Anda di halaman 1dari 24

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Suatu kawasan selalu mengalami perkembangan, menghadapi berbagai
permasalahan yang cukup kompleks, salah satunya adalah masalah banjir. Banjir dapat
diartikan sebagai suatu keadaan dimana saluran drainase baik yang buatan maupun
yang alamiah tidak dapat lagi menampung debit air yang mengalir. Jika dilihat dari
siklus hidrologi, faktor-faktor penyebab banjir dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu
besaran hujan, kondisi tata air di permukaan tanah, dan kondisi tata air di bawah
permukaan tanah.
Kawasan pemukiman merupakan salah satu kawasan yang harus dilindungi dari
bahaya banjir sehingga diperlukan perencanaan sistem drainase yang baik untuk
mencegah bahaya banjir.
Lokasi yang menjadi objek tinjauan kami adalah kawasan pemukiman Bangas
Permai. Daerah ini merupakan daerah pemukiman yang cukup padat. Pada lingkup
tinjauan ini terdapat saluran primer yang cukup lebar tetapi tanpa siring dan memiliki
kemiringan tebing (trapesium), saluran sekunder berbentuk persegi, dan saluran yang
lebih kecil lagi adalah saluran tersier yang berada di sepanjang jalur pemukiman warga.

1.2 Tujuan Perencanaan
Adapun tujuan dari perencanaan saluran pada kawasan pemukiman tersebut
adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengevaluasi sistem drainase eksisting ( yang ada sekarang), apakah
kondisinya layak dan memenuhi syarat.
2. Untuk merencanakan ulang (redesign) sistem drainase di lokasi tinjauan, seperti
merencanakan dimensi hidrolis dari saluran serta bangunan pelengkapnya.







2
1.3 Lingkup Perencanaan
Untuk mencapai kedua tujuan tersebut di atas, hal-hal yang perlu diperhatikan
atau dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Pengumpulan Data
Data-data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder.
a) Data Primer, meliputi :
Profil memanjang saluran
Profil melintang saluran
Kondisi sistem drainase
Jaringan saluran
Pengukuran luas lingkup kerja
b) Data Sekunder, meliputi :
Data curah hujan harian maksimum.
Tabel 1.1 Data Curah Hujan
No. Palangka Raya (mm) Bereng Bengkel (mm)
1 120,00 104,00
2 102,00 77,20
3 114,00 105,50
4 83,00 67,90
5 125,00 117,50
6 100,30 113,00
7 141,40 102,10
8 80,00 81,50
9 101,60 135,00
10 131,20 106,50
11 80,00 78,00
12 96,20 68,00
13 121,00 103,20
14 139,00 127,50
15 99,00 76,50

2. Analisis Data
Analisi data meliputi :
a) Perhitungan hujan rencana
b) Perhitungan beban drainase
c) Perhitungan dimensi hidrolis
3. Penggambaran


3
BAB II
PERHITUNGAN HUJAN RENCANA

2.1 Uji Homogenitas Data Hujan
Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah data hujan yang dipakai
untuk analisis selanjutnya berasal dari populasi yang sama atau tidak. Metode yang
digunakan untuk menguji homogenitas adalah Uji-t (Soewarno, 1995; 18-19), dengan
rumus sebagai berikut :
t =
2
1
2 1
2 1
N
1
N
1

) x x (
(

|
|
.
|

\
|
+
|
|
.
|

\
|

S
1
=
2
1
2
1
1 N
) x (x
(
(


o =
2
1
2 1
2
2 2
2
1 1
2 N N
S N S N . .
(

+
+
S
2
=
2
1
2
2
1 N
) x (x
(
(


Keterangan :
t = variabel-t terhitung

1
x = rata-rata hitung sampel set ke-1

2
x = rata-rata hitung sampel set ke-2
N
1
= jumlah sampel set ke-1
N
2
= jumlah sampel set ke-2
S
1
, S
2
= varian sampel set ke-1 dan ke-2

Derajat Kebebasan

D
k
= N
1
+ N
2
2

Apabila t terhitung > t
c
, maka kedua sampel yang diuji tidak berasal dari populasi
yang sama; apabila t terhitung < t
c
, maka kedua sampel berasal dari populasi yang
sama.
t
c
= nilai t kritis (dari tabel nilai kritis t
c
untuk distribusi uji-t dua sisi,
berdasarkan D
k
dan derajat kepercayaan (o).



