Anda di halaman 1dari 6

PENINGKATAN NILAI KARAKTERISTIK MORTAR Tjokro Hadi Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Semarang Abastract Research to determine

the optimal portion aggregate mortar, mostly in terms of compressive strength, ease of workmanship. Research the value of tensile strength on a wide variety of mortar cement and sand mixture at the age of 7 and 14 days aim to complete the data characteristics of mortar (compressive strength, shear strength and tensile strength). The results of the tensile strength of mortar mix (cement + sand) at 14 days. Porsi campuran 1 : 4 kuat tarik maksimumnya 4,23 kg/cm2. Key words: Tensile strength, the portion of the mixture, mortar PENDAHULUAN Laju pembangunan setiap tahunnya meningkat, terlebih dewasa ini dalam bidang properti mulai nampak kemajuan yang signifikan, dipantau dari indikasi beberapa pengembang mulai menawarkan tipe rumah baru dan bahan yang dipakai maupun harganya. Selain itu penjelasan dari pihak pengembang mengenai hal mutu bangunan baik bahan batu bata/batako super hingga campuran spesi atau mortar tak ketinggalan ikut dijelaskan, ada penjelasan spesi yang lebih baik dan ada juga penjelasan yang spesinya lebih kuat yang akhirnya harga rumahpun ikut meningkat. Sebetulnya bila hal ini dicermati dengan teliti dari tiap-tiap tipe rumah terhadap campuran spesi atau mortar akan berbeda, pada tipe rumah murah (biasanya sedikit semen) rumah tipe menengah campuran spesi menggunakan semen lebih banyak sehingga nilai kuat tekan spesi lebih baik dan pemeriksaan pengendalian mutu diikuti pengujian di laboratorium bahan bangunan. Mortar merupakan campuran agregat halus (pasir) dan semen ditambah air dan akan mengeras dalam waktu tertentu (PBI, 1971). Variasi porsi campuran mortar akan berpengaruh terhadap mutu mortar yang dihasilkan terutama kuat tekannya namun karena mortar sebagai bahan pengikat dalam susunan pemasangan dinding batu bata. Fungsi mortar untuk merekatkan bahan bangunan seperti pasangan batu bata, pasangan pondasi batu, dinding dengan kusen dengan tembok melalui penjangkaran besi. Lepasnya ikatan tembok dengan kusen karena daya rekat atau tarikan mortar dengan kusen sudah tidak ada, demikian juga robohnya dinding batu bata dikarenakan tak mampu menahan gaya horizontal karena kuat tarik mortar lemah. TINJAUAN PUSTAKA Yang dimaksud dengan : 1. Semen Portland (SP) adalah semen hidrolis yang dihasilkan dengan cara menggiling klinker, yang utama terdiri dari silikat-silikat kalsium yang bersifat hidrolis dan gips sebagai bahan pembantu. 2. Semen Portland Pozolan (SPP) adalah suatu balian pengikat hidrolis yang dibuat dengan menggiling halus klinker Semen Portland dan Pozolan, atau sebagai campuran yang merata antara bubuk Semen Portiand dan bubuk Semen Pozolan. Selama penuggilingan atau pencampuran dapat ditambahkan bahan-bahan lain asaL tidak mengakibatkan penurunan mutunya. Klasifiasi Semen Portland Sesuai dengan tujuan pemakaian. Semen Portland dibagi menjadi 5 jenis sebagai berikut: Jenis 1 : Untuk konstruksi pada umumnya, dimana tidak diminta persyaratan khusus seperti yang disyaratkan pada jenis-jenis lainnya, Jenis II : Untuk konstruksi pada umumnya terutama sekali bila disyaratkan agak tahan terhadap sulfat dan panas hidrasi yang sedang, Jenis III : Untuk konstruksi-konstruksi yang menuntut persyaratan kukualan awal yang tinggi. Jenis IV : Untuk konstruksi-konstruksi yang menuntut persyaratan panas hidrasi yang rendah, Jenis V : Untuk konstruksi-konstruksi yang menuntut persyaratan sangat tahan terhadap sulfat. Syarat Mutu Semen Portland Semen Portland standard harus memenuhi persyaratan kimia dan fisik sebagaimana tercantum dalam Tabel 1 dan Tabel 2.

