0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan10 halaman

Tugas Hukum Administrasi Negara Indah Purwanti

Dokumen ini membahas tentang Pejabat Negara dan Pegawai Negeri, menjelaskan perbedaan antara keduanya dalam hal kewenangan, jabatan, dan proses perekrutan. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan upaya hukum yang dapat diambil oleh pegawai negeri yang dikenakan sanksi disiplin serta perbedaan pendapat ahli mengenai kedudukan negara dalam pengelolaan barang milik negara. Terdapat rincian mengenai kewajiban, larangan, dan tingkat hukuman disiplin bagi Pegawai Negeri Sipil.

Diunggah oleh

Prayoga Eka
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan10 halaman

Tugas Hukum Administrasi Negara Indah Purwanti

Dokumen ini membahas tentang Pejabat Negara dan Pegawai Negeri, menjelaskan perbedaan antara keduanya dalam hal kewenangan, jabatan, dan proses perekrutan. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan upaya hukum yang dapat diambil oleh pegawai negeri yang dikenakan sanksi disiplin serta perbedaan pendapat ahli mengenai kedudukan negara dalam pengelolaan barang milik negara. Terdapat rincian mengenai kewajiban, larangan, dan tingkat hukuman disiplin bagi Pegawai Negeri Sipil.

Diunggah oleh

Prayoga Eka
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS II

Nama : Indah Purwanti


NIM : 050002935
Mata Kuliah : Hukum Administrasi Negara

SOAL
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Pejabat Negara dan Pegawai Negeri, serta
dijelaskan perbedaannya!
2. Sebutkan dan jelaskan upaya hukum yang dapat ditempuh oleh pegawai yang
mendapatkan sanksi disiplin!
3. Terdapat perbedaan pendapat dari beberapa Ahli mengenai kedudukan
negara dalam pengelolaan barang milik negara. Adapun perbedaan tersebut
terkait dengan pendapat tentang kedudukan negara sebagai pemilik atau
sebagai penguasa. Jelaskan perbedaan tersebut!

Ubur-ubur ikan Lele, ada si Bagas diajak si Jaka.


Liburnya telah usai, Le. Ada tugas yang harus dikerjakan.

TJAKEP!!!
Jawaban:

1. Pejabat negara:

Pejabat Negara adalah pejabat yang lingkungan kerjanya berada pada lembaga negara yang
merupakan alat kelengkapan negara beserta lembaga negara penunjang fungsi alat
kelengkapan negara, bertugas menjalankan fungsi untuk dan atas nama negara sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

Berdasarkan pendapat dari C.F. Strong dan Bagir Manan, contoh pejabat negara dalam
lingkungan eksekutif merupakan pejabat yang secara langsung menjalankan fungsi negara
seperti Presiden. Selain itu, dalam lingkungan eksekutif juga terdapat pejabat pemerintahan,
yaitu pejabat yang ada pada lembaga negara tetapi hanya menjalankan fungsi administrasi
negara dan tidak bertindak atas nama negara.

Pegawai Negeri:
Sesuai ketentuan Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 Tentang Perubahan
Atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian, yang
dimaksud Pegawai Negeri adalah setiap warga negara Republik Indonesia yang telah
memenuhi syarat yang ditentukan, diangkat oleh pejabat yang berwenang dan diserahi tugas
dalam suatu jabatan, atau diserahi tugas negara lainnya, dan digaji berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

Perbedaan:
Kewenangan:
Pejabat Negara memiliki kewenangan yang lebih luas dibandingkan Pegawai Negeri dalam
menjalankan fungsi negara.

Jabatan:
Pejabat Negara menduduki jabatan yang lebih tinggi dan strategis, sedangkan Pegawai Negeri
menduduki berbagai jabatan di lingkungan pemerintahan.

Proses Perekrutan:
Pejabat Negara dapat diangkat melalui proses pemilihan atau penunjukan, sedangkan Pegawai
Negeri diangkat melalui seleksi atau tes

Sumber:
PP No.63 Tahun 2021
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara.

