Anda di halaman 1dari 40

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Keselamatan pada dasarnya adalah kebutuhan setiap manusia dan menjadi naluri dari setiap makhluk hidup. Sejak manusia bermukim di muka bumi, secara tidak sadar mereka telah mengenal aspek keselamatan untuk mengantisipasi berbagai bahaya di sekitar lingkungan hidupnya. Pada masa itu, tantangan bahaya yang dihadapi lebih bersifat natural seperti kondisi alam, cuaca, binatang buas dan bahaya dari lingkungan hidup lainya (Ramli, 2009). Sejalan dengan perkembangan peradaban manusia, tantangan dan potensi bahaya yang dihadapi semakin banyak dan beragam termasuk bahaya yang timbul akibat buatan manusia itu sendiri. Dalam abad modern ini, tanpa disadari manusia hidup di tengah atau bersama bahaya. Berbagai alat dan teknologi buatan manusia di samping bermanfaat juga dapat menimbulkan bencana atau

kecelakaan (Ramli, 2009). K3 yang termasuk dalam suatu wadah hygiene perusahaan dan kesehatan kerja (hiperkes) terkadang terlupakan oleh para pengusaha. Padahal, K3 mempunyai tujuan pokok dalam upaya memajukan dan mengembangkan proses industrialisasi, terutama dalam mewujudkan kesejahteraan para buruh. Lebih jauh sistem ini dapat memberikan

perlindungan bagi masyarakat sekitar perusahaan agar terhindar dari bahaya pengotoran bahan-bahan industrialisasi yang bersangkutan dan perlindungan masyarakat luas dari bahaya-bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh produk-produk industry (Suardi, 2007). K3 merupakan salah satu aspek perlindungan tenaga kerja sekaligus melindungi asset perusahaan. Hal ini tercermin dalam pokokpokok pikiran dan petimbangan dikeluarkannya Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 teantang keselamatan kerja yaitu bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas keselamatan dalam melakukan pekerjaan, dan setiap orang lainya yang berada di tempat kerja perlu terjamin pula keselamatannya serta setiap sumber produksi perlu dipakai dan dipergunakan secara aman dan efisien, sehingga proses produksi berjalan lancer. Hak atas jaminan keselamatan ini membutuhkan prasyarat adanya lingkungan yang sehhat dan aman bagi tenaga kerja dan masyarakat di sekitarnya (Aditama dan Hastuti, 2002) Hingga saat ini masih banyak kasus kecelakaan kerja yang terjadi di negara kita. Itu bisa menjadi modal utama dalam upaya menjadikan suatu sistem K3 untuk dapat diterapkan. Heinrich (1931) dengan teori dominonya menyebutkan bahwa pada setiap kecelakaan yang menimbulkan cidera, terdapat lima faktor secara berurutan yang digambarkan sebagai lima domino yang berdiri sejajar yaitu : kebiasaan, kesalahan seseorang, perbuatan dan kondisi yang tidak

aman, kecelakaan serta cidera. Heinrich mengungkapkan untuk mencegah terjadinya kecelakaan, kuncinya adalah dengan

memutuskan rangkaian sebab-akibat. Misalnya dengan membuang hazard, satu domino di antaranya (Suardi, 2007) Birds (1967) memodifikasi teori domino Heinrich dengan mengemukakan teori manajemen yang berisikan lima faktor dalam urutan suatu kecelakaan yaitu : manajemen, sumber penyebab dasar, gejala, kontak dan kerugian. Dalam teorinya, Birds mengemukakan bahwa suatu usaha pencegahan kecelakaan kerja hanya dapat berhasil dengan mulai memperbaiki manajemen K3. Praktek di bawah kondisi aman atau Unsafe Act dan kondisi di bawah standar atau Unsafe Condition merupakan penyebab langsung suatu kecelakaan dan penyebab utama dari kesalahan manajemen (Suardi, 2007). Perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang mempekerjakan pekerja dengan tujuan mencari laba atau tidak, baik milik swasta atau pemerintah. Setiap. Setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak seratus orang atau lebih dan atau mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja seperti peledakan, kebakaran, pencemaran dan penyakit akibat kerja wajib menerapkan Sistem Manajemen K3. Perusahaan Listrik Negara (PLN) merupakan salah satu perusahaan yang bergerak aktif sampai saat ini karena kebutuhan

akan listrik yang harus terus terpenuhi. Perusahaan Listrik Negara (PLN) sector Mahakam merupakan PLN yang memasok atau menangani kebutuhan listrik untuk kawasan kota Samarinda dan sekitarnya. Perusahaan ini memiliki 5 cabang yang tersebar di Kota Samarinda dan Tenggarong. Pada prinsipnya, perusahaan ini harus selalu melakukan aktifitas produksi listrik selama 24 jam penuh atau tanpa ada waktu untuk berhenti kecuali untuk kepentingan perbaikan. Karena sistem produksi yang terus menerus, menyebabkan akan timbul berbagai masalah yang tentunya dihadapi baik oleh pihak manjemen ataupun pekerja yang berkaitan dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). PLN Sektor Mahakam telah memiliki program kerja untuk menghadapi atau menanggulangi masalah K3 yang terjadi. Akan tetapi, berdasarkan laporan tahunan yang telah dibuat dan memuat program kerja yang disusun, masih terdapat ketidaksesuaian antara masalah yang ada dan program kerja yang direncanakan. Langkah pertama dalam proses manajemen resiko adalah identifikasi bahaya tempat kerja atau tempat yang berpeluang mengalami kerusakan. Hal yang harus diperhatikan adalah bahaya akibat pekerjaan tidak saja terjadi pada saat kejadian, tetapi bisa saja terjadi dalam kurun waktu yang lama. Dalam prakteknya, suatu organisasi mengalami kesulitan dalam menentukan bahaya. Hal ini disebabkan begitu banyak kegiatan-kegiatan yang harus diidentifikasi (Suardi, 2007)

B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana Gambaran Umum PLN sector Mahakam samarinda tahun 2011 ? 2. Bagaimana Proses Kerja yang terjadi di PLN Sektor Mahakam samarinda pada tahun 2011? 3. Apa saja faktor bahaya fisik yang terdapat di PLN Sektor Mahakam samarinda tahun 2011 ? 4. Bagaimana mengukur faktor bahaya fisik yang terdapat di lingkungan kerja PLN Sektor Mahakam samarinda tahun 2011 ? 5. Bagaimana tingkat potensi bahaya fisik yang ada di PLN sector Mahakam samarinda tahun 2011?

