Anda di halaman 1dari 25

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Tumor usus halus sangat jarang terjadi sebaliknya tumor usus besar dan rektum relatif umum. Pada kenyataannya, kanker kolon dan rektum adalah tipe paling umum kedua dari kanker internal di Amerika Serikat. Ini adalah penyakit budaya barat. Diperkirakan adalah sekitar 150.000 kasus baru kanker kolorektal didiagnosa di negara ini setiap tahunnya. Kanker kolon menyerang individu dua kali lebih besar dibandingkan kanker rektal. Insidensnya meningkat sesusai dengan usia (kebanyakan pada pasien yang berusia lebih dari 55 tahun) dan makin tinggi pada individu yang mempunyai riwayat keluarga mengalami kanker kolon, penyakit usus inflamasi kronik atau polip. Perubahan pada presentase distribusi telah terjadi pada tahun terakhir. Insiden kanker pada sigmoid dan area rektal telah menurun, sedangkan insiden pada kolon asenden dan desenden meningkat. Lebih dari 156.000 orang terdiagnosa setiap tahunnya, kira-kira setengah dari dari jumlah tersebut meninggal setiap tahunnya, meskipun sekitar tiga dari empat pasien dapat diselamatkan dengan diagnosis dini dan tindakan segera. Angka kelangsungan hidup dibawah 5 tahun adalah 40%-50%, terutama karena terlambat dalam diagnosis dan adanya metastase. Kebanyakan orang asimptomatis dalam jangka waktu lama dan mencari bantuan kesehatan hanya bila mereka menemukan perubahan pada kebiasaan defekasi atau perdarahan rektal. Penyebab nyata dari kanker kolon dan rektal tidak diketahui, tetapi faktor risiko telah teridentifikasi, termasuk riwayat atau riwayat kanker kolon atau polip dalam keluaraga; riwayat penyakit usus inflamasi kronik; dan diet tinggi lemak, protein, dan daging serta rendah serat.

Oleh karena hal inilah penulis merasa perlu untuk membahas tentang kanker hepar.

B. TUJUAN 1. Untuk mengetahui landasan teori dari kanker hepar (carcinoma hepar). 2. Untuk mengetahui pemberian asuhan keperawatan pada klien dengan kanker hepar.

BAB II PEMBAHASAN

A. LANDASAN TEORI 1. DEFINISI a. Kolon Kolon adalah tempat di traktus digestivus yang paling sering terjadi divertikel. Disebut true diverticle jika dindingnya berisi seluruh lapisan usus dan ini jarang didapatkan. Yang paling sering terjadi adalah pseudo diverticle atau herniasi mukosa dan submukosa melalui lapisan muskulus kolon (Naitove,1999). Bagi kolon, untuk membawa feses dalam jumlah kecil harus berkontraksi dan meningkatkan tekanan pada dindingnya. Sedangkan diit tinggi serat akan menghasilkan feses lebih banyak, ini akan meningkatkan diameter kolon dan menurunkan tekanan pada dinding kolon. Penebalan dinding kolon akan meningkat sesuai usia oleh karena penumpukan kolagen dan elastin. Kemampuan dinding usus untuk menahan peningkatan tekanan intra luminal menurun. Segmentasi kolon adalah suatu mekanisme dimana kolon

menggerakkan isinya atau menghentikan pergerakan material melalui lumen. Gerakan ini (Painter,1985). b. Carcinoma Colon/Kanker Kolon Neoplasma / Kanker adalah pertumbuhan baru (atau tumor) massa yang tidak normal akibat proliferasi sel-sel yang beradaptasi tanpa memiliki keuntungan dan tujuan. Neoplasma terbagi atas jinak atau ganas. dapat meningkatkan tekanan intra luminal

Neoplasma ganas disebut juga sebagai kanker (cancer). (SylviaA Price, 2005). Karsinoma atau kanker kolon ialah keganasan tumbuh lambat yang paling sering ditemukan daerah kolon terutama pada sekum, desendens bawah, dan kolon sigmoid. Prognosa optimistik; tanda dan gejala awal biasanya tidak ada. (Susan Martin Tucker, 1998). Kanker kolorektal adalah tumbuhnya sel-sel ganas dalam tubuh di dalam permukaan usus besar atau rektum. Kebanyakan kanker usus besar berawal dari pertumbuhan sel yang tidak ganas biasa disebut adenoma yang dalam stadium awal membentuk polip (sel yang tumbuh sangat cepat). (www.republika.co.id). Kolostomi merupakan tindakan pembuatan lubang (stoma) yang dibentuk dari pengeluaran sebagian bentuk kolon (usus besar) ke dinding abdomen (perut), stoma ini dapat bersifat sementara atau permanen. (Brunner and Suddarth, 2001). Dari beberapa pengertian diatas penulis menyimpulkan kanker kolon adalah tumbunhya sel-sel ganas di permukaan dalam usus besar (kolon) atau rektum. Lokasi tersering timbulnya kanker kolon adalah di bagian sekum, asendens, dan kolon sigmoid, salah satu penatalaksanaannya adalah dengan membuat kolostomi untuk mengeluarkan produksi faeces. Stadium pada pasien kanker kolon menurut Syamsu Hidyat (1197) diantaranya: 1) Stadium I bila keberadaan sel-sel kanker masih sebatas pada lapisan dinding usus besar (lapisan mukosa). 2) Stadium II terjadi saat sel-sel kanker sudah masuk ke jaringan otot di bawah lapisan mukosa. 3) Pada stadium III sel kanker sudah menyebur ke sebagian kelenjar limfe yang banyak terdapat di sekitar usus.

