Anda di halaman 1dari 33

ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI JERUK MANIS DI KELURAHAN LADONGI KECAMATAN LADONGI

SKRIPSI
OLEH :

FAHRA AKIB STB. 201 221 071


AGUSTINUS TANGALAYUK, SE. MS NIP. 131 831 678
MUH. TAUFIK, SE.MS NIP.

131 996 446

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertanian merupakan sektor yang sangat penting dalam perekonomian nasional. Oleh karena itu maka sektor ini harus mampu dibangun menjadi sektor andalan dan sebagai mesin penggerak perekonomian nasional. Visi pembangunan pertanian adalah memposisikan kembali sektor pertanian sebagai sektor andalan, sedangkan misinya adalah mewujudkan pertanian modern, tangguh dan efisien. Untuk mewujudkannya maka salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui optimalisasi pemanfaatan sumberdaya domestik (lahan, air, tenaga kerja,modal dan teknologi), sehingga memberikan peningkatan kesejahteraan petani dan masyarakat konsumen secara berimbang. Oleh karena tumpuan perekonomian berada pada sektor pertanian ini maka para pelaku ekonomi berupaya untuk meningkatkan sektor pertanian dengan melaksanakan berbagai kegiatan pengembangan usahatani guna menciptakan lapangan kerja dan kesempatan berusaha bagi petani. Perkembangan tersebut diperlukan juga di sub sektor perkebunan yang meliputi pengembangan sejumlah komoditi unggulan dan prospektif sebagai upaya pengelolaan dan peningkatan sumber daya perkebunan yang diharapkan dapat meningkatkan pendapatan serta membantu dalam memenuhi kebutuhan dasar maupun kebutuhan sekunder masyarakat tani. Jeruk merupakan salah satu komoditi perkebunan yang dapat memberikan kontribusi terhadap pendapatan petani dalam hal ini petani yang mengelola usahatani jeruk sehingga kegiatan usahatani jeruk mendapat perhatian yang serius dari para petani untuk ditingkatkan. Jeruk yang dibudidayakan dengan baik dan di Indonesia dan diharapkan dapat menjadi nilai tambah dalam rangka peningkatan pendapatan petani serta menciptakan lapangan kerja yang produktif dan mampu memberikan peningkatan pendapatan masyarakat tani. Kemampuan berusahatani bagi masyarakat pedesaan dalam mengolah lahan merupakan faktor utama untuk memperoleh output berupa hasil pertanian yang

PDF Created with deskPDF PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com

1.2.

1.3.

diinginkan. Kegiatan ini dilakukan juga oleh masyarakat tani yang berada di Kelurahan Ladongi Kecamatan Ladongi Kabupaten Kolaka. Keberadaan masyarakat di Kelurahan Ladongi dengan mata pencaharian yang 62,35% adalah sebagai petani menunjukkan bahwa kegiatan usahatani merupakan kegiatan yang utama dan salah satu kegiatannya adalah usahatani jeruk. Produksi jeruk dari Kelurahan Ladongi Kecamatan Ladongi, secara regional memperlihatkan perkembangan produksi jeruk tidak begitu besar dibandingkan dengan komoditi lain, tetapi tingkat produksinya dapat memberikan kontribusi bagi pendapatan petani, terutama petani jeruk. Produksi jeruk yang dihasilkan oleh para petani di Kelurahan Ladongi Kecamatan Ladongi adalah jenis manis yang diperoleh dari hasil usahatani dan kegiatan petani jeruk yang memanfaatkan lahan untuk menanam jeruk sehingga hasil produksi tersebut dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan petani. Untuk memperoleh pendapatan yang maksimal, petani harus melakukan kegiatan pemasaran artinya memasarkan hasil usahataninya langsung kepada konsumen maupun kepada pedagang pengumpul guna memperoleh pendapatan. Hasil panen jeruk manis pada setiap musim panen jeruk diharapkan mampu meningkatkan pendapatan, dan kesejahteraan petani jeruk yang ada di Kelurahan Ladongi. Namun hasil produksi yang diperoleh petani sering mengalami gagal panen karena tanaman jeruk manis dibudidayakan dengan tanaman lain dalam lahan yang sama sehingga produksi jeruk manis mengalami penurunan. Selain itu dengan menurunnya tingkat produksi secara langsung dapat mempengaruhi tingkat pendapatan petani jeruk. Untuk itu petani berusaha untuk melakukan kegiatan usahatani jeruk manis guna dapat memperoleh hasil produksi yang baik. Penggunaan lahan sebagai salah satu input dalam peningkatan produksi jeruk manis membuat petani jeruk harus bekerja giat untuk memanfaatkan lahan dengan menanam jeruk yang menjadi salah satu sumber pendapatan petani jeruk tersebut. Bedasarkan uraiaan yang dikemukakan sebelumnya maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan mengangkat judul. Analisis Pendapatan Usahatani Jeruk Analisis Ladongi. Manis di Kelurahan Ladongi Kecamatan Ladongi Permasalahan Berdasarkan uraian di atas, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah : Berapa besar pendapatan petani jeruk manis di Kelurahan Ladongi Kecamatan Ladongi ? Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1. Tujuan Penelitian Yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah : Untuk mengetahui besarnya pendapatan petani jeruk manis di Kelurahan Ladongi Kecamatan Ladongi. 1.3.2. Manfaat Penelitian 1. Sebagai bahan masukan bagi petani jeruk dalam upaya peningkatan usahatani jeruk di Kelurahan Ladongi Kecamatan Ladongi.

PDF Created with deskPDF PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com

1.4.

2. Sebagai bahan perbandingan bagi peneliti yang lain yang berhubungan dengan penelitian ini. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini meliputi kajian tentang analisis usahatani jeruk di Kelurahan Ladongi Kecamatan Ladongi Kabupaten Kolaka yang meliputi tingkat produksi, harga jual jeruk, biaya usahatani jeruk, dan jumlah petani jeruk yang ada di Kelurahan Ladongi. BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

2.2.

Penelitian Terdahulu Penelitian yang dilakukan oleh Syahrir A (2001) dengan judul skripsi Analisis Pendapatan Usahatani Jeruk manis di Kecamatan Palangga Kabupaten Konawe Selatan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan analisis pendapatan dengan rumus : NI = TR TC TR = P x Q TC = VC + FC Dimana : NI = Net Fram Income (Total Pendapatan Bersih) TR= Total revenue (Penerimaan Kotor dari Kegiatan Usahatani) TC= Total Cost (Total biaya) Penelitian ini menunjukkan bahwa jeruk manis yang diproduksikan di Kecamatan Ladongi dipasarkan ke berbagai daerah dan kota. Pemasaran jeruk manis yang dilakukan di Kecamatan Ladongi merupakan pemasaran langsung kepada konsumen dan pedagang sehingga petani tidak mendapat kesulitan dalam memasarkan hasil produksi jeruk manis. Persamaan dengan penelitian ini adalah kegiatan usahatani untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Kegiatan usahatani tersebut dilakukan sebagai upaya untuk memperbaiki pola perekonomian masyarakat desa dan kelurahan agar lebih mandiri dan sejahtera. Perbedaan dengan penelitian ini adalah kegiatan usahatani jeruk mengemukakan kegiatan usahatani yang mencakup kegiatan produksi hingga kegiatan pemasaran jeruk yang dilakukan oleh petani jeruk di Kelurahan Ladongi. Pengertian Petani dan Pertanian Petani adalah orang yang pekerjaannya bercocoktanam pada tanah pertanian. Definisi petani menurut Anwas Adiwilaga ( 1982 : 34) mengemukakan bahwa petani adalah orang yang melakukan bercocok tanam dari lahan pertaniannya atau memelihara ternak dengan tujuan untuk memperoleh kegiatan dari kegiatan itu. Anwas Adiwilaga (1982 : 34 ) mengemukakan bahwa pertanian adalah kegiatan manusia mengusahakan terus dengan maksud memperoleh hasil-hasil tanaman ataupun hasil hewan, tanpa mengakibatkan kerusakan alam, sedangkan yang dimaksud dengan

PDF Created with deskPDF PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com

2.3.

petani adalah orang yang melakukan bercocok tanam dari lahan pertaniannya atau memelihara ternak dengan tujuan untuk memperoleh kehidupan dari kegiatannya itu. Bertolak dari kegiatan di atas, dapat dikatakan bahwa antara petani dan pertanian tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Oleh karenaitu perbedaannya hanya terletak pada obyek saja. Konsep dan Pengertian Usahatani Kegiatan ekonomi yang dapat menghasilkan barang dan jasa disebut berproduksi, begitu pula dalam kegiatan usahatani yang meliputi sub sektor kegiatan ekonomi pertanian tanaman pangan, perkebunan tanaman keras, perikanan dan peternakan adalah merupakan usahatani yang menghasilkan produksi. Untuk lebih menjelaskan pengertian usahatani dapat diikuti dari definisi yang dikemukakan oleh Mubyarto (1981 : 41 )yaitu usahatani adalah himpunan sumber-sumber alam yang terdapat pada sektor pertanian itu diperlukan untuk produksi pertanian, tanah dan air, perbaikan-perbaikan yang telah dilakukan atas tanah dan sebagainya, atau dapat dikatakan bahwa pemanfaatan tanah untuk kebutuhan hidup. Pengertian di atas dapat dijelaskan bahwa pada mulanya usahatani bertujuan untuk memenuhi kebutuhan keluarga petani, segala jenis tanaman dicoba, dibudidayakan. Segala jenis ternak dicoba, dipopulasikan, sehingga ditemukan jenis yang cocok dengan kondisi alam setempat, kemudian disesuaikan dengan prasarana yang harus disiapkan guna menunjang keberhasilan produk usahatani. Menurut Mosher (1985 : 38 ) mengemukakan usahatani adalah bagian dari permukaan bumi dimana seorang petani dan keluarganya atau badan hukum lainnya bercocok tanam atau memelihara ternak. Menurut Soekartawi (1986 : 39 ) mendefinisikan usahatani sebagai ilmu yang mempelajari bagaiman seseorang mengalokasikan sumberdaya yang ada secara efektif dan efisien untuk tujuan memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu. Mubyarto (1986 : 41 ) mengemukakan bahwa usahatani adalah himpunan dari sumber-sumber alam yang terdapat ditempat itu yang dilakukan untuk produksi pertanian. Jadi usahatani yang sesungguhnya tidak sekedar hanya terbatas pada pengambilan hasil, melainkan benar-benar usaha produksi, sehingga disini berlangsung pendayagunaan tanah, investasi, tenaga kerja dan manajemen. Tingkat keberhasilan dalam pengelolaan usahatani sangat ditentukan oleh keempat faktor diatas. Menurut Soekartawi (1986 :24 )menyatakan bahwa berhasil di dalam suatu kegiatan usahatani tergantung pada pengelolaannya karena walaupun ketiga faktor yang lain tersedia. Maka penggunaan dari faktor-faktor produksi yang lain tidak akan memperoleh hasil yang optimal. Bagi seorang petani, analisa pendapatan merupakan ukuran keberhasilan dari suatu usahatani yang dikelola dan pendapatan ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan bahkan dapat dijadikan sebagai modal untuk memperluas usahataninya. Hal ini sejalan dengan pernyataan Patong (1985 : 14 ) bahwa pendapatan mempunyai fungsi yang sama yaitu memenuhi kebutuhan sehari-hari dan memberikan kepuasan kepada petani agar dapat melanjutkan usahanya. Lebih lanjut dikatakan oleh Hernanto (1993 : 50 ) bahwa besarnya pendapatan petani dan usahatani dapat menggambarkan kemajuan ekonomi usahatani dan besarnya

PDF Created with deskPDF PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com

2.4.

