Anda di halaman 1dari 19

Makalah Presentasi Anatomi Histologi

Analisis Sperma

Disusun oleh:

Baital Izzatul Badriyah Rizky Nurdiansyah Bina Rizky Amalia Fathor Rahman Ratna Wulan Sari Mutya Farsely Ismi Kurnia Budiarti Putri Puspitasari

: 0910910001 : 0910910015 : 0910910033 : 0910910049 : 0910910065 : 0910913003 : 0910913023 : 0910913031

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2010

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Dalam melakukan proses reproduksi dan menghasilkan suatu bentuk janin yang baik

dibutuhkan sperma yang berkualitas baik dan ovum yang terbilang subur. Sperma merupakan sel reproduksi pada laki-laki dan akan keluar apabila adanya proses ejakulasi. Struktur dari sperma terdiri dari tubuh, kepala, dan ekor. Kepala pada sperma terdiri atas 23 kromosom, tubuhnya terdapat mitokondria, dan ekornya memiliki fungsi untuk pergerakan sperma untuk dapat menuju ke tuba fallopi dan leher rahim pada perempuan. Untuk mengetahui kualitas sperma seorang lakilaki perlu diadakan analisa terhadap sperma tersebut. Analisis sperma dapat dilakukan dengan beberapa metode yaitu, hemacytometer, spectophotometer dan sperm vision. 1.2 Tujuan Makalah ini bertujuan untuk mengetahui bentuk, struktur, kandungan dan fungsi sperma. Selain itu makalah ini dibuat agar mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang analisa sperma. 1.3 Manfaat Makalah ini dibuat agar dapat mengetahui bentuk, struktur, kandungan dan fungsi sperma. Selain itu makalah ini dibuat agar mahasiswa dapat mampu memahami dan menjelaskan tentang analisa sperma.

BAB II

PEMBAHASAN 2.1 Spermatozoa Spermatozoid atau sel sperma atau spermatozoa (berasal dari bahasa Yunani kuno: sperm yang berarti benih, dan zoa yang berarti makhluk hidup) adalah sel dari sistem reproduksi lakilaki. Sel sperma akan membuahi ovum untuk membentuk zigot. Zigot adalah sebuah sel dengan kromosom lengkap yang akan berkembang menjadi embrio (Dean, 2005)

Gambar 1. Sperma Manusia (Medical Look.com, 2010)

Sel sperma manusia adalah sel sistem reproduksi utama dari laki-laki. Sel sperma memiliki jenis kelamin laki-laki atau perempuan. Sel sperma manusia terdiri atas kepala yang berukuran 5 m x 3 m dan ekor sepanjang 50 m. Sel sperma pertama kali diteliti oleh seorang murid dari Antonie van Leeuwenhoek tahun 1677. Sperma terlihat persis seperti sebuah mesin didesain untuk mengangkut muatan genetis. Bagian depan sperma tertutup oleh pelindung. Terdapat sebuah lapisan pelindung lain di bawah lapisan pertama tersebut, dan di bawah lapisan kedua ini terdapat 23 kromosom yang dimiliki oleh laki-laki. Segala informasi mengenai tubuh manusia tersimpan dalam kromosom ini. Agar zigot terbentuk, 23 kromosom dalam sperma harus bersatu dengan 23 kromosom dalam sel telur Ibu (Hemingway, 2009).

Sperma normal memiliki bentuk kepala oval beraturan dengan ekor lurus panjang di tengahnya. Sperma yang bentuknya tidak normal (disebut teratozoospermia) seperti kepala bulat, kepala pipih, kepala terlalu besar, kepala ganda, tidak berekor, dll, adalah sperma abnormal dan tidak dapat membuahi telur. Hanya sperma yang bentuknya sempurna yang disebut normal. Pria normal memproduksi paling tidak 30% sperma berbentuk normal (Dean, 2005) Sperma dapat dibedakan menjadi 2, yaitu sperma pilihan atau sperma straw, dan semua sperma hasil ejakulat yang disebut dengan sperma afkir. Sperma straw memiliki ciri- ciri sebagai berikut: 1. Tampak seperti kecebong 2. Berukuran kecil 3. Kepala lonjong 4. Aktif bergerak Sedangkan sperma afkir memiliki ciri-ciri sebagai berikut : 1. Ukuran lebih besar daripada sperma straw 2. Tidak aktif bergerak 3. Kebanyakan tidak survive 4. Sperma yang abnormal