4
Uji Homogenitas Data
Tabel 2.1 Perhitungan N, x , dan S
i
X
1 (mm)

(X
1
- x)
2

X
2
(mm)
(X
2
- x)
2

1 120,00 122,91 104,00 41,47
2 102,00 47,79 77,20 414,53
3 114,00 25,87 105,50 63,04
4 83,00 671,50 67,90 879,72
5 125,00 258,78 117,50 397,60
6 100,30 74,19 135,00 1401,75
7 141,40 1055,38 113,00 238,39
8 80,00 835,98 102,10 20,61
9
101,60 53,48 81,50 257,92
10 131,20 496,70 106,50 79,92
11 80,00 835,98 78,00 382,59
12 96,20 161,63 68,00 873,79
13 121,00 146,09 103,20 31,81
14 139,00 905,21 127,50 896,40
15
99,00 98,27 76,50 443,52
= 15 x=108,91 = 5789,78 x=97,56 = 6423,10

S
1
=
2
1
1 15
78 , 5789
(

= 20,33
S
2
=
2
1
1 15
10 , 6423
(

= 21,42
o =
2
1
2 2
2 15 15
42 , 21 15 33 , 20 15
(

+
+
= 21,62
t =
2
1
15
1
15
1
62 , 21
) 56 , 97 108,91 (
(

|
.
|

\
|
+
|
.
|

\
|

= 1,438277

Apabila t terhitung > t
c
, maka kedua sampel yang diuji tidak berasal dari populasi
yang sama; apabila t terhitung < t
c
, maka kedua sampel berasal dari populasi yang
sama.
t
c
= nilai t kritis (dari tabel nilai kritis t
c
untuk distribusi uji-t dua sisi,
berdasarkan D
k
dan derajat kepercayaan (o))
D
k
=15 + 15 2 = 28 dan o = 0,05
Didapat nilai t
c
berdasarkan tabel t
c
kritis = 1,703 > t terhitung
5
Kesimpulan :
Kedua sampel berasal dari populasi yang sama (homogen).

2.2 Uji Konsistensi Data Hujan
Data hidrologi tidak konsisten apabila terdapat perbedaan antara nilai
pengukuran dengan nilai sebenarnya. Umumnya penerapan uji konsistensi
menggunakan cara Comulative Deviation yang ditunjukkan dengan nilai kumulatif
penyimpangan terhadap nilai rata-rata.
Rumus-rumus yang digunakan adalah :
SK
*
=

=
K
1 i
_
Y - Yi
Deviasi standar :
D
y
2
=
( )

=
K
1 i
2
Y - Yi
n


D
y
=
2
y
D

Keterangan :
Yi = data hujan ke-i

Y = data hujan rata-rata
n = jumlah data
Dengan membagi SK
*
dengan standar deviasi, diperoleh apa yang disebut
Rescolet Adjusted Partial Sums (RAPS), rumusnya sebagai berikut :
SK
**
=
( )
y
*
D
SK

Parameter statistik yang dapat digunakan sebagai alat pengujian kepanggahan adalah :
Q =
maks
* *
Sk atau nilai range : R = Sk
**
maks
- Sk
**
min

Data adalah konsisten/ panggah jika Q < Q
kritis
dan R < R
kritis
.
Nilai kritis Q dan R dapat dilihat pada lampiran 1.








6
Tabel 2.2 Uji konsistensi data curah hujan
Data Bereng Bengkel
No
Curah hujan
harian
maksimum
(mm) (Yi)

SK* D
2
y SK**
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
104,00
77,20
105,50
67,90
117,50
113,00
102,10
81,50
135,00
106,50
78,00
68,00
103,20
127,50
76,50
6,44
-20,36
7,94
-29,66
19,94
15,44
4,54
-16,06
37,44
8,94
-19,56
-29,56
5,64
29,94
-21,06
6,44
-13,92
-5,98
-35,64
-15,70
-0,26
4,28
-11,78
25,66
34,60
15,04
-14,52
-8,88
21,06
0,00
2,765
27,635
4,203
58,648
26,507
15,893
1,374
17,195
93,450
5,328
25,506
58,253
2,121
59,760
29,568
0,311
-0,673
-0,289
-1,722
-0,759
-0,013
0,207
-0,569
1,240
1,672
0,727
-0,702
-0,429
1,018
0,000
1463,40 428,206

97,56

Dy =

= 20,693
Q = Sk**
maks
= 1,672
R = SK**
maks
SK**
min

= 1,672 - 0,013
= 1,659

Berdasarkan tabel nilai kritis Q dan R ( lampiran 1) pada 90% dan jumlah data (n) = 15,
maka di dapat :
Q kritis 90% =
n
Qkritis
R kritis 90% =
n
Rkritis

1,075 =
15
Qkritis

1,275 =
15
Rkritis

Q kritis = 4,163 R kritis = 4,938
Maka di dapat : Q = 1,672 < Q kritis = 4,163
R = 1,659 < R kritis = 4,938
Sehingga data curah hujan stasiun Bereng Bengkel adalah panggah ( konsisten ).