2.5.

tingkat pendapatan juga digunakan untuk membandingkan keberhasilan petani satu dengan petani lainnya. Soeharjo dan Patong (1984 : 16 ) menyatakan bahwa analisis pendapatan usahatani memerlukan dua hitungan pokok, yaitu keadaan penerimaan dan keadaan pengeluaran selama jangka waktu yang ditetapkan. Penerimaan usahatani berwujud tiga hal, yaitu : 1. Hasil penjualan tanaman, ternak, dan hasil ternak 2. Produksi yang dikonsumsikan keluarga 3. Kenaikan nilai industri Prinsip Ekonomi Dalam Produksi Usahatani Prinsip-prinsip ekonomi dalam usahatani perlu diperhatikan dengan tujuan menetapkan alternatif tentang penggunaan yang bagaimana dapat memberikan keuntungan. Prinsip-prinsip tersebut antara lain : a. Prinsip biaya berimbang ( Principle of opportunity cost ) b. Prinsip keuntungan komparatif (Principle of comparative advantage) c. Prinsip kenaikan hasil yang berkurang (Principle of diminishing return) d. Prinsip kombinasi usaha (Principle of combining enterprises ) Dalam pengembangan usahatani secara umum tidak terlepas dari persoalan biaya, sehingga seorang petani bila ingin memperoleh keuntungan yang sesuai, maka diperlukan suatu perencanaan yang matang dalam pengambilan keputusan untuk memilih jenis usahatani yang cocok dan sesuai dengan kondisi lahan. Dengan perhitungan yang matang, maka peluang untuk menutupi biaya-biaya yang dikeluarkan tentu akan dapat ditutupi. Dengan tertutupinya biaya-biaya tersebut, tentu peluang untuk memperoleh keuntungan dari hasil pendapatan usahataninya dapat diperoleh. Kartasapoetra (1988 : 65 ) menempatkan biaya sebagai tempat yang penting dalam berproduksi sehingga tersedianya sejumlah biaya benar-benar harus diperhitungkan sedemikian rupa agar produksinya dapat berlangsung dengan baik dan benar, karena biaya sangat berkaitan erat dengan produksi dan selalu muncul dalam setiap kegiatan ekonomi. Adapun besar kecilnya biaya tergantung pada nilai input atau pengeluaran yang digunakan dalam kegiatan produksi. Menurut Soeharjo dan Patong (1984 : 17) mengatakan bahwa biaya mempunyai peranan dalam pengambilan keputusan pada kegiatan usahatani. Besarnya biaya usahatani yang dikeluarkan untuk memproduksi sangat ditentukan oleh besarnya biaya pokok dari produksi yang dihasilkan. Pengeluaran usahatani secara umum meliputi biaya tetap dan biaya variabel. Menurut Soekartawi (1986 : 76 ) mengemukakan bahwa biaya tetap meliputi pajak dan sewa tanah. Sedangkan yang termaksud biaya variabel. Konsep Produksi Secara umum produksi diartikan sebagai aktivitas untuk menciptakan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia, Jadi produksi adalah aktivitas yang menciptakan atau menambahkan utility suatu barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia.

PDF Created with deskPDF PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com

Sofyan Assauri (1993 : 54 ) mengemukakan bahwa produksi adalah kegiatan menciptakan atau menambah kegunaan ( utility ) sesuatu barang atau jasa dengan menggunakan sumber sumber ( tenaga kerja, mesin, bahan-bahan, dan modal ) yang ada. Sedangkan Wasis ( 1992 : 40 ) menjelaskan bahwa produksi adalah perubahan bahan atau komponen ( produksi ) menjadi barang jadi. I gusti (1994 : 19 ) mengemukakan bahwa produksi adalah sebagai hasil dari proses aktivitas ekonomi dengan memanfaatkan sumberdaya yang tersedia serta yang memiliki potensi sebagai faktor produksi. Hernanto ( 1995 : 32 ) mengemukakan bahwa produksi adalah suatu proses untuk memenuhi kebutuhan untuk menyelenggarakan jasa- jasa lain yang dapat memenuhi kebutuhan manusia. Menurut Mubyarto (1989 : 25 ) produksi petani adalah hal yang diperoleh sebagai akibat bekerjanya faktor produksi tanah, modal, dan tenaga kerja secara simultan. Dalam melakukan usahatani, seorang pengusaha atau katakanlah seorang petani akan selalu berpikir bagaimana mengalokasikan input seefisien mungkin untuk memperoleh produksi yang maksimal. Cara pemikiran yang demikian adalah wajar, mengingat petani melakukan konsep bagaimana memaksimumkan keuntungan. Dalam ilmu ekonomi cara berpikir demikian sering disebut dengan pendekatan maksimum keuntungan atau profit maximization. Dalam kaitan itu Kartosapoetra (1988 : 43 ) mengemukakan bahwa produksi merupakan hasil yang diperoleh yang berkaitan dengan berlangsungnya proses produksi. Kuantitas dan kualitas hasil (output) tersebut tergantung pada keadaan input yang telah diberikan. Jadi antara input dan output terdapat kaitan yang jelas dan tertentu. Dalam bidang pertanian istilah yang dimaksud yaitu hasil dari pekerjaan beberapa faktor produksi secara sekaligus Mubyarto, (1989 : 30). Oleh karena itu faktor-faktor ekonomi yang berpengaruh terhadap produksi khususnya lahan, dan modal. Dimana istilah lahan yang dimaksud mengandung dimensi luas lahan, tingkat kesuburan dan faktor-faktor lain yang melekat dalam faktor lahan itu sendiri. Soekartawi dkk (1986 : 78 ) mengemukakan bahwa dalam menghitung produksi usahatani biasanya dibedakan antara konsep produksi per unit uasahatani (cabang uasahatani ) oleh produksi total usahatani. Produksi per unit usahatani adalah kuantitas hasil yang dipergunakan di suatu jenis usahatani selama satu periode tertentu. Faktor produksi sering disebut dengan korban produksi yang digunakan (input) untuk menghasilkan produksi (output). Hubungan input dan output dirumuskan secara matematis oleh Soekartawi dkk (1986 : 80 ) sebagai berikut : Y = f(X1,X2, X3, ....Xi, ....Xn) Dimana : Y = produksi atau variabel yang dipengaruhi oleh faktor produksi X, X = faktor produksi atau variabel yang mempengaruhi Y. Dalam proses produksi pertanian, maka Y dapat berupa produksi pertanian dan X dapat berupa lahan pertanian, tenaga kerja, modal, dan manajemen. Namun demikian dalam praktek, keempat faktor produksi tersebut belum cukup untuk dapat menjelaskan

PDF Created with deskPDF PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com

2.6.

Y. Faktor-faktor sosial ekonomi lainnya seperti tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, tingkat keterampilan dan lain-lain juga berperan dalam mempengaruhi tingkat produksi. Pendapatan Usahatani Petani bekerja keras mengolah lahan garapan dengan suatu harapan dapat memperoleh suatu hasil usahatani yang menguntungkan untuk mencukupi kebutuhan hidup dirinya dan keluarganya. Secara umum petani mengharapkan keuntungan atau penerimaan yang lebih besar dari biaya yang telah dikeluarkan untuk melakukan aktivitas usahatani tersebut. Hasil usahatani yang didapat setelah dikurangi dengan biaya usahatani yang terjadi merupakan pendapatan petani. Dalam pengertian umum pendapatan dapat diartikan sebagai hasil pencaharian (usaha dan sebagainya). Jadi yang dimaksud dengan pengertian ini adalah hasil usaha yang diperoleh seorang anggota masyarakat. Dari sudut pandang ekonomi, pembagian hasil kepada seluruh faktor produksi yang digunakan dalam faktor produksi. Dengan kata lain proses produksi akan menciptakan pendapatan kepada berbagai faktor produksi yang digunakan. Menurut Budiono (1987 : 32) mengemukakan bahwa hasil pendapatan dari seorang warga masyarakat adalah hasil penjualan dari faktor-faktor yang dimiliknya kepada sektor produksi. Jadi pendapatan adalah hasil penjualan faktor produksi atau aset yang dimilikinya. Hal ini mengandung pengertian bahwa besar kecilnya pendapatan yang diperoleh secara individu ditentukan oleh dua faktor yaitu : 1. Jumlah faktor-faktor yang dimiliki 2. Harga per unit dari masing-masing sumber atau faktor yang dimiliki Dalam pengertian sederhana pendapatan dapat diartikan sebagai modal penerimaan produksi setelah dikurangi dengan jumlah biaya. Balas jasa yang diterima sebagai jumlah produksi yang dihitung untuk jangka waktu tertentu. Di samping itu jumlah pendapatan mempunyai fungsi untuk memenuhi keperluan sehari-hari dan memberikan kepuasan kepada petani agar dapat melanjutkan produksinya. Selanjutnya pendapatan usahatani dikenal pula istilah pendapatan kotor (gross farm income). Pendapatan usahatani adalah nilai produk total usahatani dalam jangka waktu tertentu baik yang dijual maupun yang tidak dijual Soekartawi, (1986 : 82). Oleh karena itu komponen pendapatan kotor usahatani adalah mencakup semua produksi yang : a. Dijual b. Dikonsumsi c. Digunakan untuk bibit, dan makanan ternak d. Disimpan di gudang Apabila total pendapatan kotor tersebut dikurangi dengan biaya usahatani (biaya produksi) dan biaya-biaya penjualan, maka diperoleh pendapatan bersih usahatani. Dengan demikian pendapatan bersih (Net Farm Income) usahatani berlaku formula ekonomi sebagai berikut : NET FARM INCOME = TOTAL PENDAPATAN KOTOR PERUSAHAAN TOTAL BIAYA PRODUKSI DAN BIAYA PEMASARAN.

