Anda di halaman 1dari 24

Ok. Setuju ? Jadi saya bisa melanjutkan cerita tentang pelaksanaan pondasi tiang bor ! Ok pak.

Saya memang nunggu Bapak bercerita, yang menarik ya Pak !

Pekerjaan pemetaan pada lokasi sebelum alat-alat proyek didirikan. Pekerjaan pondasi umumnya merupakan pekerjaan awal dari suatu proyek. Oleh karena itu yang penting adalah dilakukan pemetaan terlebih dahulu. Ini adalah gunanya ilmu ukur tanah. Umumnya yang ngerjain adalah alumni stm geodesi. Proses ini sebaiknya sebelum alat-alat proyek masuk, karena kalau sesudahnya wah susah itu untuk nembak-nya. Dari pemetaan ini maka dapat diperoleh suatu patokan yang tepat antara koordinat pada gambar kerja dan kondisi lapangan. Bayangin jika salah kerja di tempat orang lain. Bisa kacau itu.

Excavator mempersiapkan areal proyek agar alat-alat berat yang lain bisa masuk. Pekerjaan pondasi tiang bor memerlukan alat-alat berat pada proyek tersebut. Disebut alat-alat berat memang karena bobotnya itu yang berat, oleh karena itu manajer proyek harus dapat memastikan perkerjaan persiapaan apa yang diperlukan agar alat yang berat tersebut dapat masuk ke areal dengan baik. Jika tidak disiapkan dengan baik, bisa saja alat berat tersebut tercebur kesungai misalnya.

Bahkan bila perlu, dipasang juga pelat-pelat baja. Pelat baja tersebut dimaksudkan agar alat-alat berat tidak ambles jika kekuatan tanahnya diragukan. Jika sampai ambles, untuk ngangkat itu saja biayanya lebih besar dibanding biaya yang diperlukan untuk mengadakan pelat-pelat tersebut. Perlu tidaknya pelat-pelat tersebut tentu didasarkan dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, nggak ada itu di buku teks. Itu yang saya maksud dengan seni agar pekerjaan lancar. Coba, di buku mana itu ada.

Pekerjaan penulangan pondasi tiang bor.

Paralel dengan pekerjaan persiapan, maka pembuatan penulangan tiang bor telah dapat dilakukan. Ini penting, karena jangan sampai sudah dibor, eh ternyata tulangannya belum siap. Jika tertunda lama, tanah pada lubang bor bisa rusak (mungkin karena hujan atau lainnya). Bisabisa perlu dilakukan pengerjaan bor lagi. Pemilihan tempat untuk merakit tulangan juga penting, tidak boleh terlalu jauh, masih terjangkau oleh alat-alat berat tetapi tidak boleh sampai mengganggu manuver alat-alat berat itu sendiri. Gimana hayo. Lho koq, tulangannya gitu sih pak ? Lha iya. Emangnya kamu belum tahu gambar detailnya. Baik ini gambar detail strukturnya, biasanya digambarkan seperti ini. Ini fondasi franki yang terkenal itu, yang dibagian bawahnya membesar. Itu khas-nya Franky.

Ada yang lebih gede lagi nggak pak, hanya diameter 800 mm ?

Ada, sampai diameter 1 m lebih, tapi prinsipnya hampir sama koq. O ya, kedalaman pondasi adalah sampai tanah keras (SPT 50) dalam hal ini adalah 17-18 m (lokasi di Bogor). Jika alat-alat berat sudah siap, juga tulangan-tulangannya, serta pihak ready mix concrete-nya sudah siap, maka dimulailah proses pengeboran. Skema alat-alat bornya adalah.

Gambar diatas bisa menggambarkan secara skematik alat-alat yang digunakan untuk mengebor. Dalam prakteknya, mesin bor-nya terpisah sehingga perlu crane atau excavator tersendiri seperti ini.

Perhatikan mesin bor warna kuning belum dipasangkan dengan mata bornya yang dibawah itu. Saat ini difoto, alat bor sedang mempersiapkan diri untuk memulai.

Kecuali alat bor dengan crane terpisah, pada proyek tersebut juga dijumpai alat bor yang terintegrasi dan sangat mobile. Mungkin ini yang lebih modern, tetapi kelihatannya jangkauan kedalamannya lebih terbatas dibanding yang sistem terpisah. Mungkin juga, karena diproyek tersebut ada beberap ukuran diameter tiang bor yang dipakai. Jadi pada gambar-gambar nanti, fotonya gabungan dari dua alat tersebut. Jangan bingung ya.

