Anda di halaman 1dari 21

PENDAHULUAN

I. Sinopsis Ron Clark Story Ron Clark adalah seorang guru yang mengajar murid di sekolah dasar di kampung halamannya di,North Carolina. Ia merupakan guru yang sangat disegani dan dihormati oleh murid-murid dan karyawan sekolah tersebut. Setelah empat tahun ia mengajar, karyawan beserta murid memberikan apresiasi kepada Clark dengan membuat suatu cetakan nama pada semen ditempat parkir khusus guru. Namun, apresiasi tersebut diartikan Clark sebagai

penghinaan dan merasa bahwa ia tidak dihargai karena ia menganggap cetakan tersebut sebagai batu nisan di pemakamannya. Clark memutuskan untuk pindah ke New York yang menurutnya merupakan kota besar dimana memiliki banyak lapangan pekerjaan untuk dirinya sebagai guru. Sesampainya di New York, ia sempat merasakan ketidaksesuaian antara harapannya dengan kenyataan, dimana ternyata sangat sulit mencari pekerjaan di New York. Ia juga hanya dapat menempati sebuah apartemen sederhana yang cukup sempit. Namun ia tidak serta merta menyerah. Setelah sekian lama mencari pekerjaan, ia akhirnya mendapatkan pekerjaan pertamanya di suatu restoran sebagai pelayan. Di restoran ini, ia berkenalan dengan pelayan-pelayan lainnya, antara lain seorang wanita bernama Marissa Vega yang menjadi teman baik Clark. Sambil bekerja sebagai pelayan, Clark tetap meneruskan upayanya mencari pekerjaan sebagai guru di sekolah-sekolah dasar di New York. Di suatu hari saat Clark tengah berkeliling mencari pekerjaan sebagai guru, ia menyaksikan perkelahian antara seorang guru dengan muridnya di halaman suatu sekolah dasar. Kemudian kepala sekolah tersebut datang untuk melerai pertengkaran mereka. Kepala sekolah lalu memberikan ultimatum kepada guru untuk meminta maaf atau dipecat, dimana guru tersebut lebih memilih untuk meninggalkan pekerjaannya dengan alasan bahwa ia sudah tidak sanggup menghadapi siswa-siswanya. Clark yang menyaksikan hal tersebut langsung menyambar kesempatan untuk mengisi posisi guru yang kosong, dimana ia langsung berkata pada kepala sekolah bahwa dirinya bersedia untuk langsung menggantikan guru yang baru saja mengundurkan diri itu. Ia lalu menyerahkan curriculum vitae-nya kepada kepala sekolah. Kepala sekolah kemudian menjelaskan padanya bahwa anak-anak yang akan diajarnya merupakan anak yang dikenal nakal dan sulit, dan juga nilai ujian mereka merupakan yang terendah se-kota New York. Mereka merupakan siswa kelas 6 sekolah dasar. Sebagian besar dari mereka berasal dari kaum minoritas dan memiliki banyak masalah dalam kehidupan
1

sehari-hari mereka. Clark yang mendengar hal tersebut tetap tidak merubah pendiriannya untuk mengajar disana, sebab ia pun juga butuh pekerjaan, dan berjanji bahwa ia akan membawa perubahan pada kelas tersebut. Clark pun akhirnya diterima untuk bekerja di sekolah itu, dan akan mulai bekerja pada hari Senin. Kepala sekolah mengultimatum Clark untuk dapat meningkatkan nilai ujian anak-anak tersebut dan mereka harus dapat lulus di ujian, karena hal tersebut sangat penting baginya sebagai kepala sekolah. Sambil menunggu tibanya hari Senin, Clark mendatangi setiap rumah calon siswanya untuk bertemu dengan orangtua mereka. Clark berencana untuk bicara dengan setiap orangtua siswa dengan tujuan untuk mengajak mereka bersama-sama membina dan mendidik anakanak mereka, agar anak-anak dapat menjadi siswa yang lebih baik dan berprestasi. Selama melakukan kunjungan tersebut, tidak semua orangtua menyambut baik kedatangan Clark. Ada yang bersikap dingin karena cukup sibuk dengan pekerjaannya, ada yang antipati pada maksud kedatangan Clark, dan lain sebagainya. Clark menyadari bahwa anak-anak yang akan dididiknya benar-benar berasal dari berbagai macam latar belakang dan tergolong berpendapatan rendah, dan kebanyakan orangtua mereka tidak mendukung anak mereka untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan sesuai kemampuan mereka. Di hari pertama ia mengajar di kelas tersebut, Clark sangat antusias dan ia dengan semangat menjelaskan peraturan-peraturan kelas yang telah dibuatnya kepada seluruh muridmuridnya. Peraturan tersebut antara lain: Kita adalah Keluarga, siswa harus memanggil Clark dengan sebutan Sir, siswa tidak boleh memotong barisan saat makan siang, dsb. Namun, siswa-siswi dalam kelas itu tidak mau mendengarkan dan menghormatinya sebagai guru mereka. Mereka sama sekali mengabaikan dan tidak menghiraukan perkataan dan perintah Clark, dimana mereka menganggap Clark hanya seorang asing yang mengganggu dan menganggap mereka sebagai anak kecil. Mereka mengotori dan mengacaukan kelas, bahkan mobil Clark yang tengah di parkir pun dicoret-coret oleh muridnya. Pada hari itu, Clark sangat kecewa dan masih belum tahu akan berbuat apa untuk mengubah sikap anakanak itu terhadapnya. Keesokan harinya, siswa-siswi Clark terkejut melihat kelas mereka menjadi sangat bersih dan rapi. Ternyata, Clark menyempatkan dirinya untuk membersihkan kelas tersebut sebelum dirinya pulang ke rumah. Murid-murid tidak menyukai perubahan suasana kelas yang dibuat Clark, mereka bahkan memakinya dengan perkataan tidak sopan. Kepala sekolah pun juga menentang keputusan yang Clark ambil untuk mengubah ruang kelas tempat muridmuridnya belajar, karena Clark tidak melaporkannya terlebih dahulu padanya. Di siang harinya saat bel tanda istirahat berbunyi, Clark kemudian mencoba menerapkan peraturan
2

