Anda di halaman 1dari 38

Analisa Kredit Bank Umum

ANALISA KREDIT BANK UMUM Hal-Hal Yang Perlu Diketahui Oleh Kalangan Pelaku Usaha UMKM (Mikro, Kecil & Menegah) Sebelum Mengajukan Permohonan Kredit/Pembiayaan Kepada Bank Umum Bagi Bapak/Ibu/Sdr para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang akan mengajukan pinjaman kredit/pembiayaan kepada bank, baik itu untuk memenuhi kebutuhan modal kerja maupun modal investasi, sangat perlu mengetahui apa dan bagaimana cara kerja bank melakukan analisa kredit terhadap proposal yang diajukan. Perlu disadari bahwa bagi bank umum konvensional maupun bank umum syariah, kredit/pembiayaan merupakan sumber utama penghasilan mereka, sekaligus sumber risiko operasi bisnis terbesar. Apabila kegiatan analisa kredit dilakukan secara baik dan benar, maka dikemudian hari akan terhindar dari risiko kredit macet atau kredit bermasalah debitur. Dalam prakteknya, sebagian besar dana operasional bank diputarkan dalam bentuk kredit/pembiayaan. Hal ini tergambar dari tingkat/angka LDR (loan to deposit ratio) istilah untuk bank konven atau FDR (financing to deposit ratio) untuk istilah bank syariah. Tingkat LDR bank umum konvesional berkisar antara 40 % s/d 70% sedangkan FDR bank umum syariah rata-rata diatas 100%. LDR atau FDR menggambarkan jumlah kredit/pembiayaan yang disalurkan bank kembali ke masyarakat dibandingkan dengan tingkat simpanan yang diterima dari masyarakat. Semakin besar tingkat LDR atau FDR berarti semakin banyak dana yang disalurkan kembali ke masyarakat dari dana yang terkumpul di bank (tabungan, deposito, rekening koran/giro). Dan sebaliknya semakin kecil tingkat LDR atau FDR berarti semakin sedikit dana yang kembali ke masyarakat (sektor usaha) atau bank menyimpannya dalam bentuk lain (surat berharga, sertifikat, surat utang negara, dll). Pemerintah dalam hal ini Bank Indonesia sangat berkepentingan agar tingkat LDR atau FDR berada dalam kisaran wajar, supaya masyarakat dan sektor usaha (UMKM) memperoleh sumber permodalan dari bank. Sebagian besar sumber dana operasional bank berasal dari simpanan deposito dan tabungan nasabah. Oleh karena itu, keberhasilan atau kegagalan bank mengelola kredit (bank konvensional) atau pembiayaan (bank syariah) akan berpengaruh terhadap nasib uang milik banyak nasabah (deposito/tabungan). Sepintas menyalurkan kredit adalah suatu pekerjaan yang mudah bagi bank, hampir semua orang/ lembaga keuangan bank dan non bank bisa melakukannya. Tetapi harus dilakukan secara baik dan benar melalui analisa kredit, agar terhindar dari kredit/pembiayaan yang macet dan bermasalah. Apabila pengembalian tidak lancar alias kredit macet atau bermasalah maka sangat dibutuhkan keahlian, pengalaman, waktu dan biaya yang cukup besar untuk menyelesaikannya. Kredit/pembiayaan macet dalam jumlah besar dapat mengganggu sendi kehidupan ekonomi, serta menurunkan kepercayaan masyarakat dalam dan luar negeri terhadap profesionalisme pengelolaan bisnis perbankan nasional. Analisa kredit atau analisa pembiayaan yang dilakukan secara profesional dapat berperan sebagai saringan awal yang penting untuk menjaga bank agar tidak terjerumus kedalam kasus kredit bermasalah dan/atau kredit macet. Tulisan ini secara ringkas mencoba menggambarkan kegiatan analisa kredit yang dilakukan bank umum sebagai bahan informasi bagi Bapak/Ibu/Sdr pelaku UMKM, bahwa betapa pentingnya analisa kredit dilakukan oleh suatu bank. Dengan mengetahui informasi ini, diharapkan pelaku UMKM dapat mempersiapkan rencana usaha yang matang sebelum diajukan kepada bank umum konvensional maupun bank umum syariah. Dengan demikian, proposal yang yang diajukan pelaku UMKM akan sesuai dengan standar analisa kredit bank dan lebih penting lagi dana kredit yang diterima UMKM dapat dipergunakan secara optimal,

memberikan keuntungan serta mampu dikembalikan tepat waktu dan tepat jumlah. Untuk memenuhi keinginan sederhana diatas, saya akan mencoba bahas beberapa poin di bawah ini yang berhubungan dengan pengetahuan analisa kredit oleh bank umum, yaitu sebagai berikut : Peranan Bank Dalam Masyarakat Ruang Lingkup Analisa Kredit Analisa Pasar dan Pemasaran Hasil Produksi UMKM Analisa Kondisi Keuangan Calon Debitur (UMKM) Analisa Manajemen Pelaku UMKM Analisa Kredit Investasi Analisa Kredit Perorangan Jaminan Kredit Pedoman Dan Contoh Menyusun Laporan Analisa Kredit UMUM Contoh Laporan Analisa Kredit UMKM

ANALISIS SITUASI PERSAINGAN DAN STRATEGI PEMASARAN PADA PD. BPR BKK DI KABUPATEN BANYUMAS Januari 3, 2010 pondokskripsi 1 Votes Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah strategi pemasaran yang dilaksanakan BPR BKK di Kabupaten Banyumas sesuai dengan situasi persaingan yang dihadapi, untuk mengetahui apakah ada perbedaan persepsi manajemen dengan nasabah terhadap kinerja pelayanan kredit, untuk mengetahui apakah kinerja BPR BKK sudah sesuai dengan kepentingan/ harapan nasabah dan untuk mengetahui apakah ada perbedaan posisi keunggulan bersaing antara BPR BKK dengan pesaingnya. Hipotesis yang diuji dalam penelitian ini adalah : 1. Strategi pemasaran BPR BKK di Kabupaten Banyumas belum sesuai dengan situasi persaingan yang dihadapi. 2. Terjadi perbedaan antara persepsi manajemen dengan nasabah terhadap kinerja pelayanan kredit BPR BKK di Kabupaten Banyumas. 3. Kinerja BPR BKK di Kabupaten Banyumas belum sesuai dengan kepentingan/harapan nasabah. 4. Terdapat perbedaan posisi persaingan antara BPR BKK dengan pesaingnya. Lembaga keuangan perbankan memiliki fungsi yang penting dalam perekonomian suatu negara. Fungsi tersebut adalah fungsi intermediasi keuangan, artinya bank sebagai lembaga perantara dalam penghimpunan dana masyarakat dalam bentuk simpanan dan penyalurkan dana ke masyarakat dalam bentuk pinjaman/kredit.

Menurut Undang-Undang RI No. 7 tahun 1992 yang telah disempurnakan dengan UndangUndang RI. No. 10 tahun 1998 bank dibedakan menjadi dua kategori yaitu bank umum dan bank perkreditan Rakyat (BPR). Bank umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvesional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Sedang BPR adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Dalam penghimpunan dana BPR hanya diperbolehkan menghimpun dana masyarakat berupa simpanan dalam bentuk tabungan dan deposito, dan dilarang membuka simpanan giro, ikut kliring dan transaksi valuta asing. Dalam era otonomi daerah BPR memiliki peranan yang sangat penting dalam rangka mengembangkan usaha sektor usaha mikro, usaha kecil dan menengah (UKM). Dalam UU No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia ditegaskan bahwa peran BI dalam pengembangan UKM dari sisi pembiayaan melalui kredit likuiditas dihapuskan dan terbatas pada bantuan dalam hal teknis untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan perbankan mengenai UKM melalui penyediaan informasi perbankan, pelatihan dan penelitian-penelitian. Peran pembiayaan UKM berpindah/diserahkan kepada bank umum, BPR dan lembaga keuangan lainnya. Dari sisi perbankan, UKM dipandang sebagai sektor yang menguntungkan untuk dibiayai, terbukti dari semakin meningkatnya pertumbuhan kredit UKM. Berdasarkan Statistik Ekonomi Keuangan Daerah yang diterbitkan BI Jawa Tengah tahun 2004, dalam periode Maret 2003 sampai dengan Maret 2004, kredit usaha kecil (KUK) yang dianggap bisa mewakili UKM di kabupaten Banyumas secara umum tumbuh sebesar 39,76 persen . Ada beberapa faktor penyebab, Pertama, tingkat kemacetan relatif kecil. Kedua, mendorong terjadinya penyebaran resiko , jumlah pinjaman dengan nilai nominal kecil memungkinkan bank memperbanyak nasabah, sehingga dana tidak terkonsentrasi pada satu kelompok sektor usaha. Ketiga, suku bunga pada tingkat bunga pasar bukan merupakan masalah pokok bagi UKM, tetapi tersedianya dana pada saat, jumlah dan sasaran yang tepat serta prosedur yang sederhana lebih penting dari subsidi bunga. Keadaan demikian merupakan daya tarik lembaga keuangan khususnya perbankan untuk memasarkan produk pembiayaan/kredit pada sektor UKM. Bank Perkreditan Rakyat (BPR) sebagai lembaga keuangan yang memiliki segmen pasar utamanya sektor UKM akan menghadapi situasi persaingan yang semakin ketat dalam dimensi yang semakin luas. Menurut Kartajaya (1998:17 ), perubahan situasi persaingan dipengaruhi oleh tiga kekuatan, yaitu Customer (pelanggan), Competitor (pesaing), dan Change (perubahan). Oleh karena itu analisis situasi persaingan sangat penting dilakukan oleh BPR. David W.Craven (1996:187) menyatakan, analisis terhadap situasi persaingan akan membantu menejemen untuk memutuskan dimana akan bersaing dan bagaimana menentukan strategi pemasaran yang tepat untuk menghadapi pesaingnya pada setiap pasar sasaran Untuk menghadapi persaingan BPR harus menyusun strategi pemasaran yang tepat. Tugas strategi pemasaran kompetetif menurut Malcolm (1992:2) adalah untuk memindahkan bisnis dari posisi sekarang ke posisi kompetitif yang lebih kuat. Selanjutnya Kartajaya (2004:7) mengemukakan ada sembilan elemen utama dalam penyusunan strategi yaitu Segmentation, Targeting, Positioning, Differentiation, Marketing mix, Selling, Brand, service dan process. Kesembilan elemen merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan dan mempengaruhi. Kualitas strategi pemasaran akan dapat mengantarkan BPR pada keberhasilan. Keberhasilan perusahaan diukur dengan seberapa mampu memenuhi kepuasan nasabah dengan cara yang lebih efektif dan efisien dibanding pesaing. Dengan mengetahui persepsi nasabah dalam menilai suatu produk/merek, dapat diketahui harapan mereka yang harus dipenuhi. Persepsi nasabah menjadi masalah yang sangat penting untuk menempatkan posisi produk

berdasarkan atributnya, karena persepsi merupakan faktor dasar yang mampu mendorong nasabah melakukan pembelian atau membentuk perilaku nasabah. Dalam penelitian yang dilakukan Bank Indonesia Purwokerto (2003) memberikan gambaran umum tentang persepsi UKM pada akses kredit ke bank umum, BPR, dan sumber informal. Faktor-faktor yang dipersepsikan adalah informasi layanan, prosedur pengambilan kredit, syarat yang diminta, jaminan, proses permohonan sampai pencairan, tingkat bunga kredit dan frekuensi pendampingan. Perusahaan Daerah BPR BKK di Kabupaten Banyumas ada 25 BPR yang berada di 25 kecamatan. Dalam pemasaran produk pembiayaan/kredit menghadapi persaingan yang semakin ketat, dengan semakin bertambahnya jumlah bank umum, BPR, BMT dan sumber informal yang memasarkan produk pembiayaan pada sektor UKM. Di pihak lain, berdasarkan data hasil monitoring tingkat kesehatan dan non performing loan PD BPR BKK Kabupaten Banyumas tahun 2003 sampai tahun 2005, pertumbuhan dalam penyaluran kredit telah menunjukkan penurunan. Pertumbuhan jumlah kredit 33,37 persen menjadi 27,07 persen, jumlah nasabah 3,29 persen menjadi 4,45 persen. Sedang menurut Teguh Budi Ichtiar (2004:91), dalam penelitian Analisa Rasio Keuangan Pada PD. BPR BKK di Kabupaten Banyumas, menyimpulkan bahwa setiap PD BPR BKK di Kabupaten Banyumas dalam mencapai ROA rata-rata 3,99 persen pertahun atau tergolong rendah dan kurang efisien jika mempertimbangkan perbedaan antara interest ratio yang besarnya 8,568 dengan bunga kredit yang mencapai 30 persen per tahun. Dari hal-hal di atas diperlukan kajian terhadap situasi persaingan yang dihadapi Perusahaan Daerah BPR BKK dengan menganalisis secara obyektif faktor faktor yang mempengaruhi situasi persaingan baik sikap dan perilaku konsumen, pesaing dan faktor perubahan. Selanjutnya mencari faktor-faktor yang dipersepsikan/dipertimbangkan nasabah dalam mengambil keputusan tentang kredit/ pinjaman. Faktor-faktor tersebut digunakan untuk mengetahui posisi pemasaran dalam persaingan dan menentukan strategi pemasaran yang sesuai dengan persaingan yang dihadapi. Berdasarkan uraian tersebut di atas peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul Analisis Situasi Persaingan dan Strategi Pemasaran Pada Perusahaan Daerah BPR BKK di Kabupaten Banyumas .

