Anda di halaman 1dari 7

Nama:Kpi adan Nomor: +6282130956559 Konten: Tugas tasawuf: pngertian, dn tujuan ilmu tasawuf, serta keterkaitan ilmu

tasawuf dgn Intelektuaul,Emosional,Spiritual Question . D'kumpulin sbtu bs0k, "Tu Waktu: 20/03/2012 13:50:10

pengertian IQ, EQ, dan SQ Pengertian IQ, EQ, Dan SQ 1. IQ (Intellegence Quotient) Kecerdasan IQ atau Intellegence Quotient itu kan yang selalu jadi tolak ukur. IQ atau juga bisa disebut kecerdasan intelektual, inilah kecerdasan yang paling banyak di dengar oleh kita. IQ adalah kecerdasan yang dimiliki oleh otak manusia yang bisa melakukan beberapa kemampuan, seperti kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, dan belajar. Kecerdasan ini dapat diukur dengan menggunakan alat psikometri yang biasa disebut sebagai tes IQ. Kecerdasan inilah yang jadi ukuran sebagian besar orang untuk meraih kesuksesan, banyak orang berpikir, dengan IQ tinggi, seseorang bisa meraih masa depan yang cerah dalam hidupnya. Bahkan sistem pendidikan di negara kita inipun masih memandang bahwa IQ adalah modal dasar siswa atau mahasiswa untuk meraih keberhasilan. Padahal ada satu kecerdasan yang lebih berpengaruh dalam kesuksesan seseorang, yaitu EQ atau Emotional Quotient.

2. EQ (Emosional Quotient) Kecerdasan EQ atau Emosional Quotient. Daniel Golemen, dalam bukunya Emotional Intelligence (1994) menyatakan bahwa “kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20 % dan sisanya yang 80 % ditentukan oleh serumpun faktor-faktor yang disebut Kecerdasan Emosional. Dari nama teknik itu ada yang berpendapat bahwa kalau IQ mengangkat fungsi pikiran, EQ mengangkat fungsi perasaan. Orang yang ber-EQ tinggi akan berupaya menciptakan keseimbangan dalam dirinya; bisa mengusahakan kebahagian dari dalam dirinya sendiri dan bisa mengubah sesuatu yang buruk menjadi sesuatu yang positif dan bermanfaat.

3. SQ (Spiritual Quotient) Kecerdasan SQ atau Spiritual Quotient. Danah Zohar, penggagas istilah teknis SQ (Kecerdasan Spiritual) dikatakan bahwa kalau IQ bekerja untuk melihat ke luar (mata pikiran), dan EQ bekerja mengolah yang di dalam (telinga perasaan), maka SQ (spiritual quotient) menunjuk pada kondisi „pusat-diri‟ ( Danah Zohar & Ian Marshall: SQ the ultimate intelligence: 2001).Kecerdasan ini adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik kenyataan apa adanya ini. Kecerdasan ini bukan kecerdasan agama dalam versi yang dibatasi oleh kepentingan-pengertian manusia dan sudah menjadi ter-kavling-kavling sedemikian rupa. Kecerdasan spiritual lebih berurusan dengan pencerahan jiwa. Orang yang ber – SQ tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan

melalui proses berfikir dan belajar secara terus menerus. Selama bertahun-tahun IQ telah diyakini menjadi ukuran standar kecerdasan. C.memberi makna yang positif itu. Dalam pandangan psikologi. ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif. kita mengetahui bahwa jutaan tahun yang lalu di muka bumi ini pernah hidup makhluk yang dinamakan Dinosaurus yaitu sejenis hewan yang secara fisik jauh lebih besar dan kuat dibandingkan dengan manusia. sesungguhnya hewan pun diberikan kecerdasan namun dalam kapasitas yang sangat terbatas. Memang. praktisi bisnis dan bahkan publik awam. Kemudian. Artikel 2 IQ. namun berkat kecerdasan yang dimilikinya hingga saat ini manusia ternyata masih dapat mempertahankan kelangsungan dan peradaban hidupnya. yang dihitung berdasarkan perbandingan antara tingkat kemampuan mental (mental age) dengan tingkat usia (chronological age). secara langsung maupun tidak langsung. (2) keseluruhan pengetahuan yang diperoleh. Istilah IQ mula-mula diperkenalkan oleh Alfred Binet. EQ.Posted on 04 Oktober 2008 Oleh : AKHMAD SUDRAJAT. atau Thurstone (1938) dengan teori “Primary Mental Abilities”-nya. sebagaimana yang dikembangkan oleh Charles Spearman (1904) dengan teori “Two Factor”-nya. dan (3) kemampuan untuk beradaptasi dengan dengan situasi baru atau lingkungan pada umumnya. Pd. Lantas. kecerdasan meliputi tiga pengertian. Dalam hal ini. Sementara itu. Boleh jadi. kepunahan mereka salah satunya disebabkan oleh faktor keterbatasan kecerdasan yang dimilikinya. . Oleh karena itu untuk mempertahankan keberlangsungan hidupnya lebih banyak dilakukan secara instingtif (naluriah). apa sesungguhnya kecerdasan itu ? Sebenarnya hingga saat ini para ahli pun tampaknya masih mengalami kesulitan untuk mencari rumusan yang komprehensif tentang kecerdasan. M. Woolfolk (1975) mengemukan bahwa menurut teori lama. namun sejalan dengan tantangan dan suasana kehidupan modern yang serba kompleks. Dari kajian ini. ukuran standar IQ ini memicu perdebatan sengit dan sekaligus menggairahkan di kalangan akademisi. pendidik. dan SQ: Dari Kecerdasan Tunggal ke Kecerdasan Majemuk By akhmadsudrajat . meski secara fisik tidak begitu besar dan kuat. Namun saat ini mereka telah punah dan kita hanya dapat mengenali mereka dari fosil-fosilnya yang disimpan di musium-musium tertentu. ahli psikologi dari Perancis pada awal abad ke-20. 2005). merentang mulai dari kemampuan dengan kategori Ideot sampai dengan Genius (Weschler dalam Nana Syaodih. Chaplin (1975) memberikan pengertian kecerdasan sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. manusia dapat terus menerus mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidupnya yang semakin kompleks. Lewis Terman dari Universitas Stanford berusaha membakukan tes IQ yang dikembangkan oleh Binet dengan mempertimbangkan norma-norma populasi sehingga selanjutnya dikenal sebagai tes Stanford-Binet.P. yaitu : (1) kemampuan untuk belajar. Dalam hal ini. Dengan kecerdasannya. Berdasarkan temuan dalam bidang antropologi. Anita E. menghasilkan pengelompokkan kecerdasan manusia yang dinyatakan dalam bentuk Inteligent Quotient (IQ). semula kajian tentang kecerdasan hanya sebatas kemampuan individu yang bertautan dengan aspek kognitif atau biasa disebut Kecerdasan Intelektual yang bersifat tunggal. terutama apabila dihubungkan dengan tingkat kesuksesan atau prestasi hidup seseorang. Kecerdasan merupakan salah satu anugerah besar dari Allah SWT kepada manusia dan menjadikannya sebagai salah satu kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya. sudah sepantasnya manusia bersyukur.

