Anda di halaman 1dari 5

GANGGUAN METABOLISME (OBESITAS)

HIPOVENTILASI PADA OBESITAS

KELAS C OLEH : 1. 2. 3. 4. 5. MUKHAMMAD DZIYA'UL KHAQ IMAM NUR ALIF KHUSNUDIN WORO AJENG MAKARTI HANUM NOOR LAILLY SILVIA DWI DAMAYANTI (10613011) (10613175) (10613196) (10613216) (10613231)

JURUSAN FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2011

HIPOVENTILASI PADA OBESITAS A.Definisi Obesitas adalah suatu kondisi medis di mana lemak tubuh yang berlebih terakumulasi atau ditimbun dalam tubuh. Hal ini dapat mengakibatkan efek buruk pada kesehatan, dapat menyebabkan harapan hidup berkurang dan atau masalah kesehatan meningkat [1]. Obesitas adalah penyebab utama kematian di seluruh dunia, dengan prevalensi meningkat pada orang dewasa dan anak-anak, dan dilihat sebagai salah satu masalah kesehatan masyarakat paling serius abad ke-21 [2]. Obesitas meningkatkan kemungkinan berbagai penyakit, terutama penyakit jantung, diabetes tipe 2, apnea obstruktif saat tidur, beberapa jenis kanker, dan osteoartritis [1]. Obesitas ini paling sering disebabkan oleh kombinasi asupan energi makanan yang berlebihan, kurangnya aktivitas fisik, dan kerentanan genetik, meskipun beberapa kasus terutama disebabkan oleh gen, gangguan endokrin, obat atau penyakit jiwa. Bukti yang mendukung pandangan bahwa beberapa orang gemuk makan sedikit namun tetap mengalami kenaikan berat badan karena metabolisme yang lambat dan terbatas. Rata-rata pada orang obesitas diperlukan energi yang lebih besar daripada orang tanpa obesitas untuk mempertahankan peningkatan massa tubuh [3] . B.Klasifikasi Pengklasifikasian obesitas dapat didasarkan pada pengukuran BMI (Body Mass Index) dan berdasarkan lingkar pinggang atau Waist Circumference. Untuk orang Asia, BMI normal rata-rata adalah 20-23, sedangkan menurut WHO adalah 22-25, sehingga perlu berhati-hati jika melebihi 25. BMI Klasifikasi <18,5 Kurus 18.5-24.9 berat badan yang normal 25.0-29.9 Kegemukan 30.0-34.9 Obesitas kelas I 35.0-39.9 Obesitas kelas II 40,0 Obesitas kelas III Sedangkan berdasarkan lingkar pinggang, obesitas secara umum dibagi menjadi dua kelompok besar: 1. Obesitas tipe android atau tipe sentral Badan berbentuk gendut seperti gentong, perut membuncit ke depan, banyak didapatkan pada kaum pria. 2. Obesitas tipe genoid Pada tipe ini banyak terjadi pada wanita, terutama yang telah masuk masa menopause. Panggul dan pantatnya besar [4] . C.Prevalensi Dalam 10 tahun terakhir ini, angka prevalensi atau kejadian obesitas di seluruh dunia menunjukkan peningkatan yang signifikan. Saat ini, 1,6 miliar orang dewasa di seluruh dunia mengalami berat badan lebih (overweight), dan sekurang-kurangnya 400 juta diantaranya mengalami obesitas. Pada tahun 2015, diperkirakan 2,3 miliar orang dewasa akan mengalami overweight dan 700 juta di antaranya mengalami obesitas [5]. Kejadian obesitas di negara-negara maju seperti di negara-negara Eropa, Amerika, dan Australia telah mencapai tingkatan epidemic. Kejadian ini tidak hanya terjadi di negaranegara maju saja, obesitas di beberapa negara berkembang bahkan telah menjadi masalah kesehatan yang lebih serius. Sebagai contoh, 70% dan penduduk dewasa Polynesia di Samoa masuk kategori obesitas [5].