7
Tabel 2.3 Uji konsistensi data curah hujan
Data Palangka Raya
No
Curah hujan
harian
maksimum
(mm) (Yi)

SK* D
2
y SK**
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
120,00
102,00
114,00
83,00
125,00
100,30
141,40
80,00
101,60
131,20
80,00
96,20
121,00
139,00
99,00
11,09
-6,91
5,09
-25,91
16,09
-8,61
32,49
-28,91
-7,31
22,29
-28,91
-12,71
12,09
30,09
-9,91
11,09
4,17
9,26
-16,65
-0,57
-9,18
23,31
-5,61
-12,92
9,37
-19,55
-32,26
-20,17
9,91
0,00
8,194
3,186
1,725
44,767
17,252
4,946
70,359
55,732
3,566
33,113
55,732
10,775
9,739
60,347
6,552
0,564
0,212
0,471
-0,848
-0,029
-0,467
1,186
-0,285
-0,658
0,477
-0,995
-1,642
-1,027
0,505
0,000
1633,70 385,985

108,91

Dy =

= = 19,647
Q = Sk**
maks
= 1,186
R = SK**
maks
SK**
min

= 1,186 - 0,029
= 1,215

Berdasarkan tabel nilai kritis Q dan R ( lampiran 1) pada 90% dan jumlah data (n) = 15,
maka di dapat :
Q kritis 90% =
n
Qkritis
R kritis 90% =
n
Rkritis

1,075 =
15
Qkritis

1,275 =
15
Rkritis

Q kritis = 4,163 R kritis = 4,938
Maka di dapat : Q = 1,186 < Q kritis = 4,163
R = 1,215 < R kritis = 4,938
Sehingga data curah hujan stasiun Palangka Raya adalah panggah ( konsisten ).



8
2.3 Perhitungan Hujan Wilayah
Curah hujan yang diperlukan untuk penyusunan suatu rancangan pemanfaatan
air dan rancangan pengendalian banjir adalah hujan rata-rata di seluruh daerah yang
bersangkutan, bukan curah hujan pada satu titik tertentu (stasiun), curah hujan ini
disebut Curah Hujan Wilayah/ Daerah yang dinyatakan dalam milimeter (mm).
Curah hujan wilayah dapat ditentukan dari beberapa pos pencatat hujan. Cara-
cara perhitungan hujan wilayah dapat dilakukan dengan metode : Rata-Rata Aljabar,
Polygon Thiessen, dan Isohyet.
1. Metode Rata-Rata Aljabar
Metode ini termasuk yang paling sederhana karena mengabaikan daerah
pengaruh pencatat hujan.
Rumus dari metode ini adalah :
( )
n 3 2 1
R ... R R R
n
1
R + + + + =
dimana : R = curah hujan wilayah (mm)
n = jumlah pos pencatat hujan
R
1
,R
2
,,R
n
= curah hujan di tiap pos pencatat hujan
Hasil yang optimal akan diperoleh dengan cara ini bila wilayah adalah daerah datar, pos
pencatat banyak dan tersebar merata di seluruh wilayah itu.
2. Metode Polygon Thiessen
Jika pos pencatat hujan di dalam suatu wilayah tidak tersebar merata, maka cara
perhitungan curah hujan rata-rata dapat dilakukan dengan memperhitungkan daerah
pengaruh tiap pos pencatat hujan.
Rumus metode ini adalah :

n 2 1
n n 2 2 1 1
A ... A A
.R A ... .R A .R A
R
+ + +
+ + +
=

dimana : R = curah hujan wilayah (mm)
R
1
,R
2
,,R
n
= curah hujan di tiap pos pencatat hujan
n = jumlah pos pencatat hujan
A
1
,A
2
,,A
n
= luas bagian wilayah yang mewakili tiap pos
Cara membuat Polygon Theissen adalah sebagai berikut :
a) Hubungkan pos-pos pengamatan pada wilayah yang bersangkutan dengan
garis lurus;
b) Tarik garis tegak lurus dari pertengahan garis penghubung pos pengamatan
hujan.
9
3. Metode Isohyet
Yang dimaksud dengan Isohyet adalah suatu garis yang menggambarkan curah
hujan yang sama pada suatu wilayah. Metode Isohyet dimulai dengan penggambaran
peta wilayah Isohyet pada peta topografi. Untuk menggambar Isohyet dapat dilakukan
dengan interpolasi terhadap nilai-nilai curah hujan yang tercatat pada pos pencatat
hujan di sekitarnya. Dengan tergambarnya pada peta wilayah Isohyet maka didapat
luas bagian wilayah di antara dua Isohyet. Selanjutnya curah hujan wilayah dapat
dihitung dengan rumus :

n 2 1
n n 2 2 1 1
A ... A A
.R A ... .R A .R A
R
+ + +
+ + +
=

dimana : R = curah hujan wilayah (mm)
R
1
,R
2
,,R
n
= curah hujan rata-rata antara dua Isohyet
n = jumlah pos pencatat hujan
A
1
,A
2
,,A
n
= luas bagian wilayah antara dua Isohyet