kelasnya yakni agar siswa berbaris dengan rapi saat menuju ke ruang makan dan tidak memotong barisan. Saat salah seorang siswa bernama Shameika, memotong barisan, ia tidak memarahinya, tetapi ia berbicara padanya untuk mempertimbangkan konsekuensi yang didapatkan bila ia tersebut tidak mau mengaku, yaitu teman-temannya akan tertunda untuk mendapatkan makanan hingga sampai Shameika mengaku. Cara yang digunakan Clark ini secara tidak langsung mendorong anak-anak lain untuk membantu Clark agar Shameika mengakui perbuatannya dan pada akhirnya, cara tersebut berhasil. Clark juga tidak lupa untuk memberikan pujian setelah Shameika mau mengaku, dan segera mengizinkan semua anak untuk menuju ruang makan. Shameika merupakan siswa yang memimpin teman-temannya, dimana ia merasa sangat benci pada Clark karena dirinya dipaksa secara tidak langsung oleh Clark untuk mengakui bahwa ia memotong barisan. Ia lalu merencanakan untuk melawan Clark dan juga melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan Clark. Di hari pertama masa perlawanan, ia dan teman-temannya mengacak-acak kembali kelas mereka, dan itu berhasil membuat Clark marah walaupun ia tidak memarahi anak-anak dengan kasar. Clark hanya mengungkapkan kemarahannya dengan asertif dan juga terlihat menekankan setiap perkataannya itu pada Shameika dengan cara berdiri dekat dengannya, saat ia mengungkapkan kemarahannya itu. Kelas pun dirapikan kembali oleh Clark, dan kali ini kelas benar-benar dipenuhi oleh bermacam peraturan kelas. Ia juga membuat banyak ilustrasi yang mendukung peraturan tersebut, antara lain gambar pohon keluarga untuk menekankan peraturan bahwa mereka adalah keluarga. Terdapat juga foto-foto anak-anak di salah satu gambar dinding yang ditempel. Di hari kedua masa perlawanan, Shameika membantah semua yang dikatakan Clark saat ia mengajar dan juga mengabaikan apa yang Clark katakan. Kali ini Clark tidak mampu mengontrol emosinya dan menghentakkan meja tempat Shameika duduk sebanyak tiga kali, dimana hal tersebut membuat Shameika dan semua anak takut. Clark segera merasa bersalah, lalu pergi meninggalkan kelas dan ia bahkan berniat menyerah untuk mendidik anak-anak itu. Ia kecewa kepada dirinya sendiri karena telah lepas kendali di depan anak-anak itu, dan juga kecewa pada sikap siswanya yang tidak mau mendengarkannya sebagai guru. Padahal, Clark yakin sekali bahwa siswanya tersebut mampu jika mereka mau berusaha untuk belajar. Ketika Clark keluar, anak-anak langsung bersemangat karena merasa mereka telah berhasil mengalahkan Clark. Namun, hal ini tidak dirasakan oleh Shameika yang terlihat sedih dan kecewa.

Ternyata, Clark membatalkan untuk mengundurkan diri dari sekolah. Hal ini dipengaruhi pula oleh Marissa Vega, teman wanitanya, yang mendorongnya untuk mencoba mengajar lagi. Anak-anak sangat terkejut saat melihat Clark berada di kelas, dan menganggapnya gila. Kali ini, Clark menawarkan suatu permainan pada anak-anak itu, dimana mereka harus diam dan mendengarkan Clark selama Clark mengajarkan mereka tentang grammar, sambil ia meminum 1 botol susu coklat setiap 15 detik. Anak-anak tertarik dengan tawaran tersebut, dan Clark benar-benar meminum banyak sekali susu coklat selama ia mengajar. Anak-anak menganggap aksi Clark sangat lucu. Cara yang digunakan Clark ini berhasil dalam membuat anak-anak tertarik padanya dan mau mendengarkan penjelasannya tentang pelajaran grammar dan pelajaran selanjutnya. Semenjak itu, Clark mulai bisa bergabung dengan anak-anak didiknya dan mereka mulai bisa menerimanya. Clark juga belajar bermain lompat tali pada mereka selama jam istirahat kelas dengan barter berupa ilmu yang ia ajarkan selama di kelas. Namun perilaku Clark yang menyatu dengan siswanya tidak didukung dan dianggap tidak pantas oleh Kepala Sekolah, yang pada akhirnya, mereka terlibat dalam suatu adu mulut. Clark berargumentasi bahwa anak-anak didiknya cukup pintar dan bisa dididik, dan menuding bahwa Kepala Sekolahlah yang tidak memiliki ekspektasi yang tinggi pada siswa-siswanya sendiri. Akhir dari perdebatan tersebut ialah kepala sekolah kembali menantang Clark untuk membuktikan bahwa siswa-siswanya dapat lulus di ujian. Hubungan Clark dengan anak didiknya sudah membaik. Ia mengajarkan mereka untuk mau berusaha dan memotivasi mereka untuk belajar. Ia menekankan bahwa mereka itu mampu untuk berprestasi dan mereka tidak boleh menelan begitu saja anggapan orang-orang bahwa mereka itu seorang losers atau pecundang. Banyak sekali cara yang digunakan Clark dalam mengajar siswanya, seperti mengubah lirik lagu Hip-Hop dengan nama-nama presiden Amerika Serikat dan juga mempraktekan tarian lagu tersebut di kelas bersama anak-anak, agar mudah bagi mereka untuk mengingatnya. Ia juga selalu memberikan permen setiap anak-anak berhasil mendapatkan nilai yang bagus saat ujian, dan juga mengapresiasi setiap karya anak didiknya. Hal ini membuat siswa-siswa terbuka pada Clark dan tidak malu untuk menunjukkan apa pun hasil karya dan pendapatnya. Clark juga mempelajari bagaimana anak didiknya berkomunikasi, baik secara verbal dan nonverbal, dimana ia juga ikut menggunakan cara-cara berkomunikasi anak didiknya yang pantas tetapi juga melarang mereka untuk mengucapkan kata-kata yang tidak pantas di dalam kelas. Dalam mengajar, Clark selalu berkeliling kelas dan tidak hanya terpusat di depan kelas saja. Hal ini membuat semua anak muridnya bisa mendengar penjelasannya dengan jelas. Clark juga sangat mengenali kepribadian siswanya. Ia tahu ada siswanya yang suka mencuri yang bernama Tayshawn, dan
4