PDF Created with deskPDF PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com

(Hernanto, 1993 : 63) atau : NI = TR TC TR = P X Q TC = Biaya Produksi + Biaya Pemasaran Dimana : NI = Net Income TR = Total Revenue TC = Total Cost P = Price (Harga) Q = Quantitas Produksi Selain itu Hernanto (1993 : 63) mengemukakan bahwa pendapatan kerja petani adalah merupakan penjumlahan dari penerimaan dan penjualan hasil, penerimaan yang diperhitungkan dari yang digunakan untuk keluarga dan kenaikan nilai inventaris dikurangi pengeluaran tunai dan pengeluaran yang diperhitungkan, termasuk bunga modal. Konsep Lahan Menurut pengertiannya, lahan adalah luas tanah yang mempunyai potensi untuk dapat dipakai sebagai usaha pertanian. Soekartawi (1986 : 84). Oleh karena itu luas lahan dalam usaha pertanian akan mempengaruhi usahatani, dan usaha ini pada akhirnya akan mempengaruhi efisiensi atau tidaknya suatu usaha pertanian. Dalam banyak kenyataan, lahan pertanian dapat dibedakan dengan tanah pertanian. Lahan pertanian banyak diartikan sebagai tanah yang disiapkan untuk diusahakan usahatani. Sedangkan tanah pertanian adalah tanah yang belum tentu diusahakan dengan usaha pertanian. Soekartawi. Dkk, (1986 : 4 ) Sehubungan dengan hal tersebut di atas, kebutuhan lahan pertanian juga menentukan produktivitas tanaman. Lahan yang subur akan menghasilkan produksi yang lebih tinggi dari lahan yang tingkat kesuburannya rendah. Tingginya produksi tanaman pada lahan tertentu secara otomatis akan mempengaruhi nilai lahan dari suatu usahatani. Nilai lahan ini akan nampak setelah seluruh produksi telah dibayarkan. Menurut John M. Harwik, dan Nancy D. Olewiler (1986 :89) mengemukakan bahwa nilai lahan adalah sewa rata-rata yang diterima oleh lahan yang luas tertentu. Dari pengertian nilai lahan tersebut diketahui bahwa untuk memperoleh nilai lahan yang dimasukkan dalam usahatani, dibutuhkan pemanfaatan lahan seefesien mungkin. Berdasarkan beberapa pengertian lahan yang dimaksudkan, maka nilai produksi lahan adalah total nilai ekonomi yang diperoleh dari pemanfaatan luas lahan tertentu selama satu periode yang biasanya selama satu tahun. Kerangka Pikir Kegiatan usahatani jeruk merupakan kegiatan usaha perkebunan yang sangat banyak dikelola oleh petani jeruk sebagai salah satu mata pencaharian, sehingga upaya

2.7.

2.8.

PDF Created with deskPDF PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com

untuk meningkatkan produksi hasil perkebunan jeruk terus diupayakan untuk memperoleh hasil produksi dan tingkat pendapatan petani. Jeruk merupakan salah satu hasil produksi dari sub sektor perkebunan yang cukup potensial, oleh karena jumlah permintaan masyarakat dan permintaan pasar akan jeruk memberikan kesempatan bagi petani jeruk untuk berusaha lebih giat lagi dalam menghasilkan produksi jeruk. Pemenuhan permintaan masyarakat akan jeruk secara langsung mempengaruhi tingkat penawaran dari petani jeruk sebagai produsen, maka untuk dapat memenuhi permintaan masyarakat tersebut diupayakan adanya peningkatan jumlah produksi komoditi jeruk. Faktor permintaan meliputi konsumen, pasar lokal dan pasar regional sedangkan penawaran meliputi biaya produksi yang terdiri dari biaya tenaga kerja, biaya pupuk, dan biaya obat-obatan. Hal ini tidak terlepas dari kegiatan petani jeruk yang dalam melakukan pengembangan usahatani jeruk selalu berupaya untuk memperoleh hasil yang diharapkan. Kegiatan usahatani jeruk akan menghasilkan jumlah produksi jeruk yang diharapkan untuk memenuhi permintaan dari konsumen dan pasar lokal maupun pasar regional serta petani juga berusaha untuk menawarkan jeruk dengan tingkat harga yang sesuai guna memperoleh keuntungan. Penelitian ini dianalisis dengan mengguankan analisis kualitatif untuk menjelaskan kegiatan usahatani jeruk di Kecamatan Ladongi kabupaten Kendari dan analisis pendapatan untuk usahatani mengetahui tingkat pendapatan petani jeruk. Dengan demikan akan menghasilkan rekomendasi yang mengarah kepada tujuan meningkatkan pendapatan usahatani jeruk untuk memperoleh pendapatan maksimal sehingga kegiatan petani jeruk tersebut dapat terus dikembangkan dalam meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat petani jeruk di Kecamatan Ladongi Kabupaten Kendari. Untuk jelasnya hal tersebut dapat disajikan pada skema berikut :

PDF Created with deskPDF PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com

10

Skema 1. KERANGKA PIKIR


Petani Jeruk Manis

Produksi

Biaya

Berapa Besar Pendapatan Petani Jeruk Manis

Analisis Pendapatan Bersih NI = TR - TC

Kesimpulan dan Rekomendasi

BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Penelitian Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Ladongi Kecamatan Ladongi Kabupaten Kolaka. Dasar pertimbangan memilih lokasi ini adalah : 1. Sebagian besar petani di Kelurahan Ladongi melakukan kegiatan usahatani jeruk. 2. Kelurahan Ladongi memiliki potensi untuk pengembangan usahatani jeruk pada masa yang akan datang. Jenis dan Sumber Data 3.2.1. Jenis Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

3.2.

PDF Created with deskPDF PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com

11

a. Data Primer meliputi data tentang, jumlah produksi (penawaran), jumlah penjualan, jumlah biaya produksi, data lain yang berhubungan dengan penelitian ini. b. Data sekunder meliputi data harga jual komoditi jeruk, jumlah permintaan, data penjualan, dan data lain yang relevan dengan penelitian ini. 3.2.2. Sumber Data Data primer yang dikumpulkan, bersumber dari obyek penelitian dalam hal ini petani jeruk yang terpilih sebagai responden di Kecamatan Ladongi. Data sekunder merupakan data yang bersumber dari instansi terkait dalam hal ini Kantor Dinas Perkebunan dan Balai Penyuluhan Pertanian. 3.3. Populasi dan Sampel 3.3.1. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan petani di Kecamatan Ladongi yang melakukan kegiatan usahatani jeruk manis sejumlah 213 orang 3.3.2. Sampel Untuk memudahkan penelitian ini, penentuan sampel dilakukan secara purposive sampling (pengambilan sampel secara sengaja) yaitu sebanyak 21 responden, selanjutnya dibagi dalam tiga kelompok (cluster) berdasarkan pemilikan lahan pada masing-masing desa dengan ketentuan sebagai berikut : a. Pemilikan lahan terkecil ( 0,5 Ha ) sebanyak 7 orang. b. Pemilikan lahan sedang ( 0,5 1 Ha ) sebanyak 7 0rang c. Pemilikan lahan terluas ( lebih dari 1 Ha ) sebanyak 7 orang

3.4.

3.5.

Tehnik Pengumpulan Data 1. Observasi, yaitu mengadakan pengamatan langsung terhadap aktivitas petani jeruk di Kecamatan Ladongi. 2. Wawancara, yakni mengadakan wawancara langsung dengan petani jeruk (responden) di Kecamatan Ladongi, mengenai tingkat pendapatan usahatani jeruk. 3. Dokumentasi yakni mengadakan pengamatan terhadap data-data yang telah di dokumentasikan di Kantor Kecamatan Ladongi, Biro Statistik, dan Instansi yang terkait dengan penelitian ini. Peralatan Analisis Dalam membahas penelitian ini digunakan analisa sebagai berikut : Untuk mengetahui besarnya pendapatan usahatani jeruk digunakan pendekatan sebagai berikut : NI = TR TC TR = P x Q TC = VC + FC Dimana : NI = Net Income ( total pendapatan bersih )

PDF Created with deskPDF PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com

12

3.6.

TR = Total Revenua ( Penerimaan kotor dari kegiatan usahatani ) TC = Total Biaya Usahatani VC = Variabel Cost FC = Fixed Cost P = Harga Q = Nilai Produksi Definisi Opersional Definisi operasional merupakan batasan atau pengertian dari istilah yang digunakan dalam penulisan ini, untuk memperjelas ruang lingkup dari penelitian : a. Pendapatan yaitu pendapatan bersih yang diperoleh petani dari pengunaan lahan kebun setiap tahun (dihitung dalam rupiah). b. Pendapatan kotor yaitu nilai pasar yang diperoleh dari hasil pengelolaan lahan kebun jeruk (dihitung dalam satuan rupiah). c. Total biaya yaitu keseluruhan biaya yang dikeluarkan melalui proses pengelolaan lahan sampai pemasaran / penjualan hasil produksi selama 1 (satu) tahun (dihitung dalam satuan rupiah). d. Nilai produksi adalah keseluruhan kuantitas produksi yang diperoleh penggunaan lahan perkebunan (dihitung dalam satuan kg). e. Fixed Cost (biaya tetap) yang dimaksud adalah biaya yang tidak berubah dalam kegiatan produksi (dihitung dalam satuan rupiah) f. Variabel Cost (biaya variabel) yang dimaksud adalah biaya yang berubah berdasarkan volume kegiatan usahatani jaruk manis di Kelurahan Ladongi (dihitung dalam satuan rupiah) g. Harga yang dimaksud adalah nilai jual jeruk manis, (dihitung dalam satuan rupiah).

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Letak 4.1.1. Letak Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Ladongi yang tertelak di Kecamatan Ladongi Kabupaten Kolaka dengan jarak 52 km dari Ibukota Kabupaten dan 153 km dari ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara. Adapun batas-batas wilayah Kelurahan Ladongi dapat dijelaskan sebagai berikut : Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Lamoare Sebelah Timur berbatasan dengan Hutan Aopa Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Atula Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Putemata

PDF Created with deskPDF PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com

13

Lokasi 4.1.2. Kondisi Geografis Lokasi Penelitian Wilayah Kelurahan Ladongi pada umumnya merupakan wiayah dataran rendah dengan ketinggian lebih kurang 164 meter di atas permukaan laut (dpl) dengan tingkat keasaman tanah pH sebesar 6,2. Lahan pertanian yang dimiliki oleh masyarakat di Kelurahan Ladongi telah dikembangkan dan dibudidayakan aneka ragam komoditas, yang salah satunya adalah jeruk manis. Kelurahan Ladongi mempunyai luas wilayah secara keseluruhan seluas 10.450 ha. Dari luas wilayah tersebut secara tata guna tanah Kelurahan Ladongi terbagi atas perladangan, perkebunan, persawahan dan pemukiman. Untuk mengetahui dengan jelas masing-masing pemanfaatan wilayah Kelurahan Ladongi dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1. Luas Wilayah Kelurahan Ladongi Berdasarkan Pemanfaatannya Tahun 2004 Luasan Wilayah Pemukiman Penduduk Persawahan Perladangan Perkebunan Perkantoran Sekolah Tempat Ibadah Sarana Olah Raga Hutan Jumlah Sumber : Kantor Kelurahan Ladongi, 2004 No. 1 2 3 4 5 6 7 8. 9. Luas (Ha) 3.125 1.697 250 2.851 5 8 6 8 2.500 10.450 Persentase ( % ) 29,90 16,24 2,39 27,28 0,05 0,08 0,06 0,08 23,92 100,00

