Anda di halaman 1dari 44

ACARA I KEBUN BENIH

I.1. Kebun Benih Semai (KBS) A. Tujuan Khusus 1. Mampu membedakan karakteristik un-improved stand dan improved stand 2. Mengetahui mekanisme pemilihan pohon plus pada improved stand 3. Mampu memahami perbedaan seleksi fenotipik dan genotipik 4. Mengenal kebun benih semai tusam hasil konversi uji keturunan beserta elemen-elemennya. 5. Mampu mengevaluasi kesehatan kebun benih

B. Landasan Teori Pembangunan hutan pada masa sekarang ini, tidak terlepas dari adanya benih-benih yang unggul dan berkualitas baik. Benih yang bermutu dengan kualitas baik secara fisik dan fisiologis akan meningkatkan efisiensi proses pembuatan semai di persemaian. Sementara benih yang bermutu genetik baik akan meningkatkan produktivitas tegakan yang akan dihasilkan. Berdasarkan urutan kualitasnya, benih bermutu dapat diperoleh dari individu pohon-pohon yang kenampakan fenotipe-nya superior, tegakan baik yang telah diperlakukan dan direkomendasikan sebagai penghasil benih, tegakan benih teridentifikasi, tegakan benih yang dipapankan, tegakan provenans, kebun benih semai dan kebun benih klon (KBK = Clonal Seed Orchard / CSO). Kebun benih semai tusam merupakan salah satu kebun benih pertama yang dipapankan di Indonesia. Kebun benih semai ini merupakan hasil konversi tanaman uji keturunan melalui serangkaian penjarangan genetik (rouging) secara bertahap yang tidak lain merupakan pekerjaan seleksi terhadap famili-famili pohon yang mempunyai kandungan genetik superior. Pemapanan kebun benih semai tusam biasanya melibatkan pekerjaan mulai dari pencarian pohon plus, pemapanan tanaman uji keturunan, seleksi, dan penjarangan genetik bertahap untuk menghilangkan famili-famili yang memperlihatkan fenotipe inferior. Penjarangan genetik akan menghasilkan kondisi dan densitas tegakan yang

berbeda dibanding tegakan biasa. Sistem evaluasi yang diperlakukan sebagai perataan nilai genetik seluruh keturunan yang dilibatkan juga akan menghasilkan fenomena tegakan yang sangat spesifik. Sebaran pohon yang tertinggal secara otomatis akan mempengaruhi mekanisme penyerbukan dan pembuahan pohonpohon terseleksi. Idealnya pohon-pohon tinggal harus merata, sehingga akan terjadi perkawinan random yang mengurangi timbulnya benih hasil perkawinan kerabat (inbreeding) dan perkawinan sendiri (selfing) yang menyebabkan terjadinya penurunan vigor benih dan produktivitas tegakan nantinya. Dalam hal ini diperlukan cara randomisasi tersendiri agar famili-famili keturunan pohon berkerabat tidak tertanam berdekatan.

C. Cara Kerja 1. Pohon plus dan Penampilan un-improved stand a) Mengunjungi petak 37 di RPH Sumberjati. Kemudian menemukan

pohon induk tusam No. 217 yang merupakan hasil pemilihan tahun 1976. Dibuat deskripsi pohon plus yang bersangkutan berdasarkan metode yang berlaku. b) Mengunjungi petak 50d yang merupakan hasil pertanaman un-improve stand tusam tahun 1995. Amatilah PUP yang telah dibuat untuk mendapatkan gambaran kualitas tegakan yang ada. Kemudian dibuat perbandingan dengan pohon plus 217 pada butir 1.a. 2. Pemilihan pohon plus pada Improved stand a) Dikunjungi pertanaman uji keturunan Tusam di petak 36 dan 39. b) Dibuat plot seluas 0.1 ha dan dilakukan deskripsi berdasarkan tabel tersedia untuk mendapatkan gambaran visual antara pohon tinggal uji keturunan dengan un-improved stand yang saudara temui sebelumnya. c) Dipilih pohon yang saudara anggap memperlihatkan fenotipe sangat baik. Lakukan pengamatan sesuai dengan pedoman pemilihan pohon plus yang berlaku. 3. Pemahaman Tanaman Uji Keturunan Uji keturunan merupakan usaha untuk menilai superioritas genetik induk berdasarkan rata-rata penampilan keturunannya. Pada beberapa kasus, seperti

misalnya Tusam di Jember, uji keturunan sering dikonversi menjadi kebun benih semai uji keturunan melalui penjarangan genetik (roguing) secara bertahap setelah melalui analisis yang cukup akurat. a) Berdasarkan file pengamatan yang ada, dipelajari disain percobaan, sebaran famili uji, metode randomisasi dan penempatan famili beserta individu pohon penyusunnya; b) Dikenali variasi yang tampak di antara famili uji. Ingat semakin besar tingkat variasi yang dapat dikenali, bobot pertanaman uji akan semakin baik; c) Dikenali bentuk pemeliharaan agar keseragaman lingkungan tetap dapat dipertahankan. Mungkinkah bias pengamatan dapat muncul dari bentuk pemeliharaan yang tidak seragam semacam ini ? 4. Seleksi dan Konversi Uji Keturunan a. Diperhatikan pohon-pohon ranking yang ada di area kebun benih semai terutama tanda lingkaran 1, 2, dan 3 pada pohon. Dicatat kedudukan pohon-pohon tersebut pada kertas milimeter blok yang dibagikan. Dibuat deskripsi pohon-pohon tersebut dari sisi fenotipe, densitas per satuan luas, dan penyebarannya. b. Diperhatikan pohon-pohon yang berlingkaran kuning. Dengan cara yang sama dibuat deskripsi fenotipe untuk pohon yang bersangkutan. Selanjutnya dikaji hasil deskripsi tersebut dengan pohon hasil pengamatan sebelumnya (1). c. Berdasarkan data pengamatan diatas, kita akan mendapatkan gambaran tentang pohon produk seleksi fenoyipe dan seleksi genetik. Kemudian didiskusikan pengertian seleksi fenotipik dan seleksi genetik yang tersirat pada pohon-pohon didalam kebun benih tersebut. d. Berdasarkan gambaran tersebut, dibuat uraian sepintas tentang kelemahan dan kelebihan kebun benih semai hasil konversi terhadap struktur kebun benih yang ideal menurtut imajinasi kita.