manusia akan tunduk dan berupaya untuk mematuhinya dengan penuh kesadaran dan disertai penyerahan diri dalam bentuk ritual tertentu. termasuk dirinya. Brightman (1956) menjelaskan bahwa penghayatan keagamaan tidak hanya sampai kepada pengakuan atas kebaradaan-Nya. pada saat-saat tertentu. Pada God Spot inilah sebenarnya terdapat fitrah manusia yang terdalam (Ari Ginanjar. Berangkat dari pandangan bahwa sehebat apapun manusia dengan kecerdasan intelektual maupun kecerdasan emosionalnya. kecakapan emosional (EQ) justru lebih mungkin untuk dipelajari dan dimodifikasi kapan saja dan oleh siapa saja yang berkeinginan untuk meraih sukses atau prestasi hidup. serta aspek – aspek emosional lainnya. yang kemudian kita mengenalnya dengan sebutan Emotional Quotient (EQ). Berbeda dengan kecerdasan intelektual (IQ) yang cenderung bersifat permanen. Kajian tentang God Spot inilah pada gilirannya melahirkan konsep Kecerdasan Spiritual. Suatu jaringan yang secara literal mengikat pengalaman kita secara bersama untuk hidup lebih bermakna. kognitif. Ramachandran pada tahun 1997 menemukan adanya God Spot dalam otak manusia. dan konatifnya manusia akan meyakini dan menerima tanpa keraguan bahwa di luar dirinya ada sesuatu kekuatan yang maha Agung yang melebihi apa pun. melalui pertimbangan fungsi afektif. yang terletak diantara jaringan syaraf dan otak. ada satu hal yang perlu digarisbawahi dari para “penggagas beserta pengikut kelompok kecerdasan emosional”.S. Oleh karena itu. yakni suatu kemampuan manusia yang berkenaan dengan usaha memberikan penghayatan bagaimana agar hidup ini lebih bermakna. yakni Kecerdasan Emosional. Kecerdasan intelelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ) dipandang masih berdimensi horisontal-materialistik belaka (manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial) dan belum menyentuh persoalan inti kehidupan yang menyangkut fitrah manusia sebagai makhluk Tuhan (dimensi vertikal-spiritual). kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain. secara simbolik maupun dalam bentuk nyata kehidupan sehari-hari (Abin Syamsuddin Makmun. Penggunaan konsep Quotient dalam EQ belum begitu jelas perumusannya. 2003). yang sudah secara built-in merupakan pusat spiritual (spiritual centre). Dengan istilah yang salah kaprahnya disebut Spiritual Quotient (SQ) Jauh sebelum istilah Kecerdasan Spiritual atau SQ dipopulerkan. salah seorang yang mempopulerkan jenis kecerdasan manusia lainnya yang dianggap sebagai faktor penting yang dapat mempengaruhi terhadap prestasi seseorang. Penghayatan seperti itu menurut Zakiah Darajat (1970) disebut sebagai pengalaman keagamaan (religious experience). pada tahun 1938 Frankl telah mengembangkan pemikiran tentang upaya pemaknaan hidup. Dikemukakannya. Pekembangan berikutnya dalam usaha untuk menguak rahasia kecerdasan manusia adalah berkaitan dengan fitrah manusia sebagai makhluk Tuhan. baik secara individual maupun kolektif. Menurut hemat penulis sesungguhnya penggunaan istilah EQ ini tidaklah sepenuhnya tepat dan terkesan sterotype (latah) mengikuti popularitas IQ yang lebih dulu dikenal orang. bahwasanya potensi individu dalam aspekaspek “non-intelektual” yang berkaitan dengan sikap. dan riset yang dilakukan oleh Michael Persinger pada tahun 1990-an. Goleman mengemukakan bahwa kecerdasan emosi merujuk pada kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain.Adalah Daniel Goleman (1999). serta riset yang dikembangkan oleh V. Terlepas dari “kesalahkaprahan” penggunaan istilah tersebut. Berbeda dengan IQ. pengertian Quotient disana sangat jelas menunjuk kepada hasil bagi antara usia mental (mental age) yang dihasilkan melalui pengukuran psikologis yang ketat dengan usia kalender (chronological age). merupakan faktor-faktor yang amat penting bagi pencapaian kesuksesan seseorang. Begitu juga hasil riset yang dilakukan oleh Wolf Singer menunjukkan adanya proses syaraf dalam otak manusia yang terkonsentrasi pada usaha yang mempersatukan dan memberi makna dalam pengalaman hidup kita. sosiabilitas. namun juga mengakui-Nya sebagai sumber nilai-nilai luhur yang abadi yang mengatur tata kehidupan alam semesta raya ini. motivasi. Temuan ilmiah yang digagas oleh Danah Zohar dan Ian Marshall. 2001). bahwa makna atau logo hidup harus dicari oleh .

