ada kesempatan, letakkan benda yang dibungkus dengan kain lembut diantara gigi ibu. Jangan memaksakan membuka mulut ibu ketika kejang terjadi. Setelah kejang berlalu, hisap lendir pada mulut dan tenggorokan ibu bila perlu. 6. Pantau dengan cermat tanda dan gejala keracunanMgSO4 sebagai berikut : a. Frekuensi pernafasan < 16 kali/menit b. Pengeluaran air seni <30 cc /jam selama 4jam terakhir Jangan berikan dosisMgSO4 selanjutnya bila ditemukan tanda-tanda dan gejala keracunan tersebut diatas. 7. Jika terjadi henti nafas (apnue) setelah pemberikanMgSo4, berikan Kalsium Glukonas 1gr (10 cc dalam larutan 10%) IV perlahan-lahan sampai pernafasan mulai lagi. Lakukan ventilasi ibu dengan menggunakan ambubag dan masker . 8. Bila ibu mengalami koma, pastikan posisi ibu dibaringkan miring ke kiri, dengan kepala sedikit ditengahkan agar jalan nafas tetap terbuka. 9. Catat semua obat yang diberikan, keadaan ibu, termasuk tekanan darah setiap 15 menit. 10. Bawa segera ibu ke rumah sakit setelah serangan kejang berhenti. Dampingi ibu dalam perjalan dan berikan obat-obatan lagi jika perlu. (Jika terjadi kejang lagi, berikan 2 gr MgSO4 IV secara perlahan dalam 5 menit, tet api perhatikan jika ada tanda-tanda keracunanMgSO4). FASE KEJANG PADA EKLAMSIA AWAL TONIK KLONIK KOMA : : : : Berlangsung 10-20 detik, bola mata berputar-putar membelalak, muka dan otot tangan kejang-kejang, penurunan kesadaran Berlangsung 10-20 detik, otot-otot berkontraksi dengan kuat, spasme diafragma, pernafasan berhenti, mukosa, anggota badan dan bibir menjadi biru, punggung melenting, gigi terkatup dan mata menonjol Berlangsung 1-2 menit, otot-otot berkontraksi dengan kuat, air liur berbusa pernafasan sulit, terjadi aspirasi air liur, muka tampak sembab, lidah bisa

tergigit. Berlangsung beberapa menit sampai berjam-jam, tergantung individu, nafas ngorok dan cepat, muka bengkak, tidak sianotik. Selanjutnya dapat terjadi kejang, karena itu perlu perawatan hati-hati dan pemberian obat penenang. Ingat!! 1. Ibu harus belajar mengenali tanda dan gejala preeklamsia, dan harus dianjurkan untuk mencari perawatan bidan, puskesmas (nyeri kepala hebat, gangguan penglihatan, nyeri epigastrik, pembengkakan pada wajah) 2.Memantau dengan cermat tekanan darah ibu hamil, ibu dalam proses persalinan ,dan ibu dalam masa nifas 3. Jangan berikan metergin pada ibu yang tekanan darahnya naik, preeklamsia atau eklamsia. 4. Beberapa wanita dengan eklamsia memiliki tekanan darah yang normal. Tangani semua ibu yang mengalami kejang sebagai ibu dengan eklamsia hingga ditentukan diagnose lain. 5. Selalu waspada untuk segera merujuk ibu yang mengalami preeklamsia berat atau eklamsia