4) Stadium IV terjadi saat sel-sel kanker sudah menyerang seluruh kelenjar limfe atau bahkan ke organ-organ lain. Klasifikai kanker kolon dapat ditentukan dengan sistem TNM (T = tumor, N = kelenjar getah bening regional, M =jarak metastese). 1) T 2) T0 3) TI 4) T2 5) T3 6) N 7) N0 8) N1 9) N2 10) N3 Tumor primer Tidak ada tumor Invasi hingga mukosa atau sub mukosa Invasi ke dinding otot Tumor menembus dinding otot Kelenjar limfa tidak ada metastase Metastasis ke kelenjar regional unilateral Metastasis ke kelenjar regional bilateral Metastasis multipel ekstensif ke kelenjar regional 11) M 12) MO 13) MI Metastasis jauh Tidak ada metastasis jauh Ada metastasis jauh

2. ANATOMI DAN FISIOLOGI a. ANATOMI Usus besar atau kolon yang kira-kira satu setengah meter panjangnya, adalah sambungan dari usus halus dan mulai dari katup ileokolik atau ileoseka, yaitu tempat sisa makanan lewat. Refleks gastrokolik terjadi ketika makanan masuk lambung dan menimbulkan peristaltik di dalam usus besar. Reflek ini menyebabkan defekasi atau pembuangan air besar.

Kolon mulai sebagai kantong yang besar dan padanya terdapat apendiks vemiformis atau umbai cacing. Apendiks juga terdiri atas keempat lapisan dinding yang sama seperti usus lainnya, hanya lapisan submukosanya berisi sejumlah besar lapisan limfe, yang dianggap

mempunyai fungsi serupa dengan tonsil. Sebagian terletak di bawah sekum dan sebagian di belakang sekum atau disebut retrosekum. Kolon terdiri atas keempat dinding yang sama seperti usus halus. Serabut longitudinal pada dinding berotot tersusun dalam tiga dinding berotot dalam dalam tiga jalur yang memberi rupa berkerut-kerut dan berlubang-luban. Dinding mukosa lebih halus dari dingding yang ada pada usus halus, dan tidak memiliki vili. Didalamnya terdapat kelenjar serupa kelenjar tubuler dalam usus dan dilapisi oleh epitelium silinder yang memuat sel cangkir. b. FISIOLOGI Fungsi utama kolon adalah a. Absorbsi air dan elektrolit dari kimus untuk membentuk feses yang padat dan b. Penimbunan bahan feses sampai dapat dikeluarkan. Setengah bagian proksimal kolon berhubungan dengan absorbsi dan setengah distal kolon berhubungan dengan penyimpanan. Karena sebagai 2 fungsi tersebut gerakan kolon sangat lambat. Tapi gerakannya masih seperti usus halus yang dibagi menjadi gerakan mencampur dan mendorong. Beberapa proses yang melibatkan kolon di dalam proses pencernaan: a. Gerakan Mencampur Haustrasi. Gerakan segmentasi dengan konstriksi sirkular yang besar pada kolon, 2.5 cm otot sirkular akan berkontraksi, kadang menyempitkan lumen hampir tersumbat. Saat yang sama, otot longitudinal kolon

(taenia koli) akan berkontraksi. Kontraksi gabungan tadi menyebabkan bagian usus yang tidak terangsang menonjol keluar (haustrasi). Setiap haustrasi mencapai intensitas puncak dalam waktu 30 detik, kemudian menghilang 60 detik berikutnya, kadang juga lambat terutama sekum dan kolon asendens sehingga sedikit isi hasil dari dorongan ke depan. Oleh karena itu bahan feses dalam usus besar secara lambat diaduk dan dicampur sehingga bahan feses secara bertahap bersentuhan dengan permukaan mukosa usus besar, dan cairan serta zat terlarut secara progresif diabsorbsi hingga terdapat 80-200 ml feses yang dikeluarkan tiap hari. b. Gerakan Mendorong Pergerakan Massa. Banyak dorongan dalam sekum dan kolon asendens dari kontraksi haustra yang lambat tapi persisten, kimus saat itu sudah dalam keadaan lumpur setengah padat. Dari sekum sampai sigmoid, pergerakan massa mengambil alih peran pendorongan untuk beberapa menit menjadi satu waktu, kebanyakan 1-3 x/hari gerakan. Selain itu, kolon mempunyai kripta lieberkuhn tapi tidak ber-vili. menghasilkan mucus (sel epitelnya jarang mengandung enzim). Mucus mengandung ion bikarbonat yang diatur oleh rangsangan taktil , langsung dari sel epitel dan oleh refleks saraf setempat terhadap sel mucus Krista lieberkuhn. Rangsangan pelvikus dari medulla spinalis yang membawa persarafan parasimpatis ke separuh sampai dua pertiga bagian distal kolon. Mucus juga berperan dalam melindungi dinding kolon terhadap ekskoriasi, tapi selain itu menyediakan media yang lengket untuk saling melekatkan bahan feses. Lebih lanjut, mucus melindungi dinding usus dari aktivitas bakteri yang berlangsung dalam feses, ion bikarbonat yang disekresi ditukar dengan ion klorida sehingga menyediakan ion bikarbonat alkalis yang menetralkan asam dalam feses. Mengenai
7