dan lingkungan yang penuh persaingan dan konflik. (2) Mental Building. yaitu usaha untuk menghasilkan ketangguhan pribadi (personal strength) dengan merujuk pada Rukun Islam. Dari pemikiran Ary Ginanjar Agustian melahirkan satu model pelatihan ESQ yang telah memiliki hak patent tersendiri. Menjadi manusia adalah kesadaran dan tanggung jawab (Sofyan S. kecerdasan emosional atau kecerdasan spiritual. dan (5) Total Action. Dalam buku tersebut secara meyakinkan menawarkan penglihatan dan cara pandang alternatif terhadap kecerdasan manusia. (3) Mission Statement. AIDs serta jenis-jenis penyakit mematikan lainnya. menciptakan teknologi informasi dan transportasi yang menjadikan dunia terasa lebih dekat dan semakin transparan. da‟i kondang dari Pesantren Daarut Tauhiid . tatanan sosial-ekonomi menjadi kacau balau karena sikap dan perilaku manusia yang mengabaikan kejujuran dan amanah (perilaku koruptif dan perilaku manipulatif). Untuk menunjang kebebasan rohani itu dituntut tanggung jawab terhadap Tuhan. Abdullah Gymnastiar atau dikenal AA Gym. Manusia telah berhasil menciptakan “raksasa-raksasa teknologi” yang dapat memberikan manfaat bagi kepentingan hidup manusia itu sendiri. Kecerdasan intelektual yang tidak diiringi dengan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritualnya. (4) Strategic Collaboration. yang bisa diukur dengan tes menggunakan pensil dan kertas”. 2002) . penulis mencatat ada dua orang yang berjasa besar dalam mengembangkan dan mempopulerkan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual yaitu K. Character Building. diri dan manusia lainnya. Willis. Namun dibalik itu. mulai bermunculan. Makna hidup yang diperoleh manusia akan menjadikan dirinya menjadi seorang yang memiliki kebebasan rohani yakni suatu kebebasan manusia dari godaan nafsu. (2) nilai pengalaman dan (3) nilai sikap. yang di dalamnya terkandung nilai-nilai : (1) nilai kreatif. Berkembangnya pemikiran tentang kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) menjadikan rumusan dan makna tentang kecerdasan semakin lebih luas.Bandung dengan Manajemen Qalbu-nya dan Ary Ginanjar. Kecerdasan tidak lagi ditafsirkan secara tunggal dalam batasan intelektual saja. Konsep pelatihan ESQ ala Ary Ginanjar Agustian menekankan tentang : (1) Zero Mind Process. pengusaha muda yang banyak bergerak dalam bidang pengembangan Sumber Daya Manusia dengan Emotional Spritual Quotient (ESQ)-nya. seperti Flu Burung (Avian Influenza). kembali kepada hati dan fikiran yang bersifat merdeka dan bebas dari belenggu. banjir dan kekeringan pun terjadi di mana-mana Gunung-gunung menggeliat dan memuntahkan awan dan lahar panasnya. apakah memang pada akhirnya kita pun harus bernasib sama seperti Dinosaurus ? Dengan tidak bermaksud mempertentangkan mana yang paling penting. serta sesuai dengan hati nurani dengan merujuk pada Rukun Iman. Dengan demikian. Penyakit-penyakit ragawi yang sebelumnya tidak dikenal. yaitu usaha untuk menciptakan format berfikir dan emosi berdasarkan kesadaran diri (self awareness). Lapisan ozon yang semakin menipis telah menyebabkan terjadinya pemanasan global. apakah kecerdasan intelektual. Hasil pemikiran cerdasnya dituangkan dalam buku Frames of Mind. dan Self Controlling. 2005). ada baiknya kita mengambil pilihan eklektik dari ketiga pilihan . menciptakan bom nuklir.manusia. tampaknya hanya akan menghasilkan kerusakan dan kehancuran bagi kehidupan dirinya maupun umat manusia. 2001). Nicholl. yaitu suatu usaha untuk membangun ketangguhan sosial (Ari Ginanjar.H.. Namun bersamaan itu pula kerusakan yang menuju kehancuran total sudah mulai nampak. Berkat kecerdasan intelektualnya. “raksasa-raksasa teknologi” tersebut telah bersiapsiap untuk menerkam dan menghabisi manusia itu sendiri. Lingkungan alam merasa terusik dan tidak bersahabat lagi. Menurut Gardner bahwa “salah besar bila kita mengasumsikan bahwa IQ adalah suatu entitas tunggal yang tetap. usaha untuk melakukan aliansi atau sinergi dengan orang lain atau dengan lingkungan sosialnya untuk mewujudkan tanggung jawab sosial individu. Bahkan. Di Indonesia. serta menciptakan alat-alat teknologi lainnya yang super canggih. keserakahan. yakni suatu usaha untuk menjernihkan kembali pemikiran menuju God Spot (fitrah). yang kemudian dikenal dengan istilah Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligence) (Colin Rose dan Malcolm J. memang manusia telah mampu menjelajah ke Bulan dan luar angkasa lainnya.