D. Hasil Pengamatan Tabel 1.1. Penilaian pohon plus Pinus merkusii pohon 217 dengan Pohon Pembanding
Karakteristik pembanding Dimensi pohon Keliling setinggi dada (cm) Tinggi total pohon (m) Cabang permanen (m) Batang bebas cabang (m) Batang lurus (m) Batang silindris (m) Kualitas fisik pohon Sudut percabangan Cabang epichormic Pohon menggarpu (fork) Fenomena foxtail Aspek reproduksi Kelimpahan bunga Kelimpahan buah Aspek kesehatan Bekas penggerek daun Bekas penggerek batang Bekas penyakit Batang growong Adanya knop batang 235 30 23 16 11 30 157 20 14 10 6 17 90 tidak tidak tidak sedikit sedang tidak ada tidak tidak tidak 151 20 14 12 8 18 90 ada tidak tidak sedang sedang tidak tidak jamur tidak ada 139 22 14 12 7 18 90 tidak tidak tidak sedikit sedikit tidak tidak tidak tidak tidak 158 24 19 14 3 20 90 tidak tidak tidak sedikit sedikit tidak ada jamur tidak tidak 135 18 13 13 13 13 90 tidak ada tidak sedikit sedikit tidak tidak tidak tidak tidak 148 20.8 14.8 12.2 7.4 17.2 0.63 0.7 0.64 0.7625 0.67 0.57 Aktual 1 Pohon Pembanding 2 3 4 5 Rerata Rasio PP

Tabel 1.2. Perbandingan pohon plus 217 dengan unimprove stand Karakteristik diameter (cm) Total tinggi pohon (m) *Cabang permanen (m) *Batang bebas cabang (m) *Batang lurus (m) *Batang silindris (m) Sudut percabangan Cabang Epichormic Pohon menggarpu (fork) Fenomena foxtail Pohon Plus 217 49 tahun 74.84 30 23 16 11 30 70-90 50d KU TUA 79.39 21.21

10.56

Kelimpahan bunga Kuantitas buah Bekas penggerek daun Bekas penggerek batang Bekas penyakit Batang growong Adanya knob batang

Banyak Banyak -

Tabel 1.3. Perbedaan Pohon Plus pada Petak 37, 39 dan 36


Karaketristik Keliling setinggi dada (cm) Total tinggi pohon (m) Cabang permanen (m) Batang bebas cabang (m) Batang lurus (m) Batang silindris (m) Petak 37 235 30 23 16 11 30 Petak 39 204.83 24.67 15 10.33 19 21.33 Petak 36 159 19.67 11 9.33 12.67 19,6

PERBANDINGAN KARAKTERISTIK PETAK 37 VS PETAK 39 VS PETAK 36


nilai karakteristik 250 200 150 100 50 0

petak 37 petak 39 petak 36

karakteristik

Gambar 1.1. Perbandingan Karakteristik Petak 37 Vs Petak 39 Vs Petak 36

Tabel 1.4. Perbandingan Pohon Plus 217 Dengan Improve Stand


karakteristik keliling setinggi dada (cm) total tinggi pohon (m) cabang permanen (m) batang bebas cabang (m) batang lurus (m) batang silindris (m) kualitas fisik pohon sudut percabangan (0) cabang epichormic batang menggarpu (fork) fenomena fox tail aspek reproduksi kelimpahan bunga kuantitas buah Pohon Plus 217 235 30 23 16 11 30 Tegakan Improved Tahap 2 Tahap 4 Tahap 6 176 192.5 144 19 18 23 8 14 18 6 6 17 12 10 23 19 8 23 45 tidak tidak tidak 90 tidak tidak tidak melimpah melimpah 75 x x x M M

S S

Tabel 1.5. Perbandingan pohon ring


Parameter Keliling (cm) Diameter(cm) Tinggi total(m) TBBC(m) Batang Lurus(m) Ring 1 Ring 2 Ring 3 173.67 168.92 184.37 55.31 53.80 58.72 22.80 22.83 24.25 6.37 10.52 7.89 12.95 17.80 12.81

Perbandingan Tinggi, TBBC, dan Batang Lurus pada RING 1,2,3


Tinggi total(m) 22.80 12.95 6.37 TBBC(m) 22.83 17.80 10.52 12.81 7.89 Batang Lurus(m) 24.25

Ring 1

Ring 2 Ring 3

Gambar 1.2. Perbandingan Tinggi, TBBC, dan Batang Lurus pada RING 1,2,3

Perbandingan Keliling dan Diameter pada Ring 1, 2, dan 3


Keliling (cm) Diameter(cm) 184.37

173.67

168.92

55.31

53.80

58.72

Ring 1

Ring 2

Ring 3

Gambar 1.3: Perbandingan Keliling dan Diameter pada Ring 1, 2, dan 3

Hubungan Kedalaman dan Tinggi Sadapan terhadap Jumlah Pohon yang Patah
10.00 rata-rata kedalaman 8.00 6.00 4.00 2.00 0.00 petak 38 petak 37 rata-rata tinggi sadapan jumlah yang patah jumlah patah dengan sadapan rel

Gambar 1.4. Hubungan Kedalaman dan Tinggi Sadapan Terhadap Jumlah Pohon yang Patah

Gambar 1.4. Kenampakan Pohon Plus nomer 217 pada Petak 37,Sempolan

Gambar 1.5. Kondisi Tegakan pada Petak 37 (tegakan unimproved)

Gambar 1.6. Kondisi Tegakan pada Petak 39 (Tegakan improved)

Gambar 1.7. Kenampakan Pohon-Pohon Ber-Ring

Gambar 1.8. Kondisi Petak 37 yang Terdapat Banyak Pohon Patah Akibat Angin

E. Pembahasan Pohon Plus No 217 merupakan pohon plus yang ditanam pada tahun 1963. Pohon tersebut dipilih karena pada saat itu kelas produksi pinus masih kelas produksi kayu, sehingga kriteria yang dibutuhkan adalah yang diameter besar, tinggi dan tbbc nya tinggi, serta kelurusan batang yang tinggi. Namun sejak pergantian kelas produksi pinus dari kayu ke getah, pemuliaan terhadap pohon plus dengan kriteria tersebut tidak terlalu digunakan lagi. Karena kenampakan superior tersebut tidak menjamin produksi getah yang tinggi, sehingga hingga saat ini pun masih dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap hubungan kenampakan morfologi pinus terhadap hasl getahnya. Dari hasil pengamatan di lapangan pohon plus no 217 memiliki kenampakan yang sangat dominan dengan pohon-pohon pembanding yang telah diamati. Terlihat dari keliling pohon plus yang mencapai 235 cm, sementara pohon-pohon pembandingnya rata-ratanya hanya 148 cm. Hal tersebut sebenarnya tidak dapat dibandingkan karena umur pohon plus dengan pohon-pohon di sekitarnya tidaklah sama. Pohon-sekitarnya yang dijadikan pohon pembanding merupakan hasil tanaman tahun 1983. Dan diperuntukkan untuk percobaan sadapan dengan bentuk sadapan rel, hanya saja tidak menghasilkan banyak getah

