Anda di halaman 1dari 7

UJIAN OM 1.

Mucous Patches pada Penderita Sifilis Definisi : Mucous patches merupakan lesi oral yang muncul pada peny. sifilis sekunder (muncul sesudah periode laten (4mgg-6bln), lesi sangat menular berisi Spirochaeta. Etiologi : Treponema Pallidum Gambaran klinis : Lesi yang agak menonjol berwarna putih kelabu, biasanya dikelilingi oleh halo berwarna merah, dan menyerupai jejak siput. Bila kelupasan nekrotik yang menutupinya dikerok, akan tampak permukaan yang kasar dan berdarah. Mucous patches dapat timbul sebagai lesi yang solitar, tetapi biasanya beberapa bercak dijumpai secara simultan pada mukosa mulut. Tempat yang sering terkena yaitu lidah akibat sering terkena trauma. Terapi : penicillin G, terasiklin, dan eritromisin. Patofisiologi:

Etiologi : multifaktorial obat-obatan parasimpatis), kelainan kongenital kelenjar saliva, penyakit syndrome, sistemik diabetes (Sjorgen mellitus, (anti hipertensi, blok

simpatomimetik,

dehidrasi, anemia defisiensi Fe, defisiensi protein), radiasi, stimulus perifer yang menurun, stres neurologik, emosional, penyakit serta

menopause,

proses penuaan. Gambaran klinis : Mukosa oral tampak keirng, merah, pecahpecah, dan terjadi atrofi epitel. Pasien bisanya mengeluhkan glosopirosis dan penurunan kecap. Komplikasi yang sering timbul adalah kandidiasis oral, peningkatan karies, serta kesulitan saat mastikasi, menelan dan berbicara. Terapi : Tergantung dari sebab xerostomia, namun dapat diberikan:

2. Gambaran Keadaan rongga mulut pada pasien Xerostomia Definisi :

Saliva sintetis Obat-obatan untuk menstimulasi sekresi kelenjar saliva, salah satunya pilocarpine (1 sendok teh, 1 4x/hari (sediaan 5mg/mL)

Xerostomia biasanya disebabkan oleh penurunan atau tidak adanya sekresi saliva.

3. Kaposi Sarcoma

Definisi : Kaposi sarcoma merupakan neoplasma maligna yang berasal dari sel mesenkim primitf dan proliferasi dari komponen sel spindle dan vascular, sering ditemukan pada penderita HIV.

Adanya lesi berbentuk seperti kawah (ulkus) pada bagian proksimal dengan daerah nekrosis yang luas, ditutupi / tidak ditutupi lapisan pseudomembran berwarna putih keabu-abuan. Lesi yang mengalami inflamasi akut menambah serangan rasa sakit yang cepat, perdarahan dan sangat sensitif bila disentuh. Gingiv berkeratin, edematus dan epitelnya terkelupas. Mulut berbau, kerusakan kelenjar limpa , lesu dan perasaan terbakar.
dipengaruhi beberapa faktor etiologi cokelat yang

Etiologi : Merupakan tumor yang dipicu dan berhubungan erat dengan virus. Gambaran Klinis : berupa makula multiple, plak, dan

Kulit

nodul yang berwarna ungu atau biru tua. Rongga mulut dapat berupa lesi multiple maupun tunggal yang berwarna kemerahan, halus atau plak ulseratif

sekunder seperti stress dan kecemasan. Dapat juga dipengaruhi faktor-faktor lain seperti kelelahan, daya tahan tubuh yang menurun, kekurangan gizi, merokok, infeksi virus, kurang tidur, disamping dipengaruhi faktor lokal lainnya.
Terapi Mengontrol fase bakteri pada penyakit (nyeri) Fase akut dapat dikontrol dengan mereduksi

meningi, atau tumor. Daerah yang paling sering terkena adalah palatum, lidah, bibir, dan mukosa bukal. Terapi : Terapi dari Kaposi sarcoma adalah insisi, kemoterapi, dan radioterapi.

4. ANUG Definisi : Suatu infeksi oral endogen, ditandai nekrosis gingiva . Etiologi : Faktor local : oral higiene buruk , merokok serta stress emosional. Gambaran Klinis :

bakteri menggunakan larutan irrigasi yang tidak mengiritasi seperti Hydrogen peroksida dilarutkan dalam air (larutan 1 1/2 %). Jaringan nekrotik pada margin gingival dan papilla interdental harus dibuang dengan menggunakan kapas dan hydrogen peroksida atau larutan saline fisiologis. Menghilangkan faktor predisposisi local maupun sistemik