118

Tabel 1. Persyaratan Kimia Semen Portland


JENIS SEMEN PORTLAND URAIAN
Magnesium Oksida, MgO maks. % berat Belerang Trioksida, SO3 maks. % berat: - Bila C3A< 8% - Bila C3A > 8 % Hilang Pijar maks. % berat Bagian Tidak Larutmaks. % berat Alkali sebagai. Na2Omaks. % berat*) Trikaisium Silikat. C3S maks. % berat*) Dikalsium Silikai, C2S maks. % berat**) Trikalsium Aluminat, C3A maks. % berat**) Tetrakalsium Aluminoferit + 2x Trikalsium Aluminat (C4AF + 2 C3A) atau Kadar Larutan Padat (C4AF + C2AF) maks. % berat**) Jumlah Trikaisium Silikat dan Trikalsium Aluminat (C3S + C3A) maks. % berat

II

III

IV

5,0

5,0

5,0

5,0

5,0

Dalam komposisi ini, tidak akan terbentuk senyawa C3S dan kadar C2S dihitung memakai rumus tersebut di atas. Syarat maksimum % (C4AF + C2F) atau % larutan padat ini tidak berlaku bila syarat pemuaian maksimum akibat sulfat yang diminta sudah dapat dipenuhi. Keterangan : C3 S = 3 CaO.SiO2 C2 S = 3 CaO.SiO2 C3 A = 3 CaO.Al2O3 C4AF = 4 CaO.Al2O3.Fe2O3 Tabel 2 Persyaratan Fisik Semen Portland Standaph II III IV V Jenis semen I portland uraian
Kehalusan Sisa diatas ayakan 0,09 mm maks. % berat Dengan alat Blaine, luas permukaan tiap satuan berat semen, min. 2 m /kg Waktu pengikatan dengan alat Vicat :*) Awal, min. menit Akhir, maks jam Waktu pengikatan dengan alat Gollmore:*) Awal, min. menit Akhir, maks jam Kekekalan bentuk Pemuaian dalam Autoclave % maks Kekuatan tekan min kgf/cm2 Untuk umur uji : 1 hari 1 + 2 hari 1 + 6 hari 1 + 27 hari Pengikatan semu (False Set) Penetrasi akhir, % min. Panas hidrasi, maks. Kal/g 7 hari 28 hari Pemuaian karena sulfat**) 14 hari, % maks. 10 10 10 10 10

3,0 3,5 3,0 1,5 0,6 -

3,0 3,0 1,5 0,6 8

3,5 4,5 3,0 1,5 0,6 15

2,3 2,5 1,5 0,6 35 40 7

2,3 3,0 1,5 0,6 5

20

280

280

280

280

280

58

45 8

45 8

45 8

45 8

45 8

*)

Hanya berlaku jika dipakai dengan agregat yang bersifat alkali reaktif **) Bila perbandingan antara % A120.3 daii % Fe2 03 - 0,64 atau lebih, maka perhitungan % C3S, % C2S, %C3A, %C4AF adalah sebagai berikut : C3 S = (4,071 x % CaO) - (7,600 x % SiO2) (6,718 x % A12O3) - (1,430 x % Fe2O3) - (2,852 x %SO3) C2 S = (2,867 x % SiO2) - (0,7544 x % C3S) C3 A = (2,650 x%Al2O3)-(l;692x%Fe2O3) C4AF = (3,043 x % Fe2O3) Bila perbandingan antara % Al2O3 dan % Fe2O3 kurang dari 0,64 maka akan terbentuk larutan padat yang dinyatakan sebagai C4AF + C2F. Perhitungan kadar C4AF + C2F dan kadar C3S dalam hal ini adalah sebagai berikut: (C4AF + C2F) = (2,100 x % Al2O3) + (1,702 x % Fe2O3) C3S = (4,071 x % CaO) - (7,600 x % SiO2) - (4,479 x % Al2O3) (2,859x % Fe2O3) - (2,852 x % SO3)