10

sehingga dilakukan kembali sadapan dengan cara koakan. Dari perbandingan pohon plus dengan petak 50 D yakni keadaanya pohon plus No 217 lebih tinggi dan tbbcnya tinggi. Hal tersebut dimungkinkan olehh kondisi tapak yang berbeda sert akondisi lingkungan di dalamnya. Pada petak 50 D cahaya matahari yang masuk lebih banyak dibanding dengan petak 37. Dibandingkan dengan petak yang telah termuliakan pun, pohon plus pada oetak 37 masih lebihh unggul, terlihat dari grafik yang menunjukkan dari segi keliling, tinggi, ttbc, serta ke-silindrisan batang pada petak 37 lebh unggul dibanding pada petak 36 dan 39 yang merupakan tegakan yang termuliakan yakni KBS. Hal tersebut sebenarnya kembali tidak dapat dibandingkan karena kembali pada tujuan pohon plus tersebut. Pada petak 37 pohon plus yang dipilih bertujuan untuk pemuliaan bentuk untuk produksi kayu, sedangkan pada petak 36 dan 39 pohon plus yang dipilih bertujuan sebagai KBS, pengahasil benih yang berkualitas. Tentu saja selain kenampakan pohon yang superior tetapi juga dibutuhkan banyak percabangan agar buah yang diproduksi maksimal. Pada tegakan termuliakan, didapati pohon-pohon ber-ring yang merupakan tanda identitas pohon. Tujuan kali ini yakni untuk mengetahui perbedaan morfologis pada tiap-tiap ring. Dari rata-rata ring didapatkan hasil bahwa pohon dengan ring 3 memiliki rata-rata baik keliling, tinggi dan tbbc yang tinggi. Pohon dengan ring 1, 2, dan 3 mampu menghasilkan bunga dan buah yang dapat digunakan sebagai sumber benih karena memiliki genotipe yang unggul. Pohon dengan ring 1 merupakan pohon yang memiliki fenotipe yang sesuai untuk kayu pertukangan, pohon dengan ring 2 merupakan famili yang terbaik dalam setiap bloknya sedangkan ring 3 menunjukkan pohon tersebut memiliki fenotipe unggul untuk produksi kayu dan dapat menghasilkan getah yang banyak.

Dari tegakan pada petak 37 teramati pula kerusakan pohon-pohon yang patah akibat bencana yakni Angin Gending. Patahnya pohon-pohon tersebut diakibatkan luka hasil sadapan yang terlalu dalam dan tinggi sehingga mengurangi kekuatan kayu pinus. Ketika ada angin yang menerpa kencang, pohon-pohon tersebut tidak dapat menahan karena proses fisiologis pohon tersebut sedang dalam peremajaan untuk menutup luka, sehingga kekuatan untuk menahan angin

11

berkurang. Dari grafik terlihat bahwa pada petak 37 dengan dua jenis sadapan pada satu pohon menghaslkan jumlah pohon patah lebih banyak. Hal tersebut dikarenakan sadapan dengan rel sulit untuk tertutup lagim tidak seperti koakan, sehingga bagian bawah pohon yang berfungsi sebagai kaki akan menipis, sementara bagian atas tajuk yang besar dan berat harus ditopang dengan kondisi kaki yang kecil. Dari segi keseimbangan lingkungan, penyadapan pinus tersebut sangat merugikan, jumlah pohon patah banyak, dan bukaan lahan akan semakin besar menyebabkan iklim mikro didalamnya terganggu.

F. Kesimpulan 1. Tegakan yang telah mengalami pemapanan (improved stand) memiliki kenampakan fisik yang lebih unggul dibandingkan dengan tegakan Un-Improved 3. Pohon Plus no 217 memiliki fenotipe paling baik di antara tegakan baik improved maupun unimproved. 4. Seleksi fenotipik terlihat pada pohon-pohon yang diberi lingkaran baik ring 1, 2 maupun 3, sedangkan seleksi genotipik terlihat pada setiap treeplot yang berada pada seedlot karena adanya penjarangan genetik (rouging). 5. Patahnya pohon-pohon dalam petak 37 disebabkan oleh adanya 2 model sadapan pada 1 pohon dan kedalaman sadapannya, yang kemudian dipicu oleh adanya angin.

12

I.2. Produksi Benih A. Tujuan Khusus a. Mengetahui operasional kebun benih b. Memahami pengelolaan kebun benih beserta problematikanya c. Mengevaluasi kegiatan pemuliaan pohon yang mendukung program silvikultur intensif Pinus merkusii d. Mampu memprediksi produktivitas kebun benih dan konsumsi operasional permudaan per satuan waktu.

B. Landasan Teori Benih unggul yaitu benih-benih bermutu genetik unggul, telah banyak diyakini hanya dapat dihasilkan oleh individu-individu hasil pemuliaan selektif yang ditujukan untuk memproduksi benih. Sesuai dengan kualitas genetik yang terkandung pada benih atau bibit yang dihasilkan maka ada beberapa sumber benih bermutu, yaitu tegakan benih, KBK, KBS, dan kebun pangkas. KBK diyakini mempunyai kandungan genetik lebih besar dibanding KBS. Produktifitas kebun benih sering diidentifikasi berdasarkan target produksi setiap tahun, randemen benih per buah, dan kualitas benih yang dihasilkan. Perubahan musim erat kaitannya dengan kemampuan pohon untuk memproduksi bunga jantan dan bunga betina. Proses Produksi pasca panen merupakan elemen kerja yang berperan langsung terhadap kualitas fisik dan fisiologis benih, sehingga pada waktu distribusi ke konsumen, kualitas benih dapat dipertahankan. Elemen fisik benih yang berperan langsung terhadap mekanisme fisiologi benih perlu selalu dipantau dengan cara melaksanakan ekstraksi dan sortasi benih dengan benar, penentuan standar kadar air yang diberlakukan, dan penerapan metode pengemasan yang memadai. Idealnya kualitas fisik dan fisiologis benih tidak banyak berkurang sejak benih diunduh sampai ke tangan konsumen untuk siap ditaburkan.

C. Cara Kerja 1. Produktivitas Kebun Benih Mengunjungi kebun benih semai Tusam di petak 36-39 RPH Sumber Jati,

13

BKPH Sempolan, KPH Jember. a. Mempelajari prosedur pengunduhan yang digunakan oleh pengelola dari sebagai dasar untuk memahami pengelolaan sumber-sumber benih di Perum Perhutani; b. Membuat plot berukuran 0,1 ha, kemudian dilakukan penilaian detil dan gambaran kenampakan horisontal dan vertikal menurut blanko yang tersedia. Dibuat pengamatan singkat kemampuan pertumbuhan reproduksi (bunga atau buah) pada saat ini. Dibuat prediksi tentang efisiensi produksi buah pada pohon-pohon di kebun benih tersebut. c. Buah hasil pengunduhan yang tersedia, diambil sampel menurut metodologi yang berlaku. Kemudian dilakukan seleksi buah-buah muda yang terikut pada pengunduhan tersebut. d. Ditimbang total berat buah setelah dikelompokkan berdasar

kemasakannya. Dihitung jumlah buah setiap kg dan diukur panjang, diameter, dan jumlah sisik buah yang tersedia. Pada setiap buah yang sudah terukur, dilakukan pengoncekan. Hitunglah jumlah benih per buah yang dapat diambil pada waktu pengoncekan tersebut (benih bernas yang ter-iris ikut dihitung). Buatlah perhitungan untuk memprediksi rendemen benih per kg buah, per pohon, per pengunduhan. Dilakukan prediksi kerugian produksi buah dikarenakan kesalahan pengunduhan yang dilakukan tersebut (misalnya kehilangan produksi karena buah masih muda). Dilakukan pula pengujian viabilitas benih dengan cutting test, tetrazolium, dan dengan mengecambahkan biji secara langsung. Serta dilakukan pengujian kadar air biji dengan meng-oven biji pada suhu 70o C hingga berat konstan.