C. F. Strong. Modern Political Constitution. London: Sidgwick & Jackson, 1963;

2. Disiplin PNS adalah kesanggupan PNS untuk menaati kewajiban dan menghindari larangan
yang ditentukan dalam peraturan [Link] PNS adalah kesanggupan
PNS untuk menaati kewajiban dan menghindari larangan yang ditentukan dalam peraturan
perundang-Undangan.
Pelanggaran Disiplin adalah setiap ucapan, tulisan, atau perbuatan PNS yang tidak menaati
kewajiban dan/atau melanggar larangan ketentuan Disiplin PNS, baik yang dilakukan di
dalam maupun di luar jam kerja.

Hukuman Disiplin adalah hukuman yang dijatuhkan oleh Pejabat yang Berwenang
Menghukum kepada PNS karena melanggar peraturan Disiplin PNS.

Upaya Administratif adalah prosedur yang dapat ditempuh oleh PNS yang tidak puas
terhadap Hukuman Disiplin yang dijatuhkan kepadanya.

Kode Etik Pegawai Negeri Sipil adalah pedoman sikap, tingkah laku, dan perbuatan
Pegawai Negeri Sipil di dalam melaksanakan tugasnya dan pergaulan hidup sehari-hari.

Pelanggaran adalah segala bentuk ucapan, tulisan atau perbuatan Pegawai Negeri Sipil yang
bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik.

Pejabat yang berwenang adalah Pejabat Pembina Kepegawaian atau Pejabat yang
berwenang menghukum atau Pejabat lain yang ditunjuk.

 Kewajiban PNS
o Setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan
Pemerintah;
o Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa;
o Melaksanakan kebijakan yang ditetapkan oleh pejabat pemerintah yang
berwenang;
o Menaati ketentuan peraturan perundang-undangan;
o Melaksanakan tugas kedinasan dengan penuh pengabdian, kejujuran,
kesadaran, dan tanggung jawab;
o Menunjukkan integritas dan keteladanan dalam sikap, perilaku, ucapan, dan
tindakan kepada setiap orang, baik di dalam maupun di luar kedinasan;
o Menyimpan rahasia jabatan dan hanya dapat mengemukakan rahasia jabatan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
o Bersedia ditempatkan di seluruh wilayah NegaraKesatuan Republik Indonesia.
o Menghadiri dan mengucapkan sumpah/janji PNS;
o Menghadiri dan mengucapkan sumpah/janji jabatan;
o Mengutamakan kepentingan negara daripada kepentingan pribadi, seseorang,
danf atau golongan;
o Melaporkan dengan segera kepada atasannya apabila mengetahui ada hal yang
dapat membahayakan
keamanan negara atau merugikan keuangan negara;
o Melaporkan harta kekayaan kepada pejabat yang berwenang sesuai dengan
ketentuan peraturan
perundang-undangan;
o Masuk Kerja dan menaati ketentuan jam kerja;
o mjenggunakan dan memelihara barang milik negara dengan sebaik-baiknya;
o Memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengembangkan kompetensi;
dan
o Menolak segala bentuk pemberian yang berkaitan dengan tugas dan fungsi
kecuali penghasilan sesuai dengan ketentuan peraturan perLlndang-undangan.
 Larangan PNS