C. Tujuan Kegiatan Adapun tujuan dari kegiatan magang ini adalah : 1. Tujuan Umum Tujuan umum program magang ini adalah untuk memperoleh pengalaman, keterampilan, penyesuaian sikap dan penghayatan di dunia kerja dalam rangka memperkaya pengetahuan dan

keterampilan dalam bidang ilmu Kesehatan Masyarakat, serta melatih bekerja sama dengan pihak di luar Fakultas Kesehatan Masyarakat.

2. Tujuan Khusus 1. Untuk mengetahui Gambaran Umum PLN Sector Mahakam Samarinda tahun 2011 2. Untuk mengetahui Proses Kerja di PLN Sektor Mahakam Samarinda tahun 2011 3. Untuk mengetahui faktor bahaya fisik yang ada di PLN Sector Mahakam Samarinda tahun 2011 4. Untuk mengukur faktor bahaya fisik yang terdapat di lingkungan kerja PLN Sektor Mahakam Samarinda tahun 2011. 5. Untuk mengetahui tingkat potensi bahaya yang ada di PLN Sector Mahakam Samarinda pada tahun 2011.

D. Manfaat 1. Manfaat bagi Mahasiswa a. Mahasiswa dapat memeperoleh pengalaman, pengetahuan dan keterampilan di luar fakultas. b. Mahasiswa dapat memahami permasalahan Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang ada di Perusahaan. c. Mahasiswa dapat menerapakan ilmu pengetahuan yang selama ini diperoleh di bangku perkuliahan.

2. Manfaat bagi Fakultas Kesehatan Masyarakat d. Sebagai bahan evaluasi penyelenggaraan program pendidikan Ilmu Kesehatan Masyarakat. e. Mewujudkan program perguruan tinggi dalam rangka

pengabdian kepada masyarakat. 3. Manfaat Bagi Perusahaan a. Dapat dijadikan sebagai sarana awal kerjasama dengan pihak luar dalam hal ini Fakultas kesehatan Masyarakat. b. Dapat dijadikan sebagai sarana evaluasi dalam bidang kesehatan perusahaan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Keselamatan dam Kesehatan Kerja (K3) Kesehatan kerja adalah merupakan bagian dari kesehatan masyarakat atau aplikasi kesehatan masyarakat di dalam suatu masyarakat pekerja dan masyarakat lingkungannya. Kesehatan kerja bertujuan untuk memperoleh derajat kesehatan yang setinggitingginya, baik fisik, mental, dan social bagi masyarakat pekerjadan masyarakat lingkungan perusahaan tersebut, melalui usaha-usaha preventif,promotif, dan kuratif terhadap penyakit-penyakit/ gangguangangguan kesehatan akibat kerja atau lingkungan kerja

(Notoadmodjo,2003:176) Secara Filosofis, Keselamatan dan kesehatan kerja adalah suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja khusunya dan pada manusia pada umumnya beserta hasil karya dan budayanya menuju

masyarakat adil dan makmur. Sedangkan ditinjau dari segi keilmuan, keselamatan dan kesehatan kerja dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan dan penerapanya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja (Azmi, 2008:24) Seseorang yang bekerja di suatu perusahaan dapat

melaksanakan pekerjaan sehari-hari dengan baik dan tidak pernah

absen apabila kondisi kesehatan pekerja dalam keadaan sehat. Hal ini dapat tercapai manakala kesejateraan yang diberikan oleh pengusaha dapat terpenuhi. Faktor lain yang tidak kalah pentingnya adalah kecelakaan, kebakaran, peledakan, dan penyakit akibat kerja dapat dicegah dan ditanggulangi sedini mungkin (Soedarjadi, 2008:87) Untuk menciptakan kondisi demikian ada beberapa peraturan yang mengatur tentang keselamatan dan kesehatan kerja agar pekerja di dalam pelaksanaan kerja terlindungi dan mempunyai hak-hak atas : - Keselamatan dan kesehatan kerja - Moral dan kesusilaan - Perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai agama Secara Umum kecelakaan selalu diartikan sebagai kejadian yang tidak diduga sebelumnya. Sebenarnya setiap kecelakaan kerja dapat diramalkan atau diduga dari semula, jika perbuatan dan kondisi tidak memnuhi persyaratan. Dengan demikian wajib dibuat pengaturan peralatan serta perlengkapan produksi sesuai standar yang

diwajibkan(Soedarjadi, 2008:88) HW. Heinrich dalam bukunya The Accident Prevention

mengungkapkan bahwa 80% kecelakaan disebabkan oleh perbuatan yang tidak aman (unsafe act) dan hanya 20% oleh kondisi yang tidak aman (Unsafe Condition). Dengan demikian dapat disimpulkan setiap karyawan diwajibkan untuk memelihara keselamatan dan kesehatan

kerja secara maksimal melalui perilaku yang aman (Soedarjadi, 2008:88) Berbeda dengan jenis perlindungan kerja lain yang umumnya ditekankan untuk kepentingan pekerja/ buruh saja, keselamatan kerja tidak hanya memberikan perlindungan pekerja/buruh, tetapi juga kepada pengusaha dan pemerintah. Bagi Pekerja/buruh, adanya jaminan perlindungan keselamatan kerja akan menimbulkan suasana kerja yang tenteram sehingga pekerja atau buruh akan dapat memusatkan perhatiannya pada pekerjaanya semaksimal mungkin tanpa khawatir sewaktu-waktu akan tertimpa kecelakaan kerja. Bagi Pengusaha, adanya pengaturan keselamatan kerja

diperusahaannnya akan dapat mengurangi terjadinya kecelakaan yang dapat mengakibatkan pengusaha harus memberikan jaminan sosial. Dan bagi pemerintah (dan masyarakat), dengan adanya dan ditaatinya peraturan keselamatan kerja, maka apa yang direncanakan

pemerintah untuk mensejahterakan masyarakat akan tercapai dengan meningkatnya produksi perusahaan baik kualitas maupaun

