Anda di halaman 1dari 3

USAHA Tabloid KONTAN No.

13, Tahun X, 2 Januari 2006 Enakan Jadi Juragan Bensin Melongok tawaran kerja sama SPBU Pertamina Bila punya lokasi usaha strategis dan modal miliaran rupiah, Anda bisa menyabet peluang bisnis SPBU yang kini gencar ditawarkan Pertamina. Permintaannya besar, keuntungannya juga tinggi. Dalam 2-5 tahun Anda bisa balik modal. Tapi, bersiaplah menghadapi persaingan ketat dari pemain asing yang mulai menyerbu masuk. Tak bisa dibantah, bahan bakar minyak (BBM) telah menjadi salah satu komoditas paling penting di dunia. Teramat banyak aktivitas manusia modern yang mutlak membutuhkan sumber energi ini. Kekurangan BBM bisa membuat kegiatan ekonomi macet, bahkan menimbulkan kerusuhan sosial. Masih basah dalam ingatan kita, bagaimana kelangkaan BBM menjelang kenaikan harga pada Oktober 2005 lalu membuat masyarakat kalang kabut dan ribut. Toh, meski harus antre seharian dan harganya naik selangit, orang tetap memburunya. Mengingat sampai saat ini Indonesia belum menemukan sumber energi pengganti BBM, prospek usaha SPBU bakal tetap gilang gemilang. Apalagi margin dan likuiditas bisnis jual beli BBM ini juga tinggi. Di era monopoli, sudah menjadi rahasia umum, tanpa koneksi, orang belum tentu bisa jadi juragan SPBU, meski punya duit pecahan gede sekoper penuh. Untung, kondisi berubah. Sejak pemerintah mengizinkan masuknya pemain asing, kini justru Pertamina yang gencar menawarkan kerja sama pembangunan SPBU kepada masyarakat luas. Ada dua persyaratan utama untuk menjadi mitra usaha SPBU Pertamina. Yakni, lokasi usaha dan modal miliaran. Calon mitra harus memiliki tempat usaha dengan luas minimal 1.500 m2. Lokasinya harus strategis, yakni banyak dilalui kendaraan, dan persaingan kios bensin di lokasi itu belum begitu tinggi. Jika lokasi Anda benar-benar bagus, Pertamina akan menawarkan pola kerja sama Prime. Anda cukup menyediakan lahan, sedangkan modal investasi untuk membangun SPBU berikut peralatan akan disediakan Pertamina. Dengan begitu, Pertamina tentu akan memiliki sebagian saham SPBU itu. Kalau lokasi Anda tidak termasuk primer, tapi masih memiliki prospek yang cukup baik, Anda bisa memilih pola kerja sama Reguler. Dalam pola ini, Anda harus memodali sendiri pendirian SPBU yang jumlahnya sekitar Rp 3 miliar. Investasi ini mencakup pembangunan SPBU dan kantor, berikut berbagai peralatan. Di antaranya mesin pengisian digital alias dispensing pump berikut tangki timbun untuk menyimpan setiap jenis BBM yang akan Anda jual. Dana investasi itu juga sudah termasuk royalty fee untuk Pertamina. Setiap lima tahun sekali kami akan mengevaluasi SPBU dan juga menarik royalty fee, ujar Muhammad Harun, juru bicara Pertamina. Besarnya royalti ini sangat tergantung dari lokasi dan hasil negosiasi dengan Pertamina. Tapi, sebagai patokan, besarnya antara Rp 200 juta sampai Rp 500 juta per lima tahun. Di luar investasi pembangunan SPBU itu, calon mitra juga harus menyediakan uang setoran alias deposit pembelian BBM kepada Pertamina. Besarnya minimal sebesar harga pokok pembelian BBM per hari oleh SPBU. Simpanan itu ditaruh di rekening setoran (escrow account) di bank. Banknya boleh bank apa saja, asalkan sudah disepakati sebelumnya dengan Pertamina. Begitu stok BBM di SPBU tinggal sedikit, kami siap mengirimkan pasokan BBM dengan mendebet dari escrow account-nya, terang M. Harun. Penentuan besarnya deposit pembelian BBM ini harus diperhitungkan dengan cermat oleh pemilik SPBU. Deposit yang terlalu kecil bisa merepotkan. Pengusaha SPBU harus mengurus escrow account ini saban hari, di samping tak bisa dengan mudah menambah pasokan BBM jika sewaktu-waktu ada lonjakan permintaan. Tapi, simpanan dana yang terlalu banyak juga tak efektif. Margin bersihnya sampai 70%