Pengeboran
Ini merupakan proses awal dimulainya pengerjaan pondasi tiang bor, kedalaman dan diameter tiang bor menjadi parameter utama dipilihnya alat-alat bor. Juga terdapatnya batuan atau material dibawah permukaan tanah. Ini perlu diantisipasi sehingga bisa disediakan metode, dan peralatan yang cocok. Kalau asal ngebor, bisa-bisa mata bor-nya stack di bawah. Biaya itu. Ini contoh mesin bor dan auger dengan berbagai ukuran siap ngebor (bukan inul lho).

Setelah mencapai suatu kedalaman yang mencukupi untuk menghindari tanah di tepi lubang berguguran maka perlu di pasang casing, yaitu pipa yang mempunyai ukuran diameter dalam kurang lebih sama dengan diameter lubang bor.

Perhatikan mesin bor-nya beda, tetapi pada prinsipnya cara pemasangan casing sama: diangkat dan dimasukkan pada lubang bor. Tentu saja kedalaman lubang belum sampai bawah, secukupnya. Kalau nunggu sampai kebawah, maka bisa-bisa tanah berguguran semua. Lubang tertutup lagi. Jadi pemasangan casing penting.

Setelah casing terpasang, maka pengeboran dapat dilanjutkan. Gambar di atas, mata auger sudah diganti dng Cleaning Bucket yaitu untuk membuang tanah atau lumpur di dasar lubang.

Jika pekerjaan pengeboran dan pembersihan tanah hasil pengeboran dan akhirnya sudah menjadi kondisi tanah keras. Maka untuk sistem pondasi Franky Pile maka bagian bawah pondasi yang bekerja dengan mekanisme bearing dapat dilakukan pembesaran. Untuk itu dipakai mata bor khusus, Belling Tools sebagai berikut.

Cleaning Bucket dan Belling Tools Akhirnya setelah beberapa lama dan diperkirakan sudah mencapai kedalaman rencana maka perlu dipastikan terlebih dahulu apakah kedalaman lubang bor sudah mencukupi, yaitu melalui pemeriksaan manual.

Perlu juga diperhatikan bahwa tanah hasil pemboran perlu juga dichek dengan data hasil penyelidikan terdahulu. Apakah jenis tanah adalah sama seperti yang diperkirakan dalam menentukan kedalaman tiang bor tersebut. Ini perlu karena sampel tanah sebelumnya umumnya diambil dari satu dua tempat yang dianggap mewakili. Tetapi dengan proses pengeboran ini maka secara otomatis dapat dilakukan prediksi kondisi tanah secara tepat, satu persatu pada titik yang dibor. Apabila kedalaman dan juga lubang bor telah siap, maka selanjutnya adalah penempatan tulangan rebar.

Jika perlu, mungkin karena terlalu dalam maka penulangan harus disambung di lapangan. Ngangkatnya bertahap.

Ini kondisi lubang tiang bor yang siap di cor.

Pengecoran beton :
Setelah proses pemasangan tulangan baja maka proses selanjutnya adalah pengecoran beton. Ini merupakan bagian yang paling kritis yang menentukan berfungsi tidaknya suatu pondasi. Meskipun proses pekerjaan sebelumnya sudah benar, tetapi pada tahapan ini gagal maka gagal pula pondasi tersebut secara keseluruhan. Pengecoran disebut gagal jika lubang pondasi tersebut tidak terisi benar dengan beton, misalnya ada yang bercampur dengan galian tanah atau segresi dengan air, tanah longsor sehingga beton mengisi bagian yang tidak tepat. Adanya air pada lobang bor menyebabkan pengecoran memerlukan alat bantu khusus, yaitu pipa tremi. Pipa tersebut mempunyai panjang yang sama atau lebih besar dengan kedalaman lubang yang dibor.

Cukup panjang khan. Inilah yang disebut pipa tremi. Foto ini cukup menarik karena bisa

mengambil gambar mulai dari ujung bawah sampai ujung atas. Ujung di bagian bawah agak khusus lho, nggak berlubang biasa tetapi ada detail khusus sehingga lumpur tidak masuk kedalam tetapi beton di dalam pipa bisa mendorong keluar. Mau tahu detailnya ?

Yang teronggok di bawah adalah corong beton yang akan dipasang di ujung atas pipa tremi, tempat memasukkan beton segar. Yang di bawah ini pekerjaan pengecoran pondasi tiang bor di bagian lain, terlihat mesin bor (warna kuning) yang difungsikan crane-nya (mata bor nya nggak dipasang, mesin bor non-aktif).

Posisi sama seperti yang diatas, yaitu pipa tremi siap dimasukkan dalam lobang bor.

Pipa tremi sudah berhasil dimasukkan ke lubang bor. Perhatikan ujung atas yang ditahan sedemikian sehingga posisinya terkontrol (dipegang) dan tidak jatuh. Corong beton dipasang. Pada kondisi pipa seperti ini maka pengecoran beton siap. Truk readymix siap mendekat.