14

D. HASIL PENGAMATAN BENIH


Tabel 1.2.1 Produksi Buah di Tegakan Unimproved dan di KBS Sempolan-Jember Tiap Tahap Produksi Produksi Jmlh Produksi buah Total buah per buah dalam TAHAP Kelimpahan Pohon (Kg) PU 1 ha Petak 38 (unimproved) Banyak Sedang Sedikit Petak 37 (unimproved) Banyak Sedang Sedikit Banyak TAHAP 1 Sedang Sedikit Banyak TAHAP2 Sedang Sedikit Banyak TAHAP 3 Sedang Sedikit Banyak TAHAP 4 Sedang Sedikit Banyak TAHAP 5 Sedang Sedikit Banyak TAHAP 6 Sedang Sedikit 12 7 8 4 4 12 5 3 3 3 3 3 7 3 2 3 5 3 4 2 4 3 4 4 KBS 2.1 1.5 0.8 2.7 2.1 1.6 2.05 1.59 1.1 2.3 1.324 1.24 1.79 1.558 0.77 2.114 1.115 0.85 2.37 1.64 0.85 1.262 0.346 0.248 25.2 10.5 6.4 10.8 8.4 19.2 10.25 4.77 3.3 6.9 3.972 3.72 12.53 4.674 1.54 6.342 5.575 2.55 9.48 3.28 3.4 3.786 1.384 0.992 21.51786 344.28576 215.1786 3442.8576 6.162 61.62 16.04 160.4 14.467 144.67 18.744 187.44 14.592 145.92 18.32 183.2 38.4 384 42.1 421

rata-rata 0,1 ha

15

Taksiran Produktivitas Buah per Hektar pada Tiap Tahap pada Tahun 2012
450 400 350 Berat buah 300 250 200 150 100 50 0 61.62 183.2 187.44 161.6 145.92 144.67 421 384 402.5

147.4083333

Gambar 1.2.1 Taksiran Produktivitas Buah per hektar pada Tiap Tahap di Tegakan Improved dan Unimproved BKPH Sempolan, Jember

Kemelimpahan Buah Pinus per PU pada Tiap Tahap


45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 42.1 38.4 18.32 18.744 40.25 Kelimpahan(kg)

14.592

14.467 16.16 6.162

14.74083333

Gambar 1.2.2 Kemelimpahan Produksi Buah Pinus per Petak Ukur di Tegakan unimproved (petak 37 dan 38) dan tegakan improved( KBS Sempolan) Jember pada tahun 2012

16

Tabel 1.2.2. Produktivitas benih yang dihasilkan dari Tegakan Unimproved dan Improved pada BKPH Sempolan Rata-rata Jml Produksi jumlah Kelimpahan Total Sumber Pohon biji (biji) Produksi biji biji per Pengambilan Biji per PU ha Banyak PETAK 38 (UNIMPROVED) Sedang Sedikit Banyak PETAK 37 (UNIMPROVED) Sedang Sedikit Banyak Sedang KBS TAHAP 1 Sedikit Banyak Sedang KBS TAHAP 2 Sedikit Banyak Sedang KBS TAHAP 3 Sedikit Banyak Sedang KBS TAHAP 4 Sedikit Banyak Sedang KBS TAHAP 5 Sedikit Banyak Sedang KBS TAHAP 6 Sedikit 12 7 8 4 4 12 5 3 3 3 3 3 7 3 2 3 5 3 4 2 4 3 4 4 KBS 488 856 99 292 174 84 821 103 525 324 153 92 419 166 46 239 381 136 195 386 191 362 144 319 5856 5992 792 1168 696 1008 4105 309 1575 972 459 276 2933 498 92 717 1905 408 780 772 764 1086 576 1276 4.377.8750 70046 43778.75 700460 2938 29380 2324 23240 3030 30300 3523 35230 1707 17070 5989 59890 2872 28720 12640 126400

rata-rata 0,1 ha

17

Produksi Benih pada Tegakan Improved dan Unimproved BKPH Sempolan,Jember 2012
15000 10000 5000 0

Gambar 1.2.3. Produksi Benih pada Tegakan Improved dan Unimproved BKPH Sempolan, Jember 2012

Produksi Biji (kg) pada Tegakan Improved dan Unimproved BKPH Sempolan,Jember
3.000 2.500 2.000 1.500 1.000 0.500 0.000

Gambar 1.2.4. Produksi Biji (kg) pada Tegakan Improved dan Unimproved BKPH Sempolan,Jember

18

Produksi Buah Periode I


90000 80000 70000 60000 50000 40000 30000 20000 10000 0 84040 81944 58789 36900 28693 28574 5230 2003 2004 2005 2006 2007 Tahun 2008 2009 2010 2011 35,547 16843.6

Buah(kg)

Gambar 1.2.5. Produksi Buah Pinus merkusii Periode I

Produksi Benih Periode I


600 500 Benih (kg) 400 300 200 100 0 2003 2004 2005 2006 2007 2008 29 2009 2010 2011 213 198.9 142.8 213.20 162 92.25 478.77 402.6

Gambar1.2.6 Produksi Behih Pinus merkusii Periode I

19

Produksi Buah Periode II


90000 80000 70000 60000 50000 40000 30000 20000 10000 0 Produksi Buah(kg) 78661 72706 62447 46809 3558835456 12743 4770 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Tahun 43,302
Series1

Grafk 1.2.7. Produksi Buah Pinus merkusii Periode II

Produksi Benih periode II


500 450 400 350 300 250 200 150 100 50 0 431.23 372.1 242.5 189.5 166 74.4 25.5 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Tahun 238 259.80
Series1

Produksi Benih(kg)

Gambar 1.2.8. Produksi Behih Pinus merkusii Periode II

20

Gambar 1.2.9. Produksi Buah Pinus merkusii Periode I dan II

Gambar1.2.10. Produksi Benih Pinus merkusii Periode I dan II

21

Produksi Buah Total Tahun 2003-2011


180000 160000 140000 120000 100000 80000 60000 40000 20000 0 160605 156746 121236 72488 64149 75383 78,849 Produksi buah(kg)

Series1

29586.6 10000 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Tahun

Gambar 1.2.11. Produksi Total Buah Pinus merkusii Tahun 2003-2011 KBS Sempolan, Jember

Produksi Benih Total Tahun 20032011


1000 Produksi Benih(kg) 910 800 600 400 200 0 Tahun 54.5 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 455.5 391.4 310.8 400 184.1 473.00
Series1

774.7

Gambar 1.2.12. Produksi Total Benih Pinus merkusii Tahun 2003-2011 KBS Sempolan, Jember