ekskresi cairan, sedikit cairan yang dikeluarkan melalui feses (100 ml/hari). Jumlah ini dapat meningkat sampai beberapa liter sehari pada pasien diare berat c. Absorpsi dalam Usus Besar Sekitar 1500 ml kimus secara normal melewati katup ileosekal, sebagian besar air dan elektrolit di dalam kimus diabsorbsi di dalam kolon dan sekitar 100 ml diekskresikan bersama feses. Sebagian besar absorpsi di pertengahan kolon proksimal (kolon pengabsorpsi), sedang bagian distal sebagai tempat penyimpanan feses sampai akhirnya dikeluarkan pada waktu yang tepat (kolon penyimpanan) d. Absorbsi dan Sekresi Elektrolit dan Air. Mukosa usus besar mirip seperti usus halus, mempunyai

kemampuan absorpsi aktif natrium yang tinggi dan klorida juga ikut terabsorpsi. Ditambah taut epitel di usus besar lebih erat dibanding usus halus sehingga mencegah difusi kembali ion tersebut, apalagi ketika aldosteron teraktivasi. Absorbsi ion natrium dan ion klorida

menciptakan gradien osmotic di sepanjang mukosa usus besar yang kemudian menyebabkan absorbsi air. Dalam waktu bersamaan usus besar juga menyekresikan ion bikarbonat (seperti penjelasan diatas) membantu menetralisir produk akhir asam dari kerja bakteri didalam usus besar e. Kemampuan Absorpsi Maksimal Usus Besar Usus besar dapat mengabsorbsi maksimal 5-8 L cairan dan elektrolit tiap hari sehingga bila jumlah cairan masuk ke katup ileosekal melebihi atau melalui sekresi usus besar melebihi jumlah ini akan terjadi diare. f. Kerja Bakteri dalam kolon. Banyak bakteri, khususnya basil kolon, bahkan terdapat secara normal pada kolon pengabsorpsi. Bakteri ini mampu mencerna selulosa

(berguna sebagai tambahan nutrisi), vitamin (K, B, tiamin, riboflavin, dan bermacam gas yang menyebabkan flatus di dalam kolon, khususnya CO, H, CH).

g. Komposisi feses. Normalnya terdiri dari air dan padatan (30% bakteri, 10-20% lemak, 10-20% anorganik, 2-3% protein, 30% serat makan yang tak tercerna dan unsur kering dari pencernaan (pigmen empedu, sel epitel terlepas). Warna coklat dari feses disebabkan oleh sterkobilin dan urobilin yang berasal dari bilirubin yang merupakan hasil kerja bakteri. Apabila empedu tidak dapat masuk usus, warna tinja menjadi putih (tinja akolik). Asam organic yang terbantuk dari karbohidrat oleh bakteri merupakan penyebab tinja menjadi asam (pH 5.0-7.0). Bau feses disebabkan produk kerja bakteri (indol, merkaptan, skatol, hydrogen sulfide). Komposisi tinja relatif tidak terpengaruh oleh variasi dalam makanan karena sebagian besar fraksi massa feses bukan berasal dari makanan. Hal ini merupakan penyebab mengapa selama kelaparan jangka panjang tetap dikeluarkan feses dalam jumlah bermakna. h. Defekasi Sebagian besar waktu, rectum tidak berisi feses, hal ini karena adanya sfingter yang lemah 20 cm dari anus pada perbatasan antara kolon sigmoid dan rectum serta sudut tajam yang menambah resistensi pengisian rectum. Bila terjadi pergerakan massa ke rectum, kontraksi rectum dan relaksasi sfingter anus akan timbul keinginan defekasi. Pendorongan massa yang terus menerus akan dicegah oleh konstriksi tonik dari sfingter ani interni dan sfingter ani eksternus

Refleks Defekasi. Keinginan berdefekasi muncul pertama kali saat tekanan rectum mencapai 18 mmHg dan apabila mencapai 55 mmHg, maka sfingter ani internus dan eksternus melemas dan isi feses terdorong keluar. Satu dari refleks defekasi adalah refleks intrinsic (diperantarai sistem saraf enteric dalam dinding rectum. Ketika feses masuk rectum, distensi dinding rectum menimbulkan sinyal aferen menyebar melalui pleksus mienterikus untuk menimbulkan gelombang peristaltic dalam kolon descendens, sigmoid, rectum, mendorong feses ke arah anus. Ketika gelombang peristaltic mendekati anus, sfingter ani interni direlaksasi oleh sinyal penghambat dari pleksus mienterikus dan sfingter ani eksterni dalam keadaan sadar berelaksasi secara volunter sehingga terjadi defekasi. Jadi sfingter melemas sewaktu rectum teregang. Sebelum tekanan yang melemaskan sfingter ani eksternus tercapai, defekasi volunter dapat dicapai dengan secara volunter melemaskan sfingter eksternus dan mengontraksikan otot-otot abdomen (mengejan). Dengan demikian defekasi merupakan suatu reflex spinal yang dengan sadar dapat dihambat dengan menjaga agar sfingter eksternus tetap berkontraksi atau melemaskan sfingter dan megontraksikan otot abdomen. Sebenarnya stimulus dari pleksus mienterikus masih lemah sebagai relfeks defekasi, sehingga diperlukan refleks lain, yaitu refleks defekasi parasimpatis (segmen sacral medulla spinalis). Bila ujung saraf dalam rectum terangsang, sinyal akan dihantarkan ke medulla spinalis, kemudian secara refleks kembali ke kolon descendens, sigmoid, rectum, dan anus melalui serabut parasimpatis n. pelvikus. Sinyal parasimpatis ini sangat memperkuat gelombang peristaltic dan merelaksasi sfingter ani internus. Sehingga mengubah refleks defekasi intrinsic menjadi proses defekasi yang kuat.
10