Di Indonesia, angka prevalensi obesitas juga menunjukkan angka yang cukup mengkhawatirkan. Berdasarkan data SUSENAS tahun 2004, prevalensi obesitas pada anak telah mencapai 11%. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, prevalensi nasional obesitas umum pada penduduk berusia 15 tahun adalah 10,3% terdiri dari laki-laki 13,9%, dan perempuan 23,8% , sedangkan prevalensi overweight pada anakanak usia 6-14 tahun pada laki-laki 9,5% dan pada perempuan 6,4%. Angka ini hampir sama dengan estimasi WHO sebesar 10% pada anak usia 5-17 tahun [5] . D.Gangguan Metabolisme Hipoventilasi merupakan suatu penurunan frekuensi ventilasi. Penurunan ini berkaitan dengan metabolisme atau kecepatan metabolism yang sedang berlangsung. Contoh, kecepatan ventilasi paru 8L/menit sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan seseorang yang sehat dalam keadaan istirahat guna mempertahankan fungsi minimal organ vital. Tetapi bila orang tadi melakukan kegiatan ringan saja sudah timbul hipoventilasi. Hipoventilasi dapat menyebabkan peningkatan PCO2 [6] . Hipersomnolensi atau rasa mengantuk yang abnormal (kesadaran menurun, respon psikomotorik yang lambat, mudah tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang tetapi jatuh tertidur lagi) dapat terjadi dalam kegemukan sebagai manifestasi apnea pada saat tidur malam hari. Namun pada beberapa pasien obesitas dengan apnea dan hipersomnolen tidak mengalami hipoventilasi [7]. Obesity Hypoventilation Syndrome (OHS) adalah suatu kondisi yang terjadi pada orang gemuk, dimana kesulitan bernafas yang menyebabkan kadar oksigen lebih rendah daripada kadar karbon dioksida darah. Penyebab pasti OHS belum diketahui. Tetapi sebagian besar pasien OHS mengalami apnea. OHS diyakini akibat dari cacat pada otak yang mengendalikan pernapasan dan akibat berat badan yang berlebihan (karena obesitas) yang membuat penderita sulit bernapas dalam-dalam. Akibatnya, darah terlalu banyak mengandung karbon dioksida, sedangkan oksigen tidak cukup. Penderita OHS sering lelah karena kurang tidur, kualitas tidur yang buruk, dan menderita hipoksia kronis [8]. Penumpukan pada jaringan lemak dapat merusak fungsi pernapasan pada orang dewasa dan anak-anak. bertambahnya BMI di hubungkan dengan berkurangnya forced expitatory volume dalam satu detik (FEV1), forced vital capacity(FVC), kapasitas total paru, kapasitas fungsi residual dan cadangan volume expitatory. pembatasan toraks yang berhubungan dengan obesitas biasanya ringan dan dikaitkan dengan efek mekanik lemak pada diafragma dan dinding dada: ekskursi diafragma yang terganggu dan kepatuhan toraks yang berkurang. Sebuah pola restriktif klinis signifikan (paru-paru total kapasitas diprediksi <85%) biasanya dianggap hanya dalam obesitas besar, ketika rasio berat/tinggi pasien 0.9-1.0 kg / cm atau lebih. namun, kelainan ini masih dapat di kaitkan pada obesitas saat rasio berat/tinggi kurang dari 0.9 kg/cm. Hal ini biasanya terjadi dengan adanya timbunan lemak sentral, yang ditunjukkan dengan rasio pinggang ke pinggul sebesar 0,95 atau lebih besar. Apabila obesitas ini lebih sedikit, batasan gangguan tidak dapat dikaitkan dengan akumulasi lemak sampai diketahui adanya penyebab lain dari gangguan restriktif, seperti penyakit paru interstisial atau penyakit neuromuskuler [9]. Rasio dari FEV1/FVC rendah (<70%), tanda spirometrik dari obstruksi aliran udara bukan merupakan ciri-ciri penyakit pernapasan yang terkait dengan obesitas, meskipun bukti tentang penyakit-penyakit mengenai pengecilan aliran udara pada konteks ini telah di laporkan. kapasitas difusi dapat bertambah pada obesitas, namun hal ini bukanlah sebuah hal yang lumrah. terakhir, kekuatan otot respirasi mungkin berpengaruh pada obesitas, yang di indikasikan dengan berkurangnya tekanan maksimal inspirasi pada subyek obesitas