memintanya untuk mengeluarkan seluruh barang curiannya. Kemudian Clark menghukumnya dengan memberikan jam belajar tambahan tentang matematika sepulang sekolah di suatu caf dengan menggunakan permainan kartu yang disukainya. Selain itu, Clark juga tidak keberatan membantu anak-anak yang masih mengalami kesulitan dalam memahami materi pelajaran dengan cara memberikan bimbingan lanjutan secara langsung pada meraka. Pada anak-anak tertentu, misalnya Shameika, Clark datang ke rumahnya untuk membantunya agar dapat berkonsentrasi membuat tugas rumah dengan cara membantu menjaga adik-adiknya. Hal tersebut sempat membuat ibu Shameika tersinggung dan mengusirnya. Keesokan harinya, Ibu Shameika melaporkan bahwa Clark telah mencampuri urusan rumah tangganya, lalu dengan tegas Clark berhasil menjelaskan alasan ia melakukan hal tersebut. Clark dapat meyakinkan Ibu Shameika dan Kepala Sekolah bahwa Shameika merupakan anak yang sangat pintar dan berpotensi untuk menjalani tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Di akhir masa ujian sekolah, Clark menerapkan sistem countdown mejelang hari ujian akhir tiba, sebagai pengingat anak-anak agar mereka dapat dengan serius belajar dan mempersiapkan diri mereka menjelang hari ujian akhir tersebut. Hubungan Clark dengan anak didiknya yang harmonis juga tampak ketika Clark pingsan di kelas karena menderita pneumonia. Kesehatan Clark yang menurun, dan juga disarankan oleh dokternya untuk beristirahat, tidak ingin meninggalkan tanggung jawabnya untuk mengajarkan anak-anak tersebut. Pingsannya Clark didepan kelas dan dibawanya Clark ke rumah sakit, membuat anak-anak tersebut merasa kehilangan Clark. Clark harus istirahat di rumah selama dua minggu. Clark pun mencoba mengganti ketiadaan guru di kelas dengan membuat rekaman video online dimana di kelas anak-anak melihat dirinya dari televisi. Clark mengajar anak-anak melalui cara demikian selama ia sakit, namun ternyata hal tersebut tidak efektif karena diri Clark tetap tidak ada di dekat anak-anak tersebut. Ketika Clark sudah sembuh, anak-anak kembali mulai khawatir bahwa mereka tidak akan mampu menghadapi ujian, dan Clark kembali memotivasi mereka untuk percaya bahwa mereka bisa dan mereka telah berupaya sungguh-sungguh selama ini. Clark juga menyatakan bahwa dirinya sangat bangga pada mereka. Pada saat pelaksanaan ujian, Clark mendukung anak-anak didiknya untuk melakukan yang terbaik setelah sekian lama mereka belajar giat di kelas dan menunggui mereka hingga selesai ujian. Setelah ujian tersebut, ia memberikan hadiah kepada anak-anak untuk menonton suatu opera terkenal dengan pengawasan salah satu orangtua murid. Ada satu siswanya yang tidak datang dan hal ini membuat Clark heran dan bertanya-tanya mengapa anak itu tidak datang. Kemudian ia pun mencari anak tersebut ke rumahnya. Ia mendapati
5

anak itu tengah menangis dan terluka parah akibat perlakuan ayahnya yang menghajarnya. Clark langsung membawa anak itu ke rumah Kepala Sekolah agar anak itu tinggal disana dan mendapat perlindungan dari keluarga Kepala Sekolah. Di akhir cerita film, Clark membuat suatu acara di kelasnya, dimana ia mengundang seluruh orangtua siswa kelasnya untuk hadir pada acara tersebut. Acara itu diadakan untuk memberikan penghargaan berupa piala sebagai award pada murid-muridnya yang telah berusaha keras selama belajar di kelasnya, dimana hampir sebagian besar murid-murid mendapatkan piala. Di tengah acara pembagian piala, kepala sekolah datang dan mengumumkan bahwa siswa-siswa kelas Clark memiliki nilai ujian tertinggi di sekolah tersebut, bahkan Shameika mendapatkan nilai sempurna dalam ujian Matematika dan Bahasa. Baik Clark, murid-murid maupun orangtua murid sangat gembira mendengar kabar tersebut. Clark berhasil membuktikan bahwa murid-murid kelasnya mampu untuk bersaing dengan anak lainnya, setelah sekian lama mereka dianggap seorang losers atau pecundang. Mereka pun segera berhamburan berlari ke arah Clark dan memeluknya, yang kemudian diberikannya penghargaan kepada Clark sebagai guru terbaik bagi mereka. Sebagai hadiah dari anak-anak untuknya adalah sebuah lukisan dirinya yang tengah mengajar dan lengkap dengan peralatan mengajar yang dipakainya. Pada akhirnya murid-murid didikan Clark ini berhasil masuk ke sekolah-sekolah lanjutan yang terkenal dengan kualitasnya yang baik, dan Clark sendiri menjadi terkenal sebagai penulis buku terkait kisahnya diatas.

II. Landasan Teori Teori yang akan digunakan dalam menganalisis film The Triumph ialah teori mengenai manajemen kelas. 2.1. Latar Belakang Pentingnya Melakukan Manajemen Kelas yang Efektif Kelas dengan manajemen yang efektif memaksimalkan kesempatan belajar siswa (Evertson & Emmer, 2009). Pandangan lama dalam manajemen kelas menekankan pada pembuatan dan penerapan aturan untuk mengontrol tingkah laku siswa, sedangkan pandangan baru lebih fokus pada kebutuhan siswa untuk memelihara hubungan dan kesempatan untuk meregulasi diri sendiri (Bear, 2005a,b; Pianta,2006; Watson and Battistch,2006; Santrock,2008). Tren baru dalam managemen kelas lebih menempatkan pada pembimbingan siswa melalui disiplin diri dan kurang menekankan pada kontrol eksternal terhadap siswa (Bear, 2005,a,b;Santrock,2008). Disebutkan bahwa manajemen kelas yang tidak efetif, yakni menekan siswa untuk mematuhi peraturan kaku dan bersikap pasif dapat membuat siswa tidak terlibat dalam high order thinking, active
6

learning, dan konstruksi sosial pengetahuan (Jones & Jones, 2010 dalam Santrock, 2011).

2.2. Management Issues in Elementary School and Secondary School Classroom Pada semua level pendidikan, manager kelas yang baik dapat mendesain kelas untuk pembelajaran yang optimal, menciptakan lingkungan yang positif untuk belajar, membangun dan mempertahankan aturan, mengkondisikan siswa untuk bekerja sama, menyelesaikan masalah dengan efektif, dan menggunakan strategi komunikasi yang baik (Santrock, 2008). Ada sedikit perbedaan antara elementary school dan secondary school, dimana siswa elementary school menghabiskan banyak waktu dengan siswa yang sama di dalam kelas kecil dan berinteraksi dengan orang yang sama setiap hari dan hal ini dapat menyebabkan perasaan terbatasi dan bosan dan masalah lainnya (Santrock, 2011). Selanjutnya pada siswa secondary school, masalah yang terjadi lebih bersifat longstanding dan lebih sulit dimodifikasi, dimana masalah kedisiplinan merupakan masalah utama pada siswa di tahap pendidikan ini. Siswa secondary school juga lebih menuntut penjelasan yang logis dan terelaborasi terkait peraturan kelas dan sekolah yang ada (Santrock, 2011). The Crowded, Complex, and Potentialy Chaotic Classroom Enam karakteristik yang merefleksikan kompleksitas kelas dan memicu terjadinya masalah (Doyle, 1986, 2006 dalam Santrock, 2011) apabila kelas tidak dimanajemen dengan efektif ialah: 1. Classroom are multidimentional. Kelas di-setting untuk melakukan banyak aktivitas, dimana guru harus mampu untuk mengatur kegiatan tersebut sesuai jadwal tanpa mengabaikan kebutuhan-kebutuhan siswa seperti bersosialisasi dengan siswa lainnya. 2. Activities occur simultaneusly. Sekelompok siswa mungkin sedang menulis dimeja mereka, sedangkan siswa lainnya mendiskusikan cerita dengan guru dan siswa lainnya lagi mungkin sibuk berbicara mengenai aktivitas yang mereka lakukan setelah selesai sekolah. 3. Things happen quickly. Sesuatu sering terjadi secara cepat di dalam kelas (ada anak yang bertengkar, mengeluh sakit, dsb) dan berlangsung secara terus-menerus dimana guru harus mampu untuk merespons dengan cepat dan tepat pula.

