Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN KASUS MATA I

CORPUS ALIENUM KORNEA OCULAR SINISTRA

Oleh : Dini Layunsari H1A 005 015

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA DI BAGIAN/SMF MATA RUMAH SAKIT UMUM PROVINSI NTB FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 2010

RESUME KASUS Laki-laki, 30 tahun pekerjaan tukang las datang dengan keluhan mata kiri berair setelah terkena serpihan besi 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Pasien mengaku seperti ada perasaan mengganjal pada mata kiri, nyeri (-), gatal (-), kotoran (-). Dari pemeriksaan pada mata kiri di dapat: visus 6/6, konjungtiva palpebra superior et inferior tampak hiperemi, pada bagian tengah permukaan kornea tampak adanya bintik kecil berwarna hitam, tidak ada hifema. Pasien didiagnosa dengan corpus alienum pada kornea ocular sinistra. Rencana terapi pada pasien ini adalah mengeluarkan korpus alienum dengan ujung jarum suntik dan pemberian obat tetes mata yang mengandung antibiotik serta memberikan KIE pada pasien bahwa sakit yang diderita pasien adalah sakit ringan yang masih bisa ditangani. Prognosis pada pasien ini adalah dubia ad bonam.

LAPORAN KASUS

Identitas pasien Nama Jenis kelamin Umur Alamat Pekerjaan : Tn I : Laki-laki : 30 tahun : Selagalas : Tukang Las

Tanggal Pemeriksaan : 12 Oktober 2010

Anamnesis Keluhan utama: Mata kiri berair Riwayat Penyakit sekarang: Pasien mengeluh mata kiri berair setelah terkena serpihan besi 1 minggu sebelum MRS. Pasien juga mengeluhkan ada perasaan mengganjal pada mata kiri dan pada saat melihat bola lampu sinar akan tampak bulat. Perasaan nyeri, perih, gatal, dan adanya kotoran pada mata kiri disangkal oleh pasien.

Mekanisme trauma: Pasien sedang memotong pipa besi dengan menggunakan mesin gerinda. Kemudian tiba-tiba serpihan besi mengenai mata kiri pasien. Riwayat penyakit dahulu: Riwayat trauma pada mata sebelumnya(-), riwayat infeksi pada mata sebelumnya (-), riwayat DM (-), riwayat sakit jantung (-), riwayat darah tinggi (-).

Riwayat penyakit keluarga: tidak ada keluarga yang menderita penyakit jantung, hipertensi ataupun kencing manis.

Riwayat alergi: tidak ada riwayat alergi makanan maupun alergi obat Pemeriksaan Fisik Tanda vital: Tekanan darah : 120/80 mmHg Nadi Respirasi : 80x/menit : 18x/menit

Pemeriksaan fisik umum Keadaan umum Kesadaran/GCS Keadaan gizi Habitus Kepala Umum Mata: Pemeriksaan Visus Gerakan Bola Mata 6/6 Baik ke segala arah Tidak terasa nyeri Mata Kanan 6/6 Baik ke segala arah Tidak terasa nyeri Mata Kiri : ekspresi tenang : baik : compos mentis/E4V5M6 : cukup :atletis

Kulit Palpebra Superior Edema Hiperemia -

Silia

Normal

Normal

Kulit Palpebra Inferior Edema Hyperemia Silia Normal palpebra Anemis (-), Hiperemia (-) Normal Anemis (-), Hiperemia (+)

Konjungtiva

superior et inferior Konjungtiva bulbi Injeksi konjungtiva (-) Injeksi siliar (-) Kornea Jernih Injeksi konjungtiva (-) Injeksi siliar (-) Pada bagian tengah

permukaan kornea tampak adanya bintik kecil

berwarna hitam Bilik mata depan Dalam, hifema (-), hipopion Dalam, (-) Iris Warna coklat Iridodialisis (-) Pupil Bentuk Refleks bulat hipopion (-) Warna coklat Iridodialisis (-) regular Bentuk bulat regular dengan diameter 3 mm hifema(-),

dengan diameter 3 mm

langsung/tidak Refleks langsung/tidak langsung : +/+ Jernih Kesan normal

langsung : +/+ Lensa Palpasi TIO Jernih Kesan normal

A. Assesment Diagnosis Diferensial Diagnosis Usulan Pemeriksaan : Corpus alienum kornea ocular sinistra : (-) : Slitlamp

B. Rencana terapi : 1. Pada pasien ini dilakukan evakuasi corpus alienum dengan ujung jarum suntik.

2. Pemberian tetes mata yang mengandung antibiotik. 3. KIE pasien bahwa sakit yang diderita pasien adalah sakit ringan yang masih bisa ditangani dan menyarankan kepada pasien untuk menggunakan pelindung mata pada saat bekerja.