Dari tabel tersebut di atas menunjukkan bahwa Kelurahan Ladongi memiliki lahan yang cukup potensial untuk pengembangan produksi pertanian, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal. Dalam hal ini baru 2.851 ha yang terolah sebagai areal perkebunan, perladangan seluas 250 ha dan persawahan seluas 1.697 ha. perkantoran dan sekolah seluas 12 ha, tempat ibadah 6 ha, sarana olah raga 8 ha dan hutan yang terbentang luas dalam wilayah ini seluas 2.500 ha atau sebesar 23,92 persen dari luas wilayah Kelurahan Ladongi.. 4.1.3. Keadaan Iklim Lokasi Penelitian Berdasarkan data yang diperoleh, Kelurahan Ladongi beriklim tropis yang pada umumnya sama dengan di daerah lain yang ada di Kecamatan Wundulako Kabupaten Kolaka, yang beriklim tropis dengan peluang musim hujan selama 7 bulan dan musim kemarau selama 5 bulan, sedangkan curah hujan dalam kurun waktu 5 tahun terakhir rata-rata adalah 173 mm perbulan. Keadaan iklim kadangkala berubah-ubah tapi sesuai kondisi di Kelurahan Ladongi pada umumnya sama dengan di daerah lain yang ada di Kabupaten Kolaka yaitu pada bulan Oktober sampai bulan Maret berlangsung musim kemarau dan dari bulan April sampai dengan bulan September berlangsung musim penghujanan. Namun demikian, kondisi iklim tersebut ada kalanya tidak menentu, tetapi sesuai tipe iklim yang dimiliki

PDF Created with deskPDF PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com

14

pada Kelurahan Ladongi peluang musim penghujan lebih besar ketimbang musim kemarau dalam setiap tahunnya. 4.1.3. Penelitian Kondisi Demografi Lokasi Penelitian Berdasarkan hasil regristrasi penduduk sampai dengan tahun 2004 penduduk Kelurahan Ladongi berjumlah 1. 254 Jiwa yang terdiri dari 274 kepala keluarga. Dari jumlah penduduk tersebut terdiri dari 644 laki-laki dan 610 perempuan. Kelompok usia penduduk, sebagian besar penduduknya masih tergolong usia produktif. Untuk lebih jelasnya tentang hal tersebut dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2. Jumlah Penduduk Kelurahan Ladongi Menurut Kelompok Usia Dirinci Perjenis Kelamin Tahun 2004 Kelompok Usia 0 - 4 5 - 9 10 - 14 15 - 19 20 24 25 29 30 - 24 35 - 29 40 - 44 45 - 49 50 - 54 55 - 59 60 Keatas Jumlah Jenis Kelamin Laki-2 (Jiwa) 51 69 85 88 78 53 37 23 34 38 34 17 37 644 Perempuan (Jiwa) 36 74 61 85 67 60 40 42 25 38 38 21 23 610 Jumlah Jiwa 87 143 146 173 145 113 77 65 59 76 72 38 60 1.254 (%) 6,94 11,40 11,64 13,79 11,56 9,01 6,14 5,18 4,70 6,06 5,74 3,06 4,78 100,00

Sumber : Kantor Kelurahan Ladongi, 2004 Dari tabel 2 tersebut, dapat dijelaskan bahwa kelompok umur yang belum produktif (0 - 14 tahun) berjumlah 376 jiwa atau 29,98 persen dan penduduk yang tidak produktif lagi adalah berjumlah 60 Jiwa atau 4,78 persen Sedangkan penduduk yang umur produktif (15 - 59 tahun) berjumlah 818 Jiwa atau 65,23 persen dari 1.037 Jiwa penduduk Kelurahan Ladongi. Dengan demikian jumlah penduduk umur produktif lebih banyak dibandingkan kelompok umur yang belum produktif. Hal ini dapat memberikan gambaran bahwa bila sejumlah umur produktif tersebut rata-rata petani, maka memungkinkan bagi mereka untuk selalu berusaha tani dengan baik dalam arti meningkatkan produksi pertanian melalui cara-cara ekstensifikasi, intensifikasi serta diversifikasi lahan pertanian. Berdasarkan struktur mata pencaharian penduduk, sebagian besar atau 62,35 persen adalah petani dan selebihnya 37,65 persen bermata pencaharian utama sebagai pegawai, pedagang dan lain sebagainya. Untuk lebih jelasnya mengenai mata pencaharian penduduk Kelurahan Ladongi dapat dilihat pada tabel 3.

PDF Created with deskPDF PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com

15

Tabel 3. Penduduk Kelurahan Ladongi Berdasarkan Struktur Mata Pencaharian Tahun 2004 No. Jenis Mata Pencaharian Jumlah (Orang) Persentase ( % ) 1. Petani 548 62,35 2. Pegawai/Karyawan 44 5,01 3. Pedagang 181 20,68 4. Pensiunan ABRI 87 9,91 5. Buruh Tani 18 2,05 Jumlah Sumber : Kantor Kelurahan Ladongi, 2004 Berdasarkan tabel 3 tersebut diatas nampak bahwa jenis mata pencaharian masyarakat Kelurahan Ladongi 548 atau 62,35 persen dari jumlah penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani. Penduduk Kelurahan Ladongi yang bermata pencaharian sebagai pegawai yakni berjumlah 44 Orang atau 5,01 persen, pedagang berjumlah 181 orang atau 20,68 persen, Pensiunan ABRI sebanyak 87 orang, atau 9,91 persen yang berprofesi sebagai buruh tani sebanyak 18 orang atau 2,05 persen dari penduduk Kelurahan Ladongi. 4.2. Karakteristik Petani Responden a. Responden Menurut Tingkat Pendidikan 878 100,00

Apabila karakteristik responden petani dilihat dari tingkat pendidikan, maka sebagian besar atau 53,33 persen petani jeruk manis di Kelurahan Ladongi hanya berpendidikan SD. Untuk lebih jelasnya mengenai struktur pendidikan dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 4. Karakterisitik Responden Petani Jeruk manis di Kelurahan Ladongi Menurut Tingkat Pendidikan Tahun 2004 No Tingkat Pendidikan Jumlah Responden (Orang) 11 8 2 Prosentase (%) 53,33 36,67 10,00

1. 2. 3.

SD SLTP SLTA

Jumlah 21 100,00 Sumber : Kantor Kelurahan Ladongi, 2004 Dari tabel 4 diketahui bahwa tingkat pendidikan responden petani jeruk manis masih sangat rendah, dimana jumlah angkatan belajar yang berpendidikan tamatan SD sebanyak 11 responden atau sebesar 53,33 persen responden yang berpendidikan SMP berjumlah 8 responden atau sebesar 36,67 persen. Sedangkan responden yang

PDF Created with deskPDF PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com

16

berpendidikan SLTA sebanyak 2 responden atau 10,00 persen. Hal ini juga memberikan gambaran bahwa pengalaman berusaha tani jeruk manis petani di Kelurahan Ladongi hanya berdasarkan pola kebiasaan dalam bercocok tanam yang telah menjadi tradisi. b. Responden Menurut Tingkat Usia Karakteristik petani responden dilihat dari usia petani yang disajikan pada tabel berikut : Tabel 6. Karakteristik Responden Petani Jeruk manis di Kelurahan Ladongi Menurut Tingkat Usia Tahun 2004 No 1. 2. 3. Tingkat Usia (Tahun) 30 31- 40 41 Jumlah Responden (Orang) 5 9 7 Prosentase (%) 22,73 44,53 32,74

Jumlah 21 100,00 Sumber : Kantor Kelurahan Ladongi, 2004 Pada tabel di atas dapat dijelaskan bahwa reponden yang melakukan kegiatan usaha tani jeruk manis mempunyai tingkat usia kurang dari 30 tahun sebanyak 5 responden atau 22,73 persen, usia antara 31- 40 tahun sebanyak 9 responden atau 44,53 persen dan usia lebih dari 41 tahun sebanyak 7 responden atau 32,74 persen dari jumlah responden. Tingkat usia responden merupakan salah satu sumberdaya yang perlu diperhatikan dalam usahatani jeruk manis. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa responden dalam penelitian mempunyai tingkat usia yang produktif dan dapat melakukan usahatani jeruk. Keluarga c. Responden Menurut Jumlah Tanggungan Keluarga (Orang) Setiap kepala rumah tangga mempunyai tanggungan keluarga masing-masing, dan pada penelitian ini tanggungan responden petani jeruk manis perlu juga diketahui tingkat tanggungan keluarganya, untuk jelasnya disajikan pada tabel berikut : Tabel 7. Karakteristik Responden Petani Jeruk manis di Kelurahan Ladongi Menurut Jumlah Tanggungan Tahun 2004 Jumlah Tanggungan Keluarga Jumlah Responden (Orang) 13 45 5 10

6 6-7 Jumlah 21 Sumber : Kantor Kelurahan Ladongi, 2004 Pada tabel di atas menunjukaan bahwa setiap responden mempunyai tanggungan yang harus dibiayai sehingga kegiatan usahatani jeruk manis yang ditekuni untuk memperoleh keuntungan guna membiayai para tertanggung di dalam masing-masing keluarga petani responden.

PDF Created with deskPDF PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com

17

4.3.

Produksi Aspek Produksi Usahatani Untuk mengetahui tentang tingkat produksi tanaman jeruk manis yang ada di Kelurahan Ladongi, pada kajian ini, diuraikan aspek produksi yang mendukung produksi jeruk manis. Dalam kegiatan usahatani yang dilakukan oleh para petani selama ini memang mengalami kemajuan, tetapi ada juga yang mengalami kegagalan panen akibat dari kurangnya perhatian yang serius dari petani terhadap tanaman jeruk manis. Tanaman jeruk manis memang sejak dulu telah menjadi salah satu komoditi ekspor yang telah dibudidayakan di Indonesia. Jenis jeruk manis merupakan komoditi perkebunan yang dibudidayakan di Kelurahan Ladongi. Kegiatan usahatani jeruk manis telah menjadi salah satu sumber penghasilan walaupun harus menunggu hasil panennya, petani jeruk manis tidak pernah meninggalkan pekerjaannya sebagai petani di Kelurahan Ladongi. Tingkat produksi jeruk manis tergantung pada luas lahan dan biaya produksi yang digunakan untuk memperoleh hasil produksi jeruk manis. 4.3.1. Lahan . Lahan yang digunakan dalam kegiatan petani jeruk manis di Kelurahan Ladongi merupakan lahan perkebunan yang disiapkan untuk mengelola dan membudidayakan tanaman jeruk manis dengan baik. Lahan tersebut terdiri dari tanah yang memilik ciriciri sebagai berikut : 1. Subur dan banyak mengandung bahan organik. 2. Tidak tergenang air bila musim hujan dan tidak terlalu kering dimusim kemarau, 3. Kadar keasaman (pH) tanah berkisar 5,6 7,0 4. Warna tanah, merah sampai merah kuning (podsolik, lateritic, latosol, dan utisol), 5. Lapisan tanah mengadung humus sekitas 1 2,5 meter 6. Tanah gambut, tanah yang hampir seluruhnya berasal dari endapan sisa-sisa tumbuhan yang telah, sedang, dan belum melapuk. Disamping ciri-ciri lahan perkebunan jeruk manis, perlu juga diperhatikan kandungan tanah yang mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jeruk manis, dan mempertahankan keremajaan vegetatif, seperti : a. Terdapat bahan organik yang banyak b. Bentuk dan struktur tanahnya baik dan remah c. Saluran irigasi, serta sirkulasi udara dan air dalam tanah cukup baik Dalam kajian ini luas lahan dibagi dalam strata-strata berdasarkan luas yang dijelaskan sebagai berikut : a. Luas lahan kurang dari 0.5 ha b. Luas lahan antara 0,5 ha sampai dengan 1,0 ha c. Luas lahan lebih dari 1,0 ha Dalam penelitian ini strata luas lahan yang dikemukakan di atas, digunakan untuk memudahkan peneliti dalam menjelaskan tingkat produksi petani jeruk manis responden di Kelurahan Ladongi yang masing-masing strata diwakili oleh 7 responden sehingga keseluruhan renponden berjumlah 21 orang untuk 3 strata tersebut.