RANCANGAN Undang-Undang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (RUU UMKM) memayungi pemberdayaan bagi tiga kelompok usaha yang berbeda karakteristiknya. Oleh karena itu, dalam RUU UMKM kita menyimak adanya pola pengaturan yang didasarkan

kebutuhan yang bersifat umum (sama) menyangkut seluruh pelaku usaha, tetapi juga ada pengaturan pemberdayaan yang didasarkan kebutuhan spesifik karakter masing-masing UMKM. Dalam konteks ini, RUU UMKM telah berada pada jalur pengaturan yang benar, ialah dengan tidak menyamaratakan perlakuan pemberdayaan kepada usaha mikro, kecil, dan menengah. Walaupun harus diakui memang tidak mudah memberikan perlakuan pengaturan berdasarkan slot atau kelompok karakteristik usaha mikro, usaha kecil, dan usaha menengah tersebut. Adanya perlakuan spesifik dalam pengaturan pemberdayaan, membawa konsekuensi pemikiran tentang bagaimana sebaiknya pendekatan pemberdayaan UMKM harus difokuskan. Dalam banyak diskusi pembahasan draf RUU UMKM yang saya ikuti, sampailah pada suatu kesimpulan bahwa karena jati diri tiap-tiap pelaku usaha mikro, usaha kecil, dan usaha menengah itu jelas berbeda, fokus pendekatan pemberdayaannya pun sepatutnya tidaklah sama. Usaha mikro (UMi) mengingat jumlahnya yang banyak (meliputi lebih 90% dari jumlah usaha kecil). Sebarannya juga luas menjangkau seluruh pelosok negeri, baik di kota maupun di desa dan sifatnya yang mudah untuk masuk sebagai wirausaha skala mikro atau sebaliknya mudah untuk keluar dari bisnis, usaha skala mikro itu memerlukan pendekatan pemberdayaan yang fokus pada bentuk: (1) Keberpihakan, (2) Berorientasi untuk pemecahan masalah sosial ekonomi masyarakat, (3) Mengakomodasi isu-isu kekinian, seperti penanggulangan pengangguran, kemiskinan, pemutusan hubungan kerja (PHK), penyetaraan gender, kesenjangan antardaerah/kawasan, keadilan penguasaan, dan akses kepada sumber daya produktif. Usaha skala kecil yang jumlah sesungguhnya kurang dari 10 persen dari total usaha mikro dan kecil (UMK) pun perlu didekati dengan fokus pemberdayaan sebagai upaya (1) Mendorong survival di tengah persaingan yang pada faktanya sangat ketat dan kurang sehat, (2) Investasi dan kesediaan menanggung risiko, (3) Penumbuhan kemandirian, (4) Kemampuan menjangkau dan berkiprah di pasar. Pada skala usaha menengah, meskipun jumlahnya sedikit, peranannya vital untuk menjadi jangkar pemberdayaan usaha mikro-kecil (UMK) dan kerja sama kemitraan dengan usaha besar (UB). Untuk itu, pendekatan pemberdayaan usaha menengah (UM) sangat tepat fokus pada (1) Peningkatan investasi dan pertumbuhan, (2) Advokasi dan konsultasi, (3) Mengembangkan pasar ekspor. Beberapa pasal dalam RUU UMKM yang dicontohkan sebagai pengaturan menggunakan pola pikir keberpihakan terhadap usaha mikro-kecil, yaitu Bab IV tentang Pembiayaan dan Penjaminan (Pasal 20, 21, 22, dan pasal 23). Sementara pasal 24 tentang pembiayaan usaha menengah adalah contoh tentang perlakuan spesifik terhadap kebutuhan pemberdayaan usaha menengah. Pengaturan tentang kemitraan pada pasal 25 sampai pasal 37 merupakan bentuk perlakuan yang berlaku menyeluruh, baik bagi usaha mikro-kecil maupun usaha menengah. Sedangkan Bab III tentang kriteria merupakan bentuk perlakuan spesifik bagi usaha mikro (pasal 5, ayat [1], huruf a), bagi usaha kecil (pasal 5, ayat [1] huruf b), dan perlakuan pemberdayaan spesifik usaha menengah (pasal 5, ayat [1] huruf c). Begitu seterusnya bahwa RUU UMKM itu memang dirancang secara sistematik (meskipun belum sempurna), dengan perlakuan pengaturan yang khas, di mana ada bagian pasal-pasal yang mengatur untuk seluruh UMKM dan ada bagian pengaturan yang berlaku khusus/spesifik bagi masing-masing usaha mikro, usaha kecil, dan usaha menengah. Demikian pula metode pendekatan pemberdayaan UMKM yang didekati secara berbeda. Semua itu menambah keyakinan kita bahwa RUU UMKM ini (dengan segala kekurangannya) telah menyerap apa yang menjadi harapan-harapan masyarakat dengan lebih

realistis dan berkeadilan.

UMKM Dituntut Makin Kreatif Hadapi Persaingan ACFTA Jakarta, (Analisa) Pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dituntut semakin kreatif dan pandai menciptakan peluang dalam penghadapi era Asean -China Free Trade Agreement (ACFTA). "Harus ada kreativitas dan inovasi yang dibangun untuk memanfaatkan peluang dalam ACFTA," kata Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia UKMK Kementerian Negara Koperasi dan UKM, Neddy Rafinaldi Halim, di Jakarta, Jumat (15/01). Ia mengatakan, ACFTA idealnya tidak hanya dilihat dampak negatifnya semata, tetapi harus dimanfaatkan sebagai momentum untuk menciptakan peluang menghadapi persaingan yang semakin ketat. Pihaknya telah mengantisipasi dampak ACFTA terhadap pelaku UMKM dengan beberapa program strategis. "Selain melakukan pendampingan, saya pikir kita sudah 'on the track' saat ini ketika kita mencoba memfasilitasi sarjana agar termotivasi menjadi wirausahawan baru," katanya. Menurut dia, dengan semakin banyaknya pelaku UMKM dan wirausahawan baru di tanah air, maka akan terjadi peningkatan produktivitas barang maupun jasa. Peningkatan produktivitas tersebut akan cenderung menekan ongkos produksi, sehingga harga produk barang dan jasa per-unit semakin murah dan lebih mudah bersaing dengan produk impor China. "Kami targetkan minimal akan tercipta 20 ribu wirausahawan baru tahun ini," katanya. Ia berpendapat, ACFTA diharapkan semakin memicu generasi muda yang berpendidikan cukup tinggi untuk memanfaatkan peluang dan menciptakan karya yang kreatif penuh inovasi. Neddy yakin produk buatan lokal tidak akan kalah bersaing dengan produk asing asal China karena selama ini produk dari negeri Tiongkok yang masuk ke Indonesia memiliki citra yang mudah rusak. "Strategi pemasaran mereka menekankan pada volume dan ini bisa kita jadikan celah agar wirausahawan baru nantinya mampu menghasilkan karya yang tidak hanya sekadar banyak

tetapi juga berkualitas tinggi," katanya. Produk dengan kualitas lebih baik, kata Neddy, akan cenderung menjadi pilihan konsumen sehingga memiliki daya saing yang baik di pasaran. (Ant)

Analisis Kebijakan Bank Syariah Terhadap Pembiayaan UKM A. Latar Belakang Setiap usaha yang dilakukan pada dasarnya mencari keuntungan yang sebesar besarnya denagn mengeluarkan biaya yang sekecil kecilnya. Begitu pula pada sektor perbankan, baik konvensional maupun Bank Syariah, yang dalam melakukan kegiatan usahanya memerlukan dana, dan dana tersebut dioperasikan dalam bentuk pembiayaan yang apad akhirnya akan menghasilkan pendapatan. Perbankan yang lebih dikenal dan mendominasi dunia Perbankan sekarang adalah perbankan konvensional. Sebagai lembaga yang merupakan produk kapitalis, maka tentunya Bank Konvensional mempunyai tujuan yang semata mata untuk mencapai keuntungan yang setinggi tingginya, demi keuntungan pemilik atau segelintir orang saja. Sedangkan Bank Syariah mempunyai prinsip yang berbeda dengan Bank Konvensional. Perbedaan yang paling mendasar adalah pada bagaimana memperoleh keuntungan, dimana pada Bank Konvensional dikenal denngan perangkat bunga, sedang Bank Syariah melarang adanya bunga yaitu dengan menggunakan prinsip bagi hasil. Sistem keuangan dan perbankan Islam hadir untuk memberikan jasa keuangan yang halal kepada komunitas muslim. Selain tujuan khusus ini, institusi perbankan dan keuangan, sebagaimana aspek aspek masyarakat Islam lainnya, diharapkan dapat memberi kontribusi yang layak bagi tercapainya tujuan sosio ekonomi Islam ( Chapra. 1985 .h. 34 ). Target utamanya adalah kesejahteraan ekonomi, perluasan kesempatan kerja, dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, keadilan sosio ekonomi serta distribusi pendapatan dan kekayaan yang wajar, stabilitas nilai uang dan mobilisasi, serta investasi tabungan untuk pembangunan ekonomi yang mampu memberiakn jaminan keuntungan ( bagi hasil ) kepada semua pihak yang terlibat. Salah satu bentuk pertanggung jawaban sosial Bank Syariah adalah memberikan pembiayaan kepada UKM mengingat UKM iini merupakan cerminan dari perekonomian rakyat, karena kelompok ini merupakan kelompok dominan, maka upaya peningkatan kesejahteraan kelompok ini, secara langsung maupun tidak langsung, merupakan upaya penyejahteraan ummat. Sekalipun secara konseptual Bank Syariah mempunyai berbagai tujuan yang sangat mulia, tetapi dalam prakteknya kondisi ideal masih sulit untuk tercapai. Saleh Kamel, seorang penerima IDB Award pernah melontarkan beberapa kritik terhadap Perbankan Islam. Salah satu kritiknya menyatakan ketidakmampuan Bank Islam untuk melepaskan diri dari jebakan jebakan Bank konvensional. Menurutnya, operasi pembiayaan Bank Syariah terutama terbatas pada cara cara pembiayaan sekunder untuk membiayai perdagangan jangka pendek dan operasi, penyewaan untuk perusahaan perusahaan bersekala besar dan sudah mapan. Tampaknya Bank Islam kurang memainkan peranan yang signifikan didalam pembiayaan bisnis skala kecil dan menengah, sebagai ciri utama yang harus dikedepankan guna mengedepankan kesejehteraan rakyat. Pernyataan Saleh Kamel tersebut merupakan pernyataan yang universal, oleh karena itu, hal tersebut menjadi persoalan menarik untuk diteliti, agar dapat diketahui apakah hal tersebut

juga berlaku dalam praktek pembiayaan Bank Syariah di Indonesia. Hal tersebutlah yang melatarbelakangi penulis untuk melakukan penelitian yang berjudu Analisis Kebijakan Bank Syariah Terhadap Pembiayaan UKM : studi pada Bank DKI Syariah . Dahlan siamat, Manajemen Lembaga Keuangan, ( Jakarta : Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1995 ) edisi IV, h. 88 M. Syafii Antonio, Bank Syariah Dari Teori ke Praktik, ( Jakarta : Gema Insani, 2001), h. 34 Mervyn K Lewis, Ltifa M Al-Gaod, Perbankan Syariah Prinsip, Praktik dan Prospek, ( Jakarta : PT. Serambi Ilmu Semesta, 2007 ) h. 122 Umar Chapra, Masa Depan Ilmu Ekonomi : Sebuah Tinjauan Islam, ( Jakarta : Gema Insani Press, 2001), h. 232 KERANGKA TEORI A. Pengertian UKM Usaha Kecil adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh perseorangan atau rumah tangga maupun suatu badan bertujuan untuk memproduksi barang atau jasa untuk diperniagakan secara komersial dan mempunyai omzet penjualan sebesar 1 (satu) miliar rupiah atau kurang. Usaha Menengah adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh perseorangan atau rumah tangga maupun suatu badan bertujuan untuk memproduksi barang atau jasa untuk diperniagakan secara komersial dan mempunyai omzet penjualan lebih dari 1 (satu) miliar. Sektor usaha kecil dan menengah ( UMKM) kini dinilai sebagai salah satu kekuatan ekonomi Indonesia yang cukup signifikan. Secara makro dapat dilihat behwa potensi yang dimiliki sektor UKM ini sudah cukup besar. Secara umum, pada 2006, sumbangan UKM terhada Produk Domestic Bruto ( PDB) mencapai 53.3 %, artinya lebih dari setengah gerak perekonomian Indonesia kini ditopang oleh sektor UKM. Dalam hal penyerapan tenaga kerja, pada 2006 UKM berhasil menyerap tenaga kerja sebanyak 58.4 juta atau sekitar 96.2 % dari total angkatan kerja. Meski UKM mempunyai andil yang cukup besar dalam pembangunan nasional, dalam menjalankan usahanya UKM selalu mempunyai kendala. Kategori permasalahan UKM adalah : Permasalahan yang bersifat klasik dan mendasar UKM, antara lain berupa permasalahn modal, bentuk badan hukum yang umumnya non-formal, SDM, pengembangan Produk dan Akses Pemasaran. Permaslahan lanjutan, antara lain pengenalan dan penetrasi pasar ekspor yang belum optimal, kurangnya pemahaman terhadap desain produk yang sesuai dengan karakter pasar, permasalahan hukum yang menyangkut hak paten, prosedur kontrak penjualan serta peraturan yang berlaku di negara tujuan ekspor. Permasalahan antara, ( intermediate Problems ), yaitu permasalahan dari instansi terkait untuk menyelesaikan masalah dasar agar mampu mengahadapi persoalan lanjutan secara lebih baik. Permasalahan tersebut antara lain, dalam hal manajemen keuangan, agunan dan keterbatasan dalam kewirausahaan. B. Pengertian Pembiayaan Pembiayaan atau financing, yaitu pendanaan yang diberikan oleh suatu pihak kepada pihak lain untuk mendukung investasi yang telah direncanakan, baik dilakukan sendiri maupun lembaga. Dengan kata lain, pembiayaan adalah pendanaan yang dikeluarkan untuk mendukung investasi yang telah direncanakan. Secara umum tujuan pembiayaan dibedakan menjadi dua kelompok yaitu : a. Tujuan pembiayaan untuk tingkat makro secara makro pembiayaan bertujuan untuk peningkatan ekonomi ummat, artinya masyarakat yang tidak dapat akses secara ekonomi, dengan adanya pembiayaan mereka dapat melakukan akses ekonomi. Dengan demikian dapat meningkatkan taraf ekonominya.