dibandingkan dengan subjek dengan berat badan tubuh normal. kelemahan pada otot respirasi dalam obesitas dapat disebabkan oleh otot yang tidak efesien, konsekuensi dari berkurangnya kepatuhan dinding dada atau menurunnya volume paru yang bekerja ataupun keduanya. tidak terlalu mengagetkan, kapasitas olahraga acapkali dianjurkan pada pasien penderita obesitas. Meskipun kebugaran kardiorespirasi yang dinilai dari konsumsi oxygen maksimal umumnya di tekankan pada pasien penderita obesitas, status fungsional pada waktu olahraga seperti jalan sehat itu berkurang karena harga yang dibayarkan untuk metabolik meninggi untuk membawa berat badan berlebih [9]. Ada berbagai indikasi bahwa obesitas berhubungan dengan berkurangnya kapasitas untuk menggunakan lemak sebagai bahan bakar atau energi. Gangguan dalam kemampuan untuk memobilisasi dan mengoksidasi lemak juga bergantung pada stimulus -adrenergik. Pada otot rangka, oksidasi asam lemak juga terganggu pada subyek obesitas viseral setelah masa pengabsorpsian, dimana penyerapan glukosa dan oksidasi glukosa meningkat [10]. Sekitar 50% dari asam lemak diambil oleh otot yang secara langsung dioksidasi selama -adrenergik terstimulus. Sedangkan oksidasi tidak terjadi di otot orang obesitas yang mengalami diabetes. Ketidakseimbangan antara serapan dan oksidasi ini dapat menyebabkan penyimpanan triasilgliserol dan akumulasi lipid dalam intermediet otot rangka, yang kemudian dapat berperan dalam perkembangan resistensi insulin otot rangka. Oksidasi plasma NEFA menurun dan oksidasi asam lemak yang tinggi dari derivat triasilgliserol selama latihan sedang (50% VO2max) yang mnegindikasikan bahwa penggunaan asam lemak terganggu selama latihan fisik [10]. Oksidasi asam lemak rantai panjang juga dapat dibatasi oleh transport asam lemak ke dalam mitokondria oleh carnitine palmitoil transferase (CPT-1). Dalam otot rangka dari obesitas dengan resistensi insulin, aktivitas CPT-1 dapat dikurangi. Peningkatan kandungan malonyl-CoA, sebagai hasil dari disregulasi oleh asetil-CoA karboksilase dan malonyl-CoA dekarboksilase atau oleh hyperinsulinemia dan hyperglicemia, dapat menyebabkan penghambatan CPT-1, dan oksidasi asam lemak selanjutnya menjadilebih rendah. Peningkatan kandungan malonyl-CoA dalam obesitas dan resistensi insulin menyebabkan oksidasi lipid berkurang dan memiliki kecenderungan pada peningkatan penyimpanan triasilgliserol. Selain itu penyerapan glukosa juga meningkat karena serapan asam lemak dalam otot terganggu [10]. E.Solusi Obesitas Pencegahan : MULAILAH DENGAN DIET Diet atau pengaturan makanan yang rendah kalori dan tinggi serat perlu diupayakan, disamping pembakaran yang teratur melalui olahraga setiap hari, sehingga tercapai balance yang negatif, pembakaran kalori lebih banyak daripada pemasukan. JANGAN LUPA OLAHRAGA Olahraga secara teratur dapat meningkatkan metabolic rate, otot menjadi lebih besar, otot ini akan membakar kalori lebih banyak daripada lemak. OBAT Obat untuk obesitas umumnya ada dua kelompok: yang pertama adalah obat yang bekerja di usus untuk menghamabat penyerapan lemak atau kalori ke dalam tubuh; yang kedua adalah obat yang bekerja secara sentral pada pusat pengaturan nafsu makan di otak, sehingga nafsu makan dapat ditekan. PEMBEDAHAN,MESOTERAPI,DAN LIPOCUSTION Pada obesitas yang sangat berat, biasa-nya bila BMI lebih dari 35, dimana upaya diet, olahraga dan obat sudah diberikan namun belum ada hasil yang menggembirakan,

maka ahli bedahlah yang akan berperan melakukan pemotongan sebagian usus si gemuk, atau operasi bariatik dengan memasang klem pada lambung. Dapat pula dengan penyedotan lemak perut (lipocustion) dan mesoterapi, yaitu suntikan ke bawah kulit untuk membakar lemak [4].

F.Referensi

1. Haslam DW, James WP.2005.Obesity. Lancet 366 (9492): 1197209. 2. Barness LA, Opitz JM, Gilbert-Barness E. 2007. Obesity: genetic, molecular, and environmental aspects. Am J Med Genet A. 143A(24):3016-34. 3. Kushner, Robert, 2007, Treatment of the Obese Patient (Contemporary Endocrinology), Humana Press, Totowa, NJ. Hal 158 4. Tandra, Hans., 2010, Langsung Jadi Langsing; strategi mengalahkan obesitas, Jaring pena, Surabaya. Hal 134. 5. Triwitono, 2011, Prevalensi Obesitas, avaible at http://triwitono.staff.ugm.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=78: prevalensi-obesitas&catid=35:degeneratif&Itemid=71 (diakses pada tanggal 15 november 2011). 6. Muttaqin, Arif., 2008, Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan, Salemba Medika, Jakarta. Hal 34. 7. Administrator, 2011. Sindroma Hipoventilasi (Sindroma Pickwickian), avaible at http://jurnaldokter.com/2011/03/25/Sindroma-hipoventilasisindroma-pickwickian (diakses pada tanggal 14 november 2011). 8. Dugdale, D.C., and Hadjiliadis, D., 2011, Obesity Hypoventilation Syndrome (OHS), available at http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000085.htm (diakses pada
15 november 2011).

9. Magali Poulain, Marive Doucet, Genevive C. Major, Vicky Drapeau, Frdric Sris, Louis-Philippe Boulet, Angelo Tremblay, Franois Maltais. 2006. The effect of obesity on chronic respiratory diseases: pathophysiology and therapeutic strategies. CMAJ 174(9) | 1293. 10. E. E. Blaak. 2007. Fatty acid metabolism in obesity and type 2 diabetes mellitus.(62):753-760.