Dalam perhitungan ini digunakan cara rata-rata aljabar mengingat jumlah stasiun
pencatat hujan yang digunakan 2 buah. Hasil perhitungan dapat dilihat pada tabel
berikut :
Tabel 2.4 Perhitungan Curah Hujan Wilayah Dengan Metode Rata-Rata Aljabar
No
Stasiun Pencatat
Bereng Bengkel
(mm)
Stasiun Pencatat
Palangka Raya
(mm)
Curah hujan wilayah
1 120,00 104,00 112,00
2 102,00 77,20 89,60
3 114,00 105,50 109,75
4 83,00 67,90 75,45
5
125,00 117,50 121,25
6 100,30 113,00 106,65
7 141,40 102,10 121,75
8 80,00 81,50 80,75
9 101,60 135,00 118,30
10 131,20 106,50 118,85
11 80,00 78,00 79,00
12 96,20 68,00 82,10
13 121,00 103,20 112,10
14 139,00 127,50 133,25
15 99,00 76,50 87,75



10
2.4 Perhitungan Curah Hujan Rencana
Pada perhitungan ini digunakan metode Distribusi Probabilitas Gumbel.
Parameter-parameter yang digunakan dalam Probabilitas Gumbel adalah :
1. Harga Rata-Rata (Mean)

n
Yi
x =
2. Standar Deviasi (S)

( )
1 n
x x
S
2
i

=
3. Faktor Frekuensi untuk Nilai Ekstrim

Sn
Yn Yt
K

=

dimana : Sn = reduce standar deviasi, tergantung jumlah data (n)
Yn = reduce mean, tergantung jumlah data (n)
Yt = reduce variate, tergantung Tr
Dapat ditentukan dengan rumus :
Yt =
(

|
.
|

\
|

Tr
1 Tr
ln ln atau dari tabel
Dalam perhitungan hujan rencana ini, dapat dihitung dengan cara :
1. Cara Analitis
Tabel 2.5 Perhitungan n, x , dan S
i X
i
(X
i
- x)
2

1 112,00 76,796
2 89,60 185,959
3 109,75 42,424
4 75,45 772,099
5 121,25 324,480
6 106,65 11,651
7 121,75 342,744
8 80,75 505,650
9 118,30 226,904
10 118,85 243,776
11 79,00 587,416
12 82,10 446,759
13 112,10 78,559
14 133,25 900,800
15 87,75 239,837

1548,55 4985,852
x
103,24
n = 15
11
x=
15
55 , 1548
= 103,24 mm ;
1 15
852 , 4985
S

= = 18,871
Untuk n =15 ( dari tabel ) : Sn = 1,0210 ; Yn = 0,5128
Untuk periode ulang Tr = 10 tahun (dari tabel) : Yt = 2,2504
0210 , 1
5128 , 0 2504 , 2
K

= = 1,7019
Table 2.6 Perhitungan Curah Hujan Rencana ( Cara Analitis)
Tr ( Tahun ) x K S X
tr
(mm)
10 103,24 1,7019 18,871 135,356
Dimana :
X
tr
= x+ S . K
2. Cara Grafis
Langkah-langkah kerja cara grafis adalah :
Urutkan data dari kecil ke besar dan plot pada kertas probabilitas sebagai ordinat
Hitung probabilitas kumulatif kemudian plot sebagai absis pada kertas
probabilitas dengan cara Weibul :
P (xi) =
1 n
i
+

Tentukan garis regresi secara grafis (dengan bantuan tangan)
Tabel 2.7 Urutan Data dan Probabilitas Kumulatif
Xi
% 100
1 n
i