Sinyal defekasi masuk ke medula spinalis menimbulkan efek lain, seperti mengambil napas dalam, penutupan glottis, kontraksi otot dinding abdomen mendorong isi feses dari kolon turun ke bawah dan saat bersamaan dasar pelvis mengalami relaksasi dan menarik keluar cincin anus mengeluarkan feses. 3. ETIOLOGI Kanker kolorektal timbul melalui interaksi yang kompleks antara factor genetik dan faktor lingkungan.kanker kolonrektal yang sporadic muncul setelah melewati rentang yang lebih panjang sebagai akibat factor lingkungan yang menimbulkan perubahan genetik yang berkembang menjadi kanker. a. Pengaruh lingkungan Sejumlah bukti menunjukkan bahwa lingkungan berperan penting pada kejadian kanker kolorektal. Resiko mendapatkan kanker kolorektal meningkat pada masyarakat yang berimigrasi dari wilayah dengan insiden kanker kolorektal yang rendah ke wilayah yang insidennya lebih tinggi. Hal ini menambah bukti bahwa lingkungan sentrum perbedaan pola makan berpengaruh kepada karsinogenesis. Factor lingkungan yang berperan pada karsinogenesis kanker kolorektal: 1) Probably related a) Konsumsi diet lemak tinggi b) Konsumsi diet lemak rendah 2) Possibly related a) Karsinogen dan mutagen,heterocyclic amines,hasil metabolism bakteri. b) Bir dan konsumsi alcohol c) Diet rendah selenium 3) Probably protectif a) Konsumsi serat tinggi ( whean bran, cellulose, lignin ) b) Diet kalsium.
11

c) Aspirin dan OAINS. d) Aktifitas fisik ( BMI rendah) 4) Posiibly protectif a) Sayuran hijau dan kuning b) Makanan dengan karoten tinggi c) Vitamin C dan E d) Selenium e) Asam folat Kandungan dari makronutrien dan mikronutrien berhubungan dengan kanker kolorektal. Penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa lemak hewani, terutama dari sumber daging merah, berpengaruh pada kejadian kanker kolorektal. Penelitian pada binatang yang diberikan diet lemak tinggi meningkatkan poliferasi kolonosit dan pembentukan tumor. Transpormasi sel tampaknya melalui peningkatan konsentrasi empedu dalam kolon dan ini telah diketahui sebagai promotor kanker lagipula pada masyarakat dengan konsumsi serat rendah disertai dengan insiden kanker kolon yang tinggi. Keseringan minum alcohol meningkatkan 2 -3 kali kejadian kanker kolon. Sebaliknya masyarakat yang mengkonsumsi ikan laut memiliki insiden kanker kolorektal yang rendah. Diet folat tinggi berhubungan dengan resiko mendapatkan kanker kolorektal yang lebih rendah. b. Faktor Genetik Banyak kelainan genetik yang dikaitkan dengan keganasan kolorektal diantaranya sindroma poliposis. Namun demikian sindrom poliposis hanya terhitung < 1% dari semua kanker kolorektal. Selain itu terdapat hereditary Non-poliposis colorectal cancer( HNPCC atau sindroma lynch) terhitung 23% dari kanker kolorektal. Kanker kolorektal terjadi kerusakan genetik pada
12

lukus yang mengontrol pertumbuhan sel. Perubahan dari kolonosit normal menjadi jaringan adenomatosa dan akhirnya karsinoma kolon melibatkan sejumlah mutasi yang mempercepat pertumbuhan sel.

4. PATOFISIOLOGI Kolon Usus besar atau kolon dalam anatomi adalah bagian usus antara usus buntu dan rektum. Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari feses. Pada mamalia, kolon terdiri dari kolon menanjak (ascending), kolon melintang (transverse), kolon menurun (descending), kolon sigmoid, dan rektum. Bagian kolon dari usus buntu hingga pertengahan kolon melintang sering disebut dengan kolon kanan, sedangkan bagian sisanya sering disebut dengan kolon kiri (http://id.wikipedia.org). Kebanyakan kanker usus besar berawal dari pertumbuhan sel yang tidak ganas atau disebut adenoma, yang dalam stadium awal membentuk polip (sel yang tumbuh sangat cepat). Pada stadium awal, polip dapat diangkat dengan mudah. Tetapi, seringkali pada stadium awal adenoma tidak menampakkan gejala apapun sehingga tidak terdeteksi dalam waktu yang relatif lama dan pada kondisi tertentu berpotensi menjadi kanker yang dapat terjadi pada semua bagian dari usus besar (Davey, 2006 : 335).Kanker kolon dan rektum terutama (95 %) adenokarsinoma (muncul dari lapisan epitel usus). Dimulai sebagai polip jinak tetapi dapat menjadi ganas dan menyusup serta merusak jaringan normal serta meluas ke dalam sturktur sekitarnya. Sel kanker dapat terlepas dari tumor primer dan menyebar ke bagian tubuh yang lain ( paling sering ke hati). Kanker kolon dapat menyebar melalui beberapa cara yaitu : Secara infiltratif langsung ke struktur yang berdekatan, seperti ke dalam kandung kemih. Melalui pembuluh limfe ke kelenjar limfe perikolon dan mesokolon. Melalui aliran darah, biasanya ke hati karena kolon mengalirakan darah ke system portal. Penyebaran secara transperitoneal Penyebaran ke luka jahitan, insisi
13