4. Events are often unpredictable. Misalnya terjadi kebakaran, siswa yang sakit dan peralatan kelas yang rusak dan lain sebagainya. 5. There is little privacy. Kelas merupakan tempat publik dimana siswa mengobservasi guru dan dapat membuat atribusi atas apa yang terjadi di kelas kepada gurunya, baik berupa atribusi yang mencerminkan sikap guru yang baik maupun buruk. 6. Classroom have histories. Siswa memiliki memori tentang apa yang terjadi lebih awal dalam kelas atau pada kelas di tingkatan sebelumnya, dan dapat mempengaruhi bagaimana siswa mempersepsikan kelas di masa kini. Dalam menyikapi keenam masalah diatas, strategi yang baik untuk memanfaatkan dengan sebaik-baiknya hari-hari pertama sekolah dimulai (Santrock, 2011). Pada permulaan sekolah, guru harus: 1. Mengkomunikasikan peraturan dan prosedur kelas yang telah ditetapkan dan mendorong siswa untuk mengikuti aturan dan prosedur tersebur; 2. Mengupayakan seluruh siswa untuk dapat bergabung secara aktif dalam semua aktivitas belajar mengajar (Santrock, 2011). Getting of the right start, yaitu: a. membangun ekspektasi tingkah laku dan mengatasi keraguan siswa b. memastikan siswa dapat merasakan kesuksesan dan keberhasilan c. be available and visible d. be in charge aku bingung ini apa (nasha)

2.3 Emphasizing Instruction and Positive Classroom Climate Psikologi pendidikan saat ini berfokus pada pengembangan dan mempertahankan lingkungan kelas yang positif yang dapat mendukung pembelajaran siswa di kelas (Jones & Jones, 2010; Williams, 2009 dalam Santrock, 2011). Lingkungan yang positif direalisasikan dengan cara menggunakan strategi managemen kelas yang proaktif dan preventif daripada berkutat dengan taktik pendisiplinan siswa. Maksudnya, siswa-siswa di kelas termotivasi untuk secara aktif terlibat dalam aktivitas kelompok di dalam kelas. Kounnin (dalam Santrock, 2011) menemukan bahwa manager kelas yang baik dapat mengelola aktivitas kelompoknya untuk mencapai keadaan belajar seperti yang diungkapkan diatas. Berdasarkan sejarah, kelas yang diatur dengan baik dikonseptualkan sebagai Well-oiled machine atau mesin yang beroli, tetapi sekarang ungkapan yang lebih sesuai ialah Beehive of activities. A. Strategi Umum Manajemen Kelas
8

Salah satu strategi mengajar yang efektif dalam menjadikan siswa sebagai seorang pembelajar yang aktif dan mampu meregulasi diri ialah mengadopsi gaya mengajar authoritative (Santrock, 2011). Gaya mengajar ini mendorong siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri, dengan guru tetap melaksanakan fungsinya dalam memonitor siswa selama belajar. Guru dengan gaya mengajar ini menunjukkan sikap caring terhadap murid-muridnya dan kerap melakukan tanya jawab yang memicu siswanya untuk berpikir lebih lanjut. Guru juga menetapkan batasan-batasan tertentu pada siswa tanpa mengekakang siswa, dan juga dengan jelas mendeskripsikan (mengklarifikasi) peraturan kelas pada muridnya. Kombinasi dari pengontrolan perilaku dan caring yang ditunjukkan guru berhubungan dengan hasil pembelajaran yang positif, seperti keterlibatan siswa dalam pembelajaran yang tinggi (Santrock, 2011). Peraturan kelas sendiri merupakan hal yang penting agar proses belajar mengajar di kelas berjalan dengan lancar (Santrock, 2011). Peraturan tersebut harus dengan jelas dijelaskan kepada siswa agar mereka tahu bagaimana mereka diharapkan untuk bertingkah laku. Dalam pembuatan peraturan ini, guru dapat mengikutsertakan siswa untuk merumuskan bersama peraturan kelas, dengan harapan siswa dapat lebih betanggungjawab untuk menjalankan peraturan yang telah mereka tetapkan bersama. Namun pada elementary school, keterlibatan siswa dalam membuat peraturan bersama sangat jarang dilakukan, walaupun siswa dapat mendskusikan peraturan tersebut dengan guru. Dikatakan juga bahwa guru yang membuat peraturan yang logis, menjelaskan peraturan tersebut kepada siswa dengan rasional, dan mendorong siswa untuk menjalankannya dengan konsisten biasanya akan mendapati bahwa keseluruhan kelas akan mematuhi peraturan tersebut (Santrock, 2011). Bagaimanakah cara agar siswa mau mematuhi peraturan kelas yang ada? Ada tiga strategi yang dapat dilakukan (Santrock, 2011), yakni: 1. Membangun hubungan yang positif dengan siswa, dengan cara menunjukkan bahwa guru benar-benar care pada siswa terlepas dari outcome akademis yang mereka hasilkan; 2. Get student share and assume responsibilities, yakni seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa siswa yang terlibat dalam pembuatan peraturan kelas akan meningkatkan komitmen mereka untuk mematuhi peraturan tersebut; 3. Memberikan reward atas perilaku yang sesuai, yakni apabila siswa telah menunjukkan perilaku yang sesuai dengan peraturan yang ada, maka guru perlu memberikan penguatan berupa reward agar siswa terdorong untuk terus menujukkan perilaku tersebut (Santrock, 2011).

