Anda di halaman 1dari 4

Obat Antagonis Kalsium ( chalsium chanel bloker) Antagonis kalsium dibagi dalam 2 golongan besar: golongan dihidropiridin seperti

nifetidin dan golongan nondihidropiridin seperti diltiazem dan verapamil. Kedua golongan dapat menyebabkan vasodilatasi koroner dan menurunkan tekanan darah. Golongan dihidropiridin mempunyai efek fasodilatasi lebih kuat dan

penghambatan nodus sinus maupun nodus AV lebih sedikit, dan efek inotropik negating juga lebih kecil( Tristo Hadi, 2010) Obat-obat yang berguna pada angina dapat mengurangi kebutuhan oksigen miokard dengan cara mengurangi tahanan vaskuler perifer, dengan mengurangi curah jantung atau keduanya. Pada angina varian, nitrat dan kalsium antagonis bisa juuaga meningkatkan pengiriman oksigen miokard dengan menghilangkan spasme arteri koronaria. Contoh contoh obat antagonis kalsium 1. Golongan dihidropiridin

Nifedipin Derivat dihidropiridin termasuk golongan antagonis kalsium yang berdaya menghambat masuknya Ca kedalam sel sel otot jantung dan sel sel otot polos dinding arteri. Oleh karena itu, kontraktilitas sel sel tersebut dihambat dengan efek vasodilatasi. Banyak digunakan antara lain pada penyakit antara lain angina pectoris dengan menghindarkan terjanya kejang hingga penyaluran darah ke otot jantung meningkat, hipertensi dan pada S. Raynaud guna meniadakan kejang di jari-jari tangan ( Tjay Kirana Raharja,2007)

Indikasi: profilaksis dan pengobatan angina; hipertensi; fenomena Raynaud

Peringatan: hentikan jika terjadi nyeri iskemik atau nyeri yang ada memburuk dalam waktu singkat setelah awal pengobatan; cadangan jantung yang buruk; gagal jantung atau gangguan fungsi ventrikel kiri yang bermakna( memburuknya gagal jantung yang teramati); hipotensi berat; kurangi dosis pada gangguan hati; diabetes mellitus; dapat membantu proses persalinan; menyusui; hindari sari buah grape fruit ( mempengaruhi metabolisme)

Interaksi: antagonis kalsium dapat meningkatkan efek hipotensi jika adrenergik neuron blokers digunakan bersama antagonis kalsium

Kontraindikasi: shok kardiogenik; stenosis aorta lanjut; kahamilan (toksisitas lanjut pada studi hewan); porfiria Efek samping: pusing, sakit kepala, muka merah, letargi: takikardia, palpitasi; juga edema kaki ruam kulit ( eritema multiform dilaporkan) mual, sering kencing; nyeri mata, hyperplasia gusi; depresi dilaporka; telangiekstasia dilaporkan

Dosis: angina dan fenomena Raynaud, sediaan konvensional, dosis awal 10 mg (usia lanjut dan gangguan hati 5 mg) tiga kali sehari dengan satu atau setelah makan; dosis penunjang lazim 5-20 mg tiga kali sehari; untuk efek yang segera pada angina; gigit kapsul dan telan dengan cairan. ( Ioni,2008)

2. Golongan nondihidropiridin

Diltiazem

Efektif untuk sebagian besar angina. Selain itu sediaan panjangya juga digunakan untuk terapi hipertensi. Senyawa ini dapat digunakan untuk pasien yang karena suatu sebab tidak dapat diberikan beta bloker. Efek inotropiknya lebih ringan. Meskipun demikian karena resiko bradikardianya, tetap diperlukan kehati hatian bila digunakan bersama dengan beta bloker. Angina tidak stabil. Antagonis kalsium tidak mengurangi resiko infark miokard pada angina stabil. Penggunaanya dicadangkan untuk pasien yang resisten terhadap beta blokers.

Putus Obat. Terdapat bukti bahwa penghentian antagonis kalsium yang mendadak dapat menyebabkan memburuknya angina.

Indikasi: pengobatan angina pectoris; profilaksis angina pectoris varian; hipertensi esensial ringan dan sedang.

Peringatan: kurangi dosis pada pasien pada gangguan kondisi hati dan ginja; gagal jantung atau gangguan bermakna vertikel kiri yang bermakn, bradikadi ( hindarkan jika berat), blockade AV derajat satu, atau perpanjangan interval PR

Interaksi: antagonis kalsium dapat meningkatkan efek hipotensi jika adrenergic neuron blokers digunakan bersama antagonis kalsium Kontra indikasi: bradikardi berat, gagal jantung, kongesti (denyut jantung dibawah 50 denyut/menit); gagal ventrikel kiri dengan kongesti paru, blockade AV derajat dua atau tiga ( kecuali digunakan pacu jantung ), sindrom penyakit sinus ( sinus bradikardi, sinus areas, sinus atrial); kehamilan, hindari menyusui; hipersensitif terhadap diltiazem

Efek samping: bradikardi, blockade sinoatrial, blockade AV, jantung berdebar, pusing, hipotensi, malaes, asthenia, sakit kepala, muka merah dan panas, gangguan saluran cerna, edema (terutama pada pergelangan kaki); jarang terjadi ruam kulit(termasuk erithema multiforme dan torn dermatitis), fotosensitif; dilaporkan juga hepatitis, ginaechomastia, hyperplasia gusi, sindrom ekstrapiramidal, dan depresi.

Dosis: angina varian, dewasa oral 100 mg sekkali sehari, jika tidak ada perubahan maka dapat ditingkatkan hingga 200 mg satu kali sehari