abdomen atau lokasi drain. Pertumbuhan kanker menghasilkan efek sekunder, meliputi penyumbatan lumen usus dengan obstruksi dan ulserasi pada dinding usus serta perdarahan. Penetrasi kanker dapat menyebabkan perforasi dan abses, serta timbulnya metastase pada jaringan lain (Gale, 2000 : 177)

5. MANIFESTASI KLINIS Gejala sangat ditentukan oleh lokasi kanker, tahap penyakit, dan fungsi segmen usus tempat kanker berlokasi. Gejala paling menonjol adalah perubahan kebiasaan defekasi. Pasase darah dalam feses adalah gejala paling umum kedua. Gejala dapat juga mencakup anemia yang tidak diketahui penyebabnya, anorexia, penurunan berat badan dan keletihan. Gejala yang sering dihubungkan dengan lesi sebelah kanan adalah nyeri dangkal abdomen dan melena (feses hitam, seperti ter). Gejala yang sring dihubungkan dengan lesi sebelah kiri adalah yang berhubungan dengan obstruksi (nyeri abdomen dank ram, penipisan feses, konstipasi, dan distensi), serta adanya darah merah segar dalam feses. Geejala yang duhubungkan dengan lesi rectal adalah evakuasi feses yang tidak lengkap setelah defekasi, konstipasi dan diare bergantian, serta feses berdarah.

6. PEMERIKSAAN PENUNJANG Bersamaan dengan pemeriksaan abdomen dan rectal, prosedur diagnostic yang paling penting untuk kanker kolon adalah pengujian darah samar, enema barium, progtosigmoidoskopi, dan kolonoskopi. Sebanyak 60% dari kasus kanker kolorektal dapat diidentifikasi dengan sigmoidoskopi dengan biopsy atau apusan sitologi. Pemeriksaan antigen karsinoembrionik.(CEA) dapat juga dilakukan, meskipun antigen karsinoembrionik mungkin bukan indikator yang dapat dipercaya dalam mendiagnosa kanker kolon karena tidak semua lesi menyekresi CEA. Pemeriksaan menunjukkan bahwa kadar CEA dapat dipercaya dalam diagnosis prediksi. Pada ekssisi tumor komplet, kadar CEA
14

yang meningkat harus kembali kenormal dalam 48 jam. Peningkatan CEA pada tanggal selanjutnya menunjukkan kekambuhan.1 7. PENATALAKSANAAN MEDIK Pasien dengan gejala obstruksi usus diobati dengan cairan IV dan pengisapan nasogastrik. Apabila terdapat perdarahan yang cukup bermakna, terapi komponen darah dapat diberikan. Pengobatan bergantung pada tahap penyakit dan komplikasi yang berhubungan. Endoskopi,ultrasonografi, dan laparoskpi telah terbukti berhasil dalam pentahapan kanker kolorektal pada periode pra operatif. Metode pentahapan yang dapat digunakan secara luas adalah klasifikasi Duke: a. Kelas A-tumor dibatasi pada mukosa dan submukosa b. Kelas B-penetrasi dinding usus c. Kelas C-invasi kedalam sistem limfe yang mengalir regional d. Kelas D-metastasis regional tahap lanjut dan penyebaran yang luas. Pengobatan medis untuk kanker kolorektal paling sering dalam bentuk pendukung atau terapi ajufan. Terapi ajufan biasanya diberikan selain pengobatan bedah. Pilihan mencakup kemoterapi,tarapi radiasi, dan/atau imunoterapi. Terapi ajufan standar yang diberikan untuk pasien dengan kanker kolon kelas C adalah program 5-FU/Levamesole. Pasien dengan kanker rektal kelas B dan C diberikan 5-FU dan CCNU dan dosis tinggi radiasi pelvis. Terapi radiasi sekarang digunakan pada periode pra operatif, intraoperatif, dan pascaoperatif untuk memperkecil tumor, mencapai hasil yang lebih baik dari pembedahan, dan untuk mengurangi resiko kekambuhan. Untuk tumor yang tidak dioperasi atau tidak dapat direseksi, radiasi digunakan untuk menghilangkan gejala secarabermakna. Alat radiasi intraavitas yang dapat diimplantasi dapat digunakan.