Gambar 2. Sperma Straw

Gambar 3. Sperma Afkir (Medical-dictionary, 2009)

2.1.1 Kandungan Sperma Di dalam sperma dan semen, terdapat beberapa kandungan kimia. Berikut adalh kandungan kimia dari sperma dan semen :

Tabel 1. Komposisi Kimia Semen dan Sperma


Komposisi Kimia Dalam mg/ 100ml Ammonia Ascoric Acid Ash Calcium Carbon Dioxide Chloride Cholesterol Citric Acid Creatine Fructose Gluthione Glycerylphorylcholine Nitrogen, non protein Inositol Lactic Acid Magnesium 2 12,8 9,9% 25 54 155 80 376 20 224 30 54-90 913 50,57 35 14 Phosporus, acid-soluble Inorganic Lipid Total (lipid) Phosphorylcholine Potassium Pyruvic acid Sodium Vitamin B12 Sulphur Urea Uric Acid Sorbitol Zinc Copper Komposisi Kimia Dalam mg/100ml 57 11 6 112 250-380 89 29 281 300-600 ppg 3% 72 6 10 14 0,006-0,0024

(Dean, 2005)

2.2

Analisa Sperma Analisis sperma adalah pemeriksaan untuk menilai ciri dan mutu spermatozoa dalam air

mani, agar dapat dinilai apakah terdapat ketidaknormalan yang dapat mengganggu kesuburan dan menghambat terjadinya pembuahan (Art, 2008). Pemeriksaan ini meliputi (Art, 2008): 1. Warna, bau, volum, pH, pencairan (likuefaksi), dan kekentalan (viskositas) air mani, serta apakah ada sel-sel lain dalam cairan mani. 2. Jumlah, bentuk, dan gerakan sperma-tozoa; % spermatozoa yang bergerak dan yang bergerak lurus; serta kecepatan gerak spermatozoa. 3. Uji migrasi sperma in vitro 4. Uji MAR (mixed agglutination reaction), untuk menilai penggumpalan spermatozoa 5. Uji HOS (hypo-osmotic swelling), untuk menilai keutuhan selaput sel spermatozoa.

6. Uji fruktosa Selain itu, juga diperiksa faktor imunoandrologis istri terhadap spermatozoa suami untuk menilai apakah terdapat zat antibodi anti-sperma yang dapat menghambat perjalanan spermatozoa menuju sel telur. Pemeriksaan imunoandrologis meliputi (Art, 2008): 1. Uji Kibrick, untuk menilai adanya faktor penggumpal (aglutinasi) spermatozoa suami dalam serum darah istri. 2. Uji Isojima, untuk menilai adanya faktor penghambat gerak spermatozoa dalam serum darah istri. 3. Uji adaptasi sperma, untuk menilai berapa lama daya-tahan hidup spermatozoa dalam serum darah istri.