o Menyalahgunakan wewenang;
o Menjadi perantara untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan/atau orang lain
dengan menggunakan
kewenangan orang lain yang diduga terjadi konflik kepentingan dengan
jabatan;
o Menjadi pegawai atau bekerja untuk negara lain;
o Bekerja pada lembaga atau organisasi internasional tanpa izin atau tanpa
ditugaskan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian;
o Bekerja pada perusahaan asing, konsultan asing, atau lembaga swadaya
masyarakat asing kecuali ditugaskan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian;
o Memiliki, menjual, membeli, menggadaikan, menyewakan, atau meminjamkan
barang baik bergerak atau tidak bergerak, dokumen, atau surat berharga milik
negara secara tidak sah;
o Melakukan pungutan di luar ketentuan;
o Melakukan kegiatan yang merugikan negara;
o Bertindak sewenang-wenang terhadap bawahan;
o Menghalangi berjalannya tugas kedinasan;
o Menerima hadiah yang berhubungan dengan jabatan dan/atau pekerjaan;
o Meminta sesuatu yang berhubungan dengan jabatan;
o Melakukan tindakan atau tidak melakukan tindakan yang dapat mengakibatkan
kerugian bagi yang dilayani; dan
o Memberikan dukungan kepada calon Presiden/Wakil Presiden, calon Kepala
Daerah/Wakil Kepala Daerah, calon anggota Dewan Perwakilan Ralryat, calon
anggota Dewan Perwakilan Daerah, atau calon anggota Dewan Perwakilan
Ralryat Daerah dengan cara:

 Ikut kampanye;
 Menjadi peserta kampanye dengan menggunakan atribut partai atau
atribut PNS;
 Sebagai peserta kampanye dengan mengerahkan PNS lain;
 Sebagai peserta kampanye dengan menggunakan fasilitas negara;
 Membuat keputusan dan/atau tindakan yang menguntungkan atau
merugikan salah satu pasangan calon sebelum, selama, dan sesudah
masa kampanye;
 Mengadakan kegiatan yang mengarah kepada keberpihakan terhadap
pasangan calon yang menjadi peserta pemilu sebelum, selama, dan
sesudah masa kampanye meliputi pertemuan, ajakan, himbauan, seruan,
atau pemberian barang kepada PNS dalam lingkungan unit kerjanya,
anggota keluarga, dan masyarakat; dan/atau
 Memberikan surat dukungan disertai fotokopi Kartu Tanda Penduduk
atau Surat Keterangan Tanda Penduduk.

 Tingkat Hukuman Disiplin

Hukuman Disiplin ringan

Hukuman disiplin ringan dilaksanakan dalam bentuk sebagai berikut:

 Teguran lisan;
 Teguran tertulis;
 Pernyataan tidak puas secara tertulis.

Hukuman disiplin ringan diberlakukan apablia terdapat pelanggaran


terhadap kewajiban yaitu antara lain:
 melaksanakan kebijakan yang ditetapkan oleh pejabat pemerintah yang
berwenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf c, apabila
pelanggaran berdampak negatif pada Unit Kerja;
 menaati ketentuan peraturan perundang-undangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 3 huruf d, apabila pelanggaran berdampak
negatif pada Unit Kerja;
 melaksanakan tugas kedinasan dengan penuh pengabdian, kejujuran,
kesadaran, dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
huruf e, apabila pelanggaran berdampak negatif pada Unit Kerja;
 menunjukkan integritas dan keteladanan dalam sikap, perilaku, ucapan,
dan tindakan kepada setiap orang, baik di dalam maupun di luar
kedinasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf f, apabila
pelanggaran berdampak negatif pada Unit Kerja;
 menyimpan rahasia jabatan dan hanya dapat mengemukakan rahasia
jabatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf g, apabila pelanggaran
berdampak negatif pada Unit Keda; dan
 bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf h, apabila
pelanggaran berdampak negatif pada Unit Kerja.

Hukuman disiplin ringan juga diberlakukan apablia terdapat pelanggaran


terhadap larangan yaitu antara lain:

 memiliki, menjual, membeli, menggadaikan, menyewakan, atau


meminjamkan barang baik bergerak atau tidak bergerak, dokumen, atau
surat berharga milik negara secara tidak sah sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 5 huruf f, apabila pelanggaran berdampak negatif pada
Unit Kerja;
 melakukan kegiatan yang merugikan negara sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 5 huruf h, apabila pelanggaran berdampak negatif pada
Unit Kerja;
 bertindak sewenang-wenang terhadap bawahan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 5 huruf i, apabila pelanggaran berdampak negatif pada
Unit Kerja;
 menghalangi berjalannya tugas kedinasan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 5 huruf j, apabila pelanggaran berdampak negatif pada
Unit Kerja.
o Hukuman disiplin sedang