Tersedianya dana bagi peningkatan usaha Meningkatkan produktifitas Membuka lapangan kerja baru Terjadi distribusi pendapatan b. Tujuan pembiayaan untuk tingkat mikro Upaya memaksimalkan laba Upaya meminimilkan risiko Pendayagunaan sumber ekonomi Penyaluran kelebihan dana Dalam pelaksanaan pembiayaan, Bank Syariah harus memenuhi : (1) Aspek Syariah, berarti dalam setiap realisasi pembiayaan kepada nasabah, Bank Syariah harus tetap berpedoman pada Syariat Islam ( antara lain tidak mengandung unsur Gharar, maisir dan riba serta bidang usahanya harus halal ) (2) Apek Ekonomi, berarti disamping mempertimbangkan hal hal syariah Bank Syariah tetap mempertimbangkan perolehan keuntungan baik bagi Bank Syariah maupun bagi nasabah Bank Syariah. www.depkop.go.id Log. cit. Genjot Sektor UKM denagn Kredit Usaha Rakyat, Jurnal UKM, edisi November 2007, h.5 Andang Setyobudi, Peran Serta Bank Indonesia Dalam Pengembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah ( UMKM ), Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan, Volume 5, no. 2, Agustus 2007 Muhammad, Manajemen Pembiayaan Bank Syariah, ( Yogyakarta : UPP AMP YKPN , 2002), h. 17 Ibid, h. 17-18 Ibid h. 16 B. Penyajian data Berdasarkan hasil wawancara kepada Sdr. Irham Fahcreza Anas. Sei. Didapat keterangan bahwa dalam rangka penyaluran pembiayaan terhadap UKM Bank Syariah bekerjasama dengan unit manajemen lain seperti BPRS atau Koperasi koperasi. yang namanya Bank Syariah itu dia tidak akan mungkin langsung dia nyentuh tataran Grace Road, dia butuh satu unit kerja yang membidangi masalah pembiayaan UKM . Hal ini dilakukan oleh Bank mengingat bahwa UKM masih memiliki kelemahan kelemahan yang harus diperhitungkan, karena hal ini menyangkut keuntungan Bank. kalo UKM itu kan kelemahannya, pertama secara formal kelegalan dokumennya juga agak sedikit susah, yang kedua dia belum Bankable dalam pengertian dia laporan keuangan masih seadanya Hal ini wajar saja diperhitungkan oleh Bank Syariah, mengingat bahwa secara prinsip pembiayaan Bank Syariah harus memenuhi dua aspek, yaitu aspek Syariah dan aspek ekonomi. Artinya selain harus sesuai syariah, Bank Syariah harus tetap memperhitungkan profitabilitas dari usaha yang akan dibiayai, agar menguntungkan bagi bank maupun nasabah. Namun hal itu bukan berarti bahwa Bank Syariah tidak berpihak kepada UKM. Karena untuk menyiasati keadaan ini bank memiliki kebijakan kebijakan tertentu yang juga merupakan strategi bank dalam menjalankan fungsinya secara optimal. Dikatakan bahwa : Bank Umum Syariah tidak akan secara langsung menyentuh UKM, banyak resiko resiko yang harus dihadapi. Naahh untuk menyiasati hal ini Bank Syariah gak bodoh. Bank itu kan membantu membangun masyarakat. Kita kerja sama sama BPRS dan Koperasi koperasi karyawan Hal ini menunjukkan bahwa Bank Syariah tidak mau terjebak dalam pola pola konvensional yang hanya terfokus pada peningkatan profit tanpa melihat aspek aspek lain

seperti aspek keadilan dan keseimbangan pada Bank Syariah. kita gak mau terjebak sama pola pola konvensional, minjem harus ada dana segala macem. Enggaklah. Kita upayanya Linkage Program dengan executing atau chanelling Telah banyak upaya upaya pengembangan UKM melalui pembiayaan yang dilakukan oleh Bank Syariah. Diantaranya program linkage yang dilakukan oleh Bank DKI Syariah. kalo di Bank DKI Syariah pembiayaan pembiayaan Usaha kecil, itu kita mengakomodasi dengan cara kita Lingkage Program. Salah satunya aja yah denagn BPRS As- Salam dan Koperasi Tanah Abang. Nah kita menyalurkan dana ke dia ada yang program executin, dalam pengertian ehhm segala resiko ditanggung oleg BPRS Bank tinggal menikmati untung. Kelopun rugi juga dilihat porsi ruginya gimana ?. ada juga yang chanelling, Bank naro ajah, nanti resiko ditanggung Banknya. Jadi nanti Bank DKI Syariah posisinya sebagai Bank Syariah itu sebagai pemasok duit modal Hal ini merupakan salah satu kebijakan Bank yang baik dalam rangka mengoptimalkan fungsi bank. Artinya Bank DKI Syariah telah berupaya untuk mengembangkan sektor UKM melalui pembiayaan. Hal ini tercermin dalam kebijakan diatas yang senantiasa mengakomodir kesulitan serta kelemahan UKM dengan membuat kebijakan kebijakan yang berpihak pada UKM. Hal ini tidak hanya tercermin dari kebijakan kebijakan yang dinuat oleh Bank, namun dapat dilihat dari jumlah pembiayaan yang disalurkan. Bank Syariah adalah Bank yang mencerminkan fungsi Bank yang sesungguhnya. Fungsi Bank itu apa coba ? intermediary kan ? gimana kita melihat ? di FDR. Finance to Deposit Ratio Bank Syariah itu tidak akan Kurang dari 80 %. Diatas. Pasti. Semakin tinggi nilai FDR berarti kesimpulannya adalah semakin banyak dan DPK yang digunakan untuk kucuran pembiayaan. Indikatornay apa ? Peningkatan FDR. KETERANGAN 2004 2005 2006 2007 2008 Unaudited Rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) 9.22% 8.46% 14.09% 27.63% 15.78% FDR (Pembiayaan /DPK ) 124.63% 348.17% 258.27% 193.96% 290.41% Rasio Pembiayaan Bermasalah (NPF) 0.00% 0.56% 1.34% 0.72% 0.53% Net Interest Margin (NIM) 8.20% 10.11% 13.35% 11.20% 10.22% BOPO (Beban Opr/ Pendapatan Opr) 185.18% 57.32% 48.62% 73.33% 85.43% Laba Sebelum pajak Terhadap Aktiva (ROA) -7.23% 4.75% 7.06% 3.76% 1.98% Sumber : http://bankdki-syariah.com Dari Laporan Keuangan diatas terlihat jumlah FDR pada tahun 2004 sebesar 124.63 %, tahun 2005 sebesar 348. 17 %, tahun 2006 sebesar 258.27 %, tahun 2007 sebesar 193. 96 % dan di tahun 2008 sebesar 290.41 %. Dari data diatas FDR Bank DKI Syariah rata rata diatas 100 %. Walaupun terjadi fliktuasi jumlah FDR, yakni terjadi penurunan pada tahun 2006 dan 2007 namun jumlah FDR tetap pada tingkat aman yang menunjukkan kinerja Bank yang positif. Kesimpulan Jadi dapat disimpulkan bahwa kritik dari Saleh Kamel bahwa Bank Islam kurang memainkan peranan yang signifikan didalam pembiayaan bisnis skala kecil dan menengah tidak berlaku di dunia Perbankan Syariah di Indonesia Berdasarkan analisis dari data data diatas, makan dapat disimpulkan bahwa Bank Syariah senantiasa berpihak pada UKM. Hal ini tercermin dari kebijakan kebijakan yang dibuat oleh Bank Syariah terkait dengan pembiayaan untuk UKM. Dalam rangka penyaluran pembiayaan terhadap UKM Bank Syariah bekerjasama dengan unit manajemen lain seperti BPRS atau Koperasi koperasi. Hal ini dilakukan oleh Bank mengingat bahwa UKM masih memiliki kelemahan kelemahan yang harus diperhitungkan, karena hal ini menyangkut

keuntungan Bank. Ini wajar saja diperhitungkan oleh Bank Syariah, mengingat bahwa secara prinsip pembiayaan Bank Syariah harus memenuhi dua aspek, yaitu aspek Syariah dan aspek ekonomi. Artinya selain harus sesuai syariah, Bank Syariah harus tetap memperhitungkan profitabilitas dari usaha yang akan dibiayai, agar menguntungkan bagi bank maupun nasabah. Namun hal itu bukan berarti bahwa Bank Syariah tidak berpihak kepada UKM. Karena untuk menyiasati keadaan ini bank memiliki kebijakan kebijakan tertentu yang juga merupakan strategi bank dalam menjalankan fungsinya secara optimal, ini menunjukkan bahwa Bank Syariah tidak mau terjebak dalam pola pola konvensional yang hanya terfokus pada peningkatan profit tanpa melihat aspek aspek lain seperti aspek keadilan dan keseimbangan pada Bank Syariah. Telah banyak upaya upaya pengembangan UKM melalui pembiayaan yang dilakukan oleh Bank Syariah. Diantaranya program linkage yang dilakukan oleh Bank DKI Syariah. Hal ini merupakan salah satu kebijakan Bank yang baik dalam rangka mengoptimalkan fungsi bank. Artinya Bank DKI Syariah telah berupaya untuk mengembangkan sektor UKM melalui pembiayaan. Hal ini tercermin dalam kebijakan diatas yang senantiasa mengakomodir kesulitan serta kelemahan UKM dengan membuat kebijakan kebijakan yang berpihak pada UKM. Hal ini tidak hanya tercermin dari kebijakan kebijakan yang dinuat oleh Bank, namun dapat dilihat dari jumlah pembiayaan yang disalurkan. Dari data diatas FDR Bank DKI Syariah rata rata diatas 100 %. Walaupun terjadi fliktuasi jumlah FDR, yakni terjadi penurunan pada tahun 2006 dan 2007 namun jumlah FDR tetap pada tingkat aman yang menunjukkan kinerja Bank yang positif.

Pada dunia belahan ke 3 (Indonesia termasuk di dalamnya ) akan ditemukan berbagai elemen yang membantu meningkatkan perekonomian negara. Sudah menjadi kenyataan dan terbukti dalam negara berkembang usaha-usaha kecil tersebutlah yang menyokong perekonomian bangsa. Di Amerika Serikat sendiri yang sudah merupakan negara maju dan modern, 99 % dari bentuk bisnis di Amerika Serikat adalah Usaha kecil dan Menengah (UMKM) dan UMKM inilah yang membuat 75 % lapangan kerja baru., banyak orang Indonesia, khususnya di New Hampshire yang bekerja Casual work di small business enterprises pada pizza restaurant, petrol station, ware house, packaging. Di Australia, khususnya di Sydney, juga serupa, banyak sekali UMKM yang sukses, dan memang kebanyakan business ownernya citizen keturunan Jewish, Greeks dan Asia. Kalau anda ke Sydney, salah satu jalan terpanjang yaitu Anzac Parade Street di Kingsford, banyak UMKM menggelar bisnisnya dari Toko buah Korea, Restaurant Padang, Chips Calamary Honggaria, sampai agent News paper &blue travel ticket (ticket untuk kereta api, bus, dan ferry) punya Pak Iman, perantau dari Jembatan lima, di jembatan lima rumahnya nggak ada kamar mandinya, tapi di Sydney, alhamdulillah apartmentnya bagus. Pada saat krisis ekonomi sekarang, sangatlah penting untuk mengembangkan usaha kecil mikro dan menengah, sehinggal lapangan pekerjaan dapat dibuka. Banyak diantara kita adalah mental employee (pegawai) dan kebanyakan kita tidak tahu pentingnya jiwa wirausaha,padahal jelas sekali dengan usaha kecil yang kita bangun akan meningkatkan kegiatan ekonomi. Kita sangat mengharapkan pemerintahan yang baru nanti, siapapun presiden yang terpilih, pemerintah harus mendorong setiap lapisan masyarakat untukmempunyai jiwa entrepreneur (jiwa wira usaha) dan memulai berbisnis. Sangatlah kita harapkan UMKM untuk lebih mendapatkan prioritas insentif, seperti

kemudahan dan kalau boleh bisa bebas biaya untuk perizinan, ada pemotongan pajak, dan sebagainya. Kalau boleh pinjam kalimat salah satu acara kuiz yang terkenal, riset membuktikan.. bahwa sebagian besar dari sektor utama dan sendi perekonomian seperti sektor konstruksi, jasa pelayanan umum, jasa pelayanan perawatan kesehatan dan teknis seperti reparasi, renovasi, dll didominasi oleh usaha kecil. Jadi jelas khan betapa pentingnya pegembangan usaha kecil dan jangan pernah dianggap remeh dan diabaikan lagi,untuk itu semua orang yang akan memulai usaha kecil haruslah dipermudah dan proses perijinannya dibuat sederhana. Anda bisa memulai usaha kecil dengan menemukan sebuah bisnis online, didalam bisnis secara online ini anda juga bisa memasarkan produk dan jasa anda secara global dan tentu saja biaya pemasaran anda jauh lebih murah, yang anda perlukan hanya pelatihan,termasuk market riset di dalamnya, pemilihan produk, pembelian domain dan penyewaan hosting provider. Banyak institusi akan membantu anda dengan memberikan advise untuk memulai usaha secara online, diantaranya Balina Internet Marketing , tentunya pilihan berada di tangan anda institusi mana yang mempunyai materi pelatihan yang cocok dengan kemampuan anda, biayanya harus kompetitif dan sesuai dengan kondisi kantong anda dan pelatihan itu haruslah worthed dengan produk dan jasa yang akan anda pasarkan ke mancanegara. author : Saidilriza Muda, mantan Cleaning server, Taxy Driver, Trifty Truck Driver, Petrol Station Operator, Pizza Cheff Assistant, sekarang pelaku UMKM, source : dari berbagai sumber

Jurnal Manajemen & Bisnis ANALISIS KOMPARATIF RESIKO KEUANGAN BANK PERKREDITAN RAKYAT (BPR) KONVENSIONAL DAN BPR SYARIAH
Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol. 4, No 7 Juni 2006 ANALISIS KOMPARATIF RESIKO KEUANGAN BANK PERKREDITAN RAKYAT (BPR) KONVENSIONAL DAN BPR SYARIAH

Umar Hamdan - Dosen Fakultas Ekonomi & Program Studi MM Unsri. Andi Wijaya - Alumni Program Studi MM Unsri tahun 2005

ABSTRACT The objectives of this research is to analyze and compare the financial risk in two type of BPRs, which are conventional and syariah. The samples of this research are two BPRs: Conventional BPR S and Syariah BPR F. The method of analysis used are financial ratios and discriminant analysis (Z-Score method). The study results show that financial risk of Syariah BPR F relatively lower than of Conventional BPR S. Key words: BPR, Financial Risk, Financial Ratios, Discriminant Analysis.