2.2.1 Metodologi Terdapat 3 jenis metode yang digunakan untuk menganalisa sperma saat ini, yaitu hemacytometer, spectrophotometer dan Sperm Vision. Apapun metode yang dipilih, tingkat keberhasilan dari analisa sperma ditentukan oleh persiapan sampel. Setelah ejakulasi, sperma harus langsung dibawa ke laboratorium dan dijaga suhunya pada suhu 34oC. Sperma tersebut disuspensikan dan kotoran-kotorannya dibersihkan dengan extender (Minitube, 2004). 2.2.1.1 Hemacytometer Hemacytometer adalah metode yang paling memakan waktu, yaitu sekitar 15 menit per sampel. Metode ini dilakukan secaramanual dan digunakan untuk memverifikasi konsentrasi sperma pada semen, quality control peralatan dan mengkalibrasi spectrophotometer. Setelah sampel siap, sampel dimasukkan ke dalam tabung pada hemacytometer dan ditutup dengan gelas penutup, setelah itu menghitung sel sperma pada area tertentu dengan mikroskop. Karena tabung hemacytometer memiliki dimensi yang jelas, maka perhitungannya menggunakan perhitungan matematis (Minitube, 2004). 2.2.1.2 Spectophotometer Metode ini merupakan metode yang sering digunakan dalam menghitung konsentrasi sperma. Metode ini cepat selama konsentrasi sperma masih dalam jangkauan bacaan spektrofotometer dan kalibrasinya baik. Sampel semen diletakkan di dalam cuvette atau microcuvette dan dimasukkan ke dalam spektrofotometer. Perhitungan dari sel sperma didasarkan pada kepadatan optikal yang terlihat. Karena sampel dilarutkan, maka rasio pelarutan

sampel juga dicantumkan pada saat menghitung konsentrasi sperma sebenarnya (Minitube, 2004). 2.2.1.3 Sperm Vision Metode ini secara otomatis menghitung sel sperma dalam area-area tertentu dalam tabung yang kedalamannya sudah ditentukan. Sel sperma yang terhitung akan ditampilkan pada layar komputer. Selain itu, motilitas dan konsentrasi juga ditampilkan. Akurasi perhitungan dari sperma sangat ditentukan oleh tingkat kebersihan semen, sehingga diperlukan perhatian ekstra saat membersihkan semen (Minitube, 2004).

2.2.2 Aturan Persiapan untuk Pasien Beberapa persiapan perlu dilakukan oleh pasien untuk melakukan tes ini. Persiapan tersebut meliputi (Art, 2008) : 1. Puasa sanggama (abstinensi) sedikitnya 3 hari dan paling lama 5 hari berturut-turut. 2. Air mani dikumpulkan dengan cara masturbasi, boleh dengan atau tanpa bantuan istri, tidak boleh dengan sanggama terputus atau menggunakan kondom (kecuali kondom khusus untuk keperluan ini). 3. Air mani ditampung secara keseluruhan ke dalam wadah gelas khusus steril, yang telah diberikan petugas Laboratorium dan diberi label nama pasien. 4. Untuk pemeriksaan imunoandrologis, istri akan diambil bahan percontoh darahnya.

2.2.3 Karateristik Semen Menurut WHO, berikut adalah empat kriteria yang dilihat dalam pengujian semen (Conectique, 2008): 1. Volume Pria subur rata-rata mengeluarkan 2 hingga 5 cc semen dalam satu kali ejakulasi. Secara konsisten mengeluarkan kurang dari 1,5 cc (hypospermia)? atau lebih dari 5,5 cc (hyperspermia) dikatakan abnormal. Volume lebih sedikit biasanya terjadi bila sangat sering berejakulasi, volume yang lebih banyak terjadi setelah lama berpuasa. 2. Konsentrasi sperma

Pria subur memiliki konsentrasi sperma di atas 20 juta per cc atau 40 juta secara keseluruhan. Jumlah di bawah 20 juta/cc dikatakan konsentrasi sperma rendah dan di bawah 10 juta/cc digolongkan sangat rendah. Istilah kedokteran untuk konsentrasi sperma rendah adalah oligospermia. Bila sama sekali tidak ada sperma disebut azoospermia. Semen pria yang tidak memiliki sperma secara kasat mata terlihat sama dengan semen pria lainnya, hanya pengamatan melalui mikroskoplah yang dapat membedakannya. 3. Morfologi Sperma Sperma normal memiliki bentuk kepala oval beraturan dengan ekor lurus panjang di tengahnya. Sperma yang bentuknya tidak normal (disebut teratozoospermia) seperti kepala bulat, kepala pipih, kepala terlalu besar, kepala ganda, tidak berekor, dll, adalah sperma abnormal dan tidak dapat membuahi telur. Hanya sperma yang bentuknya sempurna yang disebut normal. Pria normal memproduksi paling tidak 30% sperma berbentuk normal. 4. Motilitas (Pergerakan) Sperma Sperma terdiri dari dua jenis, yaitu yang dapat berenang maju dan yang tidak. Hanya sperma yang dapat berenang maju dengan cepatlah yang dapat mencapai sel telur. Sperma yang tidak bergerak tidak ada gunanya. Menurut WHO, motilitas sperma digolongkan dalam empat tingkatan:
y