Hukuman disiplin sedang dilaksanakan dalam bentuk sebagai berikut:

 Pemotongan tunjangan kinerja sebesar 25% (dua puluh lima persen)


selama 6 (enam) bulan;
 Pemotongan tunjangan kinerja sebesar 25% (dua puluh lima persen)
selama 9 (sembilan) bulan;
 Pemotongan tunjangan kinerja sebesar 25% (dua puluh lima persen)
selama 12 (dua belas) bulan.

Hukuman disiplin sedang diberlakukan apablia terdapat Pelanggaran


terhadap kewajiban yaitu antara lain:
 menjaga persatuan dan kesatuan bangsa sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 3 huruf b, apabila pelanggaran berdampak negatif pada Unit
Kerja dan/atau instansi yang bersangkutan;
 melaksanakan kebijakan yang ditetapkan oleh pejabat pemerintah yang
berwenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal3 huruf c, apabila
pelanggaran berdampak negatif pada instansi yang bersangkutan;
 menaati ketentuan peraturan perundang-undangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 3 huruf d, apabila pelanggaran berdampak
negatif pada instansi yang bersangkutan;
 melaksanakan tugas kedinasan dengan penuh pengabdian, kejujuran,
kesadaran, dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
huruf e, apabila pelanggaran berdampak negatif pada instansi yang
bersangkutan;
 menunjukkan integritas dan keteladanan dalam sikap, perilaku, ucapan,
dan tindakan kepada setiap orang, baik di dalam maupun di luar
kedinasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf f, apabila
pelanggaran berdampak negatif pada instansi yang bersangkutan;
 menyimpan rahasia jabatan dan hanya dapat mengemukakan rahasia
jabatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf B, apabila pelanggaran
berdampak negatif pada instansi yang bersangkutan; dan
 bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf h, apabila
pelanggaran berdampak negatif pada instansi yang bersangkutan.

Hukuman disiplin sedang juga diberlakukan apablia terdapat Pelanggaran


terhadap larangan yaitu antara lain :

 memiliki, menjual, membeli, menggadaikan, menyewakan, atau


meminjamkan barang baik bergerak atau tidak bergerak, dokumen, atau
surat berharga milik negara secara tidak sah sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 5 huruf f, apabila pelanggaran berdampak negatif pada
instansi yang bersangkutan;
 melakukan pungutan di luar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 5 huruf g, apabila pelanggaran berdampak negatif pada Unit
Kerja danlatau instansi yang bersangkutan;
 melakukan kegiatan yang merugikan negara sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 5 huruf h, apabila pelanggaran berdampak negatif pada
instansi yang bersangkutan;
 bertindak sewenang-wenang terhadap bawahan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 5 huruf i, apabila pelanggaran berdampak negatif pada
instansi yang bersangkutan;
 melakukan tindakan atau tidak melakukan tindakan yang dapat
mengakibatkan kerugian bagi yang dilayani sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 5 huruf m, apabila pelanggaran berdampak negatif pada
instansi yang bersangkutan;
 menghalangi berjalannya tugas kedinasan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 5 huruf j, apabila pelanggaran berdampak negatif pada
instansi yang bersangkutan; dan
 memberikan dukungan kepada calon Presiden/Wakil Presiden, calon
Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah, calon anggota Dewan
Perwakilan Rakyat, calon anggota Dewan Perwakilan Daerah, atau
calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan cara menjadi
peserta kampanye dengan menggunakan atribut partai atau atribut PNS
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf n angka 2.
o Hukuman disiplin berat

Hukuman disiplin berat dilaksanakan dalam bentuk sebagai berikut:

 Penurunan jabatan setingkat lebih rendah selama 12 (dua belas) bulan;


 Pembebasan dari jabatannya menjadi jabatan pelaksana selama 12 (dua
belas) bulan;
 Pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai
PNS.