kuantitasnya (asyhadie,2008:105) Hakikat dan tujuan dari keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yaitu bahwa faktor K3 berpengaruh langsung terhadap efektifitas kerja pada tenaga kerja dan juga berpengaruh terhadap efisiensi produksi dari suatu perusahaan industry, sehingga dengan demikian

mempengaruhi tingkat pencapaian produktifitasnya. Karena pada

10

dasarnya tujuan K3 adalah untuk melindungi para tenaga kerja atas hak keselamatanya dalam melakukan pekerjaan dan untuk

mencipatakan tenaga kerja yang sehat dan produktif sehingga upaya pencapaian produktifitas yang semaksimlanya dari suatu perusahaan industry dapat lebih terjamin(Azmi, 2008:24-25) Hal ini juga sejalan dengan isi dari Permenaker RI No. PER.05/MEN/1996-12 desember 1996 yang mencakup kewajiban dari suatu perusahaan, yakni : a. Menetapkan kebijakan K3 dan menjamin komitmen terhadap penerapan SMK3 b. Merencanakan pemenuhan kebijakan, tujuan dan sasaran

penerpan keselamatan dan kesehatan kerja. c. Menerapkan kebijakan K3 secara efektif dengan mengembangkan kemampuan dan mekanisme pendukung yang diperlukan untuk mencapai kebijakan,tujuan dan sasaran K3. d. Mengukur, memantau, dan mengevaluasi kinerja K3 serta

melakukan tindakan perbaikan dan pencegahan. e. Meninjau secara teratur dan meningkatkan pelaksanaan SMK3 secara berkesinambungan dengan tujuan meningkatkan kinerja keselamatan dan kesehatan kerja ( Malaka, 1999) Perusahaan wajib menyediakan lingkungan kerja yang aman, sehat, produktif, tetapi karyawan wajib melaksanakan kerja yang tersedia tersebut dengan sebaik-baiknya. Pemeliharaan kerja yang

11

sesuai dengan K3 harus dilaksanakan terus menerus sesuai perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, peraturan perundangan yang berlaku, baik nasional maupun internasional. Hal ini dapat dilaksanakan dengan baik bila komitmen manajemen, profram dan pelaksanaanya yang baik dari bidang K3 perusahaan, serta dukungan dari Asosiasi K3 dan institusi K3 Independen, serta pembinaan dan pengawasan oleh pemerintah (Malaka, 1999)

2.2. Potensi Bahaya Bahaya merupakan sesuatu yang sering melekat dalam aktivitas. Kegiatan apapun yang kita lakukan pasti memiliki potensi bahaya. Penggunaan mesin, alat kerja, material dan proses produksi telah menjadi sumber bahaya yang dapat mencelakakan. Hal yang terpenting adalah bukan lari dari bahaya yang akan terjadi, tetapi bagaimana mengelola bahaya yang ada sehingga peluang terjadi atau akibat yang ditimbulkan tidak besar. Dengan kata lain, dengan mengetahui tingkat bahaya yang akan terjadi maka kita akan tahu bagiaman mengurangi dampak yang ditimbulkannya. Dengan demikian kita dapat mengendalikan bahaya tersebut, sehingga aktivitas kita dapat berjalan dengan lancer dan aman (Suardi, 2007) Potensi bahaya kecelakaan kerja (potential hazard) adalah suatu keadaan yang memungkinkan factor-faktor menimbulkan yang kecelakaan yang

disebabkan

oleh

belum

mendatangkan

12

kecelakaan.Jika kecelakaan telah terjadi maka bahaya tersebut menjadi nyata. Kecelakaan kerja terjadi karena adanya sumber-sumber bahaya potensi di lingkungan kerja yaitu : 1. Bangunan dan instalasi Bahaya dari bangunan dan instalasi perlu mendapat perhatian terutama saat perencanaan (pra konstruksi). a) Bangunan, konstruksi bangunan harus kokoh dan memenuhi syarat. Desain ruangan dan tempat kerja harus menjamin keselamatan kerja, pencahayaan dan ventilasi harus baik, tersedia penerangan darurat pada tempat yang memerlukan dipasang rambu sesuai keperluan, tersedia jalan penyelamatan yang diperlukan lebih dari satu pada sisi yang berlawanan, pintu harus membuka keluar untuk memudahan penyelamatan diri. b) Instalasi, instalasi harus memenuhi persyaratan keselamatan kerja baik desain maupun konstruksi. Sebelum penggunaan harus diuji terlebih dahulu serta diperiksa oleh suatu tim ahli. Kalau diperlukan modifikasi harus sesuai dengan persyaratan bahan dan konstruksi yang ditentukan. Sebelum operasi harus dilakukan percobaan operasi untuk menjamin keselamatan serta dioperasikan oleh operator yang memenuhi syarat.

13

2. Bahaya

yang

disebabkan

oleh

mesin,

peralatan

dan

perlengkapan Dalam industry yang menggunakan mesin, peralatan dan perlengkapan, apabila tida digunakan dengan semestinya serta tidak dilengkapi dengan alat pelindung dan pengaman, akan dapat menimbulkan macam-macam bahaya, antara lain : a) Bahaya karena bagian yang bergerak. Bahaya cidera karena pakean, rambut, tangan menyentuh bagian alat yang berputar atau bergerak atau masuk kedalam alat sentrifugasi yang sedang berputar. b) Bahaya karena benda yang jatuh. Bahaya cidera karena jatuhnya perkakas, sekrup atau beban pada saat reparasi atau perakitan. c) Bahaya karena tekanan lebih dalam peralatan. Timbulnya ledakan pada peralatan yang tertutup dan bejana-bejana karena tekanan yang berlebihan. Hal ini dapat diakibatkan oleh pompa atau pentil reduksi yang disetel salah, pemanasan cairan dan gas atau terjadinya reaksi kimia yang tidak di harapan. d) Bahaya karena kevakuman dalam peralatan. Bahaya omplasi (ledakan) atau deformasi (perubahan bentuk) pada penggunaan bejana yang tidak taan pada vokum (tekanan bejana lebih rendah dari tekanan udara luar), misalnya bejana dari gelas, ketel beroda dan tangki.