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bank Perkreditan Rakyat (BPR), menurut UU RI nomor 10 tahun 1998, adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Secara nasional kegiatan operasional BPR selama periode 19992003 (Maret) mengalami perkembangan yang cukup stabil. Berdasarkan data Bank Indonesia, selama periode tersebut, total asset bertumbuh dari Rp. 3.462 milliar menjadi Rp. 9.723 milliar, atau naik ratarata 35 % per tahun, penyaluran kredit dari Rp. 2.452 miiliar menjadi Rp. 7.088 milliar (naik rata-rata 35,7 %), dana pihak ketiga dari Rp. 2.038 milliar menjadi Rp. 6.629 milliar (naik ratarata 39,3 %). Selama periode tersebut, laba tahun berjalan terus bertambah. Yang menarik, jumlah penyaluran kredit melebihi jumlah dana pihak ketiga, berarti fungsi intermediasi keuangan ternyata dapat berjalan dengan baik. (Sawaldjo Puspopranoto, 2002, hal. 123) Industri BPR secara makro dinilai Bank Indonesia dalam kondisi cukup baik, karena hampir seluruh BPR menunjukkan kinerja yang baik dan hanya sebagian kecil yang diBBKUkan. Dari jumlah 2400 unit BPR, sejak 1996 hingga kini hanya 178 unit yang di-BBKU-kan oleh Bank Indonesia. Mengingat kondisi usaha yang dinilai bagus, Bank Indonesia melalui berbagai langkah antara lain merger, konsolidasi, akuisisi serta regulasi dan paket pengawasan yang lebih intensif berupaya menjadikan BPR menjadi basis untuk Lembaga Keuangan Mikro (LKM) di Indonesia. Dari tahun ke tahun, modal disetor BPR secara nasional terus bertambah. Tahun 2001, menurut data BI dalam buku BPR terbitan BI, modal disetornya Rp. 936 milliar, tahun 2002 jumlahnya bertambah 25 % menjadi Rp. 1,17 trilliun. Tahun 2003 naik 24 % menjadi Rp. 1,24 trilliun, dan per Maret 2004 jumlahnya mencapai Rp. 1,48 trilliun. Umar Hamdan & Andi Wijaya

Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol. 4, No 7 Juni 2006 2 Di daerah Sumatera Selatan, jumlah BPR telah mencapai 12 BPR, dimana diantaranya juga terdapat BPR Syariah. BPR lebih mengkhususkan diri ke arah pemberian kredit, sifatnya retail dan tidak kompleks seperti halnya bank umum. Keberadaan BPR dalam perekonomian nasional dan daerah sangat penting dalam upaya meningkatkan taraf hidup rakyat melalui penghimpunan dan penyaluran dana terutama kepada usaha kecil dan mikro. Tulisan ini mengkaji bagaimana tingkat resiko bisnis BPR Konvensional dan BPR Syariah di Sumatera Selatan.

1.2. Rumusan Masalah Bagaimana tingkat resiko bisnis BPR Konvensional dan BPR Syariah. 1.3. Tujuan Penelitian Tujuan tulisan ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis tingkat resiko bisnis BPR Konvensional dan BPR Syariah. 1.4. Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah 1. Masyarakat pembaca mengetahui perbandingan tingkat resiko keuangan/bisnis BPR Konvensional dan BPR Syariah. 2. Sebagai masukan bagi manajemen BPR dalam menyusun kebijakan perusahaannya.

II. TINJAUAN PUSTAKA Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 Butir 1 menyebutkan batasan Bank adalah badan usaha yang menghimpun dan dari masyarakat dalam bentuk simpanan, dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Menurut Undangundang tersebut dan dipertegas lagi dengan Undang-undang RI nomor 10 tahun 1998, ada dua jenis bank yaitu : Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) BPR dilarang untuk menerima simpanan giro, wilayah operasinya hanya tertentu saja, modal awalnya relatif lebih kecil dari bank umum, dan tidak diperkenankan ikut dalam kliring serta transaksi valuta asing. (Kasmir, 2003, hal. 21). Tugas pokok BPR adalah mengembangkan persekonomian rakyat di daerah, terutama pedesaan, bagi golongan ekonomi lemah, dengan membantu pembiayaan, dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat. Dalam melaksanakan fungsinya, BPR melakukan kegiatankegiatan: 1. Menghimpun dana jangka pendek, menengah, dalam bentuk Tabungan dan Deposito. 2. Pembinaan dan pembiayaan dunia usaha, khususnya membantu pengembangan usaha golongan ekonomi lemah. 3. Memobilisasikan dana masyarakat sebagai sumber pembangunan di daerah. Analisis Komparatif Resiko Keuangan BPR Konvensional dan BPR Syariah

Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol. 4, No 7 Juni 2006 3 4. Memberikan pembiayaan jangka pendek, menengah dan panjang kepada perusahaanperusahaan perorangan untuk keperluan pembangunan, produksi, rehabilitasi, dan modernisasi. 5. Penyertaan dalam modal yang tidak bersifat tetap, dengan persetujuan dan syarat-syarat yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. 6. Melakukan kerja sama sesama bank dan Lembaga Keuangan.

7. Menjalankan usaha-usaha perbankan lainnya, sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan dan Undang-Undang yang berlaku. Untuk BPR Syariah ditambah Syariah Islam.

2.1. Perbedaan Sistem Bank Konvensional dan Bank Syariah Perbedaan kedua system dapat dilihat dari sisi penghimpunan dan penyaluran dana. Dari sisi penghimpunan dana kedua sistem perbankan ini bertujuan untuk memobilisasi dana masyarakat. Namun dalam system syariah dimaksudkan untuk memobilisasi dana masyarakat yang belum tersentuh oleh perbankan konvensional, karena adanya masalah bunga. Dalam pembiayaan atau penyaluran dana, sistem perbankan konvensional menekankan pada hubungan antara debitur dan kreditur, sedangkan sistem syariah lebih menekankan pada prinsip keleluasaan dalam akad kredit dan kemitraan. Selain itu juga ada perbedaan yang menyangkut aspek hukum, struktur organisasi, usaha yang dibiayai, dan lingkungan kerja. Perbedaan antara Bank Konvensional dan Bank Syariah dapat diringkas dalam Tabel berikut: Tabel 1. Perbedaan Sistem antara Bank Konvensional dan Bank Syariah Bank Konvensional Bank Syariah Investasi halal dan haram Investasi yang halal saja Status bank intermediary Status bank intermediary dan investor Sistem bunga dan fee Sistem bagi hasil, margin dan fee Bunga atas dasar pokok Nisbah bagi hasil dari proyeksi penjualan Pembayaran bunga tidak mempertimbangkn usaha Pembayaran bagi hasil tergantung realisasi hasil usaha Bank tidak menanggung resiko Bank ikut menanggung resiko usaha Kehalalan bunga diragukan Halal Tidak ada Dewan Pengawas Syariah Ada Dewan Pengawas Syariah Sumber: Prosiding Seminar Nasional IAI & FE Unsri, 5 Juli 2005 2.2. Persamaan Sistem Bank Konvensional dan Bank Syariah Persamaaan kedua sistem perbankan tersebut terletak pada teknis penerimaan uang, mekanisme transfer, teknologi komputer, syarat-syarat umum untuk memperoleh kredit, misalnya KTP, NPWP, proposal, laporan keuangan dan lainnya.

Umar Hamdan & Andi Wijaya

Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol. 4, No 7 Juni 2006 4 2.3. Produk/Jasa yang ditawarkan Bank Konvensional dan Bank Syariah

Secara umum ada tiga bagian besar produk yang ditawarkan Bank konvensional dan Bank Syariah: 1) Produk Penghimpunan Dana (funding) 2) Produk Penyaluran Dana (financing); dan 3) Produk Jasa (services) 2.3.1. Bank Konvensional Produk penghimpunan dana antara lain adalah giro, tabungan dan deposito. Penyaluran dana dapat berbentuk kredit konsumsi, kredit investasi dan kredit modal kerja. Sedangkan produk jasa berbankan konvensional, misalnya jasa konsultansi, pengurusan transaksi ekspor dan impor, valuta asing, dan lainnya. 2.3.2. Bank Syariah Penghimpunan dana pada bank syariah menerapkan prinsip Wadiah dan Mudhararabah. Prinsip Al-Wadah yaitu serbagai titipan murni dari satu pihak ke pihak lain, baik individu maupun badan hukum yang harus dijaga dan dikembalikan kepada si penitip. Prinsip Al-Wadiah (trust depository) dapat di bagi atas Al-Wadiah Yad Amanah dan Al-Wadiah Yad Adh Dhamanah. Aplikasi konsep Al-Wadiah Yad Amanah dalam bank syariah adalah pihak yang menerima titpan tidak boleh menggunakan dan memanfaatkan uang atau barang yang dititipkan, jadi harus dijaga sesuai dengan kelaziman. Dalam ini penerima titipan dapat membebankan biaya titip kepada penitip. Konsep Al-Wadiah Yad Adh Dhamanah, dalam konsep ini pihak yang menerima titipan boleh menggunakan uang atau barang yang dititipkan, tentunya pihak Bank dalam hal ini mendapatkan bagi hasil dari pengguna dana. Bank dapat memberikan bonus kepada penitip. Prinsip Mudharrabah penyimpan atau deposan bertindak sebagai pemilik modal (syahibul mall), bank sebagai mudharrib (pengelola dana). Dana tersebut digunakan bank untuk melakukan murabahah, mudharrabah dimana kedua hasil ini akan dibagi hasilkan berdasarkan nisbah yang disepakati dalam hal bank menggunakannya untuk melakukan mudharrabah kedua, maka bank bertanggung jawab penuh atas kerugian yang terjadi. Rukun Mudharrabah terpenuhi sempurna ada mudharrib, ada pemilik dana, ada usaha yang akan dibagihasilkan, ada nisbah dan ada ijab Kabul. Prinsip ini diaplikasikan pada produk tabungan berjangka dan deposito berjangka. Penyaluran dana pada bank Syariah dilakukan melalui pembiayaan dengan prinsip jual beli, pembiayaan dengan prinsip sewa, dan pembiayaan dengan prinsip bagi hasil. Prinsip pembiayaan dengan jual beli dilaksanakan sehubungan dengan perpindahan kepemilikan barang atau benda (transfer of property). Tingkat keuntungan bank ditentukan didepan dan menjadi bagian harga atas barang yang dijual. Transaksi jual beli dapat dibedakan berdasarkan bentuk pembayarannya dan waktu penyerahan barangnya, yaitu sbb.: 1) Pembiayaan Al Murabahah (Bai). Jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati. Dalam hal ini penjual harus memberitahu harga pokok yang ia beli dan menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai tambahan sedangkan Analisis Komparatif Resiko Keuangan BPR Konvensional dan BPR Syariah

Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol. 4, No 7 Juni 2006 5

pembayaranm dilakukan dengan cara cicilan. Contoh, pembiayaan konsumtif dalam pembelian kenderaan bermotor, rumah atau investasi modal kerja. 2) Salam, yaitu jual beli dilakukan dimana pembeli memberikan uang terlebih dulu terhadap barang yang telah disebutkan spesifikasinya dan diantarkan kemudian. Biasanya digunakan untuk produk-produk pertanian berjangka pendek. 3) Istishna, merupakan kontrak penjualan antara pembeli dan pembuat barang, dalam kontrak itu pembuat barang menerima pesanan dari pembeli. Pembuat barang lalu berusaha melalui orang lain untuk membuat atau membeli barang menurut spesifikasi yang telah disepakati dan menjualnya kepada pembeli akhir. Kedua belah pihak bersepakat atas harga serta sistem pembayaran, apakah pembayaran dilakukan dimuka, melalui cicilan atau ditangguhkan sampai suatu waktu dimasa datang. Contoh transaksi bank sebagai penjual kepada pemilik proyek, pembeli atau mensubkan kepada sub kontraktor. 4) Prinsip pembiayaan dengan sewa (ijarah). Pada prinsipnya sama dengan jual beli tetapi perbedaannya pada jual beli objek transaksi adalah barang, tetapi pada ijarah objek trsansaksinya adalah jasa. Pengertian resiko menurut Silalahi (1997), dikutip dari Husien Umar (2001, hal 5) adalah: - Resiko adalah kesempatan timbulnya kerugian - Resiko adalah probabilitas timbulnya kerugian - Resiko adalah ketidak pastian - Resiko adalah penyimpangan aktual dari yang diharapkan - Resiko adalah probabilitas suatu hasil akan berbeda dari yang diharapkan Sedangkan manajemen resiko adalah suatu cara yang proaktif, terkoordinasi, bernilai efektif, dan memahami pemrioritasan dalam menanggulangi ancaman terhadap perusahaan. Menurut Hampel, et.al (1994:88) resiko perbankan dipengaruhi oleh lingkungan, sumberdaya manusia, layanan keuangan, dan neraca. Berdasarkan karakteristik perbankan tersebut, maka resiko terdapat diklasifikasikan atas: environmental risks (resiko lingkungan), management risks (resiko manajemen), delivery risks (resiko operasi), dan financial risks (resiko keuangan). Resiko keuangan dapat ditelusuri melalui analisis rasio keuangan dan analisis diskriminan keuangan. Menurut Hempel (1994: 89), cara mengukur dan mengelola resiko keuangan (financial risks) perbankan, sebagai berikut: 1. Resiko kredit dapat diatasi dengan cara: Melakukan analisis kredit secara baik dan benar; Dokumentasi kredit Pengendalian dan pengawasan kredit Penilaian terhadap resiko khusus 2. Resiko Likuiditas dapat diatasi dengan cara: Membuat perencanaan likuiditas Membuat rencana kontingensi Analisis biaya dan penentuan bunga kredit Pengembangan sumber pendanaan 3. Resiko Suku bunga dapat diatasi dengan cara: Membuat analisis kepekaan bunga terhadap aktiva Membuat analisis durasi, penilaian bunga antar waktu Umar Hamdan & Andi Wijaya

Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol. 4, No 7 Juni 2006

6 4. Resiko leverage dapat diatasi dengan cara: Membuat perencanaan modal Analisis pertumbuhan usaha berkelanjutan Memantapkan kebijakan dividen Melakukan penyesuaian resiko terhadap kecukupan modal 2.3.3. Rasio-rasio Keuangan Bank Rasio-rasio keuangan bank dapat dikelompokkan atas rasio-rasio likuiditas, rasio-rasio solvabilitas, dan rasio-rasio rentabilitas (profitabilitas), sebagai berikut: (Hempel, 1994, hal.74) a. Rasio Likuiditas Rasio ini bertujuan untuk mengukur seberapa likuid suatu bank. Ada beberapa jenis rasio dalam rasio likuiditas, yaitu : 1. Assets to Loan Ratio 2. Cash Ratio 3. Loan to Deposit Ratio (LDR) b. Rasio Solvabilitas Rasio ini bertujuan mengukur efisiensi bank dalam menjalankan aktivitasnya. Beberapa jenis ratio dalam solvabilitas ratio yaitu : 1. Capital Ratio 2. Capital Risk 3. Capital Adequacy Ratio c. Rasio Rentabilitas Rasio yang bertujuan untuk mengukur efektivitas bank mencapai tujuannya. Beberapa jenis rasio dalam rentabilitas ratio yaitu : 1. Gross Profit Margin 2. Net Profit Margin 3. Return on Equity Capital 2.3.4. Analisis Diskriminan (Z-Score) Analisis Z-score dikembangkan oleh Prof. Edward Alman dengan tujuan untuk mendeteksi apakah suatu perusahaan dalam kondisi diambang kebangkrutan (financial distress). Metode ini disebut juga dengan multiple discriminant analysis (Emery & Finnerty, 1998: 884). Oleh karena itu analsis ini dapat digunakan untuk mengukur tingkat resiko keuangan suatu perusahaan. Untuk menghitung Z-Score ini terlebih dahulu harus menghitung lima jenis rasio keuangan, yaitu; (Husien Umar, 1998, hal.354-356) 1) Working Capital to Total Assets Ratio (X1) 2) Retained Earning to Total Asset Ratio (X2) 3) Earning Before Interest & Taxes to Total Asset (X3) 4) Market Value of Equity to Book Value of Debt (X4) 5) Sales to Total Asset Ratio (X5)