Kelas a : sperma yang berenang maju dengan cepat dalam garis lurus seperti peluru kendali.

Kelas b : sperma yang berenang maju tetapi dalam garis melengkung atau bergelombang, atau dalam garis lurus tetapi lambat.

y y

Kelas c : sperma yang menggerakkan ekornya tetapi tidak melaju. Kelas d : sperma yang tidak bergerak sama sekali.

Sperma kelas c dan d adalah sperma yang buruk. Pria yang subur memproduksi paling tidak 50% sperma kelas a dan b. Bila proporsinya kurang dari itu, kemungkinan akan sulit memiliki anak. Motilitas sperma juga dapat terkendala bila sperma saling berhimpitan secara kelompok sehinga menyulitkan gerakan mereka menuju ke sel telur. 2.2.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas Sperma Berikut merupakan faktor- faktor yang mempengaruhi kualitas sperma (Conectique, 2008):

1. Usia Dengan semakin meningkatnya usia, dapat terjadi kesulitan mendapatkan anak disebabkan berkurangnya kualitas sel telur wanita tsb. 2. Riwayat penyakit maupun operasi terdahulu Riwayat penyakit, maupun operasi terdahulu dapat memberikan informasi tentang penyebab infertilitas. Apendisitis, peritonitis, salpingitis, dapat menyebabkan kelainan pada tuba. Hipotiroid, hipertiroid, penyakit pada hipofisis, DM dan suprarenal dapat menyebabkan infertilitas juga. 3. Berat badan dan perubahan pada berat badan Berat badan dan perubahan pada berat badan (terlalu gemuk, terlalu kurus) mempengaruhi pengobatan infertilitas. Lemak subkutan mengandung enzim aromatase yang akan mengubah androgen menjadi estrogen. Estrogen tinggi akan menekan pengeluaran FSH dan LH, selanjutnya LH yang tinggi menekan aktivitas enzim aromatase sehingga androgen tidak dapat diubah menjadi estrogen. Pada wanita yang gemuk sering dijumpai insulin resisten. Insulin memicu sintesis DHEA di suprarenal, sehingga terjadi hiperandrogenemia. Kadar androgen di dalam cairan folikel dan didalam serum tinggi akibatnya akan terjadi atresia folikel. Sel-sel lemak juga akan menghasilkan leptin, yang akan menekan produksi neuropeptida Y di hipotalamus. Neuropeptida ini berfungsi untuk mengurangi rasa lapar, sehingga penekanan pada neuropeptida ini akan menyebabkan selalu merasa lapar. Leptin sendiri juga memicu pengeluaran FSH dan LH. Kadar LH yang tinggi mengakibatkan terjadinya peningkatan kadar androgen. Kekurusan akibat malnutrisi kronik menyebabkan tidak terbentuknya lemak dan leptin, sehingga tidak terjadi stimulasi pengeluaran FSH dan LH. Akibatnya terjadi anovulasi sampai amenore. 4. Pola Hidup Alkohol akan menghambat kerja enzim sulfatase dan enzim aromatase, sehingga terjadi gangguan pada sistem hormon. Nikotin mengurangi aliran darah alat genitalia dan mempercepat penghancuran hormon. 5. Stres

Memicu pengeluaran corticotrophin releasing factor (CRF) yang akan menekan pengeluaran LH dan Growth Hormone, dan memicu pengeluaran proopiomelanocortin (POMC) di sel-sel kortikotrop hipofisis bagian depan. 6. Gangguan hubungan seksual Penetrasi tidak sempurna ke vagina, sangat jarang melakukan hubungan seksual, atau vaginismus. Kebiasaan mencuci organ intimnya dengan cairan-cairan antiseptic, yang akan menyebabkan perubahan pada lendir serviks yang menjadi tidak ramah bagi sperma.