14

e) Bahaya ketika masuk kedalam bejana, gudang bawah tanah dan lubang. Bahaya tercekik atau keracunan karena menghirup gasgas beracun atau karena kekurangan oksigen (misalnya karena digunakan gas inert) pada saat memasuki bejana atau ruangan sempit. f) Bahaya karena perkakas rusak. Bahaya cidera karena

penggunaan perkakas yang rusak atau tidak cocok (misalnya mur yang aus, pahat yang rusak, gagang palu yang longgar dan/atau kunci pas yang tidak cocok) (Ramdan, 2007). Agar mesin dan peralatan aman dipakai, maka perlu pengaman yang telah diatur dalam peralatan dibidang keselamatan kerja. Untuk peralatan yang rumit cara pengoperasiannya perlu disediakan semacam petunjuk sebagai daftar periksa (checklist) pengoperasiannya. Bahaya dari bahan meliputi berbagai resiko sesuai dengan sifat bahan : mudah terbakar, meledak, bereaksi dengan oksigen dan air, menimbulkan alergi, beracun dan radiasi. 3. Bahaya dari proses Bahaya dari proses sangat berfariasi tergantung teknologi yang digunakan. Proses yang digunakan dari industry ada yang sederhana dan ada yang rumit prosesnya, ada proses yang berbahaya dan adapula proses yang kurang berbahaya. Industry kimia biasanya menggunakan proses yang berbahaya, dalam

15

proses

juga

biasanya

digunakan

suhu

dan

tekanan

yang

memperbesar resiko bahayanya. Dari proses ini kadang-kadang timbul asap, debu, panas, bising dan bahaya mekanis seperti terjepit, terpotong dan tertimpa (Ramdan, 2007) Menurut Dr. Musni Tambusai (Aditama dan Hastuti, 2006) bahaya bagi tenaga kerja yang timbul dari lingkungan dapat bersumber dari faktor fisik, kimia, biologis,, fisiologis dan psikologis. Beberapa bentuk pendekatan preventif dari aspek K3 dan lingkungan, antara lain : 1. Analisis dampak lingkungan dan kesehatan kerja pada saat desain dan pemasangan mesin atau alat produksi yang baru di temapat kerja. 2. Pemilihan teknologi yang lebih aman, dengan tingkat bahaya dan potensi yang minimal. 3. Pemilihan lokasi industry yang layak dari aspek lingkungan. 4. Pemilihan desain, layout, teknologi pengendali lingkungan kerja termasuk penanganan bahan yang lebih aman dari sisa-sisa dan limbah dan penanganan limbah industry. 5. Penegakan pelaksanaan pedoman, standard an peraturan

perundang-undangan. Lingkungan kerja yang manusiawi dan lestari akan menjadi pendorong bagi kegairahan dan efisiensi kerja. Sedangkan lingkungan kerja yang melebihi toleransi kemampuan manusia tidak saja

16

merugikan produktivitas kerjanya, tetapi juga menjadi sebab terjadinya penyakit dan kecelakaan kerja. Hanya lingkungan kerja yang aman, selamat dan nyaman merupakan prasyarat penting untuk terciptanya kondisi kesehatan prima bagi karyawan yang bekerja di dalamnya. Untuk menjamin kearah itu diperlukan pemantauan lingkungan kerja terhadap semua unit yang bertujuan : 1. Memastikan apakah lingkungan kerja (tempat kerja) tersebut telah memenuhi persyaratan K3. 2. Sebagai pedoman untuk bahan perencanaan dan pengendalian terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh faktor-faktor yang ada disetiap tempat kerja. 3. Sebagai data pembantu untuk mengkorelasikan hubungan sebab akibat terjadinya suatu penyakit akibat kerja maupun kecelakaan. 4. Bahan dokumen untu mengembangkan program-program K3 selanjutnya. Pemantauan lingkungan kerja tidak hanya dilakukan dengan pengukuran secara kualitatif, tetapi harus dilakukan juga melalui pengukuran secara kuantitatif dengan menggunakan peralatan

lapangan ataupun analisis laboratorium agar diperoleh data obyektif. Meskipun belum ada norma atau kajian yang baku, seyogyanya pemantauan lingkungan kerja dilakukan sekerap mungkin untuk mendapatkan data dan akurasi yang tepat (Aditama dan Hastuti, 2006).

17

2.3. Pengukuran Potensi Bahaya Pengukuran adalah pelaksanaan penilaian kondisi lingkungan kerja dengan cara pendeteksi langsung atau direct reading sehingga hasilnya dapat diketahui langsung di tempat pengukuran. Pemantauan adalah penilaian kondisi lingkungan secara berkelanjutan dari waktu kewaktu dengan tujuan untuk secara terus menerus mengamati fluktuasi kadar faktor bahaya kimia tersebut. Hasil pemantauan ini dapat secara tekhnis sebagai dasar penerapan teknologi pengendalian dan sekaligus menilai fluktuasi timgkat pemaparan yang adapat dikaitkan dengan pemantauan NAB (Malaka, 1999) Oleh karena itu unit/bagian K3 yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan K3 harus menyusun perencanaan dan pelaksanaan terhadap pemantauan lingkungan kerja tersebut. Dalam pelaksanaan dilapangan pemantauan lingkungan kerja harus dilakukan melalui langkah-langkah : a. Pengenalan lingkungan kerja Adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh sesorang untuk mengamati dan mengenali lingkungan kerja untuk mengetahui secara kualitatif faktor bahaya yang mungkin timbul di tempat

kerja. Pengenalan lingkungan kerja sifatnya subyektif, dipengaruhi oleh faktor individu yang melakukan kegiatan ini. Dari tahapan ini kita dapat mencurigai potensi bahaya yang mungkin timbul dari

18

setiap unit/ bagian dan faktor penyebabnya. Dari tahapan ini diperoleh manfaat : Bahwa sejumlah faktor/ bahan tertentu di salah satu unit/bagian dapat membahayakan dan perlu diwaspadai. Dengan cepat, tepat, dan benar dapat diketahui unit mana yang diperkirakan timbulnya gangguan tersebut dan langkah

penggendalian apa yang harus dilakukan. Dapat memperkirakan jumlah karyawan tertentu dalam suatu unit yang terkena gangguan tersebut. b. Penilaian Lingkungan Adalah kegiatan pengukuran, pemeriksaan dan pengujian dengan menggunakan alat untuk mengetahui kadar kuantitatif suatu faktor bahan di suatu tempat kerja. Peralatan yang digunakan tergantung dari jenis parameter yang akan diukur. Hasil

pengukuran tersebut kemudian dibandingkan dengan standar atau ketentuan Nilai Ambang Batas (NAB) apakah sama, lebih kecil atau lebih besar. Bila ditemukan angka yang lebih besar daripada NAB harus dilakukan upaya pengendalian. Agar didapatkan tingkat kepercayaan yang tinggi dalam melakukan pemantauan lingkungan kerja harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