PDF Created with deskPDF PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com

18

4.4.

Produksi 4.3.2. Biaya Produksi Kegiatan usahatani jeruk manis, sama dengan kegiatan usaha lainnya, membutuhkan sejumah biaya untuk memperlancar kegiatan usahatani jeruk manis di Kelurahan Ladongi. Biaya yang digunakan dalam kegiatan usahatani jeruk ini terdiri dari biaya variabel dan biaya tetap. Biaya tetap (Fixed Cost) merupakan biaya yang tidak tergantung pada tinggi rendahnya produksi usahatani jeruk manis. Biaya tetap meliputi biaya peralatan seperti cangkul, sabit, kerangjang petik, dan termasuk Pajak (PBB) . Sedangkan Besarnya biaya variabel yang digunakan dalam kegiatan produksi usahatani jeruk manis merupakan biaya variabel yang digunakan untuk membiayai : a. Tenaga Kerja Tenaga kerja yang digunakan diukur dengan menggunakan Hari Orang Kerja (HOK) dapat dijelaskan bahwa untuk 1 HOK sama dengan 1 HKP (Hari Kerja Pria) yaitu satuan jam kerja antara 7 sampai 8 jam perhari, untuk tenaga kerja wanita 1 HKW sama dengan 0,75 HKP dan untuk anak-anak petani yang ikut bekerja dihitungan 1 HKA sama dengan 0,5 HKP di samping itu HOK tergantung dari luas lahan, untuk lahan kurang dari 0,5 ha, tenaga kerja yang digunakan sebanyak 2 orang, untuk lahan 0,5 ha 1,0 ha, tenaga kerja yang digunakan sebanyak 2-3 orang, untuk lahan lebih dari 1,0 ha, tenaga kerja yang digunakan sebanyak 3 orang atau lebih, biaya tenaga kerja yang digunakan adalah sebanyak Rp. 1.500 perjam kerja sehinga dalam 1 hari 1 HOK memperoleh Rp. 12.000, per hari kerja atau Rp. 360.000 Perbulan. b. Pupuk dan Obat-obatan pemberantas hama Dalam pengembangan dan budidaya tanaman jeruk manis, variabel pupuk dan obat-obatan pemberantas hama merupakan faktor penting yang mana sangat menentukan jumlah produksi yang diinginkan. Besarnya biaya produksi yang dikeluarkan untuk membiayai pupuk dan obat-obatan sangat bervariasi dan dilihat dari jumlah kebutuhan akan pupuk dan obat-obatan tersebut oleh petani. Variabel tersebut di atas merupakan variabel yang digunakan dalam meningkatkan produksi jeruk manis. Jika dari variabel tersebut ada yang tidak digunakan dengan baik, maka akan memberikan pengaruh terhadap jumlah produksi yang diperoleh petani pada saat panen. Perkembangan Produksi Jeruk Manis Keberadaan jumlah produksi selama lima tahun terakhir sejak tahun 2000 sampai dengan tahun 2004 jumlah produksi jeruk manis, dapat disajikan pada tabel 7 Tabel 7. Perkembangan Produksi jeruk manis di Kelurahan Ladongi Pada Tahun 2000 2004
Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 Jumlah Jumlah Produksi (kg) 17.750 17.852 18.360 18.375 18.650 90.987 Perkembangan (%) 0,57 2,85 0,08 1,50

Sumber : Kelurahan Ladongi dalam angka

PDF Created with deskPDF PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com

19

4.5.

4.6.

Berdasarkan data tersebut di atas, menunjukkan bahwa perkembangan tingkat produksi dari tahun 2000 sampai tahun 2004 mengalami kenaikan, dimana pada tahun 2000 jumlah produksi yang diperoleh sebanyak 17.750 kg, tahun 2001 jumlah produksi jeruk manis sebanyak 17.852 kg, pada tahun 2002 jumlah produksi jeruk manis sebanyak 18.360 kg, tahun 2003 jumlah produksi jeruk manis sebanyak 18.375 kg dan pada tahun 2004 jumlah produksi jeruk manis sebanyak 18.650 kg. Dari data tersebut di atas dapat dilihat bahwa tingkat produksi petani jeruk manis di Kelurahan Ladongi mengalami peningkatan sehingga para petani terdorong untuk terus melakukan usahatani khususnya jeruk manis. Tingkat produksi jeruk manis yang diperoleh petani di Kelurahan Ladongi, merupakan tingkat produksi jeruk manis yang dibudidayakan untuk meningkatkan petani. Aspek Pemasaran Pemasaran jeruk manis yang dilakukan selama ini dilakukan oleh petani dalam berbagai bentuk, seperti penjualan langsung ke pasar dan konsumen, serta penjualan kepada pedagang pengumpul yang membeli langsung ke petani di Kelurahan Ladongi. Tingkat produksi yang diperoleh petani jeruk manis dengan frekwensi pemetikan 1 kali setahun untuk satu kali musim panen setiap tahun sehingga jumlah produksi yang dipasarkan tidak begitu besar dan cara pemasarannya tidak sekaligus melainkan bertahap tergantung dari banyak buah jeruk manis yang masak. Adanya aktivitas pedagang pengumpul yang secara rutin mendatangi rumahrumah petani dilokasi untuk membeli hasil produksinya, maka secara tidak langsung biaya pemasaran menjadi tanggungan pedagang pengumpul. Disamping dari sisi harga, harga jual jeruk manis di pasar lokal relatif sama dengan tingkat harga jual pada pasar regional sehingga petani jeruk manis lebih cenderung menjual kepada pedagang pengumpul yang datang ke wilayah atau Kelurahan Ladongi untuk membeli jeruk manis dari petani. Analisis Pendapatan Usahatani Jeruk manis 4.6.1. Poduksi Jeruk Manis dengn Luas Lahan kurang dari 0,5 ha Produksi jeruk manis merupakan hasil akhir dari kegiatan petani jeruk manis di Kelurahan Ladongi Kecamatan Ladongi. Di dalam kegiatan usahatani hasil produksi jeruk manis yang akan diperoleh pada masa panen, keadaan produksinya petani dapat dilihat pada tabel 8. Tabel 8. Keberadaan Tingkat Produksi Petani Responden Dengan Luas Lahan kurang dari 0,5 ha.
Nomor Responden 008 020 012 018 007 001 006 Jumlah Rata-rata Luas Lahan (ha) 0,30 0,27 0,26 0,25 0,30 0,35 0,35 Jumlah Pohon 120 100 104 100 120 140 140 824 118 Jumlah Produksi (Kg) 1.080 972 936 900 1.080 1.260 1.260 7.488 1.070 Konsumsi (Kg) 89 78 75 72 86 101 101 608 86 Produksi Yang Dijual (Kg) 990 890 860 830 990 1.160 1.160 6.890 984

PDF Created with deskPDF PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com

20

Tabel 8 tersebut di atas, menunjukkan bahwa responden pada strata lahan yang kurang dari 0,5 ha memperoleh jumlah produksi jeruk manis rata-rata sebesar 7.488 kg, produk jeruk manis yang dikonsumsi rata-rata sebanyak 86 kg, jumlah produksi jeruk yang dipasarkan kepada konsumen rata-rata sebanyak 6.890 kg. Hal ini menunjukkan bahwa produksi jeruk manis yang dipasarkan merupakan sumber pendapatan bagi petani yang akan akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan tanggungan rumah tangga petani. Hasil produksi jeruk manis di jual ke pasar konsumen dengan pendapatan yang diperoleh masing-masing responden yang dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 9. Tabel Pendapatan Kotor Untuk Luas Lahan kurang dari 0,5 ha. No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Luas Lahan (Ha) 0,30 0,27 0,26 0,25 0,30 0,35 0,35 Jumlah Rata-rata Produksi Yang Dijual (Kg) 990 890 860 830 990 1.160 1.160 6.890 984 Harga (Rp/Kg.) 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 Pendapatan Kotor (Rp) 4.950.000 4.450.000 4.300.000 4.150.000 4.950.000 5.800.000 5.800.000 34.400.000 4.914.286

Sumber : Data Primer Diolah, 2005 Berdasarkan tabel 9, menunjukkan bahwa tingkat pendapatan petani respoden pada luas lahan kurang dari 0,5 ha rata-rata sebesar Rp.4.914.286 atau 4.914.300 Pendapatan ini merupakan pendapatan kotor yang belum dikurangi dengan biaya usahatani yang dalam kegiatan usahatani tersebut. Hal ini juga menunjukkan bahwa pendapatan petani dapat digunakan untuk kegiatan usahatani jeruk manis dan memenuhi kebutuhan keluarganya. Besarnya pendapatan yang diperoleh setiap responden merupakan kemampuan petani jeruk manis dalam melakukan kegiatan usahatani jeruk manis dengan memanfaatkan luas lahan yang kurang dari 0,5 ha dengan tingkat produksi yang ratarata sebesar 1.070 kg. 4.6.1.1 1.1. 4.6.1.1. Biaya Produksi Tani Jeruk Manis dengan Luas Lahan Kurang dari 0,5 ha Kegiatan usahatani ini menggunakan biaya produksi yang merupakan pengeluaran petani jeruk manis yang digunakan dalam proses produksi yaitu biaya variabel meliputi biaya tenaga kerja, biaya pupuk dan biaya obat-obatan dan biaya tetap yang meliputi biaya peralatan yang digunakan dalam proses produksi. Penggunaan biaya dalam kegiatan usahatani jeruk manis dapat dijelaskan sebagai berikut :

PDF Created with deskPDF PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com