22

Rendemen Buah Pinus Tahun 20032011


0.800 0.700 0.600 0.500 0.400 0.300 0.200 0.100 0.000 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 0.360 0.540 0.460 0.580 0.480 0.530 0.545 0.730 0.599

Series1

Gambar 1.2.13. Rendemen Buah Pinus Tahun 2003-2011

Gambar 1.2.13. Pengunduhan Buah Secara Manual yang Dilakukan oleh Perhutani

E. Pembahasan Sumber benih adalah suatu individu atau tegakan baik yang tumbuh secara alami (hutan alam) ataupun yang ditanam (hutan tanaman) yang digunakan (ditunjuk, dibangun dan dikelola sebagai sumber benih). Kebun benih

23

semai adalah sumber benih yang dibangun dengan benih yang berasal dari pohon plus. Kebun benih semia yang diamati yakni petak 36 dan petak 39 pada areal Kebun Benih Semai BKPH Sempolan, pohon-pohon plus di dalamnya berasal dari pohon plus yang dikumpulkan dari sleuruh Indonesia dan dibangun kebun benih semainya di tigatempat yakni Sempolan, Baturaden, dan Sumedang melalui program pemuliaan yang telah melewati proses pemapanan dan penjarangan genetik (rouging). Tusam termasuk jenis tanaman yang berbunga sepanjang tahun. Sehingga dalam satu pohon bisa terdapat beberapa tingkat kemasakan buah. Untuk memperoleh buah yang masak dan tidak tercampur dengan buah dari pohon induk lain, maka penggunduhan buah paling baik dilakukan dengan pemanjatan langsung. Namun memang kekurangan teknik teresbut sangat berbahaya dan ahanya bisa dilakukan oleh pemanjat ahli, selain itu saat bulan-bulan hujan tidak bisa dilakukan pengunduhan dikarenakan pohon terlalu licin untuk dipanjat. Buah yang diunduh adalahbuah dengan kematanagan sedang dan matang, karena buah mud atidak akan diproses, hal tersebut karena buah uda bijinya belum matang sempurna dan memiliki iabilitas yang rendah. Dari hasil pengunduhan buah pada maisng-masing tahap KBS, yang menghasilkan produktivitas buah paling banyak yakni pada KBS tahap 3.

Sementara pada tegakan unimprved yang diunduh memiliki hasil yang jauh lebih banyak lebih dari 2 kali lipat dari hasil di KBS. Hal tersebut bertentanaan dengan teori yang seharusnya bahwa produktivitas di KBS seharusnya lebih banyak dari tegakan biasa. Hal ini disebabkan keterbatasan pengunduh. Unduhan yang dihasilkan oleh masing-maisng pengunduh berbeda tergantung prestasi kerjanya. Dari hasil buah yang diunduh dilakukan pemeraman dengna cara dianginanginkan atau dijemur dibawah matahari untuk mengeringkan buah dan memudahkan dalam pengeluaran benihnya. Buah dengan tingak kematangan sedang-tinggi akan mekar saat dijemur dan biji akan jatuh dnegan sendirinya. Setelah diperam pengekstraksian biji dilakukan dengan cara membelah buah dan mengeluarkan biji-bijinya. Dari grafik menunjukkan produksi buah yang tinggi berbandng lurus dengan benih yang dihaslkan, namun terkecual pada petak 37 diaman produksi buahnya tinggi namun benih yang dihasilkan sangat rendah. Hal

24

tersebut dikarenakan banyaknya sisik infertil pada buah ditambah dengan kerusakan benih pada saat di ekstraksi dari buah. dari situ hasil biji yang dihasilkan dikonversi dalam satuan kg, untuk mempermudah satuan. Umumnya 1 kg biji pinus berisi 45.000 butir biji. Pengunduhan buah dilakukan sepanjang tahun mulai Maret-November dengan tiap bulan dilakukan 2 kali periode pengunduhan. Dari grafik produksi buah periode I selama 9 tahun yakni 2003-2011, terlihat tren yang berfluktuatif, dimana dari 2003-2005 produksi buah cenderung menurun, kemudian menanjak tajam di tahun 2006 dan 2007, kemudian trennya kembali menurun hingga tahun 2009, dan menanjak perlahan hingga ke tahun 2011. Produksi buah yang berfluktuatif tersebut dikarenakan proses pembuahan yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan seperti kekurangan air akan merangsang tanaman untuk segera mempercepat proses pembungaan sehingga proses pembuahan bunga betina lebih cepat. Sementara kondisi lingkungan dengan curah hujan yang tinggi akan menunda proses pembungaan. Kondisi cuaca dengan curah hujan yang tinggi juga akan meluruhkan tepung sari jantan sehingga tidak dapat sampai ke kepala putik untuk melakukan proses pembuahan, sehingga buah tidak terbentuk. Produksi buah pinus baik pada periode I maupun II menunjukkan tren yang serupa. Produksi buah tertinggi pada periode I terjadi pada tahun 2006 yakni mencapai angka 84040 kg buah dan pada periode II dicapai pada tahun 2007 yakni 78661 kg , sementara produksi terendah pad terjadi pada tahun 2009 yakni 5230 kg buah. Rendahnya produksi buah ini disebabkan pada tahun 2009 terjadi anomali alam yakni terjainya la-nina yakni fenomena hujan sepanjang tahun yang

menyebabkan jatuhnya produksi buah pinus , selain itu kondisi hujan yang terus menerus juga menyulitkan proses pengunduhan buah. Hal tersebut dikarenakan teknik pengunduhan yang dilakukan oleh perhutani masih menggunakan teknik manual yakni dengan pemanjatan. Dari hasil pengunduhan buah, kemudian dilakukan ekstraksi buah untuk mengeluaran biji dari sisiknya. Dari grafik dapat dilihat bahwa jumlah produksi benih berbanding lurus dengan produksi buah. Terkecuali pada tahun 2003 dan 2007 dimana produksi buahnya tinggi, namun benih yang dihasilkan tidak