2.4 Management Goals and Strategies


9

Manajemen kelas yang efektif memiliki dua tujuan, yakni: 1. Membantu siswa menghabiskan waktu lebih banyak dalam belajar dan mengurangi waktu pada aktivitas yang tidak mengarah pada tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. 2. Mencegah siswa untuk terlibat dalam masalah akademis dan emosinal yang berlut-larut.

aku gak tau ini perlu apa enggak (nasha)

2.5 Designing The Physical Environtment of the Classroom Prinsip dasar dari desain kelas yang efektif antara lain: 1. Mengurangi kekacauan dan keramaian pada area-area tertentu di dalam kelas yang sering dilalui/diakses oleh siswa, seperti area tempat duduk siswa, area komputer kelas, dsb, dengan cara memisahkan area tersebut tetapi tetap mudah diakses. 2. Memastikan bahwa guru dapat melihat dan memonitor seluruh siswanya dengan mudah. 3. Memastikan bahwa materi pengajaran guru dan kebutuhan siswa lainnya mudah didapatkan (accessible). 4. Memastikan bahwa semua siswa dapat melihat keseluruhan area presentasi kelas dengan mudah tanpa harus menggeser kursi dan sebagainya.

Arrangement Style Tipe managemen ruang kelas diantaranya termasuk tipe auditorium, face-to-face, offset, seminar dan cluster. Sangatlah penting untuk melakukan modifikasi ruang kelas dan mendesain kelas untuk kepentingan efektifitas belajar mengajar sesuai dengan kegiatan instruksional yang telah ditetapkan (Santrock, 2011)

2.6 Being a Good Communicator Ada tiga aspek dalam komukasi, yakni keterampilan berbicara, keterampilan mendengarkan, dan komunikasi nonverbal (Santrock, 2011). Dalam keterampilan berbicara, hal yang sangat penting ialah kejelasan atas apa yang dibicarakan, dimana dipengaruhi oleh pemilihan kata-kata yang digunakan, kecepatan berbicara, makna kata yang diucapkan (presisi penggunaan kata), dan ada tidaknya planning atau landasan logis dalam berbicara. Untuk berbicara dengan baik di kelas, rintangan yang kerap terjadi ialah bagaimana guru mengkritik siswa, penggunaan label untuk memanggil siswa, bagaimana guru menasehati siswa, pemberian perintah, penggunaan ancaman, dan moralizing (Santrock, 2011). Dalam keterampilan mendengar, penting untuk mendengarkan siswa
10

secara aktif, yakni memberikan perhatian penuh pada apa yang disampaikan pembicara baik pada isi pesan maupun emosi yang ditampilkan (Santrock, 2011). Dalam komunikasi nonverbal, dikatakan bahwa individu dapat menginterpretasi bagaimana keadaan orang lain melalui ekspresi wajah, jarak pribadi, dan silence (kediaman).

2.7 Dealing with Problem Behaviour Ada beberapa teknik yang dapat digunakan guru dalam menanggulangi perilaku siswa yang bermasalah, antara lain intervensi minor, intervensi sedang (moderate intervention), dan dapat juga dengan memanfaatkan orang-orang terdekat untuk mendorong siswa berperilaku dengan pantas (Santrock, 2011). Pada analisis film The Triumph ini, kami akan menggunakan teori mengenai intervensi minor dan orang terdekat sebagai pihak yang membantu guru dalam menanggulangi perilaku siswa yang bermasalah. A. Minor Intervention Masalah yang termasuk dalam penyelesaian secara minor intervention biasanya adalah kegiatan yang tidak mengganggu aktivitas kelas dan belajar, misalnya siswa yang meninggalkan kursinya tanpa izin, berbicara dengan siswa lain ketika hal itu tidak diizinkan guru mereka, atau memakan permen di dalam kelas. Untuk menanggulangi masalah tersebut dapat dilakukan diantaranya: 1. Using nonverbal cues; misalnya guru membuat kontak mata dengan siswa atau isyarat-isyarat tertentu untuk memperingatkan siswa agar berhenti berperilaku yang tidak sesuai. 2. Move closer to the student. Guru mendekati siswa yang sedang melakukan hal-hal yang dianggap tidak baik/melanggar peraturan, dimana hal ini kerap membuat siswa berhenti melakukan perbuatan tersebut. 3. Give the student a choice. Guru memberikan tanggung jawab pada siswa untuk memilih sendiri apakah siswa mau berperilaku dengan sesuai dan mematuhi peraturan atau menerima konsekuensi dari perilaku yang melanggar aturan tersebut. 4. Directly and assertively tell the student to stop. Guru secara langsung dan assertif mengatakan pada siswa untuk menghentikan perilakunya yang melanggar peraturan. 5. Provide needed instruction; siswa sering kali terlibat dalam perilaku yang melanggar peraturan dan tidak sesuai akibat mereka tidak mengerti bagaimana cara mengerjakan tugas yang diberikan pada mereka. Guru dapat mencegah dan menanggulangi hal ini dengan memberikan instruksi yang lebih jelas pada siswa mengenai tugas yang

11

diberikan dan secara aktif memonitor dan membantu siswa yang kesulitan dalam membuat tugas.

B. Using Others as Resources 1. Peer mediation; yakni guru memanfaatkan keberadaan peer di dalam kelompokkelompok siswanya untuk membantu dirinya mendidik dan mendorong siswa agar berperilaku dengan sesuai (appropriate). 2. Parent-teacher conferences; yakni guru melibatkan orangtua siswa dalam mendidik anak meraka (siswa) agar siswa dapat berperilaku dengan lebih baik, dimana keterlibatan ini dilakukan dengan cara memberikan laporan pada orangtua siswa tanpa menyalahkan orangtua atas kenakalan anak mereka. 3. Enlist the help of the principal and counselor; yakni guru meminta bantuan pada pihak sekolah untuk membantu menertibkan perilaku siswa yang ,menyimpang.

2.8 Dealing with Aggression 1. Fighting; seringkali siswa berkelahi satu sama lain di sekolah. Dalam kondisi tersebut, guru harus melerai siswa yang berkelahi dan memnberikan perintah yang jelas pada mereka untuk berhenti berkelahi. Disarankan pula untuk melibatkan orangtua dari siswa yang berkelahi dalam menyelesaikan permasalahan yang memicu perkelahian pada siswa (Santrock, 2011). 2. Defiance or hostility toward the teracher; beberapa siswa kerap berperilaku kasar kepada guru mereka. Santrock (2011) mengatakan bahwa penting bagi guru untuk tetap tenang dan tidak emosional saat siswa berperilaku demikian, dimana hal tersebut akan membuat siswa menjadi tenang dan guru selanjutnya dapat menyelesaikan perilaku menyimpang siswa tersebut secara antarpribadi dengan siswanya.