21

1. Sarana Produksi a. Pohon jeruk yang dibudidayakan rata-rata 118 pohon b. Perstisida 2 liter @ Rp. 10.625 Rp. 21.000 c. Pupuk urea 100 kg @ Rp. 1.500 Rp. 150.000 d. TSP 50 kg @ Rp. 1.250 Rp. 62.500 e. KCL 75 kg @ Rp. 1.000 Rp. 75.000 Jumlah Rp. 308.000 2. Peralatan Dalam menganalisis biaya peralatan, perhitungan nilai penyusutan menggunakan metode rata-rata, adapun besarnya nilai penyusutan tersebut dapat dihitungan sebagai berikut : Jenis Alat Cangkul Arit Keranjang Jumlah Umur Ekonomis 4 3 2 Harga Beli 75.000 45.000 65.000 185.000 Residu (Rp) 7.500 6.000 4.000 17.500 Penyusutan (Rp) 19.000 15.000 33.000 67.000

Dari perhitungan nilai penyusutan dengan menggunakan metode rata-rata tertimbang diperoleh nilai penyusutan sebesar Rp. 67.000 untuk ketiga jenis alat yang digunakan dalan usahatani jeruk manis. 3. Tenaga kerja Tenaga kerja yang digunakan dalam usahatani terdiri dari : a. Pemupukan Kegiatan pemupukan dilakukan oleh 2 orang sebanyak 3 kali atau 3 hari kerja dengan jam kerja sebanyak 8 jam perhari. Adapun HOK tenaga kerja pemupukan sebagai berikut : HOK = 2 x Rp. 15.000 x 3 x 8 = Rp. 720.000 b. Penyiangan Penyiangan atau kegiatan pembersihan pohon dan lingkungan sekitar pohon dilakukan oleh 2 orang sebanyak 6 kali dengan jam kerja rata-rata 8 jam perhari. Adapun HOK tenaga kerja penyiangan sebagai berikut : HOK = 2 x Rp. 15.000 x 6 x 8 = Rp. 1.440.000 c. Pemetikan Kegiatan pemetikan atau panen dilakukan oleh 2 orang dalam 1 kali musim panen dengan jam kerja selama 8 jam. Besarnya HOK dapat dihitung sebagai berikut : HOK = 2 x Rp. 15.000 x 1 x 8 = Rp. 240.000

PDF Created with deskPDF PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com

22

Dengan demikian jumlah biaya tenaga kerja dalam kegiatan usahatani jeruk manis sebesar Rp.2.400.000. Dari hasil analisis tersebut dapat disajikan pada tabel berikut : Tabel 10. Jumlah Biaya Usahatani.
No Uraian Luas Lahan < 0,5 Ha

Biaya Variabel 1. Tenaga Kerja 2.400.000 287.500 2. Pupuk 21.250 3. Obat-Obatan 2. Biaya Tetap 1. Penyusutan Cangkul 18.750 2. Penyusutan Sabit 15.000 3. Penyusutan Kerangjang 32.500 4. Pajak (PBB) 8.750 Jumlah 2.783.750 Sumber : Data Primer Diolah, 2005 Pada tabel 10 di atas, menunjukkan bahwa jumlah biaya usahatani yang digunakan petani untuk luas lahan kurang dari 0,5 ha rata-rata sebesar Rp. 2.783.750. Kemungkinan penambahan atau pengurangan biaya usahatani tergantung pada kemampuan petani jeruk manis di Kelurahan Ladongi. 4.6.1.2. Biaya Pemasaran Biaya pemasaran yang digunakan oleh petani responden dengan luas lahan kurang dari 0,5 ha ditujukan untuk kegiatan-kegiatan sebagai berikut : a. Penyortiran Penyortiran merupakan kegiatan responden untuk memisahkan buah jeruk manis yang rusak dari hasil produksi untuk dipersiapkan dalam kegiatan pemasaran. Kegiatan ini dilakukan dengan biaya rata-rata sebesar Rp. 50.000 per orang. b. Pengepakan Pengepakan yang dilakukan pada buah jeruk manis antara lain dimasukkan ke dalam karung plastik atau kotak penyimpanan untuk mengawetkan buah jeruk agar tetap segar hingga tiba ditujuan. Besarnya biaya pengepakan rata-rata sebesar Rp.60.000 c. Pengangkutan Pengangkutan merupakan kegiatan transportasi yang digunakan petani responden untuk memasarkan jeruk manis. Besarnya biaya pengangkutan rata-rata sebesar Rp. 75.000 Dengan demikian besarnya biaya pemasaran yang dikeuarkan oleh petani ratarata sebesar Rp.185.000 per setiap kali kegiatan pemasaran. 4.6.1.3 4.6.1.3. Analisis Pendapatan Bersih Petani Jeruk Manis pada luas lahan kurang dari 0,5 ha Besarnya pendapatan bersih dari hasil usahatani yang dikakukan oleh petani pada luas lahan kurang dari 0,5 ha merupakan tingkat pendapatan petani yang diperoleh dari

1.

PDF Created with deskPDF PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com

23

hasil penjualan jeruk manis yang telah dikurangi dengan biaya usahatani. Untuk jelasnya pendapatan bersih dapat dianalisis dengan formulasi : NI = TR TC NI = Net Income (Pendapatan Bersih) TR = Total Revenue (Pendapatan Kotor) TC = Total Cost (Keseluruhan biaya yang digunakan dalam proses produksi. Dengan demikian, hasil perhitungan pendapatan bersih untuk petani responden dengan luas lahan kurang dari 0,5 ha dapat dilihat pada tabel 11. Tabel 11. Hasil Perhitungan Pendapatan Bersih Untuk Petani Responden Dengan Luas Lahan Kurang Dari 0,5 Ha No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Jumlah
Rata-rata

Pendapatan Kotor (TR) (Rp.) 4.950.000 4.450.000 4.300.000 4.150.000 4.950.000 5.800.000 5.800.000 34.400.000 4.914.286

Biaya Produksi (TC) (Rp.) 2.784.750 2.784.750 2.784.750 2.784.750 2.784.750 2.784.750 2.784.750

Biaya Pemasaran (Rp) 185.000 185.000 185.000 185.000 185.000 185.000 185.000

Pendapatan Bersih (NI) (Rp.) 1.980.250 1.480.250 1.330.250 1.180.250 1.980.250 2.830.250 2.830.250 13.611.750 1.944.536

Sumber : Data Primer Diolah, 2005 Tabel 11 menunjukkan bahwa responden dalam kegiatan usahatani jeruk manis mampu memperoleh keuntungan bersih sebagai hasil usahanya. Dari hasil analisis diperoleh rata-rata pendapatan bersih yang diterima responden mencapai Rp.1.944.536 atau Rp.1.944.500. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan ini, dapat dikatakan bahwa dengan luas lahan yang kurang dari 0,5 ha petani jeruk manis yang diwakili oleh 7 responden mampu memperoleh keuntungan bersih hingga Rp.1.944.500 yang menunjukkan bahwa jika usaha ini dilakukan dengan baik, maka pendapatan petani jeruk akan lebih meningkat pada masa yang akan datang. 4.6.2. Produksi Jeruk Manis dengn Luas Lahan antara 0,5 1,0 ha Manis Produksi jeruk manis juga diperoleh pada petani dengan luas lahan antara 0,5 sampai 1,0 ha. Kemampuan berusaha tani jeruk manis dengan lahan yang luasnya antara 0,5 ha hingga 1,0 ha membutuhkan perhatian besar dalam mengelola jeruk manis hingga memperoleh hasil produksi yang diinginkan. Produksi jeruk manis yang diperoleh petani dalam kegiatan usahataninya digunakan untuk konsumsi dan dijual ke pasar. Jumlah produksi yang diperoleh petani responden dalam satu munim panen jeruk manis pada lahan yang luas antara 0,5 ha hingga 1,0 ha dapat dilihat pada tabel berikut :

PDF Created with deskPDF PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com

24

Tabel 12. Keberadaan Tingkat Produksi Petani Responden Dengan Luas Lahan Antara 0,5 1,0 ha.
Nomor Responden Luas Lahan (ha) Jumlah Pohon Jumlah Produksi (Kg) Konsumsi (Kg) Produksi Yang dijual (Kg)

005 010 017 021 016 009 014 Jumlah Rata-rata

0,65 0,75 1,00 0,80 1,00 0,85 0,90

260 300 400 320 400 340 360 2.380 340

2.430 2.700 3.600 2.880 3.600 3.060 3.240 21.420 3.060

187 216 288 230 288 245 259 1.714 245

2.150 2.480 3.310 2.650 3.310 2.820 2.980 19.700 2.814

Sumber : Data Primer Diolah, 2005 Tabel 12, menunjukkan bahwa dengan luas lahan dari 0,5 ha sampai dengan 1,0 ha. Hasil produksi jeruk manis yang diperoleh rata-rata sebanyak 3.060 kg, jumlah produksi jeruk yang dikonsumsikan rata-rata sebanyak 245 kg, dan jumlah produksi yang dipasarkan kepada konsumen sebanyak 2.814 kg. Jeruk manis yang dikonsumsikan digunakan juga untuk menjadi bibit tanaman jeruk dalam kegiatan usahatani selanjutnya dan dibudidayakan berdasarkan pengalaman masing-masing petani responden. Banyaknya buah jeruk manis yang diperoleh petani dari hasil usahataninya menggambarkan bahwa petani mempunyai kualitas dan pengalaman dalam berusaha tani. Disamping itu petani yang memiliki lahan dengan luas antara 0,5 ha hingga 1,0 ha masih mempunyai lahan lain yang digunakan untuk membudidayakan tanaman lainnya guna memenuhi kebutuhan hidupnya selain dari hasil produksi jeruk manis. 4.6.2.1. Biaya Usaha Tani Jeruk Manis dengan Luas Lahan antara 0,5 -1,0 ha Kegiatan usahatani ini menggunakan biaya produksi yang merupakan pengeluaran petani jeruk manis yang digunakan dalam proses produksi yaitu biaya variabel meliputi biaya tenaga kerja, biaya pupuk dan biaya obat-obatan dan biaya tetap yang meliputi biaya peralatan yang digunakan dalam proses produksi. Penggunaan biaya variabel dan biaya tetap dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Sarana Produksi a. Pohon jeruk yang dibudidayakan rata-rata 340 pohon b. Perstisida 5,0 liter @ Rp. 8.500 Rp. 42.500 c. Pupuk urea 200 kg @ Rp. 1.500 Rp. 300.000 d. TSP 100 kg @ Rp. 1.250 Rp. 125.500 e. KCL 150 kg @ Rp. 1.000 Rp. 150.000 Jumlah Rp. 617.500 2. Peralatan

PDF Created with deskPDF PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com