25

sebanding. Hal tersebut dapat dikarenakan banyaknya sisik infertil atau banyaknya benih yang rusak saat proses ekstraksi. Dari data perbandingan produksi buah antara periode I dan II dari tiap-tiap tahun terlihat perbedaan hasil unduhan buahnya tidak terlalu signifikan besarnya kecuali pada tahun 2008 dimana terlihat ada selisih yang besar dari hasil panen anatar periode I dan II, hal tersebut dikarenakan pada bulan april 2008 periode I tidak dilakukan pengunduhan buah, sehingga rata-rata produksi selama setahun pada periode I menjadi menurun. Produksi buah total selama tahun 2003-2011 memiliki tren yang sama dengan produksi per-periode, dengan nilai produksi total tertinggi pada tahun 2007 yakni 160605kg buah, dan produksi total terendah yakni 10000kg buah pada tahun 2009. Rata-rata rendemen benih yang dihasilkan dari pengunduhan buah pinus dari tahun 2003-2011 yakni 0.53 % yang artinya tiap 1 kg buah yang diunduh akan menghasilkan benih 0.0053 kg. Hasil rendemen paling baik yakni pada tahun 2010, yaki rendemen bijinya 0.730%. semakin baik rendemen yang dihasilkan maka semakin banyak benih bermutu yang didapat dari hasil pengunduhan. Dari grafik yang dipaparkan, rendemen benih pinus tiap tahunnya dari tahun 20032011 berfluktuatif dengan range 0.3-0.7 %. Pada tahun 2009 dimana produksi buah yang sangat sedikit, namun dari grafik , rendemennya cukup sama dengan rendemen dari tahun 2008 yang produktivitas buahnya lebih besar. Perhitungan hasil produksi buah dan benih tiap tahunnya penting untuk selalu didokumentasikan untuk mengetahui perubahan hasil produksi benih yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang tidak dapat diprediksi . Sehingga pada pengelolaan yang akan datang dapat ditaksir cost yang dibutuhkan pada tiap pengunduhan serta juga dapat ditaksir nilai hasil yang diperoleh dari pengunduhan.

26

F. Kesimpulan 1. Pengunduhan benih Pinus di kebun benih semai dilaksanakan pada bulan April sampai November yaitu pada musim kemarau 2. Pengunduhan buah dilakukan dengan cara dipanjat secara langsung oleh tenaga pemanjat yang berasal dari desa setempat 3. Kebun Benih Semai Sumberjati Sempolan Jember merupakan hasil program pemuliaan yang telah melalui tahapan pemapanan sehingga dapat menghasilkan benih berkualitas 4. Produksi buah pada kebun benih ini sebesar 147.4 kg dan kelimpahan biji sebesar 14.74 kg dengan rendemen sebesar 0.0599 kg benih/kg buah.

27

I.3. Pengujian dan Penanganan Benih A. Tujuan Khusus 1. Memahami proses ekstraksi dan penanganan benih 2. Memahami lalu lintas benih 3. Mampu membedakan benih yang sehat dan tidak sehat

B. Landasan Teori Proses produksi pasca panen merupakan elemen kerja yang berperan langsung terhaap kualitas fisik, fisiologis, dan kesehatan benih, sehingga pada waktu distribusi ke konsumen kualitas benih dapat dipertahankan. Elemen fisik benih yang berperan langsung terhadap mekanisme fisiologis benih perlu selalu dipantau dengan cara melaksanakan ekstraksi dan sortasi benih secara benar, penentuan kadar air yang diberlakukan dan penerapan metode pengemasan yang memadai, sangat diperlukan. Idealnya kualitas fisik dan fisiologis benih tidak banyak berkurang sejak benih diunduh samapi ke tangan konsumen untuk siap ditabur.

C. Cara Kerja 1. Pemrosesan Benih Dalam pemprosesan benih ada 4 (empat) jenis kegiatan, yaitu: a. Sortasi. Timbanglah seluruh benih yang saudara peroleh berdasarkan kemasakannya. Buatlah sortasi untuk memilahkan benih-benih yang rusak dan cacat. Sekali lagi timbanglah benih yang tersisa; b. Cutting Test. Dari (seperempat bagian) total berat benih yang diperoleh, lakukan cutting test agar saudara dapat memahami bagian-bagian benih yang tidak sempurna. Hitung dan timbanglah jumlah benih bernas. c. Kadar Air. Dari (seperempat bagian) total berat benih yang lain ukurlah kadar air dengan peralatan yang tersedia. Catatlah data yang saudara peroleh dan kompilasikan dengan regu yang lain; d. Pengeringan. Benih yang tersisa kemudian dikeringkan pada tempat yang sudah disediakan. Diukur kadar air setiap satu atau dua hari, sehingga

28

akan dapat diperoleh trend pengurangan kadar air pada waktu pengeringan berlangsung. 2. Pengemasan dan Penyimpanan Benih Dikunjungi tempat pemrosesan buah yang ada di RPH Sumberjati dan Mini DCS (Dry Cold Storage) yang ada di Persemaian Permanen Garahan, selanjutnya didapatkan informasi berkenaan dengan : a. Mekanisme ekstraksi benih, sortasi benih, monitoring kadar air benih, tata cara pengemasan benih, dan pelabelan benih; b. Mekanisme penyimpanan benih, standar lingkungan penyimpan benih, serta pekerjaan-pekerjaan lain yang menunjang teknologi benih paska panen; Pengujian atau pendataan sumber benih untuk melengkapi labelisasi atau sertifikasi benih yang telah dilakukan untuk menunjang informasi lalu lintas benih dalam KPH atau lintas KPH/Unit; c. Perhatikan bentuk dan cara pengemasan benih yang tersedia di DCS. Demikian juga perhatikan warna benih yang ada dalam kemasan. Timbanglah ulang untuk mendapat kepastian bobot benih setiap kemasan yang tersedia; d. Perhatikan kondisi fisik DCS. Catatlah data spesifikasi DCS, kelembaban relatif, suhu, dan kondisi di luar DCS. Catatlah kapasitas DCS dan buatlah analisis dengan kapasitas produksi benih yang tersedia untuk KPH Jember; e. Peruntukan untuk memenuhi kebutuhan benih lokal (kg/ha, kg/th, atau %) pada tingkat antar BKPH - dalam KPH yang bersangkutan; Pengiriman benih lintas KPH atau Unit (kg/ha, kg/th, atau %) untuk mendeteksi zonasi benih berdasarkan tapak penanaman; f. Sebagai komparasi produksi benih aktual kebun benih yang bersangkutan, carilah informasi lalu lintas benih 5 - 10 tahun terakhir untuk mendata konsumen benih Tusam.

29

D. Hasil Pengamatan 1. Pemrosesan Benih

Tabel 1.3.1 Pengamatan Buah dan Benih Pinus merkusii hasil unduhan Tingkat Panjang Diameter Jumlah Kemasakan Buah (cm) (cm) Sisik Biji isi Muda 6.97 2.10 53 10 Sedang 7.30 4.56 57 10 Tua 6.62 10.31 53 7

Biji kosong 2 1 2

Perbandingan panjang buah


7.50 Panjang 7.00 6.50 6.00 Muda Sedang Umur Tua 6.97 7.30 6.62

Gambar 1.3.1. Perbandingan Panjang Buah Pinus menurut Kematangan Buah

Perbandingan diameter buah


15.00 Diameter 10.00 5.00 0.00 2.10 Muda 10.31 4.56 Sedang Umur Tua

Gambar 1.3.2. Perbandingan Diametre Buah Pinus menurut Kematangan Buah

30

Perbandingan Jumlah Sisik


58 Jumlah sisik 56 54 52 50 Muda Sedang Umur Tua 53 57 53

Gambar 1.3.3. Perbandingan Jumlah Sisik Buah Pinus menurut Kematangan Buah

Perbandingan Jumlah Biji Isi


10 8 6 4 2 0 Jumlah biji isi

10

10

Muda

Sedang Umur

Tua

Gambar 1.3.4. Perbandingan Jumlah Biji Isi Pinus menurut Kematangan Buah

Perbandingan jumlah biji kosong


Jumlah biji kosong 3 2 2 1 1 0 Muda Sedang Umur Tua 2 2 1

Gambar 1.3.5. Perbandingan Jumlah Biji Kosong Buah Pinus menurut Kematangan Buah

31

Perbandingan Jumlah Sisik Fertil dengan Isi Sisik Pada tiap Posisi Tajuk
180 160 140 120 100 80 60 40 20 0