19

1. Dilakukan oleh personel yang memiliki pengetahuan dan keterampilan di bidang K3, mampuu melakukan pengumpulan data dan menganalisisnya. 2. Menggunakan alat yang akurat dan terkalibrasi. 3. Menggunakan metode yang telah disepakati baik secara nasional maupun internasional. 4. Diikuti dengan langkah membandingkan hasil pemantauannya terhadap standard dan ketentuan yang ada, sekaligus

menemukan awal penyebabnya. Selanjutnya diupayakan untuk melakukan saran tindak lanjutnya (pengendalian) (Aditama dan Hastuti, 2006). Selain beberapa hal di atas, pemilihan peralatan dan metode untuk penilaian lingkungan kerja juga sangat penting. Untuk maksud penilaian dan pemantauan lingkungan, perlu dilalkukan pemilihan jenis-jenis peralatan. Menurtu jenisnya, peralatan

tersebut ada 2 macam yaitu : a. Portable instrument : peralatan penilaian dan pemantauan lingkungan yang dapat dibawa kemana-kemana dengan mudah. Contohnya : mercury detector, personal dust Sample dsb. b. Stationary instrument : peralatan penilaian dan pemantauan lingkungan yang tidak dapat dibawa kemana-kemana dan hanya dugunakan secara menetap. Contohnya : Multi Gas Sampling Instrument dan sebagainya.

20

c. Pengendalian Lingkungan Kerja Pengendalian terhadap bahaya disetiap unit harus diawali melalui pendekatan manajemen (administrative) dan diikuti dengan pengendalian teknis dan medis.Kepala bagian, supervisor harus memiliki pengetahuan tentang K3 agar program pengendalian dapat dilakukan secara efektif. Langkah ini dapat dilakukan sendiri atau bersama-sama, sesuai kemampuan dan kondisi di lapangan. Upaya ini harus terintegrasi secara bersama-sama melalui engineering control, pendidikan kepada karyawan (education), dan pengawasan yang ketat (enforcement). Sedapat mungkin langkah yang ditempuh harus semaksimal mungkin untuk mengurangi atau meniadakan risiko bagi karyawan, sehingga mereka merasa aman, tenang bekerja serta meningkatkan moral kerja dan motivasi. Selanjutnya akan memiliki nilai tambah dimana image perusahaan di mata pelanggan.

D. Cara Pengukuran Potensi Bahaya 1. Kebisingan Untuk mengetahui intensitas bising di lingkungan kerja, digunakan Sound Level Meter. Untuk mengkur nilai ambang pendengaran digunakan Audiometer. Untuk menilai tingkat pajanan pekerja lebih tepat digunakan Noise Dose Meter karena pekerja umumnya tidak menetap pada suatu tempat kerja selam 8 jam ia

21

bekerja. Nilai Ambang Batas (NAB) intensitas bising adalah 85 dB dan waktu bekerja maksimum adalah 8 jam per hari. Sound Level Meter adalah alat pengukur suara. Mekanisme kerja SLM apabila ada benda bergetar, maka akan menyebabkan terjadinya perubahan tekanan udara yang dapat ditangkap oleh alat ini, selanjutnya akan menggerakkan meter penunjuk. a. Nilai ambang Batas (NAB) Kebisingan NAB Kebisingan adalah angka dB yang dianggap aman untuk sebagian besar tenaga kerja bila bekerja 8 jam/hari atau 40 jam/ minggu. Berdasarkan Keputusan menteri Tenaga Kerja Nomor : KEP 51/MEN/1999 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di tempat kerja, adalah sebagai berikut: Tabel 1. Nilai Ambang Batas Kebisingan Waktu Pemajanan per Hari 8 Jam 4 Jam 2Jam 1Jam 30 menit 15 menit 7,5 menit 3,75 menit 1,88 menit Intensitas Kebisingan (dBA) 85 88 91 94 97 100 103 106 109

22

Waktu Pemajanan per hari 0,94 menit 28,12 detik 14,06 detik 7,03 detik 3,52 detik 1,76 detik 0,88 detik 0,44 detik 0,22 detik 0,11 detik Tidak boleh
Sumber : kepmenaker No. KEP 51/MEN/1999

Intensitas kebisingan (bBA) 112 115 118 121 124 127 130 133 136 139 140

b. Zona Kebisingan Daerah dibagi dengan kebisingan yang diizinkan : Zona A : Intensitas 35-45 dB. Zona yang diperuntukkan bagi tempat penelitian, RS, tempat perawatan kesehatan. Zona B : Intensitas 45-55 dB. Zona yang diperuntukkan bagi perumahan, tempat pendidikan dan rekreasi. Zona C : Intensitas 50-60 dB. Zona yang diperuntukkan bagi perkantoran, perdagangan dan pasar Zona D : Intensitas Intensitas 60-70 dB. Zona yang

diperuntukkan bagi industri, pabrik, stasiun kereta api,

23

Zona kebisingan menurut IATA (International Air Transportation Association), adalah : Zona A : Intensitas > 150 dB daerah berbahaya dan harus dihindari Zona B : Intensitas 135-150 dB individu yang terpapar perlu memakai pelindung telinga (earmuff dan earplug) Zona C : Zona D : Intensitas 115-135 dB perlu memakai earmuff Intensitas 100-115 dB perlu memakai earplug

2. Getaran Dalam pengambilan data suatu getaran agar

informasimengenai data getaran tersebut mempunyai arti, maka kita harus mengenal dengan abaik alat ayang akan kita gunakan. Ada beberapa alat standar yang biasanya digunakan dalam suatu pengukuran getaran antara lain : a. Vibration meter Vibration meter biasanya bentuknya kecil dan ringan sehingga mudah dibawa dan diopersikan dengan battery serta dapat mengambil data getaran pada suatu mesin dengan cepat. Pada umumnya terdiri dari sebuah probe, kabel dan meter untuk menampilkan harga getaran. Alat ini juga dilengkapi dengan switch selector untuk memilih parameter getaran yang akan di ukur.