Oke, bila Anda tertarik dan memenuhi kedua syarat utama tadi, langkah pertama masuk ke bisnis ini adalah mengajukan aplikasi secara online. Formulir aplikasi bisa kita akses di wxx.pertamina.com. Untuk aplikasi yang disetujui, Pertamina akan menyusun rencana bisnis (business plan) untuk SPBU di lokasi Anda. Dalam rencana bisnis inilah akan ditentukan berapa banyak dispensing pump dan tangki pendam yang harus Anda sediakan. Dus, juga akan diketahui lebih detail berapa besar modal dan royalty fee yang harus Anda bayar. Oh, ya, rencana bisnis ini hanya akan dianggap layak jika Anda diperkirakan bisa menjual minimal 15 ton (15.000 liter per hari). Angka perkiraan ini diperoleh berdasarkan pemantauan Pertamina atas arus lalu-lintas dan persaingan kios bensin di lokasi Anda. Anda bisa memberikan tanggapan ataupun menegosiasi isi business plan itu. Bila semuanya beres dan semua dokumen yang Anda butuhkan sudah lengkap, Anda akan menandatangani kontrak kerja sama dengan Pertamina. Kontrak kerja sama ini berlaku selama 15 tahun dan akan dievaluasi setiap lima tahun sekali. Selanjutnya, Anda tinggal membangun SPBU sesuai dengan spesifikasi Pertamina. Bila tak bisa mencari kontraktor sendiri, Si mitra bisa menggunakan kontraktor yang biasa kami pakai, ujar Ahmad Faisal. Proses pembangunan ini umumnya memakan waktu sekitar empat bulan. Sementara pembangunan SPBU berlangsung, Anda bisa merekrut tenaga kerja. Sebagai acuan, untuk SPBU dengan luas 1.500 m2 dan memiliki empat pompa, Anda membutuhkan 16 pegawai pengisi BBM dengan dua giliran. Selain itu, Anda juga membutuhkan kasir dan supervisor. Kalau ditotal jumlahnya menjadi sekitar 20 orang. Tenaga kerja yang Anda rekrut ini akan dilatih Pertamina. Nah, bila semua beres, Anda tinggal membuka SPBU baru milik Anda sendiri. Tingkat keuntungan yang akan diperoleh pengusaha SPBU sudah dipatok Pertamina. Misalnya Rp 172 per liter untuk premium dan Rp 215 per liter untuk solar. Meski untung jualan solar lebih besar, kita tentu enggak bisa ngotot hanya menjual solar. Sebab, pemilihan jenis BBM yang akan kita jual tergantung dari kebutuhan BBM di lokasi itu. Di jalan protokol atau kawasan perumahan di Jakarta, misalnya, permintaan premium lebih besar daripada solar. Semakin besar volume BBM yang berhasil Anda jual setiap hari, semakin besar pula keuntungan yang mengalir ke brankas Anda. Berdasarkan data Pertamina, rata-rata SPBU di Indonesia saat ini bisa menjual 30 ton atau 30.000 liter BBM saban hari. Untuk kota-kota besar seperti Jakarta, penjualannya rata-rata mencapai 50 ton sehari. Nah, jika SPBU Anda bisa menjual 15-30 ton BBM per hari, dengan margin bersih sampai 70%, Anda bisa balik modal dalam waktu 2-5 tahun. Namun, ada satu hal yang harus diantisipasi mitra Pertamina. Masuknya pemain-pemain asing, yang umumnya memiliki standar pelayanan yang tinggi, akan meruncingkan persaingan. Untuk bisa bertahan dari serbuan mereka, pemilik SPBU Pertamina juga harus memberikan pelayanan prima. Minimal, tidak boleh lagi ada yang mengoplos atau menipu literan BBM yang mereka jual. +++++ Bersiap Menghadapi Perang Sengit Persaingan bisnis kios bensin di Indonesia mulai memanas setelah pemerintah membuka pintu lebar-lebar bagi masuknya pemain asing. Sesuai dengan ketentuan UU Migas No. 22 tahun 2001, Pertamina tak lagi memonopoli bisnis migas di tingkat konsumen. Kehadiran UU ini langsung disambut antusias para pemain asing. Menurut data Badan Pelaksana Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas), setidaknya ada lima perusahaan minyak raksasa dunia yang berminat membangun SPBU di Indonesia. Mereka adalah Petronas, Shell, BP, ExxonMobil, dan Caltex/Chevron Texaco. Dari kelima nama ini, Shell dan Petronas yang telah memegang izin prinsip. November lalu Shell membuka gerai pom bensin pertamanya di Karawaci, Tangerang.

Di luar pemain asing, pemerintah telah meloloskan lima perusahaan lokal, yakni PT Sigma Rancang Perdana, PT Pandu Selaras, PT Elnusa Petrofin, PT Elnusa Harapan, PT Krida Petragraha, dan PT Raven Sejahtera (KONTAN, 15 Agustus 2005). Untuk menghadapi perang sengit yang bakal terjadi di bisnis eceran BBM, Pertamina buru-buru memperkuat jaringan pemasarannya di tingkat ritel. Mulai awal Desember 2005 lalu, Pertamina menawarkan program kerja sama pembangunan SPBU kepada masyarakat luas. Sampai minggu ketiga Desember 2005 ini, Kami sudah menerima 10 aplikasi pembukaan SPBU baru, ujar Ahmad Faisal, Kepala Divisi Bahan Bakar Minyak PT Pertamina. Untuk tahun 2006, Pertamina menargetkan ada 200 SPBU baru dengan pola kerja sama ini. Selain itu, Pertamina juga memperluas cakupan bisnis SPBU-nya. Bila lokasi memungkinkan, yakni luas dan strategis, mitra SPBU Pertamina akan memperoleh akses untuk membuka berbagai unit usaha non-BBM. Di antaranya: C Store Pertamina Bright Ini adalah toko ritel yang menjual aneka makanan, camilan, dan berbagai minuman yang bisa langsung dibawa pulang atau dinikmati pembeli dalam perjalanan. Gerai yang buka 24 jam sehari ini memiliki beberapa produk khas, seperti burger, hotdog, dan popcorn. Pertamina Speed Service Station Gerai ini menawarkan pelayanan bengkel cepat bagi pengunjung SPBU. Di sini pengunjung bisa mengganti oli, ganti atau cek absorber dan berbagai suku cadang lainnya. Untuk operasional gerai ini, Pertamina menjalin kerja sama dengan Shop & Drive yang bernaung di bawah PT Astra Otopart Tbk. Cuci mobil Pengusaha SPBU juga bisa menambahkan layanan cuci dan salon mobil di gerainya.