Anda di halaman 1dari 3

Radang a) Apa pengertian dan tujuan pemeriksaan darah tepi dan hitung darah lengkap?

Apakah kaitan pemeriksaan tersebut dengan radang?


Pengertian dan tujuan pemeriksaan darah tepi Pengertian : Pemeriksaan darah tepi merupakan pemeriksaan terhadap jumlah leukosit (diproduksi oleh sumsum tulang) di dalam perifer.hitung darah lengkap merupakan perhitungan Hb, leukosit, eritrosit, hitung jenis leukosit, dan trombosit. Tujuan : membantu kita kearah membuat diagnosa tentang penyakit darah dan untuk mengevaluasi dan untuk mendeteksi leukopenia atau leukositosis yang menunjukkan adanya infeksi atau yang lebih jarang lagi adalah keganasan darah Pengertian dan tujuan hitung darah lengkap Pengertian : hitung darah lengkap merupakan perhitungan Hb, leukosit, eritrosit,hitung jenis leukosit, dan trombosit Tujuan: untuk membandingkan jumlah sel darah normal dengan jumlah sel darah yang dihitung

Kaitan kedua pemeriksaan tersebut dengan radang


Kaitan pemeriksaan dengan radang adalah setelah ditemukan hasil penghitungan yang ternyata menemukan banyak sel darah putih di daerah tepi pemuluh darah maka dapat menjadi indikator telah terjadi peradangan atau proses pemulihan. Misalnya: hasil pemeriksaan menunjukkan adanya peningkatan jumlah eosinofil dalam sel leukosit. Hal ini dapat mengindikasikan adanya proses resolusi atau penyembuhan. Eosinofil yang terjadi dalam jaringan maupun didalam pembuluh darah sering berhubungan dengan adanya reaksi radang berupa alergi.

b) Jelaskan mekanisme aksi neutrofil pada proses radang akut berdasarkan animasi tersebut!
a. Marginasi Melekatnya leukosit darah, terutama neutrofil dan monosit dengan sel endotel jaringan yang terkena cedera. Interaksi ini dibantu dengan meningkatnya permeabilitas vaskular yang terjadi pada inflamasi dini yang menyebabkan cairan keluar dari pembuluh darah dan aliran darah melambat. b. Rolling Selanjutnya leukosit yang berguling-guling pada permukaan endotel, untuk sementara melekat disepanjang perjalanannya. Disini leukosit dan endotel bersama melepaskan reseptor selektin yang ditandai dengan adanya daerah ekstrasel yang mengikat gula tertentu. Selektin ini meliputi selektin L (pada permukaan leukosit), selektin E (pada endotel) dan selektin P (pada endotel dan trombosit). Selektin ini akan mengikat oligosakarida yang dimodifikasi sialil-lewis X. Pada leukosit selektin E secara khusus tidak terdapat pada endotel normal, diinduksi setelah adanya perangsangan oleh mediator inflamasi (IL-1 dan TNF). c. Adhesi Leukosit akhirnya melekat kuat pada permukaan endotel(adhesi) sebelum keluar diantara sel endotel dan melewati membran basalis masuk keruang ekstravaskuler(diapedhesis). Adhesi kuat ini diperantarai oleh molekul superfamili imonoglobulin pada sel endotel yang berinteraksi dengan integrin ang muncul pada permukaan sel leukosit.