Sebagai pendidik (calon pendidik). Teori dan Praktek. serta berusaha untuk memperbaiki kualitas diri-pribadi secara terusmenerus. hingga pada akhirnya dapat diperoleh aktualisasi diri dan prestasi hidup yang sesungguhnya (real achievement).T. Margaret E. Menjadi Muslim Prestatif. New York: McMillan Publishing. Arifin. Bandung : MQS Pustaka Grafika Colin Rose dan Malcolm J. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. dan learning to live together (EQ). dengan kecerdasan emosional (EQ) orang menjadi bageur.T. 2005. 2003. bener tur pinter. Bandung: PT Rosda Karya Remaja Artikel 3 Tasawuf Dalam Pemikiran Simuh Dan Implikasinya Terhadap Pendidikan Akal . melalui upaya belajar (learning to do. 2002. Nicholl. Accelerated Learning for The 21st Century (terj. Sebagai penutup tulisan ini. Alex Tri Kancono Widodo). sehingga pada gilirannya dapat dihasilkan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang cageur. tugas kemanusiaan kita adalah berusaha membelajarkan para peserta didik untuk dapat mengembangkan segenap potensi (fitrah) kemanusian yang dimilikinya. Kuningan : PE-AP Press Ary Ginanjar Agustian. Psikologi Pendidikan. bageur. Theory Into Practice. Konseling Individual. 2004. Bandung : Alfabeta Syamsu Yusuf LN. Gendler. bener.1999. menyenangkan (Joyful Learning) (EQ) dan menantang atau problematis (problematical Learning) (IQ). Learning & Instruction. 2003. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Daniel Goleman. Bandung : P. Jakarta. Nana Syaodih Sukmadinata. Dengan meminjam filosofi klasik masyarakat Jawa Barat. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta : PT Gramedia. Jakarta : Arga. Remaja Rosdakarya. ESQ Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam. 2003. Bandung : Nuansa. PT Golden Terayon Press. Akhmad Sudrajat. mari kita renungkan ungkapan dari Howard Gardner bahwa : “BUKAN SEBERAPA CERDAS ANDA TETAPI BAGAIMANA ANDA MENJADI CERDAS ! ”Sumber Bacaan : Abin Syamsuddin Makmun.M. Itulah agaknya pilihan yang bijak bagi kita sebagai pribadi maupun sebagai pendidik (calon pendidik) ! Sebagai pribadi. melalui pendekatan dan proses pembelajaran yang bermakna (Meaningful Learning) (SQ).. Konsep. 2003. dalam mewujudkan diri sebagai pendidik yang profesional dan bermakna. E. learning to know (IQ). Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. 2002. (Terj. 2006. learning to be (SQ). Working With Emotional Intelligence. 1992. maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa dengan kecerdasan intelektualnya (IQ) orang menjadi cageur dan pinter. Dedi Ahimsa). Psikologi Pendidikan. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Sipritual. bageur. yaitu cageur.tersebut. dan dengan kecerdasan spiritualnya (SQ) orang menjadi bener. salah satu tugas besar kita dalam hidup ini adalah berusaha mengembangkan segenap potensi (fitrah) kemanusian yang kita miliki. Kurikulum Berbasis Kompetensi. H. Basyar Isya. Remaja Rosdakarya. Sofyan S. Karakteristik dan Implementasi.Mulyasa. 2001. tur pinter. Willis. Bandung : P.