Mengajarkan

pasien

tentang

menjaga

hyperplasia gingival :

menjaga kebersihan

kebersihan rongga mulut yang baik Pada pasien dengan komplikasi, pemberian antibiotik keterlibatan sistemik diperlukan gingiva Antibiotik untuk yang terpilih pasien dg ekstensif, adalah

mulut yang dikominasikan dengan berkumur menggunakan antisepik sangat dianjurkan untuk mengurangi peradangan pada gingival dan mencegah infeksi sekunder. 6. Bullous Phemphigoid
Definition: Bullous pemphigoid is a chronic

lymphadenophaty, atau adanya kelainan Metronidazole, 250-750 mg, 3 kali sehari atau Penicillin 250-500 mg, 4 kali sehari.

mucocutaneous bullous disease that usually affects older individuals. Etiology: Autoimmunity. Bullous pemphigoid

5. Hiperplasia Ginggiva pada Leukimia Definisi : Leukemia adalah Proses keganasan yang

antigens(BP180, BP230) are the main target antigens. Clinical features Theoral lesions usually follow cutaneous manifestations and begin as bullaethat soon rupture, leaving shallow ulcerations (Fig.119). Other mucous membranes may also be affected. Skin lesions are always present, andbegin as a nonspecific generalized rash followed by large, tense bullaethat rupture, leaving denuded areas without a tendency to extend peripherally (Fig.120). The trunk, arms, and legs are the sites of predilection.The prognosis is usually good. Terspi: Treatment Systemic steroids,

mengenai sel-sel darah putih pada sum-sum tulang. Diklasifikasikan menurut morfologi sel (monositik,mielogenus atau limfoblastik) dan perjalanan klinis (akut atau kronis). Etiologi : Manifestasi dari leukimia Gambaran klinis : malaise, pucat, anemic, ulserasi karena

immunosuppressive drugs, dapsone.

leucopenia dan perubahan gusi. Pada tahap selanjutnya : gusi dapat menjadi bengkak yang berwarna keunguan, mengkilat dan terjadi perdarahan spontan. Gambaran lesi petechiae dan ekimosis pada membrane mukosa yang pucat juga sering terlihat. Jaringan yang edema merupakan infiltrasi leukemik dari sel-sel darah putih. Terapi : Pengontrolan secara sistemik dari leukemia sering melibatkan radioterapi yang intensif, kemoterapi, tranfusi darah, dan transplantasi sum-sum tulang. Pada pasien dengan

7. Geographic tongue
Definition Geographic tongue, or erythema

migrans, is a relatively common benign condition, primarily affecting the tongue and rarely other oral mucosa sites (geographic stomatitis) (Fig. 23). Etiology The exact etiology remains unknown. It may be genetic. Clinical features Clinically, the condition is characterized by multiple, well-demarcated, erythematous, depapillated patches, typically surrounded by a slightly elevated whitish border, and usually restricted to the dorsumof the tongue (Figs. 24, 25). Characteristically, the lesions persist for a short time in one area, then disappear completely and reappear in another area. The condition is usually asymptomatic, and

often coexists with fissured tongue. The diagnosis is made clinically. Differential diagnosis Candidiasis, lichen planus, psoriasis, Reiter syndrome, syphilitic mucous patches. Treatment Reassurance of the patient.

ke terapi oral ketika perbaikan signifikan telah terjadi. Acyclovir 200 mg PO 5x per hari selama 510 hari, atau Famscyclovir 250 mg PO 3x sehari selama 5 hari, atau Valacyclovir 500 mg 2 kaplet PO 2x sehari selama 5 hari Asiklovir 400 mg PO 3x sehari selama 7-10 hari direkomendasikan oleh CDC

8. Retromolar pad 9. Infeksi Primer Virus Herpesimpleks Infeksi HSV terutama disebabkan oleh HSV1, namun infeksi oral primer oleh HSV2 dapat disebabkan karena kontak oro-genital. Pasien mengalami gejala prodromal umum yang mendahului munculnya lesi selama 1-2 hari. Gejala umum yang muncul adalah demam, sakit kepala, malaise, mual, dan muntah. Kirakira 1-2 hari setelah gejala prodromal , muncul vesikel pada mukosa oral berupa vesikel berdinding tipis

2. Aspirin atau Acetaminophen 325-600 mg 4 x 1 hari untuk demam.

dengan dasar inflamasi. Vesikel ini pecah dengan cepat menjadi ulser bulat yang dangkal. Lesi ini muncul pada seluruh bagian mukosa. Seiring dengan berjalannya penyakit, lesi akan bergabung, membentuk lesi yang lebih besar dan irregular. Manifestasi oral penyakit ini adalah terdapat gingivitis marginalis akut generalisata. Seluruh gingiva mengalami posterior edema pharynx, dan inflamasi. Sering terlihat beberapa ulser kecil pada gingiva, inflamasi pada bagian pembesaran nodus limfatikus submandibular dan servikal. Lesi terdapat pada: gusi bebas, palatum, lidah, mukosa bukal dan bibir.