Hukuman disiplin berat diberlakukan apablia terdapat Pelanggaran


terhadap kewajiban :

 setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar


Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik
Indonesia, dan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf
a, apabila pelanggaran berdampak negatif pada Unit Kcrja, instansi,
dan/atau negara;
 menjaga persatuan dan kesatuan bangsa sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 3 huruf b, apabila pelanggaran berdampak negatif pada negara;
 melaksanakan kebijakan yang ditetapkan oleh pejabat pemerintah yang
berwenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf c, apabila
pelanggaran berdampak negatif pada negara;
 menaati ketentuan peraturan perundang-undangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 3 huruf d, apabila pelanggaran berdampak
negatif pada negara;
 melaksanakan tugas kedinasan dengan penuh pengabdian, kejujuran,
kesadaran, dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
huruf e, apabila pelanggaran berdampak negatif pada negara;
 menunjukkan integritas dan keteladanan dalam sikap, perilaku, ucapan,
dan tindakan kepada setiap orang, baik di dalam maupun di luar
kedinasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf f, apabila
pelanggaran berdampak negatif pada negara;
 menyimpan rahasia jabatan dan hanya dapat mengemukakan rahasia
jabatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf E, apabila pelanggaran
berdampak negatif pada negara; dan
 bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf h, apabila
pelanggaran berdampak negatif pada negara.

Hukuman disiplin berat juga diberlakukan apablia terdapat Pelanggaran


terhadap larangan yaitu antara lain :

 menyalahgunakan wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5


huruf a;
 menjadi perantara untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan/atau
orang lain dengan menggunakan kewenangan orang lain yang diduga
terjadi konflik kepentingan dengan jabatan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 5 huruf b;
 menjadi pegawai atau bekerja untuk negara lain dan/atau lembaga atau
organisasi internasional tanpa izin atau tanpa ditugaskan oleh Pejabat
Pembina Kepegawaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf c
dan huruf d;
 bekerja pada perusahaan asing, konsultan asing, atau lembaga swadaya
masyarakat asing kecuali ditugaskan oleh Pejabat Pembina
Kepegawaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf e;
 memiliki, menjual, membeli, menggadaikan, menyewakan, atau
meminjamkan barang baik bergerak atau tidak bergerak, dokumen, atau
surat berharga milik negara secara tidak sah sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 5 huruf f, apabila pelanggaran berdampak negatif pada
negara dan/atau pemerintah;
 melakukan pungutan di luar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 5 huruf g, apabila pelanggaran berdampak negatif pada negara
dan/atau pemerintah;
 menerima hadiah yang berhubungan dengan jabatan dan/atau
pekerjaarr sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf k;
 meminta sesuatu yang berhubungan dengan jabatan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 5 huruf l;
 memberikan dukungan kepada calon Presiden/Wakil Presiden, calon
Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah, calon anggota Dewan
Perwakilan Ralryat, calon anggota Dewan Perwakilan Daerah, atau
calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sebagaimana
dimaksud
dalam Pasal 5 huruf n angka 3, angka 4, angka 5, angka 6, dan angka 7
dengan cara:
1. sebagai peserta kampanye dengan mengerahkan PNS lain;
2. sebagai peserta kampanye dengan menggunakan fasilitas negara;
3. membuat keputusan dan/atau tindakan yang menguntungkan atau
merugikan salah satu pasangan calon sebelum, selama, dan sesudah
masa kampanye;
4. mengadakan kegiatan yang mengarah kepada keberpihakan terhadap
pasangan calon yang menjadi peserta pemilu sebelum, selama, dan
sesudah masa kampanye meliputi pertemuan, ajakan, himbauan, seruan,
atau pemberian barang kepada PNS dalam lingkungan unit kerjanya,
anggota keluarga, dan masyarakat; dan/atau
5. memberikan surat dukungan disertai fotokopi Kartu Tanda Penduduk
atau Surat Keterangan Tanda

3. Perbedaan pendapat para ahli mengenai kedudukan negara dalam pengelolaan Barang
Milik Negara (BMN) berkisar pada dua posisi utama: negara sebagai pemilik (eigendom) dan
negara sebagai penguasa (pengelola/penguasa publik).

