Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI ANALISA BOD

Dosen Pembimbing : Ir. Endang Kusumawati, MT.

Nama

: Fristy Utami Gilang Rifani Helmi Mauluddin Alrasyid

(08414012) (08414013) (08414014)

Kelompok Kelas

: IV : 3A-TKPB

PRODI TEKNIK KIMIA PRODUKSI BERSIH JURUSAN TEKNIK KIMIA POLITEKNIK NEGERI BANDUNG 2011

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Pencemaran air dapat menyebabkan kerugian ekonomi dan sosial, karena adanya gangguan oleh adanya zat-zat beracun atau muatan bahan organik yang berlebih. Keadaan ini akan menyebabkan oksigen terlarut dalam air pada kondisi kritis, atau merusak kadar kimia air. Rusaknya kadar kimia air tersebut akan berpengaruh terhadap fungsi dari air. Besarnya beban pencemaran yang ditampung oleh suatu perairan, dapat diperhitungkan berdasarkan jumlah polutan yang berasal dari berbagai sumber aktifitas air buangan dari proses-proses industri dan buangan domestik yang berasal dari penduduk. Telah banyak dilakukan penelitian tentang pengaruh air buangan industri dan limbah penduduk terhadap organisme perairan, terutama pengaruhnya terhadap ikan. Akibat yang ditimbulkan antara lain dapat menyebabkan kelumpuhan ikan, karena otak tidak mendapat suplai oksigen serta kematian karena kekurangan oksigen (anoxia) yang disebabkan jaringan tubuh ikan tidak dapat mengikat oksigen yang terlarut dalam darah. Untuk mengetahui kualitas air dalam suatu perairan, dapat dilakukan dengan mengamati beberapa parameter kimia, sepeti oksigen terlarut (Dissolved Oxygen = DO) dan kebutuhan oksigen biologis (Biological Oxygen Demand = BOD).

1.2

Tujuan Tujuan dari praktikum ini adalah : Dapat menghitung faktor ketelitian dan penetapan angka KMnO4 yang digunakan, Dapat membuat larutan pengencer dan melakukan pengenceran, Dapat menghitung oksigen terlarut yang ada dalam sampel air limbah pada hari ke 0 dan pada hari ke 5.

BAB II DASAR TEORI BOD atau Biochemical Oxygen Demand atau kebutuhan oksigen biologis merupakan jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh organisme untuk menguraikan zat organik yang terdapat dalam air limbah. BOD merupakan suatu parameter yang sering digunakan untuk menentukan karakteristik zat polutan dalam limbah cair yang dapat digunakan untuk mengetahui derajat pencemaran air limbah domenstik maupun industri. Makin banyak zat organik, makin tinggi BOD-nya. Nilai BOD dipengaruhi oleh suhu, cahaya, matahari, pertumbuhan biologik, gerakan air dan kadar oksigen. Pada air sungai yang bersih, nilai BOD berkisar sampai 10 ppm. Jika nilai BOD lebih besar dari 10 ppm maka dianggap telah terkontaminasi. Prinsip pengukuran BOD pada dasarnya cukup sederhana, yaitu mengukur kandungan oksigen terlarut awal (DO0) dari sampel segera setelah pengambilan contoh, kemudian mengukur kandungan oksigen terlarut pada sampel yang telah diinkubasi selama 5 hari pada kondisi gelap dan suhu tetap (20oC) yang sering disebut dengan DO5. Selisih DO0 dan DO5 (DO0 - DO5) merupakan nilai BOD yang dinyatakan dalam miligram oksigen per liter (mg/L). Pengukuran oksigen dapat dilakukan secara analitik dengan cara titrasi (metode Winkler, iodometri). Untuk mempermudah penetapan BOD atau terhindar dari pengulangan yang akan memerlukan waktu lama maka dilakukan langkah-langkah di bawah ini : 1. Perkirakan kebutuhan oksigen untuk mendapatkan pengenceran yang mendekati, perlu dilakukan penentuan angka KMnO4 terhadap sampel 2. Pengenceran yang bervariasi lebih memungkinkan terhindar dari kegagalan penetapan Gangguan yang umumnya terdapat pada analisa BOD adalah : 1. Proses nitrifikasi dapat mulai terjadi di dalam botol BOD setelah 2-10 hari 2NH4 + 3O2 2NO2- + 4H+ + 2H2O 2NO2- + O2 2NO3