2.2.5 Perhitungan Sperma (Sperm Count) Kesuburan pria ditentukan oleh kombinasi keempat kriteria di atas, yaitu jumlah sperma berbentuk sempurna dalam semennya yang dapat bergerak agresif. Misalnya, seorang pria yang memproduksi 20 juta sperma per ml, 50% -nya bermotilitas bagus dan 60% -nya berbentuk sempurna, maka dia dikatakan memiliki hitungan sperma 20 x 0,5 x 0,6 = 6 juta sperma bagus per ml. Bila volume ejakulasinya adalah 2 ml, maka total sperma bagus dalam sampelnya adalah 12 juta (Art, 2008).

2.3

Abnormalitas Sperma Fertilisasi merupakan pertemuan antar sel sperma sel ovum. Beberapa aspek dibutuhkan

dalam keberhasilan proses pembuahan ini. Diantaranya adalah kesempurnaan sel sperma serta kesuburan sel ovum. Apabila terjadi ketidak sempurnaan pada sel-sel reproduksi tersebut maka pembuahan menjadi tak sempurna. Beberapa abnormalitas pada sperma (Try4know, 2009) : 1. Aspermia 2. Azoospermia 3. Hypospermia 4. Oligozoospermia 5. Asthenozoospermia 6. Teratozoospermia : Tidak adanya semen saat ejakulasi : Tidak adanya sperma pada semen : Volume semen sedikit : Volume sperma sedikit : Motilitas sperma rendah : Morfologi sperma tidak normal

Ketidaksempurnaan pada sel sperma dapat disebabkan oleh kelenjar hormon kelainan pada daerah pre testicular (daerah sebelum testis atau kantung sperma). Pada daerah ini yang mengalami kelainan. Padahal, tugas kelenjar hormon tersebut merangsang pembentukan sperma.

Akibat kelenjar yang merangsang pembentukan hormon LH dan FSH di testis terganggu, pembentukan sperma menjadi terhambat. Gangguan hormon seperti ini dapat diatasi dengan terapi hormon, misalnya, dengan menyuntikkan hormon tertentu. Selain itu, kelainan juga dapat terjadi di daerah testicular (kelainan pada daerah testis). Penyebab kelainan misalnya akibat trauma pukulan, gangguan fisik, atau infeksi. Bisa juga selama pubertas testis tidak berkembang dengan baik, akibatnya produksi sperma menjadi terganggu. Dapat pula terjadi kelainan di daerah post testicular (daerah setelah testis). Kelainan terjadi pada saluran sperma, sehingga tidak dapat disalurkan secara lancar. Gangguan ini muncul akibat kebuntuan saluran. Penyebabnya dapat bawaan sejak lahir, terkena infeksi penyakit, seperti tuberkulosis (Tb), serta vasektomi yang memang disengaja. Selain ketiga golongan tersebut, banyak juga gangguan yang belum diketahui penyebabnya. Gangguan terbanyak yang dialami pria diakibatkan pelebaran pembuluh darah atau varises. Akibatnya, darah kotor yang seharusnya dibawa ke atas untuk dibersihkan turun lagi dan mengendap di testis. Darah kotor yang mengendap mengandung zatzat yang melemahkan, sperma seperti adrenalin dan sebagainya. Suhu panas juga dapat melemahkan sperma dan menurunkan produksinya. Sperma di produksi pada suhu 34-35 derajat Celsius, tetapi bila terus-menerus suhu naik 2-3 derajat Celsius saja, proses pembentukan sperma dapat terganggu. kini penyebab unxeplained infertility mulai terkuak seiring berkembangnya ilmu pengetahuan. Sebab-sebab unxeplained infertility yang telah diketahui antara lain adalah akibat adanya antibodi atau imunologi reproduksi. Hal ini dapat terjadi pada istri yang alergi terhadap sperma suami. Akibatnya, sperma ditolak sel telur (ovum), sehingga tidak pernah terjadi pembuahan. antibodi yang dihasilkan tubuh suami sendiri, sehingga sperma yang dihasilkan dihancurkan atau dilemahkan kemampuannya karena dianggap benda asing. Selain imunologis, penyebab unexplained infertility juga bisa dari genetik. Gangguan gen pada kromosom Y, lanjut Indra, dapat mengakibatkan pembentukan sperma terganggu. Kromosom Y mengalami delesi (lengan panjang), sehingga sperma menjadi sedikit atau oligospermi, yaitu jumlahnya kurang dari 20 juta sperma/ml atau bahkan tidak ada sama sekali alias azoospermi. Selain itu, adanya gangguan gen porin, yaitu gen yang mengatur penyaluran energi berupa ATP (adenosin tri phosphate), mengakibatkan sperma tidak dapat bergerak dengan gesit dan mengalami kesulitan saat membuahi sel. Kelainan pada gen juga dapat menyebabkan penyumbatan saluran sperma dan mengakibatkan terjadinya kista (Malpani, 2009).