+

1
75,45 6,250
2 79,00 12,500
3 80,75 18,750
4 82,10 25,000
5 87,75 31,250
6 89,60 37,500
7
106,65 43,750
8 109,75 50,000
9 112,00 56,250
10 112,10 62,500
11 118,30 68,750
12 118,85 75,000
13
121,25 81,250
14 121,75 87,500
15 133,25 93,750
12
Nilai Xtr secara grafis dapat dilakukan dengan memplotkan data di atas ke dalam
kertas distribusi Gumbel. Dari garis regresi yang ditarik didapat nilai Xtr untuk Tr =
10 tahun.
Xtr = 135 mm
3. Pengujian dengan Cara Smirnov-Kolmogorof
Untuk jumlah data (n) = 15 dan derajat signifikan () = 5% = 0,05 didapat
simpangan ijin ( ijin) = 0,34 = 34% (dapat dilihat pada tabel 3.8 Tabel nilai ijin
Smirnov-Kolmogorof pada lampiran).
Simpangan maksimum ( maks) yang terjadi dapat dicari dari gambar dan
hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut :
Table 2.8 Perhitungan Simpangan Cara Analitis Dan Grafis
i
Xi
Probabilitas
Simpangan
(mm) Empiris Regresi
(%)
1
75,45 6,250 6,25 0,000
2
79,00 12,500 10,00 2,500
3
80,75 18,750 18,00 0,750
4
82,10 25,000 25,00 0,000
5
87,75 31,250 31,00 0,250
6
89,60 37,500 37,50 0,000
7
106,65 43,750 43,20 0,550
8
109,75 50,000 72,50 -22,500
9
112,00 56,250 83,40 -27,150
10
112,10 62,500 87,00 -24,500
11
118,30 68,750 89,60 -20,850
12
118,85 75,000 93,00 -18,000
13
121,25 81,250 96,00 -14,750
14
121,75 87,500 97,30 -9,800
15
133,25 93,750 98,00 -4,250

Dari tabel di atas didapat simpangan maksimum ( maks) adalah 2,5 % < 34 %
Berarti distribusi Gumbel baik untuk analisa frekuensi.
Dengan demikian diketahui curah hujan rencana pada stasiun Bereng
Bengkel untuk periode ulang 10 tahun. Maka intensitas curah hujan dapat dihitung
dapat dihitung dengan rumus :
I
10
=
3
2
t
24
24
135,356
|
.
|

\
|


13
Table 2.9 Perhitungan Intensitas Hujan Dengan Rumus Mononobe
t (jam) intensitas hujan ( mm/jam )
1,2 41,555
1,4 37,496
1,6 34,303
1,8 31,712
2,0 29,561
2,2 27,741
2,4 26,178
2,6 24,818
2,8 23,621
3,0 22,559
3,2 21,609
3,4 20,753
3,6 19,977
3,8 19,270
1,2 18,622





41.555
37.496
34.303
31.712
29.561
27.741
26.178
24.818
23.621
22.559
21.609
20.753
19.977
19.270 18.622
0.000
5.000
10.000
15.000
20.000
25.000
30.000
35.000
40.000
45.000
1.2 1.4 1.6 1.8 2.0 2.2 2.4 2.6 2.8 3.0 3.2 3.4 3.6 3.8 4.0
I
n
t
e
n
s
i
t
a
s

H
u
j
a
n

(
I
)

t (jam)
Intensitas Hujan ( I )
14
BAB III
PERHITUNGAN BEBAN DRAINASE

3.1 Analisis Lay Out dan Luas Daerah Tangkapan Hujan
3.1.1 Tata Guna Lahan
Penggunaan secara efektif tanah di kawasan pemukiman merupakan tinjauan
pada tugas Drainase Perkotaan. Dimana daerah yang kami tinjau adalah kawasan
Jalan B. Koetin, Jalan Bima, dan Jalan Bukit Keminting di mana pada kawasan tersebut
sering terjadi banjir yang disebabkan oleh tertutup atau tersumbatnya saluran-saluran
drainase pada ruas jalan tersebut.
3.1.2 Jaringan Drainase
Jaringan drainase yang terdapat pada kawasan pemukiman umumnya
menggunakan pasangan batu kali. Akan tetapi pada kawasan tinjauan belum terdapat
saluran yang telah dibuat, sehingga akan direncanakan jaringan drainase yang baru.
3.1.3 Jarak Pengaliran Di Atas Permukaan Tanah (L
0
)
Jarak pengaliran pada jaringan drainase di atas tanah adalah jarak terjauh
antara As saluran terhadap titik tangkap daerah tangkapan hujan pada masing-masing
daerah pengaliran berdasarkan peta rencana jaringan pada kawasan pemukiman yang
terdapat di Jalan Bima, Jalan B. kotien dan Jalan Bukit Keminting.
3.1.4 Panjang Saluran (L
d
)
Panjang saluran pada perencanaan ini yaitu panjang saluran sepanjang daerah
tangkapan hujan yaitu ditinjau dari titik persimpangan dan perpotongan pada masing-
masing bagian daerah pengaliran sub drainase di wilayah tersebut.
3.1.5 Luas Daerah Tangkapan Hujan
Pada daerah yang direncanakan, pembagian daerah tangkapan hujan terbagi
atas bentuk trapesium. Dimana secara geometris dapat diasumsikan panjang saluran
(L
d
) sebagai panjang alas dan jarak pengaliran di atas permukaan tanah (L
0
) sebagai
tinggi. Dalam perencanaan, perhitungan debit rencana menggunakan rumus dasar
metode rasional dengan persamaan sebagai berikut :
Q = 0,278 . C . I . A
dimana : Q = debit (m
3
/dt)
C = koefisien run off / koefisen pengaliran
I = intensitas maksimum selama waktu (mm/jam)
A = luas daerah (km
2
)
15
- Contoh daerah tangkapan hujan berbentuk trapesium :
Jl. Bima KR II 1
Lo = 94 m
Ld = 237 m
L
as
= 47 m
A =
2
Lo Lb) (La +