60 10 0,8

60 10 0,8

60 10 0,8

60 10 0,8

60 10 0,8

125 200 50

100 175 50

125 250 50

70 175 50

85 150 210 50

70 80

60 70

0,045

PENINGKATAN NILAI KARAKTERISTIK MORTAR ...( Tjokro Hadi)

119

Keterangan: *) Bila tidak ditentukan, maka yang berlaku adalah penentuan memakai alat Vicat. **) Bila syarat ini diminta, maka syarat C4AF C2F tidak perlu dilakukan. Semen Portland Pozolan (SPP) Klasifikasi Semen Portland Pozolan Sesuai dengan tujuan pemakaiannya, Semen Portland Pozolan dibagi dalam dua jenis sebagai berikut: 1. Semen Portland Pozolan jenis A, adalah jenis Semen Portland Pozolan yang dapat dipergunakan untuk semua tujuan didalam pembuatan aduk dan beton. 2. Semen Portland Pozolan jenis B, adalah Semen Portland Pozolan yang perkembangan kekuatannya lebih lambat dari pada Semen Portland Pozolan jenis A dan hanya dapat dipergunakan untuk tujuan-tujuan tertentu dalam adukan dan koustruksi beton dengan mutu setinggi-tingginya sama dengan B1menurut ketentuan SK SNI mengenai beton. Cara Pengambilan Contoh Semen Jenis Contoh Uji Contoh acak, adalah contoh yang didapat dengan cara pengambilan satu kali pelaksanaan pada suatu jumlah semen, baik dari semen yang sedang mengalir maupun semen yang dalam timbunan. Contoh kontinyu, adalah contoh yang didapat dengan cara pengambilan yang berlangsung terus menerus misalnya dengan cara mekanis terutama cara pengambilan dilakukan pada contoh yang mengalir, dalam jangka waktu tertentu. Contoh rata-rata (contoh komposit), adalah contoh gabungan dari contoh acak dan contoh kontinyu, atau beberapa kontinyu. Contoh uji. setelah contoh tunggal atau contoh rata-rata yang dipakai untuk pengujian sifat semen.

atau kontinyu, untuk setiap jumlah kurang lebih 40 ton. Semen dalam bentuk curah, cara kontinyu. Pengambiian ccntoh dilakukan pada lubang pengeluaran semen, pada waktu semen dialirkan keluar, untuk setiap jumlali kurang lebih 100 ton diambilcontoh 2,5 kg. Semen dalam timbunan atau pengangkutan curah, dipakai pipa pengambiian contoh. Apabila kedalaman semen tidak lebih dari dua metei, contoh dapat diambil dengan pipa pengambiian contoh seperti pada gambar 1. Tabung mempunyai panjang 1,5-2 meter, bergaris tengah 35 cm dan terdin dan dua tabung, terbuat dari tembaga yang dipoles dan merupakan pipa teleskop. Ujung pipa luar meruncing, pipa dalam dapat diputar, sehingga dengan putaran tersebut lubang teleskop dapat tertutup. Untuk semen yang daJamnya Iebih dari dua meter, dipakai pipa pengambilan contoh yaag dibantu dengan hisapan udara sehingga manipu untuk mengambil contoh ctari kedalaman berbeda. Pengambilan contoh semen dilakukan yaitu dengan menentukan titik pengambilan yang terpencar tetapi merata serta pada kedalaman yang berbeda-beda sehingga didapat contoh semen yang dapat mewakili pcrsediaan untuk pengujian. Semen yang teiah ada dalam kemasan. Pengambilan contoh untuk semen ini yaitu dengan menggunakan pipa. Masukan pipa pengambilan contoh meiaiui lubang pengisian dari kantong atau kemasan semen dengan ara.h diagQnal. Kemudian satu ujung difutup dengan ibu jar; dan ditarik keluar. Semen. Ambil contoh dengan berat minimum 25 kg dari paling sedikit 3 titik pengambilan yang terpencar. Apabila pengangkutan terdiri dari beberapa truk atau kereta yang berasal dari timbunan / sumber yang sama pula diperbolehkan mer.ggabung contoh dengan berat masing-masing 2,5 kg menjadi contoh ini Pengemasan Contoh Uji Setelah contoh diambil harus segera disimpan dalam wadah yang kedap air dan kedap udara untuk menghindari penyerapan air atau pengaruli udara. Bila contoh disimpan daiam kaleng. kaleng harus benar-benar penuh dan tertutup rapat. Kantong rangkap terbuat dari plastik atau kertas yang kedap dengan air. dapat dipakai asal cakup dan tidak mudah pecah atau rusak dan dapat ditutup rapat. Jumlah semen dalam persediaan yang diwakili oleh contoh. Contoh dari kereta atau truk.
TEKNIS Vol. 6 No.3 Desember 2011 : 118 -123