15

Data paling baru menunjukan adanya pelambatan periode kekambuhan tumor dan peningkatan waktu bertahan hidup untuk pasien yang mendapatkan beberapa bentuk terapi ajufan. Pertumbuhan tumor dapat menyebabkan obstruksi usus parsial atau lengkap. Pertumbuhan dan ulserasi dapat juga menyerang pembuluh darah sekitar kolon dan menyebabkan hemoragi. Perforasi dapat terjadi, dan mengakibatkan pembentukan abses. Peritonitis dan/atau sepsis dapat menimbulkan syok. Bila sudah pasti karsinoma kolon, maka kemungkinan pengobatan adalah sebagai berikut : a. Pembedahan (Operasi) Operasi adalah penangan yang paling efektif dan cepat untuk tumor yang diketahui lebih awal dan masih belum metastatis, tetapi tidak menjamin semua sel kanker telah terbuang. Oleh sebab itu dokter bedah biasanya juga menghilangkan sebagian besar jaringan sehat yang mengelilingi sekitar kanker. Pembedahan adalah tindakan primer untuk kebanyakan kanker kolon dan rektal. Pembedahan dapat bersifat kuratif atau paliatif. Kanker yang terbatas pada satu sisi dapat diangkat dengan kolonoskop. Kolostomi laparoskopik dengan polipektomi,suatu prosedur yang baru dikembangkan untuk meminimalkan luasnya pembedahan. Laparoskop digunakan sebagai pedoman dalam membuat keputusan dikolon; masa tumor kemudian dieksisi. Laser Nd : YAG telah terbukti efektif pada beberapa lesi. Reseksi usus diindikasikan kebanyakan lesi kelas A dan kelas B serta kelas C. Pembedahan kadang dianjurkan untuk mengatasi kanker kolon kelas D. Tujuan pembedahan dalam situasi ini adalah paliatif. Apabila tumor telah menyebar dan mencakup struktur vital sekitar, operasi tidak dapat dilakukan. Tipe pembedahan tergantung pada lokasi dan ukuran tumor. Prosedur pembedahan adalah sebagai berikut(Daughty & jackson 1993).

16

1) Reseksi segmental dengan anastomosis(pengangkatan tumor dan porsi usus pada sisi pertumbuhan, pembuluh darah, dan nodus limfatik). 2) Reseksi abdominoperineal denag kolostomi sigmoid permanen(

pengangkatan tumor dan porsi sigmoid dan semua rektum serta sfingter anal). 3) Kolostomi sementara diikuti dengan reseksi segmental dan anastomosis serta reanastomosis lanjut dari kolostomi(memungkinkan dekompresi usus awal persiapan usus sebelum reseksi). 4) Kolostomi permanen atau ileostomi( untuk menyembuhkan lesi obstruksi yang tidak dapat direseksi). b. Penyinaran (Radioterapi) Terapi radiasi memakai sinar gelombang partikel berenergi tinggi misalnya sinar X, atau sinar gamma, difokuskan untuk merusak daerah yang ditumbuhi tumor, merusak genetic sehingga membunuh kanker. Terapi radiasi merusak sel-sel yang pembelahan dirinya cepat, antara alin sel kanker, sel kulit, sel dinding lambung & usus, sel darah.Kerusakan sel tubuh menyebabkan lemas, perubahan kulit dan kehilangan nafsu makan. c. Kemotherapy Chemotherapy memakai obat antikanker yang kuat , dapat masuk ke dalam sirkulasi darah, sehingga sangat bagus untuk kanker yang telah menyebar. Obat chemotherapy ini ada kira-kira 50 jenis. Biasanya di injeksi atau dimakan, pada umumnya lebih dari satu macam obat, karena digabungkan akan memberikan efek yang lebih bagus. (FKUI, 2001 : 211) d. Diversi Fekal. Berkenaan dengan tehnik perbaikan melalui pembedahan, kolostomi dilakukan pada kurang lebih sepertiga pasien kanker kolorektal. Kolostomi adalah pembuatan lubang (stoma) pada kolon secara bedah. Stoma ini dapat berfungsi sebagai diversi sementara atau permanen. Ini memungkinkan
17

drainase atau evakuasi isi kolon keluar tubuh. Konsistensi drainase dihubungkan dengan penempatan kolostomi, yang ditemukan oleh lokasi tumor dan luasnya invasi pada jaringan sekitar.

B. ASUHAN KEPERAWATAN 1. PENGKAJIAN Pengkajian pasien Post Operatif Ca Colon (Doenges, 1999) adalah meliputi: a. Aktivitas/istirahat Pasien dengan kanker kolorektal biasanya merasakan tidak nyaman pada abdomen dengan keluhan nyeri, perasaan penuh, sehingga perlu dilakukan pengkajian terhadap pola istirahat dan tidur. b. Sirkulasi Gejala: Palpitasi, nyeri dada pada pergerakan kerja. Kebiasaan: perubahan pada tekanan darah. c. Integritas ego Faktor stress (keuangan, pekerjaan, perubahan peran) dan cara mengatasi stress ( misalnya merokok, minum alkohol, menunda mencari pengobatan, keyakinan religius/ spiritual). Masalah tentang perubahan dalam penampilan misalnya, alopesia, lesi, cacat, pembedahan. Menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, putus asa, tidak mampu, tidak merasakan, rasa bersalah, kehilangan. Tanda : Kontrol, depresi. Menyangkal, menarik diri, marah. d. Eliminasi Adanya perubahan fungsi kolon akan mempengaruhi perubahan pada defekasi pasien, konstipasi dan diare terjadi bergantian. Bagaimana kebiasaan di rumah yaitu: frekuensi, komposisi, jumlah, warna, dan cara pengeluarannya, apakah dengan bantuan alat atau tidak adakah keluhan yang menyertainya. Apakah kebiasaan di rumah sakit sama dengan di
18