EQ.Akal Url : http:// Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuai: (1) bagimana sebenarnya konsep tasawuf dalam pemikiran Simuh. dan pengembangan potensi diri. Transformasi ilmu. dialog atau diskusi. c) metode pendidikan akal adalah metode pembinaan.(1) Simuh sebagi tokoh produk pendidikan timur (Indonesia) dan Barat (Australia) dalam pemikiran tasawuf pada dasarnya menekankan konsep tawazun dalam Islam. Pertama.Simuh. dan (3) mengetahui adakah implikasi tasawuf dalam pemikiran Simuh terhadap pendidikan akal. (2) bagaimana sebenarnya pendidikan akal. dengan 7 file Keyword : Tasawuf.Pendidikan. tasawuf dengan rasa dan pendidikan akal dengan rasionlitas. antara IQ (dzaka al-dzihni) EQ (tasfiatul qolbi) dan SQ (tazkiyah an-nafsi) dikembangkan secara harmonis sehingga menghasilkan daya guna yang luar biasa.Pemikiran. problem solving. Kedua Tasawuf Murni atau Tasawuf Mistik. dan sarana dan prasarana pendidikan yang memadahi. Dalam segi ajaran Simuh membagi tasawuf menjadi dua bagian. dan didukung sebuah sistem. Pendidikan yang demokratis menekankan adanya kebebasan berfikir. latihan. sistem dan pendekatan yang tertata dengan baik akan dapat melahirkan ahli tasawuf yang berkualitas dan kredibel. dan semua pihak yang membutuhkan terutama dilingkungan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang Deskripsi Alternatif : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuai: (1) bagimana sebenarnya konsep tasawuf dalam pemikiran Simuh. para peneliti. . emosional dan spiritual (IQ. (3) Antara tasawuf dan pendidikan akal kelihatanya seperti air dengan minyak yang tidak pernah bersatu. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan akan menjadi bahan informasi dan masukan bagi mahasiswa. (2) Islam memiliki konsep yang matang dan jelas tentang pendidikan akal yang akan mengantarkan kepada pembentukan pola pikir rasional seseorang. induktif. dan metode debat. Bertasawuf merupakan aktivitas belajar pengendalian diri. Intelektual.Tarbiyah IAIN Walisongo Dibuat : 2004-02-27. Analisis Deskriptif Kritis. Namun ada hubungan mutualisme di dalamnya. akan sulit menemukan ilmu dan kebenaran yang diharapkan. Dalam tasawuf kcerdasan akal. peran pendidikan akal penting adanya sebagai pendamping tasawuf ataupun sebaliknya. Namun Sufisme dengan ilmu kasyf-nya punya dasar pikiran bertolak belakang dengan alam pikiran modern yang menuntut pengembangan cara berfikir akademis kritis. Simuh melihat sufisme memang akan merupakan pelarian yang amat positif bagi orang-orang yang mengalami kegersangan spiritual dan frustasi dalam masyarakat modern. SQ) dikembangkan secara bersama-sama. dan transformasi nilai budaya akan terjadi Jika kita mempunyai semangat jihad intelektual yang tinggi. Data penelitian yang terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan pendekatan deduktif. Konsep tersebut bertumpu pada pandangan bahwa aktualisasi akal manusia hendaknya mengacu pada dicapainya prestasi seseorang di bidang intektual (ilmu) dan moral (taqwa) secara umum. penyelidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungn mutualistis antara tasawuf dalam pemikiran dan pendidikan Akal pada umumnya . baik hubungan horisontal maupun vertikal. Fak. Oleh karena itu. b) materi pendidikan akal adalah segala apa yang ada dimuka bumi ini yang empirik maupun yang non-empirik. tanya jawab. Tasawuf Islam. para tenaga pengajar. Unsur-unsur pendidikan akal adalah a) Tujuan pendidikan akal adalah agar manusia mempunyai keseimbangan antara ilmu dan ketaqwaan. Penelitian ini mengunakan metode Riset Perpustakaan (library research) dengan teknik analisis.Undergraduate Theses from JTPTIAIN / 2007-01-15 10:06:39 Oleh : Ali Ansori (NIM : 3198025). Demikian juga sebaliknya tasawuf tidak dapat menghasilkan hal positif manakala dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai kualitas keilmuan yang rendah.