24

Vibration meter ini hanya membaca harga overall (besarnya level getaran) tanpa memberikan informasi mengenai frekuensi dari getaran tersebut. Pemakaian alat ini cukup mudah sehingga tidak diperlukan seorang operator yang harus ahli dalam bidang getaran. Pada umumnya alat ini digunakan untuk memonitor trend getaran dari suatu mesin. Jika trend getaran suatu mesin menuju kenaikan melebihi level getaran yang diperbolehkan, maka akan dilakukan analisa lebih lanjut dengan menggunakan alat yang lebih lengkap. b. Vibration analyzer Alat ini mempunyai kemampuan untuk mengukur amplitudo dan frekuensi getaran yang akan dianalisa. Karena biasanya sebuah mesin mempunyai lebih dari satu frekuensi getaran yang ditimbulkan, frekuensi getaran yang timbul tersebut akan sesuai kerusakan yang terjadi pada mesin tersebut. Alat ini biasanya dilengkapi dengan meter untuk membaca amplitude getaran yang biasanya juga menyediakan beberapa pilihan skala. Alat ini juga dapat memberikan informasi mengenai data sprektum dari getaran yang terjadi, yaitu data amplitude terhadap frekuensinya, data ini sangat berguna untuk analisa kerusakan suatu mesin. Dalam pengoperasiannya vibration analyzer ini membutuhkan seorang operator yang sedikit mengerti mengenai analisa vibrasi.

25

c. Shocke pulse meter Shocke pulse meter adalah alat yang khusus untuk memonitoring kondisi antifriction bearing yang biasanya sulit di deteksi dengan metode analisis getaran yang konvensional. Prinsip kerja dari shocke pulse meter ini adalah mengukur gelombang kejut akibat adanya gaya impact pada suatu benda, intensitas daya kejut itulah yang mengindikasikan besarnya kerusakan dari bearing tersebut. Pada sistem shocke pulse meter ini biasanya memakai tranduser piezo-electric yang telah dibuat sedemikian rupa sehingga mempunyai frekuensi resonansi sebesar 32 KHz. Dengan menggunakan probe tersebut maka shocke pulse meter ini dapat mengurangi pengaruh getaran terhadap pengukuran besarnya impact yang terjadi. Pemilihan titik ukur pada rumah bearing adalah sangat penting karena gelombang kejut ditransmisikan dari bearing ke transduser melalui dinding dari rumah bearing, sehingga sinyal tersebut bisa berkurang karena terjadi pelemahan pada saat perjalanan sinyal tersebut. Beberapa prinsip yang secara umum bisa dipakai sebagai acuan dalam menentukan titik ukur adalah : Jejak sinyal antara bearing dengan probe harus sedekat mungkin Probe harus ditempatkan sedekat mungkin terhadap daerah beban dari bearing

26

Lintasan sinyal harus terdiri dari satu sistem mekanis antara bearing dengan bearing

Sebagai contoh, apabila pada rumah bearing digunakan cover sebagai sistem mekanis kedua, maka titik ukur tidak boleh diambil pada posisi ini. d. Osciloskop Osciloskop adalah satu peralatan yang berguna untuk melengkapi data getaran yang dianalisis. Sebuah osciloskop dapat memberikan sebuah informasi mengenai bentuk gelombang dari getaran suatu mesin. Beberapa kerusakan mesin dapat

diidentifikasi dengan melihat bentuk gelombang getaran yang dihasilkan, sebagai contoh, kerusakan akibat unbalance atau misalignment akan menghasilkan bentuk gelombang yang spesifik, begitu juga apabila terjadi kelonggaran mekanis (mechanical looseness), oil whirl atau kerusakan pada anti friction bearing dapat menghasilkan gelombang dengan bentuk-bentuk tertentu.

Osciloskop juga dapat memberikan informasi tambahan yaitu, untuk mengevaluasi data yang diperoleh dari tranduser non-contact (proximitor). Data ini dapat memberikan informasi pada kita mengenai posisi dan getaran shaft relatif terhadap rumah bearing, ini biasanya digunakan pada mesin-mesin yang besar dan menggunakan slave bearing (bantalan luncur). Disamping itu dengan menggunakan dual osciloscop (yang memberikan fasilitas

27

pembacaan vertical maupun horizontal) dan minimal dua tranduser non-contact pada posisi vertical dan horizontal maka kita dapat menganalisa kerusakan suatu mesin ditinjau dari bentuk orbitnya. Nilai ambang batas getaran untuk pemajanan lengan dan tangan menurut Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep/51/Meh/1999 adalah seperti yang tercantum pada tabel dibawah ini : Table 2. NAB getaran untuk pemajanan lengan dan tangan sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep51/Men/1999 Nilai percepatan pada frekuensi dominan Jumlah waktu pemajanan pada hari kerja 4 jam dan kurang 4 dari 8 jam 8 jam dan kurang 6 dari 4 jam 1 jam dan kurang 8 dari 2 jam Kurang dari 1 jam
Sumber : kepmenaker No. KEP 51/MEN/1999

Meter per detik kuadrat (m/det2)

Gram (1 gram=9,81 m/det)

0,40

0,61

0,81

12

1,22

3. Suhu Udara Lingkungan kerja yang panas diukur dengan beberapa pengukuran seperti suhu kering, suhu basah, suhu bola, kecepatan
28

angin dan kelembaban udara. Gabungan dari pengukuran suhu basah, suhu kering, suhu bola, kelembaban udara dan kecepatan angin tersebut disebut iklim kerja (Haryuti, 1987). Pengukuran suhu basah dan suhu kering menggunakan peralatan yang sama yaitu thermometer suhu udara, perbedaanya terletak pada pemasangan kain katun pada bola (bulb)

thermometer tersebut (Denny, 2005). Pemerintah Indonesia dalam hal ini Departemen Tenaga Kerja mengeluarkan KepMen/Kep-51.Men/1999 tentang nilai

ambang batas faktor fisika ditempat kerja yang didalamnya mengatur tentang nilai ambang batas untuk iklim kerja panas. Beberapa definisi pasal 1(Depnaker, 1999: 1. Iklim kerja: hasil perpaduan antara suhu, kelembaban,

kecepatan gerakan udara dan panas radiasi dengan tingkat pengeluaran panas dari tubuh yenaga kerja sebagai akibat pekerjaannya. 2. Nilai Ambang Batas (NAB): standar faktor tempat kerja yang dapat diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan penyakit atau gangguan kesehatan, dalam pekerjaan sehari-hari untuk waktu tidak melebihi 8 jam sehari atau 40 jam seminggu. 3. Indeks Suhu Bola Basah (ISBB): parameter untuk menilai

tingkat iklim kerja yang merupakan hasil perhitungan antara suhu udara kering, suhu basah alami dan suhu bola.