Jumlah

Sisik Fertil Isi Sisik

Gambar 1.3.6 Perbandingan Jumlah Sisik Fertil dengan Isi Sisik pada Buah Pinus merkusii

Hasil Uji Cutting Test


100.00 Biji yang Baik(%) 80.00 60.00 40.00 20.00 0.00 Petak Petak Tahap Tahap Tahap Tahap Tahap Tahap 38 37 1 2 3 4 5 6 69.55 84.26 64.21 54.72 62.66 64.84 52.18 31.28

Gambar 1.3.7. Hasil Pengujian Biji dengan Cutting Test

Hasil Uji Tetrazolium(%)


100.00 Biji yang baik(%) 80.00 60.00 40.00 20.00 0.00 Petak Petak Tahap Tahap Tahap Tahap Tahap Tahap 38 37 1 2 3 4 5 6 87.41 79.71 62.12 51.07 75.93 85.97 56.60 45.23

Gambar 1.3.8 Hasil Uji Tetrazolium

32

Kadar Air(%)
60 50 40 30 20 10 0 54.365 40.92 33.34 21.26 15.52 55.92 34.93 24.76 kadar air(%)

Gambar 1.3.9. Hasil Uji Kadar Air Biji

Gambar 1.3.10. Buah Pinus yang Sudah Mekar

33

Gambar 1.3.11. Buah Pinus yang Telah di Peram, Buah Yang Tua akan Mekar sementara Buah Muda tetap Menutup

Gamabr 1.3.12. Biji dipisahkan dari Sayapnya

34

Gambar 1.3.13. Ekstraksi Biji dengan Cara Dibelah Sehingga Banyak Biji yang Terbelah

35

Benih yang dari KBS salah satunya digunakan sebagai penelitian oleh Puslitbang

Perbandingan rata pertumbuhan semai


8

7
6 tinggi (cm) 5 4 3 2 1 0 kontrol e g k c f i b d h j l n p Kontrol Hijau peram Peram coklat coklat peram Coklat belah Coklat peram Coklat belah Hijau peram hijau peram Hijau belah Hijau belah Cokat belah Hijau belah m o q a

Perlakuan

Kontrol

Perlakuan

Kontrol perlakuan

Tanpa perlakuan

Gambar 1.3.14. Rata-rata Tinggi Semai Berdasar Warna Biji dan Cara Pengekstraksian

36

(Persen (%) 10 20 30 40 60 70 80 90

50

100

0 Cokat belah Hijau belah coklat peram hijau peram kontrol Peram coklat Hijau belah Coklat belah Hijau peram Coklat peram Hijau belah Coklat belah Hijau peram Kontrol a perlakuan b c d e f g h i j k l m n o p q

Perbandingan persen hidup semai

Gambar 1.3.15. Rata-rata Persen Hidup Semai Berdasar Warna Biji dan Cara Pengekstraksian

37

perbandingan rata pertumbuhan tinggi


6 (Tinggi(cm) 4 2 0 tanpa naungan naungan

Gambar 1.3.16. Perbandingan Rerta pertumbuhan Tinggi semai antara yang ternaungi dan tidak

persen hidup semai


90 88 (Persen(%) 86 84 82 80 tanpa naungan naungan

Gambar 1.3.17. Persen Hidup Semai pada lokasi ternaungi dan tidak

perbandingan persen hidup semai


90 persen (%) 85 80 75 2 4 umur (bulan) 6

Gambar 1.3.18. Persen Hidup Semai Berdasarkan Umur Semai

38

Gambar 1.3.19. Salah Satu Bedeng Penelitian Biji Pinus yang berasal dari KBS

Gambar 1.3.20. Bibit Pinus yang Telah Berumur 2 Bulan

2.

Pengemasan, Penyimpanan, dan Lalu Lintas Benih

a) Ekstraksi Benih Buah diperam setelah diunduh (afterrippening). Buah dikelompokkan berdasarkan tingkat kemasakan. Buah dijemur di bawah sinar matahari. Sisik buah terbuka dan biji keluar dari sisik.

39

Sayap yang masih menempel pada biji dipisahkan menggunakan mesin blower.

b) Sortasi Benih Biji yang telah diekstraksi disortasi Biji disortasi secara manual dengan memisahkan biji kosong dengan biji isi. Biji dikupas memiliki kadar air 15 16 % Biji berasal dari penjemuran memiliki kadar air 13% Monitoring selama 3 5 hari dan dilakukan 5 jam per hari. Kadar air benih pinus yang disimpan <10% Benih yang kadar airnya telah konstan dimasukkan ke dalam DCS dengan suhu 2 5oC. d) Pelabelan benih Penentuan pelabelan dilakukan berdasarkan hasil uji daya kecambah. Biji berasal dari kebun benih semai sempolan sudah tersertifikasi sesuai dengan tujuan produksi batang dan getah. e) Penyimpanan Benih Benih disimpan pada suhu 4oC dan kelembaban 40%. Benih dikemas pada plastik kedap udara. Cara pengemasan dibuat per lembar dan dirangkai. Warna benih dalam kemasan berwarna coklat dan memilki bintik. Kendala penyimpanan benih. Tidak adanya jenset sebagai pengganti aliran listrik PLN karena jika listrik mati DCS ikut mati dan berakibat pada mutu benih. Bila suhu DCS naik dapat mengakibatkan turunnya viabilitas benih yang disimpan. Transportasi benih kurang didukung dengan fasilitas yang memadai seperti tidak adanya box yang menjaga suhu lingkungan biji tetap dingin saat diangkut. f) Kondisi Fisik DCS Kelembaban Relatif 52% Suhu 2oC Kapasitas DCS 1,5 ton benih Daya listrik DCS 5000 watt.

c) Monitoring Kadar Air

40

Tabel 1.9. Transportasi benih


Bulan no tanggal KPH Maret 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 28-Nop-11 28-Okt-11 29-Nop-11 09-Des-11 14-Des-11 14-Des-11 19-Des-11 19-Des-11 23-Des-11 23-Des-11 27-Des-11 27-Des-11 27-Des-11 29-Des-11 30-Des-11 puslit cepu puslit cepu unit III kediri lawu ds pasuruan blitar probolinggo banyuwangi utara banyuwangi barat jember unit III unit III malang bondowoso 42.1 26.98 11.04 2 April 88.2 73.9 10 2 Mei 88.3 71.74 10 2.69 Juni 56.1 36.6 10 4 Juli 19.2 2.2 10 3 Agustus 27.8 8.7 10 5 September Oktober 47.8 0.5 27.69 10 5 67.1 13.19 8.86 3.42 0.23 1.66 25.36 1.45 1.55 0.78 8.47 2.1 2.3 0.75 1.67 86.85 1.45 2 54.6 1.45 2 17.2 1.94 25.7 2.04 2 2 0.68 46.2 1.54 0.52 0.85 66.4 0.7 keterangan jumlah 2000 br/ Nov bln/ 1 bln/ unduhan 20 36.4 41.02 514.02 pohon 0.5 41.02 304 79.9 27.11 0.23 1.66 25.69 stock 2010 1.45 1.55 0.78 31.53 40 bocor getah 5 10.191 1.53 31.59 41.02 500.09 0.88 10 bocor getah