Negara sebagai Pemilik


Pendapat ini melihat negara sebagai pemilik BMN secara penuh, serupa dengan
kepemilikan individu atau badan hukum dalam hukum perdata. Negara memiliki hak
atas barang tersebut, dapat menggunakannya untuk kepentingan sendiri, dan memiliki
hak untuk mengalihkan atau memindahtangankan barang tersebut.
Dalam konteks ini, negara dipandang sebagai "eigenaar" atau pemilik dari benda-
benda yang termasuk kepunyaan publik, seperti yang dikemukakan oleh Marcel
Waline, di mana negara dapat menjadi pemilik dari benda-benda publik1.

Negara sebagai Penguasa


Pendapat lain menekankan bahwa negara bukanlah pemilik dalam arti privat, melainkan
sebagai penguasa atau pengelola atas BMN. Hal ini didasarkan pada Pasal 33 Ayat (3)
UUD 1945 yang menyatakan bahwa "bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung
di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran
rakyat."
Dalam tafsiran ini, "dikuasai oleh negara" tidak sama dengan "dimiliki oleh
negara".Negara hanya memiliki kewenangan tertinggi untuk mengatur, mengelola,
dan menentukan penggunaan serta pemeliharaan aset tersebut demi kepentingan
publik, bukan untuk kepentingan negara secara privat5.

Para ahli seperti Maria S.W. Sumardjono dan Boedi Harsono menegaskan bahwa hak
pengelolaan merupakan manifestasi dari hak menguasai negara, bukan hak milik
dalam pengertian keperdataan. Negara bertindak sebagai penguasa yang
mendelegasikan sebagian kewenangan pengelolaan kepada instansi atau badan hukum
tertentu