3. Nutrisi Makanan mineral. 4. Topikal Anestesi dan Coating Agent untuk nyeri oral: Dyphenhydramine HCl elixir, 12.5mg/5ml Disp: 4 oz Sig: berkumur 1 sendok teh selama 2 menit, berprotein tinggi, vitamin, dan

Terapi

yang

dilakukan

bertujuan

untuk

lalu buang. Lakukan setiap 2 jam sebelum makan.

meringankan gejala, mencegah infeksi sekunder dan membantu penyembuhan menyeluruh. Terapi dilakukan dengan: 1. Antivirus Untuk penyakit primer parah, acyclovir IV 5 mg/kg yang diinfuskan selama 60 menit setiap 8 jam sudah optimal, dengan konversi Lidocaine (viscous) 2.0% atau 1% Disp: 1-oz bottle Sig: berkumur 1 sendok teh selama 2 menit sebelum makan, lalu buang.

sering terkena. Bentuk kandidiasis ini Dyclonine HCl (Dyclone) 0.5% atau 1 % Disp: 1-oz bottle Sig: berkumur dengan 1 sendok teh selama 2 menit sebelum makan, lalu buang. mirip dengan eritroplakia dan stomatitis leukoplakia dengan 10. Lichen Plannus erosive
Definition Lichen planus is a relatively common chronic inflammatory disease of the oral mucosa and skin. Etiology Although the cause is not well known, T cellmediated autoimmune phenomena are involved in the pathogenesis of lichen planus. Clinical features White papules that usually coalesce, forming a networkof lines (Wickmans striae), are the characteristic oral lesions of thedisease. Six forms of the disease are recognized in the oral mucosa,classified according to frequency: the common (reticular, erosive,Figs. 4, 5); the less common (atrophic, hypertrophic, Fig. 6); and the rare(bullous, pigmented, Fig. 7). Middle-aged individuals are more commonly affected (the ratio of women to men ratio is 3 : 2). The buccal mucosa, tongue, and gingiva are the sites of predilection. The skin lesionscharacteristically appear as polygonal purple, pruritic papules, usually affecting the flexor surfaces of the extremities. The glans penis and nailsmay also be affected. The disease can usually be diagnosed on clinicalgrounds alone. The prognosis of lichen planus is usually good, andmalignant transformation (particularly of the erosive form) remains controversial. Treatment No treatment is needed in asymptomatic lesions. Topicalsteroids (ointment in Orabase, intralesional injection), may be helpful. Systemic steroids in low doses can be used in severe and extensive cases. The topical use of antiseptic mouthwashes should be avoided.

kontak.Leukoplakia kandidal, memiliki yang Bentuk

hiperplastik, yang juga dikenal sebagai karakteristik berupa lesi putih melekat permukaan kasar biasanya asimptomatik.

kandidiasis ini memiliki predileksi pada mukosa bukal anterior dan lidah, serta seringkali disebabkan oleh kebiasaan merokok kronis. Diagnosis banding lesi tipe ini antara lain keratosis frictional, leukoplakia planus.Gambaran terhadap diagnosis non-invasif mikroorganisme secara dianjurkan untuk terapi dan klinis dan antifungal lichen respon adalah Sitologi mendeteksi superfisial meskipun biopsi

tanda-tanda utama untuk menegakkan kandidiasis. untuk jamur mikroskopis, eksfoliatif merupakan suatu metode

melakukan

insisional jika terdapat lesi oral prakanker dalam diagnosis bandingnya. Diagnosis definitif spesies jamur juga dapat dilakukan kondisi melalui medis juga kultur.Meskipun

ditemukan pada individu yang tidak terinfeksi HIV, biasanya hal tersebut merupakan memiliki dan perawatan spektrum makula akibat luas, sekunder dari atau

11.Candidiasis eritematosum Kandidiasis karakteristik bercak berwarna eritematosus berupa merah,

mengunakan

antibiotik

kortikosteroid,

halus-sampai-granuler sertasensasi

akibat xerostomia. Tampilan lesi ini seharusnya menimbulkan kecurigaan terjadinya infeksi HIV kecuali pasien memiliki faktor resiko kandidiasis