25

Dalam menganalisis biaya peralatan, perhitungan nilai penyusutan menggunakan metode rata-rata, adapun besarnya nilai penyusutan tersebut dapat dihitungan sebagai berikut : Jenis Alat Umur Harga Residu Penyusutan Ekonomis Beli (Rp) (Rp) Cangkul 4 100.000 8.000 25.000 Arit 3 60.000 7.500 20.000 Keranjang 2 85.000 6.000 42.500 Jumlah 245.000 21.500 87.500 Dari perhitungan nilai penyusutan dengan menggunakan metode rata-rata tertimbang diperoleh nilai penyusutan sebesar Rp. 87.500 untuk ketiga jenis alat yang digunakan dalan usahatani jeruk manis. 3. Tenaga kerja Tenaga kerja yang digunakan dalam usahatani terdiri dari : a. Pemupukan Kegiatan pemupukan dilakukan oleh 3 orang sebanyak 4 kali atau 4 hari kerja dengan jam kerja sebanyak 8 jam perhari. Adapun HOK tenaga kerja pemupukan sebagai berikut : HOK = 3 x Rp. 15.000 x 4 x 8 = Rp. 1.440.000 b. Penyiangan Penyiangan atau kegiatan pembersihan pohon dan lingkungan sekitar pohon dilakukan oleh 3 orang sebanyak 7 kali dengan jam kerja rata-rata 8 jam perhari. Adapun HOK tenaga kerja penyiangan sebagai berikut : HOK = 3 x Rp. 15.000 x 7 x 8 = Rp. 2.520.000 c. Pemetikan Kegiatan pemetikan atau panen dilakukan oleh 3 orang dalam 1 kali musim panen dengan jam kerja selama 8 jam. Besarnya HOK dapat dihitung sebagai berikut : HOK = 3 x Rp. 15.000 x 1 x 8 = Rp. 360.000 Dengan demikian jumlah biaya tenaga kerja dalam kegiatan usahatani jeruk manis sebesar Rp.4.320.000. Dari hasil analisis tersebut dapat disajikan pada tabel berikut :

PDF Created with deskPDF PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com

26

Tabel 13 Jumlah Biaya Usahatani.


No Uraian Luas Lahan < 0,5 Ha

1.

Biaya Variabel 1. Tenaga Kerja 2. Pupuk 3. Obat-Obatan

4.320.000 575.000 53.000

Biaya Tetap 1. Penyusutan Cangkul 25.000 2. Penyusutan Sabit 20.000 43.000 3. Penyusutan Kerangjang 4. Pajak (PBB) 9.800 Jumlah 5.045.800 Sumber : Data Primer Diolah, 2005 Pada tabel 13 di atas, menunjukkan bahwa jumlah biaya usahatani yang digunakan petani untuk luas lahan antaran 0,5 1,0 ha rata-rata sebesar Rp. 5.045.800. Kemungkinan penambahan atau pengurangan biaya usahatani tergantung pada kemampuan petani jeruk manis di Kelurahan Ladongi. 4.6.2 4.6.2.2. Biaya Pemasaran Biaya pemasaran yang digunakan oleh petani responden dengan luas lahan dari 0,5 1,0 ha ditujukan untuk kegiatan-kegiatan sebagai berikut : a. Penyortiran Penyortiran merupakan kegiatan responden untuk memisahkan buah jeruk manis yang rusak dari hasil produksi untuk dipersiapkan dalam kegiatan pemasaran. Kegiatan ini dilakukan dengan biaya rata-rata sebesar Rp. 75.000 per orang. b. Pengepakan Pengepatan yang dilakukan pada buah jeruk manis antara lain dimasukkan ke dalam karung plastik atau kotak penyimpanan untuk mengawetkan buah jeruk agar tetap segar hingga tiba ditujuan. Besarnya biaya pengepakan rata-rata sebesar Rp.85.000. c. Pengangkutan Pengangkutan merupakan kegiatan transportasi yang digunakan petani responden untuk memasarkan jeruk manis. Besarnya biaya pengangkutan rata-rata sebesar Rp. 125.000 Dengan demikian besarnya biaya pemasaran yang dikeuarkan oleh petani rata-rata sebesar Rp.285.000 per setiap kali kegiatan pemasaran. 4.6.2.3. Analisis Pendapatan Bersih Petani Jeruk Manis pada luas lahan antara 0,5 1,0 ha Produksi jeruk manis yang diperoleh dalam satu musim panen selanjutnya dipasarkan kepada konsumen kepada pasa. Adapun pendapatan penjualan jeruk manis tersebut dapat dilihat pada tabel berikut :

2.

PDF Created with deskPDF PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com

27

Tabel 13. Pendapatan Kotor Untuk Luas Lahan 0,5 - 1,0 ha. No. Luas Lahan Produksi Yang Harga Pendapatan Kotor (Ha) Dijual (Kg) (Rp) (Rp.) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 0,5 0,5 0,5 1,0 1,0 1,0 1,0 Jumlah Rat-rata 2.150 2.480 3.310 2.650 3.310 2.810 2.980
19.700 2.814

5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000

10.750.000 12.400.000 16.550.000 13.250.000 16.550.000 14.100.000 14.900.000 98.500.000 14.071.000

Sumber : Data Primer Diolah Tabel 13 menunjukkan bahwa kegiatan petani pada luas lahan antara 0,5 1,0 ha menghasilkan produksi jeruk manis rata-rata sebanyak 2.814 kg, produksi tersebut dipasarkan ke berbagai pasar dan menghasilkan pendapatan kotor rata-rata yang diperoleh petani sebesar Rp.14.071.429. Selain itu dapat dijelaksan juga bahwa pendapatan responden cukup bevariasi dan tergantung dai kemampuan responden dalam melakukan kegiatan usahatani jeruk manis. Berdasarkan hasil penjualan tersebut diperoleh pendapatan kotor yang belum dikurang dengan biaya usaha, adapun besarnya keuntungan atau pendapatan bersih yang diperoleh responden petani jeruk dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 14.
No.

Hasil Perhitungan Pendapatan Bersih Untuk Petani Responden Dengan Luas Lahan 0,5 1,0 Ha
Pendapatan Kotor (TR) (Rp.) 10.750.000 12.400.000 16.550.000 13.250.000 16.550.000 14.100.000 14.900.000 98.500.000 14.071.429 Biaya Produksi (TC) (Rp.) 5.045.800 5.045.800 5.045.800 5.045.800 5.045.800 5.045.800 5.045.800 32.320.600 Biaya Pemasaran (Rp) 285.000 285.000 285.000 285.000 285.000 285.000 285.000 Pendapatan Bersih (NI) (Rp.) 5.419.200 7.069.200 11.219.200 7.919.200 11.219.200 8.769.200 9.569.200 61.184.400

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Jml

Rata2

5.045.800

8.740.629

Sumber : Data Primer Diolah Berdasarkan tabel 14, dari hasil perhitungan pendapatan bersih untuk petani responden dengan luas lahan 0,5 1,0 ha pendapatan bersih rata-rata yang diperoleh petani responden sebesar Rp.8.740.629. Pendapatan tersebut merupakan keuntungan yang diperoleh petani setelah dikurangi dengan biaya usahatani. Besarnya pendapatan

PDF Created with deskPDF PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com

28

bersih yang diperoleh petani, menunjukkan bahwa petani jeruk manis dapat meningkatkan kegiatan usahataninya jika kinerja usahatani ditingkatkan. 4.6.3. Poduksi Jeruk Manis dengan Luas Lahan lebih dari 1 ha Selain itu untuk lahan dengan luas lebih dari 1 ha, hasil produksi yang diperoleh petani responden dapat dilihat pada tabel 15. Tabel 15. Keberadaan Tingkat Produksi Petani Responden Dengan Luas Lahan lebih dari 1 ha. Nomor Luas Jumlah Jumlah Konsumsi Produksi Responden Lahan Pohon Produksi (Kg) yang dijual (ha) (Kg) (Kg) 002 3,5 1.400 4.200 340 3.860 003 2,0 2.500 190 2.210 800 011 3.000 240 2.760 2,5 1.000 3.600 3.310 019 1,5 600 290 5.400 4.970 015 1,5 600 430 4.800 4.420 004 380 2,0 800 4.000 3.680 013 2,5 320 1.000 Jumlah 6.200 27.400 2.190 25.210 Rata-rata 886 3.914 313 3.601 Sumber : Data Primer Diolah Berdasarkan tabel 15 tersebut di atas, menunjukkan bahwa dengan luas lahan lebih dari 1,0 ha. Hasil produksi jeruk manis yang diperoleh rata-rata sebanyak 3.914 kg, jumlah produksi jeruk yang dikonsumsikan rata-rata sebanyak 313 kg, dan jumlah produksi yang dipasarkan kepada konsumen sebanyak 3.601 kg. Berdasarkan analisis produksi usahatani jeruk yang telah dikemukakan sebelumnya, maka dapat dikatakan bahwa produksi jeruk manis yang dihasilkan di Kelurahan Ladongi dapat menjadi sumber pendapatan bagi petani dan keluarga petani. Selain dipasarkan hasil produksi juga dimanfaatkan atau dikonsumsikan untuk pembudidayaan tanaman jeruk manis (dijadikan bibit) guna mendukung kegiatan budidaya jeruk manis pada masa yang akan datang. 4.6.3.1. Biaya Usaha Tani Jeruk Manis dengan Luas Lahan lebih dari 1,0 ha Usaha Kegiatan usahatani ini menggunakan biaya produksi yang merupakan pengeluaran petani jeruk manis yang digunakan dalam proses produksi yaitu biaya variabel meliputi biaya tenaga kerja, biaya pupuk dan biaya obat-obatan dan biaya tetap yang meliputi biaya peralatan yang digunakan dalam proses produksi. Penggunaan biaya variabel dan biaya tetap dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Sarana Produksi a. Pohon jeruk yang dibudidayakan rata-rata 886 pohon b. Perstisida 6,5 liter @ Rp. 10.625 Rp. 69.000 c. Pupuk urea 250 kg @ Rp. 1.500 Rp. 375.000 d. TSP 150 kg @ Rp. 1.250 Rp. 188.000 e. KCL 200 kg @ Rp. 1.000 Rp. 200.000 Jumlah Rp. 832.000

PDF Created with deskPDF PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com

29

2. Peralatan Dalam menganalisis biaya peralatan, perhitungan nilai penyusutan menggunakan metode rata-rata, adapun besarnya nilai penyusutan tersebut dapat dihitungan sebagai berikut : Harga Residu Penyusutan Beli (Rp) (Rp) Cangkul 150.000 9.000 38.000 85.000 7.500 28.000 Arit 100.000 6.000 50.000 Keranjang Jumlah 335.000 22.500 116.000 Dari perhitungan nilai penyusutan dengan menggunakan metode rata-rata tertimbang diperoleh nilai penyusutan sebesar Rp. 116.000 untuk ketiga jenis alat yang digunakan dalan usahatani jeruk manis. 3. Tenaga kerja Tenaga kerja yang digunakan dalam usahatani terdiri dari : a. Pemupukan Kegiatan pemupukan dilakukan oleh 4 orang sebanyak 5 kali atau 5 hari kerja dengan jam kerja sebanyak 8 jam perhari. Adapun HOK tenaga kerja pemupukan sebagai berikut : HOK = 4 x Rp. 15.000 x 5 x 8 = Rp. 2.400.000 b. Penyiangan Penyiangan atau kegiatan pembersihan pohon dan lingkungan sekitar pohon dilakukan oleh 4 orang sebanyak 7 kali dengan jam kerja rata-rata 8 jam perhari. Adapun HOK tenaga kerja penyiangan sebagai berikut : HOK = 4 x Rp. 15.000 x 7 x 8 = Rp. 3.360.000 c. Pemetikan Kegiatan pemetikan atau panen dilakukan oleh 4 orang dalam 1 kali musim panen dengan jam kerja selama 8 jam. Besarnya HOK dapat dihitung sebagai berikut : HOK = 4 x Rp. 15.000 x 1 x 8 = Rp. 480.000 Dengan demikian jumlah biaya tenaga kerja dalam kegiatan usahatani jeruk manis sebesar Rp.6.240.000. Dari hasil analisis tersebut dapat disajikan pada tabel berikut : Jenis Alat Umur Ekonomis 4 3 2

PDF Created with deskPDF PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com

30

Tabel 16 Jumlah Biaya Usahatani.