Jumlah Contoh Contoh rata-rata harus berjumlah paling sedikit 2,5 kg Contoh uji yang akan dipakai untuk pengujian semua sifat semen, harus berjumlah paling sedikit 5 kg. Semen yang sedang diangkut dengan pipa penyalur ke penimbunan. Ambil contoh dengan cara acak

120

Contoh uji yang berasal dari pengangkutan tunggal dengan kereta atau truk harus mewakili jumlah yang ada di dalam kereta atau truk tersebut. Apabila pengangkutan dilakukaii oleh beberapa kereta atau truk, dari satu persediaan yang sajna dan diangkut dalam hari yang sama, tiap contoh uji tidak boleh mewakili lebih dari 100 ton somen. Contoh dari silo, kapal atau pipa penyalur. Setiap contoh uji tidak mewakili lebih dan jumlah semen scbanyak 400 ton yang berasai dari silo atau kapal, dan tidak lebih dari 200 ton yang berasal dari pipa penyalur dan produksi tidak lebih dari 6 jam. Cara Uji Persiapan contoh uji Sebelum melaknkan pengujian, contoh diayak dengan ayakan 0,85 mm (ayakan 20 mesh). Gumpalan yang bukan semen disingkirkan dan ditentukan beratnya serta dihitung persentasenya terhadap berat contoh aslinya. Sedangkan gumpalan semen dihancurkan lalu diayak dengan ayakan 0,85 mm (ayakan 20 mesh). Simpan contoh ini dalcjm kaleng yang tertutup rapat dan kedap air serta kcdap udara, untuk mencegah penyerapan lembab sebelum contoh diuji. Siapkan contoh rata-rata (komposit) untuk pengujian fisik dan kimia sebagai berikut: 1. Kelompokan contoh-contoh tunggai yang didapat dari pengambilan contoh. 2. Tiap kelompok mewakili scjumlah semen yang disyaratkan Dari tiap contoh tunggai dalam kelompok diambil sejumlah semen dengan berat yang sama kemudian dicampur untuk dijadikan contoh uji. 3. Aduk baik-baik contoh komposit ini, sebelum dilakukan pengujian. Untuk pengujian kimia, ambil contoh, semen Portland yang telah dipersiapkan menunit di atas, diayak dengan ayakan mata jala 20 (20 mesh). 4. Bagian-bagian yang lebih besar dari mata jala 20 harus dihaluskan melalui ayakan semuanya kecuali kotoran-kotoran dari luar. 5. Bahan semen yang sudah diayak ini disimpan daiam botol yang tertutup rapat. Pada umumnya bahan mortar yang segar atau baru mempunyai kelecakan/ konsistensi dan mudah dikerjakan dan setelah mengeras mempunyai sifat kuat tekan, nilai kokoh dan stabil serta tahan lama/awet.