III. Analisis film 1. Mengenali Ciri Kelas1 Kelas yang diajar oleh Mr. Clark sudah terkenal dengan kebandelan siswa-siswanya (cap). Mr. Clark sudah diperingatkan akan hal ini oleh kepala sekolah, oleh karena itu Mr. Clark menyusun strategi-strategi pembelajaran yang efektif Strategi management kelas kemukakan harapan dan perilaku yang akan dikembangkan pada siswa agar mereka mengerti apa yang akan mereka peroleh
12

pastikan bahwa pada kuliah atau pelajaran 1 & 2 siswa diberi kegiatan memancing keberhasilan jelas keberadaan guru dan perannya mengajak siswa untuk bisa kooperatif dalam belajar guru menunjukkan tanggungjawab untuk memajukkan kelas dengan menunjukkan Do and Dont dan secara keseluruhan menerangkan dan menerapkannya Mr. Clark menekankan pada poin 3, 4, dan 5. Pada awal perteman Mr. Clark berusaha untuk menunjukkan keberadaannya sebagai seorang guru. Meskipun siswa tetap membandel dengan tidak mendengarkan, Mr. Clark agak membanting pintu untuk menunjukkan bahwa guru tidak bisa dipermainkan. Mr. Clark juga menyampaikan aturan-aturan dengan tulisan yang cukup besar, yaitu: Mereka adalah keluarga dan harus saling menghargai satu sama lain. Peraturan di buat dalam bentuk tulisan untuk membantu siswa mencerna aturan dengan jelas. Disamping aturan, Mr. Clark juga menyampaikan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh siswa selama proses belajar-mengajar, salah satunya adalah membuang permen karet.

Menciptakan iklim kelas yang efektif Gaya pengajaran Pada dasarnya gaya pengajaran dari Mr. Clark adalah authoritative (demokratis), akan tetapi hal tersebut tidak bisa dilakukan pada kelas yang sudah kelewat nakal. Oleh karena itu, gaya pengajaran yang diterakan oleh Mr. Clark bersifat authoritarian (otoriter) agar pembentukan sikap siswa sejak awal pembelajarn menjadi lebih terkontrol, setelah itu barulah diterpkan gaya pengajaran yang authoritatif.

Menetukan batasan -Dalam menerapkan management kelas, Mr. Clark juga menentukan batasan-batasan agar siswa lebih dapat terkontrol. Sejak awal pertemuan, Mr. Clark sudah menetapkan sistem aturan di dalam kelas. Peraturan tersebut benar-benar diterapkan, terlihat dari pohon keluarga yang dipanjang didinding kelas. Peraturan lain (peraturan 3) seperti jika keluar kelas harus berbaris juga diterpkan. Pada saat ada anak yang melangggar peraturan tersebut dengan tidak berbaris sesuai dengan urutannya, Mr. Clark menyuruh semua siswa berhenti dan kembali berjalan menuju kantin setelah siswa berbaris sesuai urutan.

Management Issues pada Elementary school

13

Dalam kelas yang dikelola oleh Mr. Clark, terdapat enam karakteristik kelas yang merefeksikan kompleksitas kelas adalah sebagai berikut: 1. Kelas adalah multidimensional, dimana Mr. Clark dapat mengatur kegiatan-kegiatan siswa-siswanya dengan melibatkan mereka dalam pengerjaan tugas-tugas sederhana dan mendiskusikannya bersama-sama. Mr. Clark menggunakan metode diskusi saat ia membacakan pertanyaan dan kemudian meminta beberapa pendapat dari siswanya. 2. Kegiatan-kegiatan yang terjadi dalam kelas, dapat terjadi secara spontan dan beriringan, seperti pada saat Mr. Clark mengajarkan grammar kepada siswanya sambil meminum susu setiap 15 detik agar dapat menarik perhatian siswanya. Sebelum Mr. Clark menggunakan metode tersebut, anak-anak muridnya banyak yang tidak mau mendengarkan penjelasan pelajaran yang diberikannya. Mereka lebih memilih untuk bercerita dan bermalas-malasan. Hal ini membuktikan bahwa kegiatan yang terjadi di dalam kelas dapat terjadi secara bersamaan. 3. Kegiatan atau kejadian yang berlangsung didalam kelas terjadi secara cepat dan berlangsung secara terus menerus, seperti pada saat pertama kali Mr. Clark mengajar dalam kelas tersebut. Banyak dari anak-anak yang tidak mau mendengarkannya dengan melakukan kegiatan lain seperti bercerita kepada teman lainnya, bermain kartu dan lain sebagainya. Hal ini segera ditanggapi langsung oleh Mr. Clark dengan menegur mereka serta bertindak tegas dengan menjelaskan peraturan-peraturan yang telah dibuatnya. Meskipun mereka masih melanggarnya, tetapi hal itu masih dapat dimaklumi olehnya karena mereka belum terbiasa terhadap peraturan dan ia melakukan pendekatan lainnya. 4. Kejadian yang terjadi dalam kelas bisa saja tidak dapat diprediksi, seperti pada saat Mr. Clark mengubah keadaan kelas yang berantakan dan penuh coretan menjadi lebih bersih dan berwarna agar dapat menarik minat anak-anak untuk giat belajar, tetapi hal ini ternyata tidak diketahui oleh Kepala Sekolah yang kemudian marah kepada Clark. Kemudian pada saat Clark yang tiba-tiba pingsan di depan kelas, karena ia sedang sakit. Hal ini tidak diduga oleh anak-anak muridnya, yang mengira ia hanya bercanda saja. 5. Dalam kelas, sedikit dan bahkan hampir tidak ada privasi bagi masing-masing murid dan bahkan guru sekalipun, karena mereka dapat saling berbagi pengalaman serta guru dapat secara langsung mengobservasi perilaku murid-muridnya di dalam kelas. Hal ini dibuktikan saat Mr. Clark mengetahui bahwa Tayshawn menyembunyikan barang-barang curiannya dibalik jaketnya dan segera memerintahkan untuk
14

mengeluarkan barang-barang tersebut. Mr. Clark sebagai guru, telah mengetahui perilaku dan sifat dari masing-masing muridnya dari interaksi mereka di dalam kelas. 6. Sejarah dari kelas juga bagian yang penting, karena dalam pengelolaan suatu kelas dapat dilihat berdasarkan golongannya dalam masyarakat di lingkungan sekolah tersebut. Sebagai contoh, pada film ini kelas yang dikelola oleh Mr. Clark itu telah di atribusikan sebagai kelas yang paling malas dan terbelakang karena anak-anaknya yang sangat susah diatur. Hal ini juga dapat menyebabkan anak-anak yang berada di kelas tersebut merasa dirinya terbawa oleh julukan tersebut dan mereka tidak mau berusaha menunjukan kemampuan diri mereka yang sebenarnya.