rumah. Pada pasien dengan kanker kolerektal dapat dilakukan pemeriksaan fisik dengan observasi adanya distensi abdomen, massa akibat timbunan faeces. Massa tumor di abdomen, pembesaran hepar akibat metastase, asites, pembesaran kelenjar inguinal, pembesaran kelenjar aksila dan supra klavikula, pengukuran tinggi badan dan berat badan, lingkar perut, dan colok dubur. e. Makanan/cairan Gejala: kebiasaan makan pasien di rumah dalam sehari, seberapa banyak dan komposisi setiap kali makan adakah pantangan terhadap suatu makanan, ada keluhan anoreksia, mual, perasaan penuh (begah), muntah, nyeri ulu hati sehingga menyebabkan berat badan menurun. Tanda: Perubahan pada kelembaban/turgor kulit; edema f. Neurosensori Gejala: Pusing; sinkope, karena pasien kurang beraktivitas, banyak tidur sehingga sirkulasi darah ke otak tidak lancar. g. Nyeri/kenyamanan Gejala: Tidak ada nyeri, atau derajat bervariasi misalnya

ketidaknyamanan ringan sampai nyeri berat (dihubungkan dengan proses penyakit) h. Pernapasan Gejala: Merokok (tembakau, mariyuana, hidup dengan seorang perokok). Pemajanan asbes i. Keamanan Gejala: Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen. Pemajanan matahari lama/berlehihan. Tanda: Demam, Ruam ku1it, ulserasi j. Seksualitas Gejala: Masalah seksual misalnya dampak pada hubungan peruhahan pada tingkat kepuasan. Multigravida lebih besar dari usia 30 tahun. Multigravida, pasangan seks multipel, aktivitas seksual dini, herpes genital.
19

k. Interaksi sosial Gejala: Ketidakadekuatan/kelemahan sistem pendukung. Riwayat perkawinan (berkenaan dengan kepuasan di rumah, dukungan, atau bantuan). Masalah tentang fungsi/ tanggung jawab peran

penyuluhan/pembelajaran. Gejala: Riwayat kanker pada keluarga misalnya ibu atau bibi dengan kanker payudara. Penyakit metastatik: sisi tambahan yang terlibat; bila tidak ada, riwayat alamiah dari primer akan memberikan informasi penting untuk mencari metastatik. Riwayat pengobatan: pengobatan sebelumnya untuk tempat kanker dan pengobatan yang diberikan.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan berdasarkan analisa data menurut Marilynn E. Doenges (1999), Brunner and Suddarth (2001), dan Lynda Juall Carpenito (1997). a. Ansietas / ketakutan berhubungan dengan krisis situasi (kanker) b. Nyeri (akut) berhubungan dengan trauma jaringan dan reflek spasme otot sekunder akibat kanker usus besar. c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status hipometabolik berkenaan dengan kanker. d. Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kurang masukan cairan e. Keletihan berhubungan dengan perubahan kimia tubuh: efek samping obatobatan, kemoterapi. f. Risiko tinggi terhadap kerusakan kulit / jaringan berhubungan dengan insisis bedah, pembentukan stoma dan kontaminasi. g. Risiko tinggi terhadap konstipasi / diare berhubungan dengan karsinoma kolon.
20

3. PERENCANAAN a. Diagnosa Keperawatan 1 : Ansietas/ ketakutan berhubungan dengan krisis situasi (kanker) (1)Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan ansietas dapat berkurang atau dapat dikontrol (2)Kriteria Evaluasi : (a) Menunjukkan rentang yang tepat dari perasaan dan berkurangnya rasa takut, (b) Dapat mengungkapkan rasa takutnya, (c) Tampak rileks dan melaporkan ansietas berkurang, (d) Mendemonstrasikan penggunaan mekanisme koping efektif, (e) Dapat mengungkapkan pikiran dan perasaannya. (3)Intervensi : (a) Dorong pasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan. (b) Berikan lingkungan terbuka dimana pasien merasa aman. (c) Pertahankan kontak sering dengan pasien. (d) Bantu pasien/ orang terdekat dalam mengenali rasa takut (e) Tingkatkan rasa tenang dan lingkungan tenang

b. Diagnosa Keperawatan 2 : Nyeri (akut) berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan kulit sekunder terhadap tindakan pembedahan. (1) Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien dapat melaporkan penghilangan nyeri maksimal/kontrol dengan pengaruh minimal (2) Kriteria Evaluasi: (a) Mengungkapkan nyeri hilang atau berkurang secara bertahap, (b) Mengungkapkan rasa nyerinya,

21

(c) Mengikuti aturan farmakologis yang ditentukan, (d) Mendemonstrasikan ketrampilan relaksasi, (e) Dapat melakukan tekhnik relaksasi nafas dalam jika nyeri timbul dan tekhnik pengalihan lainnya. (3) Intervensi (a) Tentukan riwayat nyeri, misalnya lokasi nyeri, frekuensi, durasi, dan intensitas, serta tindakan penghilang yang dilakukan. (b) Berikan tindakan kenyamanan dasar dan aktivitas hiburan. (c) Dorong ketrampilan manajemen nyeri misalnya teknik relaksasi napas dalam (dengan cara tarik nafas melalui hidung tahan sampai hitungan sepuluh lalu hembuskan pelan -pelan melalui mulut sambil dirasakan), tertawa, musik, dan sentuhan terapetik. (d) Evaluasi penghilangan nyeri/ kontrol.