Tabel 3. Nilai susut mortar pada umur 28 hari Campuran Semen + Pasir 1:4 Susut Lengkung Model Susut Pasangan % 1 0,081 2 0,106 3 0,103 1 3 4 1 3 4 0,071 0,091 0,075 0,067 0,068 0,076 Susut Bebas Tebal Susut Mortar % 5,0 0,169 3,0 1,212 2,5 0,192 5,0 3,0 2,5 5,0 3,0 2,5 1,333 0,204 0,185 0,108 0,185 0,126

1:5

1 :6

(Sumber : Tamin, 2000, Dalam Kuat Geser Diding, Triwardaya, 2008) Tabel 4. Tabel Penggolongan Mortar/ Adukan
No Tipe Adukan Penggunaan Komposisi Campuran Kuat Tekan kg/cm
3

2 3

S N

Pemasangan pondasi tembok penahan Kekuatan sedang Adukan pasangan terbuka di atas tanah Kekuatan agak rendah, tidak menahan beban Kekuatan tekan rendah, terlindung dan tidak menahan beban

1 Pc : Kp : 3 ps

175

1 Pc : Kp : 3 ps 1 Pc : 1 Kp : 6 ps

124 52,5

1 Pc : 2 Kp : 9 ps

124,5

1 Pc : 4 Kp : 15 5,25 ps

(Sumber PEDC Bandung, 1988 dan NSPM bag. 3, 2002)

Tabel 5. Pengaruh campuran terhadap kuat geser dinding (28 hari) Campuran Kuat geser dinding No Semen, Pasir 28 hari (kg/cm2) 1 1 :4 1,911 2 1:5 1,880 3 1 :6 1,670 4 1:7 1,344 5 1:8 1,061 Sumber Triwardaya, 2008)

PENINGKATAN NILAI KARAKTERISTIK MORTAR ...( Tjokro Hadi)

121

METODE PENELITIAN Dalam penelitian, pengujian kuat tarik mortar diperlukan bahan mortar yang dicetak menyerupai kuncup I, dengan penampang segi empat. Takikan bentuk I berfungsi sebagai bagian penahan dan yang lainnya ditarik, pengujian tarik dilakukan pada umur 7 hari dan 14 hari, sedangkan untuk porsi campuran semen : pasir adalah 1 : 4, 1 : 5, 1 : 6 dan 1 : 7. Prosedur Pengujian Kuat Tarik Mortar Persiapkan bahan dan alat, untuk setiap benda uji diberi notasi dan diukur dimensinya bagian tengah (daerah putus) dan periksa mesin uji tarik agar lancar. Langkah-langkah pengujian : 1. Persiapkan alat uji trik pada posisi vertikal 2. Periksa semua komponen dengan baik 3. Pasang benda uji/sampel dengan posisi vertikal dan kunci klam bagian atas maupun bawah 4. Atur posisi tuas penarik serta proving ring pada skala nol 5. Atur dial perpanjangan pada skala angka nol 6. Lakukan pengujian dengan, kecepatan (1,25 2,5) mm/menit 7. Catat besar gaya maksimum, dan bersihkan alat bila telah selesai Analisa Data Dari hasil data uji tarik dilakukan analisa atau perhitungan sebagai berikut: Besar gaya maksimal = P kg Luas penampang (t x 1) = A cm2 Kuat tarik = (kg/cm2)

Tabel 6. Data Hasil Pengujian Benda No 1 2 3 4 Campuran Spesi 1:4 1:5 1:6 1:7 Kuat tarik rata-rata kg/cm2 7 hari 14 hari 2,66 4,231 3,00 4,029 2,35 3,975 2,30 2,485

Dari hasil pengujian kuat tarik dibuat grafik hubungan antara farsi campuran terhadap umur mortar maupun nilai perubahan kuat tariknya dan ekspesi persamaan akan didapat. Tabel 7. Hubungan porsi campuran pada umur 7 hari terhadap nilai kuat tekan mortar (semen+pasir) Porsi Campuran 1:4 1:5 1:6 1:7 Kuat Tekan (kg/cm2) 26,59 30,20 23,38 23,02