Integrin biasanya muncul pada membran plasma leukosit tetapi tidak melekat pada ligannya yang sesuai sampai leukosit diaktivasi oleh agen atau rangsang (dihasilkan oleh sel endotel atau sel lainnya ditempat jejas). d. Diapedesis Selain adesi kuat, leukosit bertransmigrasi terutama dengan merembes diantara sel pada interselular junction dengan diperantarai oleh molekul adhesi CD31. Setelah melintasi endothelial junction , leukosit menembus membran basalis dengan mendegradasinya secara fokal menggunakan kolagen yang disekresi. e. Kemotaksis Setelah terjadi ekstravasasi dari darah, leukosit bermigrasi menuju tempat jejas mendekati gradien kimiawi pada bsuatu proses yang disebut kemotaksis. Kemotaksis kemudian berikatan dengan reseptor protein di membran plasma sel fagositik yang menyebabkan peningkatan pemasukan Ca2+ ke dalam sel. Kalsium kemudian mengaktifkan perangkat kontraktil sel yang diperlukan untuk pergerakan . Leukosit bergerak dengan pseudopodia seperti amuba. Karena konsentrasi kemotaksin secara progresif meningkat mendekati tempat cedera, sel-sel fagositik bergerak secara tepat kearah tempat peradangan mengikuti gradien konsentrasi kemotaksin. f. Fagositosis Sel-sel fagositik memiliki banyak lisosom yaitu organel yang berisi enzim hidrolitik. Setelah sebuah fagosit memasukkan benda sasaran terjadi fusi lisosom dengan membran yang membungkus benda tersebut dn lisosom mengeluarkan enzim-enzim hidrolitiknya kedalam vesikel yang terbungkus membran tersebut sehingga benda yang terperangkap dapat diuraikan. Hal ini dibantu dengan protein serum opsonin yang berfungsi memfasilitasi pengikatannya dengan reseptor opsonin spesifik pada leukosit. Diinduksi oleh TNF dan IL - Opsonin yang terpenting adalah IgG dan fragmen C3b komplemen. IgG bertanggung jawab memicu kaskade aktivasi komplemen sehingga terjadi deposisi fragmen C3b pada partikel yang menjadi target. Serelah terjadi pengikatan dengan partikel, akan diikuti dengan penelanan. Pada penelanan, pseudopodia diperpanjang mengelilingi objek sampai akhirnya membentuk vacuola fagositik yang kemudian berfusi dengan granula lisosom sehingga terjadi degradasi leukosit. Langkah akhir dalam fagisitosis adalah pembunuhan dan degradasi. Pembunuhan dilakukan oleh spesies oksigen reaktif. Fagositosis merangsang suatu pembakaran oksidatif yang ditandai dengan peningkatan konsumsi oksigen tiba-tiba, katabolisme glikogen dan produksi metabolit oksigen reaktif yang selama prosesnya mengubah O2 jadi ion superoksida O2. Superoksida kemudian diubah menjadi hidrogen peroksida yang digunakan untuk membunuh bakteri namun pada umumnya tidak cukup efektif membunuh bakteri . Namun demikian lisosom neutrofil mengandung enzim milopeoksidase dan dengan adanya Cl- mieloperoksidase mengubah H2O2 p HOCl . HOCl merupakan oksidan dan anti mikroba yang sangat kut yang membunuh bakteri melalui halogenasi. Setelah mikroba tersebut mati kemudian akan di ndegradasi oleh hidrolasi asam lisosom. g. Killing Proses membunuh bakteri terjadi melalui generasi spesies racun oksigen (superoksida) yang diubah di dalam granul neutrofil. Melalui adanya oksidasi, lisozim dari granul neutrofil dapat membentuk lubang di dalam membrane mikroba.

c) Apa peran benang-benang fibrin dalam proses inflamasi?


Peran benang-benang fibrin dalam proses inflamasi adalah untuk membekukan cairan radang sehingga dapat menyumbat saluran-saluran limfe dan sela-sela jaringan hal ini lah yang dapat mencegah terjadinya penyebaran infeksi. Selain itu serabut fibrin berperan penting dalam membatasi meluasnya peradangan. Jadi benang-benang fibrin ini penting bagi penyembuhan serta pembentukan jaringan ikat. Pembentukan jaringan ikat inilah yang dapat membatasi peradangan.

Selain itu benang-benang fibrin juga berperan sebagai : - Menangkap sel-sel darah dan menyempurnakan pembentukan pembekuan. - Melapisi permukaan alat tubuh yang mengalami radang. - Membatasi meluasnya radang - Penting bagi penyembuhan dan pembentukan jaringan ikat Sumber: - Kumar, Vinay, MD, FRCPath, Ramzi S. Cotran, MD, dan Stanley L. Robbins, MD.(2007). Buku ajar patologi edisi 7. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC - Patologi Anatomik Fakultas Kedokteran UI . 1973. hal 47 & 53 - Pringgoutomo, S., Himawan, S., & Tjarta, A. (2002). Buku Ajar Patologi I

(Umum). Jakarta: Sagung Seto


- Sherwood (2007). Fisiologi manusia hal 371