=
2
94 47) (237 +

= 13348 m
2
= 0,01335 km
2
- Contoh daerah tangkapan hujan berbentuk segitiga :
Jl. Bima KR II 2
Lo = 18 m
Ld = 33 m
A =
2
Ld) (Lo

=
2
) 33 (18

= 297 m
2
= 0,00030 km
2


Selanjutnya hasil perhitungan dapat dilihat pada table 3.1a untuk daerah tangkapan
berbentuk trapesium dan table 3.1b untuk daerah tangkapan berbentuk segitiga.

Tabel 3.1a Nilai Lo, Ld, L as, dan A
No Nama saluran KR/KN Ld(m) L
as
(m) Lo (m) A (km
2
)
1
2
3
4
Jl. Bima
Jl. Bukit Keminting
Jl. Bukit Keminting III
Jl. B. Koetin
KR II 1
KN III 1
KR IV
KN V
237
230
159
151
47
47
108
108
94
96
28
28
0,013348
0,013296
0,003738
0,003626

Tabel 3.1b Nilai Lo, Ld, dan A
No Nama Saluran KR/KN Ld (m) Lo (m) A (km
2
)
1
2
3
4
Jl. Bima
Jl. Bukit Keminting
Jl. Bukit Keminting III
Jl. Bukit Keminting IV
KR II 2
KN III 2
KN IV
KN V
33
64
160
228
18
28
87
97
0,000297
0,000896
0,006960
0,011058


200 M
94 M
47 M
237 M
33 m
18 M
16
3.2 Perhitungan Waktu Konsentrasi dan Intensitas Hujan
3.2.1 Perhitungan Waktu Pengaliran dan Daerah Tangkapan Hujan (t
o
)
Pada suatu daerah pengaliran yang terdapat lebih dari satu macam, penggunaan
tanah sangat mempengaruhi dalam penentuan waktu yang diperlukan air untuk
mengalir melalui permukaan tanah ke saluran terdekat (t
0
). Maka dalam hal ini untuk
menentukan besar / nilai t
0
berhubungan dengan koefisien pengaliran (c) dan nilai.
kemiringan tanah (S
0
). Untuk koefisien pengaliran dalam tata guna lahan wilayah
pemukiman c = 0,7 dan untuk kemiringan permukaan tanah (S
0
) direncanakan harga
0,5 % atau 0,005. Setelah diketahui nilai c dan S
0
untuk masing-masing daerah
pengaliran dapat ditentukan lama pengaliran (t
0
) dengan menggunakan diagram untuk
perkiraan harga t
0
dengan c = 0,7 dan S
0
= 0,5%, serta nilai Lo dari masing-masing
daerah pengaliran
Contoh perhitungan t
o
:
Jl. Bima KR II 1, nilai L
o
= 94 m, c = 0,7 dan S
o
= 0,5%
Maka didapat nilai t
o
= 17 menit
3.2.2 Perhitungan Waktu Pengaliran Dalam Saluran (t
d
)
Waktu pengaliran dalam saluran (t
d
) dapat dilakukan dengan persamaan berikut :
t
d
=
V
L
d

dimana : t
d
= waktu pengaliran dalam saluran (mnt)
L
d
= panjang saluran (m)
V = kecepatan air dalam saluran (m/dt)
Berdasarkan tabel kecepatan air untuk saluran alami dengan
kemiringan rata-rata saluran < 1% (asumsi) dengan demikian
didapat nilai V = 0,4 m/dt.
Contoh perhitungan t
d
:
Jl. Bima KR II 1, nilai L
d
= 237 m, V = 0,4 m/dt,
t
d
=
4 , 0
60
237