Dalam bukunya, Santrock (2011) menjelaskan strategi apa saja yang diperlukan dalam pengelolaan kelas yang memiliki karakteristik seperti diatas dan strategi ini telah digunakan Mr. Clark dalam mengelola kelasnya, yaitu sebagai berikut: a. Mengkomunikasikan peraturan dan prosedur kelas yang telah ditetapkan dan mendorong siswa untuk mengikuti aturan dan prosedur tersebut. Seperti sebelumnya yang telah dijelaskan, Mr. Clark telah mengkomunikasikan peraturan dan prosedur kelasnya dengan menuliskan dan menggantung peraturan tersebut di sekeliling dinding kelas agar mereka dapat membacanya setiap hari dan dapat mengaplikasikannya dengan baik. Kemudian, Mr. Clark juga mendorong siswanya untuk dapat mengikuti aturan-aturan tersebut seperti misalnya menyediakan toples untuk membuang permen karet sebelum keluar dari kelas dan juga menghukum seluruh siswanya untuk tidak mendapatkan jatah makan siang karena ada salah satu siswa yaitu Shameika, yang menyelak barisan ketika keluar kelas menuju kantin. b. Mengupayakan seluruh siswa untuk dapat bergabung secara aktif dalam semua aktivitas belajar mengajar, yang juga telah diterapkan oleh Clark seperti pada saat ia mengajarkan pelajaran grammar, ia melibatkan Tayshawn untuk menghitung jeda waktu selama 15 detik dan ia akan meminum susu yang telah disediakannya. Cara ini berhasil menarik perhatian seluruh anak muridnya dan kemudian mereka dapat secara aktif berperan dalam mempelajari pelajaran grammar tersebut.

2.5 Designing The Physical Environtment of the Classroom Dalam pengaturan kelas, Mr. Clark merancang kelasnya secara fisik agar nyaman dan tampak menarik bagi siswa-siswanya. Mr. Clark mengecat ulang kelasnya dengan warna biru dan menempelkan semua peraturan-peraturan kelasnya dengan hurf besar dan berwarna15

warni agar siswa dapat melihat dan mengingatnya dengan mudah. Mr. Clark juga menempelkan gambar pohon besar dimana pohon tersebut merupakan analogi dari kekeluargaan mereka. Tempat duduk di atur secara rapi agar memudahkan Mr. Clark melewati bangkubangku siswanya saat menjelaskan pelajaran. Jarak antar bangku pun di atur agar tidak saling mengganggu dan mengurangi kesempatan antar-siswa untuk mengobrol. Bahan ajar yang diberikan Mr. Clark pun sangat mudah di dapat oleh beliau, seperti kotak susu yang bisa dengan mudah dia pesan pada pengantar susu di pagi hari, alat perekam pelajaran yang dipunyai oleh temannya, serta tape musik saat mengajarkan cara menghafal dengan dengan bernyanyi yang dimiliki sendiri oleh Mr. Clark.

Arrangement Style Tipe ruang kelas yang ditata di dalam kelas Mr. Clark adalah tipe seminar yakni berjejer rapi menghadap guru. Desain kelas seperti ini sudah ada di kelas sebelum Mr. Clark mengajar. Akan tetapi karena penataannya yang kurang rapi dan seenak siswa untuk menempatkan bangkunya, Mr. Clark pun membenahi ulang dengan menyusun rapi dan memberi jarak. Hal ini ditujukan agar seluruh siswa bisa melihat guru (Mr. Clark) saat guru menerangkan pelajaran. Penataan seperti ini juga bertujuan untuk mengurangi interaksi yang berlebih antar-siswa sehingga siswa bisa lebih fokus selama proses belajar-mengajar. Penataan management kelas yang dilakukan oleh Mr. Clark tidak bersifat rigid. Agar sasaran pembelajarn tercapai, Mr. Clark tidak menginginkan kelasnya menjadi bosan saat proses belajar-mengajar. Sehingga pada suatu pertemuan, Mr. Clark mengubah desain ruangan menjadi tipe melingkar untuk menyisakan ruanga yang cukup besar di tengahtengah. Hal ini bertujuan agar ruang tersebut bisa dijadikan tempat menari (dance) dengan diiringi musik sambil menghafal pelajaran yang akan di ujiankan nanti.

2.6 Being a Good Communicator Mr. Clark adalah seorang guru dengan komunikasi yang cukup baik dengan siswa, bahkan cukup intens. Terlihat saat pertama kali mengajar di kelas, Mr. Clark menyapa setiap siswa yang memasuki kelas. Keterampilan berbicara, keterampilan mendengar, dan kemampuan nonverbal dari Mr. Clark juga baik. Hal ini diindikasikan ketika Mr. Clark mengkomunikasikan peraturan-peraturan kelas, siswa dapat memahami meski agak terpaksa pada awalnya. Komunikasi nonverbal juga tampak ketika mengkomunikasi peraturanperaturan kelas tersbut dimana Mr. Clark agak membanting pintu menunjukkan bahwa Mr.
16

Clark tidak bisa dipermainkan sebagai seorang guru. Aktif mendengar juga dilakukan oleh Mr. Clark sebagai seorang guru, dia terlihat mengajak siswanya berbicara secara personal dimana Mr. Clark menunjukkan sikap mendengar penuturan siswa dengan baik. Mr. Clark, seperti ketika saat usai pelaran kelas, Mr. Clark mengajak berbicara salah seorang siswi dan siswi tersebut mengungkapkan bahwa dirinya tidak mampu dalam menjawab soal-soal. Mr. Clark tetap mendengarkan dengan baik setelah itu mengkomunikasikan bahwa siswi tersebut tidaklah seburuk itu. Dengan kemampuan komunikasi yang baik, Mr. Clark memotivasi siswi tersebut agar bisa menjawa soal saat ujian.

Dealing with Problem Behaviour A. Minor Intervention Siswa di dalam kelas Mr. Clark merupakan siswa yang hiperaktif dan suka membuat kegaduhan. Tindakan-tindakan siswa di dalam kelas Clark yang termasuk ke dalam masalah yang dapat diselesaikan dengan minor intervention yaitu: mereka lebih sering rebut di kelas dengan saling melempar kertas, berbicara dengan siswa lainnya ketika Clark sedang menjelaskan materi, memakan permen karet di dalam kelas, menghadap ke belakang ketika Clark memberikan materi, berdandan, memakai topi di dalam kelas, dsb. Dalam menghadapi masalah tersebut, Clark menggunakan minor intervention dengan menggunakan nonverbal cues yaitu membuat isyarat tertentu. Misalnya ketika ada siswanya yang rebut sendiri di dalam kelasnya dia memperingatkan mereka dengan cara memberikan sinyal untuk mengeluarkan permen karet yang sedang dimakan oleh siswanya. Kedua, Clark menggunakan cara move closer to the student. Ketika ada siswanya yang menghadap ke belakang dan memakai topi ketika dia menjelaskan materi, Clark mendekatinya dan memegang pundak dan mencopot topi siswa tersebut sehingga dia langsung menghadap pada papan tulis. Atau ketika Shameika asyik berbicara sendiri dengan teman di belakangnya, dia mendekati tempat duduk Shameika sambil menghentak-hentakkan mejanya. Namun tindakan kepada Shameika tersebut cukup disesali Clark karena dia sadar dia telah lepas kendali untuk menghentikan tindakan yang benar-benar menguji kesabaran dari para siswanya, terutama Shameika saat itu. Selain itu, Clark mendekati salah seorang siswanya yang kedapatan sedang mengunyah permen karet sambil membawa tempat untuk membuang permen karetnya. Dan setelah diberi peringatan tersebut, semua siswanya diam dan focus kembali pada pelajarannya.
17