c. Diagnosa Keperawatan 3 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status hipermetabolik berkenaan dengan kanker . (1) Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien dapat mendemonstrasikan berat badan stabil. (2) Kriteria Evaluasi: (a) Pengungkapan pemahaman pengaruh individual pada masukan adekuat, (b) Berpartisipasi dalam intervensi spesifik, (c) Menunjukkan peningkatan berat badan secara bertahap, (d) Tidak menunjukkan gejala mual dan muntah. (3) Intervensi : (a) Pantau masukan setiap hari. (b) Timbang berat badan setiap hari atau sesuai indikasi. (c) Dorong pasien untuk makan diet tinggi kalori dan kaya nutrien dengan masukan cairan adekuat.
22

(d) Dorong pasien untuk makan dengan porsi kecil tetapi sering. (e) Ciptakan suasana makan yang menyenangkan. (f) Identifikasi pasien yang mengalami mual/muntah yang diantisipasi.

4. EVALUASI Evaluasi adalah proses penilaian tujuan serta pengkajian ulang rencana keperawatan. Evaluasi juga merupakan proses yang mengukur seberapa jauh tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai berdasarkan standar / kriteria yang telah ditetapkan. Selama evaluasi perawat kearah terbaik untuk memenuhi kebutuhan pasien. Perawat harus menyadari bahwa evaluasi adalah dinamis dan berubah terus, bergantung pada diagnosa keperawatan dan kondisi pasien. Prinsip evaluasi diantarnya adalah obyektifitas : mengukur keadaan yang sebenarnya, dimana keputusannya sama dengan keputusan orang banyak. Realibilitas : ketepatan, hasil ukuran yang diperoleh bila diulang oleh orang lain hasil itu tetap sama. Validitas : mengukur dengan tepat, mengukur apa yang akan diukur sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dan menggunakan kriteria pengukur yang tepat. Evaluasi terhadap tindakan diagnosa keperawatan : Ansietas/ketakutan berhubungan dengan krisis situasi (kanker). Kriteria evaluasi : (1)

Menunjukkan rentang yang tepat dari perasaan dan berkurangnya rasa takut, (2) Dapat mengungkapkan rasa takutnya, (3) Tampak rileks dan melaporkan ansietas berkurang, (4) Mendemonstrasikan penggunaan mekanisme koping efektif, (5) Dapat mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Evaluasi terhadap tindakan diagnosa keperawatan nyeri (akut) berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan skunder terhadap tindakan

pembedahan.

Kriteria evaluasi: (1) Mengungkapkan nyeri hilang atau

berkurang secara bertahap, (2) Mengungkapkan rasa nyerinya, (3) Mengikuti aturan farmakologis yang ditentukan, (4) Mendemonstrasikan ketrampilan

23

relaksasi, (5) Dapat melakukan tekhnik relaksasi nafas dalam jika nyeri timbul dan tekhnik pengalihan lainnya. Evaluasi terhadap tindakan diagnosa keperawatan: Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status hipermetabolik berkenaan dengan kanker. Kriteria evaluasi: (1) Pengungkapan pemahaman pengaruh individual pada masukan adekuat, (2) Berpartisipasi dalam intervensi spesifik, (3) Menunjukkan peningkatan berat badan secara bertahap, ( 4) Tidak menunjukkan gejala mual dan muntah.

24

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN Kolon adalah tempat di traktus digestivus yang paling sering terjadi divertikel. Disebut true diverticle jika dindingnya berisi seluruh lapisan usus dan ini jarang didapatkan. Yang paling sering terjadi adalah pseudo diverticle atau herniasi mukosa dan submukosa melalui lapisan muskulus kolon (Naitove,1999). Karsinoma atau kanker kolon ialah keganasan tumbuh lambat yang paling sering ditemukan daerah kolon terutama pada sekum, desendens bawah, dan kolon sigmoid. Prognosa optimistik; tanda dan gejala awal biasanya tidak ada. (Susan Martin Tucker, 1998). Kanker kolorektal adalah tumbuhnya sel-sel ganas dalam tubuh di dalam permukaan usus besar atau rektum. Kebanyakan kanker usus besar berawal dari pertumbuhan sel yang tidak ganas biasa disebut adenoma yang dalam stadium awal membentuk polip (sel yang tumbuh sangat cepat). Lokasi tersering timbulnya kanker kolon adalah di bagian sekum, asendens, dan kolon sigmoid, salah satu penatalaksanaannya adalah dengan membuat kolostomi untuk mengeluarkan produksi faeces. Kanker kolorektal timbul melalui interaksi yang kompleks antara factor genetik dan faktor lingkungan.kanker kolonrektal yang sporadic muncul setelah melewati rentang yang lebih panjang sebagai akibat factor lingkungan yang menimbulkan perubahan genetik yang berkembang menjadi kanker.

B. SARAN Sebaiknya kita selalu menjaga sistem pencernaan kita dengan baik karena segala sesuatu yang kita konsumsi walaupun enak belum tentu menyehatkan.

25