Z-Score = 1,2(X1)+(,4(X2)+3,(X3)+0,6(X4)+1(X5) Analisis Komparatif Resiko Keuangan BPR Konvensional dan BPR Syariah

Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol. 4, No 7 Juni 2006 7 Untuk menganalisis hasil perhitungan model Z-score, digunakan angka interpretasi yang dikembangkan oleh Prof. Edward Altman, sebagai berikut: (Emery & Finnerty, 1997: 886) Score Prediction Z > 2.99 Firm will not fail within 1 year 1.81 < Z < 2.99 Gray area within which it is difficult to discriminate effectively Z < 1.81 Firm will fail in 1 year

III. METODE PENELITIAN 3.1. Rancangan Penelitian Metode penelitian dikategorikan studi kasus, karena membahas suatu objek penelitian secara rinci dan mendalam. 3.2. Populasi dan Sampel Populasi sampel berjumlah 12 BPR, terdiri dari 11 BPR Konvensional dan 1 BPR Syariah. Dari populasi tersebut penulis mengambil 2 sampe BPR, yaitu satu BPR Konvensional dan satu BPR Syariah. Selanjutnya sampel BPR yang diteliti diberi kode nama BPR Konvensional S dan BPR Syariah F. Adapun tennik pengambilan sampel dilakukan secara purpossive sampling, dengan alasan hanya ada saru BPR Syariah dan untuk kesesuaian diambil pula satu BPR Konvensional. 3.3. Variabel- Variabel Penelitian Variabel-variabel utama penelitian adalah pos-pos dalam Neraca terdiri dari: Kas, giro, kredit yang diberikan, aktiva tetap dan aktiva lain, kewajiban segera, tabungan, deposito, pinjaman, dan ekuitas. Pos-pos dalam Daftar Rugi/Laba : pendapatan bunga, beban bunga, pendapatan operasi lainnya, pendapatan non operasi, beban non operasi, pajak dan laba bersih. 3.4. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian di 16 Ilir Palembang dan Kelurahan Sukajadi di Talang Kelapa Kabupaten Banyuasin. 3.5. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan adalah dengan cara mempelajari data sekunder, yaitu laporan keuangan BPR Konvensional S dan BPR Syariah F. 3.6. Teknik Analisis Umar Hamdan & Andi Wijaya

Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol. 4, No 7 Juni 2006 8 Analisis analisis rasio keuangan dan analisis diskriminan keuangan. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Uraian Singkat BPR Sampel PT. Bank Perkreditan Rakyat Konvensional S berlokasi di kawasan Pasar 16 ilir Palembang yang beroperasi sejak tahun 1990. Sesuai ketentuan pemerintah, bentuk badan hukum BPR adalah Perseroan Terbatas. Sasaran utama operasi bank ini adalah para pedagang kecil dan mikro yang berada di kawasan Pasar 16 ilir, Beringin Janggut, TP Rustam Effendi, dan sekitarnya. Kegiatan yang dilakukan adalah menerima simpanan dan menyalurkan kredit modal kerja dan investasi bagi usaha kecil dan mikro tersebut. Disamping itu juga memberikan kredit konsumsi kepada debitur tertentu. Modal ekuitas (saham) BPR sebesar Rp 3 milyar dan telah disetor penuh. PT. Bank Perkreditan Rakyat Syariah S berdiri dengan akte Notaris Amunis Akte No. 2 tanggal 7 Januari 1994 dan mulai beroperasi Januari 1995. BPR ini berlokasi di kelurahan Sukajadi, kecamatan Talang Kelapa, kabupaten Banyuasin. Modal dasar BPR sebesar Rp 500 juta dan telah disetor penuh. Sasaran utama operasi bank ini adalah para pedagang kecil dan mikro, usaha kerajinan batubata, genteng, petani, peternak yang berada di kelurahan dan desadesa di Kecamatan Talang Kelapa. BPR ini menerima simpanan dan menyalurkan kredit modal kerja dan investasi bagi usaha kecil dan mikro tersebut. Disamping itu juga memberikan kredit konsumsi kepada debitur tertentu dengan prinsip syariah. 4.2. Perkembangan Keuangan Perkembangan keuangan kedua bank sampel, yaitu BPR konvensional S dan BPR Syariah F disajikan dalam bentuk laporan Neraca dan Daftar Rugi/Laba selama 3 (tiga ) tahun yaitu periode 2001-2003. 4.2.1. Neraca dan Rugi/Laba BPR Konvensional S Perkembangan neraca dan rugi/laba BPR Konvensional S dapat dilihat dalam Tabel : Tabel 2 : Perkembangan Neraca BPR Konvensional S Selama Tahun 2001-2003

No POS-POS 2001 2002 2003 Aktiva (ribuan rupiah) (ribuan rupiah) (ribuan rupiah) 1 Kas 29,346 3,952 93,160 2 Giro pada bank lain 4,047,760 5,362,689 5,667,066 3 Penempatan pada bank lain 4,000,000 4 Surat-surat berharga 7,200,000 2,200,000 Kredit yang diberikan 5 a. Pihak Terkait dengan bank 6 b. Pihak lain 4,645,827 7,515,843 8,042,758 Penyisihan Ph. Kredit -/- 340,989 340,989 337,489 7 Aktiva Tetap 938,178 942,928 954,388 Akumulasi Ph. Aktiva Tetap -/- 617,939 669,144 720,252 Analisis Komparatif Resiko Keuangan BPR Konvensional dan BPR Syariah

Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol. 4, No 7 Juni 2006 9 8 Aktiva Lain-lain 421,330 222,939 153,095 Jumlah 16,323,513 15,238,218 17,852,726 Kewajiban 1 Kewajiban segera lainnya 137,699 237,739 471,988 2 Tabungan 9,348,847 7,974,982 9,493,383 3 Deposito a. Pihak Terkait dengan bank 157,500 225,000 b. Pihak lain 2,711,800 2,269,585 3,227,615 4 Pinjaman yang diterima 5 Kewajiban lain-lain 323,458 210,803 159,537 6 Modal Pinjaman 7 Ekuitas a. Modal Disetor 3,000,000 3,000,000 3,000,000 b. Modal Sumbangan c. Selisih Penilaian kembali aktiva tetap d. Laba ditahan 801,709 1,387,609 1,275,203 Jumlah 16,323,513 15,238,218 17,852,726 Sumber : Laporan Keuangan BPR Konvensional S, disusun oleh Penulis. Total aktiva BPR konvensional S selama tiga tahun mengalami fluktuasi, pada tahun 2001 berjumlah Rp 16,3 milyar, turun menjadi Rp 15,2 milyar dan kemudian naik lagi menjadi Rp 17,8 milyar. Penurunan pada tahun 2002 disebabkan oleh pos-pos : surat berharga turun sebesar Rp 5 milyar dan aktiva lain-lain sekitar Rp 200 juta. Perkembangan rugi/laba BPR Konvensional S dapat dilihat dalam Tabel : Tabel 3 : Perkembangan Daftar Rugi/Laba BPR Konvensional S Selama Tahun 2001-2003 No POS-POS 2001 2002 2003 (ribuan Rp) (ribuan Rp) (ribuan Rp) 1 Pendapatan Bunga 1,393,748 2,254,753 2,412,827

2 Beban Bunga -/- 841,396 877,248 1,139,206 3 Pendapatan Bunga Bersih 552,352 1,377,505 1,273,621 4 Pendapatan Ops Lainnya +/+ 323,821 429,015 283,353 5 Beban Ops Lainnya -/- 275,520 452,245 470,880 6 Jumlah Pend. & Beban Ops 600,653 1,354,275 1,086,095 Pendapatan dan Beban Non Operasional 7 Pendapatan Non Operasional +/+ 60,065 151,679 119,470 8 Beban Non Operasional -/- 36,039 106,175 77,656 9 Laba Sebelum Pajak 624,679 1,399,779 1,127,909 10 Pajak Penghasilan -/- 93,702 209,967 169,186 11 Laba Bersih 530,977 1,189,812 958,723 Sumber : Laporan Keuangan BPR Konvensional S, disusun kembali oleh Penulis. Tabel diatas menunjukkan adanya peningkatan pendapatan bunga selama tahun 20012003, di mana pendapatan bunga tahun 2001 sebesar Rp 1,3 milyar, naik menjadi Rp 2,2 milyar dan tahun 2003 Rp 2,4 milyar. Demikian pula pendapatan non operasional dan beban non Umar Hamdan & Andi Wijaya

Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol. 4, No 7 Juni 2006 10 operasional menunjukkan adanya peningkatan. Laba bersih mengalami fluktuasi, dimana pada tahun 2002 sebesar Rp 1,1 milyar, meningkat dibanding tahun 2001, tetapi kemudian turun menjadi Rp 958,7 juta pada tahun 2003. 4.2.2. Neraca dan Rugi/Laba BPR Syariah F Perkembangan neraca dan rugi/laba BPR Syariah F dapat dilihat dalam Tabel sebagai berikut: Tabel 4 : Perkembangan Neraca BPR Syariah F Selama Tahun 2001-2003 No POS-POS 2001 2002 2003 Aktiva (ribuan rupiah) (ribuan rupiah) (ribuan rupiah) 1 Kas 6,831 21,683 24,935 2 Giro pada bank lain 9,993 9,295 10,317 3 Penempatan pada bank lain 1,820,923 644,061 721,348 4 Surat-surat berharga Kredit yang diberikan 5 a. Pihak Terkait dengan bank 16,663 108,951 117,667 6 b. Pihak lain 712,827 682,608 757,695 Penyisihan Ph. Kredit -/- 7,930 14,035 16,842 7 Aktiva Tetap 116,378 118,375 134,948 Akumulasi Ph. Aktiva Tetap -/- 58,933 71,438 85,726 8 Aktiva Lain-lain 21,553 25,863 29,742

Jumlah 2,638,305 1,525,363 1,694,086 Kewajiban 1 Kewajiban segera lainnya 3,035 5,291 6,614 2 Tabungan 1,952,792 640,611 777,859 3 Deposito a. Pihak Terkait dengan bank 15,000 26,400 33,000 b. Pihak lain 23,000 108,700 136,962 4 Pinjaman yang diterima 5 Kewajiban lain-lain 20,863 43,385 49,893 6 Modal Pinjaman 37,950 47,438 7 Ekuitas a. Modal Disetor 500,000 500,000 500,000 b. Modal Sumbangan 21,000 21,000 21,000 c. Selisih Penilaian kembali aktiva tetap d. Laba ditahan 102,615 140,026 121,321 Jumlah 2,638,305 1,523,363 1,694,086 Sumber : Laporan Keuangan Bank Syariah F, disusun kembali oleh Penulis. Total aktiva BPR Syariah selama tiga tahun mengalami fluktuasi, pada tahun 2001 berjumlah Rp 2,6 milyar, turun menjadi Rp 1,5 milyar dan kemudian naik menjadi Rp 1,69 milyar. Penurunan pada tahun 2002 disebabkan oleh pos-pos: penempatan pada bank yang mengalami penurunan hampir sebesar Rp1,2 milyar dan penurunan penyaluran pinjaman sebesar Rp 40 juta. Analisis Komparatif Resiko Keuangan BPR Konvensional dan BPR Syariah

Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol. 4, No 7 Juni 2006 11 Perkembangan rugi/laba BPR Syariah S dapat dilihat dalam Tabel sebagai berikut: Tabel 5 : Perkembangan Daftar Rugi/Laba BPR Syariah F Selama Tahun 2001-2003 No POS-POS 2001 2002 2003 (ribuan Rp) (ribuan Rp) (ribuan Rp) 1 Pendapatan Bagi Hasil 213,848 238,913 227,308 2 Beban Bagi Hasil -/- 78,112 51,249 54,450 3 Pendapatan Bagi Hasil Bersih 135,736 187,664 172,858 4 Pendapatan Ops Lainnya +/+ 799 744 825 5 Beban Ops Lainnya -/- 75,500 77,725 80,120 6 Jumlah Pend. & Beban Ops 61,035 110,683 93,563 Pendapatan dan Beban Non Operasional 7 Pendapatan Non Operasional +/+ 6,714 12,175 10,292 8 Beban Non Operasional -/- 5,035 9,740 9,263 9 Laba Sebelum Pajak 62,713 113,118 94,592 10 Pajak Penghasilan -/- 9,407 16,968 14,189 11 Laba Bersih 53,306 96,150 80,403 Sumber: Laporan Keuangan BPR Syariah F, disusun kembali oleh Penulis. Dari tabel rugi/laba menunjukkan adanya peningkatan pendapatan bagi hasil pada tahun 2002 dibanding tahun, yaitu meningkat dari Rp 213 juta menjadi Rp 238 juta, sedangkan

pada tahun 2003 turun menjadi Rp 227 juta. Demikian pula laba bersih mengalami peningkatan tahun 2002 dibanding tahun 2001, yaitu meningkat dari Rp 53 juta menjadi 86 juta, sedangkan tahun 2003 mengalami penurunan dibanding tahun 2002, yaitu turun menjadi Rp 80 juta. 4.3. Analisis Rasio Keuangan BPR Konvensional S Dari laporan keuangan BPR Konvensional S dapat dihitung beberapa rasio keuangan seperti dalam Tabel berikut: Tabel 6 : Rekapitulasi Rasio-rasio Keuangan BPR Konvensional S Tahun 2001-2003 Rasio-Rasio Likuiditas: 2001 2002 2003 1. Assets to Loan Ratio Total Aktiva: Total Kewajiban 130.36% 140.44% 131.49% 2. Cash Ratio Kas : Kewajiban Segera 118.87% 92.13% 97.94% 3. Loan to Deposit Ratio Total Kredit: Tabungan+ Deposito 38.52% 72.25% 62.13% 4. Non Performing Loan Penyisihan Kredit: Total Kredit 7.34% 4.54% 4.20% Rasio-Rasio Solvabilitas: 1. Capital to Debt Ratio Total Modal (Ekuitas): Total Kewajiban 30.36% 40.44% 31.49% 2. Capital Adequacy Ratio Total Modal (Ekuitas) : Total Aktiva 23.29% 28.79% 23.95% Rasio-Rasio Rentabilitas: Umar Hamdan & Andi Wijaya

Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol. 4, No 7 Juni 2006 12 1. Gross Profit Margin Laba Operasi: Pendapatan Operasi 43.10% 60.06% 45.01% 2. Net Profit Margin Laba Bersih: Pendapatan Operasi 38.10% 52.77% 39.73% 3. Return on Equity Laba Bersih: Ekuitas 13.97% 27.12% 22.43% 4. Return on Assets Laba Operasi: Total Aktiva 3.68% 8.89% 6.08% Sumber: Diolah dari Laporan Keuangan BPR Konvensional S Secara umum rasio-rasio likuiditas BPR Konvensional S menunjukkan perbaikan pada tahun 2002 dibanding tahun 2001. Rasio aktiva terhadap pinjaman menunjukkan tingkat likuiditas yang cukup memadai, karena di atas 100 persen. Rasio kas terhadap kewajiban segera pada tahun 2002 dan 2003 kurang dari 100 persen yang perlu menjadi perhatian pimpinan

BPR. Demikian pula rasio antara kredit yang disalurkan dengan dana yang dihimpun (loan to deposit ratio) kurang baik, yaitu tahun 2001 sebesar 38%, tahun 2002 78% dan tahun 2003 sebesar 62 persen. Menurut ketentuan BI rasio ideal antara 85% s.d 105%, berarti rasio LDR masih relatif rendah. Kondisi ini menunjukkan kemampuan BPR menyalurkan kredit masih perlu ditingkatkan, karena dana yang menganggur akan menjadi beban bagi BPR atas bunga simpanan yang yang harus dibayar kepada penabung. NPL tahun 2001 sebesar 7,34% di atas batas maksimum yang ditetapkan oleh BI, namun dalam tahun 2002 dan 2003 turun menjadi masingmasing sebesar 4,54% dan 4,24 persen. Rasio-rasio solvabilitas menunjukkan kondisi yang cukup sehat. Rasio CAR berdasarkan Surat Edaran Direksi BI No. 26/2/UD tanggal 29 Mei1993 tentang Kewajiban Modal Minimum adalah sebesar 8 persen. Dari tabel di atas CAR BPR Konvensional S di atas 8%, yaitu masing-masing tahun 2001 sebesar 23,29%, tahun 2002 sebesar 28,79% dan tahun 2003 sebesar 23,95%. Demikian pula perbandingan modal dengan hutang masih di atas 8 persen. Secara teori, menurut Winton (1993) adanya ketentuan CAR tersebut mempunyai kaitan dengan keterbatasan tanggung jawab dan struktur kepemilikan dalam suatu perusahaan. Dalam struktur kepemilikan, sebagian harta perusahaan diperoleh dari dana pinjaman kepada kreditur, sehingga perlu diimbangi dengan kemampuan pemilik modal menyediakan dana sendiri. Rasio-rasio rentabilitas yang dinyatakan dengan rasio-rasio net profit margin, ROE, dan ROA menunjukkan adanya kenaikan pada tahun 2002 dibanding tahun 2001, sedangkan tahun 2003 mengalami penurunan dibanding tahun 2002. Semua rasio rentabilitas adalah positip. Laba bersih terhadap pendapat operasi (NPM) cukup baik, di mana tahun 2001 sebesar 38%, tahun 2002 sebesar 52,77% dan tahun 2003 sebesar 39,73 persen. Keadaan ini menunjukkan bahwa BPR Konvensional S cukup sehat. 4.4. Analisis Rasio Keuangan BPR Syariah F Rasio-rasio keuangan BPR Syariah F selama tahun 2001-2003 dapat dilihat dalam Tabel 7. Secara umum rasio-rasio likuiditas BPR Syariah F relatif lebih baik dibanding BPR Konvensional S. Rasio aktiva terhadap pinjaman menunjukkan tingkat likuiditas yang cukup memadai, jauh di atas 100 persen. Rasio kas terhadap kewajiban segera pada tahun 2001 dan 2003 kurang dari 100 persen. Analisis Komparatif Resiko Keuangan BPR Konvensional dan BPR Syariah

Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol. 4, No 7 Juni 2006 13 Rasio antara kredit yang disalurkan dengan dana yang dihimpun (loan to deposit ratio) tahun 2002 dan 2003 cukup baik. Demikian pula Nonperforming Loan (NPL) cukup baik, hanya

sekitar 2 persen selama 3 tahun. NPL BPR Syariah F relatif lebih baik dari BPR Konvensional S. Tabel 7 : Rekapitulasi Rasio-rasio Keuangan BPR Syariah F Tahun 2001-2003 Rasio-Rasio Likuiditas: 2001 2002 2003 1. Assets to Loan Ratio Total Aktiva: Total Kewajiban 130.95% 176.89% 161.07% 2. Cash Ratio Kas : Kewajiban Segera 93.96% 104.51% 96.45% 3. Loan to Deposit Ratio Total Kredit: Tabungan+ Deposito 36.64% 102.04% 92.36% 4. Non Performing Loan Penyisihan Kredit: Total Kredit 1.11% 2.06% 2.22% Rasio-Rasio Solvabilitas: 1. Capital to Debt Ratio Total Modal (Ekuitas): Total Kewajiban 30.95% 76.66% 61.07% 2. Capital Adequacy Ratio Total Modal (Ekuitas) : Total Aktiva 23.64% 43.34% 37.92% Rasio-Rasio Rentabilitas: 1. Gross Profit Margin Laba Operasi: Pendapatan Operasi 28.54% 46.33% 41.16% 2. Net Profit Margin Laba Bersih: Pendapatan Operasi 24.93% 40.24% 35.37% 3. Return on Equity Laba Bersih: Ekuitas 8.55% 14.55% 12.52% 4. Return on Assets Laba Operasi: Total Aktiva 2.31% 7.26% 5.52% Sumber : Diolah dari Laporan Keuangan BPR Syariah F Rasio-rasio solvabilitas menunjukkan kondisi yang cukup sehat. Rasio CAR BPR Syariah F di atas 8%, yaitu masing-masing tahun 2001 sebesar 23,64%, tahun 2002 sebesar 43,34% dan tahun 2003 sebesar 37,92%. Keadaan ini lebih baik dibandingkan dengan rasio solvabilitas BPR Konvensional S. Rasio-rasio rentabilitas yang dinyatakan dengan rasio-rasio NPM, ROE, dan ROA menunjukkan adanya kenaikan pada tahun 2002 dibanding tahun 2001, sedangkan tahun 2003 mengalami penurunan dibanding tahun 2002. Keadaan ini hampir sama dengan rasio rentabilitas BPR Konvensional. Rasio NPM cukup baik, di mana tahun 2001 sebesar 24,93%, tahun 2002 sebesar 40,24% dan tahun 2003 sebesar 35,37 persen. Keadaan ini menunjukkan bahwa NPM BPR Syariah relatif lebih rendah dibanding dengan BPR Konvensional S. Hal ini memberikan indikasi bahwa BPR Konvensional F realtif lebih efisien dalam pengelolaan dananya.

Umar Hamdan & Andi Wijaya

Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol. 4, No 7 Juni 2006 14 4.5. Analisis Diskriminan (Z-Score) 4.5.1. Analisis Diskriminan BPR Konvensional S Hasil perhitungan Z- Score untuk BPR Konvensional S dapat dilihat dalam Tabel berikut: Tabel 8 : Hasil Perhitungan Z-Score BPR Konvensional S Tahun 2001-2003 Uraian 2001 2002 2003 X1 Working Capital to Total Asset Ratio Modal Kerja: Total Aktiva 0.95 0.97 0.98 X2. Retained Earnings to Total Assets Ratio Laba ditahan: Total Aktiva 0.05 0.09 0.07 X3. EBIT to Total Assets Laba seb. Bunga dan Pajak: Total Aktiva 0.04 0.09 0.06 X4. Market Value of Equity to Book Value of Debt Nilai Ekuitas: Nilai Hutang 0.32 0.42 0.33 X5.Sales to Asset Ratio Penjualan: Total Aktiva 0.09 0.15 0.14 Z- SCORE 1.2 X1 1.15 1.16 1.17 0,4 X2 0.02 0.04 0.03 3 X3 0.11 0.28 0.19 0,6 X4 0.19 0.25 0.20 1 X5 0.09 0.15 0.14 TOTAL 1.55 1.87 1.73 Sumber: Diolah dari Laporan Keuangan BPR Konvensional S Hasil perhitungan Z-score menunjukkan bahwa selama tiga tahun nilai Z sekitar angka 1,81, yang berarti kondisi BPR Konvensional S perusahaan dalam keadaan gray sehingga sulit ditentukan apakah akan sehat atau bangkrut. Namun karena di bawah 2,99 maka dapat dikatakan bahwa tingkat resiko bisnis BPR tinggi yang dapat menyebabkan kepailitan dalam jangka panjang. 4.5.2. Analisis Diskriminan BPR Syariah F Hasil perhitungan Z- Score untuk BPR Konvensional S dapat dilihat dalam Tabel berikut:

Analisis Komparatif Resiko Keuangan BPR Konvensional dan BPR Syariah

Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol. 4, No 7 Juni 2006 15 Tabel 9 : Hasil Perhitungan Z-Score BPR Syariah F Tahun 2001-2003 Uraian 2001 2002 2003 X1 Working Capital to Total Asset Ratio Modal Kerja: Total Aktiva 0.97 0.95 0.95 X2. Retained Earnings to Total Assets Ratio Laba ditahan: Total Aktiva 0.04 0.09 0.07 X3. EBIT to Total Assets Laba seb. Bunga dan Pajak: Total Aktiva 0.02 0.07 0.06 X4. Market Value of Equity to Book Value of Debt Nilai Ekuitas: Nilai Hutang 0.31 0.85 0.68 X5.Sales to Asset Ratio Pendapatan: Total Aktiva 0.08 0.16 0.13 Z- SCORE 1.2 X1 1.16 1.14 1.14 0,4 X2 0.02 0.04 0.03 3 X3 0.07 0.22 0.17 0,6 X4 0.19 0.51 0.41 1 X5 0.08 0.16 0.13 TOTAL 1.52 2.07 1.88 Sumber: Diolah dari Laporan Keuangan BPR Syariah F Hasil perhitungan Z-score menunjukkan bahwa selama dua tahun terakhir (2002-2003) nilai Z di atas 1,81, yang berarti kondisi BPR Konvensional S perusahaan dalam keadaan gray sehingga sulit ditentukan apakah sehat atau akan bangkrut. Namun nilai Z-score BPR Syariah F ini relatif lebih tinggi dibanding nilai yang dicapai oleh BPR Konvensional S. 4.6. Pembahasan 4.6.1. Likuiditas Secara umum rasio-rasio likuiditas BPR Syariah F relatif lebih baik dibanding BPR Konvensional S. Rasio aktiva terhadap pinjaman menunjukkan tingkat likuiditas yang cukup memadai, jauh di atas 100 persen. Rasio kas terhadap kewajiban segera pada tahun 2001 dan 2003 kurang dari 100 persen. Demikian pula rasio antara kredit yang disalurkan dengan dana yang dihimpun (loan to deposit ratio) tahun 2002 dan 2003 cukup baik, karena mendekati standar rasio ideal antara 85% s.d 110% yang ditetapkan BI. Nonperforming Loan (kredit bermasalah) pada BPR Syariah F relatif lebih rendah dibanding dengan NPL BPR Konvensional S. Pada BPR Syariah F hanya sekitar 2 persen, sedangkan BPR Konvensional rata-rata sekitar 4 persen pertahun.

4.6.2. Solvabilitas Rasio-rasio solvabilitas kedua BPR menunjukkan kondisi sehat. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) kedua BPR di atas ketentuan minimum BI (8%). CAR pada BPR Konvensional S tahun 2003 sebesar 23,95% dan BPR Syariah F sebesar 37,92%. Dari Umar Hamdan & Andi Wijaya

Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol. 4, No 7 Juni 2006 16 angka tersebut ternyata rasio solvabilitas BPR Syariah relatif lebih baik dibandingkan dengan rasio solvabilitas BPR Konvensional S. 4.6.3. Rentabiltas Semua rasio rentabilitas kedua BPR adalah positip. Laba bersih terhadap pendapat operasi (NPM) cukup baik, di mana pada BPR Konvensional S sebesar 39,73 persen, dan pada BPR Syariah F sebesar 35,37% pada tahun 2003. Keadaan ini menunjukkan bahwa kedua BPR mampu memperoleh laba yang wajar, walaupun NPM BPR Syariah F relatif lebih rendah dibanding dengan BPR Konvensional S. Hal ini memberikan indikasi bahwa BPR Konvensional S relatif lebih efisien dalam pengelolaan dananya. 4.6.4. Tingkat Resiko Keuangan Perbandingan tingkat resiko keuangan/bisnis menggunakan hasil analisis diskriminan (Z-score) menunjukkan kedua BPR berada pada posisi gray. Namun nilai Z BPR Syariah F relatif lebih tinggi dibanding BPR Konvensional S. Rendahnya Z- score (di bawah 2,99) mengindikasikan bahwa kedua bank berada pada posisi bisnis beresiko tinggi dan bila tidak dilakukan pengelolaan bisnis secara baik dapat menyebabkan kepailitan dalam jangka panjang.

V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan 1. Secara umum rasio-rasio likuiditas BPR Syariah F relatif lebih baik dibanding BPR Konvensional S. 2. Rasio-rasio solvabilitas kedua BPR menunjukkan kondisi sehat. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) kedua BPR di atas ketentuan minimum BI (8%). CAR pada BPR Konvensional S tahun 2003 sebesar 23,95% dan BPR Syariah F sebesar 37,92%. Dari angka tersebut ternyata rasio solvabilitas BPR Syariah relatif lebih baik dibandingkan dengan rasio solvabilitas BPR Konvensional S. 3. Semua rasio rentabilitas kedua BPR adalah positip. Laba bersih terhadap pendapat operasi (NPM) cukup baik, di mana pada BPR Konvensional S sebesar 39,73 persen, dan pada BPR Syariah F sebesar 35,37% pada tahun 2003. Keadaan ini menunjukkan bahwa kedua BPR mampu memperoleh laba yang wajar, walaupun NPM BPR Syariah F relatif lebih rendah dibanding dengan BPR Konvensional S.