Nitrifikasi perlu oksigen. Seringkali nitrifikais tidak terjadi karena suhu 10oC atau karena air sungai yang tercemar telah sampai ke muara sehingga nitrifikasi pada botol BOD tidak berlaku. 2. Zat beracun dapat memeperlambat pertumbuhan bakteri

(memperlambat reaksi BOD) bahkan membunuh organisme tersebut. 3. Kemasukan/keluarnya oksigen dari botol selama inkubasi harus dicegah. Dengan ditutup hati-hati (di atas tutup botol bisa diberi air/waterseal). 4. Nutrien merupakan salah satu syarat bagi kehidupan bakteri. Sehingga sebaiknya setiap botol BOD ditambah dengan nutrient secukupnya. 5. Karena benih dari bermacam-macam bakteri dapat berkurang jumlahnya/kurang cocok bagi air buangan maka pembenihan harus dilakukan dengan baik.

BAB III METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan

Alat : a. Gelas ukur b. Gelas kimia c. Labu Erlenmeyer d. Botol BOD e. Pipet tetes f. Bola hisap g. Pipet volume h. Buret i. Batang pengaduk j. Hot plate k. Kompan

Bahan : a. Aquadest b. Sample (air limbah) c. Larutan KMnO4 0,01 N d. Larutan H2SO4 6 N e. Larutan CaCl2 f. Larutan FeCl3 g. Larutan MgSO4 h. Larutan asam oksalat 0,01 N i. Larutan buffer fosfat j. Cairan bibit seed/mikroba k. Larutan MnSO4 0,1 N l. Larutan TiSO4 m. Larutan kanji n. Pereaksi O2

3.2 Pereaksi a. Air suling yang tidak boleh mengandung Cu lebih dari 0,01 mg/l, klor, kloramin, alkali, zat organik atau asam. b. Larutan buffer posfat c. Larutan garam-garam berikut secara terpisah dan air suling steril 8.5 gr KH2PO4 21.8 gr K2HPO4 33.4 gr Na2HPO4 3.24 gr KNO3 Campurkan larutan-larutan tersebut dan encerkan dengan air suling hingga 1000 ml

simpan ditempat gelas dan dingin. Larutan ini bila keruh atau sudah disimpan lebih dari satu bulan tidak dapat digunakan lagi.

d. Larutan Magnesium Sulfat Larutkan 22.5 gr MgSO4 . 7H2O dalam air suling, hingga 1 liter. e. Larutan Feriklorida Larutkan 27.5 gr FeCl3 . 6H2O dalam air suling, hingga 1 liter. f. Larutan Kalsium Klorida Larutkan 22.5 CaCl2 Andhydrous dalam air suling hingga 1 liter g. Larutan Natrium Hidroksida 1 N Larutkan 40 gr NaOH dalam air suling hingga 1 liter h. Larutan asam klorida 1 N Encerkan 84 ml HCl 36% dengan air suling hingga 1 liter

3.3 Skema Kerja a. Penetapan Angka KMnO4 Pemberantasan reduktor dari labu Erlenmeyer Siapkan 100 ml air kran dalam Erlenmeyer 250 ml, masukan 3 butir batu didih, tambah 5 ml H2SO4 dan tambah 5 ml KMnO4 Panaskan hingga mendidih selama 10 menit

Setelah warna KMnO4 tidak hilang, buang seluruh cairan tersebut

Penetapan angka KMnO4 Masukan 10 ml sampel, 90 ml aquadest, 5 ml H2SO4 4 N dalam labu Erlenmeyer.