terbakar. Palatum, mukosa bukal dan dorsal lidah adalah daerah yang paling

lainnya. berulang

Terjadinya atau

infeksi

HIV

Desquamative gingivitis adalah gambaran klinis dari manifestasi gingiva nonspesifik dari beberapa penyakit mukokutaneus kronis. Etiologinya yaitu mekanisme respon autoimun. Cicatricial pemphigoid dan lichen planus merupakan penyakit yang berhubungan dengan desquamative gingivitis. Selain itu, terlihat adanya deskuamasi spontan epitel, blister, dan erosi bagian superfisial. Dalam keadaan ini, margin dan attached gingiva terlihat kemerahan dan edema. Gingiva bagian fasial lebih sering terkena daripada gingiva bagian lingual. Secara karakteristik, adanya tekanan ringan pada gingiva dapat menyebabkan terjadinya perdarahan pada blister. Lesi ini dapat terjadi secara lokalisata maupun generalisata. Desquamative gingivitis sering terjadi pada wanita di atas usia 40 tahun.
Definition Desquamative gingivitis is a clinical descriptive term used for nonspecific gingival manifestation of several chronic mucocutaneous diseases. Etiology With rare exceptions, an autoimmune mechanism is responsible. Cicatricial pemphigoid and lichen planus are the most common diseases related to desquamative gingivitis. Less frequently, bullous pemphigoid, pemphigus, linear IgA disease, epidermolysis bullosa acquisita, chronic ulcerative stomatitis, discoid lupus erythematosus, and psoriasis may be the underlying disease entity. Clinical features It presents as erythema and edema of the marginal and attached gingiva (Figs. 62, 63). The facial surface is more frequently affected than the lingual gingiva. Spontaneous desquamation of the epithelia, blister formation, and areas of superficial erosions are common. Characteristically, after mild pressure on the affected gingiva, desquamation of the epithelium or hemorrhagic blister formation usually occur. The lesions may be either localized or generalized. Desquamative gingivitis may be the only oral manifestation or may be associated with additional oral lesions of the underlying chronic bullous dermatosis. Women over 40 years of age are more frequently affected. The clinical diagnosis should be confirmed by histopathological and immunological examinations.Treatment Good oral hygiene, avoidance of any mechanical pressure

cenderung terjadi jika ditemukan lesi rekuren setelah dilakukan perawatan konvensional 12. Erythroplakia Definisi : Erythroplakia adalah suatu lesi premalignan yang sering terjadi pada glans penis, namun jarang terjadi pada mukosa oral. Tanda klinis: asimtomatis, berwarna merah menyala, berbatas jelas, dan dengan permukaan yang halus atau bahkan dapat meyerupai beludru. Lesi merah ini berhubungan dengan white spot atau plak kecil. Terletak di Dasar mulut, area retromolar, palatum lunak, dan lidah merupakan predileksi yang sering terjadi. timbul pada pasien yang berusia antara 50 hingga 70 tahun. Secara histopatologis, erythroplakia

memperlihatkan dysplasia yang berat, carcinoma in situ, early invasive squamous-cell carcinoma pada saat diagnosis.

Diagnosis banding dari erythroplakia antara lain kandidiasis erythomatous, LED, early squamous-cell carcinoma, dan iritasi lokal. Terapi yang dapat dilakukan pada pasien ini yaitu bedah eksisi.

13. Desquamative Gingivitis

on the gingiva. Systemic treatment (corticosteroids, immunosuppressants, dapsone) depends on the identification of the underlying disease.

Treatment Local or systemic corticosteroids, hydroxychloroquine. 146 Ulcerative Lesions

15.

14. Chronic Ulserative Stomatitis Definisi : Chronic ulserative stomatitis merupakan penyakit autoimun dengan antibodi antinuclear spesifik pada epitel berlapis mukosa oral. Gingiva merupakan lokasi yang paling sering terkena. Tanda klinis : Lesi ini dapat muncul dalam bentuk desquamative gingivitis maupun ulserasi dan eritema yang terlokalisasi dengan rasa nyeri. Timbulnya chronic ulserative stomatitis dapat disertai dengan timbulnya lichen planus tipe retikular atau LED pada mukosa bukal dan lidah. Terapi : Terapi yang dapat diberikan antara lain kortikosteroid lokal atau sistemik serta hydroxychloroquine.
Definition Chronic ulcerative stomatitis is a rare oral disease with characteristic immunofluorescent pattern. Etiology Autoimmune disease with specific antinuclear antibodies directed against the stratified epithelium. Clinical features The disease involves, almost exclusively, the oral mucosa and has a chronic course with recurrences. The main target of the disease is the gingiva, where the lesions appear in the formof desquamative gingivitis or as localized painful erythema and ulcerations (Fig.143). Painful superficial ulcerations, usually associated with reticular white lesions identical to those seen in oral lichen planus, and discoid lupus erythematosus may also occur on the buccal mucosa and the tongue (Fig.144). The clinical diagnosis should be confirmed by laboratory examination. Laboratory tests Histopathological examination, direct and indirect immunofluorescent tests. Differential diagnosis Lichen planus, discoid lupus erythematosus, cicatricial pemphigoid, linear IgA disease, epidermolysis bullosa acquisita, pemphigus, idiopathic form of desquamative gingivitis.