0.33

jumlah benih pinus yang dikirim stock benih pinus m bocor getah di dcs sempolan stock benih pinus m di dcs sempolan

42.1

88.2

3.93

3.93 rutin
41

E. Pembahasan

Perlakuan selanjutnya yakni menguji viabilitas benih yang dihasilkan KBS dengan uji berbagai macam uji. Berdasarkan data kemasakan buah, buah dengan kemasakan sedang memilki sisik fertil lebih banyak, dikarenakan ukuran buah yang lebih besar dibandingkan buah muda dan tua. Berdasarkan pengambilannya pohon melimpah banyak dengan pengambilan pada tajuk atas memilki jumlah sisik fertil paling banyak. Dari grafik perbandingan jumlah sisik fertil dengan biji yang terdapat didalamnya didapatkan grafik yang tidak terlalu signifikan, teorinya adalah 1 sisik fertil berisi 2 biji, namun kenyataannya adalah dari sisik-sisk fertil hanya didapatkan 1 biji, jarang yang berisi 2 biji, ditambah lagi dengan keruskan biji saat pembelahan buah. Dari hasil uji cutting test, biji dari tahap 4 memilki haisl paling baik. Yakni warna embrio yang kekuningan dan bebas jamur atau rusak. Dari hasil uji tetrazolium, biji yang paling baik juga yang berasal dari tahap 4. Uji tetrazolium yakni merendam bij-biji yang telah dibelah untuk kemudian diamati embrio biji yang akan berubah warna menjadi merah. Warna merah menunjukkan kandungan enzim di dalam biji, semakin banyak kandungan enzim makan perubahan warna merah akan lebih cepat. Diketahui kadar air biji paling besar yakni hingga 55,92% yakni pada KBS tahap 4, perbedaan produktifitas anatar tahap bisa disebabkan oleh genetik pohon, ataupun faktor lingkungan, pohon yang berada di tengah atau bagian dalam lebih sedikit menghasilkan buah karena tajukny atertutup dan bersentuhan dengan tajuk pohon lain. Setelah diunduh buah selanjutnya akan dikirim ke Kantor DCS untuk mendapatkan perlakuan selanjutnya. Perlakuan pertama yakni buah disortasi berdasarkan kemasakannya, buah dengan kemasakan muda akan dibuang karena tidak akan membuka ketika diperam. Untuk itu perlu ketelitian bagi pengunduh untuk memilah-milah buah yang muda sebelum diunduh. Kemudian buah di peram dengan dijemur selama 3 hari dalam kondisi cerah untuk membiarkan buah mekar, dengan begitu biji-biji akan keluar dengan sendirinya. Cara lainnya yakni dnegan memasukkan ke dlaam ruangan blower, biji-biji ringan yang tidak bernas akan terseleksi dengan sendirinya. Setelah itu biji disortasi dan ditimbang beratnya. Beberapa biji akan dikecambahkan untuk keperluan penelitian Puslitbang. Kemudian biji yang telah diekstraksi disimpan di dalam ruanagan DCS (DryCold Storage) dengan suhu dan kelembaban tertentu untuk menjaga viabilitas benih agar tahan lama. Dari hasil pengamatan pada bedeng penelitian di DCS, penelitian didasarkan pada warna buah dan cara pemeraman serta pengekstraksian. Dari rata-rata pertumbuhan tinggi
42

semai yang berumur kurang lebih dua bulan yang menghasilkan hasil paling baik yakni dari buah yang berwarna hijau dan pengekstraksannya dengan cara dibelah. Sementara buah-buah tanpa perlakuan, memilki rata-rata pertumbuhan dua kali leboh rendah daripada yang diperi perlakuan pendahuluan Kebalikannya untuk persen hidup semai paling tinggi didapat dari biji-biji yang diambil dari buah yang tidak diberi perlakuan. Sementara perlakuan belah untuk buah berwarna hijau yang memilki rata-rata pertumbuhnan tinggi tersebut persen hidupnya paling rendah. Di bagian belakang DCS juga ada bedeng yang diberi naungan, bedeng tersebut berumur 2 minggu, dari persen hidupnya terlihat lebih tinggi yang berada di bawah naungan. Hal tersebut dikarenakan semai yang masih berumur muda kondisinya masih rentan terhadap kondisi lingkungan yang ekstrim seperti hujan, angin, cahaya matahari. Transportasi benih yakni pendistribusian benih dari tempat penyimpanan ketempat-tempat yang membutuhkan. Hasil produksi Kbs Sempolan didistribusikan antara lain ke Puslitbang Cepu, Unit III, Kediri, Malang, Pasuruan, Bnayuwangi dll. Pendistribusian benih ini juga harus memperhatikan stok benih yang berada di DCS dan di tegakan KBS. Untuk itu perlu dilakukan penaksiran produksi buah dan benih sebelum pengunduhan agar pengelolaan transportasi benih menjadi lancar. Hingga data 2010 sebanyak 500,09 kg benih yang telah dikirim ke beberapa wilayah yang telah disebutkan. Saat transportasi benih ada hal-hal yang perlu diperhatikan, antara lain mengenai jarak tujuan dari gudang, pengemasan, serta perlakuan-perlakuan lain. Benih merupakan makhluk hidup yang masih dapat melakukan resprasi, perlakuan yang tidak tepat saat pendistribusian dapat mempengaruhi viabiltas benih tersebut. Biji pinus merupakan jenis rekalstitran yang tahan dalam kondisi air rendah. Untuk mempertahankan viabilitas, sebelum dikirim biji harus dikeringkan terlebih dahulu hingga kadar air mencapai 10% baru kemudian di kemas dalam wadah plastik kedap uda F. Kesimpulan 1. Beberapa pekerjaan yang harus dilakukan selama pemrosesan benih meliputi sortasi benih, cutting test, kadar air, dan pengeringan benih hingga kadar airnya sesuai standar. 2. Penjemuran buah pinus bertujuan agar memudahkan dalam pengambilan biji dari dalam sisik sisiknya dan diperoleh benih dengan kadar air kurang dari 10% agar dapat disimpan lama dan mengurangi resiko terserang jamur. 3. Dalam tranportasi benih perlu diperhatikan mengenai jarak tujuan, serta pengemasan biji agar viabilitas biji dapat dipertahanka
43

44