Pada tahap pengecoran pertama kali, truk readymixed dapat menuangkan langsung ke corong pipa tremi seperti kasus di atas. Pada tahap ini, mulailah pengalaman seorang supervisor menentukan. Kenapa ? Karena pipa tremi tadi perlu dicabut lagi. Jadi kalau beton yang dituang terlalu banyak maka jelas mencabut pipa yang tertanam menjadi susah. Sedangkan jika terlalu dini mencabut pipa tremi, sedangkan beton pada bagian bawah belum terkonsolidasi dengan baik, maka bisa-bisa terjadi segresi, tercampur dengan tanah. Padahal proses itu semua kejadiannya di bawah, di dalam lobang, nggak kelihatan sama sekali. Jadi pengalaman supervisi atau operator yang mengangkat pipa tadi memegang peran sangat penting. Sarjana baru lulus pasti kesulitan mengerjakan hal tersebut. Pada kasus ini, tidak hanya teori, lha itu seninya di lapangan. Perlu feeling yang tepat. Ingat kalau salah, pondasi gagal,cost-nya besar lho.

Jangan sepelekan aba-aba seperti di atas. Belum tentu seorang sarjana teknik sipil yang baru lulus dengan IP 4.0 bisa mengangkat tangan ke atas secara tepat. Karena untuk itu perlu pengalaman. Jadi menjadi seorang engineer tidak cukup hanya ijazah sekolah formil, perlu yang lain yaitu pengalaman yang membentuk mental engineer. Jadi jangan sekedar kerja, misalnya jualan MLM gitu, mana bisa jadi engineer yang baik, meskipun duitnya gede (katanya).

Jika beton yang di cor sudah semakin ke atas (volumenya semakin banyak) maka pipa tremi harus mulai ditarik ke atas. Perhatikan bagian pipa tremi yang basah dan kering. Untuk kasus ini karena pengecoran beton masih diteruskan maka diperlukan bucket karena beton tidak bisa langsung dituang ke corong pipa tremi tersebut.

Adanya pipa tremi tersebut menyebabkan beton dapat disalurkan ke dasar lubang langsung dan tanpa mengalami pencampuran dengan air atau lumpur. Karena BJ beton lebih besar dari BJ lumpur maka beton makin lama-makin kuat untuk mendesak lumpur naik ke atas. Jadi pada tahapan ini tidak perlu takut dengan air atau lumpur sehingga perlu dewatering segala. Gambar

foto di atas menunjukkan air / lumpur mulai terdorong ke atas, lubang mulai digantikan dengan beton segar tadi. Proses pengecoran ini memerlukan supply beton yang continuous, bayangkan saja bila ada keterlambatan beberapa jam. Jika sampai terjadi setting maka pipa treminya bisa tertanam lho dibawah dan nggak bisa dicabut. Sedangkan kalau keburu di cabut maka tiang beton bisa tidak continue. Jadi bagian logistik / pengadaan beton harus memperhatikan itu.

Jika pengerjaan pengecoran dapat berlangsung dengan baik, maka pada akhirnya beton dapat muncul dari kedalaman lobang. Jadi pemasangan tremi mensyaratkan bahwa selama pengecoran dan penarikan maka pipa tremi tersebut harus selalu tertanam pada beton segar. Jadi kondisi tersebut fungsinya sebagai penyumbat atau penahan agar tidak terjadi segresi atau kecampuran dengan lumpur. Sampai tahap ini pekerjaan tiang bor selesai. Sebenarnya ada hal lain yang mahasiswa saya bisa laporkan yaitu pelaksanaan pengujian beban atau Loading Test 150% kapasitas. Wah menarik lho. Tapi nanti dulu ya pada artikel lain. O ya ada pertanyaan, casingnya dicabut nggak ya. Mestinya iya ya, khan mahal.

Saran :
Mas Wir,

Sedikit tambahan saran dari saya : Sebaiknya diberikan alasan mengapa memilih menggunakan pondasi bor, kenapa tidak menggunakan piling. Oh ya mas wir, sepengetahuan saya sewaktu ikut training di Jaya konstruski tentang bore pile ada beberapa hal yang belum disebutkan : 1. Pengecoran dilebihkan 1 m atau lebih, mengingat bagian beton paling atas telah rusak karena bercampur lumpur sehingga sebaiknya dibuang. 2. Bagian bawah dari pipa tremi diberi semacam bola yang terbuat dari foam untuk menghindari air lumpur masuk kedalam pipa tremi saat pertama kali beton akan dituang. Wirs responds : Memang betul, beton di bagian atas tiang bor akan dikupas untuk stek ke pile-cap. Ya kira-kira satu meter itu. Itu di foto khan beton dicor menutupi tulangannya. Ya betul memang ada foamnya.