29

4. Suhu udara kering: suhu yang ditunjukkan oleh thermometer suhu kering 5. Suhu basah alami: suhu yang ditunjukkan oleh thermometer bola basah alami 6. Suhu bola:suhu yang ditunjukkan oleh thermometer bola. Table 3. Nilai Ambang Batas (NAB) faktor fisika suhu ditempat kerja: Pengaturan waktu kerja ISBB oC setiap hari Waktu kerja Waktu istirahat Kerja terus menerus (8 jam sehari) 75% 50% 25%
(sumber :Depnaker RI, 1999)

Beban kerja Berat Sedang Ringan

30,0

26,7

25,0

25% 50% 75%

30,6 31,4 32,2

28,0 29,4 31,1

25,9 27,9 30,0

Keterangan : ISBB untuk pekerjaan diluar ruangan dengan panas radiasi ISBB :0,7 suhu basah alami + 0,2 suhu bola + 0,1 suhu kering ISBB untuk pekerjaan didalam ruangan tanpa panas radiasi ISBB :0,7 suhu basah alami + 0,3 suhu bola Catatan:

30

Beban kerja ringan membutuhkan kalori 100-200 Kkal/jam Beban kerja sedang membutuhkan kalori >200-350 Kkal/jam Beban kerja ringan membutuhkan kalori >350-500 Kkal/jam (Depnaker RI, 1999).

4. Pencahayaan Ruang kerja merupakan salah satu ruangan bagi kita untukmenghabiskan banyak waktu untuk bekerja. Dengan

demikian, kenyamanan menjadi faktor penting untuk menimbulkan suasana yang nyaman sehingga kita dapat bekerja dengan baik dan menghasilkan karya yang luar biasa. Salah satu syarat untuk kebutuhan ruangan yang nyaman adalah terpenuhinya kebutuhan cahaya. Ruangan yang terang tentu dirasa lebih nyaman dibandingkan ruangan gelap. Akan tetapi, apabila terlalu terang juga kurang baik dan menimbulkan suasana yang tidak nyaman. Apalagi ruang kerja. Berbagai kegiatan di ruang kerja jelas membutuhkan cahaya yang cukup. Cahaya tersebut dapat berupa cahaya buatan (lampu, dll) maupun yang bersifat natural (cahaya matahari) yang tentu saja lebih hemat energi serta murah. Oleh sebab itu, sediakan jendela atau bukaan agar cahaya matahari dapat masuk dengan leluasa. Menempatkan jendela pun perlu berhati-hati. Jangan sampai terlalu banyak cahaya matahari yang masuk. Akibatnya, ruangan akan terlalu terang dan panas, apalagi

31

bagi mereka yang memilih mengaplikasikan dinding kaca sebagai pengganti jendela di ruang kerja. Untuk mendapatkan pencahayaan yang sesuai dalam suatu ruang, maka diperlukan sistem pencahayaan yang tepat sesuai dengan kebutuhannya. Sistem pencahayaan di ruangan, termasuk di tempat kerja dapat dibedakan menjadi 5 macam yaitu: 1. Sistem Pencahayaan Langsung (direct lighting) Pada sistem ini 90-100% cahaya diarahkan secara langsung ke benda yang perlu diterangi. Sistm ini dinilai paling efektif dalam mengatur pencahayaan, tetapi ada kelemahannya karena dapat menimbulkan bahaya serta kesilauan yang mengganggu, baik karena penyinaran langsung maupun karena pantulan cahaya. Untuk efek yang optimal, disarankan langi-langit, dinding serta benda yang ada didalam ruangan perlu diberi warna cerah agar tampak menyegarkan 2. Pencahayaan Semi Langsung (semi direct lighting) Pada sistem ini 60-90% cahaya diarahkan langsung pada benda yang perlu diterangi, sedangkan sisanya dipantulkan ke langit-langit dan dinding. Dengan sistem ini kelemahan sistem pencahayaan langsung dapat dikurangi. Diketahui bahwa langitlangit dan dinding yang diplester putih memiliki effiesiean pemantulan 90%, sedangkan apabila dicat putih effisien

pemantulan antara 5-90%

32

3. Sistem Pencahayaan Difus (general diffus lighting) Pada sistem ini setengah cahaya 40-60% diarahkan pada benda yang perlu disinari, sedangka sisanya dipantulka ke langitlangit dan dindng. Dalam pencahayaan sistem ini termasuk sistem direct-indirect yakni memancarkan setengah cahaya ke bawah dan sisanya keatas. Pada sistem ini masalah bayangan dan kesilauan masih ditemui. 4. Sistem Pencahayaan Semi Tidak Langsung (semi indirect lighting). Pada sistem ini 60-90% cahaya diarahkan ke langit-langit dan dinding bagian atas, sedangkan sisanya diarahkan ke bagian bawah. Untuk hasil yang optimal disarankan langit-langit perlu diberikan perhatian serta dirawat dengan baik. Pada sistem ini masalah bayangan praktis tidak ada serta kesilauan dapat dikurangi. 5. Sistem Pencahayaan Tidak Langsung (indirect lighting) Pada sistem ini 90-100% cahaya diarahkan ke langit-langit dan dinding bagian atas kemudian dipantulkan untuk menerangi seluruh ruangan. Agar seluruh langit-langit dapat menjadi sumber cahaya, perlu diberikan perhatian dan pemeliharaan yang baik. Keuntungan sistem ini adalah tidak menimbulkan bayangan dan kesilauan sedangkan kerugiannya mengurangi effisien cahaya total yang jatuh pada permukaan kerja.