Gambar 1. Grafik hubungan kuat tarik terhadap porsi campuran umur 7 hari Pembahasan : Dari grafik hubungan kuat tarik terhadap porsi campuran (semen + pasir) pada umur 7 hari diperoleh hubungan dengan persamaan matematiknya yaitu : tr = -2524,x + 140,6 (kg/cm2). Dengan tingkat korelasi R2 = 0,457 Tabel. 8. Hubungan porsi campuran pada umur 14 hari terhadap nilai kuat tarik mortar (semen+pasir) Porsi Campuran 1:4 1:5 1:6 1:7 Kuat Tarik (kg/cm2) 4,23 4,02 3,97 2,48

Contoh perhitungan : Data campuran mortar 1 pc : 4 ps diuji pada umur 7 hari dengan ukuran t = 2,0 cm dan 1 = 2,0 cm dan gaya tarik maksimal skala 25, dengan kalibrasi 0,0444 kN/dev. Jawab : A = 2,0 cm x 2,0 cm = 4,0 cm2 Besar gaya kerja = 25 x 0,0444 KN g = 10 m/dt2 = 1 020 KN = 10,2 kg Maka: Kuat tarik = Dari hasil pengujian benda uji ditabelkan diperoleh data rekapitulasi berikut:

122

TEKNIS Vol. 6 No.3 Desember 2011 : 118 -123

UCAPAN TERIMA KASIH

1. Kepada Direktur Politeknik Negeri Semarang 2. Kepada Unit Penelitian dan Pengabdian
Masyarakat Politeknik Negeri Semarang

3. Kepada Ketua Jurusan Teknik Sipil Politeknik


Negeri Semarang

4. Kepada Kepala Laboratorium Bahan Bangunan 5.


Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Semarang Kepada rekan-rekan yang telah membantu penelitian tersebut.

DAFTAR PUSTAKA Gambar 2. Grafik hubungan kuat tarik terhadap porsi campuran umur 14 hari Dari hasil grafik hubungan kuat tarik mortar terhadap porsi campuran dengan umur 14 hari diperoleh pola hubungan dengan ekspesi persamaan matematiknya adalah: tr = -7632x porsi camp. + 383,9 (kg/cm2). Dengan tingkat korelasi R = 0,723 KESIMPULAN Dari penelitian yang dilakukan dengan judul Nilai Karakteristik Mortar terhadap Campuran Pasir : Semen : Air Ditinjau dari Kuat Tarik pada Berbagai Campuran dapat disimpulkan sebagai berikut: Pengaruh porsi campuran mortar (semen + pasir) terhadap nilai kuat tarik adalah semakin sedikit semen yang diberikan semakin kecil nilai kuat tariknya. Basuki SB, dkk, 2010, Rancang Bangun Alat Uji Tarik Mortar sebagai Pengembangan Laboratorium untuk Mendukung PBM, Jurusan Teknik Sipil Polines. Dianita RK, dkk, 2005, Laporan Penelitian Daya Lekat Ubin Keramik dengan Mortar untuk Lantai Rumah, Jurusan Teknik Sipil Polines. Kusdiyono, 2001, Modul Praktikum Pengujian Bahan Bangunan 2, Jurusan Teknik Sipil Polines. NSPL Kimpraswil, 2002, Metode Spesifikasi dan Tata Cara Bagian 3, Beton, Semen, Pekerjaan Beton Semen. SKSNI 5-04-1-1989-F, Spesifikasi Bahan Bangunan Bagian A. Triwardaya, dkk, 2008, Kuat Geser Pasangan Bata Merah pada Konstruksi Dinding. Laporan Pengembangan Jurusan Teknik Sipil Polines.

PENINGKATAN NILAI KARAKTERISTIK MORTAR ...( Tjokro Hadi)

123