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik
Negara/Daerah (PP 27/2014, sebagaimana diubah dengan PP 28 tahun 2020), BMN adalah
semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban anggaran pendapatan dan belanja negara
(APBN) atau berasal dari perolehan lainnya yang sah. Barang dari perolehan lain yang sah
meliputi:
1. barang yang diperoleh dari hibah/sumbangan atau yang sejenis;
2. barang yang diperoleh sebagai pelaksanaan dari perjanjian/kontrak;
3. barang yang diperoleh sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; atau
4. barang yang diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum
tetap.
Umumnya BMN dari beban APBN digunakan oleh kementerian/lembaga misalnya sebagai
perkantoran dan bisa juga digunakan masyarakat seperti jalan dan jembatan. Termasuk dalam
BMN dari perolehan lain yang sah adalah barang yang dihibahkan perseorangan atau swasta
kepada Negara, barang yang diperoleh dari pelaksanaan kontrak kerjasama, dan barang
rampasan.
Lebih lanjut dalam Penjelasan PP 27/2014, diuraikan bahwa pengelolaan BMN dilakukan
dalam suatu siklus logistik, meliputi perencanaan kebutuhan dan penganggaran, pengadaan,
penggunaan, pemanfaatan, pengamanan dan pemeliharaan, penilaian, pemindahtanganan,
pemusnahan, penghapusan, penatausahaan, dan pembinaan, pengawasan dan pengendalian.
Dalam ekonomi, barang publik adalah barang yang dimanfaatkan oleh masyarakat yang
mengandung dua sifat pokok, yaitu non-rival dan non-excludable. Non-rival artinya
penggunaan satu konsumen terhadap suatu barang tidak akan mengurangi kesempatan
konsumen lain untuk juga mengkonsumsi barang tersebut. Setiap orang dapat mengambil
manfaat dari barang tersebut tanpa mempengaruhi manfaat yang diperoleh orang lain. Non-
excludable artinya apabila barang publik tersedia, tidak ada yang dapat menghalangi siapapun
untuk mendapatkan manfaat dari barang tersebut.
Dua sifat tersebut bersifat kumulatif, artinya keduanya harus dimiliki oleh suatu barang untuk
dapat dikategorikan sebagai barang publik. Contoh barang publik adalah jalan raya.
Banyaknya pengguna jalan raya tidak akan mengurangi manfaat jalan raya bagi pengguna lain
(non-rival). Selain itu, semua pengguna berhak untuk menggunakan jalan raya tanpa halangan
dari pihak lain (non-excludable).
Jika suatu barang hanya memiliki sifat non-rival atau non-excludable, barang tersebut tidak
dimasukkan sebagai barang publik. Contohnya sekolah, seseorang mendapatkan manfaat dari
bersekolah tanpa mengurangi manfaat bagi siswa yang lain (non-rival). Namun, untuk
bersekolah, calon siswa harus lulus ujian masuk dan membayar uang sekolah (excludable).
Contoh lain yaitu ikan di laut, semua orang dapat memancing ikan tanpa perlu membayar
(non-excludable). Akan tetapi, ikan yang sudah ditangkap akan mengurangi jumlah ikan yang
bisa dipancing (rival).
Dengan membandingkan BMN dan barang publik di atas, terlihat bahwa pengertian masing-
masing barang berbeda: BMN dilihat dari sumber perolehannya, sedangkan barang publik
menekankan pada sifat barangnya. Apabila merujuk dari sumber perolehan, barang publik
bisa berasal dari Pemerintah (APBN) tetapi bisa juga berasal dari swasta. BMN pun
sebenarnya dapat diperoleh dari sektor swasta, tetapi barang tersebut diklasifikasikan sebagai
BMN setelah dihibahkan oleh swasta kepada Negara. Di sisi yang lain dengan melihat sifat
barang, BMN tidak selalu bersifat non-rival dan non-excludable. BMN bisa saja hanya
memiliki salah satu sifat tersebut.

Selanjutnya terkait irisan antara BMN dan barang publik, dibagi dalam tiga jenis. Kategori
pertama adalah BMN yang bukan barang publik. Contohnya gedung kantor pemerintahan,
bersifat non-rival dan excludable. Masyarakat dapat berkunjung ke kantor pemerintahan
untuk mendapatkan pelayanan tetapi hanya sampai di area publik karena area kerja terbatas
untuk pegawai. Kategori kedua adalah barang publik yang bukan BMN. Sebagai contoh
adalah taman di mall. Barang ini bisa dinikmati semua orang dan tidak ada yang menghalangi
seseorang untuk memanfaatkannya. Namun, taman di mall bukan merupakan BMN karena
disediakan oleh pemilik mall (individu atau swasta). Kategori ketiga yaitu BMN yang
merupakan barang publik. Contohnya lampu lalu lintas, jembatan yang didanai oleh APBN,
kemudian digunakan di jalan sehingga dapat dimanfaatkan oleh semua masyarakat pada
waktu bersamaan dan tanpa halangan dari pihak mana pun. Di luar tiga kategori tersebut yaitu
barang privat yang disediakan oleh swasta, misalnya seperti handphone, sepatu. Untuk
mendapatkannya, masyarakat harus menyiapkan kompensasi kepada penjual.

Kesimpulan
Perbedaan mendasar antara kedua pendapat tersebut terletak pada sudut pandang hukum yang
digunakan: apakah negara diposisikan sebagai pemilik mutlak (privat) atau sebagai
penguasa/pengelola tertinggi (publik) yang bertanggung jawab mengatur dan mengelola
BMN demi kepentingan rakyat. Dalam praktik di Indonesia, kedudukan negara lebih banyak
dipahami sebagai penguasa, bukan pemilik dalam arti privat, sesuai dengan amanat Pasal 33
UUD 1945

Anda mungkin juga menyukai