ANALISA KASUS Corpus alienum atau benda asing pada mata merupakan salah satu penyebab cedera mata yang paling sering mengenai sklera, kornea, dan konjungtiva. Corpus alienum pada kornea dapat berasal dari gerinda atau pecahan besi yang diketuk dengan martil. Beratnya kerusakan pada organ organ di dalam bola mata tergantung dari besarnya corpus alienum, kecepatannya masuk, ada atau tidaknya proses infeksi dan jenis bendanya sendiri. Pada pasien ini, corpus alienum terletak pada permukaan kornea. Pasien kadang tidak memberikan keluhan jika corpus alienum terdapat pada permukaan atau hanya mengenai epitel. Dalam jangka waktu beberapa hari, epitel sering tumbuh disekitar corpus alienum yang sangat kecil yang dapat mengurangi rasa sakit. Corpus alienum dapat menyebabkan inflamasi yang bersifat steril. Jika corpus alienum berukuran besar dapat menyebabkan ulserasi pada kornea yang menimbulkan rasa nyeri. Gejala awal yang dapat dirasakan penderita karena adanya benda asing pada kornea dapat berupa rasa pedas dan sakit pada mata. Keluhan ini mungkin terjadi akibat sudah terdapatnya keratitis atau tukak pada mata tersebut. Selain itu pasien juga dapat mengeluh mata merah, fotofobia, berair, menimbulkan perasaan ada sesuatu di mata atau pembengkakan mata dan kelopak mata serta penglihatan bisa menjadi kabur. Corpus alienum ini dapat dikeluarkan dengan memakai kapas yang digosokkan di atasnya. Bila tidak dapat dikeluarkan dengan kapas maka dikeluarkan dengan ujung jarum suntik. Untuk mengeluarkan benda asing tersebut dilakukan dengan menggunakan loupe. Jika benda asing menyebabkan goresan kecil pada permukaan kornea, diberikan salep atau tetes mata antibiotik selama beberapa hari. Goresan yang lebih besar memerlukan pengobatan tambahan. Pupil diusahakan tetap melebar dengan pemberian obat, lalu dimasukkan antibiotik dan mata ditutup dengan plester. Sel-sel pada permukaan mata berregenerasi dengan cepat. Meskipun goresannya besar, penyembuhan akan berlangsung selama 1-3 hari.

Pada pasien ini dilakukan uji fluoresensi yang bertujuan untuk mengetahui adanya defek pada kornea akibat corpus alienum. Pemeriksaan ini menggunakan kertas fluoresensi yang dibasahi dulu dengan garam fisiologis. Kemudian kertas tersebut diletakkan pada sakus konjungtiva inferior. Penderita diminta untuk menutup mata selama 20 detik. Jika terdapat kerusakan epitel kornea akan terlihat warna hijau. Corpus alienum yang letaknya dangkal yang dikeluarkan segera setelah cedera tidak meninggalkan gejala sisa permanen. Selain itu dapat terjadi jaringan parut yang akan mengganggu penglihatan atau epitel kornea tersebut sulit tertutup sehinggga terjadi erosi rekuren. Semakin lama interval waktu antara cedera dan pengobatan, semakin besar kemungkinan komplikasi. Jika benda asing sepenuhnya masuk ke dalam bilik-bilik anterior atau posterior, maka disebut benda asing intraokuler. Setiap benda asing intraokuler dapat menyebabkan infeksi dan endophthalmitis, sebuah kondisi serius yang mungkin menyebabkan hilangnya mata.

RINGKASAN AKHIR Laki-laki, 30 tahun datang dengan keluhan mata sebelah kiri berair dan ada perasaan mengganjal setelah terkena serpihan besi pada saat mengelas pipa besi. Hasil pemeriksaan: pada mata kiri didapatkan visus 6/6, pada konjungtiva palpebra tampak hiperemi, pada bagian tengah permukaan kornea tampak adanya bintik kecil berwarna hitam, tidak ada hifema. Pada mata kanan didapatkan visus 6/6, tidak ada injeksi konjungtiva dan injeksi siliar, kornea jernih, tidak ada hifema. Pasien didiagnosa dengan corpus alienum kornea oculi sinistra. Rencana terapi pada pasien ini adalah mengeluarkan korpus alienum dengan spuit 1 cc dan pemberian obat tetes mata yang mengandung antibiotik serta memberikan KIE pada pasien dan keluarga bahwa sakit yang diderita pasien adalah sakit ringan yang masih bisa ditangani. Prognosis pada pasien ini adalah baik.

DAFTAR PUSTAKA Bashou, Mounir. 2010. Corneal Foreign Body. Available from: http://emedicine.medscape.com (Accessed: 13 September 2010) Ilyas, S. 2004. Ilmu Penyakit Mata edisi ke-3. Balai Penerbit FKUI. Jakarta Ilyas, S. 2005. Kedaruratan Dalam Ilmu Penyakit Mata. Balai Penerbit FKUI. Jakarta Riordan P,Whitcher J,.2009. Vaughan & Asbury Oftalmologi Umum. EGC. Jakarta