Panaskan hingga terdapat gelembung di dasar cairan Tambahkan 10 ml KMnO4 0.01 N kemudian didihkan 10 menit tepat

Tambah 10 ml asam oksalat, kemudian titrasi dengan KMnO4 0.01 N dan catat kebutuhan KMnO4 (a)

Penetapan factor ketelitian KMnO4 Cairan bekas pemeriksaan di atas ditambah lagi dengan asam oksalat 0.01 N sebanyak 10 ml Titrasi dengan KMnO4 0.01 N dan catat kebutuhan KMnO4 (b)

b. Pembuatan larutan pengencer Masukan kedalam jerigen 2 liter aquadest, 1 ml larutan buffer fosfat, 1 ml larutan CaCl2, 1 ml larutan FeCl2, 1 ml MgSO4, dan1 ml cairan bibit Lakukan aerasi selama 30 menit

c. Pembuatan pengenceran Bila didapat angkan KMnO4 sebesar 100 mg/l untuk air limbah domestik pada umumnya tiga kali pengenceran 1. P1=100/3=35 artinya 1 bagian sampel + 34 bagian pengencer 2. P1=100/5=20 artinya 1 bagian sampel + 19 bagian pengencer 3. P1=100/7=15 artinya 1 bagian sampel + 14 bagian pengencer Untuk tiap pengenceran dibutuhkan hasil volume sebanyak 650-700 ml Untuk P1=20 35 ml sampel + 665 ml pengencer

Dimasukkan ke dalam 2 botol BOD

Botol 1 ditetapkan langsung BOD nya Botol 2 di inkubasi 200C selama 5 hari

Pada hari ke lima tetapkan O2 terlarutnya

Lakukan juga penetapan BOD untuk air pengencer

d. Penetapan Oksigen terlarut metode winkler 1 ml larutan MnCl2, 1 ml larutan pereaksi O2

Ke dalam botol BOD yang berisi penuh dengan sampel

Selama botol ditutup, lalu dikocok

Biarkan 10 menit (untuk pengendapan dan penyempurnaan)

Bagian atas cairan di dalam botol dituangkan ke Erlenmeyer (kira-kira 1/3 sampai isi botol)

Tambahkan 1 ml H2SO4 pekat ke dalam cairan di Erlenmeyer maupun di dalam botol, kocok

Titrasi dengan larutan thiosulfat 1/80 N (warna menjadi kuning jerami) Tambahkan beberapa tetes larutan kanji Titrasi dilanjtukan (warna biru hilang) Catat ml thiosulfat total antara titrasi cairan di Erlenmeyer dan titrasi cairan di botol

BAB IV DATA PENGAMATAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1 Data Pengamatan 4.1.1 Tabel pengamatan penetapan angka KMnO4
No. 1. Campuran Campuran 10 ml sampel + Larutan Pengamatan sedikit keruh karena

90 ml aquadest + 5 ml penambahan sampel H2SO4 2. Campuran no 1 dipanaskan Larutan menjadi berwarna ungu + 10 ml KMnO4 0,01 N 3. Setelah penambahan 10 ml Tidak terjadi perubahan warna asam oxalate 0,01 N maka di tambah lar oksalan 0,1 N sehingga Warna larutan berubah menjadi tidak berwarna 4. Setelah dititrasi dengan lar. Warna KMnO4 0,01 N muda larutan menjadi ungu

vol. KMnO4 yang dibutuhkan adalah 1,5 ml (a) 4.1.2 Tabel pengamatan penetapan ketelitian KMnO4 0,01 N
No. 1. Campuran Pengamatan Campuran bekas pebetapan Larutan menjadi bening (tidak + 10 ml as. Oksalat 0, 1 N 2. berwarna)

Setelah dititrasi dengan lar. Warna larutan menjadi ungu KMnO4 0,01 N muda

vol. KMnO4 yang dibutuhkan adalah 81 ml

4.1.3 Tabel Pengamatan oksigen terlarut Volume thiosulfat No. Botol (volume botol BOD) 1/80 N (mL ) pada hari ke -0 1. Blanko I Blanko II 2. Sample I Sampel II 3. Blanko I Blanko II 4. Sampel I Sampel II 4 ml 34 1,5 ml 23 ml 2.5 ml 2.9 ml 1,1 0,6 (B) (D) (A) Volume thiosulfat 1/80 N (mL) pada hari ke-5 (C) Ket