= 9,875 menit






17
3.2.3 Waktu Konsentrasi (t
c
)
Waktu konsentrasi adalah waktu yang diperlukan untuk mengalirkan air hujan
mulai dari tempat jatuhnya sampai ke tempat penampungan. Ada dua faktor yang
menentukan waktu konsentrasi yaitu waktu yang diperlukan air untuk mengalir melalui
permukaan tanah ke saluran terdekat (t
0
) dan waktu untuk dapat mengalir di dalam
saluran ke tempat ukur (t
d
) sehingga dapat dilihat dari persamaan berikut :
t
c
= t
0
+ t
d

dimana : t
c
= waktu konsentrasi (mnt)
t
d
= waktu pengaliran dalam saluran ke tempat yang diukur (mnt)
t
0
= waktu pengaliran di atas permukaan tanah (harganya ditentukan
bukan berdasarkan kemiringan permukaan, harga koefisien
pengaliran rata-rata dan jarak)
contoh perhitungan t
c
:
Jl. Bima KR II 1, nilai t
o
= 17 menit, nilai t
d
= 9,875 menit
t
c
= 17 + 9,875 = 26,875 menit

3.2.4 Perhitungan Intensitas Hujan
Intensitas hujan adalah rata-rata dan banyaknya air hujan pada waktu
konsentrasi untuk periode ulang tertentu. Intensitas hujan dinotasikan dengan huruf (I)
dalam satuan (mm/jam) yang artinya tinggi hujan yang terjadi sekian milimeter dalam
kurun waktu per jam. Besarnya intensitas hujan berbeda-beda yang disebabkan oleh
lamanya curah hujan dan frekuensi terjadinya. Hubungan antara lamanya hujan dengan
besarnya Intensitas hujan digambarkan dalam suatu kurva yang disebut Intensity
Duration Frequency (IDF).
Perhitungan curah hujandilakukan dengan menggunakan rumus mononobe
sebagai berikut :
I =
3
2
24
24
24
(

t
X

dimana : I = intensitas hujan (mm/jam)
X
24
= curah hujan harian maksimum (mm)
t = durasi hujan (mnt/jam)
Dengan diketahuinya curah hujan rencana pada stasiun untuk periode ulang 2 tahun
maka Intensitas curah hujan menjadi :
18
I
10
=
3
2
24
24
135,356
(

t

contoh perhitungan I :
Jl. Bima KR II 1, nilai t
c
= 26,875 menit = 0,448 jam
I =
3
2
448 , 0
24
24
135,356
(

= 79,207 mm/jam


Tabel 3.2 Nilai t
o
, t
c
, t
d
, Dan Intensitas Hujan (I)
No. Nama Saluran KR/KN t
o
(menit) t
d
(menit) t
c
(menit) I
2
(mm/jam)
1
2
3
4
5
6
7
8
Jl. Bima
Jl. Bukit Keminting
Jl. Bukit Keminting III
Jl. B. Koetin
Jl. Bima
Jl. Bukit Keminting
Jl. Bukit Keminting III
Jl. Bukit Keminting IV
KR II 1
KN III 1
KR IV
KN V
KR II 2
KN III 2
KN IV
KN V
17
18
8
8
7
8
16
18
9,875
9,583
6,625
6,292
1,375
2,667
6,667
9,500
26,875
27,583
14,625
14,292
8,375
10,667
22,667
27,500
80,157
78,779
120,258
122,120
174,389
148,419
89,795
78,938

3.3 Perhitungan Beban Drainase
Perhitungan beban drainase yaitu perhitungan debit rencana untuk menetapkan
dimensi bangunan air. Perhitungan debit rencana pada tugas ini dipergunakan untuk
memperkirakan puncak debit rencana dengan tidak memperhatikan bentuk
hidrografnya. Namun demikian, dalam penyajiannya metode ini memasukkan faktor
curah hujan, keadaan fisik dan sifat hidraulik aliran, sehingga dikenal dengan metode
RASIONAL . Persamaan yang digunakan :
Q = 0,278 . C . I . A
dimana : Q = debit (m
3
/dt)
C = koefisien run off
I = intensitas maksimum selama waktu konsentrasi (mm/jam)
A = luas daerah pengaliran (km
2
)







19

Tabel 3.3 Nilai Q dengan periode Ulang 10 Tahun

No. Nama Saluran KR/KN C I
2
(mm/jam) A (km
2
) Q
3
(m/dtk)
1
2
3
4
5
6
7
8
Jl. Bima
Jl. Bukit Keminting
Jl. Bukit Keminting III
Jl. B. Koetin
Jl. Bima
Jl. Bukit Keminting
Jl. Bukit Keminting III
Jl. Bukit Keminting IV
KR II 1
KN III 1
KR IV
KN V
KR II 2
KN III 2
KN IV
KN V
0,7
0,7
0,7
0,7
0,7
0,7
0,7
0,7
80,157
78,779
120,258
122,120
174,389
148,419
89,795
78,938
0,013348
0,013296
0,003738
0,003626
0,000297
0,000896
0,006960
0,011058
0,208
0,204
0,087
0,086
0,010
0,026
0,122
0,170


























