Anda di halaman 1dari 3

Asertifitas I.

Definisi Aserifitas merupakan kemampuan seseorang untuk bertindak sesuai dengan keinginannya, membela haknya dan tidak dimanfaatkan oleh orang lain. Selain itu asertivitas juga berarti mengkomunikasikan apa yang kita inginkan secara jelas dengan menghormati hak pribadi kita sendiri dan hak orang lain. Asertivitas merupakan ungkapan perasaan, pendapat, dan kebutuhan kita secara jujur dan wajar. Towned (1991) mengungkapkan bahwa pada dasarnya asertifitas berkaitan dengan kepercayaan diri, yang berarti jujur dan menghargai diri sendiri dan orang lain, dapat mengekspresikan dirinya sendiri dengan jelas serta dapat berkomunikasi dengan orang lain secara efektif. Perilaku asertif menurut Rimm dan Masters (dalam Rakos, 1991. h.8) merupakan tingkah laku dalam hubungan interpersonal yang bersifat jujur dan mengekspresikan pikiran-pikiran dan perasaan dengan memperhitungkan kondisi sosial yang ada. Lange dan Jakubowski (dalam Rakos, 1991. h. 8) menjelaskan bahwa asertif meliputi pertahanan terhadap hak individu untuk mengekspresikan pikiran, perasaan dan keyakinan yang diungkapkan secara langsung, jujur tepat dan tidak melanggar hak asasi orang lain. II. Pentingnya perilaku asertif Beberapa penelitian membuktikan bahwa pelatihan perilaku asertif memiliki manfaat bagi diri seorang individu. Berikut ini beberapa penelitian yang telah membuktikan manfaat pelatihan perilaku asertif: 1. Penelitian yang dilakukan oleh iriani (1995) membuktikan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pelatihan asertivitas terhadap peningkatan harga diri. 2. Penelitian yang dilakukan Ismayudha (1995) membuktikan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pelatihan asertivitas terhadap penurunan kecemasan sosial pada remaja. 3. Penelitian yang dilakukan Uyun, dkk (2005) menunjukkan bahwa ada pengaruh yang sangat signifikan pelatihan asertivitas terhadap peningkatan ketahanan istri dalam menghadapi tindak kekerasan suami

4. Dalam dunia pendidikan penelitian yang dilakukan Nota, dkk (2003) menemukan bahwa pelatihan asertivitas dapat meningkatkan kemampuan asertivitas pada kelompok siswa yang pasif, selain itu perlakuan yang diberikan juga dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menentukan pilihan dan dapat mengurangi pengalaman sosial yang tidak menyenangkan karena partisipan dapat bersikap asertif pada situasi kritis.

III.

Ciri-ciri Weaver (1993. h. 405) menyebutkan beberapa ciri individu yang berprilaku asertif, yaitu: 1. Mengijinkan orang lain untuk menjelaskan pikirannya sebelum dirinya sendiri bicara. 2. Mempertahankan keadaan sesuai dengan perasaan individu. 3. Tidak membuat keputusan berdasar pada apa yang dianggap individu benar 4. Memandang persahabatan sebagai kesempatan untuk belajar lebih jauh tentang diri sendiri dan orang lain serta untuk bertukar pikiran. 5. secara spontan dan alami memulai percakapan menggunakan tekanan dan volume suara yang sedang. 6. berusaha untuk mengerti perasaan orang lain sebelum membicarakan perasaannya sendiri. 7. berusaha menghindari hal yang merugikan dan merepotkan dengan

membicarakan masalahnya sebelum dirinya menemukan arti yang masuk akal untuk memecahkan masalah yang tidak dapat dihindari. 8. Menghadapi masalah dan pengambilan keputusan dengan tabah. 9. menganggap dirinya kuat dan mampu tapi sama dengan orang lain pada umumnya. 10. bertanggungjawab dengan menghargai situasi, kebutuhan, dan hak individu.

IV.

Aspek-aspek prilaku asertif

Referensi Rakos, F. R. (1991). Assertive Behaviour. New York: Roubledge Chapman & Hall, Inc.

Towned, A. (1991). Developing Assertiveness. London: Roudledge. Weaver, R. L. (1993). Understanding Interpersonal Communication. 6th. New York: Harpercolhns College Publisher Uyun, Q., & Hadi, S. (2005). Pelatihan Asertivitas untuk Meningkatkan Ketahanan Istri terhadap Tindak Kekerasan Suami. Tesis Sosiosains, 18, 1-17.