4.2 Pengolahan Data Perhitungan/Penetapan Angka KMnO4 Factor ketelitian = 10/ml KMnO4 = 10/81 ml = 0.1234 mg/lt KMnO4 = (1000/ml sampel) x {(10,0 + a) f 10,0} 0,01 x 31,6 = (1000/10 ml) x {(10,0 + 1,5) 0.1234 10,0} 0,01 x 31,6 = 100 x -0,0858 x 31,6 = -271,156 mg/lt KMnO4 Dikarenakan angka KMnO4 bernilai negatif, maka dilakukan pemisalan angka KMnO4 yaitu sebesar 100 mg/lt KMnO4 Maka P = 100/5 = 20 (artinya 1 bagian sampel + 19 bagian pengencer) Perhitungan nilai BOD setelah dilakukan pengenceran (P) sebanyak 20 kali

mg/l O2

mg/l O2

mg/l O2

mg/l O2

Perhitungan nilai BOD pada sampel BOD = P(A-B) (C-D) = 20 ( )( ) = 139.322 10,0871 = 129,522 mg/l

BAB V PEMBAHASAN Nama : Fristy Utami NIM : 08414012

Pada praktikum ini dilakukan analisa Biochemical Oxygen Demand (BOD) atau Kebutuhan Oksigen Biokimia (BOK). BOD merupakan jumlah oksigen yang diperlukan oleh mikroorganisme untuk menguraikan zat organik dalam air limbah. Prinsip pengukuran BOD adalah mengukur kandungan oksigen terlarut awal (DO0) dari sampel segera setelah pengambilan sampel, kemudian mengukur kandungan oksigen terlarut pada sampel yang telah diinkubasi selama 5 hari pada kondisi gelap dan suhu tetap (20oC) yang sering disebut dengan DO5. Jadi pada prinsipnya dalam kondisi gelap, agar tidak terjadi proses fotosintesis yang menghasilkan oksigen. , dan dalam suhu yang tetap selama lima hari, diharapkan hanya terjadi proses dekomposisi oleh mikroorganime, sehingga yang terjadi hanyalah penggunaan oksigen, dan oksigen tersisa ditera sebagai DO5. Temperatur 20 oC dalam inkubasi juga merupakan temperatur standard. Temperatur 20 oC adalah nilai ratarata temperatur sungai beraliran lambat di daerah beriklim sedang (Metcalf & Eddy, 1991) dimana teori BOD ini berasal. Selisih DO0 dan DO5 (DO0- DO5) merupakan nilai BOD yang dinyatakan dalam miligram oksigen per liter (mg/L). Pengukuran oksigen dilakukan secara analitik dengan cara titrasi (metode Winkler). Pada praktikum ini angka KMnO4 yang deperoleh berniali negatif hal ini dikarenakan dalam proses penetapan angka KMnO4 tersebut oksalat yang digunakan normalitasnya sudah berkurang sehingga untuk angka KMnO4 ini diasumsikan 100 mg/lt KMnO4. Pada analisa atau penetapan BOD ini dilakukan pengenceran, hal ini dilakukan agar kebutuhan oksigen mencukupi selama proses penetapan berlangsung. Pada penetapan oksigen terlarut untuk DO5, Volume thiosulfat yang dibutuhkan lebih sedikit bila dibandingkan dengan volume thiosulfat untu DO0. Hal ini menunjukan penurunan jumlah oksigen akibat adanya penggunaan oksigen oleh mikroorganisme untuk menguraikan zat organik. Berdasarkan percobaan, diperoleh hasil penetapan BOD sebesar 129,522 mg/l. Nilai tersebut sangat besar bila dibandingkan dengan nilai BOD pada air sungai yang berkisar sampai 10 mg/l. Sehingga hal ini menandakan bahwa pada sampel tersebut banyak terkandung senyawa organik.

BAB VI KESIMPULAN Berdasarkan pecobaan maka dapat disimpulkan : 1. Faktor ketelitian yang diperoleh adalah 0,1234 dan angka KMnO4 adalah 271,156 mg/lt KMnO4 (karena bernilai negatif maka diasumsikan 100 mg/lt) 2. Nilai BOD adalah 129,522 mg/l sehingga dikategorikan tercemar (BOD air sungai bersih adalah 10 mg/l)

DAFTAR PUSTAKA

Jobsheet praktikum Analisa BOD, Laboratorium Pengolahan Limbah, Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Bandung : Bandung Kimia Lingkungan. 1995. PAAK : Bandung www.google.com