Minor intervention dengan memberikan kepada siswa-siswanya diterapkan Clark untuk mengontrol ketertiban para siswanya ketika istirahat makan siang. Pilihan yang diberikannya yaitu menyuruh siswa untuk mau tertib mengantre ketika istirahat makan siang atau mau menerima konsekuensi tidak makan siang jika mereka tidak juga mau untuk antre. Ketika itu Clark mengunci pintu kelas ketika waktu istirahat untuk makan siang tiba karena siswanya tidak mau untuk tertib. Kemudian ketika Shameika menyerobot barisan antrean makan siang, Clark memberikan pilihan kepadanya untuk mengaku sehingga teman-temannya bisa makan siang atau tidak mengaku namun temantemannya dan dia sendiri tidak akan mendapatkan makan siang. Langkah keempat yang dilakukan Clark yaitu dengan secara langsung meminta siswanya berhenti melakukan pelanggaran terhadap peraturan yang telah dibuat dan disepakati oleh kelas. Misalnya ketika siswanya belum juga mau untuk memanggilanya Mr. Clark atau menjawab pertanyaannya dengan sopan dengan bahasa yang formal, Clark memperingatkan siswanya secara langsung dengan membenarkan ucapan siswanya tersebut dan menyebutkan kembali peraturan kelas yang telah dibuat dan disepakati mereka. Ketika siswa-siswanya gaduh dan memilih untuk tidak mengerjakan tugas yang diberikannya, Clark menggunakan strategi provide needed instruction. Dia mengarahkan dan membimbing siswa-siswanya untuk mengerjakan tugas tersebut. Clark juga memotivasi siswanya bahwa mereka bukanlah orang yang payah dan mereka memiliki kemampuan untuk mengerjakan dan menguasai materi pelajaran. Dengan cara tersebut kelas menjadi terkendali. B. Using Other Resources Clark menggunakan peer mediation untuk menangani siswa-siswa yang sulit dikendalikannya di dalam kelas. Misalnya ketika Shameika menyerobot barisan saat mereka akan mengantre makan siang di kantin, Clark memberikan pilihan kepada Shameika untuk mengakui perbuatannya itu atau terus mengelak dengan konsekuensi jika dia tidak juga mau mengaku maka dia dan seluruh teman sekelasnya tidak akan dapat makan siang tapi jika dia mau jujur mengakuinya maka mereka semua akan mendapatkan jatah makan siang. Nah di situlah peer mediation diantara para siswanya terbentuk, sebab teman-teman Shameika lebih mendukung agar Shameika mengakui perbuatannya tersebut karena mereka ingin mendapatkan makan siang. Lalu karena permintaan dan nasihat teman-temannya, dia pun mengakui perbuatannya tersebut.

18

Cara lain yang digunakan Clark dalam mengatasi permasalahan yang dialami siswanya di dalam kelas yaitu dengan parent-teacher conferences. Clark memanggil orang tua dari Tayshawn dan ? berkelahi. Dan ketika itu, Kepala Sekolah turut serta menemui orang tua dari kedua siswa Clark tersebut dan mengatakan bahwa tindakan anak mereka sudah sangat parah sehingga Kepala Sekolah berencana akan men-skors atau bahkan mengeluarkan anak-anak mereka tersebut. Namun disini Clark memberikan pendapat bahwa penyelesaian masalahnya seharusnya tidak dengan cara tersebut. Sebab sebagai guru, Kepala Sekolah, dan orang tua memiliki peran bagi anak atau siswa untuk memastikan mereka tetap bersekolah dan mendapatkan pendidikan. Sehingga akhirnya didapat kesepakatan diantara para orang tua tersebut, Kepala Sekolah, dan Clark untuk tetap membiarkan Tayshawn dan ? bersekolah. 2. Dealing with Agression A. Fighting Ketika mendapati Tayshawn dan ? berkelahi di dalam kelas, Clark langsung berusaha melerai mereka dan memberikan perintah kepada mereka untuk menghentikan perkelahian tersebut. Setelah itu, keesokan harinya Clark memanggil masing-masing orang tua dari siswanya yang bercerai untuk dating ke sekolah untuk turut serta mencari penyelesaian masalah dari hal perkelahian tersebut. Selain itu, Clark juga ingin mendamaikan kedua siswa yang sering berkelahi tersebut dengan cara mengatur jadwal pertemuan di suatu caf untuk mengajari mereka mengenai pelajaran matematika. Dengan pertemuan tersebut Clark berharap dapat mendekatkan kedua siswanya yang sering terlibat perkelahian di dalam kelas. B. Defiance or Hostility Toward the Teacher Clark pernah mengalami tindakan kasar dari siswanya, misalnya kericuhan yang tidak dapat dikendalikannya di dalam kelas, siswa-siswanya yang

mengacuhkannya saat berbicara di depan kelas, mobilnya yang dicorat-coret, dan ruang kelas yang dibuat sangat berantakan dengan merusak semua property di dalam kelas. Meskipun tindakan tersebut tidak secara langsung berupa kekerasan fisik terhadap Clark, namun tindakan siswa-siswanya tersebut termasuk ke dalam kekerasan mental. Dalam menghadapi perilaku siswanya yang liar tersebut Clark tetap sabar dan terus berusaha membuat mereka patuh dan mau menghormati serta menganggapnya sebagai seorang guru. Meskipun pada suatu kali dia benar-benar tidak dapat mengendalikan tindakannya lagi ketika siswa-siswanya mengacuhkannya
19

di dalam kelas dan tidak menghargainya, terutama Shameika, yang justru asyik mengobrol dan membuang buku pelajarnnya ketika Clark menyuruhnya untuk tertib. Karena tidak tahan, Clark langsung mengangkat meja Shameika sambil menghentakhentakkannya lalu pergi meninggalkan kelas dengan perasaan dan raut wajah kesal. Meski demikian pada akhirnya Clark mampu mengubah perilaku kekerasan dari siswa-siswanya dan dapat mengendalikan siswanya, membuat mereka patuh dan memiliki respect kepadanya.

20

21