33

Banyak faktor risiko di lingkungan kerja yang mempengaruhi keselamatan dan kesehatan pekerja salah satunya adalah

pencahayaan. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No.1405 tahun 2002, pencahayaan adalah jumlah penyinaran pada suatu bidang kerja yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan secara efektif. Pencahayaan minimal yang dibutuhkan menurut jenis kegiatanya seperti berikut: Table 4. Tingkat Pencahayaan Lingkungan Kerja

TINGKAT JENIS PENCAHAYAAN KEGIATAN MINIMAL (LUX) Pekerjaan kasar dan tidak terus menerus Pekerjaan kasar dan terus menerus Pekerjaan rutin 300 Ruang administrasi, ruang 200 100 Ruang penyimpanan & ruang peralatan/instalasi yang KETERANGAN

memerlukan pekerjaan yang kontinyu Pekerjaan dengan mesin dan perakitan kasar

kontrol, pekerjaan mesin & perakitan/penyusun

34

TINGKAT JENIS PENCAHAYAAN KEGIATAN MINIMAL (LUX) Pekerjaan agak halus 500 Pembuatan gambar atau KETERANGAN

bekerja dengan mesin kantor, pekerjaan pemeriksaan atau pekerjaan dengan mesin

Pekerjaan halus

1000

Pemilihan

warna,

pemrosesan teksti, pekerjaan mesin halus & perakitan halus

Pekerjaan amat halus

1500

Mengukir

dengan

tangan,

pemeriksaan pekerjaan mesin Tidak dan perakitan yang sangat menimbulkan halus bayangan

Pekerjaan terinci

3000

Pemeriksaan

pekerjaan,

perakitan sangat halus Tidak menimbulkan bayangan

Sumber: KEPMENKES RI. No. 1405/MENKES/SK/XI/02

United Nations Environment Programme (UNEP) dalam Pedoman Efisiensi Energi untuk Industri di Asia mengklasifikasikan

35

kebutuhan

tingkat

pencahayaan

ruang

tergantung

area

kegiatannya, seperti berikut: Table 5. Kebutuhan Pencahayaan Menurut Area Kegiatan Pencahayaan Keperluan (LUX) Pencahayaan Umum untuk ruangan dan area 50 yang jarang 70 digunakan 100 dan/atau tugastugas atau 150 Halaman Trafo, ruangan tungku, dll. Area sirkulasi di industri, pertokoan dan ruang penyimpan. Ruang boiler 20 Layanan penerangan yang minimum dalam area sirkulasi luar ruangan, pertokoan didaerah terbuka, halaman tempat penyimpanan Tempat pejalan kaki & panggung Contoh Area Kegiatan

visual sederhana Pencahayaan umum untuk interior 300 200 Layanan penerangan yang minimum dalam tugas Meja & mesin kerja ukuran sedang, proses umum dalam industri kimia dan makanan, kegiatan membaca dan membuat arsip.

36

Pencahayaan Keperluan (LUX) 450 Gantungan baju, pemeriksaan, kantor untuk menggambar, perakitan mesin dan bagian yang halus, pekerjaan warna, tugas menggambar kritis. 1500 Pekerjaan mesin dan diatas meja yang sangat halus, perakitan mesin presisi kecil dan instrumen; komponen elektronik, pengukuran & pemeriksaan bagian kecil yang rumit (sebagian mungkin diberikan oleh tugas pencahayaan setempat) Pencahayaan tambahan setempat untuk tugas visual yang tepat 3000 Pekerjaan berpresisi dan rinci sekali, misal instrumen yang sangat kecil, pembuatan jam tangan, pengukiran Contoh Area Kegiatan

Penerangan untuk membaca dokumen lebih tinggi dari pada penerangan untuk melihat komputer, karena tingkat penerangan yang dianjurkan untuk pekerja dengan komputer tidak dapat berdasarkan satu nilai dan sampai saat ini masih kontroversial.

37

Grandjean menyusun rekomendasi tin

gkat penerangan

pada tempat-tempat kerja dengan komputer berkisar antara 300700 lux seperti berikut. Table 6. Rekomendasi Tingkat Pencahayaan Pada Tempat Kerja Dengan Komputer Tingkat Keadaan Pekerja Pencahayaan (lux) Kegiatan Komputer dengan sumber dokumen yang terbaca jelas 400-500 Kegiatan Komputer dengan sumber 500-700 dokumen yang tidak terbaca jelas 300

Tugas memasukan data

38

BAB III METODE KEGIATAN MAGANG

A. Tempat Pelaksanaan magang akan dilaksanakan di Perusahaan Listrik Negara (PLN) sector Mahakam cabang Sei Keledang

B. Waktu Pelaksanaan magang akan dilaksanakan pada bulan maret 2011 sampai dengan april 2011

C. Jadwal Kegiatan No. 1. Nama kegiatan Penerimaan magang, perkenalan dengan karyawan PT. PLN sector Mahakam 2. Identifikasi masalah yang meliputi survey lapangan untuk mengetahui gambaran secara umum lokasi magang 3. 4. 5. Pengukuran potensi bahaya Penyusunan laporan Presentasi magang dan penutupan Minggu Ke-2 dan 3 Minggu ke-4 Minggu ke-4 Minggu ke-1 Waktu pelaksanaan Minggu Ke-1

39

DAFTAR PUSTAKA

Asyhadie,

Zaeni,

M.Hum,

S.H.

2008.

Hukum

Kerja

(hukum

ketenagakerjaan bidang hubungan kerja). PT. RajaGrafindo Persada. Jakarta Azmi, Rahimah. 2009. Skripsi(Penerapan Sistem Manajemen K3 oleh P2K3 Untuk meminimalkan Kecelakaan Kerja di PT.

WijayaKarya Beton Medan tahun 2008).USU. Sumatera Utara Notoadmodjo, Soekidjo, Dr. Prof. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat (Prinsip-prinsip dasar). PT. Rineka Cipta. Jakarta Ramdan, Iwan. M. 2007. Dasar-Dasar Kesehatan dan Keselamatan Kerja. CV Bintang Timur : Kalimantan Timur Ramli, Soehatman. 2009. Sistem Manajemen Keselamatan dan

Kesehatan Kerja OHSAS 18001. Dian Rakyat. Jakarta Soedarjadi,S.H. 2008. Hukum ketenagakerjaan di Indonesia. Pustaka Yustisia. Yogyakarta Suardi, Rudi. 2007. Sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja. Penerbit PPM. Jakarta

40