4. Perbandingan tingkat resiko keuangan berdasarkan hasil analisis diskriminan (Z-score) menunjukkan kedua BPR berada pada posisi gray. Namun nilai Z BPR Syariah F relatif lebih tinggi dibanding BPR Konvensional S, yang berarti resiko BPR F relatif lebih rendah dibanding BPR Konvensional S. 5.2. Saran-Saran 1. Upaya Mengatasi Rendahnya LDR dapat dilakukan oleh manajemen BPR dengan cara: Analisis Komparatif Resiko Keuangan BPR Konvensional dan BPR Syariah

Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol. 4, No 7 Juni 2006 17 1) BPR harus memiliki tenaga account officer yang memadai jumlahnya, handal, jujur, profesional, dan berdedikasi tinggi untuk mengejar proyek-proyek yang layak untuk dibiayai. 2) Tenaga account officer harus mengenal wilayah kerjanya dengan baik, potensi bisnis yang ada, pebisnis, tokoh masyarakat, dan sosial ekonomi serta kultur masyarakatnya. 3) Kebijakan pemberian kredit yang prudential (hati-hati), patuh dan sehat berdasarkan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. 4) Penyaluran kredit secara kelompok dengan sistem tanggung renteng bagi para debiturnya. 5) Penerapan reward system yang dapat memotivasi para account officer dan analis kredit untuk lebih giat dalam menjemput calon debitur yang potensial dan layak untuk dibiayai. 2. Upaya manajemen untuk mempertahankan NPL rendah dapat dilakukan dengan cara: 1) Melakukan analisis kredit secara baik dan benar 2) Sistem dokumentasi kredit yang handal. 3) Pengendalian dan pengawasan kredit, sistem pemantauan dan evaluasi secara rutin terhadap rekening piutang atau kredit debitur. 4) Manajemen memberikan perhatian khusus terhadap adanya penyimpangan (management by exception) yang terjadi. 5) Setiap penyimpangan dilakukan analisis 5 W + 1 H (what, when, where, why, who & how) agar diperoleh umpan balik bagi perbaikan kebijakan operasional BPR untuk masa datang. 6) Pembinaan terhadap debitur usaha kecil dan mikro, bekerjasama dengan dinas instansi terkait, dan perguruan tinggi. 3. Upaya mengatasi resiko keuangan dapat ditempuh manajemen BPR dengan cara sebagai berikut: 1) Membuat perencanaan likuiditas dengan sistem anggaran kas (cash flow) harian atas kemungkinan penyetoran dan penarikan oleh nasabah. 2) Membuat rencana kontingensi guna mengatasi kejadian yang tak terduga, yaitu dengan melakukan analisis terhadap perubahan dan dinamika kondisi lingkungan bisnis BPR dengan mengkaji indikator: ekonomi, peta persaingan bisnis, perubahan budaya, dan situasi politik dan keamanan. 3) Melakukan analisis terhadap biaya dana dan penentuan bunga kredit atau beban bagi hasil yang akan ditetapkan atas kredit konsumsi, kredit investasi, dan kredit modal kerja. 4) Melakukan alternatif pengembangan sumber pendanaan BPR, baik dana dari sumber

internal maupun ekternal BPR.

Umar Hamdan & Andi Wijaya

Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol. 4, No 7 Juni 2006 18 DAFTAR PUSTAKA Emery, Douglas R. & Finnerty, 1998. Corporate Financial Management. Prentice Hall Inc. USA. Fakhrurozi, Peluang & Tantangan Akuntansi & Lembaga Keuangan Syariah. Prosiding Seminar Nasional IAI & FE Unsri, Palembang, Juli 2005. Hempel, G.H; Simonson, D.G; and Coleman A.B, 1994. Bank Management Text and Cases. Fourth Edition, USA: John Wiley & Sons, Inc. Iman Syahputra Tunggal, dkk. Peraturan Perbankan di Indonesia tahun 19911997. Buku 2. Jakarta: Penerbit Harvarindo, 1998. Kashmir, SE,MM. Manajemen Perbankan. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Ross, Stephen; Westerfield, Randolph; and Jordan D. 2002. Fundmentals of Corporate Finance, Prentice Hall Inc. USA. Ross, Stephen. 2003. Corporate Finance. Prentice Hall Inc. NY. USA -------------. Undang-Undang Perbankan. UU No. 10 tahun 1988. --------------. Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 1992 tentang BPR. Sinar Grafika Jakarta. Saunders, Anthony.1994. Financial Institutions Management. USA: Richard D. Irwin. Inc Winton, Andrew, Limitation of Liability and the Ownership Structure of the Firm., Journal of Finance, 1993, 48 (2):487-512. Wijaya, Andi, Analisis Laporan Keuangan Bank Perkreditan Rakyat di Sumatera Selatan (Studi kasus BPR Konvenrsional dan BPR Syariah), Tesis, Program Studi MM Unsri, 2005. Read more: http://manajemen2010ringga.blogspot.com/2010/12/jurnal-manajemen-bisnisanalisis.html#ixzz1CcEhL3BT

Penggolongan Kualitas Pembiayaan Mudharabah dan Musyarakah


Posted by ahmadifham on December 12, 2010 Penggolongan kualitas pembiayaan mudharabah dan musyarakah bisa dilihat dari aspek:

A. PROSPEK USAHA: 1. LANCAR: Potensi pertumbuhan kegiatan usaha nasabah baik; Pasar yang stabil dan tidak dipengaruhi oleh perubahan kondisi perekonomian; Persaingan yang terbatas, termasuk posisi yang kuat dalam pasar; Manajemen yang sangat baik (manajemen independen, berpengalaman dan memiliki kemampuan); Perusahaan afiliasi atau grup stabil dan mendukung usaha; Tenaga kerja yangmemadai dan belum pernah tercatat mengalami perselisihan atau pemogokan. 2. KURANG LANCAR: Potensi pertumbuhan kegiatan usaha nasabah sangat terbatas atau tidak mengalami pertumbuhan; Pasar yang dipengaruhi oleh perubahan kondisi perekonomian; Posisi di pasar cukup baik tetapi banyak pesaing, namun dapat pulih kembali jika melaksanakan strategi bisnis yang baru; Manajemen cukup baik (manajemen independen, berpengalaman tapi kurang memiliki kemampuan); Hubungan dengan perusahaan afiliasi atau grup mulai memberikan dampak yang memberatkan terhadap nasabah; Tenaga kerja berlebihan namun hubungan pimpinan dan karyawan pada umumnya baik; 3. DIRAGUKAN: Kegiatan usaha nasabah menurun; Pasar sangat dipengaruhi oleh perubahan kondisi perekonomian; Persaingan usaha sangat ketat dan operasional perusahaan mengalami permasalahan yang serius; Manajemen kurang pengalaman; Perusahaan afiliasi atau grup telah memberikan dampak yang memberatkan nasabah; Tenaga kerja berlebihan dalam jumlah yang besar sehingga dapat menimbulkan keresahan; 4. MACET: Kelangsungan usaha sangat diragukan untuk pulih kembali dan kemungkinan besar kegiatan usaha akan terhenti; Kehilangan pasar yang sejalan dengan kondisi perekonomian yang menurun; Manajemen sangat lemah; Perusahaan afiliasi sangat merugikan nasabah; Terjadi pemogokan tenaga kerja yang sulit diatasi; B. KONDISI KEUANGAN: 1. LANCAR: Perolehan laba sama atau lebih tinggi dibandingkan dengan target dan Perolehan laba stabil; Permodalan kuat dengan jumlah utang yang lebih rendah daripada modal; Likuiditas dan modal kerja kuat; Analisis arus kas menunjukkan bahwa nasabah dapat memenuhi kewajiban pengembalian pembiayaan serta porsi bagi hasil tanpa dukungan sumber dana tambahan; Jumlah portofolio yang sensitif terhadap perubahan nilai tukar valuta asing relatif sedikit atau telah dilakukan lindung nilai (Hedging) secara baik; 2. KURANG LANCAR: Perolehan laba lebih rendah daripada target laba; Rasio utang terhadap modal cukup tinggi; Likuiditas kurang dan modal kerja terbatas; Analisis arus kas menunjukkan bahwa nasabah hanya mampu memberikan porsi bagi hasil dan atau sebagian angsuran pembiayaan; Kegiatan usaha terpengaruh perubahan nilai tukar valuta asing; Perpanjangan pembiayaan untuk menutupi kesulitan keuangan; 3. DIRAGUKAN: Perolehan laba sangat kecil atau negative; Rasio utang terhadap modal tinggi; Likuiditas sangat rendah; Analisis arus kas menunjukkan ketidakmampuan nasabah dalam mengembalikan angsuran pembiayaan serta porsi bagi hasil; Kegiatan usaha terancam karena perubahan nilai tukar valuta asing; Pembiayaan baru digunakan untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo;

4. MACET: Mengalami kerugian yang besar; Nasabah tidak mampu memenuhi semua kewajiban dan kegiatan usaha tidak dapat dipertahankan; Rasio utang terhadap modal sangat tinggi; Kesulitan likuiditas; Analisis arus kas menunjukkan bahwa nasabah tidak mampu menutup biaya produksi; Kegiatan usaha terancam karena fluktuasi nilai tukar valuta asing; Pembiayaan baru digunakan untuk menutup kerugian operasional; C. KEMAMPUAN MEMBAYAR ANGSURAN POKOK DAN BAGI HASIL: 1. LANCAR: Pembayaran angsuran pokok tepat waktu dan/atau RP sama atau lebih dari 90% PP; Nasabah selalu menyampaikan informasi keuangan secara teratur dan akurat; Dokumentasi pembiayaan lengkap dan pengikatan agunan kuat; 2. KURANG LANCAR: Terdapat tunggakan angsuran pokok pembiayaan sampai dengan melampaui 90 hari; dan atau RP di atas 30% sampai dengan 90% PP (30% PP < RP < 90% PP); Nasabah menyampaikan informasi keuangan tidak teratur tetapi masih akurat; Dokumentasi pembiayaan kurang lengkap dan pengikatan agunan lemah; Pelanggaran terhadap persyaratan pembiayaan yang tidak prinsipil; Perpanjangan pembiayaan untuk menyembunyikan kesulitan keuangan; 3. DIRAGUKAN: Terdapat tunggakan angsuran pokok pembiayaan yang telah melampaui 90 hari sampai dengan 180 hari; dan atau RP < 30% PP sampai dengan 3 (tiga) periode pembayaran; Nasabah menyampaikan informasi keuangan tidak teratur dan meragukan; Dokumentasi pembiayaan tidak lengkap dan pegikatan agunan lemah; Pelanggaran yang prinsipil terhadap persyaratan pokok/utama dalam pembiayaan; 4. MACET: Terdapat tunggakan angsuran pokok pembiayaan yang telah melampaui 180 hari; dan atau RP < 30% PP lebih dari 3 (tiga) periode pembayaran; Nasabah tidak menyampaikan informrasi keuangan; Dokumentasi pembiayaan dan atau pengikatan agunan tidak ada.

STRATEGI MANAJEMEN RESIKO PEMBIAYAAN (Studi Kasus BNI Syariah cabang Pekalongan)
A. Latar Belakang Masalah Indonesia, sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, telah lama mendambakan kehadiran sistem lembaga keuangan yang sesuai tuntutan kebutuhan tidak sebatas finansiil namun juga tuntutan moralitas. Hal tersebut merupakan peluang yang cukup besar bagi lembaga keuangan syariah baik perbankan maupun non bank. Peluang tersebut nampaknya tidak disia-siakan oleh perbankan syariah di Indonesia. Hal itu ditunjukkan dengan perkembangan perbankan syariah di Indonesia yang tergolong cukup baik. Berbagai terobosan-terobosan telah banyak dikeluarkan. Terbukti sekarang banyak berdiri bank-bank dengan prinsip syariah, Unit Usaha Syariah dan sebagainya. Bank sebagai lembaga perantara jasa keuangan (financial intermediary), yang tugas pokoknya adalah menghimpun dana dari masyarakat, diharapkan dengan dana dimaksud dapat memenuhi kebutuhan dana pembiayaan yang tidak disediakan oleh dua lembaga sebelumnya (swasta dan negara). Karena semakin berkembang suatu negara, maka akan semakin berkembang pula kebutuhan yang harus dipenuhi. Adanya bank Islam diharapkan dapat memberikan sumbangan terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui pembiayaan-pembiayaan yang dikeluarkan oleh bank Islam. Dua fungsi utama bank syariah adalah mengumpulkan dana dan menyalurkan dana. Penyaluran dana yang dilakukan bank syariah adalah pemberian pembiayaan kepada yang

membutuhkan, baik untuk modal usaha maupun untuk konsumsi. Dalam bank syariah, dana nasabah akan disalurkan pada orang lain yang membutuhkan lewat bank, lalu keuntungan dibagi bersama sesuai dengan kesepakatan. Di dalam bank syariah, tidak menggunakan sistem bunga tetapi menggunakan prinsip bagi hasil dalam berbagi keuntungan. Penyaluran pembiayaan yang dilakukan oleh bank syariah harus sesuai dengan prinsip syariah. Dimana melalui pembiayaan tersebut bank syariah dapat menolong siapa saja yang membutuhkan dana. Karena bank syariah mempunyai prinsip untuk saling tolong menolong. Walaupun terkadang dari penyaluran pembiayaan-pembiayaan tersebut terdapat resiko yang harus ditanggung oleh bank syariah. Karena dalam setiap kegiatan penyaluran pembiayaan pasti terdapat resiko. Namun demikian, bank syariah tidak perlu cemas terhadap kemungkinan terjadinya resiko. Dengan penggunaan sistem bagi hasil, resiko yang akan dihadapi bank syariah akan lebih kecil dibandingkan dengan bank konvensional. BNI Syariah adalah salah satu bank syariah di Pekalongan. Walaupun masih berbentuk Unit Usaha Syariah (UUS), BNI Syariah telah melakukan penyaluran pembiayaan kepada masyarakat. Dengan konsep syariah, BNI syariah dituntut harus siap dalam menolong masyarakat. Selain itu, harus siap juga dalam menhadapi resiko-resiko akibat pembiayaan. Hal tersebut erat kaitannya dengan manajemen resiko pembiayaan di BNI syariah cabang Pekalongan. Agar dapat tetap konsisten dalam menyalurkan pembiayaan kepada masyarakat yang membutuhkan dana. Melihat fenomena tersebut, maka penulis ingin mengadakan penelitian dengan judul Strategi Manajemen Resiko Pembiayaan di BNI Syariah cabang Pekalongan. Tugas ini membahas tentang proses pelaksanaan pembiayaan di BNI syariah cabang Pekalongan. Penulisannya diilhami oleh banyaknya jenis pembiayaan yang ditawarkan setiap lembaga keuangan Syariah. Dan pasti itu semua mempunyai resiko yang cukup besar. Alasan penulis memilih judul tersebut adalah: Dalam setiap kegiatan penyalran pembiayaan pasti mempunyai resiko. Seperti resiko yang disebabkan nasabah tidak mampu untuk memenuhi kewajibannya lagi. Sehingga perlu diterapkan manajemen yang baik yang dapat meminimalisir resiko yang akan mungkin timbul dari pembiayaan. Disamping itu penulis juga ingin mengetahui pelaksanaan manajemen resiko pembiayaan yang dilakukan oleh BNI syariah cabang Pekalongan. B. Perumusan Masalah Dari judul di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana standar nilai ukur resiko dalam proses pembiayaan di BNI Syariah cabang Pekalongan? 2. Bagaimana strategi BNI Syariah dalam meminimalisir resiko-resiko yang terjadi terhadap pembiayaan di BNI Syariah cabang Pekalongan? C. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah: Untuk mengetahui bagaimana standar nilai ukur resiko yang digunakan oleh BNI Syariah cabang Pekalongan dalam proses pebiayaaan. Dan untuk mengetahui bagaimana strategistrategi yang dilakukan oleh BNI Syariah cabang Pekalongan dalam meminimalisir resiko yang terjadi terhadap pembiayaan bermasalah. D. Kegunaan Penelitian Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah: 1. Secara Praktis Untuk memenuhi tugas Metodelogi Penelitian