No Uraian Luas Lahan < 0,5 Ha

1.

Biaya Variabel 1. Tenaga Kerja 2. Pupuk 3. Obat-Obatan

6.240.000 7632.000 69.000

Biaya Tetap 1. Penyusutan Cangkul 2. Penyusutan Sabit 3. Penyusutan Kerangjang 4. Pajak (PBB) Jumlah Sumber : Data Primer Diolah, 2005

2.

38.000 28.000 50.000 11.800 7.199.800

Pada tabel 13 di atas, menunjukkan bahwa jumlah biaya usahatani yang digunakan petani untuk luas lahan lebih dari 1,0 ha rata-rata sebesar Rp. 7.199.800. Kemungkinan penambahan atau pengurangan biaya usahatani tergantung pada kemampuan petani jeruk manis di Kelurahan Ladongi. 4.6.3.2. Analisis Pemasaran Biaya pemasaran yang digunakan oleh petani responden dengan luas lahan lebih dari 1,0 ha ditujukan untuk kegiatan-kegiatan sebagai berikut : a. Penyortiran Penyortiran merupakan kegiatan responden untuk memisahkan buah jeruk manis yang rusak dari hasil produksi untuk dipersiapkan dalam kegiatan pemasaran. Kegiatan ini dilakukan dengan biaya rata-rata sebesar Rp. 125.000 per orang. 4. Pengepakan Pengepatan yang dilakukan pada buah jeruk manis antara lain dimasukkan ke dalam karung plastik atau kotak penyimpanan untuk mengawetkan buah jeruk agar tetap segar hingga tiba ditujuan. Besarnya biaya pengepakan rata-rata sebesar Rp.150.000 5. Pengangkutan Pengangkutan merupakan kegiatan transportasi yang digunakan petani responden untuk memasarkan jeruk manis. Besarnya biaya pengangkutan rata-rata sebesar Rp. 200.000 Dengan demikian besarnya biaya pemasaran yang dikeuarkan oleh petani rata-rata sebesar Rp.285.000 per setiap kali kegiatan pemasaran. 4.6.3.3. Analisis Pendapatan Bersih Petani Jeruk Manis pada Luas Lahan lebih dari 1,0 Petani ha Dalam kegiatan usahatani jeruk manis, jumlah produksi yang diperoleh dijual kepada pasar dan konsumen guna memperoleh pendapatan sebagai hasil dari usahatani

PDF Created with deskPDF PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com

31

jeruk manis. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa jumlah pendapatan yang diperoleh dari penjualan jeruk manis cukup bervariasi, hal ini dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 17. Tabel Pendapatan Kotor Untuk Luas Lahan Lebih dari 1,0 ha.
No. Luas Lahan (Ha) 3.50 2.00 2.50 1.50 1.50 2.00 2.50 Jumah Rata-Rata Produksi Yang Dijual (Kg) 3.860 2.210 2.760 3.310 4.970 4.420 3.680 25.210 3.601 Harga (Rp.) 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 Pendapatan Kotor (Rp) 19.300.000 11.050.000 13.800.000 16.550.000 24.850.000 22.100.000 18.400.000 126.050.000 18.007.143

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Sumber : Data Primer Diolah Berdasarkan tabel 17 di atas, menunjukkan bahwa dengan lahan yang luas, maka jumlah pohon jeruk manis yang ditanam juga akan banyak, hal ini tentunya disertai dengan kemampuan petani dalam melakukan usahatani pada lahan yang luas tersebut. Dari hasil produksi jeruk manis yang diperoleh petani jeruk diperoleh pendapatan yang bevariasi dengan rata-rata pendapatan sebesar Rp.18.007.143,Tabel 18. Hasil Perhitungan Pendapatan Bersih Untuk Petani Responden Dengan Luas Lahan Lebih Dari 1,0 Ha
No. Pendapatan Kotor (TR) (Rp.) 19.300.000 11.050.000 13.800.000 16.550.000 24.850.000 22.100.000 18.400.000 126.050.000 18.007.143 Biaya Produksi (TC) (Rp.) 7.199.800 7.199.800 7.199.800 7.199.800 7.199.800 7.199.800 7.199.800 Biaya Pemasaran (Rp) 475.000 475.000 475.000 475.000 475.000 475.000 475.000 Pendapatan Bersih (NI) (Rp.) 11.625.200 3.375.200 6.125.200 8.875.200 17.175.200 14.425.200 10.725.200 72.326.400 10.332.343

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Sumber : Data Primer Diolah Berdasarkan tabel 18 di atas, dari hasil perhitungan pendapatan bersih untuk petani responden dengan luas lahan lebih dari 1,0 ha pendapatan bersih yang diperoleh petani responden rata-rata sebesar Rp.10.332.343 atau Rp.10.332.400. Responden dengan luas lahan lebih dari 1,0 ha dapat memanfaatkan luas lahannya untuk menanam jeruk manis sesuai dengan kemampuannya guna memperoleh hasil produksi jeruk manis yang menjadi salah satu sumber pendapatan petani di Kelurahan Ladongi, selain itu dengan memiliki luas lahan yang lebih dari 1 ha ini memberikan dasar bagi responden petani jeruk manis untuk terus meningkatkan kegiatan

PDF Created with deskPDF PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com

32

usahataninya sehingga hasil keuntungannya dapat ditingkatkan pada masa yang akan datang. Hasil analisis di atas diperoleh bahwa tingkat pendapatan yang diperoleh petani responden pada usahatani jeruk manis di Kelurahan Ladongi untuk 1 (satu) kali musim panen dengan frekwensi pemetikan buah jeruk manis 2 (dua) sampai 3 (tiga) kali dalam satu kali musim. BAB V. KESIMPULAN KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Jeruk manis merupakan salah satu komoditi hasil perkebunan yang memiliki potensi untuk dikembangkan pada masa yang akan datang di Sulawesi Tenggara, khususnya di Kelurahan Ladongi dalam rangka peningkatan pendapatan petani jeruk manis. 2. Hasil perhitungan pendapatan bersih (Net Income) usahatani diketahui bahwa pendapatan usahatani jeruk manis memiliki peluang untuk meningkatkan taraf hidup petani jeruk manis, dimana untuk petani jeruk manis dengan luas lahan kurang dari 0,5 ha dapat memperoleh pendapatan bersih rata-rata sebesar Rp. 1.904.600,-, untuk petani dengan luas lahan antara 05 1,0 ha dapat memperoleh pendapatan bersih rata-rata sebesar Rp.8.756.200, dan untuk petani yang memiliki luas lebih dari 1,0 ha dapat memperoleh keuntungan bersih rata-rata sebesar Rp. 10.820.300,3. Rendahnya tingkat produktivitas usahatani jeruk manis akibat dari cara pengelolaannya belum optimal karena adanya keengganan sebagian petani memelihara dan merawat tanamannya secara berkala sebab ada keterkaitan dengan modal/biaya yang dialokasikan pada usahatani. 5.2. Saran Berdasarkan kesimpulan sebelumnya, maka dapat diberikan saran sebagai berikut : 1. Pengembangan jeruk manis di Kelurahan Ladongi harus lebih diintesifkan karena merupakan tanaman yang potensial, selain itu tanaman jeruk manis merupakan komoditi perkebunan yang prospektif, untuk itu pengembangannya memerlukan perhatian dari berbagai pihak, bukan hanya dari petani, tetapi perhatian pemerintah juga guna kelangsungan hidup petani jeruk manis. 2. Pengelolaan usahatani jeruk manis harus ditingkatkan guna memperoleh hasil produksi yang optimal, dengan demikian petani akan memperoleh hasil dan pendapatan yang sesuai dengan hasil keringatnya.

PDF Created with deskPDF PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com

33

3. Harga jual jeruk manis untuk setiap desa dan kelurahan harus diseragamkan guna mengantisipasi lonjakan harga jual jeruk manisdan para pedagang yang memanfaatkan kelemahan petani sehingga kegiatan mereka menjadi terhalang.

DAFTAR PUSTAKA
Anwas Adiwilaga, 1982, Pembangunan Pertanian, Penerbit Kansius Yogyakarta Budiono, 1987, Prinisip-Prinsip Ilmu Ekonomi, BPFE-UI, Jakarta PrinisipFedoli Hernanto, 1986, Pengelolaan Hasil Pertanian, BPFE-UGM, Yogyakarta Hernanto, 1995 Pemasaran Hasil Pertanian, PT. Griya Pertama, Surabaya I Gusti Ngurah, 1994, Pemanfaatan Komoditi Unggul, Majalah Pertanian. Departemen Pertanian RI Jakarta. John M. Harwick dan Nanci D Olewiler, 1986, Pengelolaan Industri Pertanian, Edisi Terjemahan, PT. Tarsito, Bandung. Kartasaputra, 1988, Pemasaran Produk Pertanian dan Industri, PT. Rinake Cipta, Jakarta. Kecamatan Ladongi dalam Angka, Tahun 2004, Mosher. AT, 1985, Menggerakan dan Membangunan Pertanian, Tasaguna, Jakarta Mubyarto, 1981, Ekonomi Pertanian, LP3ES, Jakarta 1989, Pemasaran Usahatani, LP3ES, Jakarta Patong, 1985, Manajemen Usahatani, Kansius Yogyakarta. Soekartawi, 1986, Manajemen Usahatani, Rajawali Press, Jakarta Sofyan Assauri, 1993, Ekonomi Pertanian, LP3ES, Jakarta Suharjo dan Patong, 1984, Pengelolaan Hasil-Hasil Pertanian, BPFE-UGM Yogyakarta. HasilWasis, 1992, Pembangunan Ekonomi, Penerbit Rajawali Press, Jakarta

PDF Created with deskPDF PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com