BAB IV
PERHITUNGAN DIMENSI SALURAN

4.1 Dimensi Hidrolis dan Elevasi Dasar Saluran Drainase
4.1.1 Perhitungan Dimensi Melintang Saluran
Bentuk-bentuk saluran untuk drainase tidak jauh berbeda dengan saluran irigasi
pada umumnya. Dalam perancangan dimensi harus diusahakan memperoleh dimensi
penampang yang ekonomis. Dimensi saluran yang terlalu besar berarti kurang
ekonomis, sebaliknya dimensi saluran yang terlalu kecil tingkat kerugian akan besar.
Bentuk saluran drainase terdiri dari :
Bentuk trapesium
Bentuk empat persegi panjang
Bentuk lingkaran, parabola dan bulat telur
Bentuk tersusun
Untuk merencanakan dimensi penampang pada saluran drainase digunakan
pendekatan-pendekatan rumus aliran seragam. Aliran seragam ini mempunyai sifat-
sifat sebagai berikut :
a. Dalamnya aliran, luas penampanga aliran, kecepatan aliran serta debit selalu
tetap pada setiap penampang melintang.
b. Garis energi dan dasar saluran selalu sejajar. Bentuk penampang saluran
drainase dapat merupakan saluran terbuka maupun saluran tertutup tergantung
dari kondisi daerahnya.
Dalam perencanaan digunakan penampang trapesium parameter yang
digunakan dalam pendimensian saluran trapesium ini adalah
1. luas penampang basah saluran (A)
A = b.h + m.h
2

dimana : A = luas penampang basah saluran (m
2
)
b = lebar dasar saluran (m)
h = kedalam air (m)
m = kemiringan talud
atau :
A =
V
Q

dimana : Q = debit saluran (m
3
/dt)
V = kecepatan aliran (m/dt)



2. Keliling basah (P)
P = b + 2.h.
2
1 m +
dimana : P = keliling basah saluran (m)
b = lebar dasar saluran (m)
h = kedalaman air (m)
m = kemiringan talud
3. Jari-jari hidraulis (R)
R =
P
A

dimana : R = jari-jari hirdaulis (m)
A = luas penampang basah saluran (m
2
)
P = keliling basah (m)
4. kecepatan aliran (V)
V = k.R
2/3
.S
1/2

dimana : V = kecepatan aliran (m/dt)
k = koefisien kekasaran strickler
R = jari-jari hidraulis saluran (m)
S = kemiringan dasar saluran

, Penentuan nilai-nilai parameter yang digunakan dalam pendimensian saluran
trapezium berdasarkan perhitungan berikut sebagai contoh di ambil saluran :
Jl. Permai VI KR I
m = 1 ; b/h = 1 ; Q = 0.037

1) Luas penampang basah saluran (A)
A =
2
m 0.125
30 . 0
037 . 0
=


A = bh + mh
2
A = (2h) + 1.h
2

0.125 = 2h
2
+ h
2

0.125 = 3h
2

h = 0.250 m
b/h = 1 ; b = 1h ; 1.0,250 = 0.25 m




Kontrol :
Ab = 3 h
2
Vb = m/dt 0.30
1519 . 0
002 . 0

A
Q
= =
= 3.(0.250)
2

= 0.151875 m
2


V
awal
= 0.30 m/dt
V
baru
= 0.30 m/dt

Kontrol Akhir = V
awal
V
Baru
= 0.30 0.30
= 0.000 m/dt < 5 % oke!

2) Keliling basah (P)
P = b + 2h 1
2
+ m
= 0.250 + 2.(0.250) 1 1
2
+
= 1.057 m
3) Jari jari hidrolis (R)
R = m 0.118
057 . 1
1519 . 0

P
Ab
= =

4) Kemiringan dasar saluran (Cs)
Vb = K . R
2/3
. S
1/2

0.30 = 35 . 0.118
2/3
. S
1/2

S = 0.001

5) Tinggi jagaan (F) diambil berdasarkan tabel hubungan Q dan F Diperoleh nilai F
= 0.30 m. ( Tabel 4.3 Hubungan Q dan F )









Sehingga dimensi saluran Jl. Permai VI KR I
Q = 0.037 m
3
/dt
V = 0.30 m
3
/dt
b = 0.250 m
h = 0.250 m
m = 1
F = 0.30 m
S = 0.001

Dengan cara yang sama dimensi untuk saluran saluran sekunder lainnya dapat
ditentukan.
Hasil perhitungan selanjutnya disajikan pada tabel 4.1