2. Secara Teoritis Untuk menambah pengetahuan penulis dalam bidang pembiayaan pada bank syariah. Dan untuk dapat mempelajari hingg dapat menekuni untuk mempersiapkan diri dalam dunia lembaga keuangan, khususnya lembaga keuangan syariah. E. Penegasan Istilah Untuk memperjelas dan agar tidak terjadi kesalahpahaman, maka di bawah ini penulis akan mempertegas beberapa istilah yang tercantum dalam judul penelitian, yaitu: 1) Strategi Menurut Griffin, strategi adalah sebagai rencana komprehensif untuk mencapai tujuan organisasi. 2) Manajemen Resiko Sebelum penulis menguraikan tentang pengertian manajemen resiko, sedikit penulis akan menguraikan tentang pengertian manajemen dan resiko secara tersendiri. Manajemen (management) adalah salah satu gejala yang timbul dalam suatu masyarakat berhubungan dengan serangkaian tindakan kerjasama manusia untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Dan risiko sendiri dapat didefinisikan sebaai kemungkinan untuk luka,rusak atau hilang. Manajemen resiko merupakan suatu usaha untuk mengetahui, menganalisis, memperoleh efektifitas dan efisiensi yang lebih baik. 3) pembiayaan Pembiayaan merupakan salah satu tugas pokok bank, yaitu pemberian fasilitas penyediaan dana untuk memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang merupakan defisit unit. Dari beberapa pengertian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa strategi manajemen resiko pembiayaan di BNI Syariah cabang Pekalongan mempunyai pengertian sebagai rencana komprehensif untuk mengetahui, menganalisis, serta mengendalikan resiko dalam setiap kegiatan perusahaan yang dikeluarkan untuk mendukung investasi yang telah direncanakan. F. Telaah pustaka Perkembangan lembaga keuangan syariah, baik bank maupun non bank di Indonesia menunjukkan perkembangan yang baik. Terbukti banyak berdiri lembaga keuangan syariah hampir di seluruh kota. Namun, masih banyak orang muslim yang enggan untuk melakukan transaksi di lembaga keuangan syariah. Untuk itu bank syariah sebagai salah satu lembaga keuangan syariah, diharapkan dapat menarik minat masyarakat agar mau bertransaksi lewat bank syariah. Baik dalam menyimpan dana, maupun pembiayaan. Dalam setiap kegiatan transaksi, di dalamnya pasti terdapat resiko. Begitupun transaksi yang dilakukan oleh bank syariah terutama pembiayaan. Dalam penyaluran pembiayaan, terdapat resiko yang harus dihadapi bank syariah. Menurut Muhammad Syafii Antonio dalam buku Bank Syariah dari Teori ke Praktek dikatakan bahwa resiko yang disebabkan oleh kegiatan penbiayaan biasa disebut resiko kredit. Penyebab utama terjadinya resiko kredit adalah terlalu mudahnya bank memberikan pinjaman atau melakukan investasi karena terlalu dituntut untuk memanfaatkan kelebihan likuiditas. Akibatnya , penilaian kredit kurang cermat dalam mengantisipasi berbagai kemungkinan resiko usaha yang dibiayainya. Muhammad, dalam bukunya Manajemen Bank Syariah menyatakan bahwa resiko yang terjadi dari peminjam adalah peminjaman yang tertunda atau ketidakmampuan peminjam untuk membayar kewajiban yang telah dibebankan, untuk mengantisipasi hal tersebut maka bank syariah harus mampu menganalisis penyebab permasalahannya. Menurut Adiwarman Karim dalam bukunya Bank Islam Analisis Fiqih dan Keuangan

menyatakan bahwa sasaran kebijakan manajemen resiko adalah mengidentifikasi, memantau dan mengendalikan jalannya kegiatan usaha bank dengan tingkat resiko yang wajar secara terarah, terintegrasi dan berkesinambungan. Dengan demikian, manajemen resiko berfungsi sebagai filter atau pemberi peringatan dini (early warning system) terhadap kegiatan usaha bank. Strategi Manajemen Resiko Pembiayaan di BNI Syariah cabang Pekalongan merupakan pelaksanaan (perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan penganalisisan) dalam kegiatan penyaluran pembiayaan kepada nasabah. G. Kerangka teori Strategi manajemen resiko pembiayaan adalah sebagai rencana komprehensif untuk mengetahui, menganalisir, serta mengendalikan resiko dalam setiap kegiatan perusahaan yang dikeluarkan untuk mendukung investasi yang telah direncanakan. Dalam penelitian ini, penulis berusaha menjelaskan tentang bagaimana strategi manajemen resiko pembiayaan BNI Syariah cabang Pekalongan yang meliputi standar nilai ukur resiko dalam proses pembiayaan dan strategi dalam meminimalisir resiko-resiko yang terjadi terhadap pembiayaan bermasalah di BNI Syariah cabang Pekalongan. H. Metode penelitian 1. Desain penelitian Desain penelitian yang terdapat disini meliputi pendekatan dan jenis penelitian a. Pendekatan Jenis pendekatan yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah penelitian dengan pendekatan kualitatif, artinya penelitian yang lebih menekankan analisisnya pada proses penyimpulan deduktif dan induktif serta analisis terhadap dinamika hubungan antara fenomena yang diamati dengan menggunakan logika ilmiah. Perolehan data mengenai strategi manajemen resiko pembiayaan di BNI Syariah cabang merupakan fakta-fakta yang bersifat khusus, dengan menggunakan penyimpulan induktif mengenai strategi manajemen resiko pembiayaan di BNI Syariah cabang Pekalongan. Sedangkan metode deduktif digunakan untuk memperluas perolehan data-data yang bersifat umum mengenaipelaksanaan strategi manajemen resiko pembiayaan di BNI Syariah cabang Pekalongan. b. Jenis penelitian Jenis penelitian yang dilakukan penulis adalah penelitian lapangan yang artinya penelitian yang dilakukan dalam kehidupan yang sebenarnya. Hasil penelitian ini diperoleh dengan cara mengamati, mencatat dan mengumpulkan informasi yang ditemukan di lapangan. Dalam hal ini penulis ingin mengetahui strategi manajemen pembiayaan di BNI Syariah cabang Pekalongan serta keefektifan strategi tersebut dalam meminimalisir pembiayaan bermasalah. 2. Sumber data Dalam penelitian ini penulis membagi sumber data menjadi dua bagian, yaitu: a. Sumber data primer Data primer atau data tangan pertama adalah data yang diperoleh langsung dari subyek penelitian dengan menggunakan alat pengukuran atau pengambilan data langsung pada subjek sebagai sumber informasi yang dicari. Sumber data primer dalam penelitian ini penulis peroleh dengan cara mencari data dan informasi melalui wawancara kepada pihak BNI Syariah cabang Pekalongan tentang strategi manajemen resiko pembiayaan. b. Sumber data sekunder Sumber data sekunder atau tangan kedua adalah data yang diperoleh lewat pihak lain, tidak langsung diperoleh peneliti dari subyek penelitiannya. Data sekunder biasanya berwujud data

dokumentasi atau data laporan yang telah tersedia. Data sekunder dari penelitian ini data yang diperoleh penulis dari literatur-literatur pendukung yang ada hubungannya dengan penelitian ini.

3. Teknik pengumpulan data Dalam tahap pengumpulan data penulis menggunakan metode sebagai berikut: a. Observasi Observasi adalah metode pengamatan dan pencatatan secara sistematis tentang fenomenafenomena yang diselidiki. Metode ini digunakan untuk memperoleh data yang berkaitan dengan proses pelaksanaan strategi manajemen resiko pembiayaan di BNI Syariah cabang Pekalongan yang bertujuan untuk mengantisipasi atau meminimalisir pembiayaan bermasalah. b. Wawancara Wawancara adalah percakapan yang dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Metode ini digunakan untuk melengkapi data-data yang telah diperoleh dari metode observsi. Metode ini ditujukan kepada pimpinan BNI Syariah cabang Pekalongan dan bagian pembiayaan BNI Syariah cabang pekalongan. c. Dokumentasi Dokumen ialah setiap bahan tertulis ataupun film, lain dari record yang tidak dipersiapkan karena adanya permintaan seorang penyidik. Metode dokumentasi digunaka untuk memperoleh data-data atau dokumen tentang hasil rapat kerja pimpinan BNI Syariah cabang Pekalongan dengan bagian pembiayaan terkait strategi penanganan pembiayaan bermasalah. 4. Analisis data a. Metode Analitik Cara berfikir menggunakan metode Analitik, bertolak dari dasar-dasar pengetahuan yang bersifat umum berupa teori-teori, hukum-hukum ataau prinsip-prinsip dalam bentuk preposisi-preposisi yang berlaku secara umum pula. Dasar itu dpergunakan untuk memikirkan dan menarik kesimpulan mengenai sesuatu yang bersifat khusus atau tertentu atau individual. b. Metode Deskriptif Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan subyek atau obyek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya. I. Sistematika penulisan Tugas yang penulis susun ini merupakan rangkaian dari beberapa bab yang setiap bab terdiri dari sub-sub bab. Bab I adalah pendahuluan, dalam bab ini menguraikan tentang Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Kegunaan Penelitian, Penegasan Istilah, Telaah Pustaka, Kerangka Teori, Metode Penelitian, dan Sistematika Penulisan tugas. Bab II merupakan landasan teri mengenai strategi manajemen pembiayaan di BNI, yang meliputi pengertian, fungsi dan tujuan eksistensinya. Pelaksanaan strategi manajemen pembiayaan di yang terdiri dari standar nilai ukur resiko dalam pembiayaan dan strategi meminimalisir pembiayaan bermasalah. Bab III merupakan gambaran umum perusahaan, yaitu memaparkan BNI Syariah cabang

Pekalongan yang mana berisi tentang sejarah singkat berdirinya, lokasi BNI Syariah, Visi dan Misi, Tujuan, Keadaan Pimpinan, Karyawan, Nasabah, Sarana dan Prasarana BNI Syariah cabang Pekalongan, dan yang terakhir membahas strategi manajemen resiko pembiayaan yang dilakukan oleh pihak BNI Syariah cabang Pekalongan. Bab IV merupakan analisis pelaksanaan strategi manajemen resiko pembiayaan di BNI Syariah cabang Pekalongan dengan tolak ukur yang meliputi manajemen resiko, fungsi dan tujuan manajemen resiko pembiayaan. Bab V merupakan penutup yaitu berisi tentang kesimpulan yang menguraikan secara singkat dan sederhana tentang pembahasan tugas dan saran tentang pelaksanaan strategi manajemen resiko pembiayaan di BNI Syariah cabang Pekalongan.

Proses Analisis Pembiayaan Modal Kerja Syariah


Posted by ahmadifham on December 2, 2010 Dalam melakukan penetapan akad Pembiayaan Modal Kerja Syariah, proses analisis yang dilakukan adalah sebagai berikut: (1) Hal pertama dan utama yang harus dilihat bank adalah jenis proyek yang akan dibiayai tersebut apakah memiliki kontrak atau belum. (2) Jika proyek tersebut memiliki kontrak, faktor berikutnya yang harus dicermati adalah apakah proyek tersebut untuk pembiayaan konstruksi atau pengadaan barang. Jika untuk pembiayaan konstruksi, pembiayaan yang layak diberikan adalah pembiayaan istishna. Namun, jika bukan untuk pembiayaan konstruksi, melainkan pengadaan barang, pembiayaan yang patut diberikan adalah pembiayaan mudharabah. Jika proyek tersebut bukan untuk pembiayaan kontruksi ataupun pengadaan barang, bank tidak layak untuk memberikan pembiayaan. (3) Dalam hal proyek tersebut tidak memiliki kontrak, faktor selanjutnya yang harus dilihat oleh bank adalah apakah proyek tersebut untuk pembelian barang atau penyewaan barang. Jika untuk pembelian barang, hal berikutnya yang harus dilihat adalah apakah barang tersebut berupa ready stock atau goods in process. Jika ready stock, pembiayaan yang dapat diberikan adalah pembiayaan murabahah. Namun, jika bukan ready stock, melainkan goods in process, yang harus dilihat lagi adalah apakah proses barang tersebut memerlukan waktu kurang dari 6 bulan atau lebih. Jika kurang dari 6 bulan, pembiayaan yang diberikan adalah pembiayaan salam. Namun, jika melebihi 6 bulan, pembiayaan yang diberikan adalah pembiayaan istishna. Jika untuk penyewaan barang, pembiayaan yang diberikan bank adalah pembiayaan ijarah.