2.4.

Kelainan Morfologi Sperma Teknik yang disukai oleh banyak orang untuk mengevaluasi morfologi sperma adalah

dengan menggunakan tidak noda sama sekali, tapi untuk memvisualisasikan sperma di bawah mikroskop kontras gangguan diferensial. The sperm are first fixed with glutaraldehyde, and can be stored for prolonged periods in that solution. sperma ini adalah pertama tetap dengan glutaraldehid, dan dapat disimpan untuk waktu lama dalam larutan itu. This procedure is particularly useful for assessing acrosomal integrity. Prosedur ini terutama berguna untuk menilai integritas akrosom (Rouge, 2004). Berikut merupakan gambar-gambar mengenai kelainan morfologi pada sperma (Rouge, 2004) .

Gambar 4. Double menuju sperma (banteng; eosin-nigrosin noda)

Gambar 5. Cengkong kepala bersama dengan 4 sperma biasa (banteng; toluidin noda biru)

Gambar 6. Elongaged kepala (banteng; eosin-nigrosin noda)

Gambar 7. Memanjang kepala (banteng; toluidin noda biru)

Gambar 8. Pyriform (buah pir) kepala dan membungkuk, bagian tengah abnormal (banteng; eosin-nigrosin noda)

Gambar 9. Cengkong kepala dan tetesan proksimal (banteng; toluidin noda biru)

Gambar 10. Proksimal tetesan (banteng; toluidin noda biru)

Ganbar 11. Distal tetesan (banteng; toluidin noda biru)

Gambar 12. Terpisah kepala (banteng; eosin, nigrosin noda)

Gambar 13. Bent ekor atau bagian tengah (banteng; eosin-nigrosin noda)

Gambar 14. Ekor melingkar (banteng; eosin-nigrosin noda)

Gambar 15. Melingkar bagian tengah / ekor dalam satu sperma dan tetesan proksimal di lain banteng (eosin-nigrosin noda)

2.5

Menjaga Kualitas Sperma Memperhatikan kesehatan sperma sangat penting bagi pasangan yang tengah berencana