Oleh karena itu. Intelektual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungn mutualistis antara tasawuf dalam pemikiran dan pendidikan Akal pada umumnya . Bertasawuf merupakan aktivitas belajar pengendalian diri. dialog atau diskusi. (2) Islam memiliki konsep yang matang dan jelas tentang pendidikan akal yang akan mengantarkan kepada pembentukan pola pikir rasional seseorang. tanya jawab. Dalam segi ajaran Simuh membagi tasawuf menjadi dua bagian. Data penelitian yang terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan pendekatan deduktif. Dalam tasawuf kcerdasan akal. dan pengembangan potensi diri. para tenaga pengajar. Namun Sufisme dengan ilmu kasyf-nya punya dasar pikiran bertolak belakang dengan alam pikiran modern yang menuntut pengembangan cara berfikir akademis kritis. Pertama. Unsur-unsur pendidikan akal adalah a) Tujuan pendidikan akal adalah agar manusia mempunyai keseimbangan antara ilmu dan ketaqwaan. EQ.(2) bagaimana sebenarnya pendidikan akal. dan (3) mengetahui adakah implikasi tasawuf dalam pemikiran Simuh terhadap pendidikan akal. latihan. SQ) dikembangkan secara bersama-sama.(1) Simuh sebagi tokoh produk pendidikan timur (Indonesia) dan Barat (Australia) dalam pemikiran tasawuf pada dasarnya menekankan konsep tawazun dalam Islam. dan transformasi nilai budaya akan terjadi Jika kita mempunyai semangat jihad intelektual yang tinggi. Transformasi ilmu. para peneliti. induktif. Pendidikan yang demokratis menekankan adanya kebebasan berfikir. penyelidikan. tasawuf dengan rasa dan pendidikan akal dengan rasionlitas. dan semua pihak yang membutuhkan terutama dilingkungan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang . akan sulit menemukan ilmu dan kebenaran yang diharapkan. Tasawuf Islam. Kedua Tasawuf Murni atau Tasawuf Mistik. (3) Antara tasawuf dan pendidikan akal kelihatanya seperti air dengan minyak yang tidak pernah bersatu. peran pendidikan akal penting adanya sebagai pendamping tasawuf ataupun sebaliknya. c) metode pendidikan akal adalah metode pembinaan. dan sarana dan prasarana pendidikan yang memadahi. dan metode debat. baik hubungan horisontal maupun vertikal. Simuh melihat sufisme memang akan merupakan pelarian yang amat positif bagi orang-orang yang mengalami kegersangan spiritual dan frustasi dalam masyarakat modern. problem solving. Demikian juga sebaliknya tasawuf tidak dapat menghasilkan hal positif manakala dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai kualitas keilmuan yang rendah. sistem dan pendekatan yang tertata dengan baik akan dapat melahirkan ahli tasawuf yang berkualitas dan kredibel. Penelitian ini mengunakan metode Riset Perpustakaan (library research) dengan teknik analisis. emosional dan spiritual (IQ. antara IQ (dzaka al-dzihni) EQ (tasfiatul qolbi) dan SQ (tazkiyah an-nafsi) dikembangkan secara harmonis sehingga menghasilkan daya guna yang luar biasa. Analisis Deskriptif Kritis. b) materi pendidikan akal adalah segala apa yang ada dimuka bumi ini yang empirik maupun yang non-empirik. Namun ada hubungan mutualisme di dalamnya. dan didukung sebuah sistem. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan akan menjadi bahan informasi dan masukan bagi mahasiswa. Konsep tersebut bertumpu pada pandangan bahwa aktualisasi akal manusia hendaknya mengacu pada dicapainya prestasi seseorang di bidang intektual (ilmu) dan moral (taqwa) secara umum.