Panji Utomo
5 September 2008 pukul 16:19

Salam kenal Pak Wir. Nama saya Panji, mahasiswa teknik sipil Universitas Katolik Parahyangan. Saya ingin memberi komentar kepada Saudara Agus Supiyat. Mengenai pondasi borpile, anda dapat membaca dari Manual Pondasi Tiang karangan Prof Paulus Pramono Rahardjo. Jika data yang dimiliki hanya data NSPT, maka harus digunakan tabel korelasi untuk mendapatkan parameter tanahnya. Untuk tanah clay, dapat digunakan rumus c = 1/10 Nspt. Jika kondisi tanah relatif bagus, maka anda bs menggunakan faktor pengali yg lebih besar. Rumus tersebut hanya rumus empiris yang biasa dipakai di lapangan. Untuk tanah pasir, anda dapat menggunakan tabel yang tersedia di buku desain pondasi. Saya mengambil dari Muni Budhu. Mengenai mana yang lebih kuat, pondasi tiang pancang atau borpile? Menurut saya itu relatif, hanya saja borpile dapat dibuat dengan dimensi yang sangat besar. Sebagai contoh, dimensi yang digunakan pada jembatan Suramadu adalah diameter 2 m, dengan kedalaman 100 m. (Moga2x tidak salah ingat) Dengan dimensi sebesar itu, maka daya dukung yang didapat bisa mencapai 1000 ton untuk 1 tiang. Dimensi yang sangat besar dan di Indonesia, belum ada kontraktor yang menyediakan alat tersebut. Harus import dari negara lain, sepertinya Malaysia dan China punya d.

Tiang pancang memiliki keunggulan dari pengerjaan di lapangan. Yaitu lebih mudah dan cepat, walau mengganggu tetangga. (Denger2x getarannya bisa merusak cat tembok. ) Mengenai kenapa pondasi dalam hanya dipasang pada NSPT kurang dari 50? Pada pondasi tiang pancang, maka akan rusak jika dipaksa atau diusahakan lebih dari itu. Untuk menganalisa dampak pemancangan pada kekuatan pondasi, dan penurunan akibat pemancangan, dapat dianalisa dengan program MICROWAVE. Pada pondasi borpile, NSPT lebih dari 50 itu sulit pada pelaksanaan. Mahal karena harus menggunakan bor bermata intan dan itu sangat mahal. Karena itu jika tanah kerasnya dangkal, lebih enak menggunakan pondasi rakit atau pondasi telapak. Mengenai pengecekan pada pondasi borpile, dapat dilakukan dengan uji sonar. Dengan cara memberikan gelombang kepada tiang tersebut, dan dibaca hasil pemantulan yang terjadi. Jika ada defect yang parah, maka digrouting oleh kontraktor nya. Diambil sampel, lalu diperbaiki. Jika kedalamannya misalnya 60 m, bagaimana? Nah itu sih mungkin aja. Awalnya saya juga pesimis, mana mungkin? Ternyata itu bisa dilakukan. Hal ini saya ketahui pada kuliah umum tentang Jembatan Suramadu. Kepada Pak Wir, dimohon tanggapan dan koreksinya. Terima kasih. Dear Irma Aswani, Pertanyaan: Pak, gimana tentang tiang pancang pabrikasi, yang memberikan jaminan dengan dimensi kecil tetapi daya dukung besar (mini pile). Padahal dari rumus terzaghi, salah satu faktor yang mempengaruhi daya dukung itu adalah dimensi tiang.. Sharing sedikit ya. Menurut pengetahuan yang saya pelajari, daya dukung tiang pancang ditentukan dari friction resistance dan bearing resistance. Secara general memang benar bahwa luas penampang dari tiang pancang sangat mempengaruhi besarnya bearing resistance. Semakin kecil luas penampang semakin kecil pula bearing resistance. Tetapi daya dukung tiang pancang juga dipengaruhi oleh friction resistance along the pile, dimana hal ini dipengaruhi oleh panjangnya tiang dan configuration of the piles group. Keduanya, bearing dan friction resistance dipengaruhi oleh jenis tanah. Jadi sangat mungkin minipile memberikan daya dukung yang besar dengan memanfaatkan friction resistance. Tetapi perlu diperhatikan bahwa dengan penampang yang

kecil, panjang tiang yang besar, dan adanya bagian tanah yang lunak dan keras yang berdekatan, minipile sangat mungkin rentan terhadap tekuk. best regards. Balas