memiliki buah hati. Sama halnya sel telur, kondisi sperma menentukan tingkat kesuburan. Berikut jenis makanan yang bermanfaat untuk meningkatkan produksi sperma (Panglima, 2010): 1. Air Putih Tak ada fungsi organ yang berjalan normal saat tubuh kekurangan air. Dalam kondisi dehidrasi akibat kekurangan cairan, produksi hormon penghasil sperma akan terhambat. Takaran ideal, konsumsi air sedikitnya delapan gelas per hari. 2. Daging Kandungan asam amino (L-arginine dan L-carnitine) dalam sejumlah produk daging bermanfaat untuk meningkatkan hormon testosteron dan meningkatkan produksi sperma. Produk yang baik dikonsumsi adalah ikan tuna, daging unggas, dan daging merah. Tak hanya makanan mengandung asam amino, tubuh juga membutuhkan asupan makanan mengandung zinc untuk memproduksi sperma. Discovery Health menyarankan sejumlah makanan kaya zinc seperti daging kalkun, kerang, daging kambing, dan daging merah tanpa lemak untuk meningkatkan kuantitas sperma. 3. Biji Kacang Selain kaya kandungan zinc dan asam amino, mayoritas produk kacang-kacangan juga memiliki kadar selenium yang cukup tinggi. Porsi yang disarankan adalah seperempat cangkir kacang sehari. 4. Padi-padian

Granola dan oatmeal juga kaya asam amino (L-arginine dan L-carnitine) yang bermanfaat untuk meningkatkan hormon testosteron dan meningkatkan produksi sperma. Sejumlah produk padi-padian seperti gandum juga kaya zinc. 5. Buah dan Sayur Meningkatkan kuantitas sperma juga bisa dilakukan dengan menambah porsi sayur hijau seperti bayam, brokoli, asparagus, dan ganggang laut. Bayam mengandung asam amino, sedangkan lainnya mengandung asam folat yang juga mempengaruhi produksi sperma. Sementara buah-buahan seperti tomat, semangka, jambu, dan anggur merah, memiliki kadar lycopine yang cukup tinggi. Tak hanya bermanfaat memaksimalkan produksi sperma, lycopine juga baik untuk melawan kanker prostat.

Selain asupan nutrisi, kesehatan sperma juga dipengaruhi gaya hidup. Demi kuantitas dan kualitas sperma yang prima, hindari stres, konsumsi rokok dan alkohol. Kebiasan buruk semacam itu bisa merusak kualitas sperma. Pemakaian celana dalam yang terlalu ketat juga memperburuk kualitas sperma. (Panglima, 2010).

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Semen merupakan cairan yang akan keluardari alat kelamin laki-laki melalui proses ejakulasi. Pada semen terdapat sel yang disebut spermatozoa. Spermatozoid atau sel sperma atau spermatozoa adalah sel dari sistem reproduksi laki-laki. Sel sperma akan membuahi ovum untuk membentuk zigot. Untuk mengetahui kualitas sperma pada seorang laki-laki dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu, hemacytometer, spectophotometer dan sperm vision.

3.2

Saran Sebaiknya dalam Analisis sperma diharapkan sampel semen yang akan diamati

seharusnya di tempatkan pada kondisi yang sesuai. Agar kematian pada sperma dapat dihindari. Dan sperma dengan kualitas baik dapat di pilih, sehingga hasil dapat sesuai yang diharapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Art. 2008. Analisis sperma. http://kuliahbidan.files.wordpress.com/2008/07/art_sperma.pdf. Tanggal akses 27 April 2010 Conectique. 2008. Infertilitas. Conectique.com. Semen and Sperm. http://www.

netdoctor.co.uk/menshealth/facts/ semenandsperm.htm. Tanggal akses 27 April 2010. Dean, John. 2005. Semen and Sperm. tanggal akses 3 Mei 2010 Malpani. 2009. Semen Analysis. http://www.drmalpani.com/semen-analysis.htm. Tanggal akses 3 Mei 2010 Minitube. 2004. Perform Sperm Analysis. http://www.minitube.com/Files%5CArticle-

Repro%20Perform-semen%20analysis.pdf. Tanggal akses 3 Mei 2010 Panglima. 2010. Cara Agar Sperma Sehat. http://www.ruangkeluarga.com/gaya-hidup/pria/caraagar-sperma-sehat-20100408-850.html. Tanggal akses 3 Mei 2010 Rouge, Melissa. 2004. http://www.vivo.colostate.edu/hbooks/pathphys/reprod/semeneval/

morph.html. Tanggal akses 6 mei 2010 Try4know. 2009. Spermatozoa. http://www.try4know.archive.com. Tanggal akses 27 April 2010